GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Muhammad. Show all posts

Thursday, August 23, 2012

JEJAK RAHMAT ALI


Dari Negeri jauh engkau datang
Bebekal cinta dan kasih sayang
Engkau tinggalkan semua keduniawian
Demi untuk kekasih yang menawan

Tibalah di tujuan
Tantangan datang bagai hujan
Dengan nama Tuhan
Engkau melawan

Dari ujung Barat engka berpindah
Ke araah Timur engku berbenah
Menerangi hati setap insan
Memberi kabar dan memanggil dalam peraduan
Agar jaya nama Tuhan
Terpujilah Muhammad sang pujaan

Di sini engkau menorehkan cerita
Di sini engkau memahat suka dan duka
Aku yakin tidak sedikit kau teteskan air mata doa
Setiap butirnya terpenuhi oleh harapan Derma
Untuk kemajuan Negeri Indonesia

Semoga kami mampu meneruskan perjuangan mu
Semoga kami mampu mewujudkan yang belum terwujud
Aku tau kau telah selipkan doa untuk kami
Sehingga kami tetap tegar hingga saat ini
Mengais harap yang tak bertepi

Dari yang tak bertepi
Kami menjadi kuat, terlatih dan mandiri
Aku tak tau doa apa lagi yang kau mintakan hai Rahmat Ali
Sehingga Jemaat seperti sekarang ini

Medan, 24082012
M Sufi


Wednesday, February 22, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 3

Bukti Dari Buku-buku Sejarah Tentang Kedatangan Yesus ke Punjab dan Daerah Sekitarnya


Pertanyaan yang pasti mengemuka adalah mengapa Yesus setelah terlepasnya beliau dari salib lalu mengembara sampai ke negeri ini yang letaknya sangat jauh dan merupakan perjalanan amat panjang.  Hal ini perlu dijawab secara rinci dan meskipun sudah sedikit disinggung di atas, ada baiknya lebih diperjelas.

Perlu dipahami bahwa perjalanan tersebut merupakan kewajiban bagi beliau sebagai seorang nabi karena Yesus a.s. mengembara sampai ke Punjab dan daerah sekitarnya itu dalam rangka mencari sepuluh suku bangsa Israel yang dalam istilah Injil disebut sebagai Domba-domba yang hilang.  Mereka itu bermukim di negeri ini dan kenyataan itu diakui oleh para ahli sejarah.  Karena itu Yesus memang perlu datang ke negeri ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran samawi beliau.  Kalau beliau tidak melakukan perjalanan tersebut maka tujuan diutusnya beliau tidak akan terpenuhi karena sudah digariskan bahwa maksud kedatangannya adalah mencari dan mengajar Domba-domba Israel yang hilang.  Jika hal ini tidak dilaksanakan maka sama saja keadaannya dengan seseorang yang ditugasi rajanya untuk pergi ke daerah suku yang terpencil guna membuatkan sumur buat air minum mereka, tetapi yang bersangkutan membuang-buang waktu di tempat lain.

Bila ditanyakan bagaimana mungkin kesepuluh suku bangsa Israel itu berada di negeri ini, maka jawabannya adalah semua itu berdasarkan bukti-bukti kuat sehingga seorang bodoh pun tidak akan meragukannya.  Sudah luas diketahui orang kalau bangsa Afghan dan penduduk Kashmir berasal atau keturunan bangsa Israel.  Sebagai contoh, penduduk dari daerah Alai yang berbukit-bukit sejarak dua atau tiga hari perjalanan dari Hazara, selalu menyebut diri mereka Bani Israel dari sejak zaman purba. Begitu juga penduduk Kala Dakah yang juga merupakan daerah perbukitan, mereka ini bangga sebagai keturunan Israel.  Ada suku bangsa di Hazara sendiri yang menganggap mereka juga berasal dari Israel, sebagaimana penduduk daerah di antara Chalas dan Kabul. Dr. Bernier dalam bagian kedua dari bukunya Travels in the Mogul Empire (Lihat Apendiks) menyatakan berdasar penelitian beberapa cendekiawan Inggris bahwa penduduk Kashmir adalah keturunan bangsa Israel.  Pakaian, karakteristik tubuh dan adat kebiasaan mereka menunjuk kepada kenyataan bahwa mereka berasal dari keturunan Israel.

