GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Injil. Show all posts
Showing posts with label Injil. Show all posts

Tuesday, January 31, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 2

Bukti Dari Buku-Buku Agama Buddha
Bukti dari buku-buku agama Buddha Untuk dimaklumi, kitab-kitab agama Buddha telah memberikan berbagai pembuktian yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Yesus a.s. pasti pernah ke Punjab, Kashmir dan tempat-tempat lainnya.  Aku akan menyampaikan disini pembuktian tersebut agar mereka yang berfikir adil dapat mempelajari serta menyusunnya dalam runutan yang runtut sehingga mendapatkan kesimpulan yang sama.

Yang utama adalah kesamaan gelar-gelar yang disandang oleh Buddha maupun Yesus.  Begitu juga adanya kesamaan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan keduanya.  Yang dimaksud adalah agama Buddha yang terdapat di daerah-daerah di dalam ruang lingkup Tibet sepertiLeh, Lhasa, Gilgit, Hams dan lain-lain yang merupakan tempat-tempat yang terbukti pernah dikunjungi Yesus a.s.

Tentang kesamaan gelar, sebagai contoh jika Yesus dalam ajaran-ajarannya menyebut dirinya sebagai Terang Dunia, begitu juga Gautama digelari Buddha yang dalam bahasa Sansekerta berarti Terang (Sir M .M .W illiams, Buddhism, halaman 23).  Jika  Yesus dalam Injil disebut sebagai Guru, begitu juga Buddha disebut Sasta yang berarti Guru. Kalau Yesus dalam Injil disebut Yang Diberkati, Buddha pun disebut Sugt yang artinya Yang Diberkati.  Yesus dalam Injil juga dikatakan sebagai seorang yang memenuhi tujuan kedatangannya, Buddha pun digelari Sidharta yang berarti orang yang memenuhi tujuan diutusnya. Yesus juga disebut sebagai ‘tempat berlabuh yang letih dan lesu,’ sama dengan Buddha yang digelari Asarn Sarm yang artinya ‘tempat bagi para pelarian.’  Dalam Injil Yesus disebut sebagai Raja, yang diartikan sebagai Raja Kerajaan Sorga, begitu juga Buddha disebut sebagai Raja.

Juga ditemui kesamaan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan seperti penuturan tentang Yesus yang digoda oleh Iblis dengan janji kekayaan dan kerajaan dunia asal beliau mau menyembah Iblis itu, diceritakan bahwa Buddha juga digoda Setan yang menjanjikan kemegahan raja-raja kalau mau meninggalkan kepapaan kehidupannya dan kembali ke istana.Tetapi sebagaimana Yesus tidak mematuhi Iblis, dalam riwayat dikatakan Buddha juga menentangnya.  Lihat juga buku Buddhism oleh T. W. Rhys Davids, halaman 94, serta Buddhism karangan Sir M. M. Williams.  (Buku- buku lainnya adalah Chinese Buddhism karangan Edkins, Buddha karangan O ldenbergyang diterjemahkan oleh W .Hoey; serta Life of Buddha karangan R ickhill).

