GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Al Kitab. Show all posts
Showing posts with label Al Kitab. Show all posts

Monday, March 19, 2012

KONSEP KE AL MASIHAN

Karya Tulis           : Kenneth Moakan
Sumber                 : The Review of Religions, Januari 1988
Judul Asli              : Concept of Mesiah
Terjemah              :  Muharim Awaluddin Thailand

Sebagai seorang muslim saya tidak merasa pokok bahasan ini merupakan sesuatu yang asing, bahkan ia merupakan salah satu dari kepercayaan pokok orang Islam untuk mempercayai dan mengakui semua Nabi dari Tuhan dan konsep mengenai Al-Masih ada tersebut dalam kitab suci Al-Qur’an.

Konsep mengenai kedatangan seorang Al Masih (Messias) ini berlainan diantara tiga agama besar dunia Yahudi, Kristen dan Islam.  Dimana kaum Yahudi percaya bahwa Al Masih akan muncul, kaum Kristen percaya bahwa beliau akan muncul dalam wujud Yesus (Nabi Isa) dan akan muncul kedua kalinya pada akhir zaman untuk mengumpulkan umatnya dan menegakkan kerajaan Tuhan selamanya.  Kaum muslimin menganut kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Al Masih dan bahwa pada kedatangan beliau yang kedua, beliau akan datang sebagai seorang muslim dan akan menegakkan supremasi Islam dengan mengobarkan perang kepada mereka yang tak menerima Islam.  Beliau juga akan membunuh babi dan mematahkan salib.  Kepercayaan kaum muslimin berdasar kepada kesalah pahaman atas sabda-sabda Nabi suci Muhammad SAW.  Muslim Ahmadi sebaliknya percaya seperti halnya kaum Kristen dan Muslimin pada umumnya, tetapi memiliki konsep yang berbeda. Tentang kedatangan beliau yang kedua.  Perkara ini tidak akan di bahas dalam tulisan ini, tetapi di bahas berkali-kali sebelum ini dan dimasa mendatang. Insyallah dapat di bahas lagi untuk manfaat bagi para pencari kebenaran.

Agama-agama lain juga nampaknya ada aide-ide ke Al Masihan dalam sistem mereka.  Yang sedang di tawarkan di kalangan kaum Hindu tertentu bahwa Krisna adalah Messias (Al Masih) atau bahwa ajaran Krishna adalah apa yang kaum Kristen dakwahkan.  Pandangan ini juga dimiliki oleh beberapa golongan agama Budha.  Bahwa Buddha adalah pribadi yang sama dengan Yesus sedang di tonjolkan dan bahwa ajaran Kristen telah diambil secara harafiah dari kitab-kitab Buddha.

Zoroaster tidak mempercayai konsep ini dan menulis dalam Dasatir.  Susan I agung menubuatkan bahwa seorang nabi akan di bangkitkan di akhir zaman dan akan merupakan keturunan Persia dan bahwa keturunanya akan merujuk kepada kedatangan beliau yang ke II, sementara kaum Kristen dan Muslimin tidak ada satu bukti yang diajukan bahwa ada keturunan Yesus (Nabi Isa) yang mereka yakini sebagai Al Masih, tidak pula kaum Yahudi memiliki bukti-bukti itu.  Istilah Al Masih (Messias) seperti umumnya di pahami merujuk kepada seorang Nabi Agung yang akan menjadi orang pilihan Tuhan.

Gagasan kemunculan seorang Al Masih nampaknya telah menjadi bagian dari ajaran Yahudi sejak masa Musa as.  Sebab ada banyak nubuatan yang di tunjukkan oleh mereka dan juga oleh kaum Kristen dalam perjanjian lama yang dianggap sebagai kedatangan Nabi Agung yang menjadi Al Masih (Messias).  Nyatanya banyak ayat dalam perjanjian lama mengenai sifat seseorang yang Agung.  Pendeknya boleh dikatakan dengan aman, bahwa harapan kebangkitan bangsa Yahudi tergantung dengan kemunculan Al Masih.    Para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan berbagai ayat perjanjian lama untuk mempertimbangkan kebangkitan Al Masih dikalangan mereka dan yang akan meneguhkan keimanan mereka dan memimpin secara Herois.

Kepada ular Tuhan berfirman “dan aku akan mengadakan permusuhan diantaramu dan perempuan ini, dan diantara keturunanmu dan keturunannya.  Ia akan meremukkan kepalamu dan kamu akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Hasil yang keturunan perempuan itu akan dapatkan atas keturunan ular adalah menghancurkan kepalanya, sedangkan keturunan ular hanya berhasil menghancurkan tumitnya.  Perhatikan bahasa Ibrani yang di gunakan disini membawa makna ganda dan terbukti dari tergun bahwa ia berarti: “merusak, menggilas jadi debu dan menghancurkan”.  Ini telah di tunjukkan dalam kejadian 3:15 dimana digambarkan secara garis besar akibat konflik yang panjang antar keturunan perempuan dan keturunan ular setelah (peristiwa yang) di anggap kejatuhan manusia dari taman Eden.

Profesor Delitzsch mengatakan: “Hanya ketika kita menerjemahkan: Dia (keturunan perempuan) akan meremukkan kepalanya…", kalimat itu termasuk janji pasti kemenangan atas ular, karena ia menderita di perjalanan maut, mencoba menyelamatkan diri dan tenggelam dalam perjalanan adalah luka maut ( kejadian 49;17).  Hal ini di percayai sebagai nubuat terselubung dan bertujuan ke arah sejarah yang sedang bergerak.

Bahwa para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan baris ini sebagai nubuatan Al-Masih sangat jelas dari Tergum Palestina yang menyatakan bahwa dalam kejadian 3:15 adalah janji  penjagaan terhadap gigitan ular pada akhir zaman, di masa raja Al Masih.

Pokok bahasan kejadian 3:15 diulas dalam Tergum Palestina dengan pernyataan tambahan sbb: “ memang demikian bagi mereka akan jadi suatu obat, dan mereka akan menjadikan penyembuhan untuk tumit itu pada masa raja Meshiha".

Rujukan yang di buat di sini adalah kepada Al Masih yang akan menyembuhkan mereka dari penyakit dan mengembalikan mereka pada kesucian sejati, yang mereka percayai telah ada sebelum kejatuhan.  Midrash Palestina (Beresith rabba XII) menyatakan:  “Tiap-tiap sesuatu yang Tuhan ciptakan sejak semula sempurna, manusia berdosa telah menjadi korup dan tidak kembali pada keadaan semula hinga putra perez (yakni menurut kejadian 38:29, Ryth 4:18; Al Masih berasal dari suku Yudah) datang”.  Penafsiran ini menjadikan Al Masih pembaharu dan membawa satu dunia yang sesat kepada Tuhan.

Istilah rabbi Al Masih adalah M’nahem dan tanpa keraguan berdasarkan pada ratapanYeremia seperti yang terdapat pada pasal 1:2, 9, 17 & 21.  Di sini Nabi Yeremia meratapi keadaan Zion yang tersia-sia dan tak seorang pun membawa ketentraman dan keselamatan kepadanya.

Penghibur atau Juruselamat ini dikutip dalam Ulangan 28:1-14 dan dalam Yesaya pasal 51 & 52 dan yang di percaya sebagai Messias.  Satu ayat lain yang di gunakan adalah dari Yesaya yang terbaca: “Maka Tuhan sendiri yang akan memberimu suatu tanda; lihatlah anak dara akan hamil dan melahirkan seorang putra; dan akan di beri nama Immanuel”. (Yesaya 7:14).