George Forster dalam bukunya Letters on a journey from Bengal to England (Lihat Apendiks), mengatakan saat ia berdiam di Kashmir ia merasa berada di tengah-tengah suku bangsa Israel. Dalam buku The Races of Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan H. W. Bellews C.S.I. dinyatakan kalau bangsa Afghan berasal dari Syria.  Raja Nebuchadnezar menawan mereka dan menempatkan mereka di Persia dan Media, dari mana mereka kemudian hijrah ke Timur dan bermukim di perbukitan Ghaur dekat Bamiyar dan mereka dikenal sebagai Bani Israel.  Sebagai bukti ialah nubuatan dari Nabi Idris (dalam Injil disebut Enoch) yang mengatakan bahwa kesepuluh suku bangsa Israel yang ditawan telah membebaskan diri mereka dan berlindung di daerah Arsartat, yang sekarang ini dikenal sebagai Hazara, dan sebagian di daerah bernama Ghaur.  Dalam buku Tabaqat-i-Nasri yang menceritakan tentang penaklukan Afghanistan oleh Genghiz Khan, dikatakan bahwa di masa dinasti Shabnisi ada sebuah suku bangsa yang disebut Bani Israel dan mereka adalah pedagang yang baik.  Dalam tahun 622 M. sekitar saat maklumat kenabian Rasulullah s.a.w., bangsa ini bermukim di daerah sebelah timur Herat.  Seorang pemuka suku Quraish bernama Khalid bin Walid bertabligh kepada mereka menyampaikan kabar kedatangan Rasulullah s.a.w. Ada lima atau enam kepala suku bangsa itu bergabung dengan Khalid bin Walid dimana di antaranya seorang bernama Qais yang paling terkemuka dan seorang lagi bernama Kish.  Setelah masuk Islam, bangsa ini berperang dengan gagah berani di bawah bendera Islam dan memperoleh banyak daerah penaklukan.  Rasulullah s.a.w. banyak memberikan hadiah kepada mereka, memberkati mereka dan menubuatkan bahwa mereka akan memperoleh kemashuran.  Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa kepala-kepala suku bangsa ini akan selalu dikenal sebagai Malik.  Adapun Qais beliau beri nama Abdul Rashid dan diberi gelar ‘Pathan.’  Para pengarang Afghanistan mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Syria yang berarti kemudi. Qais diberi gelar ‘kemudi’ itu karena ia yang mengendalikan suku bangsanya.  Sebelum kedatangan Khalid bin Walid, mereka itu konsisten menjalankan agama Yahudi.

Sulit memperkirakan kapan bangsa Afghan dari Ghaur itu lalu berpindah dan mukim di daerah sekitar Kandahar sampai sekarang.  Kemungkinan di abad pertama tarikh Islam. Bangsa Afghan mengemukakan bahwa Qais menikah dengan putri Khalid bin Walid dan mendapat tiga putra bernama Saraban, Patan dan Gurgasht.  Saraban mempunyai dua putra yang diberi nama Sacharj Yun serta Karsh Yun dan mereka ini yang menurunkan bangsa Afghan atau Bani Israel. Penduduk Asia Kecil dan sejarahwan Barat mengenai Muslim menyebut bangsa Afghan sebagai ‘Sulaimanis.’

Dalam The Cyclopaedia of India, Eastern and Southern Asia, volume 111, susunan E. Balfour, dinyatakan bangsa Yahudi tersebar di seluruh daerah Asia bagian tengah, selatan dan timur. Di masa lalu banyak dari bangsa ini yang bermukim di Cina dan mempunyai kuil di Yih Chu di distrik Shu. Dr. Joseph Wolff yang mengembara lama sekali dalam pencarian sepuluh suku bangsa Israel yang hilang, menyatakan bahwa jika bangsa Afghan adalah keturunan Yakub maka mereka itu berasal dari suku Yahuda dan Ben Yamin.  Laporan lainnya mengemukakan kalau orang-orang Yahudi itu dibuang ke Tartary dan mereka bisa ditemui dalam jumlah banyak di sekitar Bokhara, Merv (sekarang dekat Turkmenistan) dan Khiva (sekarang di Uzbekistan). Hasil riset Dr. George Moore menunjukkan bahwa suku bangsa Tartar yang bernama Chosan adalah keturunan Yahudi dan di antara mereka masih bisa ditemui sisa-sisa agama Yahudi seperti adat khitan.

Dalam penampilannya bangsa Afghan dalam segala hal mirip sekali dengan umat Yahudi. Mereka juga mempunyai adat dimana adik laki-laki yang lebih muda mengawini janda kakaknya. Seorang pengelana Perancis bernama L. P. Ferrier yang berkunjung ke Herat, menyatakan kalau di daerah tersebut ditemui banyak orang Yahudi yang bebas melaksanakan ritual agama mereka. Rabbi Bin Yamin dari Toledo (Spanyol) pada abad keduabelas pernah mengembara mencari suku-suku bangsa yang hilang itu.  Ia menyatakan bahwa umat Yahudi itu bermukim di Cina, Iran dan Tibet. Flavius Josephus (Lihat Apendiks),  yang mengarang buku sejarah umat Yahudi dari zaman purba, pada tahun 93 M. menulis dalam buku kesebelas tentang umat Yahudi yang bebas dari tawanan bersama nabi Ezra, menyatakan kalau mereka itu menetap di sebelah timur sungai Euphrat dimana jumlah mereka amat banyak sekali.  Yang dimaksud di luar Euphrat adalah daerah-daerah Persia dan negeri-negeri di timurnya.  Santo Jerome yang hidup di abad kelima saat menulis tentang nabi Hosea menyangkut pokok bahasan, menyatakan dalam catatan pinggirnya bahwa umat Yahudi sejak saat itu berada di bawah kendali raja Parthia yaitu Paras.  Pada jilid pertama dari buku itu dikemukakan kalau Count Juan Steram menyatakan bahwa raja Nebuchadnezar setelah penghancuran bait suci di Yerusalem telah membuang suku-suku bangsa itu ke daerah Bamiyan dekat Ghaur di Afghanistan.

