GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Yahudi. Show all posts
Showing posts with label Yahudi. Show all posts

Monday, March 19, 2012

KONSEP KE AL MASIHAN

Karya Tulis           : Kenneth Moakan
Sumber                 : The Review of Religions, Januari 1988
Judul Asli              : Concept of Mesiah
Terjemah              :  Muharim Awaluddin Thailand

Sebagai seorang muslim saya tidak merasa pokok bahasan ini merupakan sesuatu yang asing, bahkan ia merupakan salah satu dari kepercayaan pokok orang Islam untuk mempercayai dan mengakui semua Nabi dari Tuhan dan konsep mengenai Al-Masih ada tersebut dalam kitab suci Al-Qur’an.

Konsep mengenai kedatangan seorang Al Masih (Messias) ini berlainan diantara tiga agama besar dunia Yahudi, Kristen dan Islam.  Dimana kaum Yahudi percaya bahwa Al Masih akan muncul, kaum Kristen percaya bahwa beliau akan muncul dalam wujud Yesus (Nabi Isa) dan akan muncul kedua kalinya pada akhir zaman untuk mengumpulkan umatnya dan menegakkan kerajaan Tuhan selamanya.  Kaum muslimin menganut kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Al Masih dan bahwa pada kedatangan beliau yang kedua, beliau akan datang sebagai seorang muslim dan akan menegakkan supremasi Islam dengan mengobarkan perang kepada mereka yang tak menerima Islam.  Beliau juga akan membunuh babi dan mematahkan salib.  Kepercayaan kaum muslimin berdasar kepada kesalah pahaman atas sabda-sabda Nabi suci Muhammad SAW.  Muslim Ahmadi sebaliknya percaya seperti halnya kaum Kristen dan Muslimin pada umumnya, tetapi memiliki konsep yang berbeda. Tentang kedatangan beliau yang kedua.  Perkara ini tidak akan di bahas dalam tulisan ini, tetapi di bahas berkali-kali sebelum ini dan dimasa mendatang. Insyallah dapat di bahas lagi untuk manfaat bagi para pencari kebenaran.

Agama-agama lain juga nampaknya ada aide-ide ke Al Masihan dalam sistem mereka.  Yang sedang di tawarkan di kalangan kaum Hindu tertentu bahwa Krisna adalah Messias (Al Masih) atau bahwa ajaran Krishna adalah apa yang kaum Kristen dakwahkan.  Pandangan ini juga dimiliki oleh beberapa golongan agama Budha.  Bahwa Buddha adalah pribadi yang sama dengan Yesus sedang di tonjolkan dan bahwa ajaran Kristen telah diambil secara harafiah dari kitab-kitab Buddha.

Zoroaster tidak mempercayai konsep ini dan menulis dalam Dasatir.  Susan I agung menubuatkan bahwa seorang nabi akan di bangkitkan di akhir zaman dan akan merupakan keturunan Persia dan bahwa keturunanya akan merujuk kepada kedatangan beliau yang ke II, sementara kaum Kristen dan Muslimin tidak ada satu bukti yang diajukan bahwa ada keturunan Yesus (Nabi Isa) yang mereka yakini sebagai Al Masih, tidak pula kaum Yahudi memiliki bukti-bukti itu.  Istilah Al Masih (Messias) seperti umumnya di pahami merujuk kepada seorang Nabi Agung yang akan menjadi orang pilihan Tuhan.

Gagasan kemunculan seorang Al Masih nampaknya telah menjadi bagian dari ajaran Yahudi sejak masa Musa as.  Sebab ada banyak nubuatan yang di tunjukkan oleh mereka dan juga oleh kaum Kristen dalam perjanjian lama yang dianggap sebagai kedatangan Nabi Agung yang menjadi Al Masih (Messias).  Nyatanya banyak ayat dalam perjanjian lama mengenai sifat seseorang yang Agung.  Pendeknya boleh dikatakan dengan aman, bahwa harapan kebangkitan bangsa Yahudi tergantung dengan kemunculan Al Masih.    Para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan berbagai ayat perjanjian lama untuk mempertimbangkan kebangkitan Al Masih dikalangan mereka dan yang akan meneguhkan keimanan mereka dan memimpin secara Herois.

Kepada ular Tuhan berfirman “dan aku akan mengadakan permusuhan diantaramu dan perempuan ini, dan diantara keturunanmu dan keturunannya.  Ia akan meremukkan kepalamu dan kamu akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Hasil yang keturunan perempuan itu akan dapatkan atas keturunan ular adalah menghancurkan kepalanya, sedangkan keturunan ular hanya berhasil menghancurkan tumitnya.  Perhatikan bahasa Ibrani yang di gunakan disini membawa makna ganda dan terbukti dari tergun bahwa ia berarti: “merusak, menggilas jadi debu dan menghancurkan”.  Ini telah di tunjukkan dalam kejadian 3:15 dimana digambarkan secara garis besar akibat konflik yang panjang antar keturunan perempuan dan keturunan ular setelah (peristiwa yang) di anggap kejatuhan manusia dari taman Eden.

Profesor Delitzsch mengatakan: “Hanya ketika kita menerjemahkan: Dia (keturunan perempuan) akan meremukkan kepalanya…", kalimat itu termasuk janji pasti kemenangan atas ular, karena ia menderita di perjalanan maut, mencoba menyelamatkan diri dan tenggelam dalam perjalanan adalah luka maut ( kejadian 49;17).  Hal ini di percayai sebagai nubuat terselubung dan bertujuan ke arah sejarah yang sedang bergerak.

Bahwa para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan baris ini sebagai nubuatan Al-Masih sangat jelas dari Tergum Palestina yang menyatakan bahwa dalam kejadian 3:15 adalah janji  penjagaan terhadap gigitan ular pada akhir zaman, di masa raja Al Masih.

Pokok bahasan kejadian 3:15 diulas dalam Tergum Palestina dengan pernyataan tambahan sbb: “ memang demikian bagi mereka akan jadi suatu obat, dan mereka akan menjadikan penyembuhan untuk tumit itu pada masa raja Meshiha".

Rujukan yang di buat di sini adalah kepada Al Masih yang akan menyembuhkan mereka dari penyakit dan mengembalikan mereka pada kesucian sejati, yang mereka percayai telah ada sebelum kejatuhan.  Midrash Palestina (Beresith rabba XII) menyatakan:  “Tiap-tiap sesuatu yang Tuhan ciptakan sejak semula sempurna, manusia berdosa telah menjadi korup dan tidak kembali pada keadaan semula hinga putra perez (yakni menurut kejadian 38:29, Ryth 4:18; Al Masih berasal dari suku Yudah) datang”.  Penafsiran ini menjadikan Al Masih pembaharu dan membawa satu dunia yang sesat kepada Tuhan.

Istilah rabbi Al Masih adalah M’nahem dan tanpa keraguan berdasarkan pada ratapanYeremia seperti yang terdapat pada pasal 1:2, 9, 17 & 21.  Di sini Nabi Yeremia meratapi keadaan Zion yang tersia-sia dan tak seorang pun membawa ketentraman dan keselamatan kepadanya.

Penghibur atau Juruselamat ini dikutip dalam Ulangan 28:1-14 dan dalam Yesaya pasal 51 & 52 dan yang di percaya sebagai Messias.  Satu ayat lain yang di gunakan adalah dari Yesaya yang terbaca: “Maka Tuhan sendiri yang akan memberimu suatu tanda; lihatlah anak dara akan hamil dan melahirkan seorang putra; dan akan di beri nama Immanuel”. (Yesaya 7:14).

Immanuel bermakna Tuhan bersama kita.  Dari hal ini di tunjukkan, bahwa seorang yang telah di nubuatkan akan di kuatkan (dibantu) oleh Tuhan.  Dikalangan bangsa Ibrani ada adat kebiasaan anak-anak diberi nama untuk memperingati beberapa peristiwa bermakna atau karya-karya agung Tuhan dengan harapan bahwa anak itu boleh dipengaruhi oleh namanya dan sampai pada ketinggian yang diharap.
Contohnya:
  1. ·         Yesaya bermakna: Tuhan telah menyelamatkan
  2. ·         Yeremia bermakna: Tuhan menguatkan
  3. ·         Zefannya bermakna: Tuhan menyembunyikan
  4. ·         Zakaria bermakna: Tuhan telah mengingat
  5. ·         Zehezkiel bermakna: Tuhan adalah kuat
  6. ·         Daniel bermakna: Tuhan adalah hakimku
  7. ·         Yoel bermakna: Tuhan adalah Allah


Diharapkan bahwa anak-anak yang menyandang paling tidak mencontohkan sifat-sifat baik dari nama-nama itu.  Tak seorang pun merasa berhak mengatakan bahwa karena seorang menyandang nama Daniel yang bermakna “Tuhan adalah hakimku” atau seseorang bermakna Yoel yang berarti “Tuhan adalah Allah”, maka semua yang bernama Yoel adalah Tuhan.  Maka nama Immanuel secara sederhana merupakan suatu ekspresi harapan bahwa Tuhan bersama hamba-hamba-Nya dan akan melindungi dan menolong mereka.