Immanuel bermakna Tuhan bersama kita.  Dari hal ini di tunjukkan, bahwa seorang yang telah di nubuatkan akan di kuatkan (dibantu) oleh Tuhan.  Dikalangan bangsa Ibrani ada adat kebiasaan anak-anak diberi nama untuk memperingati beberapa peristiwa bermakna atau karya-karya agung Tuhan dengan harapan bahwa anak itu boleh dipengaruhi oleh namanya dan sampai pada ketinggian yang diharap.
Contohnya:
  1. ·         Yesaya bermakna: Tuhan telah menyelamatkan
  2. ·         Yeremia bermakna: Tuhan menguatkan
  3. ·         Zefannya bermakna: Tuhan menyembunyikan
  4. ·         Zakaria bermakna: Tuhan telah mengingat
  5. ·         Zehezkiel bermakna: Tuhan adalah kuat
  6. ·         Daniel bermakna: Tuhan adalah hakimku
  7. ·         Yoel bermakna: Tuhan adalah Allah


Diharapkan bahwa anak-anak yang menyandang paling tidak mencontohkan sifat-sifat baik dari nama-nama itu.  Tak seorang pun merasa berhak mengatakan bahwa karena seorang menyandang nama Daniel yang bermakna “Tuhan adalah hakimku” atau seseorang bermakna Yoel yang berarti “Tuhan adalah Allah”, maka semua yang bernama Yoel adalah Tuhan.  Maka nama Immanuel secara sederhana merupakan suatu ekspresi harapan bahwa Tuhan bersama hamba-hamba-Nya dan akan melindungi dan menolong mereka.

Dipercaya bahwa fungsi Al Masih terkutip dalam Yesaya 53.  Dengan suatu cara  Musa as menubuatkan tentang seseorang pembawa hukum yang lebih besar dari pada beliau sendiri (Ulangan 18:18); Yeremia menubuatkan seorang Juru Selamat yang lebih agung dari pada yang membawa Bani Israil keluar dari Mesir (Yeremia 23:7-8); Yehezkiel telah merujuk pada suatu Rumah Ibadah yang lebih mulia dari pada biara (kuil) Sulaeman (Yehezkiel 40-48).  Maka seluruh sejarah Israil dipercayai merupakan hal yang biasa.

Penjelasan rabbi dan Yesaya 7:14 biasanya adalah bahwa hal itu digenapi dengan kelahiran Hezekiah.  Kedudukan ini begitu menarik dalam hal yang menunjukkan anak yang berasal dari keturunan Daud, dari pusat Yerusalem yang mempunyai kekuasaan seperti di gambarkan dalam pasal 11 dan 12.  Lebih lanjut dalam hal Yesaya 8:8 di katakana bahwa tanah Immanuel adalah Palestina, yang pernyataan dalam hubungan ini dianggap berasal dari Daud dan kekuasaan kerajaannya.  Komentar-komentar lain menetapkan Immanuel sebagai putra ke-dua Yesaya, Maher-Shalal-hash-baz. Dalil menguntungkan untuk kedudukan ini adalah kedudukan Maher-Shalal-hash-baz dicatat dalam pasal berikutnya dan bahwa ramalan mengenai anak itu sangat serupa dengan peringan mengenai putra nabi.

Yesaya pasal 7:12 telah disebut Kitab Immanuel.  Al Masih yang akan datang itu menduduki posisi sentral dalam kitab suci bagian ini yang merupakan konsep kaum Yahudi.  Prof. Delezch dalam komentarnya atas Yesaya 7:14 telah mengatakan bahwa “ itulah Al Masih Nabi yang di sini dikatakan akan lahir, maka dalam pasal 9 adalah kelahiran dan dalam pasal 11 adalah tiga tahap kekuasaan yang tak terpatahkan, tiga bentuk kejayaan, menerangi tiga tingkat yang dalam sejarah masa depan umatnya terbagi sendiri menurut pandangan Nabi itu”.

Yesaya 59 adalah salah satu dari pasal-pasal yang dipercayai dan ditafsirkan sabagai berisi dalil kedatangan Al Masih dan bahwa kemunculan beliau akan disiarkan ketika bangsa Israil secara keseluruhan tenggelam dalam kancah dosa dan kekafiran.  Dari ayat-ayat yang lain di percayai bahwa pada masa itu Israil akan sangat menderita lebih dari yang mungkin terbayang.  Meramalkan keadaan dan melukiskan penderitaannya, Yesaya menjadikan Zion seperti seorang wanita yang ditinggalkan atau seperti rata dengan tanah yang untuknya beliau mengharapkan bangkitnya dan menyambut juru selamat yang lama diharapkan.

Ayat-ayat yang menuntun pada semua pandangan dari Al Masih penakluk (Yesaya 59:15 -21) dan Nabi yang mengembalikan kemuliaan Zion (Pasal 60:1-3), mengumpulkan kembali Israil (4-9) kedudukan Zion ini di bawah pemerintahan Al Masih (10-14) dan pemulihan suasana Eden atas Yerusalem dalam (ayat 15-22).  Dari ayat-ayat ini dan lain-lain dipercayai bahwa Al Masih (Messias) di jadwalkan akan datang di Zion dan akan menegakkan kerajaannya,  mengembangkan kekuasaannya sampai keseluruh dunia.

Walaupun konsep kedatangan Al Masih telah proyeksikan telah di gambarkan oleh berbagai sarjana dan kitab-kitab perjanjian lama, hal itu tidak terjadi hingga dua ayat terakhir perjanjian lama (Maleakhi 4: 5-6) bahwa konsep Al Masih telah mendapatkan momentum.  Di sini dinyatakan bahwa Elia (Nabi Ilyas as) akan muncul (datang) sebelum kedatangan Tuhan.  Tetapi boleh dicatat bahwa penampakan kebesaran Tuhan diberikan untuk tiga kali penampakan: Sekali di Sinai, kemudian di Seir dan terakhir di Paran (Ulangan 33:2).  Nubuatan dalam Ulangan 18:18 menyebabkan sebagian orang Yahudi berpindah dan menetap di Arabia yang di dalamnya terletak Paran dimana di sebutkan bahwa penampakan kekuasaan dan kebesaran Tuhan yang ke tiga terjadi dalam harapan penggenapan impian mereka.

Kepercayaan bahwa Elia naik kelangit (2 Raja-raja 2:11), kaum Yahudi pada masa itu percaya bahwa beliau akan kembali akhirnya dan mereka dengan penuh hasrat mengharapkan dan menantikan beliau boleh di ingat bahwa kaum Yahudi mengharap kedatangan tiga wujud: Elia, Al Masih (Kristus) dan Nabi Itu.  Ini merupakan bukti dari kenyataan, bahwa ketika Yesus memberitakan kepada kaum Yahudi, mereka sangat curiga dengan dakwah-dakwah beliau.  Sebagian murid memberanikan diri bertanya kepada Yesus mengenai keberatan kaum Yahudi, maka mereka menanyai beliau: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”.  Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan aku berkata kepada mu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukan menurut kehendak mereka.  Demikian juga anak manusia akan menderita oleh mereka”.  Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa ia berbicara tentang Yohanes pembabtis” (Matius 17:10-13).

Sampai hari ini kaum Yahudi masih menunggu kedatang Al Masih mereka sampai pada tahap, bahwa salah satu doa mereka yang di panjatkan sesudah makan, adalah Tuhan akan menjadikan mereka berharga untuk dapat menerima Al Masih.
Dan akhir seruan kita adalah: SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEKALIAN ALAM!