Buku A Narative of a Visit to Ghazni, Kabul and Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan G. T. Vigne F.G.S. di halaman 164 menceritakan tentang seorang mullah bernama Khuda Dad membaca dari buku Majma-ul-Ansab bahwa putra tertua dari Yakub adalah Yehuda yang berputra Usrak; putra Usrak adalah Aknur; Aknur berputra Maalib yang menurunkan Ka-Farlai; putra Farlai adalah Qais yang selanjutnya berputra Talut; Talut berputra Armea yang menurunkan Afghan.  Keturunan Afghan yang berputra empatpuluh orang inilah yang kemudian menjadi bangsa Afghanistan.  Qais yang hidup di masa Rasulullah s.a.w. adalah keturunan ke 34 setelah 2000 tahun sejak masa Yakub.  Keturunannya berkembang menjadi 64 generasi.  Putra sulung Afghan yang bernama Salm kemudian bermigrasi dari tempat asalnya di Syria dan bermukim di Ghaur Mashkoh dekat Herat.

Dalam Encyclopaedia of Geography (Lihat Apendiks),  dari James Bryce F.G.S., London 1856, di halaman 11 dikatakan bahwa bangsa Afghanistan bisa merunut garis keturunan mereka sampai kepada Saul raja Israel dan menyebut diri mereka Bani Israel. Alexander Burns juga mengemukakan kalau bangsa Afghan mengaku sebagai umat Yahudi yang katanya ditawan oleh raja Babul dan ditempatkan di daerah Ghaur di barat laut Kabul dimana sampai tahun 622 M. mereka masih menjalankan ritual agama Yahudi, tetapi kemudian Khalid bin Abdullah (kekhilafan yang maksudnya Walid) menikah dengan putri kepala suku dan membawa mereka memeluk agama Islam dalam tahun itu.  Di buku History of Afghanistan (Lihat Apendiks),  dari G. R. Malleson, London 1878, di halaman 39 dikemukakan bahwa Abdullah Khan dari Herat, pengelana Perancis bernama Friar John dan Sir William Jones (seorang orientalis) sepakat kalau bangsa Afghan merupakan Bani Israel keturunan dari sepuluh suku bangsa yang hilang.  Begitu juga buku,  History of the Afghans (Lihat Apendiks), karangan  L. P. Ferrier dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. M. Jasse, London 1858, mencatat di halaman 1 kalau mayoritas sejarahwan timur sependapat bahwa bangsa Afghan adalah keturunan dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang sebagaimana pendapat bangsa itu sendiri.  Di halaman 4 buku itu diceritakan bahwa bangsa Afghan memiliki bukti berupa kitab Injil dalam bahasa Iberani dan beberapa artikel ritual agama yang diserahkan oleh suku bangsa Yusaf-Zai kepada raja Nadir Shah di Peshawar ketika yang bersangkutan sedang melakukan invasi ke India.  Di antara para pengikut Nadir Shah sendiri terdapat beberapa orang Yahudi yang langsung mengenali barang-barang itu. Di halaman 4 buku tersebut juga disampaikan opini pengarang yang menyatakan bahwa pandangan Abdullah Khan dari Herat itu dapat diyakini. Ringkasnya disampaikan garis keturunan yaitu Malik Talut (dalam Injil disebut Saul) berputra dua orang yaitu Afghan dan Jalut.  Afghan kemudian menjadi pemuka di antara bangsanya.  Setelah pemerintahan Daud dan Sulaiman (Solomon) terjadi perpecahan di antara bangsa Israel sehingga mereka berpisah sampai kedatangan raja Nebuchadnezar.  Raja ini membunuh 70.000 umat Yahudi dan menghancurkan kotanya serta menawan sisa Yahudi yang ada dan dibawa ke Babylon sebagai tawanan.  Setelah bencana itu keturunan Afghan melarikan diri dari Yudea ke Arabia dan tinggal disana untuk jangka waktu lama. Namun karena kekurangan air dan tanah yang dapat digarap, mereka kemudian bermigrasi ke India.  Sekelompok Abdalis tetap tinggal di Arabia dan di masa Khalifah Hazrat Abu Bakar, salah seorang kepala suku mereka mengikat tali perkawinan dengan Khalid bin Walid.  Ketika kemudian Iran jatuh di bawah kekuasaan Arabia, mereka kemudian bermukim di daerah Iran di sekitar Faras dan Kirman.  Mereka menetap di sana sampai datangnya penyerbuan Genghiz Khan.  Suku Abdalis ini tidak berdaya menghadapi kekejaman Genghiz Khan.  Mereka kemudian pergi ke India melalui Makran (sekarang Baluchistan), Sindh dan Multan.  Karena tetap tidak mendapatkan ketenteraman, mereka kemudian meneruskan ke Koh Sulaiman dan bermukim di sana.  Mereka semua terdiri dari 24 suku bangsa keturunan dari Afghan yang berputra tiga orang yaitu Saraband, Arkash (Gargasht) dan Karlan (Batan).  Masing-masing mereka berputra delapan yang kemudian berkembang menjadi 24 suku yang diberi nama sama dengan nama putra-putra itu.  Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putra
Saraband