Dipercaya bahwa fungsi Al Masih terkutip dalam Yesaya 53.  Dengan suatu cara  Musa as menubuatkan tentang seseorang pembawa hukum yang lebih besar dari pada beliau sendiri (Ulangan 18:18); Yeremia menubuatkan seorang Juru Selamat yang lebih agung dari pada yang membawa Bani Israil keluar dari Mesir (Yeremia 23:7-8); Yehezkiel telah merujuk pada suatu Rumah Ibadah yang lebih mulia dari pada biara (kuil) Sulaeman (Yehezkiel 40-48).  Maka seluruh sejarah Israil dipercayai merupakan hal yang biasa.

Penjelasan rabbi dan Yesaya 7:14 biasanya adalah bahwa hal itu digenapi dengan kelahiran Hezekiah.  Kedudukan ini begitu menarik dalam hal yang menunjukkan anak yang berasal dari keturunan Daud, dari pusat Yerusalem yang mempunyai kekuasaan seperti di gambarkan dalam pasal 11 dan 12.  Lebih lanjut dalam hal Yesaya 8:8 di katakana bahwa tanah Immanuel adalah Palestina, yang pernyataan dalam hubungan ini dianggap berasal dari Daud dan kekuasaan kerajaannya.  Komentar-komentar lain menetapkan Immanuel sebagai putra ke-dua Yesaya, Maher-Shalal-hash-baz. Dalil menguntungkan untuk kedudukan ini adalah kedudukan Maher-Shalal-hash-baz dicatat dalam pasal berikutnya dan bahwa ramalan mengenai anak itu sangat serupa dengan peringan mengenai putra nabi.

Yesaya pasal 7:12 telah disebut Kitab Immanuel.  Al Masih yang akan datang itu menduduki posisi sentral dalam kitab suci bagian ini yang merupakan konsep kaum Yahudi.  Prof. Delezch dalam komentarnya atas Yesaya 7:14 telah mengatakan bahwa “ itulah Al Masih Nabi yang di sini dikatakan akan lahir, maka dalam pasal 9 adalah kelahiran dan dalam pasal 11 adalah tiga tahap kekuasaan yang tak terpatahkan, tiga bentuk kejayaan, menerangi tiga tingkat yang dalam sejarah masa depan umatnya terbagi sendiri menurut pandangan Nabi itu”.

Yesaya 59 adalah salah satu dari pasal-pasal yang dipercayai dan ditafsirkan sabagai berisi dalil kedatangan Al Masih dan bahwa kemunculan beliau akan disiarkan ketika bangsa Israil secara keseluruhan tenggelam dalam kancah dosa dan kekafiran.  Dari ayat-ayat yang lain di percayai bahwa pada masa itu Israil akan sangat menderita lebih dari yang mungkin terbayang.  Meramalkan keadaan dan melukiskan penderitaannya, Yesaya menjadikan Zion seperti seorang wanita yang ditinggalkan atau seperti rata dengan tanah yang untuknya beliau mengharapkan bangkitnya dan menyambut juru selamat yang lama diharapkan.

Ayat-ayat yang menuntun pada semua pandangan dari Al Masih penakluk (Yesaya 59:15 -21) dan Nabi yang mengembalikan kemuliaan Zion (Pasal 60:1-3), mengumpulkan kembali Israil (4-9) kedudukan Zion ini di bawah pemerintahan Al Masih (10-14) dan pemulihan suasana Eden atas Yerusalem dalam (ayat 15-22).  Dari ayat-ayat ini dan lain-lain dipercayai bahwa Al Masih (Messias) di jadwalkan akan datang di Zion dan akan menegakkan kerajaannya,  mengembangkan kekuasaannya sampai keseluruh dunia.

Walaupun konsep kedatangan Al Masih telah proyeksikan telah di gambarkan oleh berbagai sarjana dan kitab-kitab perjanjian lama, hal itu tidak terjadi hingga dua ayat terakhir perjanjian lama (Maleakhi 4: 5-6) bahwa konsep Al Masih telah mendapatkan momentum.  Di sini dinyatakan bahwa Elia (Nabi Ilyas as) akan muncul (datang) sebelum kedatangan Tuhan.  Tetapi boleh dicatat bahwa penampakan kebesaran Tuhan diberikan untuk tiga kali penampakan: Sekali di Sinai, kemudian di Seir dan terakhir di Paran (Ulangan 33:2).  Nubuatan dalam Ulangan 18:18 menyebabkan sebagian orang Yahudi berpindah dan menetap di Arabia yang di dalamnya terletak Paran dimana di sebutkan bahwa penampakan kekuasaan dan kebesaran Tuhan yang ke tiga terjadi dalam harapan penggenapan impian mereka.

Kepercayaan bahwa Elia naik kelangit (2 Raja-raja 2:11), kaum Yahudi pada masa itu percaya bahwa beliau akan kembali akhirnya dan mereka dengan penuh hasrat mengharapkan dan menantikan beliau boleh di ingat bahwa kaum Yahudi mengharap kedatangan tiga wujud: Elia, Al Masih (Kristus) dan Nabi Itu.  Ini merupakan bukti dari kenyataan, bahwa ketika Yesus memberitakan kepada kaum Yahudi, mereka sangat curiga dengan dakwah-dakwah beliau.  Sebagian murid memberanikan diri bertanya kepada Yesus mengenai keberatan kaum Yahudi, maka mereka menanyai beliau: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”.  Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan aku berkata kepada mu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukan menurut kehendak mereka.  Demikian juga anak manusia akan menderita oleh mereka”.  Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa ia berbicara tentang Yohanes pembabtis” (Matius 17:10-13).

Sampai hari ini kaum Yahudi masih menunggu kedatang Al Masih mereka sampai pada tahap, bahwa salah satu doa mereka yang di panjatkan sesudah makan, adalah Tuhan akan menjadikan mereka berharga untuk dapat menerima Al Masih.
Dan akhir seruan kita adalah: SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEKALIAN ALAM!

Sumber: EBK, No.63 TahunVI, Agustus 2002/Zuhur 1381, h.25-31

Wednesday, February 22, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 3

Bukti Dari Buku-buku Sejarah Tentang Kedatangan Yesus ke Punjab dan Daerah Sekitarnya


Pertanyaan yang pasti mengemuka adalah mengapa Yesus setelah terlepasnya beliau dari salib lalu mengembara sampai ke negeri ini yang letaknya sangat jauh dan merupakan perjalanan amat panjang.  Hal ini perlu dijawab secara rinci dan meskipun sudah sedikit disinggung di atas, ada baiknya lebih diperjelas.

Perlu dipahami bahwa perjalanan tersebut merupakan kewajiban bagi beliau sebagai seorang nabi karena Yesus a.s. mengembara sampai ke Punjab dan daerah sekitarnya itu dalam rangka mencari sepuluh suku bangsa Israel yang dalam istilah Injil disebut sebagai Domba-domba yang hilang.  Mereka itu bermukim di negeri ini dan kenyataan itu diakui oleh para ahli sejarah.  Karena itu Yesus memang perlu datang ke negeri ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran samawi beliau.  Kalau beliau tidak melakukan perjalanan tersebut maka tujuan diutusnya beliau tidak akan terpenuhi karena sudah digariskan bahwa maksud kedatangannya adalah mencari dan mengajar Domba-domba Israel yang hilang.  Jika hal ini tidak dilaksanakan maka sama saja keadaannya dengan seseorang yang ditugasi rajanya untuk pergi ke daerah suku yang terpencil guna membuatkan sumur buat air minum mereka, tetapi yang bersangkutan membuang-buang waktu di tempat lain.

Bila ditanyakan bagaimana mungkin kesepuluh suku bangsa Israel itu berada di negeri ini, maka jawabannya adalah semua itu berdasarkan bukti-bukti kuat sehingga seorang bodoh pun tidak akan meragukannya.  Sudah luas diketahui orang kalau bangsa Afghan dan penduduk Kashmir berasal atau keturunan bangsa Israel.  Sebagai contoh, penduduk dari daerah Alai yang berbukit-bukit sejarak dua atau tiga hari perjalanan dari Hazara, selalu menyebut diri mereka Bani Israel dari sejak zaman purba. Begitu juga penduduk Kala Dakah yang juga merupakan daerah perbukitan, mereka ini bangga sebagai keturunan Israel.  Ada suku bangsa di Hazara sendiri yang menganggap mereka juga berasal dari Israel, sebagaimana penduduk daerah di antara Chalas dan Kabul. Dr. Bernier dalam bagian kedua dari bukunya Travels in the Mogul Empire (Lihat Apendiks) menyatakan berdasar penelitian beberapa cendekiawan Inggris bahwa penduduk Kashmir adalah keturunan bangsa Israel.  Pakaian, karakteristik tubuh dan adat kebiasaan mereka menunjuk kepada kenyataan bahwa mereka berasal dari keturunan Israel.