Sumber: EBK, No.63 TahunVI, Agustus 2002/Zuhur 1381, h.25-31

Tuesday, December 6, 2011

YESUS DI INDIA BAB 3 (9)


BAB 3

Pembuktian dari buku-buku medical Salah satu bukti mengenai kelepasan Yesus a.s. dari kematian di atas kayu salib adalah preparasi medikal yang disebut ‘Marham-i-Isa’ atau ‘Salep nabi Isa’ yang tercatat dalam beratus buku-buku medikal kuno.  Sebagian dari buku itu merupakan hasil kompilasi orang Kristen, ada juga yang dari bangsa Magi atau Yahudi dan sebagian oleh Muslim.  Sebagian besar adalah buku-buku yang sudah tua sekali.  Dari penelitian diketahui bahwa resep pembuatannya semula berdasarkan riwayat lisan dari ratusan ribu orang yang kemudian dicatat dalam naskah. Di awalnya pada saat tak lama setelah Penyaliban, ada naskah farmasetikal dalam bahasa Latin yang menguraikan cara pembuatan berikut penjelasan bahwa preparasi tersebut dibuat untuk mengobati luka-luka Yesus. Naskah ini kemudian diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan pada saat pemerintahan Mamun al-Rashid, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.  Rupanya sudah diatur oleh Tuhan bahwa para tabib terkenal dari berbagai agama seperti Kristen, Yahudi, Magi dan Islam, semuanya mencatat preparasi tersebut dalam buku-buku mereka dengan penjelasan bahwa preparasi itu disiapkan oleh para murid bagi Yesus a.s. Dari farmakologinya diketahui kalau preparasi tersebut amat berguna untuk mengobati cedera karena pukulan atau jatuh, bias menahan darah luka terbuka (astringent) serta mengandung ‘murr’ (myrrh) yang merupakan antiseptik. Obat ini juga berguna saat ada wabah untuk pengobatan bisul dan borok berbagai jenis.  Yang belum jelas adalah apakah obat itu dibuat atas dasar wahyu yang diterima Yesus setelah penyaliban, atau disiapkan berdasarkan konsultasi sekelompok tabib saat itu. Beberapa unsur dasarnya, terutama ‘murr’ juga pernah disinggung dalam kitab Taurat.  Berkat obat itu luka-luka Yesus sembuh dalam beberapa hari. Dalam waktu tiga hari beliau cukup pulih untuk bisa berjalan kaki sejauh tujuhpuluh mil (seratus kilometer lebih) dari Yerusalem ke Galilea.  Berkenaan dengan kemanjuran obat tersebut ada yang mengatakan kalau Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka preparasi itu telah menyembuhkan Yesus sendiri. Buku-buku yang mencantumkan obat ini ada lebih dari seribu buah, terlalu panjang untuk disebutkan.  Resep obat itu terkenal juga di antara tabib-tabib Yunani.  Beberapa dari buku-buku yang mencatat Marham-i-Isa serta pernyataan bahwa salep tersebut dibuat untuk pengobatan luka-luka Yesus adalah:
v  Qanun, oleh Shaikh-ul-Rais Bu Ali Sina, jilid III, halaman 133.
v  Sharah Qanun, oleh Allama Qutb-ud-Din Shirazi, jilid III.
v  Kamil-us-Sanaat, oleh Ali bin Al-Abbas Al-Majusi, jilid III, halaman 602.
v  Kitab Majmua-i-Baqai, Muhammad Ismail, Mukhatif as Khaqan oleh Khitab pidar Mohammad Baqa Khan, jilid II, halaman 497.
v  Kitab Tazkara-i-Ul-ul-Albab, oleh Shaikh Daud-al-Zareer-ul- Antaki, halaman 303.
v  Qarabadin-i-Rumi, dikompilasi di masa Yesus dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di masa Mamun Al-Rashid, bab Penyakit Kulit.
v  Umdat-ul-Muhtaj, oleh Ahmad bin Hasan Al-Rashidi Al-Hakim. Dalam buku ini obat Marham-i-Isa beserta preparasi lainnya disalin dari lebih dari seratus buku berbahasa Perancis.
v  Qarabadin, bahasa Parsi, oleh Hakim Muhammad Akbar Arzani, hal Penyakit Kulit.
v  Shifa-ul-Asqam, jilid II, halaman 230.
v   Mirat-ush-Shafa, oleh Hakim Natho Shah, hal Penyakit Kulit.
v  Zakhira-i-Khawarazm Shahi, hal Penyakit Kulit.
v  Sharah Qanun Gilani, jilid III.
v  Sharah Qanun Qarshi, jilid III.
v  Qarabadin, oleh Ulwi Khan, hal Penyakit Kulit.
v  Ilaj-ul-Amraz, oleh Hakim Muhammad Sharif Khan Sahib, halaman 893.
v  Qarabadi Unani, hal Penyakit Kulit.
v  Tuhfat-ul-Muminin, catatan pada bagian Makhzan-ul-Adwiya, halaman 713.
v  Muhit Fi-Tibb, halaman 367.
v  Aksir-i-Azam, oleh Hakim Muhammad Azam Khan Sahib, Al- Mukhatab ba Nazim-i-Jahan, jilid IV, halaman 331.
v  Qarabadin, oleh Masumi-ul-Masum bin Karam-ud-Din Al- Shustri Shirazi.
v  Ijala-i-Nafiah, oleh Muhammad Sharif Dehlavi, halaman 140.
v  Tibb-i-Shibri (nama lainnya Lawami Shibriyya), oleh Sayid Hussain Shibr Kazimi, halaman 471.
v  Makhzan-i-Sulaimani (terjemahan dari Aksir Arabi), oleh Muhammad Shams-ud-Din Sahib dari  Bahawalpur, halaman
v  Shifa-ul-Amraz, diterjemahkan oleh Maulana Al-Hakim Muhammad Noor Karim, halaman 282.
v  Kitab Al-Tibb Dara Shakohi, oleh Nur-uf-Din Muhammad Abdul Hakim Ain-ul-Muluk Al-Shirazi, halaman 360.
v  Minhaj-ud-Dukan ba Dastur-ul-Aayan fi Aamal wa Tarkib Al- Nafiah lil Abdan, oleh Aflatoon-i-Zamana wa Rais-i-Awana Abdul Mina ibn Abi Nasr-ul-Atta Al-Israili Al-Haruni (orang Yahudi), halaman 86.
v  Zubdat-ul-Tabb, oleh Sayid-ul-Imam Abu Ibrahim Ismail bin Hasan-ul-Husaini Al-Jarjani, halaman 182.
v  Tibb-i-Akbar, oleh Muhammad Akbar Arzani, halaman 242.
v  Mizan-ul-Tibb, Muhammad Akbar Arzani, halaman 152. 
v  Sadidi, oleh Rais-ul-Mutakalimin Imamul Muhaq-i-qin Al-Sadid-ul-Kazruni, jilid II, halaman 283.
v  Hadi Kabir, oleh Ibn-i-Zakaria, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Talmiz, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Abi Sadiq, hal Penyakit Kulit.


Buku-buku di atas itu sebagai ilustrasi. Para cendekiawan, khususnya di bidang medikal, mengetahui bahwa buku-buku tersebut di masa lalu merupakan buku pegangan pendidikan kedokteran di kota-kota di bawah pemerintahan Muslim dimana mereka yang berasal dari Eropah juga belajar di sana. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sudah berjuta orang yang mengenal buku-buku tersebut dan beratus ribu yang telah mempelajarinya secara lengkap. Aku memastikan di sini bahwa tidak ada seorang pun cendekiawan Eropah atau Asia yang tidak mengenal sekurangnya sebagian dari buku-buku itu. 


Ketika Sapin, Qastmonia dan Shantrin memiliki universitasuniversitas, buku al-Qanun fi at-Tibb dari Bu Ali Sina (Ibnu Sina atau lengkapnya Abu A li Al-Hussain Ibnu Abdullah Ibnu Sina yang di Barat dikenal dengan nama Avicenna.  Bukunya al-Qanun fi at-Tibb merupakan buku kedokteran yang paling terkenal sepanjang sejarah manusia), yang merupakan buku medikal unggulan, serta buku-buku lain seperti Shifa, Isharat dan Basharat tentang fisika, astronomi dan filsafat, dipelajari secara tekun oleh orang-orang Eropah. Begitu juga bias dipelajari karya-karya dari Abu Nasr Farabi, Abu Raihan Israil, Thabit bin Qurrah, Hunain bin Ishaq dan lain-lain yang semuanya tokohtokoh cendekiawan serta hasil terjemahan mereka dari karya-karya Yunani.  Terjemah karya mereka sampai sekarang pun masih dapat ditemukan di Eropah.