Nama
suku

Putra
Gargasht

Nama
suku

Putra
Karlan

Nama
suku

Abdal
Babur
Wazir
Lohan
Barch
Khugiyan
Sharan
Abdali
Baburi
Waziri
Lohani
Barchi
Khugiyani
Sharani
Khilj
Kakar
Jamurin
Saturiyan
Peen
Kas
Takan
Nasar
Khilji
Kakari
Jamurini
Saturiyani
Peeni
Kasi
Takani
Nasri
Khatak
Afrid
Tur
Zaz
Bab
Banganes
Landipur
Khataki
Afridi
Turi
Zazi
Babi
Banganesi
Landipuri



Buku karangan Khwaja Nikmatullah dari Herat berjudul Makhzan-i-Afghan dari tahun 1018 H. di masa pemerintahan raja Jahangir, diterjemahkan oleh Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, London 1836, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Di bab 1 dikemukakan sejarah Yakub Israel sebagai nenek moyang awal bangsa Afghan.
Di bab 11 terdapat sejarah raja Talut yang menjadi garis awal keturunan bangsa Afghan.

Di halaman 22 dan 23 dinyatakan Talut berputra dua orang yaitu Barkhiya dan Armiyah. Barkhiya berputra Asaf dan Afghan, dimana Afghan berputra 24 orang. Di halaman 65 diungkapkan raja Nebuchadnezar menduduki seluruh Sham (Syria) dan membuang suku-suku bangsa Israel ke daerah Ghaur, Ghazni, Kabul, Kandahar dan Koh Firoz dimana keturunan Afghan dan Asaf kemudian bermukim.

Di halaman 37 dan 38 disampaikan kutipan dari Majma-ul-Ansab dan Tarikh Buzidah karangan Masaufi, bahwa di masa Rasulullah s.a.w. pemuka Khalid bin Walid telah mengajak bangsa Afghan yang berada di Ghaur untuk memeluk Islam. Kepala suku Afghan bernama Qais yang adalah keturunan ke 37 dari raja Talut telah datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau memberikan gelar ‘Pathan’ kepada kepala suku itu yang berarti kemudi kapal. Kemudian kepala suku itu kembali ke negerinya dan mulai menyiarkan Islam.

Di halaman 63 dikemukakan bahwa Farid-ud-Din Ahmad mengemukakan mengenai gelar Bani Afghanah atau Bani Afghan dalam bukunya berjudul Rasalah Ansab-i-Afghaniyah yaitu: setelah Nebuchadnezar menaklukkan bangsa Israel dan daerah Sham serta menghancurkan Yerusalem, ia menawan bangsa Yahudi dan mengangkut mereka sebagai hamba sahaya.  Ia memaksa mereka meninggalkan agama Musa dan menyembah dirinya sebagai pengganti Tuhan, yang ditolak oleh bangsa Yahudi tersebut. Akibatnya Nebuchadnezar menghukum mati sekitar dua ribu orang dan mengusir mereka keluar dari daerah kerajaan dan daerah Sham.  Sebagian dari mereka pergi ke perbukitan Ghaur dimana keturunan mereka menetap di sini dan diberi nama Bani Israel, Bani Asaf dan Bani Afghan. Di halaman 64 pengarang mengutip catatan dari Tarikh-i-Afghani dan Tarikh-i-Ghauri yang menegaskan kalau bangsa Afghan adalah Bani Israel dan sebagian mereka berasal dari Kopti (Mesir). Abdul Fazl menyatakan bahwa sebagian orang Afghan mengaku berasal dari Mesir yaitu dari mereka yang kembali ke Mesir dari Yerusalem, setelah mana mereka bermigrasi ke India. Farid-ud-Din Ahmad menjelaskan tentang nama ‘Afghan’ yaitu antara lain berasal dari kebiasaan mereka ‘meratap dan menangis’ (faghan) karena terkenang kampung halaman mereka. Sir John Malcolm juga berpendapat sama dalam bukunya History of Persia, volume 1, halaman 101.

