GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Monday, December 6, 2021

 

                 Cara Mensucikan Harta 

Oleh Murtiyono Yusuf Ismail









Artinya: 
Dan, belanjakanlah harta pada jalan Allah swt., dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah swt. mencintai orang- orang yang berbuat kebaikan. Al Baqarah 2 : 196

Sobat, ada dua hal yang saya ingin sampaikan berkenaan dengan ayat di atas. Pertama, kita senantiasa mendapatkan rezeki. Namun rezeki yang kita dapatkan hakikatnya bukanlah sepenuhnya menjadi hak kita.  Di dalam harta kita ada hak bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari sisi ekonomi. atau terkadang dalam rezeki kita tidak seluruhnya itu bersih, seibarat ayam tidak semua kita dapat menikmatinya sebelum hal-hal yang perlu dibersihkan atau sucikan itu kita bersihkan. Nah di dalam harta kita juga ada bagian yang harus kita berikan haknya agar harta itu dapat kita nikmati. Islam telah mengajarkan kepada kita hanya dengan sebagian harta kita, kita gunakan untuk memberi bantuan kepada saudara kita yang sednag dalam kelemahan ekonomi dan memerlukan uluran bantuan, maka insyaalah harta yang kita peroleh akan menjadi bersih suci.  yang sudah barang tentu akan membawa dampak pada keberkahan dalam rezeki kita.

Kedua, dalam menyampaikan amanah-amanah Allah SWT, misal ketauhidan Allah ta'ala dan da'wah Islam menyampaikan kebenaran-kebenaran Islam maka sangat diperlukan sekali dukungan dari harta kita.  Demi tegaknya aqidah-aqidah yang benar tentang Tuhan maka sangat ada tanggung jawab yang harus kita tunaikan kita dalam pembiayaan da'wah tersebut. Nah inilah yang dimaksud pembelanjaan harta di jalan Allah SWT.  
Memilih lalai merupakan sikap yang jurtru akan menjerumuskan kita dalam kebinasaan.  Harta yang kita dapatkan tidak akan berkah dengan kata lain tidak akan kemana-mana bahkan akan menarik fitnah dan kemalangan.  Maka hanya dengan mensucikan harta kita dengan membantu saudara kita yang lemah dan mememnuhi kebutuhan da'wah Islam, harta akan menjadi berkah dan suci.  Semoga Allah memberikan rezeki yang berkah dan menarik kita pada keridhaan-Nya.   






Friday, December 3, 2021

 



Orang Terbaik di Mata Allah Ta'ala

Oleh M. Sufi



‘Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh serta berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Al Fushshilat/ Ha mim As Sajdah 41:34)

Dari teks ayat yang saya fahami adalah, bahwa Allah ta'ala hendak memberitahukan kepada kita bahwa siapa diantara manusia yang lebih baik dari pada manusia yang mengajak kepada ketauhidan Allah ta'ala.  Memang ada profesi sebagai juru da'wah atau dai, yang senantiasa menyeru khalayak ramai akan ibadah kepada Allah ta'ala.  Tentu jika ayat ini hanya secara sempit kita artikan bahwa orang yang menyeru manusia kepada Allah ta'ala adalah orang yang profesinya terbaik dihadapat Allah maka tentu Allah tidak adil dalam pandangan orang-orang yang berprofesi selain juru da'wah? Maka akan timbul pertanyaan dimana letak Maha adil Allah ta'ala? dimana letak Maha Bijaksana Allah Ta'ala? Tentu siafat Allah ta'ala tidak boleh paradok dengan apa yang juga Dia telah firmankan.

Maka kita dapat juga berpandangan dalam ayat ini adalah manusia berprofesi seperti apa pun selama itu baik dimata Allah ta'ala maka kapan pun dimana pun dia sempat untuk memberikan nasehat ketika melihat saudaranya khilaf, dan atau mengingatkan tentang ibadah kepada khalayak maka sejatinya dia juga termasuk dai yang menyampaikan da'wahnya kepada saudaranya. Maka dia akan meraih dua hal, profesi yang dia jalankan dan tambahannya adalah dia menda'wahkan kebaikan bagi saudaranya yang lain dan disertai amal kebajikan. Maka itulah sebaik-baik perkataan dan sebaik-baik tauladan.  Maka khalayak akan melihat kesalehannya.

Tuesday, October 26, 2021

Bhaghasasi ke Bhaghasasi

Sebenarnya sudah lama ingin ku tuliskan sedikit sajak untuk menandai kepergian ku dari Baghasasi ke satu tempat yang syarat akan saksi sejarah tentang berdirinya Negara ini, yaitu Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun karena masih sibuk kesana kemari dan begitu ada waktu ada masalah teknis pada akunku sehingga baru kali ini aku mulai lagi tulisan di blog ini.  Tak disangka, rupanya Blog ini lebih setia dari pada dia yang meninggalkanmu tanpa basa-basi dengan sejuta alasan tak berarti.  

Entah kenapa hati ini selalu terusik oleh Blog yang tak banyak pengunjung, merasa berdosa telah mengabaikan yang lama setia menemani hari ku. Mungkin seperti itu jugalah perjalanan kita, merindukan yang diangan-angan, dan meninggalkan yang ada, namun setelah beberapa waktu angin rindu dari masa lalu datang berlahan dan menarik-narik kesadaran akan masa lalu. Tentang kenangan yang dahsyat, atau sekedar yang sederhana.  Semua itu menyiksa, sulit untuk tak dicerita.


S. A. J. A. K.   C E R I T A

Hentak sorak sorai kalimat akbar Pencipta seperti menampar telinga

Hampir setiap saat teringang ditelinga

Sepinya belum menghampiri riuahnya sudah tiba lagi

Tekadku ini semua harus diakhiri


Keributannya tentu membangunkan semua mata yang terlelap

Atau mata yang ingin merebut kursi Tuhan di rumah -Nya

Tapi mata srigala itu hanya beberapa gelintir dan tak sebanding

Boleh jadi karenanya, ujian itu tiba

Tetapi masih banyak sekali mata tulus dan taat


Karunia besar Dia memberi kesempatan ku berada diantara konflik ini

Seberapa dewasa iman kita, seberapa baik tutur kita dan seberapa tulus niat kita

Rentan waktu mendokumentasi setiap gerak kami

Pencerahan ke dalam harus segera dibangun dan dikuatkan

Sebesar apa pun Bahtera itu, ketika pengikatnya rapuh 

Maka tak akan sanggup menahan badai


Alhamdulillah tsumma alhamdulillah

Pelan namun pasti, diakhir semester awal kekuatan tumbuh siap melaju

Bagian yang memberatkan laju Bahtera sedikit demi sedikit menghilang

Kericuhan yang muncul mengakibatkan luka sosial

Namun bersamaan dengan itu, ide-ide cemerlang tumbuh 

Bak obat, dia mengobati luka-luka itu


Ketika telah dipastikan luka itu sembuh

Taqdir hidup pun datang

Saat saya harus meninggalkan Bhaghasasi menuju Bhaghasasi yang lain

Namun unsur yang mengganggu itu akan selalu ada

Bahkan saat aku ditempat Bhaghasasi yang baru

Disadarai atau tidak, semua itu justru memajukan kita

Hingga detik ini aku masih berjibaku dengan ego dan kebodohan

Entah sampai kapan

Aku trimo lumakuning ngarsaning  agawe urip

...

Selamat berkhidmat untuk Tuhan


Ngayogyakarta Hadiningrat, 27102021


Monday, July 9, 2012

FALSAFAH JARI TANGAN DAN RUKUN ISLAM

Salam sejahtera semoga Allah Ta'ala selalu memberikan saya dan sahabat pembaca semua kesehatan, keberkatan, dan karunia lainnya,  Amin.  Kali ini saya tampilkan sebuah penjelasan yang apik mengenai Falsafah Jari Tangan Kita.  Sebenarnya penjelasan ini sudah lama saya dapatkan dari seorang Bapak yang berceramah pada kesempatan khutbah Jum'at di Medan.  Lalu saya menemukan penjelasan secara terperinci di dalam sebuah Blog pada bulan Mei milik kawan kita terlampir addressnya di bagian bawah.  Sedikit pun saya tidak mengurangi dan menambahi.  Semoga bermanfaat ya..:D keep smile.. :)

Setiap tangan kita memiliki lima jari dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Jari-jari itu mempunyai fungsi masing-masing, tetapi juga bisa bersatu dan bekerjasama menjadi satu kesatuan yang kokoh. Dari kelima jari kita jika ditilik lebih dalam dan dikaitkan dengan Rukun Islam ternyata memiliki falsafah yang mungkin bisa mengingatkan akan kehidupan kita sebagai hamba Allah swt.