Para penguasa Muslim pada zaman dahulu umumnya selalu membantu dunia medikal, merekalah yang rajin memerintahkan penterjemahan karya-karya Yunani. Sifat otoritas Khilafat yang sudah lama mendasari pemerintahan raja-raja Islam lebih mementingkan pengembangan pengetahuan daripada perluasan daerah kekuasaan.  Karena itu tidak hanya karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bahkan para penguasa itu mengundang para Pandit cendekiawan dari India untuk menterjemahkan buku-buku medikal dan buku lainnya dengan imbalan yang tinggi. Kita patut berterimakasih kepada mereka karena mereka menterjemahkan karyakarya medikal dari bahasa Latin dan Yunani yang menyinggung ‘Salep nabi Isa’ lengkap dengan penjelasan bahwa ramuan itu untuk mengobati luka-luka Yesus a.s. Ketika para cendekiawan Muslim dari masa itu seperti Thabit bin Qurrah dan Hunain bin Ishaq yang tidak saja ahli dalam ketabiban tetapi juga dalam fisika dan filsafat, menterjemahkan Qarabadin yang menyinggung ‘Marham-i-Isa,’ mereka secara bijak tetap menggunakan kata Shailikha yang sebenarnya kata Yunani dalam aksara Arabnya agar orang yang membaca menyadari bahwa buku tersebut diterjemahkan dari karya farmasetikal Yunani.  Karena itu di hampir semua buku digunakan istilah Shailikha tersebut.

Sunday, December 4, 2011

YESUS DI INDIA BAB 2 (8)


Sekarang saya paparkan BAB 2 Yesus Di India tulisan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

BAB 2
Pembuktian melalui Al-Quran dan Hadits tentang bukti keselamatan Yesus Argumentasi yang akan aku sampaikan berikut ini mungkin sepertinya tidak berguna karena ditujukan kepada umat Kristiani sedangkan mereka tidak menganut apa yang dikatakan Al-Quran dan Hadits mengenai permasalahan ini. Namun aku akan menyampaikannya juga karena aku ingin umat Kristiani mengetahui mukjizat dari Al-Quran kita dan Rasulullah s.a.w. dan menjelaskan kepada mereka kebenaran yang telah diungkapkan beratus tahun yang lalu. Salah satunya adalah ayat dimana Allah s.w.t. berkata:
. . . mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya.’(S.4 An-Nisa: 158)

Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa menyatakan bahwa walaupun benar Yesus a.s. disalibkan dan umat Yahudi itu begitu bernafsu untuk membunuh beliau, tetapi adalah salah jika umat Yahudi atau pun Kristiani menganggap beliau benar-benar telah wafat di kayu salib. Tidak demikian, karena Tuhan telah menciptakan kondisi-kondisi yang menyelamatkan Yesus dari kematian di kayu salib.  Kalau kita renungkan, kita harus mengakui kebenaran yang dikemukakan Al-Quran yang bertentangan dengan keyakinan umat Yahudi dan Kristiani umumnya. Penelitian-penelitian modern sudah membuktikan kalau Yesus selamat dari kematian di salib. Penelitian atas naskah-naskah mereka menunjukkan umat Yahudi tidak pernah bisa menjawab pertanyaan: ‘Bagaimana mungkin Yesus wafat dalam waktu dua atau tiga jam sedangkan tulang-tulangnya tidak diremukkan?

Kenyataan itu menyebabkan umat Yahudi mencari dalih lain yaitu mereka telah membunuh beliau dengan pedang, padahal sejarah masa lalu bangsa itu tidak ada mencatat kejadian tersebut. Kekuasaan dan kejalalan Yang Maha Abadi telah menciptakan kegelapan di bumi untuk menyelamatkan Yesus a.s. Pada waktu itu terjadi pula gempa bumi. Isteri Pilatus mendapat mimpi sehingga gubernur Pilatus cenderung ingin melepaskan Yesus. Saat itu Sabat sudah hamper sampai. Semuanya ini oleh Allah s.w.t dimunculkan pada saat bersamaan guna menyelamatkan Yesus. Beliau sendiri dipingsankan agar dikira sudah mati. Tanda-tanda menakutkan seperta gempa bumi dan kegelapan itu telah menimbulkan sifat pengecut dan ketakutan di hati umat Yahudi disamping ketakutan akan hukuman samawi.  Mereka juga takut meninggalkan orang tergantung di salib pada malam Sabat. Karena gelap dan gempa itu timbul kegemparan di antara mereka. Mereka merisaukan keadaan di rumahnya masingmasing, bagaimana anak-anak mereka dalam keadaan gelap dan adanya gempa bumi tersebut. Mereka melihat Yesus yang pingsan sebagai orang yang sudah mati. Hati mereka terguncang hebat karena jika orang itu pembohong dan kafir, mengapa muncul tanda-tanda luar biasa demikian pada saat penderitaannya? Demikian risaunya mereka sehingga mereka tidak bisa berfikir jernih guna memastikan apakah Yesus benar sudah wafat. Semuanya ini adalah rekayasa samawi untuk menyelamatkan Yesus. Hal inilah yang tersirat dari ayat ‘mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib,’ dimana Allah s.w.t. menanamkan keyakinan di hati mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh beliau. Keadaan ini menguatkan keimanan mereka yang saleh kepada Allah s.w.t. karena Dia bisa menyelamatkan hamba-Nya dengan cara apa saja.  Al-Quran juga menyampaikan ayat yang menyatakan:
. . . namanya Al-Masih Isa ibnu Maryam yang dimuliakan di dunia dan di akhirat dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah’(S.3 Ali Imran:46)

Berarti Yesus tidak saja dihormati dan dimuliakan dalam pandangan manusia awam tetapi juga di akhirat. Yang jelas beliau tidak ada dimuliakan di negeri raja Herodes dan Pilatus, bahkan beliau dianggap manusia rendah. Kalau ada yang menyatakan bahwa beliau akan dimuliakan saat kedatangan beliau yang kedua kali ke bumi adalah suatu pandangan tidak berdasar. Hal itu bertentangan dengan kitabkitab suci dan hukum samawi yang abadi. Lagi pula tidak ada bukti yang menguatkan.

Yang benar adalah, karena Yesus selamat dari cengkeraman orangorang terlaknat itu, beliau sampai ke daerah Punjab yang mendapat kehormatan dengan kunjungan beliau itu, Tuhan telah memberikan kemuliaan agung kepadanya karena disinilah beliau bertemu dengan sepuluh suku bangsa Israel yang hilang. Rupanya pada waktu itu orang-orang Israel ini telah beralih menganut agama Buddha dan bahkan jadi penyembah berhala. Namun dengan kedatangan Yesus, sebagian besar dari mereka telah kembali ke jalan yang benar, dan karena adanya ajaran Yesus yang mengkhabarkan kedatangan seorang Nabi, maka kesepuluh suku bangsa Israel yang dikenal sebagai bangsa Afghan dan Kashmiri, pada akhirnya memeluk agama Islam. Jadi Yesus a.s. memperoleh kemuliaan agung di negeri-negeri ini.  Belum lama ini ditemukan sebuah mata uang logam di daerah Punjab tersebut yang bertuliskan nama Yesus dalam aksara Pali. Mata uang itu berasal dari zaman Yesus a.s. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memang sampai di negeri ini dan mendapatkan penghormatan dari rajanya karena mata uang logam itu pasti dikeluarkan oleh seorang raja yang menjadi pengikut Yesus. Ada mata uang logam lainnya bergambar orang Israel yang rupanya gambar Yesus. Dalam Al-Quran pun ada ayat yang menyatakan bahwa Yesus diberkati Allah s.w.t. kemana pun beliau pergi. (S.19 M aryam:32) Jadi adanya mata-mata uang logam tersebut menunjukkan kalau beliau memang diberkati Tuhan dan sebelum wafatnya memperoleh penghormatan dari seorang raja. Begitu pula Al-Quran menyatakan dalam ayatnya bahwa: ‘Hai Isa, . . . Aku akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir’ (S.3 Ali Imran:56), yang berarti Allah s.w.t. akan membersihkan sangkaan palsu dengan membuktikan kebersihan beliau dan menggagalkan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristiani.