Pada halaman 63 diberikan pernyataan Mahabat Khan: ‘Karena mereka adalah pengikut dan bertalian dengan nabi Sulaiman a.s. maka mereka oleh orang Arab dijuluki Sulaimanis.’ Halaman 65 mengemukakan bahwa semua semua riset oleh sejarahwan orientalis menunjukkan kalau bangsa Afghan menganggap diri mereka keturunan Yahudi. Beberapa sejarahwan masa kini juga berpandangan sama. Mengenai penggunaan nama-nama Yahudi oleh bangsa Afghan yang kemudian menganut Islam, tidak ada yang bisa mendukung pandangan penterjemah Bernhard Doran. Di bagian utara dan barat Punjab ada beberapa suku yang semula Hindu kemudian memeluk Islam tetapi nama-namanya bukan Yahudi, yang menunjukkan bahwa dengan menganut Islam mereka tidak harus tetap menggunakan nama Yahudi.  Penampilan phisik mereka sendiri amat mirip dengan bangsa Yahudi, hal mana diakui juga oleh para cendekiawan meskipun mereka tidak termasuk yang berpandangan bahwa orang Afghan berasal dari umat Yahudi. Mengenai hal itu Sir John Malcolm mengatakan:

Asal mula suku bangsa Afghan yang hidup di daerah pegunungan antara Khurasan dan Indus sudah ditelusuri oleh beberapa sejarahwan.  Beberapa menekankan jika mereka itu keturunan dari bangsa Yahudi yang ditawan oleh Nebuchadnezar dimana kepala-kepala sukunya merunut garis keturunan mereka sampai ke Daud dan Saul (Talut).  Walaupun pengakuan mereka itu diragukan namun penampilan phisik dan adat istiadat mereka berbeda dari bangsa Parsi, Tartar dan India sehingga ini mungkin membenarkan pengakuan mereka yang sebenarnya bertentangan dengan berbagai fakta kuat dan memang belum ada buktinya.  Kalau kemiripan ciri di antara dua bangsa bisa digunakan sebagai bukti maka bangsa Kashmir dengan ciri Yahudinya tentunya bisa dianggap sebagai keturunan Yahudi.  Hal itu tidak saja dikemukakan oleh Bernier tetapi juga oleh Forster dan mungkin beberapa cendekiawan lainnya.  Walaupun Forster tidak berpandangan sama dengan Bernier, namun ia mengakui jika ia berada di antara bangsa Kashmir, ia merasa seolah berada di antara umat Yahudi.’
 Mengenai nama ‘Kashmir’ ada penjelasan dalam buku Dictionary of Geography dari A. K. Johnston di halaman 250 di bawah judul CASHMERE yaitu:
Penduduk aslinya bertubuh tinggi, kekar dengan penampilan kelaki-lakian, wanitanya bertubuh penuh dan cantik dengan hidung mancung dan ciri-ciri yang mirip bangsa Yahudi.’

Dalam berkala Civil & Military Gazette bertanggal 23 November 1898 halaman 4 di bawah judul ‘Sawati and Afridi’ disampaikan sebuah makalah menarik dan penting ditujukan ke bagian Anthropology dari British Association pada sesi musim dingin di hadapan Komite Anthropoligical Research dalam salah satu pertemuan mereka belum lama ini.  Di bawah ini dikutipkan bagian naskah yang penting dari makalah tersebut.

Penduduk asli Paktan atau Pathan di gerbang barat dari India sudah dikenal lama dalam sejarah, banyak dari suku bangsa ini disebut oleh Herodotus dan para sejarahwan Alexander. Di abad menengah, daerah pegunungan liar dimana mereka berada disebut Roh dan penduduknya Rohillah dan tidak diragukan jika mereka ini sudah ada di sana jauh sebelum munculnya suku-suku bangsa Afghan.  Semua bangsa Afghan sekarang ini dianggap sebagai Pathan karena mereka menggunakan bahasa Pathan atau Pashtu.  Mereka tidak mengakui kekerabatan dengan yang lainnya karena mereka merasa mengaku sebagai Bani Israel yaitu keturunan dari bangsa yang ditawan dan dibawa ke Babylon oleh Nebuchadnezar.  Namun semuanya menggunakan bahasa Pashtu dan sama menghormati hukum adat yang disebut Paktanwali, yang berisi peraturan-peraturan mirip dengan ajaran hukum Musa dan adat kuno bangsa Rajput.’