Tangan kita terdiri dari lima jari, demikian juga rukun Islam juga memiliki lima rukun. Dari setiap jari kita bisa menjadi lambang dari kelima Rukun Islam.
1.    Jari Jempol, biasanya juga disebut sebagai ibu jari, dia memiliki bentuk paling besar dibandingkan jari lainnya. Fungsinya juga paling sentral, karena semua jari bergantung pada Jempol. Jika tidak ada jempol bisa dikatakan jari yang lain menjadi lemah bahkan tidak berfungsi. Cobalah memegang sesuatu tanpa menggunakan Jempol, pasti anda akan kesulitan. Jempol melambangkan rukun Islam yang pertama, yaitu membaca dua kalimah syahadat. Membaca dua kalimah syahadat atau Tauhid Ilahi merupakan induk dari ajaran Islam. Belum dikatakan sebagai orang Islam jika belum mengucapkan dua kalimah syahadat.
2.    Jari Telunjuk, Jika jari telunjuk ditegakkan dan jari lain ditekuk dikepalkan menyatu, maka akan terlihat jari telunjuk begitu kuat dan pasti, bisa digunakan untuk menunjukkan arah bagi orang yang memintanya. Shalat sebagai tiangnya agama Islam diperintahkan supaya selalu ditegakkan, karena dengan tegaknya shalat, Islam akan kuat dan kokoh. Umat Islam juga akan senantiasa berada dalam petunjuk Nya jika selalu menegakkan shalat. Dalam shalat umat Islam selalu berdoa supaya ditunjukkan jalan yang lurus, terutama ketika membaca surah Alfatihah. “Ihdinash shiratal mustaqiim”  (tunjukilah kami jalan yang lurus). Mengaharapkan supaya selalu berada di jalan Nya  dan mendapat petunjuk dari Nya, sehingga bisa selamat dunia dan akhirat. Selain itu dalam shalat juga ada gerakkan menunjukkan jari yaitu ketika duduk tahiyat.
3.    Jari Tengah, disebut jari tengah karena letaknya ditengah, jika disejajarkan dengan jari lain posisinya paling tinggi. Jari tengah menjadi penyeimbang bagi jari-jari lainnya. Seperti halnya puasa, dengan puasa setiap orang Islam bisa meraih derajat kerohanian yang tinggi. Puasa juga bisa menjadikan orang yang menjalankannya bisa menahan hawa nafsu dan menyeimbangkan emosinya. Terhindar dari segala godaan maksiat.
4.    Jari Manis, mungkin karena bentuknya yang imut dan biasanya sebagai simbol kasih sayang dengan dipakaikan cincin. Coba jari manis anda berdirikan sendiri dan jari yang lain ditekuk dikepalkan, maka jari manis tidak bisa tegak berdiri, berbeda dengan jari lain yang bisa berdiri sendiri, ini menunjukkan jari manis memang lemah dan membutuhkan bantuan jari lainnya untuk berdiri. Zakat dalam Islam menjadi sarana yang nyata untuk menunjukkan kasih sayang bagi umat yang lemah. Dengan zakat umat yang lemah bisa dibantu oleh umat lain yang berlebih dengan hartanya.
5.    Jari Kelingking, merupakan jari terkecil dari kelima jari kita, jari ini melengkapi dan menyempurnakan fungsi tangan kita menjadi lebih kokoh. Haji merupakan rukun Islam yang kelima, untuk melaksanakan disertai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Karena syarat-syaratnya itulah, maka hanya sedikit (kecil) yang bisa melaksanakannya. Bagi mereka yang bisa melaksankannya tentunya akan menambah kekuatan iman dan takwanya kepada Allah swt. Dengan haji, umat Islam bisa beribadah langsung di rumah Nya dan merasakan langsung suasana kota kelahiran Nabi Muhammad saw.
Seperti halnya tangan kita menjadi sangat kuat jika kelima jari bersatu, demikian juga dengan ke-Islam-an (baca: keimanan) kita Insya Allah akan sangat kuat jika seluruh rukun Islam bisa kita laksanakan, semoga Allah swt meridhoi, aamiin.
 
Source: http://islamireligius.blogspot.com/2012/04/falsafah-jari-tangan-dan-rukun-islam.html

Thursday, March 22, 2012

KURIKULUM YG HARUS DI ROMBAK ATAU OTAK ANAK KITA YG HARUS DI ROMBAK..?



Jika anak tidak cocok/alergi dengan makanan tertentu maka segera saja dokter akan melarang orang tuanya memberikan makanan tersebut pada anaknya dan menggantinya dengan makanan lain yg tidak menimbulkan reaksi negatif pada anak.

Jadi kesimpulannya bukan anaknya yg bermasalah tapi makanannya-lah yg bermasalah. Bagaimana jika kurikulum dan cara pengajaran di sekolah yg tidak cocok dengan anak...? Kurikulumnya yg harus di ganti atau anak kita yg dipaksa untuk terus menelan setiap hari kurikulum tsb.

Peristiwa ini ternyata terjadi pada Program Trial Home Schooling kami, PROGRAM PEMBELAJARAN YG TELAH KAMI SUSUN BERSAMA DENGAN SEKSAMA ternyata setelah di praktekan banyak yg TIDAK COCOK pada anak2 alias anak2nya Alergi menerimanya. Maka keputusan kami bersama adalah segera MENGGANTI sistem kurikulum dan metode pembelajarannya, dan bukan memaksakan anaknya untuk menelan kurikulum dan sistem pembelajaran yg tidak cocok tsb, Padahal kami sudah merasa sangat hati2 sekali dalam merancang dan menyusunnya. Tapi kami selalu berprinsip tidak ada yg salah dengan sifat alamiah anak2 kita tapi justru kemungkinan besar kamilah yg membuat kesalahan dalam proses perancangan dan aplikasinya.

Untuk itulah hari ini kami menjadwalkan untuk workshop mengkaji dan menyusun ulang kurikulumnya bagi para pelajar HS kami.

Keluarga Indonesia yg sy cintai, Ingatlah, bahwa selalu pada dasarnya otak kita adalah alat uji sebuah sistem pembelajaran dan kurikulum, dan bukan sistem KURIKULUM yg menguji otak anak kita apakah pintar atau bodoh. Karena kurikulum hanyalah ciptaan manusia sementara otak anak2 kita adalah Ciptaan Sang Maha Sempurna.

Jika seorang anak tidak cocok terhadap sistem pembelajaran dan Menu Kurikulum maka bukan anaknya yg di paksa terus menelannya setiap hari, tapi segeralah mengkaji ulang untuk mengganti dengan yg Ramah Otak Anak.

Karena kami yakin bahwa TUHAN TIDAK PERNAH SALAH MENCIPTAKAN OTAK ANAK-ANAK KITA, Tapi kemungkinan besar justru manusialah yg salah dalam menyusun program pembelajaran dan kurikulum bagi anak2 kita.

Berita gembiranya adalah bahwa saat ini sudah mulai banyak sekolah yg sadar dan peduli terhadap masalah ketidak cocokan yg dipaksakan ini, Itulah sebabnya salah satu sekolah Alam di Ciganjur dan Bogor lebih memilih membuat sistem pembelajaran dan kurikulum sendiri yg lebih cocok pada anak, dan merelakan diri untuk mengambil sistem PKBM dan ujian PAKET A B (persis seperti kami di HS) ketimbang memaksakan anak menelan kurikulum yg membuatnya Stess, Malas2an, tawuran atau bahkan Mogok sekolah. Wow sebuah tindakan yg sangat nekad dan berani....!!!!! Semua ini bisa terjadi juga karena dukungan dari para ortu yg menyekolahkan anaknya di sana.

Semoga semakin banyak para guru dan pimpinan sekolah yg peduli pada masalah ketidak cocokan SISTEM PEMBELAJARAN DAN KURIKULUM SEKOLAH PADA ANAK DIDIKNYA.

Mari kita bangun Indonesia yg kuat dari Keluarga melalui anak2 kita tercinta. Jika bukan kita yg peduli pada anak2 kita lantas siapa lagi...?

Sumber: http://ayahkita.com/

Wednesday, February 22, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 3

Bukti Dari Buku-buku Sejarah Tentang Kedatangan Yesus ke Punjab dan Daerah Sekitarnya


Pertanyaan yang pasti mengemuka adalah mengapa Yesus setelah terlepasnya beliau dari salib lalu mengembara sampai ke negeri ini yang letaknya sangat jauh dan merupakan perjalanan amat panjang.  Hal ini perlu dijawab secara rinci dan meskipun sudah sedikit disinggung di atas, ada baiknya lebih diperjelas.

Perlu dipahami bahwa perjalanan tersebut merupakan kewajiban bagi beliau sebagai seorang nabi karena Yesus a.s. mengembara sampai ke Punjab dan daerah sekitarnya itu dalam rangka mencari sepuluh suku bangsa Israel yang dalam istilah Injil disebut sebagai Domba-domba yang hilang.  Mereka itu bermukim di negeri ini dan kenyataan itu diakui oleh para ahli sejarah.  Karena itu Yesus memang perlu datang ke negeri ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran samawi beliau.  Kalau beliau tidak melakukan perjalanan tersebut maka tujuan diutusnya beliau tidak akan terpenuhi karena sudah digariskan bahwa maksud kedatangannya adalah mencari dan mengajar Domba-domba Israel yang hilang.  Jika hal ini tidak dilaksanakan maka sama saja keadaannya dengan seseorang yang ditugasi rajanya untuk pergi ke daerah suku yang terpencil guna membuatkan sumur buat air minum mereka, tetapi yang bersangkutan membuang-buang waktu di tempat lain.