Ayat ini merupakan nubuatan akbar. Orang Yahudi karena mengira Yesus mati di kayu salib, lalu menganggap beliau sebagai orang yang terkutuk dan tidak patut memperoleh kasih Tuhan, bahwa nurani Yesus karena laknat telah berbalik dan membenci Tuhan-nya.  Kalbu beliau diselimuti tabir tebal kegelapan dan mencintai dosa serta menjauhi kebaikan. Hati itu telah melepaskan diri dari Tuhan-nya dan menjadi pengikut Iblis. Tuduhan yang sama (bahwa beliau terkutuk) juga dilakukan oleh umat Kristiani. Hanya saja umat Kristiani lalu mengkombinasikan kedua posisi yang bertentangan tersebut. Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Tuhan tetapi juga menyatakan beliau itu terkutuk. (Galatia 3:13).  Padahal mereka menyatakan bahwa seseorang yang terkutuk adalah Putra Kegelapan atau bahkan Iblis itu sendiri.  Tuduhan kotor seperti itulah yang dilontarkan kepada Yesus a.s.  Namun nubuatan dalam Al-Quran tersebut menunjukkan akan dating saatnya ketika Tuhan akan membersihkan nama baik Yesus, yaitu sekarang inilah.

Ketidakbersalahan Yesus menjadi jelas bagi orang-orang yang berfikir berkat pembuktian Rasulullah s.a.w. karena beliau dan Al-Quran memberikan kesaksian kalau semua tuduhan terhadap Yesus tersebut tidak mempunyai dasar. Hanya saja pembuktian tersebut amat halus dan lebih banyak bersifat argumentasi sehingga kurang meyakinkan bagi umat awam. Sebagaimana peristiwa penyaliban itu adalah hal yang nyata dan diketahui umum, maka rasa keadilan samawi juga menuntut agar pembuktian kebersihan beliau juga diperlihatkan secara nyata. Kebersihan Yesus a.s. tidak saja didasarkan pada argumentasi tetapi juga diperlihatkan secara nyata. Mata beratus ribu orang sudah menyaksikan sendiri makam Yesus a.s. yang ada di kota Srinagar, Kashmir. Sebagaimana beliau disalibkan di Golgota (artinya tempat sri), begitu juga makam beliau ada tempat sri yaitu Srinagar.  Tempat Yesus disalibkan disebut Gilgit (Golgota) atau sri sedangkan tempat makam beliau ditemukan di akhir abad sembilanbelas juga bernama Gilgit atau sri. Kemungkinan kota Srinagar berdiri sejak masa Yesus a.s. dan untuk memperingati kejadian penyaliban maka tempat tersebut diberi nama Gilgit. Nama kota Lhasa sendiri berasal dari bahasa Iberani yang artinya ‘kota dari dia yang patut dihormati’ dan kota ini mungkin muncul di masa Yesus berada di sana.  Hadis  sahih menunjukkan bahwa menurut Rasulullah s.a.w., usia nabi Isa a.s. adalah 125 tahun. Semua sekte dalam agama Islam meyakini kalau Yesus a.s. memiliki dua karakteristik unik tentang diri beliau yang tidak terdapat pada nabi lain, yaitu (1) beliau hidup sampai usia lanjut yaitu 125 tahun, (2) beliau mengembara ke berbagai bagian di dunia dan karena itu disebut sebagai ‘nabi pengembara.’ Karena itu jika dikatakan beliau naik ke langit pada usia 33 tahun maka pernyataan usia beliau 125 tahun itu menjadi tidak benar. Begitu juga beliau belum akan sempat berjalan jauh bila umur beliau hanya 33 tahun. Fakta tersebut tidak hanya terdapat dalam Hadits sahih saja tetapi merupakan hal yang diketahui umum di antara semua sekte agama Islam.

Kitab Kamnz-ul-Ummal (jilid dua) yang merupakan kumpulan Hadits yang komprehensif di halaman 34 merawikan Hadits dari Abu Huraira yang berbunyi: ‘Allah s.w.t. mewahyukan kepada Yesus “Wahai Isa, berpindahlah dari satu tempat ke tempat lain agar engkau tidak dikenali dan dianiaya.”’ Dalam buku yang sama berdasarkan penuturan Jabar dikemukakan bahwa Yesus selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.  Beliau bepergian dari satu negeri ke negeri lain dan pada malam hari bermalam dimana beliau berada, ia akan memakan daun-daunan dan buah hutan serta minum dari air yang jernih. (Jilid 2, halaman 71).  Masih dalam buku yang sama terdapat penuturan Abdullah bin Umar yang menyampaikan ‘Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mereka yang paling disukai di hadapan Allah adalah para ‘Gharib.’ Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan Gharib, beliau menjawab: orang yang seperti Isa Al-Masih yang meninggalkan negerinya karena keimanannya.’ (Jilid 6, halaman 51).

YESUS DI INDIA (7)


Dalam pembahasan Yesus di India (7) ini BAB I selesai.  Lebih lanjut dalam seri ke-7 ini penulis memaparkan sebagai berikut:

Penyelamatan Yesus as di Dukung Oleh Mimpi 
Aku juga memiliki perasaan kasih dan penghormatan kepada Yesus a.s. sebagaimana dilakukan umat Kristiani. Aku memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat dengan beliau karena umat Kristiani tidak mengenal manusia yang mereka sembah. Aku menghormati beliau karena aku pernah berjumpa dengannya. Karena itu akan kujelaskan inti daripada penuturan Injil tentang kebangkitan orang-orang kudus pada saat Penyaliban Yesus a.s.

Perlu disadari bahwa penuturan seperti itu sebenarnya termasuk kategori Kashaf atau penampakan kepada beberapa orang kudus saat terjadi Penyaliban. Sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab Suci, mimpi-mimpi bisa ditafsirkan seperti misalnya mimpi nabi Yusuf a.s. Maka penafsiran dari penampakan orang-orang kudus dibangkitkan tersebut mengandung arti bahwa Yesus akan selamat dari kematian di atas kayu salib karena Allah s.w.t. telah menolong beliau. Jika anda bertanya dari mana aku mendapat penafsiran tersebut, jawabnya adalah karena penafsiran itu aku peroleh dari para pakar tafsir mimpi.  Disini aku kemukakan tafsir dari seorang pakar penafsiran yaitu pengarang buku Tatirul-Anam fi T’abirul-Manam oleh Qutbuz-Zaman Shekh Abdul Ghani Al-Nablisi, halaman 289, yang mengatakan jika ada yang melihat dalam mimpi atau penampakan berbentuk Kashaf kejadian bangkitnya orang-orang yang sudah mati dan pulang ke rumahnya masing-masing, penafsirannya ialah ada seorang tahanan yang akan dibebaskan dan diselamatkan dari tangan para penuntutnya. Konteks pengertiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah seorang berkedudukan atau bermartabat tinggi. Penafsiran demikian itulah yang kiranya dapat diterapkan pada kasus Yesus a.s. sehingga mereka yang arif akan menyadari bahwa beliau telah diselamatkan dari kematian di atas kayu salib.

Banyak lagi rujukan dari Injil yang menyatakan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, bahwa beliau telah diselamatkan dan kemudian pergi ke negeri lain. Kiranya apa yang telah dikemukakan di atas itu mencukupi bagi mereka yang tidak berprasangka. Bisa jadi ada yang menentang karena Injil berulangkali menyatakan bahwa Yesus wafat di kayu salib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik kesorga.  Penentangan seperti ini sudah aku jawab secara singkat, namun perlu diingatkan lagi kalau Yesus a.s. bertemu dengan para murid setelah penyaliban, melakukan perjalanan ke Galilea, makan roti dan lauknya, menunjukkan parut luka-luka di tubuhnya, bermalam dengan beberapa murid dalam perjalanan ke Emaus, melarikan diri dari daerah kekuasaan Pilatus, hijrah dari negerinya sebagaimana juga kebiasaan para nabi dan berjalan di bawah baying ketakutan. Semua kejadian itu menyimpulkan kalau beliau tidak wafat di kayu salib, bahwa tubuh beliau tetap berujud phisik dan materinya tidak mengalami perubahan apa pun.