George Forster dalam bukunya Letters on a journey from Bengal to England (Lihat Apendiks), mengatakan saat ia berdiam di Kashmir ia merasa berada di tengah-tengah suku bangsa Israel. Dalam buku The Races of Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan H. W. Bellews C.S.I. dinyatakan kalau bangsa Afghan berasal dari Syria.  Raja Nebuchadnezar menawan mereka dan menempatkan mereka di Persia dan Media, dari mana mereka kemudian hijrah ke Timur dan bermukim di perbukitan Ghaur dekat Bamiyar dan mereka dikenal sebagai Bani Israel.  Sebagai bukti ialah nubuatan dari Nabi Idris (dalam Injil disebut Enoch) yang mengatakan bahwa kesepuluh suku bangsa Israel yang ditawan telah membebaskan diri mereka dan berlindung di daerah Arsartat, yang sekarang ini dikenal sebagai Hazara, dan sebagian di daerah bernama Ghaur.  Dalam buku Tabaqat-i-Nasri yang menceritakan tentang penaklukan Afghanistan oleh Genghiz Khan, dikatakan bahwa di masa dinasti Shabnisi ada sebuah suku bangsa yang disebut Bani Israel dan mereka adalah pedagang yang baik.  Dalam tahun 622 M. sekitar saat maklumat kenabian Rasulullah s.a.w., bangsa ini bermukim di daerah sebelah timur Herat.  Seorang pemuka suku Quraish bernama Khalid bin Walid bertabligh kepada mereka menyampaikan kabar kedatangan Rasulullah s.a.w. Ada lima atau enam kepala suku bangsa itu bergabung dengan Khalid bin Walid dimana di antaranya seorang bernama Qais yang paling terkemuka dan seorang lagi bernama Kish.  Setelah masuk Islam, bangsa ini berperang dengan gagah berani di bawah bendera Islam dan memperoleh banyak daerah penaklukan.  Rasulullah s.a.w. banyak memberikan hadiah kepada mereka, memberkati mereka dan menubuatkan bahwa mereka akan memperoleh kemashuran.  Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa kepala-kepala suku bangsa ini akan selalu dikenal sebagai Malik.  Adapun Qais beliau beri nama Abdul Rashid dan diberi gelar ‘Pathan.’  Para pengarang Afghanistan mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Syria yang berarti kemudi. Qais diberi gelar ‘kemudi’ itu karena ia yang mengendalikan suku bangsanya.  Sebelum kedatangan Khalid bin Walid, mereka itu konsisten menjalankan agama Yahudi.

Sulit memperkirakan kapan bangsa Afghan dari Ghaur itu lalu berpindah dan mukim di daerah sekitar Kandahar sampai sekarang.  Kemungkinan di abad pertama tarikh Islam. Bangsa Afghan mengemukakan bahwa Qais menikah dengan putri Khalid bin Walid dan mendapat tiga putra bernama Saraban, Patan dan Gurgasht.  Saraban mempunyai dua putra yang diberi nama Sacharj Yun serta Karsh Yun dan mereka ini yang menurunkan bangsa Afghan atau Bani Israel. Penduduk Asia Kecil dan sejarahwan Barat mengenai Muslim menyebut bangsa Afghan sebagai ‘Sulaimanis.’

Dalam The Cyclopaedia of India, Eastern and Southern Asia, volume 111, susunan E. Balfour, dinyatakan bangsa Yahudi tersebar di seluruh daerah Asia bagian tengah, selatan dan timur. Di masa lalu banyak dari bangsa ini yang bermukim di Cina dan mempunyai kuil di Yih Chu di distrik Shu. Dr. Joseph Wolff yang mengembara lama sekali dalam pencarian sepuluh suku bangsa Israel yang hilang, menyatakan bahwa jika bangsa Afghan adalah keturunan Yakub maka mereka itu berasal dari suku Yahuda dan Ben Yamin.  Laporan lainnya mengemukakan kalau orang-orang Yahudi itu dibuang ke Tartary dan mereka bisa ditemui dalam jumlah banyak di sekitar Bokhara, Merv (sekarang dekat Turkmenistan) dan Khiva (sekarang di Uzbekistan). Hasil riset Dr. George Moore menunjukkan bahwa suku bangsa Tartar yang bernama Chosan adalah keturunan Yahudi dan di antara mereka masih bisa ditemui sisa-sisa agama Yahudi seperti adat khitan.

Dalam penampilannya bangsa Afghan dalam segala hal mirip sekali dengan umat Yahudi. Mereka juga mempunyai adat dimana adik laki-laki yang lebih muda mengawini janda kakaknya. Seorang pengelana Perancis bernama L. P. Ferrier yang berkunjung ke Herat, menyatakan kalau di daerah tersebut ditemui banyak orang Yahudi yang bebas melaksanakan ritual agama mereka. Rabbi Bin Yamin dari Toledo (Spanyol) pada abad keduabelas pernah mengembara mencari suku-suku bangsa yang hilang itu.  Ia menyatakan bahwa umat Yahudi itu bermukim di Cina, Iran dan Tibet. Flavius Josephus (Lihat Apendiks),  yang mengarang buku sejarah umat Yahudi dari zaman purba, pada tahun 93 M. menulis dalam buku kesebelas tentang umat Yahudi yang bebas dari tawanan bersama nabi Ezra, menyatakan kalau mereka itu menetap di sebelah timur sungai Euphrat dimana jumlah mereka amat banyak sekali.  Yang dimaksud di luar Euphrat adalah daerah-daerah Persia dan negeri-negeri di timurnya.  Santo Jerome yang hidup di abad kelima saat menulis tentang nabi Hosea menyangkut pokok bahasan, menyatakan dalam catatan pinggirnya bahwa umat Yahudi sejak saat itu berada di bawah kendali raja Parthia yaitu Paras.  Pada jilid pertama dari buku itu dikemukakan kalau Count Juan Steram menyatakan bahwa raja Nebuchadnezar setelah penghancuran bait suci di Yerusalem telah membuang suku-suku bangsa itu ke daerah Bamiyan dekat Ghaur di Afghanistan.

Buku A Narative of a Visit to Ghazni, Kabul and Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan G. T. Vigne F.G.S. di halaman 164 menceritakan tentang seorang mullah bernama Khuda Dad membaca dari buku Majma-ul-Ansab bahwa putra tertua dari Yakub adalah Yehuda yang berputra Usrak; putra Usrak adalah Aknur; Aknur berputra Maalib yang menurunkan Ka-Farlai; putra Farlai adalah Qais yang selanjutnya berputra Talut; Talut berputra Armea yang menurunkan Afghan.  Keturunan Afghan yang berputra empatpuluh orang inilah yang kemudian menjadi bangsa Afghanistan.  Qais yang hidup di masa Rasulullah s.a.w. adalah keturunan ke 34 setelah 2000 tahun sejak masa Yakub.  Keturunannya berkembang menjadi 64 generasi.  Putra sulung Afghan yang bernama Salm kemudian bermigrasi dari tempat asalnya di Syria dan bermukim di Ghaur Mashkoh dekat Herat.