Bila ditanyakan bagaimana mungkin kesepuluh suku bangsa Israel itu berada di negeri ini, maka jawabannya adalah semua itu berdasarkan bukti-bukti kuat sehingga seorang bodoh pun tidak akan meragukannya.  Sudah luas diketahui orang kalau bangsa Afghan dan penduduk Kashmir berasal atau keturunan bangsa Israel.  Sebagai contoh, penduduk dari daerah Alai yang berbukit-bukit sejarak dua atau tiga hari perjalanan dari Hazara, selalu menyebut diri mereka Bani Israel dari sejak zaman purba. Begitu juga penduduk Kala Dakah yang juga merupakan daerah perbukitan, mereka ini bangga sebagai keturunan Israel.  Ada suku bangsa di Hazara sendiri yang menganggap mereka juga berasal dari Israel, sebagaimana penduduk daerah di antara Chalas dan Kabul. Dr. Bernier dalam bagian kedua dari bukunya Travels in the Mogul Empire (Lihat Apendiks) menyatakan berdasar penelitian beberapa cendekiawan Inggris bahwa penduduk Kashmir adalah keturunan bangsa Israel.  Pakaian, karakteristik tubuh dan adat kebiasaan mereka menunjuk kepada kenyataan bahwa mereka berasal dari keturunan Israel.

George Forster dalam bukunya Letters on a journey from Bengal to England (Lihat Apendiks), mengatakan saat ia berdiam di Kashmir ia merasa berada di tengah-tengah suku bangsa Israel. Dalam buku The Races of Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan H. W. Bellews C.S.I. dinyatakan kalau bangsa Afghan berasal dari Syria.  Raja Nebuchadnezar menawan mereka dan menempatkan mereka di Persia dan Media, dari mana mereka kemudian hijrah ke Timur dan bermukim di perbukitan Ghaur dekat Bamiyar dan mereka dikenal sebagai Bani Israel.  Sebagai bukti ialah nubuatan dari Nabi Idris (dalam Injil disebut Enoch) yang mengatakan bahwa kesepuluh suku bangsa Israel yang ditawan telah membebaskan diri mereka dan berlindung di daerah Arsartat, yang sekarang ini dikenal sebagai Hazara, dan sebagian di daerah bernama Ghaur.  Dalam buku Tabaqat-i-Nasri yang menceritakan tentang penaklukan Afghanistan oleh Genghiz Khan, dikatakan bahwa di masa dinasti Shabnisi ada sebuah suku bangsa yang disebut Bani Israel dan mereka adalah pedagang yang baik.  Dalam tahun 622 M. sekitar saat maklumat kenabian Rasulullah s.a.w., bangsa ini bermukim di daerah sebelah timur Herat.  Seorang pemuka suku Quraish bernama Khalid bin Walid bertabligh kepada mereka menyampaikan kabar kedatangan Rasulullah s.a.w. Ada lima atau enam kepala suku bangsa itu bergabung dengan Khalid bin Walid dimana di antaranya seorang bernama Qais yang paling terkemuka dan seorang lagi bernama Kish.  Setelah masuk Islam, bangsa ini berperang dengan gagah berani di bawah bendera Islam dan memperoleh banyak daerah penaklukan.  Rasulullah s.a.w. banyak memberikan hadiah kepada mereka, memberkati mereka dan menubuatkan bahwa mereka akan memperoleh kemashuran.  Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa kepala-kepala suku bangsa ini akan selalu dikenal sebagai Malik.  Adapun Qais beliau beri nama Abdul Rashid dan diberi gelar ‘Pathan.’  Para pengarang Afghanistan mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Syria yang berarti kemudi. Qais diberi gelar ‘kemudi’ itu karena ia yang mengendalikan suku bangsanya.  Sebelum kedatangan Khalid bin Walid, mereka itu konsisten menjalankan agama Yahudi.

Sulit memperkirakan kapan bangsa Afghan dari Ghaur itu lalu berpindah dan mukim di daerah sekitar Kandahar sampai sekarang.  Kemungkinan di abad pertama tarikh Islam. Bangsa Afghan mengemukakan bahwa Qais menikah dengan putri Khalid bin Walid dan mendapat tiga putra bernama Saraban, Patan dan Gurgasht.  Saraban mempunyai dua putra yang diberi nama Sacharj Yun serta Karsh Yun dan mereka ini yang menurunkan bangsa Afghan atau Bani Israel. Penduduk Asia Kecil dan sejarahwan Barat mengenai Muslim menyebut bangsa Afghan sebagai ‘Sulaimanis.’

Dalam The Cyclopaedia of India, Eastern and Southern Asia, volume 111, susunan E. Balfour, dinyatakan bangsa Yahudi tersebar di seluruh daerah Asia bagian tengah, selatan dan timur. Di masa lalu banyak dari bangsa ini yang bermukim di Cina dan mempunyai kuil di Yih Chu di distrik Shu. Dr. Joseph Wolff yang mengembara lama sekali dalam pencarian sepuluh suku bangsa Israel yang hilang, menyatakan bahwa jika bangsa Afghan adalah keturunan Yakub maka mereka itu berasal dari suku Yahuda dan Ben Yamin.  Laporan lainnya mengemukakan kalau orang-orang Yahudi itu dibuang ke Tartary dan mereka bisa ditemui dalam jumlah banyak di sekitar Bokhara, Merv (sekarang dekat Turkmenistan) dan Khiva (sekarang di Uzbekistan). Hasil riset Dr. George Moore menunjukkan bahwa suku bangsa Tartar yang bernama Chosan adalah keturunan Yahudi dan di antara mereka masih bisa ditemui sisa-sisa agama Yahudi seperti adat khitan.

Dalam penampilannya bangsa Afghan dalam segala hal mirip sekali dengan umat Yahudi. Mereka juga mempunyai adat dimana adik laki-laki yang lebih muda mengawini janda kakaknya. Seorang pengelana Perancis bernama L. P. Ferrier yang berkunjung ke Herat, menyatakan kalau di daerah tersebut ditemui banyak orang Yahudi yang bebas melaksanakan ritual agama mereka. Rabbi Bin Yamin dari Toledo (Spanyol) pada abad keduabelas pernah mengembara mencari suku-suku bangsa yang hilang itu.  Ia menyatakan bahwa umat Yahudi itu bermukim di Cina, Iran dan Tibet. Flavius Josephus (Lihat Apendiks),  yang mengarang buku sejarah umat Yahudi dari zaman purba, pada tahun 93 M. menulis dalam buku kesebelas tentang umat Yahudi yang bebas dari tawanan bersama nabi Ezra, menyatakan kalau mereka itu menetap di sebelah timur sungai Euphrat dimana jumlah mereka amat banyak sekali.  Yang dimaksud di luar Euphrat adalah daerah-daerah Persia dan negeri-negeri di timurnya.  Santo Jerome yang hidup di abad kelima saat menulis tentang nabi Hosea menyangkut pokok bahasan, menyatakan dalam catatan pinggirnya bahwa umat Yahudi sejak saat itu berada di bawah kendali raja Parthia yaitu Paras.  Pada jilid pertama dari buku itu dikemukakan kalau Count Juan Steram menyatakan bahwa raja Nebuchadnezar setelah penghancuran bait suci di Yerusalem telah membuang suku-suku bangsa itu ke daerah Bamiyan dekat Ghaur di Afghanistan.

Buku A Narative of a Visit to Ghazni, Kabul and Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan G. T. Vigne F.G.S. di halaman 164 menceritakan tentang seorang mullah bernama Khuda Dad membaca dari buku Majma-ul-Ansab bahwa putra tertua dari Yakub adalah Yehuda yang berputra Usrak; putra Usrak adalah Aknur; Aknur berputra Maalib yang menurunkan Ka-Farlai; putra Farlai adalah Qais yang selanjutnya berputra Talut; Talut berputra Armea yang menurunkan Afghan.  Keturunan Afghan yang berputra empatpuluh orang inilah yang kemudian menjadi bangsa Afghanistan.  Qais yang hidup di masa Rasulullah s.a.w. adalah keturunan ke 34 setelah 2000 tahun sejak masa Yakub.  Keturunannya berkembang menjadi 64 generasi.  Putra sulung Afghan yang bernama Salm kemudian bermigrasi dari tempat asalnya di Syria dan bermukim di Ghaur Mashkoh dekat Herat.