Kebiasaan Melebih-lebihkan
Tidak ada satu bukti pun dalam Injil yang menunjukkan bahwa ada orang yang melihat Yesus naik ke langit. Kalau pun ada, sulit dipercaya kebenarannya karena para penulis Injil tersebut terbiasa membesar-besarkan hal kecil, mereka menjadikan sarang semut menjadi gunung. Sebagai contoh, kalau yang satu mengatakan Yesus itu Putra Tuhan, penulis yang satunya lagi menjadikan beliau sebagai Tuhan betulan, yang ketiga memberi beliau kekuasaan atas seluruh alam sedangkan yang keempat secara langsung menyatakan bahwa beliau adalah segalanya dan tidak ada Tuhan lain selain beliau.  Singkat kata, kebiasaan melebih-lebihkan itu telah berakibat jauh sekali. Contohnya seperti penampakan orang-orang kudus yang bangkit dari kuburnya dan masuk ke kota, lalu diartikan secara harfiah bahwa mereka memang benar bangkit dan kembali ke keluarganya.

Disini selembar ‘bulu’ telah dibesar-besarkan menjadi seekor ‘gagak’ dan tidak hanya satu, tetapi jadi berjuta gagak. Kalau keadaan dibesar-besarkan seperti itu, kita akan kesulitan mencari tahu inti kebenarannya. Perlu juga diingat bahwa buku-buku Injil itu yang disebut sebagai Kitab Suci dari Tuhan, mengandung pernyataan berlebihan seperti ayat yang menyatakan ‘jika semua yang diperbuat Yesus dituliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu’ (Yohanes 21:25). Apakah melebih-lebihkan demikian itu bisa disebut sebagai kejujuran dan kebenaran? Kalau benar apa yang dikerjakan Yesus a.s. itu demikian tidak terbatasnya dan semuanya tidak bisa diringkas, bagaimana mungkin semuanya terjadi dalam periode tiga tahun. (Masa pengajaran dan penyiaran Yesus di Palestina sejak berusia 30 tahun sampai disalibkan pada usia 33 th).   Kesulitan lain dari Injil-injil itu adalah kadang memberikan rujukan yang salah terhadap kitab-kitab yang lebih tua, bahkan mengenai garis keturunan Yesus pun mereka tidak bisa akurat.

Yesus as Bukan Seorang Pengecut
Dari paparan Injil itu sepertinya para penulisnya adalah orang-orang bodoh dalam pemahaman sehingga di antara mereka ada yang mempersamakan Yesus dengan hantu atau ruh. Kitab-kitab Injil dari masa awal terbuka terhadap tuduhan bahwa kemurnian isinya tidak bisa dijaga dan bahwa sebenarnya masih ada kitab-kitab lain yang juga bisa disebut Injil, tetapi tidak ada alasan diberikan mengapa kitab-kitab lain itu ditolak. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa kitab-kitab lain itu juga mengandung eksagerasi yang terdapat dalam keempat Injil yang kita kenal. Sebenarnya mengherankan kalau dikatakan bahwa di satu sisi mereka mengatakan Yesus adalah orang saleh dan sifat-sifat beliau tanpa cela, tetapi di sisi lain mereka melekatkan atribut-atribut yang tidak pantas bagi seorang saleh.  Sebagai contoh, para nabi Israel sejalan dengan ajaran Taurat, nyatanya memiliki isteri beratus-ratus orang dengan tujuan akan menggandakan satu generasi orang-orang yang saleh, namun anda tidak akan mendengar atau menemukan bahwa ada di antara nabi itu demikian bebasnya sehingga mengizinkan seorang perempuan yang tidak suci dan cabul, seorang yang dikenal masyarakat sebagai pendosa, menyentuh tubuh mereka, apalagi mengurapkan minyak ke rambut dan menyapukan rambutnya sendiri ke kaki nabi tersebut tanpa ia menegahkannya. Melihat keadaan seperti itu kita hanya akan bisa terhindar dari kecurigaan hanya karena kita meyakini kesalehan Yesus a.s.

Pendek kata, Injil-injil tersebut mengandung banyak sekali hal yang tidak terpelihara dalam bentuk aslinya atau para penulisnya adalah orang lain dan bukan murid-murid Yesus langsung. Sebagai contoh statemen dalam Injil Matius ‘. . .dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini’ bisakah (Matius 28:15), kalimat itu dikatakan oleh Matius sendiri? Tidakkah kalimat itu menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah seseorang yang hidup ketika Matius sendiri sudah meninggal? Injil yang sama itu juga menyatakan:
Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata “Kamu harus mengatakan bahwa murid-muridnya datang malam-malam dan mencurinya ketika kamu sedang tidur”’ (Matius 28:12 – 13).

Kelihatan bagaimana tidak meyakinkan dan tidak masuk akalnya pernyataan demikian. Kalau pengertian dari penuturan tersebut adalah karena umat Yahudi ingin menutupi kebangkitan Yesus dari kematian dimana mereka telah menyuap para prajurit itu agar peristiwa itu tidak diketahui umum, lalu mengapa Yesus sendiri yang merupakan kewajiban baginya mengumumkan mukjizat tersebut di antara umat Yahudi, lalu merahasiakannya, bahkan melarang para murid membukakannya? Kalau ada yang mengatakan bahwa sebabnya karena beliau takut tertangkap lagi, aku akan mengatakan bahwa jika takdir Tuhan sudah turun ke atas diri beliau dimana setelah kematian lalu bangkit kembali dengan tubuh spiritual yang gemilang, kenapa masih harus takut kepada orang Yahudi? Jelas tentunya kalau umat Yahudi tidak akan bisa mengapa-apakan lagi beliau karena beliau sudah di luar dimensi eksistensi kehidupan fisik.

Adalah menyedihkan kalau kita menelusuri pernyataan yang di satu sisi mengatakan beliau telah dibangkitkan lagi dengan tubuh spiritual, kemudian bertemu dengan para murid dan pergi ke Galilea dan selanjutnya ke langit, tetapi di sisi lain dikatakan kalau beliau itu takut ketahuan orang Yahudi dan walaupun berbadan spiritual tetapi merasa perlu melarikan diri ke Galilea sejauh tujuhpuluh mil karena takut tertangkap lagi, dan bahwa beliau berulangkali mengingatkan para murid untuk tidak menceritakan keadaan beliau kepada siapa pun. Apakah ini menjadi ciri dari pemilik suatu tubuh spiritual? Yang benar adalah tubuh beliau bukan tubuh baru yang gemilang, beliau tetap dengan tubuh lamanya dengan parut luka-luka, yang telah diselamatkan dari kematian, yang masih takut diketemukan lagi oleh orang Yahudi dan setelah melakukan segala persiapan lalu meninggalkan negerinya. Di luar penafsiran ini dapat dikatakan absurd sebagaimana halnya dengan penuturan tentang orang-orang Yahudi yang menyuap para prajurit agar mengatakan bahwa para murid telah mencuri tubuh beliau ketika mereka sedang tidur. Kalau benar mereka tertidur, lalu bagaimana menyimpulkan bahwa ada yang telah mencuri tubuh beliau? Apakah dari pernyataan bahwa Yesus tidak berada di dalam makam lalu bisa disimpulkan kalau beliau telah naik ke langit? Apakah tidak ada kemungkinan lain mengapa makam itu kosong? Kalau benar Yesus naik ke langit, mengapa beliau tidak memanfaatkan hal itu dan menunjukkannya kepada beberapa ratus orang Yahudi dan Pilatus sendiri? Beliau tidak perlu takut lagi karena sudah bertubuh sepiritual. Namun kenyataannya beliau tidak ada berusaha menunjukkan kepada para musuh beliau tentang hal ini. Sebaliknya, beliau karena ketakutan lalu melarikan diri ke Galilea. 