JEJAK BANGSA ISRAEL
‘Dengan demikian bangsa Pathan yang kita bahas ini bisa dibagi dalam dua komunitas besar yaitu suku dan klan seperti Waziri, Afridi, Orakzais dan lain-lain yang merupakan keturunan India dan bangsa Afghan yang mengaku sebagai bangsa Semit (Ibrani) dan merupakan ras yang dominan sepanjang perbatasan.  Mungkin saja Paktanwali yang merupakan norma tidak tertulis tetapi dianut oleh mereka semua, merupakan campuran berbagai sumber.  Di dalamnya kita bisa menemukan peraturan-peraturan agama Musa yang diterapkan pada adat kebiasaan Rajput dan dimodifikasi oleh kebiasaan Islam.  Bangsa Afghan yang menyebut dirinya Durani sejak berdirinya kerajaan Durani sekitar satu setengah abad yang lalu, menyatakan bahwa mereka keturunan dari bangsa Israel melalui moyang mereka bernama Kish, yang oleh nabi Muhammad diberi nama Pathan (bahasa Syria untuk kemudi kapal) karena ia ditugaskan mengemudikan rakyatnya kepada arus agama Islam. Kami telah mengemukakan di atas kalau usia bangsa Pathan atau Paktan ini lebih tua dari Islam.  Umumnya penggunaan nama-nama Israel di antara bangsa Afghan mengharuskan kita mengakui adanya keterkaitan dengan bangsa Israel. Begitu juga adat mereka seperti perayaan Paskah (yang persis sama dengan ritual Yahudi) yang tetap dirayakan oleh mereka yang berpendidikan rendah tanpa mengetahui asal muasalnya.  Bellew berpendapat bahwa keterkaitan dengan bangsa Israel itu nyata adanya, namun ia juga mengingatkan bahwa sekurangnya satu dari tiga cabang garis keturunan Afghan yang menurut hikayat berasal dari keturunan Kish dengan nama Sarabaur.  Nama ini merupakan bentuk kuno dari bahasa Pashtu yang dikenakan kepada ras Rajput yang menganut kalender matahari (solar) ketika mereka bermigrasi ke Afghanistan setelah kekalahan mereka dalam perang melawan Chandraban penganut kalendar bulan (lunar) dalam perang besar Mahabarata dalam sejarah awal India.  Dengan demikian bangsa Afghan kemungkinan adalah bangsa Israel yang diserap ke dalam suku-suku bangsa Rajput kuno dan ini rasanya merupakan jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan mengenai asal muasal bangsa ini.  Hanya saja bangsa Afghan modern mempertahankan pendirian mereka bahwa berdasarkan tawarikh, mereka itu berasal dari ras terpilih keturunan Ibrahim dan mengakui kesamaan dengan Pathan lainnya berdasarkan kesamaan bahasa dan adat istiadat suku bangsa.’

Semua kutipan dari buku-buku para pengarang terkenal tersebut jika dirangkum akan meyakinkan seorang yang berfikir bahwa bangsa Afghan dan Kashmir yang berada di India, di daerah perbatasan dan daerah sekitarnya, adalah Bani Israel. Pada bagian kedua buku ini, Inshallah, aku akan memberikan rincian lebih jauh tentang tujuan utama perjalanan Yesus a.s. ke India yaitu melaksanakan tugas yang diterima beliau untuk mengajar semua suku bangsa Israel sebagaimana berulangkali dikemukakan beliau dalam Injil. Jadi sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh jika beliau memang datang ke India dan Kashmir. Malah akan aneh kalau tanpa melaksanakan tugas-tugas yang diembannya itu, beliau langsung naik ke langit.  Sekianlah dan aku tutup diskusi ini. Salam bagi mereka yang memperoleh petunjuk yang benar.

MIRZA GHULAM AHMAD
Al-Masih yang Dijanjikan

Tuesday, December 6, 2011

YESUS DI INDIA BAB 3 (10)


Adanya mata uang logam kuno memang telah membantu menjelaskan salah satu rahasia besar dalam sejarah, tetapi adanya sekian banyak naskah buku kuno yang dibaca berjuta orang dan digunakan sebagai buku pegangan di berbagai pusat pendidikan tinggi, tentunya jauh lebih meyakinkan lagi. Inskripsi pada mata uang logam masih mungkin dibantah orang dan dikatakan sebagai penipuan.  Adapun buku-buku ilmiah yang sejak dikarangnya sudah diketahui oleh berjuta manusia, dimana isinya dijaga oleh berbagai bangsa, tentunya lebih meyakinkan sebagai bukti dibanding mata uang logam.  Singkat kata, preparasi ‘Salep nabi Isa’ itu telah menjadi bukti kuat bagi para pencari kebenaran. Kalau bukti ini masih juga ditolak maka semua testimoni historikal harus dibuang juga, terlepas dari bahwa lebih dari seribu buku dan para pengarangnya yang menjelaskan tentang ‘Marham-i-Isa’ sudah diketahui oleh berjuta manusia. Orang yang tidak mau menerima bukti yang demikian jelas dan kuat tentunya termasuk orang yang menolak semua bukti sejarah. 