Dalam Encyclopaedia of Geography (Lihat Apendiks),  dari James Bryce F.G.S., London 1856, di halaman 11 dikatakan bahwa bangsa Afghanistan bisa merunut garis keturunan mereka sampai kepada Saul raja Israel dan menyebut diri mereka Bani Israel. Alexander Burns juga mengemukakan kalau bangsa Afghan mengaku sebagai umat Yahudi yang katanya ditawan oleh raja Babul dan ditempatkan di daerah Ghaur di barat laut Kabul dimana sampai tahun 622 M. mereka masih menjalankan ritual agama Yahudi, tetapi kemudian Khalid bin Abdullah (kekhilafan yang maksudnya Walid) menikah dengan putri kepala suku dan membawa mereka memeluk agama Islam dalam tahun itu.  Di buku History of Afghanistan (Lihat Apendiks),  dari G. R. Malleson, London 1878, di halaman 39 dikemukakan bahwa Abdullah Khan dari Herat, pengelana Perancis bernama Friar John dan Sir William Jones (seorang orientalis) sepakat kalau bangsa Afghan merupakan Bani Israel keturunan dari sepuluh suku bangsa yang hilang.  Begitu juga buku,  History of the Afghans (Lihat Apendiks), karangan  L. P. Ferrier dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. M. Jasse, London 1858, mencatat di halaman 1 kalau mayoritas sejarahwan timur sependapat bahwa bangsa Afghan adalah keturunan dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang sebagaimana pendapat bangsa itu sendiri.  Di halaman 4 buku itu diceritakan bahwa bangsa Afghan memiliki bukti berupa kitab Injil dalam bahasa Iberani dan beberapa artikel ritual agama yang diserahkan oleh suku bangsa Yusaf-Zai kepada raja Nadir Shah di Peshawar ketika yang bersangkutan sedang melakukan invasi ke India.  Di antara para pengikut Nadir Shah sendiri terdapat beberapa orang Yahudi yang langsung mengenali barang-barang itu. Di halaman 4 buku tersebut juga disampaikan opini pengarang yang menyatakan bahwa pandangan Abdullah Khan dari Herat itu dapat diyakini. Ringkasnya disampaikan garis keturunan yaitu Malik Talut (dalam Injil disebut Saul) berputra dua orang yaitu Afghan dan Jalut.  Afghan kemudian menjadi pemuka di antara bangsanya.  Setelah pemerintahan Daud dan Sulaiman (Solomon) terjadi perpecahan di antara bangsa Israel sehingga mereka berpisah sampai kedatangan raja Nebuchadnezar.  Raja ini membunuh 70.000 umat Yahudi dan menghancurkan kotanya serta menawan sisa Yahudi yang ada dan dibawa ke Babylon sebagai tawanan.  Setelah bencana itu keturunan Afghan melarikan diri dari Yudea ke Arabia dan tinggal disana untuk jangka waktu lama. Namun karena kekurangan air dan tanah yang dapat digarap, mereka kemudian bermigrasi ke India.  Sekelompok Abdalis tetap tinggal di Arabia dan di masa Khalifah Hazrat Abu Bakar, salah seorang kepala suku mereka mengikat tali perkawinan dengan Khalid bin Walid.  Ketika kemudian Iran jatuh di bawah kekuasaan Arabia, mereka kemudian bermukim di daerah Iran di sekitar Faras dan Kirman.  Mereka menetap di sana sampai datangnya penyerbuan Genghiz Khan.  Suku Abdalis ini tidak berdaya menghadapi kekejaman Genghiz Khan.  Mereka kemudian pergi ke India melalui Makran (sekarang Baluchistan), Sindh dan Multan.  Karena tetap tidak mendapatkan ketenteraman, mereka kemudian meneruskan ke Koh Sulaiman dan bermukim di sana.  Mereka semua terdiri dari 24 suku bangsa keturunan dari Afghan yang berputra tiga orang yaitu Saraband, Arkash (Gargasht) dan Karlan (Batan).  Masing-masing mereka berputra delapan yang kemudian berkembang menjadi 24 suku yang diberi nama sama dengan nama putra-putra itu.  Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putra
Saraband

Nama
suku

Putra
Gargasht

Nama
suku

Putra
Karlan

Nama
suku

Abdal
Babur
Wazir
Lohan
Barch
Khugiyan
Sharan
Abdali
Baburi
Waziri
Lohani
Barchi
Khugiyani
Sharani
Khilj
Kakar
Jamurin
Saturiyan
Peen
Kas
Takan
Nasar
Khilji
Kakari
Jamurini
Saturiyani
Peeni
Kasi
Takani
Nasri
Khatak
Afrid
Tur
Zaz
Bab
Banganes
Landipur
Khataki
Afridi
Turi
Zazi
Babi
Banganesi
Landipuri



Buku karangan Khwaja Nikmatullah dari Herat berjudul Makhzan-i-Afghan dari tahun 1018 H. di masa pemerintahan raja Jahangir, diterjemahkan oleh Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, London 1836, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Di bab 1 dikemukakan sejarah Yakub Israel sebagai nenek moyang awal bangsa Afghan.
Di bab 11 terdapat sejarah raja Talut yang menjadi garis awal keturunan bangsa Afghan.

Di halaman 22 dan 23 dinyatakan Talut berputra dua orang yaitu Barkhiya dan Armiyah. Barkhiya berputra Asaf dan Afghan, dimana Afghan berputra 24 orang. Di halaman 65 diungkapkan raja Nebuchadnezar menduduki seluruh Sham (Syria) dan membuang suku-suku bangsa Israel ke daerah Ghaur, Ghazni, Kabul, Kandahar dan Koh Firoz dimana keturunan Afghan dan Asaf kemudian bermukim.

Di halaman 37 dan 38 disampaikan kutipan dari Majma-ul-Ansab dan Tarikh Buzidah karangan Masaufi, bahwa di masa Rasulullah s.a.w. pemuka Khalid bin Walid telah mengajak bangsa Afghan yang berada di Ghaur untuk memeluk Islam. Kepala suku Afghan bernama Qais yang adalah keturunan ke 37 dari raja Talut telah datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau memberikan gelar ‘Pathan’ kepada kepala suku itu yang berarti kemudi kapal. Kemudian kepala suku itu kembali ke negerinya dan mulai menyiarkan Islam.

Di halaman 63 dikemukakan bahwa Farid-ud-Din Ahmad mengemukakan mengenai gelar Bani Afghanah atau Bani Afghan dalam bukunya berjudul Rasalah Ansab-i-Afghaniyah yaitu: setelah Nebuchadnezar menaklukkan bangsa Israel dan daerah Sham serta menghancurkan Yerusalem, ia menawan bangsa Yahudi dan mengangkut mereka sebagai hamba sahaya.  Ia memaksa mereka meninggalkan agama Musa dan menyembah dirinya sebagai pengganti Tuhan, yang ditolak oleh bangsa Yahudi tersebut. Akibatnya Nebuchadnezar menghukum mati sekitar dua ribu orang dan mengusir mereka keluar dari daerah kerajaan dan daerah Sham.  Sebagian dari mereka pergi ke perbukitan Ghaur dimana keturunan mereka menetap di sini dan diberi nama Bani Israel, Bani Asaf dan Bani Afghan. Di halaman 64 pengarang mengutip catatan dari Tarikh-i-Afghani dan Tarikh-i-Ghauri yang menegaskan kalau bangsa Afghan adalah Bani Israel dan sebagian mereka berasal dari Kopti (Mesir). Abdul Fazl menyatakan bahwa sebagian orang Afghan mengaku berasal dari Mesir yaitu dari mereka yang kembali ke Mesir dari Yerusalem, setelah mana mereka bermigrasi ke India. Farid-ud-Din Ahmad menjelaskan tentang nama ‘Afghan’ yaitu antara lain berasal dari kebiasaan mereka ‘meratap dan menangis’ (faghan) karena terkenang kampung halaman mereka. Sir John Malcolm juga berpendapat sama dalam bukunya History of Persia, volume 1, halaman 101.