Karena itulah aku yakin bahwa walaupun benar beliau telah meninggalkan makam, sudah juga bertemu dengan para murid secara rahasia, namun tidak benar jika beliau telah menyandang tubuh yang baru. Tubuh beliau tetap yang lama dengan parut luka-luka dengan ketakutan yang sama akan ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi terlaknat itu. Bacalah dengan teliti Injil Matius pasal 28 ayat 7 sampai 10. Ayat-ayat tersebut jelas mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan tersebut telah diberitahukan seseorang bahwa Yesus itu hidup dan akan berjalan ke Galilea dan mereka dipesan untuk memberitahukan kepada para murid. Mereka bersukacita tetapi juga dengan hati takut karena khawatir Yesus ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi yang jahat. Ayat kesembilan menuturkan ketika mereka ini sedang dalam perjalanan guna memberitahukan para murid, Yesus berjumpa dan memberi salam kepada mereka. Ayat kesepuluh menjelaskan Yesus meminta mereka jangan takut (bahwa beliau akan ditangkap lagi) dan meminta mereka memberitahukan kepada para saudara agar mereka itu pergi ke Galilea, (Disini Yesus tidak menghibur perempuan-perempuan itu dengan kata-kata bahwa ia telah bangkit dengan tubuh baru yang gemilang sehingga tidak ada yang akan bisa menangkap beliau lagi. Yang jelas, beliau tidak ada memberikan bukti tentang tubuh spiritual yang gemilang, bahkan nyatanya beliau menunjukkan tubuh dari daging dan tulang sama dengan tubuh phisik biasa),  karena beliau tidak bisa berdiam di tempat karena takut kepada para musuh. Singkat kata, jika Yesus benar bangkit setelah kematian dengan tubuh spiritual, hal itu akan merupakan kesempatan baginya untuk membuktikan kepada umat Yahudi bahwa memang ada jenis kehidupan setelah mati demikian. Nyatanya beliau tidak ada melakukan hal tersebut.  Karena itu adalah absurd untuk menuduh umat Yahudi berusaha menutupi bukti kebangkitan Yesus. Adapun Yesus sendiri tidak ada memberikan bukti kebangkitan dirinya dari kematian.  Jika kita perhatikan usaha beliau melarikan diri, bahwa beliau makan, tidur dan menunjukkan luka-lukanya, beliau sendiri telah membuktikan bahwa ia tidak wafat di kayu salib.

Sunday, November 27, 2011

YESUS DI INDIA (5)


Doa Yesus as. Agar Di Selamatkan Dari Cobaan
Di antara kesaksian yang membuktikan Yesus a.s. diselamatkan dari kematian di atas kayu salib adalah narasi Injil Matius pasal 26 ayat 36 sampai 46 yang menjelaskan bahwa beliau setelah mendapat informasi melalui wahyu tentang mendekatnya waktu penangkapan dirinya, beliau berdoa kepada Tuhan sepanjang malam itu dengan sujud dan berlinang air mata. Doa yang diajukan dengan kerendahan hati demikian tidak mungkin tidak dikabulkan oleh Tuhan karena doa mereka yang dikasihi Tuhan yang dikemukakan saat dalam percobaan tidak mungkin ditolak. Bagaimana mungkin doa Yesus yang dilakukan sepanjang malam dengan hati yang pedih dan galau lalu ditolak oleh Tuhan? Yesus a.s. pernah mengatakan bahwa ‘Bapa yang di sorga selalu mendengarkan aku.’(Yohanes 11:41, 42)  Karena itu jika ada yang mengatakan bahwa doa beliau yang diutarakan dalam saat kegalauan tidak dikabulkan, bagaimana kita akan mengatakan bahwa Tuhan mendengar doa-doa beliau? Injil juga menunjukkan bahwa Yesus a.s. merasa yakin kalau doa beliau telah diterima karena meyakininya.  Itulah sebabnya ketika beliau ditangkap dan dinaikkan ke kayu salib dimana beliau melihat keadaannya jauh di luar harapannya, beliau tidak sengaja berteriak ‘Eli, Eli, lama sabakhtani’ yang berarti ‘Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ (Matius 27:46)  Beliau tidak memperkirakan bahwa keadaannya akan mendjadi demikian gawat sedangkan beliau meyakini doanya telah didengar Tuhan.

Rujukan-rujukan dari Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus amat yakin kalau doanya didengar dan diterima Tuhan, bahwa permohonan beliau yang diajukan sepanjang malam dengan berlinang air mata tidak akan percuma, sebagaimana beliau sendiri mengajarkan kepada para murid ‘Apa saja yang kamu minta dan doakan . . . maka hal itu akan diberikan kepadamu.’ (Markus 11:24)
Yesus juga mengemukakan perumpamaan tentang seorang hakim yang tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati seorang pun. (Lukas 18:2 – 7).  Tujuan perumpamaan itu agar para murid mengetahui bahwa Tuhan selalu menjawab doa-doa.

Meskipun Yesus a.s. mengetahui berdasarkan wahyu Allah s.w.t. bahwa beliau akan menghadapi cobaan yang berat, namun sebagai orang yang saleh, beliau berdoa karena meyakini tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya dan Tuhan-lah yang menentukan apakah sesuatu akan terjadi atau tidak. Jadi kalau kita mengatakan bahwa doa Yesus a.s. ditolak maka hal itu akan menggoyahkan keimanan para murid beliau. Apakah mungkin Tuhan akan menampakkan kepada para murid itu contoh yang bersifat destruktif terhadap keimanan mereka?  Kalau mereka melihat bahwa doa seorang nabi besar seperti Yesus yang diajukan sepanjang malam dengan hati yang menggelora ternyata tidak diterima maka hal itu akan merusak keimanan mereka. Karena itu tidak bisa tidak, Tuhan telah mengabulkan doa Yesus yang diajukan di taman Getsemani tersebut.

Berkaitan dengan keadaan tersebut, ada pokok permasalahan lain.  Sebagaimana ada persepakatan untuk membunuh Yesus oleh para pendeta dan ahli kitab yang berkumpul di istana Imam Besar Kayafas, begitu juga dahulunya ada persepakatan untuk membunuh nabi Musa a.s.  Hal yang sama juga terjadi di zaman Rasulullah s.a.w dimana terjadi persepakatan di tempat yang bernama Dar-ul-Nadwa untuk membunuh beliau. Nyatanya Tuhan yang Maha Kuasa telah menyelamatkan kedua nabi tersebut. Persepakatan membunuh Yesus terjadi di dalam periode di antara kedua nabi tersebut. Lalu pantaskah mengatakan bahwa Yesus tidak diselamatkan sedangkan beliau berdoa demikian khusuknya. Mengapa doa Yesus tidak akan didengar Allah s.w.t. yang selalu mendengar orang-orang yang dikasihi-Nya dan selalu menggagalkan rencana orang-orang jahat?

Semua orang saleh menyadari berdasarkan pengalaman bahwa doa orang teraniaya dan terpuruk selalu dikabulkan. Justru saat cobaan itulah bagi seorang saleh merupakan tanda baginya dari Tuhan.  Aku pun punya pengalaman pribadi mengenai hal ini. Dua tahun yang lalu ada tuduhan pembunuhan yang dilontarkan atas diriku oleh seorang Kristen bernama Dr. Martin Clark yang tinggal di Amritsar, Punjab, melalui pengadilan di Distrik Gurdaspur yang menyatakan bahwa aku telah mengutus seseorang bernama Abdul Hamid untuk membunuh doktor tersebut. Dalam kasus ini aku harus menghadapi persepakatan orang-orang dari tiga komunitas yaitu Kristen, Hindu dan Muslim yang mencoba dengan segala cara untuk membuktikan bahwa aku telah melakukan pembunuhan.

Umat Kristiani memusuhi aku karena aku dianggap sedang mencoba membebaskan manusia dari doktrin yang salah tentang Yesus – dan memang aku masih terus melaksanakannya dan kasus ini merupakan perlakuan pertama mereka kepadaku. Adapun umat Hindu memusuhi aku karena aku telah menubuatkan kematian salah seorang mereka bernama Pandit Lekh Ram, dengan persetujuan yang bersangkutan, dimana nubuatan itu terpenuhi dalam kurun waktu yang ditentukan - sebagai tanda yang menakutkan dari Tuhan.  Begitu juga para ulama Muslim memusuhi aku karena aku menentang kedatangan Al-Masih yang haus darah dan menolak konsep Jihad menurut mereka.