Dalam Encyclopaedia of Geography (Lihat Apendiks),  dari James Bryce F.G.S., London 1856, di halaman 11 dikatakan bahwa bangsa Afghanistan bisa merunut garis keturunan mereka sampai kepada Saul raja Israel dan menyebut diri mereka Bani Israel. Alexander Burns juga mengemukakan kalau bangsa Afghan mengaku sebagai umat Yahudi yang katanya ditawan oleh raja Babul dan ditempatkan di daerah Ghaur di barat laut Kabul dimana sampai tahun 622 M. mereka masih menjalankan ritual agama Yahudi, tetapi kemudian Khalid bin Abdullah (kekhilafan yang maksudnya Walid) menikah dengan putri kepala suku dan membawa mereka memeluk agama Islam dalam tahun itu.  Di buku History of Afghanistan (Lihat Apendiks),  dari G. R. Malleson, London 1878, di halaman 39 dikemukakan bahwa Abdullah Khan dari Herat, pengelana Perancis bernama Friar John dan Sir William Jones (seorang orientalis) sepakat kalau bangsa Afghan merupakan Bani Israel keturunan dari sepuluh suku bangsa yang hilang.  Begitu juga buku,  History of the Afghans (Lihat Apendiks), karangan  L. P. Ferrier dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. M. Jasse, London 1858, mencatat di halaman 1 kalau mayoritas sejarahwan timur sependapat bahwa bangsa Afghan adalah keturunan dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang sebagaimana pendapat bangsa itu sendiri.  Di halaman 4 buku itu diceritakan bahwa bangsa Afghan memiliki bukti berupa kitab Injil dalam bahasa Iberani dan beberapa artikel ritual agama yang diserahkan oleh suku bangsa Yusaf-Zai kepada raja Nadir Shah di Peshawar ketika yang bersangkutan sedang melakukan invasi ke India.  Di antara para pengikut Nadir Shah sendiri terdapat beberapa orang Yahudi yang langsung mengenali barang-barang itu. Di halaman 4 buku tersebut juga disampaikan opini pengarang yang menyatakan bahwa pandangan Abdullah Khan dari Herat itu dapat diyakini. Ringkasnya disampaikan garis keturunan yaitu Malik Talut (dalam Injil disebut Saul) berputra dua orang yaitu Afghan dan Jalut.  Afghan kemudian menjadi pemuka di antara bangsanya.  Setelah pemerintahan Daud dan Sulaiman (Solomon) terjadi perpecahan di antara bangsa Israel sehingga mereka berpisah sampai kedatangan raja Nebuchadnezar.  Raja ini membunuh 70.000 umat Yahudi dan menghancurkan kotanya serta menawan sisa Yahudi yang ada dan dibawa ke Babylon sebagai tawanan.  Setelah bencana itu keturunan Afghan melarikan diri dari Yudea ke Arabia dan tinggal disana untuk jangka waktu lama. Namun karena kekurangan air dan tanah yang dapat digarap, mereka kemudian bermigrasi ke India.  Sekelompok Abdalis tetap tinggal di Arabia dan di masa Khalifah Hazrat Abu Bakar, salah seorang kepala suku mereka mengikat tali perkawinan dengan Khalid bin Walid.  Ketika kemudian Iran jatuh di bawah kekuasaan Arabia, mereka kemudian bermukim di daerah Iran di sekitar Faras dan Kirman.  Mereka menetap di sana sampai datangnya penyerbuan Genghiz Khan.  Suku Abdalis ini tidak berdaya menghadapi kekejaman Genghiz Khan.  Mereka kemudian pergi ke India melalui Makran (sekarang Baluchistan), Sindh dan Multan.  Karena tetap tidak mendapatkan ketenteraman, mereka kemudian meneruskan ke Koh Sulaiman dan bermukim di sana.  Mereka semua terdiri dari 24 suku bangsa keturunan dari Afghan yang berputra tiga orang yaitu Saraband, Arkash (Gargasht) dan Karlan (Batan).  Masing-masing mereka berputra delapan yang kemudian berkembang menjadi 24 suku yang diberi nama sama dengan nama putra-putra itu.  Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putra
Saraband

Nama
suku

Putra
Gargasht

Nama
suku

Putra
Karlan

Nama
suku

Abdal
Babur
Wazir
Lohan
Barch
Khugiyan
Sharan
Abdali
Baburi
Waziri
Lohani
Barchi
Khugiyani
Sharani
Khilj
Kakar
Jamurin
Saturiyan
Peen
Kas
Takan
Nasar
Khilji
Kakari
Jamurini
Saturiyani
Peeni
Kasi
Takani
Nasri
Khatak
Afrid
Tur
Zaz
Bab
Banganes
Landipur
Khataki
Afridi
Turi
Zazi
Babi
Banganesi
Landipuri



Buku karangan Khwaja Nikmatullah dari Herat berjudul Makhzan-i-Afghan dari tahun 1018 H. di masa pemerintahan raja Jahangir, diterjemahkan oleh Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, London 1836, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Di bab 1 dikemukakan sejarah Yakub Israel sebagai nenek moyang awal bangsa Afghan.
Di bab 11 terdapat sejarah raja Talut yang menjadi garis awal keturunan bangsa Afghan.

Di halaman 22 dan 23 dinyatakan Talut berputra dua orang yaitu Barkhiya dan Armiyah. Barkhiya berputra Asaf dan Afghan, dimana Afghan berputra 24 orang. Di halaman 65 diungkapkan raja Nebuchadnezar menduduki seluruh Sham (Syria) dan membuang suku-suku bangsa Israel ke daerah Ghaur, Ghazni, Kabul, Kandahar dan Koh Firoz dimana keturunan Afghan dan Asaf kemudian bermukim.

Di halaman 37 dan 38 disampaikan kutipan dari Majma-ul-Ansab dan Tarikh Buzidah karangan Masaufi, bahwa di masa Rasulullah s.a.w. pemuka Khalid bin Walid telah mengajak bangsa Afghan yang berada di Ghaur untuk memeluk Islam. Kepala suku Afghan bernama Qais yang adalah keturunan ke 37 dari raja Talut telah datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau memberikan gelar ‘Pathan’ kepada kepala suku itu yang berarti kemudi kapal. Kemudian kepala suku itu kembali ke negerinya dan mulai menyiarkan Islam.

Di halaman 63 dikemukakan bahwa Farid-ud-Din Ahmad mengemukakan mengenai gelar Bani Afghanah atau Bani Afghan dalam bukunya berjudul Rasalah Ansab-i-Afghaniyah yaitu: setelah Nebuchadnezar menaklukkan bangsa Israel dan daerah Sham serta menghancurkan Yerusalem, ia menawan bangsa Yahudi dan mengangkut mereka sebagai hamba sahaya.  Ia memaksa mereka meninggalkan agama Musa dan menyembah dirinya sebagai pengganti Tuhan, yang ditolak oleh bangsa Yahudi tersebut. Akibatnya Nebuchadnezar menghukum mati sekitar dua ribu orang dan mengusir mereka keluar dari daerah kerajaan dan daerah Sham.  Sebagian dari mereka pergi ke perbukitan Ghaur dimana keturunan mereka menetap di sini dan diberi nama Bani Israel, Bani Asaf dan Bani Afghan. Di halaman 64 pengarang mengutip catatan dari Tarikh-i-Afghani dan Tarikh-i-Ghauri yang menegaskan kalau bangsa Afghan adalah Bani Israel dan sebagian mereka berasal dari Kopti (Mesir). Abdul Fazl menyatakan bahwa sebagian orang Afghan mengaku berasal dari Mesir yaitu dari mereka yang kembali ke Mesir dari Yerusalem, setelah mana mereka bermigrasi ke India. Farid-ud-Din Ahmad menjelaskan tentang nama ‘Afghan’ yaitu antara lain berasal dari kebiasaan mereka ‘meratap dan menangis’ (faghan) karena terkenang kampung halaman mereka. Sir John Malcolm juga berpendapat sama dalam bukunya History of Persia, volume 1, halaman 101.

Pada halaman 63 diberikan pernyataan Mahabat Khan: ‘Karena mereka adalah pengikut dan bertalian dengan nabi Sulaiman a.s. maka mereka oleh orang Arab dijuluki Sulaimanis.’ Halaman 65 mengemukakan bahwa semua semua riset oleh sejarahwan orientalis menunjukkan kalau bangsa Afghan menganggap diri mereka keturunan Yahudi. Beberapa sejarahwan masa kini juga berpandangan sama. Mengenai penggunaan nama-nama Yahudi oleh bangsa Afghan yang kemudian menganut Islam, tidak ada yang bisa mendukung pandangan penterjemah Bernhard Doran. Di bagian utara dan barat Punjab ada beberapa suku yang semula Hindu kemudian memeluk Islam tetapi nama-namanya bukan Yahudi, yang menunjukkan bahwa dengan menganut Islam mereka tidak harus tetap menggunakan nama Yahudi.  Penampilan phisik mereka sendiri amat mirip dengan bangsa Yahudi, hal mana diakui juga oleh para cendekiawan meskipun mereka tidak termasuk yang berpandangan bahwa orang Afghan berasal dari umat Yahudi. Mengenai hal itu Sir John Malcolm mengatakan:

Asal mula suku bangsa Afghan yang hidup di daerah pegunungan antara Khurasan dan Indus sudah ditelusuri oleh beberapa sejarahwan.  Beberapa menekankan jika mereka itu keturunan dari bangsa Yahudi yang ditawan oleh Nebuchadnezar dimana kepala-kepala sukunya merunut garis keturunan mereka sampai ke Daud dan Saul (Talut).  Walaupun pengakuan mereka itu diragukan namun penampilan phisik dan adat istiadat mereka berbeda dari bangsa Parsi, Tartar dan India sehingga ini mungkin membenarkan pengakuan mereka yang sebenarnya bertentangan dengan berbagai fakta kuat dan memang belum ada buktinya.  Kalau kemiripan ciri di antara dua bangsa bisa digunakan sebagai bukti maka bangsa Kashmir dengan ciri Yahudinya tentunya bisa dianggap sebagai keturunan Yahudi.  Hal itu tidak saja dikemukakan oleh Bernier tetapi juga oleh Forster dan mungkin beberapa cendekiawan lainnya.  Walaupun Forster tidak berpandangan sama dengan Bernier, namun ia mengakui jika ia berada di antara bangsa Kashmir, ia merasa seolah berada di antara umat Yahudi.’
 Mengenai nama ‘Kashmir’ ada penjelasan dalam buku Dictionary of Geography dari A. K. Johnston di halaman 250 di bawah judul CASHMERE yaitu:
Penduduk aslinya bertubuh tinggi, kekar dengan penampilan kelaki-lakian, wanitanya bertubuh penuh dan cantik dengan hidung mancung dan ciri-ciri yang mirip bangsa Yahudi.’