Pada halaman 63 diberikan pernyataan Mahabat Khan: ‘Karena mereka adalah pengikut dan bertalian dengan nabi Sulaiman a.s. maka mereka oleh orang Arab dijuluki Sulaimanis.’ Halaman 65 mengemukakan bahwa semua semua riset oleh sejarahwan orientalis menunjukkan kalau bangsa Afghan menganggap diri mereka keturunan Yahudi. Beberapa sejarahwan masa kini juga berpandangan sama. Mengenai penggunaan nama-nama Yahudi oleh bangsa Afghan yang kemudian menganut Islam, tidak ada yang bisa mendukung pandangan penterjemah Bernhard Doran. Di bagian utara dan barat Punjab ada beberapa suku yang semula Hindu kemudian memeluk Islam tetapi nama-namanya bukan Yahudi, yang menunjukkan bahwa dengan menganut Islam mereka tidak harus tetap menggunakan nama Yahudi.  Penampilan phisik mereka sendiri amat mirip dengan bangsa Yahudi, hal mana diakui juga oleh para cendekiawan meskipun mereka tidak termasuk yang berpandangan bahwa orang Afghan berasal dari umat Yahudi. Mengenai hal itu Sir John Malcolm mengatakan:

Asal mula suku bangsa Afghan yang hidup di daerah pegunungan antara Khurasan dan Indus sudah ditelusuri oleh beberapa sejarahwan.  Beberapa menekankan jika mereka itu keturunan dari bangsa Yahudi yang ditawan oleh Nebuchadnezar dimana kepala-kepala sukunya merunut garis keturunan mereka sampai ke Daud dan Saul (Talut).  Walaupun pengakuan mereka itu diragukan namun penampilan phisik dan adat istiadat mereka berbeda dari bangsa Parsi, Tartar dan India sehingga ini mungkin membenarkan pengakuan mereka yang sebenarnya bertentangan dengan berbagai fakta kuat dan memang belum ada buktinya.  Kalau kemiripan ciri di antara dua bangsa bisa digunakan sebagai bukti maka bangsa Kashmir dengan ciri Yahudinya tentunya bisa dianggap sebagai keturunan Yahudi.  Hal itu tidak saja dikemukakan oleh Bernier tetapi juga oleh Forster dan mungkin beberapa cendekiawan lainnya.  Walaupun Forster tidak berpandangan sama dengan Bernier, namun ia mengakui jika ia berada di antara bangsa Kashmir, ia merasa seolah berada di antara umat Yahudi.’
 Mengenai nama ‘Kashmir’ ada penjelasan dalam buku Dictionary of Geography dari A. K. Johnston di halaman 250 di bawah judul CASHMERE yaitu:
Penduduk aslinya bertubuh tinggi, kekar dengan penampilan kelaki-lakian, wanitanya bertubuh penuh dan cantik dengan hidung mancung dan ciri-ciri yang mirip bangsa Yahudi.’

Dalam berkala Civil & Military Gazette bertanggal 23 November 1898 halaman 4 di bawah judul ‘Sawati and Afridi’ disampaikan sebuah makalah menarik dan penting ditujukan ke bagian Anthropology dari British Association pada sesi musim dingin di hadapan Komite Anthropoligical Research dalam salah satu pertemuan mereka belum lama ini.  Di bawah ini dikutipkan bagian naskah yang penting dari makalah tersebut.

Penduduk asli Paktan atau Pathan di gerbang barat dari India sudah dikenal lama dalam sejarah, banyak dari suku bangsa ini disebut oleh Herodotus dan para sejarahwan Alexander. Di abad menengah, daerah pegunungan liar dimana mereka berada disebut Roh dan penduduknya Rohillah dan tidak diragukan jika mereka ini sudah ada di sana jauh sebelum munculnya suku-suku bangsa Afghan.  Semua bangsa Afghan sekarang ini dianggap sebagai Pathan karena mereka menggunakan bahasa Pathan atau Pashtu.  Mereka tidak mengakui kekerabatan dengan yang lainnya karena mereka merasa mengaku sebagai Bani Israel yaitu keturunan dari bangsa yang ditawan dan dibawa ke Babylon oleh Nebuchadnezar.  Namun semuanya menggunakan bahasa Pashtu dan sama menghormati hukum adat yang disebut Paktanwali, yang berisi peraturan-peraturan mirip dengan ajaran hukum Musa dan adat kuno bangsa Rajput.’


JEJAK BANGSA ISRAEL
‘Dengan demikian bangsa Pathan yang kita bahas ini bisa dibagi dalam dua komunitas besar yaitu suku dan klan seperti Waziri, Afridi, Orakzais dan lain-lain yang merupakan keturunan India dan bangsa Afghan yang mengaku sebagai bangsa Semit (Ibrani) dan merupakan ras yang dominan sepanjang perbatasan.  Mungkin saja Paktanwali yang merupakan norma tidak tertulis tetapi dianut oleh mereka semua, merupakan campuran berbagai sumber.  Di dalamnya kita bisa menemukan peraturan-peraturan agama Musa yang diterapkan pada adat kebiasaan Rajput dan dimodifikasi oleh kebiasaan Islam.  Bangsa Afghan yang menyebut dirinya Durani sejak berdirinya kerajaan Durani sekitar satu setengah abad yang lalu, menyatakan bahwa mereka keturunan dari bangsa Israel melalui moyang mereka bernama Kish, yang oleh nabi Muhammad diberi nama Pathan (bahasa Syria untuk kemudi kapal) karena ia ditugaskan mengemudikan rakyatnya kepada arus agama Islam. Kami telah mengemukakan di atas kalau usia bangsa Pathan atau Paktan ini lebih tua dari Islam.  Umumnya penggunaan nama-nama Israel di antara bangsa Afghan mengharuskan kita mengakui adanya keterkaitan dengan bangsa Israel. Begitu juga adat mereka seperti perayaan Paskah (yang persis sama dengan ritual Yahudi) yang tetap dirayakan oleh mereka yang berpendidikan rendah tanpa mengetahui asal muasalnya.  Bellew berpendapat bahwa keterkaitan dengan bangsa Israel itu nyata adanya, namun ia juga mengingatkan bahwa sekurangnya satu dari tiga cabang garis keturunan Afghan yang menurut hikayat berasal dari keturunan Kish dengan nama Sarabaur.  Nama ini merupakan bentuk kuno dari bahasa Pashtu yang dikenakan kepada ras Rajput yang menganut kalender matahari (solar) ketika mereka bermigrasi ke Afghanistan setelah kekalahan mereka dalam perang melawan Chandraban penganut kalendar bulan (lunar) dalam perang besar Mahabarata dalam sejarah awal India.  Dengan demikian bangsa Afghan kemungkinan adalah bangsa Israel yang diserap ke dalam suku-suku bangsa Rajput kuno dan ini rasanya merupakan jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan mengenai asal muasal bangsa ini.  Hanya saja bangsa Afghan modern mempertahankan pendirian mereka bahwa berdasarkan tawarikh, mereka itu berasal dari ras terpilih keturunan Ibrahim dan mengakui kesamaan dengan Pathan lainnya berdasarkan kesamaan bahasa dan adat istiadat suku bangsa.’

Semua kutipan dari buku-buku para pengarang terkenal tersebut jika dirangkum akan meyakinkan seorang yang berfikir bahwa bangsa Afghan dan Kashmir yang berada di India, di daerah perbatasan dan daerah sekitarnya, adalah Bani Israel. Pada bagian kedua buku ini, Inshallah, aku akan memberikan rincian lebih jauh tentang tujuan utama perjalanan Yesus a.s. ke India yaitu melaksanakan tugas yang diterima beliau untuk mengajar semua suku bangsa Israel sebagaimana berulangkali dikemukakan beliau dalam Injil. Jadi sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh jika beliau memang datang ke India dan Kashmir. Malah akan aneh kalau tanpa melaksanakan tugas-tugas yang diembannya itu, beliau langsung naik ke langit.  Sekianlah dan aku tutup diskusi ini. Salam bagi mereka yang memperoleh petunjuk yang benar.

MIRZA GHULAM AHMAD
Al-Masih yang Dijanjikan

Saturday, December 17, 2011

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 1


Dalam BAB 4 ini akan banyak di ceritakan mengenai bukti-bukti perjalanan Yesus as dengan beberapa referensi.  Selamat mengkaji...:)

BAB 4
Pembuktian dari buku-buku sejarah Berhubung mengandung pembuktian beberapa jenis maka agar jelas urutannya, bab ini dibagi dalam beberapa bagian.

BAGIAN 1
Buku umat Islam yang menyinggung perjalanan Yesus a.s. Dalam buku sejarah berbahasa Parsi yang terkenal yaitu Rauzat-us- Safa pada halaman 130 sampai 135 diuraikan peristiwa yang singkatnya adalah sebagai berikut:
‘Yesus a.s. diberi nama “Masih” karena beliau adalah seorang petualang besar yang selalu bepergian. Beliau mengenakan selendang wool di kepalanya dan jubah wool untuk tubuhnya.  Beliau menggunakan sebuah tongkat dan mengembara dari negeri satu ke negeri lain dan dari kota satu ke kota lain.  Jika malam turun, beliau akan beristirahat di mana kebetulan beliau berhenti.  Beliau makan buah-buahan hutan, minum air yang terdapat di situ dan berjalan kaki kemana pun perginya.  Salah seorang teman seperjalanan beliau dalam salah satu perjalanan pernah membelikan seekor kuda untuk beliau. Beliau menaiki kuda itu untuk satu hari, tetapi karena sulit mendapatkan pakan untuk kuda tersebut, beliau lalu mengembalikannya.  Mengembara dari negerinya, beliau tiba di Nasibin, beratus-ratus mil dari rumahnya. Beserta beliau ikut beberapa pengikut yang biasa ditugaskannya ke kota-kota untuk berkhutbah.  Di dalam kota itu sendiri beredar kabar burung yang buruk tentang Yesus a.s. dan ibunya. Karena itu gubernur kota tersebut menangkap para murid tersebut dan memanggil Yesus. Secara ajaib Yesus menyembuhkan beberapa orang dan melakukan beberapa mukjizat lain.  Karena itu raja daerah Nasibin dengan segenap tentara dan rakyatnya beriman kepada beliau.  Legenda mengenai “hidangan yang diturunkan dari langit” sebagaimana diutarakan dalam Al-Quran (S.5 Al-Maidah:113 – 115), terjadi pada saat pengembaraan beliau tersebut.’