Bisakah orang seperti itu mengabaikan bukti yang demikian kuat? Bisakah kita meragukan pernyataan para pakar dan ahli filsafat dari golongan Yahudi, Kristen, Magi dan Muslim, yang sudah menyebar di Eropah dan Asia? Para peneliti yang berfikiran obyektif silakan memeriksa bukti ini. Apakah bukti ‘Matahari Kebenaran’ yang demikian jelasnya itu patut diabaikan? Rasanya absurd jika ada yang berpendapat bahwa obat itu disediakan bagi Yesus a.s. karena luka-luka yang diderita akibat jatuh dari genting misalnya, atau luka sebelum masa kenabiannya atau saat sedang melaksanakan penyiaran agama, dan bukan akibat dari penyaliban.  Pada saat sebelum masa kenabiannya beliau jelas tidak mempunyai murid-murid sedangkan pada uraian tentang ‘Salep nabi Isa’ itu dikemukakan adanya murid tersebut.  Dalam buku-buku itu masih digunakan istilah Shailikha yang merupakan kata dari bahasa Yunani.  Sebelum masa kenabian beliau, Yesus belum dianggap orang penting sehingga peristiwaperistiwa kehidupan beliau saat itu tidak ada yang mencatat.  Masa kenabian beliau hanya berlangsung selama tiga setengah tahun dan selama periode itu tidak ada yang menceritakan jika Yesus pernah mendapat luka, kecuali di akhir yaitu saat penyaliban. Kalau ada yang mengira bahwa Yesus menderita luka-luka akibat dari rudapaksa lainnya, silakan yang bersangkutan membuktikan. 

Aku sendiri memiliki naskah kuno al-Qanun dari Bu Ali Sina yang ditulis tangan dari masa itu. Karena itu sangat tidak adil kiranya mengabaikan bukti yang demikian transparant. Cobalah direnungkan secara mendalam karena buku-buku ini ada pada perpustakaan di Eropah dan Asia dari umat Yahudi, Magi, Kristen, Arab, Parsi, Yunani, Romawi disamping bangsa Jerman dan Perancis. Kalau buku-buku itu dikompilasi hanya oleh pengarang Muslim dan hanya ada di tangan para penganut agama Islam, bisa jadi ada yang bersicepat mengambil kesimpulan bahwa umat Muslim telah memalsu isinya untuk menyerang agama Kristen. Yang jelas umat Muslim tidak bisa dituduh telah melakukan pemalsuan tersebut karena mereka pun juga masih mempercayai kalau Yesus naik ke langit, sama seperti kepercayaan umat Kristiani. Malah kalau umat Muslim menganggap beliau tidak mengalami penyaliban sama sekali sehingga tidak perlu ada luka yang terjadi.  Jadi buat apa mereka memalsukan pernyataan yang bertentangan dengan pandangan mereka sendiri? Disamping itu, agama Islam belum muncul ketika buku-buku medikal tersebut sudah beredar dalam bahasa Latin dan Yunani di antara berjuta manusia. 

Kenyataan bahwa obat itu memang ada dikemukakan dalam bukubuku medikal lama terlepas dari agama yang dianut para pengarangnya, menunjukkan bahwa obat tersebut dikenal luas sehingga tidak ada komunitas atau bangsa yang membantahnya.  Namun benar juga kalau dikatakan bahwa fakta tersebut tidak terfikirkan untuk dimanfaatkan sampai setelah datangnya Al-Masih yang Dijanjikan, walaupun ratusan buku tersebut sudah dikenal berjuta manusia sejak lama.  Adalah Allah s.w.t. yang telah mengatur agar bukti terang untuk mengungkapkan kebenaran dan menghancurkan kepercayaan kepada Salib itu harus disampaikan oleh Al-Masih yang Dijanjikan, karena Rasulullah s.a.w. sudah menubuatkan bahwa kepercayaan kepada Salib tidak akan hilang dan kemajuan mereka tidak akan terhambat sampai datangnya Al-Masih yang Dijanjikan di muka bumi. 

Adalah Al-Masih yang Dijanjikan itulah yang akan ‘memecah salib.’  Yang tersirat dalam nubuatan itu ialah Tuhan di masa munculnya Al- Masih yang Dijanjikan, akan menimbulkan kondisi yang akan mendukung terbukanya semua kebenaran berkaitan dengan Penyaliban. Setelah itu baru akan datang akhir dari siklus kehidupan kredo Salib, tidak melalui perang atau kekerasan, tetapi melalui perantaraan bantuan samawi dalam bentuk penemuan dan argumentasi. Inilah inti pengertian dari Hadith sebagaimana disampaikan oleh Bukhari dan lain-lainnya. Karena itulah Tuhan tidak akan membukakan bukti-bukti yang meyakinkan itu sampai kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan. Itu jugalah yang telah terjadi.  Mulai saat munculnya Al-Masih yang Dijanjikan, mata manusia dan mereka yang berfikir akan terbuka, karena Al-Masih dari Tuhan itu sudah datang. Fikiran kiranya perlu diasah, hati seharusnya lebih memperhatikan, pena perlu digalakkan dan semuanya harus mengencangkan ikat pinggang, mereka yang saleh sekarang akan memahami dan semua orang berfikir akan mendapat penjelasan.  Apapun yang menerangi samawi akan menerangi duniawi juga.  Sebagaimana buah-buahan akan masak pada musimnya, begitu juga cahaya kebenaran akan turun pada waktunya, tidak ada yang bisa memaksanya turun sebelum waktunya dan tiada juga yang akan mampu menahan ketika sudah saatnya turun. 