Dalam berkala Civil & Military Gazette bertanggal 23 November 1898 halaman 4 di bawah judul ‘Sawati and Afridi’ disampaikan sebuah makalah menarik dan penting ditujukan ke bagian Anthropology dari British Association pada sesi musim dingin di hadapan Komite Anthropoligical Research dalam salah satu pertemuan mereka belum lama ini.  Di bawah ini dikutipkan bagian naskah yang penting dari makalah tersebut.

Penduduk asli Paktan atau Pathan di gerbang barat dari India sudah dikenal lama dalam sejarah, banyak dari suku bangsa ini disebut oleh Herodotus dan para sejarahwan Alexander. Di abad menengah, daerah pegunungan liar dimana mereka berada disebut Roh dan penduduknya Rohillah dan tidak diragukan jika mereka ini sudah ada di sana jauh sebelum munculnya suku-suku bangsa Afghan.  Semua bangsa Afghan sekarang ini dianggap sebagai Pathan karena mereka menggunakan bahasa Pathan atau Pashtu.  Mereka tidak mengakui kekerabatan dengan yang lainnya karena mereka merasa mengaku sebagai Bani Israel yaitu keturunan dari bangsa yang ditawan dan dibawa ke Babylon oleh Nebuchadnezar.  Namun semuanya menggunakan bahasa Pashtu dan sama menghormati hukum adat yang disebut Paktanwali, yang berisi peraturan-peraturan mirip dengan ajaran hukum Musa dan adat kuno bangsa Rajput.’


JEJAK BANGSA ISRAEL
‘Dengan demikian bangsa Pathan yang kita bahas ini bisa dibagi dalam dua komunitas besar yaitu suku dan klan seperti Waziri, Afridi, Orakzais dan lain-lain yang merupakan keturunan India dan bangsa Afghan yang mengaku sebagai bangsa Semit (Ibrani) dan merupakan ras yang dominan sepanjang perbatasan.  Mungkin saja Paktanwali yang merupakan norma tidak tertulis tetapi dianut oleh mereka semua, merupakan campuran berbagai sumber.  Di dalamnya kita bisa menemukan peraturan-peraturan agama Musa yang diterapkan pada adat kebiasaan Rajput dan dimodifikasi oleh kebiasaan Islam.  Bangsa Afghan yang menyebut dirinya Durani sejak berdirinya kerajaan Durani sekitar satu setengah abad yang lalu, menyatakan bahwa mereka keturunan dari bangsa Israel melalui moyang mereka bernama Kish, yang oleh nabi Muhammad diberi nama Pathan (bahasa Syria untuk kemudi kapal) karena ia ditugaskan mengemudikan rakyatnya kepada arus agama Islam. Kami telah mengemukakan di atas kalau usia bangsa Pathan atau Paktan ini lebih tua dari Islam.  Umumnya penggunaan nama-nama Israel di antara bangsa Afghan mengharuskan kita mengakui adanya keterkaitan dengan bangsa Israel. Begitu juga adat mereka seperti perayaan Paskah (yang persis sama dengan ritual Yahudi) yang tetap dirayakan oleh mereka yang berpendidikan rendah tanpa mengetahui asal muasalnya.  Bellew berpendapat bahwa keterkaitan dengan bangsa Israel itu nyata adanya, namun ia juga mengingatkan bahwa sekurangnya satu dari tiga cabang garis keturunan Afghan yang menurut hikayat berasal dari keturunan Kish dengan nama Sarabaur.  Nama ini merupakan bentuk kuno dari bahasa Pashtu yang dikenakan kepada ras Rajput yang menganut kalender matahari (solar) ketika mereka bermigrasi ke Afghanistan setelah kekalahan mereka dalam perang melawan Chandraban penganut kalendar bulan (lunar) dalam perang besar Mahabarata dalam sejarah awal India.  Dengan demikian bangsa Afghan kemungkinan adalah bangsa Israel yang diserap ke dalam suku-suku bangsa Rajput kuno dan ini rasanya merupakan jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan mengenai asal muasal bangsa ini.  Hanya saja bangsa Afghan modern mempertahankan pendirian mereka bahwa berdasarkan tawarikh, mereka itu berasal dari ras terpilih keturunan Ibrahim dan mengakui kesamaan dengan Pathan lainnya berdasarkan kesamaan bahasa dan adat istiadat suku bangsa.’

Semua kutipan dari buku-buku para pengarang terkenal tersebut jika dirangkum akan meyakinkan seorang yang berfikir bahwa bangsa Afghan dan Kashmir yang berada di India, di daerah perbatasan dan daerah sekitarnya, adalah Bani Israel. Pada bagian kedua buku ini, Inshallah, aku akan memberikan rincian lebih jauh tentang tujuan utama perjalanan Yesus a.s. ke India yaitu melaksanakan tugas yang diterima beliau untuk mengajar semua suku bangsa Israel sebagaimana berulangkali dikemukakan beliau dalam Injil. Jadi sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh jika beliau memang datang ke India dan Kashmir. Malah akan aneh kalau tanpa melaksanakan tugas-tugas yang diembannya itu, beliau langsung naik ke langit.  Sekianlah dan aku tutup diskusi ini. Salam bagi mereka yang memperoleh petunjuk yang benar.

MIRZA GHULAM AHMAD
Al-Masih yang Dijanjikan

Saturday, December 17, 2011

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 1


Dalam BAB 4 ini akan banyak di ceritakan mengenai bukti-bukti perjalanan Yesus as dengan beberapa referensi.  Selamat mengkaji...:)

BAB 4
Pembuktian dari buku-buku sejarah Berhubung mengandung pembuktian beberapa jenis maka agar jelas urutannya, bab ini dibagi dalam beberapa bagian.

BAGIAN 1
Buku umat Islam yang menyinggung perjalanan Yesus a.s. Dalam buku sejarah berbahasa Parsi yang terkenal yaitu Rauzat-us- Safa pada halaman 130 sampai 135 diuraikan peristiwa yang singkatnya adalah sebagai berikut:
‘Yesus a.s. diberi nama “Masih” karena beliau adalah seorang petualang besar yang selalu bepergian. Beliau mengenakan selendang wool di kepalanya dan jubah wool untuk tubuhnya.  Beliau menggunakan sebuah tongkat dan mengembara dari negeri satu ke negeri lain dan dari kota satu ke kota lain.  Jika malam turun, beliau akan beristirahat di mana kebetulan beliau berhenti.  Beliau makan buah-buahan hutan, minum air yang terdapat di situ dan berjalan kaki kemana pun perginya.  Salah seorang teman seperjalanan beliau dalam salah satu perjalanan pernah membelikan seekor kuda untuk beliau. Beliau menaiki kuda itu untuk satu hari, tetapi karena sulit mendapatkan pakan untuk kuda tersebut, beliau lalu mengembalikannya.  Mengembara dari negerinya, beliau tiba di Nasibin, beratus-ratus mil dari rumahnya. Beserta beliau ikut beberapa pengikut yang biasa ditugaskannya ke kota-kota untuk berkhutbah.  Di dalam kota itu sendiri beredar kabar burung yang buruk tentang Yesus a.s. dan ibunya. Karena itu gubernur kota tersebut menangkap para murid tersebut dan memanggil Yesus. Secara ajaib Yesus menyembuhkan beberapa orang dan melakukan beberapa mukjizat lain.  Karena itu raja daerah Nasibin dengan segenap tentara dan rakyatnya beriman kepada beliau.  Legenda mengenai “hidangan yang diturunkan dari langit” sebagaimana diutarakan dalam Al-Quran (S.5 Al-Maidah:113 – 115), terjadi pada saat pengembaraan beliau tersebut.’


Perkiraan peta perjalanan Yesus a.s. ke India


Pengarang dari buku Rauzat-us-Safa sayangnya juga mencantumkan berbagai mukjizat Yesus yang sebenarnya absurd dan tidak masuk akal, hal mana tidak akan aku sertakan di sini agar apa yang aku sampaikan ini bebas dari kebohongan dan melebih-lebihkan.  Yang penting adalah Yesus a.s. dalam perjalanan beliau telah sampai ke Nasibain (Nisibis Nasibina dalam tulisan Assyria, nama modernnya Nezib atau Nusaybin adalah kota dan benteng tua di utara Mesopotamia, dekat dengan Mydonia (nama kini Jaghjagha), dihuni sekitar 4000 orang, sebagian besar Yahudi (E ncyclopaedia Britannica, ed. 11)), yang terletak di antara Mosul dan Syria. Jika kita berjalan dari Syria ke Persia, kita akan melewati Nasibain yang terletak 450 mil (hampir 700 kilometer) dari Yerusalem. Kota Mosul terletak 48 mil (60 kilometer) dari Nasibain dan 500 mil (750 kilometer) dari Yerusalem.  Perbatasan Persia hanya berjarak 100 mil dari Mosul, berarti Nasibain terletak 150 mil dari perbatasan tersebut. Perbatasan timur Persia menyentuh kota Herat di Afghanistan yang merupakan kota terletak paling barat di negeri itu. Jarak dari Herat ke perbatasan timur Afghanistan sekitar 900 mil.  Dari Herat ke Khyber Pass (Celah di kaki pegunungan Hindu Kush yang m erupakan pintu masuk ke negeri India, sekarang ini jalan yang menghubungkan kota Kabul dengan Peshawar), jaraknya sekitar 500 mil.