Perkiraan peta perjalanan Yesus a.s. ke India


Pengarang dari buku Rauzat-us-Safa sayangnya juga mencantumkan berbagai mukjizat Yesus yang sebenarnya absurd dan tidak masuk akal, hal mana tidak akan aku sertakan di sini agar apa yang aku sampaikan ini bebas dari kebohongan dan melebih-lebihkan.  Yang penting adalah Yesus a.s. dalam perjalanan beliau telah sampai ke Nasibain (Nisibis Nasibina dalam tulisan Assyria, nama modernnya Nezib atau Nusaybin adalah kota dan benteng tua di utara Mesopotamia, dekat dengan Mydonia (nama kini Jaghjagha), dihuni sekitar 4000 orang, sebagian besar Yahudi (E ncyclopaedia Britannica, ed. 11)), yang terletak di antara Mosul dan Syria. Jika kita berjalan dari Syria ke Persia, kita akan melewati Nasibain yang terletak 450 mil (hampir 700 kilometer) dari Yerusalem. Kota Mosul terletak 48 mil (60 kilometer) dari Nasibain dan 500 mil (750 kilometer) dari Yerusalem.  Perbatasan Persia hanya berjarak 100 mil dari Mosul, berarti Nasibain terletak 150 mil dari perbatasan tersebut. Perbatasan timur Persia menyentuh kota Herat di Afghanistan yang merupakan kota terletak paling barat di negeri itu. Jarak dari Herat ke perbatasan timur Afghanistan sekitar 900 mil.  Dari Herat ke Khyber Pass (Celah di kaki pegunungan Hindu Kush yang m erupakan pintu masuk ke negeri India, sekarang ini jalan yang menghubungkan kota Kabul dengan Peshawar), jaraknya sekitar 500 mil.

Peta di atas menunjukkan route yang diambil Yesus a.s. dalam perjalanan beliau ke Kashmir. Tujuan perjalanan itu adalah mencari umat Israel yang pada masa raja Shalmaneser dari Assyria telah ditangkap dan dibawa sebagai tawanan ke negeri Media.  Perlu diketahui bahwa dalam peta yang dibuat oleh umat Kristiani, Media terletak di selatan laut Khizar (laut Azov) (Terletak di tepian Ukrainia dan Rusia dengan nama Azovskoye More),  yang sekarang ini termasuk Persia (Iran) sehingga dapat disimpulkan bahwa Media pernah merupakan bagian dari Persia dan bagian timur Persia berbatasan langsung dengan Afganistan. Jika penuturan Rauzat-us-Safa itu benar maka perjalanan Yesus a.s. ke Nasibain itu adalah untuk memasuki Afghanistan melalui Persia guna mengajak kembali ke agama Musa suku bangsa Yahudi yang hilang yang saat itu dikenal sebagai bangsa Afghan. Kata ‘Afghan’ sendiri berasal dari bahasa Iberani yang merupakan derivasi dari arti kata ‘pemberani.’ Rupanya karena pernah jaya dalam kemenangan mereka menggunakan nama itu. (Dalam kitab Taurat ada sebuah janji Tuhan kepada orang Yahudi y a itu jika mereka beriman kepada rasul yang ‘terakhir ’ maka mereka akan dianugrahi kerajaan dan pemerintahan sendiri setelah melalui berbagai penderitaan. Janji itu telah dipenuhi o leh sepuluh suku bangsa Israel yang kemudian menganut Islam. Sebab itulah banyak dijumpai raja-raja agung di antara bangsa Afghan dan Kashmiri. D alam buku sejarah Yunani d i bagian 14 bab ‘Creed of Eusebius’ yang diterjemahkan oleh Heinmer, orang London, pada tahun 1650 yang menuturkan tentang raja Abgerus (penterjemah = namanya dalam sejarah adalah Abgar V Ukkama dari Osroene, Edessa) yang mengundang Y esus agar datang ke negerinya. Rupanya raja itu mendengar kekejaman umat Yahudi kepada Yesus dan menawarkan istananya sebagai tempat p elarian. R aja itu rupanya meyakini beliau sebagai nabi yang benar).  

Jadi Yesus a.s. sampai di daerah Punjab melalui Afghanistan, dengan tujuan akhirnya Kashmir.  Untuk diketahui, daerah Chitral dan sebagian dari Punjab memisahkan Kashmir dari Afghanistan.   Jarak yang dditempuh jika kita berjalan dari Afghanistan ke Kashmir melalui Punjab adalah 80 mil atau 135 kilometer. Yesus a.s. sengaja melalui negeri Afghanistan agar suku bangsa Israel yang hilang yang dikenal sebagai bangsa Afghan mendapat berkah dari kedatangan beliau.  Bagian timur Kashmir berbatasan dengan Tibet sehingga memudahkan Yesus memasuki Tibet dari Kashmir.  Setelah sampai di Punjab, beliau tidak mengalami kesulitan untuk berkelana ke berbagai tempat suci umat Hindu sebelum meneruskan perjalanan ke Kashmir atau Tibet.  Karena itu kemungkinan ada benarnya apa yang dikemukakan naskah-naskah historikal kuno negeri ini bahwa Yesus pernah ke Nepal, Benares dan tempat-tempat lainnya.  Kemungkinan beliau masuk Kashmir melalui Jammu atau Rawalpindi. 

Karena beliau berasal dari daerah berhawa dingin, kemungkinan beliau tinggal di daerah-daerah itu hanya selama musim dingin saja dan menjelang akhir Maret atau awal April lalu memulai perjalanan ke Kashmir.  Mengingat negeri Kashmir mirip dengan negeri Sham (Syria dan daerah sekitarnya), beliau lalu menetap di negeri ini.  Sebelumnya beliau kemungkinan tinggal untuk beberapa waktu di Afghanistan dan bukannya tidak mungkin beliau menikah di negeri ini.  Salah satu suku bangsa di Afghanistan bernama ‘Isa Khel,’ kemungkinan mereka ini keturunan dari Yesus a.s. Hanya sayang sekali jika sejarah Afghanistan tidak tertata rapi sehingga sulit memastikan segala sesuatu dari tawarikh suatu suku bangsa saja. Namun bisa dipastikan jika bangsa Afghan adalah suku bangsa Israel, sama seperti bangsa Kashmir.  Bangsa Afghan mengaku sebagai keturunan dari Qais, sedangkan Qais ini bangsa Israel. Aku tidak akan berpanjang kata mengenai hal ini karena sudah pernah aku bahas dalam salah satu bukuku.  Di sini aku hanya akan menyampaikan kisah perjalanan Yesus melalui Nasibain, Afghanistan, Punjab terus ke Kashmir dan Tibet.  Beliau dijuluki sebagai ‘nabi pengembara,’ bahkan ‘penghulu para pengelana’ karena jauhnya pengembaraan beliau.  Salah seorang cendekiawan Muslim terkenal bernama Ibn-al-Walid Al-Fahri Al- Tartushi Al-Maliki menyatakan dalam bukunya Siraj-ul-Muluk (diterbitkan oleh Matba Khairiyya, Mesir, 1306 H) di halaman 6 tentang Yesus a.s.: ‘Di manakah Isa, sang Ruhullah dan Kalimatullah, imam orang-orang saleh dan penghulu para pengelana?’ yang dimaksudkan bahwa beliau itu sudah wafat, dimana seorang besar seperti beliau itu pun sudah meninggalkan dunia ini.  Perlu kiranya diperhatikan bahwa cendekiawan ini tidak hanya menyebut Yesus sebagai ‘pengelana’ malah juga sebagai ‘penghulu para pengelana.’ 

Begitu juga dalam buku Lisan-ul-Arab dinyatakan bahwa Yesus diberi nama Messiah karena beliau selalu mengembara dan tidak berdiam di satu tempat. Hal yang sama dikemukakan dalam Tajul-Urus Sharah Qamus.  Disini dikatakan bahwa Messiah adalah wujud yang diberkati dengan kebaikan dan rahmat, dengan pengertian beliau memiliki nilainilai yang demikian luhur bahkan sentuhannya pun membawa berkat.  Panggilan itu diberikan kepada nabi Isa a.s. karena Tuhan berkuasa memberikan nama itu kepada siapa pun yang disukai-Nya.  Terbalik dari pengertian ini, ada sejenis Messiah lain yang sentuhannya beracun dan terkutuk karena wujudnya terdiri dari komponen dosa dan laknat sehingga apa yang disentuhnya membawa kepada kegelapan dosa dan kelaknatan. Nama Messiah ini adalah Dajjal, dan begitu juga para pengikutnya. 