Tentu akan muncul perbedaan pandangan dan kontroversi.  Namun diakhirnya, kebenaran harus menang, karena ini bukan rekayasa manusia tetapi dari Tuhan sendiri yang selama ini memberikan perubahan musim, mempergerakkan waktu dan merubah malam jadi siang dan siang jadi malam.  Dia memang menciptakan kegelapan tetapi Dia mencintai terang. Dia telah membiarkan ‘shirik’ (kepercayaan polytheisme) tumbuh di dunia, namun Dia lebih mencintai‘Tauhid’ (ke-Esaan Tuhan). Dia adalah pencemburu yang tidak akan berbagi Keagungan-Nya dengan siapa pun.  Sejak awal munculnya manusia sampai satu waktu nanti manusia semua musnah, hukum samawi selalu berdasarkan asas Ketauhidan atau Ke Esaan diri-Nya. Tujuan dari semua nabi yang diutus Tuhan adalah mengajarkan manusia untuk hanya menyembah satu Tuhan.  Apa yang mereka sampaikan kepada dunia adalah menanamkan kalimah ‘Tidak ada yang patut disembah selain Allah’ sehingga kalimah itu bersinar di muka bumi sebagaimana kalimah itu bersinar di langit.  Yang teragung dari antara mereka itu adalah ia yang telah menjadikan asas ini bersinar paling cemerlang. Ia yang membukakan kepalsuan dan membuktikan kekosongan dewa-dewa berdasarkan akal dan kekuatan. Setelah berhasil membuktikan semuanya, ia meninggalkan pesan kemenangannya dalam bentuk kalimah ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.’ Ia tidak mengemukakan kalimah ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ sebagai bualan kosong.  Ia telah memberikan bukti-bukti dan membuka kesalahan dari agama palsu serta mengajak umat manusia untuk menyaksikan bahwa tidak ada tuhan lain selain Allah. Ia telah mengalahkan semua kekuatan mereka dan menghancurkan kebanggan mereka dan ia mengajarkan bahwa ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.’




Monday, May 31, 2010

TERORIS & Al-FATIR : 43-46


  (Renungan terhadap penyerangan Dua Masjid Ahmadiyah Lahore Pakistan 28 Mei 2010)

Hari ini mata ini menjadi saksi kiyamat
Hari ini nafasku tersedat melihat hati suci terkulai layu
Para musafir zaman terlebih dahulu meninggalkan kami
Diri yang penuh dengan lupur kekurangan
Terhempas kebelakang batin ini mendengarnya

Udara gelap menghempaskan ke langit-langit qalbu
Membahana tak terkendali dalam dosa
Taringmu menggigit kuat iman kami
Cakarmu mencabik-cabik dada indahan Islam
Mencabik-cabik wajah menawan Mumammad
Kelak gigimu akan patah
Dan cakarmu akan koyak
Patah oleh kebodohan mu
Koyak oleh kesombongan mu

Mulutmu melafadzkan Kalam Tuhan
Pemahaman tak juga menghampiri pikiran
Matamu mengis memohon petunjuk
Hanya kebutaan dan kesesatan yang kalian dapat

Kesombonganlah yang telah menutup nurani kalian
Kesombongan yang pernah bercokol di diri Firaun
Yang harus kalian usir jauh dalam wujud kalian
Bukan malah memeluknya erat
Kalian merencanakan keburukan untuk saudara sendiri
Yang bernasib sama hidup di bumi
Hanya menunggu waktu Tuhan menegur tingkah bodoh mu
Teguran yang pernah di telan orang-orang sebelum mu
PASTI, TUHAN pasti akan datang untuk meminta pertanggung jawaban

Tak terajarkah kalian dengan laku orang-orang dulu
Orang-orang yang mencibir para Utusan
Utusan yang datang dengan kebenaran dan kepolosan
Kepolosan yang syarat dengan kasih sayang
Kasih sayang ibu terhadap anak-anaknya
Kejahilan kalian tidak akan dapat menyentuh arsy suci Tuhan
Sungguh kalian dalam keterpurukan

Ketahuilah, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan
Kekuatan mu, atau saudara mu atau kerabatmu atau mungkin kawan mu
Semua itu tidak berarti di mata Tuhan
Hanya sedikit rahmatnya Tuhan menangguhkan hukuman
Bila saatnya telah tiba, ku yakin semua itu ribuan kali lipan akan terasa menyakitkan
Sakit yang dengan Ridho-Nya kami mahrum darinya
Sakit yang hanya spesial dihadiahkan bagi kalian
Kalian WAHAI...penentang Utusan

Sufi, Medan 31 Mei 2010