Peta di atas menunjukkan route yang diambil Yesus a.s. dalam perjalanan beliau ke Kashmir. Tujuan perjalanan itu adalah mencari umat Israel yang pada masa raja Shalmaneser dari Assyria telah ditangkap dan dibawa sebagai tawanan ke negeri Media.  Perlu diketahui bahwa dalam peta yang dibuat oleh umat Kristiani, Media terletak di selatan laut Khizar (laut Azov) (Terletak di tepian Ukrainia dan Rusia dengan nama Azovskoye More),  yang sekarang ini termasuk Persia (Iran) sehingga dapat disimpulkan bahwa Media pernah merupakan bagian dari Persia dan bagian timur Persia berbatasan langsung dengan Afganistan. Jika penuturan Rauzat-us-Safa itu benar maka perjalanan Yesus a.s. ke Nasibain itu adalah untuk memasuki Afghanistan melalui Persia guna mengajak kembali ke agama Musa suku bangsa Yahudi yang hilang yang saat itu dikenal sebagai bangsa Afghan. Kata ‘Afghan’ sendiri berasal dari bahasa Iberani yang merupakan derivasi dari arti kata ‘pemberani.’ Rupanya karena pernah jaya dalam kemenangan mereka menggunakan nama itu. (Dalam kitab Taurat ada sebuah janji Tuhan kepada orang Yahudi y a itu jika mereka beriman kepada rasul yang ‘terakhir ’ maka mereka akan dianugrahi kerajaan dan pemerintahan sendiri setelah melalui berbagai penderitaan. Janji itu telah dipenuhi o leh sepuluh suku bangsa Israel yang kemudian menganut Islam. Sebab itulah banyak dijumpai raja-raja agung di antara bangsa Afghan dan Kashmiri. D alam buku sejarah Yunani d i bagian 14 bab ‘Creed of Eusebius’ yang diterjemahkan oleh Heinmer, orang London, pada tahun 1650 yang menuturkan tentang raja Abgerus (penterjemah = namanya dalam sejarah adalah Abgar V Ukkama dari Osroene, Edessa) yang mengundang Y esus agar datang ke negerinya. Rupanya raja itu mendengar kekejaman umat Yahudi kepada Yesus dan menawarkan istananya sebagai tempat p elarian. R aja itu rupanya meyakini beliau sebagai nabi yang benar).  

Jadi Yesus a.s. sampai di daerah Punjab melalui Afghanistan, dengan tujuan akhirnya Kashmir.  Untuk diketahui, daerah Chitral dan sebagian dari Punjab memisahkan Kashmir dari Afghanistan.   Jarak yang dditempuh jika kita berjalan dari Afghanistan ke Kashmir melalui Punjab adalah 80 mil atau 135 kilometer. Yesus a.s. sengaja melalui negeri Afghanistan agar suku bangsa Israel yang hilang yang dikenal sebagai bangsa Afghan mendapat berkah dari kedatangan beliau.  Bagian timur Kashmir berbatasan dengan Tibet sehingga memudahkan Yesus memasuki Tibet dari Kashmir.  Setelah sampai di Punjab, beliau tidak mengalami kesulitan untuk berkelana ke berbagai tempat suci umat Hindu sebelum meneruskan perjalanan ke Kashmir atau Tibet.  Karena itu kemungkinan ada benarnya apa yang dikemukakan naskah-naskah historikal kuno negeri ini bahwa Yesus pernah ke Nepal, Benares dan tempat-tempat lainnya.  Kemungkinan beliau masuk Kashmir melalui Jammu atau Rawalpindi. 

Karena beliau berasal dari daerah berhawa dingin, kemungkinan beliau tinggal di daerah-daerah itu hanya selama musim dingin saja dan menjelang akhir Maret atau awal April lalu memulai perjalanan ke Kashmir.  Mengingat negeri Kashmir mirip dengan negeri Sham (Syria dan daerah sekitarnya), beliau lalu menetap di negeri ini.  Sebelumnya beliau kemungkinan tinggal untuk beberapa waktu di Afghanistan dan bukannya tidak mungkin beliau menikah di negeri ini.  Salah satu suku bangsa di Afghanistan bernama ‘Isa Khel,’ kemungkinan mereka ini keturunan dari Yesus a.s. Hanya sayang sekali jika sejarah Afghanistan tidak tertata rapi sehingga sulit memastikan segala sesuatu dari tawarikh suatu suku bangsa saja. Namun bisa dipastikan jika bangsa Afghan adalah suku bangsa Israel, sama seperti bangsa Kashmir.  Bangsa Afghan mengaku sebagai keturunan dari Qais, sedangkan Qais ini bangsa Israel. Aku tidak akan berpanjang kata mengenai hal ini karena sudah pernah aku bahas dalam salah satu bukuku.  Di sini aku hanya akan menyampaikan kisah perjalanan Yesus melalui Nasibain, Afghanistan, Punjab terus ke Kashmir dan Tibet.  Beliau dijuluki sebagai ‘nabi pengembara,’ bahkan ‘penghulu para pengelana’ karena jauhnya pengembaraan beliau.  Salah seorang cendekiawan Muslim terkenal bernama Ibn-al-Walid Al-Fahri Al- Tartushi Al-Maliki menyatakan dalam bukunya Siraj-ul-Muluk (diterbitkan oleh Matba Khairiyya, Mesir, 1306 H) di halaman 6 tentang Yesus a.s.: ‘Di manakah Isa, sang Ruhullah dan Kalimatullah, imam orang-orang saleh dan penghulu para pengelana?’ yang dimaksudkan bahwa beliau itu sudah wafat, dimana seorang besar seperti beliau itu pun sudah meninggalkan dunia ini.  Perlu kiranya diperhatikan bahwa cendekiawan ini tidak hanya menyebut Yesus sebagai ‘pengelana’ malah juga sebagai ‘penghulu para pengelana.’ 

Begitu juga dalam buku Lisan-ul-Arab dinyatakan bahwa Yesus diberi nama Messiah karena beliau selalu mengembara dan tidak berdiam di satu tempat. Hal yang sama dikemukakan dalam Tajul-Urus Sharah Qamus.  Disini dikatakan bahwa Messiah adalah wujud yang diberkati dengan kebaikan dan rahmat, dengan pengertian beliau memiliki nilainilai yang demikian luhur bahkan sentuhannya pun membawa berkat.  Panggilan itu diberikan kepada nabi Isa a.s. karena Tuhan berkuasa memberikan nama itu kepada siapa pun yang disukai-Nya.  Terbalik dari pengertian ini, ada sejenis Messiah lain yang sentuhannya beracun dan terkutuk karena wujudnya terdiri dari komponen dosa dan laknat sehingga apa yang disentuhnya membawa kepada kegelapan dosa dan kelaknatan. Nama Messiah ini adalah Dajjal, dan begitu juga para pengikutnya. 

Kedua nama yang diberikan yaitu Messiah sang Pengelana dan Messiah yang Diberkati tidaklah bertentangan satu sama lain. Yang satu tidak menafikan yang lain, karena sudah menjadi kebiasaan Allah s.w.t. memberi seseorang beberapa nama yang sepadan dengannya.  Yang jelas tawarikh menurut Islam telah membuktikan Yesus sebagai seorang pengelana sehingga jika semua rujukan harus disalin dari buku-buku sejarah yang ada maka risalah ini akan menjadi sangat tebal. Apa yang telah aku kemukakan di atas kiranya memadai.

Tuesday, December 6, 2011

YESUS DI INDIA BAB 3 (10)


Adanya mata uang logam kuno memang telah membantu menjelaskan salah satu rahasia besar dalam sejarah, tetapi adanya sekian banyak naskah buku kuno yang dibaca berjuta orang dan digunakan sebagai buku pegangan di berbagai pusat pendidikan tinggi, tentunya jauh lebih meyakinkan lagi. Inskripsi pada mata uang logam masih mungkin dibantah orang dan dikatakan sebagai penipuan.  Adapun buku-buku ilmiah yang sejak dikarangnya sudah diketahui oleh berjuta manusia, dimana isinya dijaga oleh berbagai bangsa, tentunya lebih meyakinkan sebagai bukti dibanding mata uang logam.  Singkat kata, preparasi ‘Salep nabi Isa’ itu telah menjadi bukti kuat bagi para pencari kebenaran. Kalau bukti ini masih juga ditolak maka semua testimoni historikal harus dibuang juga, terlepas dari bahwa lebih dari seribu buku dan para pengarangnya yang menjelaskan tentang ‘Marham-i-Isa’ sudah diketahui oleh berjuta manusia. Orang yang tidak mau menerima bukti yang demikian jelas dan kuat tentunya termasuk orang yang menolak semua bukti sejarah. 