Kedua nama yang diberikan yaitu Messiah sang Pengelana dan Messiah yang Diberkati tidaklah bertentangan satu sama lain. Yang satu tidak menafikan yang lain, karena sudah menjadi kebiasaan Allah s.w.t. memberi seseorang beberapa nama yang sepadan dengannya.  Yang jelas tawarikh menurut Islam telah membuktikan Yesus sebagai seorang pengelana sehingga jika semua rujukan harus disalin dari buku-buku sejarah yang ada maka risalah ini akan menjadi sangat tebal. Apa yang telah aku kemukakan di atas kiranya memadai.

Friday, December 9, 2011

MENGAPA MUSAILAMAH DIPERANGI?


Disalin oleh Abdul Rozzaq dari buku 
(Kebenaran Al-Masih Akhir Zaman’, karya Maulana Rahmat Ali HAOT )

Wajib kita mengadakan penelitian,  apa sebab para sahabat r.a. mengadakan perlawanan kepada Musailamah al Kadzdzab. Apakah hal itu dikarenakan  Musailamah al Kadzdzab telah mendakwahkan dirinya sebagai Nabi atau karena ada hal lain? Jika seorang berkata, bahwa pertempuran para sahabat r.a. dengan Musailamah al Kadzdzab semata-mata karena dia mendakwahkan dirinya sebagai Nabi, maka kita terpaksa mengatakan, bahwa sesungguhnya  orang tersebut tidak mengenal Tarikh dan Hadits; atau kalau dia memang mengetahui, berarti dia sengaja memprovokasi orang banyak; karena di dalam Hadits disebutkan dengan jelas  sekali bahwa Musailamah al Kadzdzab dan para pengikutnya pergi ke Madinah dan berkata kepada Rasulullah saw.: “Kalau engkau mau menjadikan saya khalifah sesudah engkau, maka saya mau ikut” (seperti tersebut didalam Kitab Hadits “Al-Bukhori”, juga 3 Kissah Aswad Ansi), bunyinya begini:

إِنَّ مُسَيْلَمَةَ الْكَذَّابَ قَدَمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ فِى دَارِ بِنْتِ الْحَرْثِ وَكَانَ تَحْتَهُ بِنْتَ الْحَرْثِ بْنَ كَرِيزٍ وَهِيَ أُمُّ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرٍ  فَأَتَاهُ رَسُولُ اللهِ وَمَعَهُ ثَابِتٌ بْنُ قَيْسٍ بْنِ شَمَاسٍ وَهُوَ الَّذِي يُقَالُ بِهِ خَطِيبُ رَسُولِ اللهِ صلعم وَفِى يَدِ رَسُولِ اللهِ صلعم قَضِيبٌ فَوَقَفَ عَلَيْهِ وَكَلَّمَهُ فَقَالَ لَهُ مُسَيْلَمَةُ إِنْ شِئْتَ خَلِيتَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ اْلأَمْرِ ثُمَّ جَعَلْتَهُ لَنَا بَعْدَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَوْ سَأَلْتَنِي هَذَا الْقَضِيبَ مَا أَعْطَيْتُكَهُ
“Musailamah Alkadzdzab sekali peristiwa datang di Madinah. Dia datang di rumah Binti Al-Harits bin bin Harits, dia adalah ibunya Abdullah bin Amir yang  tinggal bersamanya; maka datanglah Rasulullah saw. beserta Tsabit bin Qais bin Syamas kepadanya (Musailamah Kazzab), yaitu yang orang disebut sebagai khatib Rasulullah saw. Di tangan Rasulullah saw terdapat sepotong ranting kayu. Kemudian Rasulullah bercakap-cakap dengan Musailamah. Lalu, Musailamah berkata: “Jika engkau mau, engkau dapat selesaikan masalah ini, kemudian engkau tinggalkan masalah ini kepada kami sepeninggalmu” Maka jawab Rasulullah saw.: “Sekalipun kamu minta ranting kayu ini, aku tidak akan berikan kayu ini kepadamu”.

Sesudah itu Musailamah Kadzdzab pulang dan dari negerinya ia menulis surat kepada Rasulullah saw. Yang bunyinya begini :

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللهِ إِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ سَلاَمٌ عَلَيْكَ  فَإِنِّي قَدْ أَشْرَكْتُ فِى اْلأَمْرِ مَعَكَ وَإِنَّ لَنَا نِصْفُ اْلأَرْضِ وِلِقُرَيْشٍ نِصْفُ اْلأَرْضِ وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ
“Bahwa surah ini dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah, salam sejahtera atasmu. Saya sudah bergabung  dengan engkau, oleh sebab itu maka sebagian  dari tanah ini untuk saya, dan sebagiannya lagi untuk Quraisy. Akan tetapi kaum Quraisy itu telah melanggar batas”. (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1849). Dan lihatlah pula “Hujajul Kiramah” halaman 234).

Dari sini dapat kita ketahui bahwa sebenarnya Musailamah Kadzdzab menginginkan harta dan negera! Tetapi Rasulullah saw. Tidak pernah menyuruh sahabat r.a.. supaya membunuh Musailamah Kadzdzab.

Atas surat itu lalu Rasulullah saw. memberi jawaban, yang bunyinya demikian :

إِنَّ اْلأَرْضَ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Bumi ini akan diwariskan kepada siapa yang dikehendaki (Allah)  dan akibat akhirnya adalah untuk orang-orang muttaki. (lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 175).

Lebih jauh kita dapat mengatakan dengan tegas bahwa Rasulullah saw. dan para sahabat beliau sama sekali tidak pernah menyuruh agar membunuh Musailamahal al Kadzdzab dengan alasan dia mendakwakan sebagai Nabi (penda’waan kenabiannya) itu, seperti terbukti pula dari satu kejadian.

Ketika Rasulullah saw  masih hidup ada seorang bernama Ibnu Shayyad. Orang ini mendakwakan dirinya sebagai Rasul Allah Swt. di hadapan Rasulullah saw. sendiri, tetapi beliausaw sama sekali tidak pernah menyuruh membunuhnya, bahkan waktu Hadhrat Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk membunuh Ibnu Shayyad, Rasulullah saw melarang keras.

Sebenarnya hal-hal yang dijadikan para sahabat Rasulullah saw berperang melawan Musailamah Kadzdzab itu  antara lain:
I.                   Musailamah al Kadzdzab telah merampas dua buah dusun (desa) namanya Hajar dan Yamamah serta sekelilingnya, padahal kedua dusun itu kepunyaan orang Islam. Di salah satu dari dua tempat itu ada seorang tokoh Umat Islam namanya Sumama bin Asal, yang menjadi Hakim dalam daerah itu. Hakim ini telah diusir oleh Musailamah dan ia sendiri yang menggantikannya. (Lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 177).

II.                Kaum Musailamah Kadzdzab (Banu Hanifah) selalu merampoki Banu Amir. (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1737).

III.             Musailamah Kadzdzab membuat rumah sebagai Masjidil Haram (Ka’bah) dan rumah itu dijadikan tempat berkumpul para perampok yang telah melakukan perampokan, lalu bersembunyi di dalam rumah itu.” (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 932).

IV.              Musailamah Kadzdzab sendiri telah membunuh seorang sahabat Rasulullah saw. Namanya Habib bin Zaid, karena dia ingkar terhadapnya dan tidak mau percaya kepada kenabian Musailamah. Badan Habib tersebut kemudian dipotong-potong lalu dibakar.(Lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 241).


V.                 Ada seorang perempuan namanya Sajab binti Harits yang sangat memusuhi Islam. Musailamah menggabungkan dirinya dengan Sajab, kemudian keduanya bersekongkol untuk menghancurkan semua orang Islam.

VI.              Ada 40.000 orang pengikut-pengikut Musailamah yang mau membinasakan orang Islam dan mereka itu telah datang sampai ke negeri Yamamah.

Karena sebab-sebab inilah maka para sahabat Rasulullah saw  menyatakan perang dengan Musailamah Kadzdzab dan para pengikutnya.