Jadi, beberapa tokoh penting dari ketiga komunitas itu berunding bersama untuk membuktikan tuduhan pembunuhan yang dikenakan kepada diriku, agar aku dipenjara atau dihukum gantung.  Dipandangan Allah s.w.t. mereka itu menjadi orang-orang yang aniaya.  Tuhan telah memberitahukan hal ini kepadaku sebelum saat perundingan rahasia mereka. Tuhan telah memberitahukan juga akan kelepasanku dari pengadilan. Wahyu-wahyu dari Tuhan ini diumumkan sebelumnya kepada ratusan orang. Setelah turunnya wahyu tersebut, aku berdoa ‘Ya Allah, lepaskanlah aku dari cobaan ini’ dan Tuhan memberitahukan bahwa Dia akan menyelamatkan aku dan membebaskan aku dari tuduhan yang dilontarkan kepadaku. Wahyu ini disampaikan kepada lebih dari tigaratus orang dimana banyak yang masih hidup sekarang. Yang terjadi adalah musuh-musuhku itu mengajukan saksi-saksi palsu ke pengadilan dan hampir berhasil ‘membuktikan’ tuduhan mereka.

Ternyata yang terjadi adalah diungkapkannya fakta-fakta kasus tersebut oleh Tuhan dengan berbagai cara kepada hakim yang menangani yaitu Captain W. Douglas, Deputi Komisaris dari Gurdaspur. Menurut yang bersangkutan kasus itu palsu. Ia mengabaikan si doktor yang juga pendeta misionaris Kristen dan rasa keadilan yang dimilikinya telah menuntunnya untuk membatalkan tuntutan tersebut. Dengan demikian apa yang aku maklumkan kepada ratusan orang tentang kelepasanku menurut wahyu samawi telah terbukti. Padahal hal-hal yang mengikuti kejadian tersebut cenderung berbahaya. Hal mana telah menguatkan keimanan banyak sekali orang lain.

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali. Ada beberapa tuduhan sejenis dan tuntutan-tuntutan kriminal dilontarkan kepadaku melalui pengadilan, tetapi sebelum aku sempat dipanggil, Allah s.w.t. telah memberitahukan kepadaku sumber dan akhir perkara, dan dalam setiap kasus tersebut aku selalu diberi kabar gembira mengenai kelepasanku.

Yesus as. Lepas Dari Kematian Yang Menghinakan
Yang tersirat dari sini adalah bahwa Allah yang Maha Kuasa tidak diragukan pasti menerima doa apalagi ketika hamba-Nya yang benar datang mengetuk pintu-Nya. Dia yang Maha Kuasa menyelesaikan keluhan mereka dan membantu mereka dengan cara-cara yang aneh.  Mengenai ini, aku sendiri adalah saksinya. Lalu bagaimana mungkin doa Yesus a.s. yang diutarakan dengan begitu memilukan, tidak akan diterima oleh Tuhan? Tidak mungkin. Allah s.w.t. telah menyelamatkan beliau. Dia telah menciptakan situasi di langit dan di bumi untuk menyelamatkan beliau. Yahya Pembaptis tidak memiliki waktu untuk berdoa karena akhir hayatnya telah tiba. Tetapi Yesus mempunyai waktu satu malam penuh untuk berdoa dan beliau menghabiskan malam itu dengan berdoa, baik berdiri maupun bersujud di hadapan Tuhan-nya, karena Tuhan membukakan kepada beliau untuk mengutarakan kegalauan hatinya dan meminta kelepasan dari-Nya karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.  Karena itu Tuhan sejalan dengan kodrat abadi-Nya telah mendengar doa beliau. Orang-orang Yahudi itu telah melontarkan hujatan ketika mereka menyalib Yesus dengan mengatakan ‘kalau ia menaruh harapannya kepada Allah, baiklah Allah menyelamatkan dia . . .’(Matius 27:43).   Nyatanya Tuhan telah menihilkan rencana orang-orang Yahudi itu dan menyelamatkan Messiah kekasih-Nya dari salib dan dari kutukan yang menyertainya. Orang-orang Yahudi itu telah gagal. Dari beberapa kesaksian Injil yang sampai kepada kita antara lain adalah:
Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua ini akan ditanggung angkatan ini.’(Matius 23:35 – 36)

Kalau kita renungkan ayat di atas, kita akan menyimpulkan bahwa Yesus a.s. menyatakan kalau pembunuhan para nabi oleh orang Yahudi akan berakhir dengan pembunuhan nabi Zakharia, setelah itu mereka tidak lagi akan bisa membunuh seorang nabi. Ayat ini merupakan nubuatan akbar yang menunjukkan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, beliau malah diselamatkan dan kemudian wafat secara alami. Jika kiranya Yesus harus mengalami kematian di tangan umat Yahudi seperti nabi Zakharia, tentunya beliau akan menyiratkan dalam perkataannya itu.

Jika ada yang memaksakan pandangan bahwa Yesus memang terbunuh oleh orang-orang Yahudi namun tidak menjadi dosa bagi orang Yahudi itu mengingat kematian Yesus dianggap sebagai penebusan, maka pandangan demikian tidak ada dasarnya karena dalam Injil Yohanes 19:11 jelas dikatakan kalau umat Yahudi telah melakukan dosa besar dengan berusaha membunuh Yesus. Begitu juga di beberapa tempat lain diisyaratkan dengan jelas akan adanya hukuman dari Tuhan atas kejahatan mereka terhadap Yesus. (Matius 26:24)   Kesaksian Injil lainnya yang sampai kepada kita adalah penuturan
Matius:
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai raja dalam kerajaannya.’ (Matius 16:28).

Begitu juga ayat dalam Injil Yohanes:
Jawab Yesus: Jikalau aku menghendaki supaya ia (murid bernama Yohanes) tinggal (yaitu di Yerusalem) sampai aku datang, itu bukan urusanmu.’ (Yohanes 21:22).
Arti dari ayat di atas adalah ‘Kalau aku mau, Yohanes belum akan mati sebelum aku kembali.’ Dari situ jelas kalau Yesus telah berjanji bahwa beberapa orang akan berumur panjang sampai beliau kembali dimana salah satu antaranya bernama Yohanes (Yahya). Janji tersebut pasti dipenuhi.  Sejalan dengan itu, bahkan umat Kristiani pun mengakui jika janji tersebut telah terpenuhi yaitu Yesus akan kembali ketika beberapa orang dari masa itu masih hidup. Dengan demikian nubuatan itu telah dipenuhi sesuai dengan janji beliau.

Ayat itulah yang dijadikan basis pernyataan para rohaniwan Kristiani bahwa Yesus sesuai janji beliau telah datang ke Yerusalem pada saat kehancuran kota itu dan bahwa Yohanes bertemu beliau karena saat itu ia masih hidup. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa umat Kristiani tidak ada mengatakan kalau Yesus turun dari langit bersama tandatanda yang mengiringi. Mereka mengatakan bahwa beliau terlihat oleh Yohanes sebagai penampakan untuk memenuhi nubuatan di Injil Matius pasal 16 ayat 28 itu. Menurut hematku, kedatangan seperti itu tidak memenuhi nubuatan yang ada. Cara demikian merupakan penafsiran yang amat lemah hanya untuk menghindari kesulitan akibat kritik yang dilontarkan orang tentang posisi beliau itu.  Penafsiran demikian itu sangat lemah dan tidak mempunyai dasar yang kuat sehingga rasanya tidak perlu menyangkalnya karena kalau yang dimaksud adalah Yesus akan muncul dalam bentuk mimpi atau penampakan, maka nubuatan seperti itu tidak masuk akal. (Aku telah membaca penafsiran beberapa ulama Islam tentang Matius 16:28 yang lebih tidak masuk akal dibanding penafsiran umat Kristiani. Menurut para ulama itu, adalah tanda kedatangan kembali Yesus ketika beberapa orang dan seorang murid bel i au dari masa tersebut masih dalam keadaan hidup.  Mereka menganggap bahwa murid tersebut akan tetap hidup sampai sekarang ini karena Messiah belum jug a datang. Mereka menganggap bahwa murid tersebut sedang bersembunyi di salah satu gunung menunggu kedatangan kembali Messiah).  Dengan cara demikian itu juga dikatakan Yesus tampak kepada Paulus, lama sebelum kejadian tersebut.