Bisakah orang seperti itu mengabaikan bukti yang demikian kuat? Bisakah kita meragukan pernyataan para pakar dan ahli filsafat dari golongan Yahudi, Kristen, Magi dan Muslim, yang sudah menyebar di Eropah dan Asia? Para peneliti yang berfikiran obyektif silakan memeriksa bukti ini. Apakah bukti ‘Matahari Kebenaran’ yang demikian jelasnya itu patut diabaikan? Rasanya absurd jika ada yang berpendapat bahwa obat itu disediakan bagi Yesus a.s. karena luka-luka yang diderita akibat jatuh dari genting misalnya, atau luka sebelum masa kenabiannya atau saat sedang melaksanakan penyiaran agama, dan bukan akibat dari penyaliban.  Pada saat sebelum masa kenabiannya beliau jelas tidak mempunyai murid-murid sedangkan pada uraian tentang ‘Salep nabi Isa’ itu dikemukakan adanya murid tersebut.  Dalam buku-buku itu masih digunakan istilah Shailikha yang merupakan kata dari bahasa Yunani.  Sebelum masa kenabian beliau, Yesus belum dianggap orang penting sehingga peristiwaperistiwa kehidupan beliau saat itu tidak ada yang mencatat.  Masa kenabian beliau hanya berlangsung selama tiga setengah tahun dan selama periode itu tidak ada yang menceritakan jika Yesus pernah mendapat luka, kecuali di akhir yaitu saat penyaliban. Kalau ada yang mengira bahwa Yesus menderita luka-luka akibat dari rudapaksa lainnya, silakan yang bersangkutan membuktikan. 

Aku sendiri memiliki naskah kuno al-Qanun dari Bu Ali Sina yang ditulis tangan dari masa itu. Karena itu sangat tidak adil kiranya mengabaikan bukti yang demikian transparant. Cobalah direnungkan secara mendalam karena buku-buku ini ada pada perpustakaan di Eropah dan Asia dari umat Yahudi, Magi, Kristen, Arab, Parsi, Yunani, Romawi disamping bangsa Jerman dan Perancis. Kalau buku-buku itu dikompilasi hanya oleh pengarang Muslim dan hanya ada di tangan para penganut agama Islam, bisa jadi ada yang bersicepat mengambil kesimpulan bahwa umat Muslim telah memalsu isinya untuk menyerang agama Kristen. Yang jelas umat Muslim tidak bisa dituduh telah melakukan pemalsuan tersebut karena mereka pun juga masih mempercayai kalau Yesus naik ke langit, sama seperti kepercayaan umat Kristiani. Malah kalau umat Muslim menganggap beliau tidak mengalami penyaliban sama sekali sehingga tidak perlu ada luka yang terjadi.  Jadi buat apa mereka memalsukan pernyataan yang bertentangan dengan pandangan mereka sendiri? Disamping itu, agama Islam belum muncul ketika buku-buku medikal tersebut sudah beredar dalam bahasa Latin dan Yunani di antara berjuta manusia. 

Kenyataan bahwa obat itu memang ada dikemukakan dalam bukubuku medikal lama terlepas dari agama yang dianut para pengarangnya, menunjukkan bahwa obat tersebut dikenal luas sehingga tidak ada komunitas atau bangsa yang membantahnya.  Namun benar juga kalau dikatakan bahwa fakta tersebut tidak terfikirkan untuk dimanfaatkan sampai setelah datangnya Al-Masih yang Dijanjikan, walaupun ratusan buku tersebut sudah dikenal berjuta manusia sejak lama.  Adalah Allah s.w.t. yang telah mengatur agar bukti terang untuk mengungkapkan kebenaran dan menghancurkan kepercayaan kepada Salib itu harus disampaikan oleh Al-Masih yang Dijanjikan, karena Rasulullah s.a.w. sudah menubuatkan bahwa kepercayaan kepada Salib tidak akan hilang dan kemajuan mereka tidak akan terhambat sampai datangnya Al-Masih yang Dijanjikan di muka bumi. 

Adalah Al-Masih yang Dijanjikan itulah yang akan ‘memecah salib.’  Yang tersirat dalam nubuatan itu ialah Tuhan di masa munculnya Al- Masih yang Dijanjikan, akan menimbulkan kondisi yang akan mendukung terbukanya semua kebenaran berkaitan dengan Penyaliban. Setelah itu baru akan datang akhir dari siklus kehidupan kredo Salib, tidak melalui perang atau kekerasan, tetapi melalui perantaraan bantuan samawi dalam bentuk penemuan dan argumentasi. Inilah inti pengertian dari Hadith sebagaimana disampaikan oleh Bukhari dan lain-lainnya. Karena itulah Tuhan tidak akan membukakan bukti-bukti yang meyakinkan itu sampai kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan. Itu jugalah yang telah terjadi.  Mulai saat munculnya Al-Masih yang Dijanjikan, mata manusia dan mereka yang berfikir akan terbuka, karena Al-Masih dari Tuhan itu sudah datang. Fikiran kiranya perlu diasah, hati seharusnya lebih memperhatikan, pena perlu digalakkan dan semuanya harus mengencangkan ikat pinggang, mereka yang saleh sekarang akan memahami dan semua orang berfikir akan mendapat penjelasan.  Apapun yang menerangi samawi akan menerangi duniawi juga.  Sebagaimana buah-buahan akan masak pada musimnya, begitu juga cahaya kebenaran akan turun pada waktunya, tidak ada yang bisa memaksanya turun sebelum waktunya dan tiada juga yang akan mampu menahan ketika sudah saatnya turun. 

Tentu akan muncul perbedaan pandangan dan kontroversi.  Namun diakhirnya, kebenaran harus menang, karena ini bukan rekayasa manusia tetapi dari Tuhan sendiri yang selama ini memberikan perubahan musim, mempergerakkan waktu dan merubah malam jadi siang dan siang jadi malam.  Dia memang menciptakan kegelapan tetapi Dia mencintai terang. Dia telah membiarkan ‘shirik’ (kepercayaan polytheisme) tumbuh di dunia, namun Dia lebih mencintai‘Tauhid’ (ke-Esaan Tuhan). Dia adalah pencemburu yang tidak akan berbagi Keagungan-Nya dengan siapa pun.  Sejak awal munculnya manusia sampai satu waktu nanti manusia semua musnah, hukum samawi selalu berdasarkan asas Ketauhidan atau Ke Esaan diri-Nya. Tujuan dari semua nabi yang diutus Tuhan adalah mengajarkan manusia untuk hanya menyembah satu Tuhan.  Apa yang mereka sampaikan kepada dunia adalah menanamkan kalimah ‘Tidak ada yang patut disembah selain Allah’ sehingga kalimah itu bersinar di muka bumi sebagaimana kalimah itu bersinar di langit.  Yang teragung dari antara mereka itu adalah ia yang telah menjadikan asas ini bersinar paling cemerlang. Ia yang membukakan kepalsuan dan membuktikan kekosongan dewa-dewa berdasarkan akal dan kekuatan. Setelah berhasil membuktikan semuanya, ia meninggalkan pesan kemenangannya dalam bentuk kalimah ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.’ Ia tidak mengemukakan kalimah ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ sebagai bualan kosong.  Ia telah memberikan bukti-bukti dan membuka kesalahan dari agama palsu serta mengajak umat manusia untuk menyaksikan bahwa tidak ada tuhan lain selain Allah. Ia telah mengalahkan semua kekuatan mereka dan menghancurkan kebanggan mereka dan ia mengajarkan bahwa ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.’