Sekarang kita beralih untuk mengadakan penelitian, apa sebab para  sahabat Rasulullah saw telah memerangi Tulaiha bin Khualid Asdi.
1.       Tulaihah telah murtad dari Islam, semasa Rasulullah saw masih hidup. Sesudah Rasulullah saw wafat dan kerajaan Islam telah berada di tangan Khalifah, maka Tulaiha mengumpulkan lasykarnya di negeri Sumera yang hendak menyerang orang Islam di Madinah. (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 1873).
2.      Tulaihah telah mengirim saudaranya untuk menjadi kepala kumpulan-kumpulan yang memusuhi Islam, seperti Fazara, Gatfan, Thai, Sa’laba, Banu Kahana. Mereka itu berkumpul hendak menyerang negeri Madinah.
3.      Bila Rasulullah saw wafat dan saudaranya mengepalai orang-orang yang telah murtad dari melakukan pembunuhan atas orang Islam, seperti Banu Abas dan Banu Zubian (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1877). Orang-orang itu berkumpul di negera Abrab hendak menyerang Madinah (Lihatlah “Ibnu Khuldum” juz 9 halaman 65 dan “Tibri” juz 4 halaman 1873)
4.      Banu Huzarah yang dipimpin Kharja bin Makhsin menyerang. Tetapi kemudian kalah. Lalu dia menggabungkan diri dengan Tulaiha dengan niat hendak menghancurkan Islam.
5.      Ada seorang bernama Ujina bin Hisan, yang kerjanya sering merampas harta orang Islam. Kemudian ia menyatakan dirinya Islam adalah juga  dari golongan Tulaiha. (Lihatlah Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 232).
6.      Semua golongan tersebut  sangat banyak melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Islam, mereka memotong hidung dan telinga, banyak pula orang-orang Islam yang mereka lemparkan kedalam api dalam keadaan hidup. Untuk menerangkan betapa kejamnya golongan tersebut dalam menganiaya orang-orang Islam, sebagai contoh kongkritnya cukuplah dengan memaparkan kutiban dari Tibri berikut ini:

وَلَمْ يُقْبَلْ خَالِدٌ (بَعْدَ هَزِيمَتِهِمْ) مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَسَدٍ وَغَطْفَانَ وَلاَ هَوَازِنَ وَلاَ سَلِيمَ وَلاَ طَئِي إِلاَّ أَنْ يَأْتُوهُ  بِالَّذِينَ حَرِّقُوا وَمَثِلُوا وَعَدُوا عَلَى أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ فِى حَالِ رِدَّتِهِمْ
“Bani Asad, Bani Gatfan, Khawazin, Salim, Thai telah memotong-motong telinga dan hidung orang-orang Islam” (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1900; “Ibnu Khuldum” juz 2 halaman 194).

7.      Kasa bin Mahsan dan Sabad bin Akram dua orang sahabat r.a. yang masyhur telah dibunuh oleh Tulaiha dan saudaranya. Setelah kedua sahabah r.a. itu mati, lalu diinjak-injaknya pula. (Lihat “Tibri” juz 4 halaman 1888 dan Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 230).

Inilah sebab-sebab yang dijadikan alasan para sahabah Rasulullah untuk berperang melawan Tulaiha.

Akhirnya Tulaiha meminta ampun di masa Hadhrat Khalifah Umar ra. Tetapi beliau belum dapat memberi ma’af kepadanya. Pada suatu ketika di dalam satu peperangan, Suranbil ibni Hasna, sahabah Rasulullah saw. berhadapan dengan seorang kafir yang sangat kuat dan tangkas. Orang kafir itu hampir saja menewaskan jiwa Suranbil, tetapi Tulaiha tiba-tiba mencabut senjatanya dan langsung membunuh orang kafir itu, hingga Suranbil selamat. Bila orang-orang Islam mengetahui keadaan itu, maka tahulah mereka bahwa di dalam dada Tulaiha sebenarnya masih ada keimanan kepada Islam. Oleh sebab itu maka orang-orang Islam lalu memberitahukan hal itu kepada Hadhrat Khalifah Umar dengan maksud supaya Hadhrat Khalifah Umar memberi ma’af kepadanya. Akhirnya Hadhrat Khalifah Umar memberi ma’af kepada Tulaiha tetapi dengan perjanjian bahwa Tulaiha seumur hidupnya harus tinggal berdiam diperbatasan daerah Islam, dan kewajibannya ialah untuk menangkis serangan musuh Islam dari luar.

Dari riwayat ini kita mengetahui, bahwa para sahabah Rasulullah saw memerangi Tulaiha, bukan karena soal Kenabian akan tetapi peperangan para sahabah r.a. dengan Tulaiha itu nyatalah dalam persoalan yang berhubungan dengan politik.

Hal ini sengaja ditulis agak panjang dengan maksud اuntuk mencegah kalau-kalau ada orang yang mengatakan, bahwa di dalam agama Islam ada hukum-hukum yang tidak sesuai dengan akal dan kemanusiaan disamping untuk memberantas paham, bahwa Islam meraih kemajuan karena menggunakan paksaan dan peperangan.

Demikian juga para sahabah r.a. telah berperang melawan Aswad Ansi alasannya karena :
1.       Anwad Ansi telah memberontak dan menyatakan kepada amil-amil (pegawai-pegawai urusan zakat) supaya zakat dikembalikan kepada orang yang punya, dan amil itu tidak boleh membawa zakat itu ke Madinah.
2.      Golongan Mazhaj dan Najrah telah dibawa oleh Aswad dan Ansi untuk menyerang negera Yaman dan kemudian membunuh Hakim yang bernama Sahar bin Bazan dan lain-lain orang lagi.(Lihatlah “Tibri” juz 4 dan Tafsir “Kamil” juz 2 halaman 141).
3.      Aswad Ansi telah membunuh Sahar bin Bazan dan kemudian istrinya dikawini oleh Aswad Ansi dengan paksa.
4.      Banu Najran, satu golongan pemberontak yang dipimpin oleh Aswad Ansi telah mengusir dua sahabah r.a. yang mulia, bernama Amar bin Hazam dan Khalid bin Said, keduanya Hakim dinegeri Najran (Lihatlah Tarikh “Kamil” juz 2 halaman 140).

Itulah sebabnya, maka para sahabah Rasulullah saw. telah berperang melawan Aswad Ansi. Jadi, peperangan tersebut bukan karena soal pendakwahan kenabiannya.
                 
Sebagaimana telah diterangkan, bahwa di antara semua kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Aswad Ansi yang terpenting ialah tentang soal pembunuhan atas diri Sahar bin Bazan dan  ia telah mengambil istrinya dengan paksa, hal-hal yang menunjukkan kebuasan dan kebinatangan Aswad Ansi sudah tentu menimbulkan keamarahan golongan  umat Islam. Begitu juga peperangan yang terjadi dengan Lakid bin Malik Azdi yang asal mulanya dia sudah masuk Islam dan kemudian murtad. Setelah murtad, ia membuat kumpulan orang-orang yang terdiri atas keluarganya dan para sahabatnya. Dia lalu mengangkat dirinya sendiri menjadi kepala negeri Aman, sedang kepala pemerintahan Islam yang sebenarnya ialah Jafar bin Abbad, dia telah diusirnya. (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 1977 dan “Ibni Khuldun ” juz 2 halaman 78, “Tarikh Kamil” juz 2 halaman 156).

Dari keterangan-keterangan tadi pembaca dapat mengetahui bahwa semua peperangan yang dilakukan oleh para sahabat  r.a. dan perselisihan itu terjadi karena:
1.       Orang-orang itu mendakwakan Kenabian baru, yaitu menukar segala peraturan-peraturan dan syari’at yang dibawa oleh Nabi  Muhammad Rasulullah saw. Disamping itu dia tidak mengakui kebenaran Nabi Muhammad saw.
2.      Mereka itu mau menjadi Raja Dunia.
3.      Mereka itu mau harta benda.
4.      Mereka itu membunuh orang-orang Islam dan menganiaya perempuan-perempuan.

Inilah dasar-dasar peperangan yang dijalankan alasan para sahabah Rasulullah saw tetapi bagaimana pula fatwa orang lain? Katanya sah membunuh orang-orang Ahmadiyah. Fatwa ini tidak berdasar Islam, bahkan bertentangan dengan Islam dan pengalaman para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Lihatlah dengan teliti dan hati-hati! Sesuaikanlah dengan perbuatan para sahabah Rasulullah saw. Sebagaimana keterangan yang sangat jelas tersebut, bahwa:
1.   Ahmadiyah tidak menukar syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
2.      Ahmadiyah tidak bertujuan untuk kekuasaan duniawi  atau politik.
3.      Ahmadiyah tidak mencari harta dunia.
4.      Ahmadiyah tidak pernah menganiaya siapapun juga.
5. Ahmadiyah membenarkan Nabi Muhammad Rasulullah saw sebagai Khataman- Nabiyyin .
6.  Ahmadiyah membenarkan, bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. itu Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi Hakaman Adlan adalah berdasarkan atas perintah Nabi Muhammad Rasulullah saw sebagaimana tersebut di dalam Al-Hadits.

Segolongan orang-orang yang belum membaca banyak buku-buku agama, melainkan hanya pernah membaca satu atau dua buah saja, kalau tidak dapat memberi bukti-bukti dari Al-Qur’an dan Hadits tentang ketetapan bahwa sesudah Nabi Muhammad Rasulullah saw tidak ada Labi lagi, lalu berkata: “Ijma’  umat Islam berkata, bahwa sesudah Nabi Muhammad saw tidak ada Nabi lagi, siapa yang tidak percaya kepada ijma’, kafir, katanya. Sebenarnya mereka itu tidak tahu apa arti ijma’. Mereka hanya pernah mendengar perkataan “ijma”, tetapi mereka tidak tahu arti yang sebenar-benarnya.