YESUS DI INDIA BAB 3 (9)


BAB 3

Pembuktian dari buku-buku medical Salah satu bukti mengenai kelepasan Yesus a.s. dari kematian di atas kayu salib adalah preparasi medikal yang disebut ‘Marham-i-Isa’ atau ‘Salep nabi Isa’ yang tercatat dalam beratus buku-buku medikal kuno.  Sebagian dari buku itu merupakan hasil kompilasi orang Kristen, ada juga yang dari bangsa Magi atau Yahudi dan sebagian oleh Muslim.  Sebagian besar adalah buku-buku yang sudah tua sekali.  Dari penelitian diketahui bahwa resep pembuatannya semula berdasarkan riwayat lisan dari ratusan ribu orang yang kemudian dicatat dalam naskah. Di awalnya pada saat tak lama setelah Penyaliban, ada naskah farmasetikal dalam bahasa Latin yang menguraikan cara pembuatan berikut penjelasan bahwa preparasi tersebut dibuat untuk mengobati luka-luka Yesus. Naskah ini kemudian diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan pada saat pemerintahan Mamun al-Rashid, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.  Rupanya sudah diatur oleh Tuhan bahwa para tabib terkenal dari berbagai agama seperti Kristen, Yahudi, Magi dan Islam, semuanya mencatat preparasi tersebut dalam buku-buku mereka dengan penjelasan bahwa preparasi itu disiapkan oleh para murid bagi Yesus a.s. Dari farmakologinya diketahui kalau preparasi tersebut amat berguna untuk mengobati cedera karena pukulan atau jatuh, bias menahan darah luka terbuka (astringent) serta mengandung ‘murr’ (myrrh) yang merupakan antiseptik. Obat ini juga berguna saat ada wabah untuk pengobatan bisul dan borok berbagai jenis.  Yang belum jelas adalah apakah obat itu dibuat atas dasar wahyu yang diterima Yesus setelah penyaliban, atau disiapkan berdasarkan konsultasi sekelompok tabib saat itu. Beberapa unsur dasarnya, terutama ‘murr’ juga pernah disinggung dalam kitab Taurat.  Berkat obat itu luka-luka Yesus sembuh dalam beberapa hari. Dalam waktu tiga hari beliau cukup pulih untuk bisa berjalan kaki sejauh tujuhpuluh mil (seratus kilometer lebih) dari Yerusalem ke Galilea.  Berkenaan dengan kemanjuran obat tersebut ada yang mengatakan kalau Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka preparasi itu telah menyembuhkan Yesus sendiri. Buku-buku yang mencantumkan obat ini ada lebih dari seribu buah, terlalu panjang untuk disebutkan.  Resep obat itu terkenal juga di antara tabib-tabib Yunani.  Beberapa dari buku-buku yang mencatat Marham-i-Isa serta pernyataan bahwa salep tersebut dibuat untuk pengobatan luka-luka Yesus adalah:
v  Qanun, oleh Shaikh-ul-Rais Bu Ali Sina, jilid III, halaman 133.
v  Sharah Qanun, oleh Allama Qutb-ud-Din Shirazi, jilid III.
v  Kamil-us-Sanaat, oleh Ali bin Al-Abbas Al-Majusi, jilid III, halaman 602.
v  Kitab Majmua-i-Baqai, Muhammad Ismail, Mukhatif as Khaqan oleh Khitab pidar Mohammad Baqa Khan, jilid II, halaman 497.
v  Kitab Tazkara-i-Ul-ul-Albab, oleh Shaikh Daud-al-Zareer-ul- Antaki, halaman 303.
v  Qarabadin-i-Rumi, dikompilasi di masa Yesus dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di masa Mamun Al-Rashid, bab Penyakit Kulit.
v  Umdat-ul-Muhtaj, oleh Ahmad bin Hasan Al-Rashidi Al-Hakim. Dalam buku ini obat Marham-i-Isa beserta preparasi lainnya disalin dari lebih dari seratus buku berbahasa Perancis.
v  Qarabadin, bahasa Parsi, oleh Hakim Muhammad Akbar Arzani, hal Penyakit Kulit.
v  Shifa-ul-Asqam, jilid II, halaman 230.
v   Mirat-ush-Shafa, oleh Hakim Natho Shah, hal Penyakit Kulit.
v  Zakhira-i-Khawarazm Shahi, hal Penyakit Kulit.
v  Sharah Qanun Gilani, jilid III.
v  Sharah Qanun Qarshi, jilid III.
v  Qarabadin, oleh Ulwi Khan, hal Penyakit Kulit.
v  Ilaj-ul-Amraz, oleh Hakim Muhammad Sharif Khan Sahib, halaman 893.
v  Qarabadi Unani, hal Penyakit Kulit.
v  Tuhfat-ul-Muminin, catatan pada bagian Makhzan-ul-Adwiya, halaman 713.
v  Muhit Fi-Tibb, halaman 367.
v  Aksir-i-Azam, oleh Hakim Muhammad Azam Khan Sahib, Al- Mukhatab ba Nazim-i-Jahan, jilid IV, halaman 331.
v  Qarabadin, oleh Masumi-ul-Masum bin Karam-ud-Din Al- Shustri Shirazi.
v  Ijala-i-Nafiah, oleh Muhammad Sharif Dehlavi, halaman 140.
v  Tibb-i-Shibri (nama lainnya Lawami Shibriyya), oleh Sayid Hussain Shibr Kazimi, halaman 471.
v  Makhzan-i-Sulaimani (terjemahan dari Aksir Arabi), oleh Muhammad Shams-ud-Din Sahib dari  Bahawalpur, halaman
v  Shifa-ul-Amraz, diterjemahkan oleh Maulana Al-Hakim Muhammad Noor Karim, halaman 282.
v  Kitab Al-Tibb Dara Shakohi, oleh Nur-uf-Din Muhammad Abdul Hakim Ain-ul-Muluk Al-Shirazi, halaman 360.
v  Minhaj-ud-Dukan ba Dastur-ul-Aayan fi Aamal wa Tarkib Al- Nafiah lil Abdan, oleh Aflatoon-i-Zamana wa Rais-i-Awana Abdul Mina ibn Abi Nasr-ul-Atta Al-Israili Al-Haruni (orang Yahudi), halaman 86.
v  Zubdat-ul-Tabb, oleh Sayid-ul-Imam Abu Ibrahim Ismail bin Hasan-ul-Husaini Al-Jarjani, halaman 182.
v  Tibb-i-Akbar, oleh Muhammad Akbar Arzani, halaman 242.
v  Mizan-ul-Tibb, Muhammad Akbar Arzani, halaman 152. 
v  Sadidi, oleh Rais-ul-Mutakalimin Imamul Muhaq-i-qin Al-Sadid-ul-Kazruni, jilid II, halaman 283.
v  Hadi Kabir, oleh Ibn-i-Zakaria, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Talmiz, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Abi Sadiq, hal Penyakit Kulit.


Buku-buku di atas itu sebagai ilustrasi. Para cendekiawan, khususnya di bidang medikal, mengetahui bahwa buku-buku tersebut di masa lalu merupakan buku pegangan pendidikan kedokteran di kota-kota di bawah pemerintahan Muslim dimana mereka yang berasal dari Eropah juga belajar di sana. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sudah berjuta orang yang mengenal buku-buku tersebut dan beratus ribu yang telah mempelajarinya secara lengkap. Aku memastikan di sini bahwa tidak ada seorang pun cendekiawan Eropah atau Asia yang tidak mengenal sekurangnya sebagian dari buku-buku itu. 


Ketika Sapin, Qastmonia dan Shantrin memiliki universitasuniversitas, buku al-Qanun fi at-Tibb dari Bu Ali Sina (Ibnu Sina atau lengkapnya Abu A li Al-Hussain Ibnu Abdullah Ibnu Sina yang di Barat dikenal dengan nama Avicenna.  Bukunya al-Qanun fi at-Tibb merupakan buku kedokteran yang paling terkenal sepanjang sejarah manusia), yang merupakan buku medikal unggulan, serta buku-buku lain seperti Shifa, Isharat dan Basharat tentang fisika, astronomi dan filsafat, dipelajari secara tekun oleh orang-orang Eropah. Begitu juga bias dipelajari karya-karya dari Abu Nasr Farabi, Abu Raihan Israil, Thabit bin Qurrah, Hunain bin Ishaq dan lain-lain yang semuanya tokohtokoh cendekiawan serta hasil terjemahan mereka dari karya-karya Yunani.  Terjemah karya mereka sampai sekarang pun masih dapat ditemukan di Eropah.

Para penguasa Muslim pada zaman dahulu umumnya selalu membantu dunia medikal, merekalah yang rajin memerintahkan penterjemahan karya-karya Yunani. Sifat otoritas Khilafat yang sudah lama mendasari pemerintahan raja-raja Islam lebih mementingkan pengembangan pengetahuan daripada perluasan daerah kekuasaan.  Karena itu tidak hanya karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bahkan para penguasa itu mengundang para Pandit cendekiawan dari India untuk menterjemahkan buku-buku medikal dan buku lainnya dengan imbalan yang tinggi. Kita patut berterimakasih kepada mereka karena mereka menterjemahkan karyakarya medikal dari bahasa Latin dan Yunani yang menyinggung ‘Salep nabi Isa’ lengkap dengan penjelasan bahwa ramuan itu untuk mengobati luka-luka Yesus a.s. Ketika para cendekiawan Muslim dari masa itu seperti Thabit bin Qurrah dan Hunain bin Ishaq yang tidak saja ahli dalam ketabiban tetapi juga dalam fisika dan filsafat, menterjemahkan Qarabadin yang menyinggung ‘Marham-i-Isa,’ mereka secara bijak tetap menggunakan kata Shailikha yang sebenarnya kata Yunani dalam aksara Arabnya agar orang yang membaca menyadari bahwa buku tersebut diterjemahkan dari karya farmasetikal Yunani.  Karena itu di hampir semua buku digunakan istilah Shailikha tersebut.