Jadi gelar-gelar yang disandang Yesus sebagaimana dikemukakan dalam Injil, ternyata juga disandang oleh Buddha dalam kitab-kitab agama Buddha yang sebenarnya disusun dan dikompilasi jauh setelah kodifikasi Injil.  Bedanya hanya kecil seperti peristiwa godaan Buddha oleh Setan lebih panjang dari cerita tentang godaan Yesus dalam Injil.  Menurut penuturan agama Buddha, ketika Setan menawarkan kekayaan dan kemegahan kerajaan, Buddha katanya pada awalnya terbujuk untuk pulang ke rumah, tetapi tidak diturutinya keinginan itu.  Setan lalu datang lagi pada suatu malam sambil membawa semua anaknya guna menakut-nakuti dengan penampilan yang menakutkan.  Setan itu berbentuk ular-ular yang menyemburkan api dan racun tetapi semburan racun itu berubah menjadi bunga sedangkan apinya menjadi lingkaran halo di sekeliling Buddha. Karena tidak berhasil, Setan lalu memanggil enambelas putrinya dan menyuruh mereka memperlihatkan kecantikan mereka kepada Buddha tetapi tetap tidak berhasil.   Setan itu menggunakan segala macam cara tetapi tidak dapat merubah Buddha yang bersiteguh.  Buddha sendiri terus meningkat tahapan spiritualitasnya, sampai akhirnya setelah melalui percobaan yang berat, Buddha bisa mengalahkan musuhnya si Setan.  Cahaya dari Pengetahuan yang Benar terbuka baginya bersama datangnya  fajar pagi dimana ia menjadi mengetahui segala hal.  Saat berakhirnya pergulatan itu dianggap sebagai hari lahir agama Buddha.  Gautama pada saat itu berusia 35 tahun dan sejak itu ia disebut Sang Terang, sedangkan pohon dimana ia duduk saat itu disebut Pohon Terang.  Jika kita buka Injil, kita akan menemukan persamaan godaan kepada Buddha dengan godaan kepada Yesus (Percobaan di padang gurun), bahkan sampai kepada usia mereka saat terjadinya peristiwa itu.  Dari kitab-kitab Buddha dikatakan bahwa Setan nampak kepada Buddha bukan dalam bentuk kasar.  Pemunculannya hanya sebagai tampakan dan bicaranya sebagai bisikan ilham.  Begitu juga kepercayaan umat Kristiani bahwa Iblis tidak muncul dan bicara kepada Yesus secara langsung dengan tubuh fisik.  Pertemuan itu hanya dalam bentuk tampakan yang hanya bisa dilihat Yesus saja, sedangkan bicara Iblis dalam bentuk ilham berupa bisikan jahat ke dalam hati, yang ditolak oleh Yesus.

Kiranya patut kita renungkan mengapa begitu banyak persamaan di antara Buddha dengan Yesus.  Kaum Arya mengatakan bahwa Yesus berkenalan dengan agama Buddha saat perjalanannya di India dan setelah menyerap semua ajaran itu, lalu menyusun Injil ketika kembali ke negeri asalnya di Palestina.  Mereka menganggap Yesus telah menyusun ajaran-ajaran moralnya dengan menjiplak ajaran Buddha, sampai kepada gelar-gelar yang disandang dan cerita tentang godaan Iblis.  Namun ini adalah karangan kaum Arya saja.  Tidak benar jika dikatakan Yesus datang ke India sebelum peristiwa Penyaliban.  Beliau tidak perlu melakukan perjalanan demikian pada saat itu, tetapi ketika umat Yahudi menyangkalnya dan menyalibkannya barulah timbul perlunya perjalanan tersebut.  Berkat rahmat Tuhanlah beliau telah selamat dari kematian di kayu salib.  Karena habis sudah simpati beliau serta perhatian untuk mengajar umat Yahudi akibat dari kedegilan dan kejahilan mereka yang tidak mau menerima kebenaran, Yesus setelah mendapat wahyu Tuhan tentang sepuluhsuku bangsa Israel yang  hilang yang telah pindah ke India maka beliau lalu memutuskan untuk berjalan ke negeri itu. 

Mengingat umat Yahudi di India itu sudah beralih ke agama Buddha maka terpaksalah nabi ini memusatkan perhatiannya kepada para penganut Buddha.  Pada saat itu para pendeta Buddha di negeri tersebut sedang menantikan kedatangan Buddha ‘Messiah’ (Yang Dijanjikan).  Karena itu gelar-gelar Yesus serta ajaran moral beliau seperti ‘kasihi musuhmu,’ serta nubuatan Gautama Buddha tentang kulit beliau yang putih maka para pendeta itu menganggap Yesus sebagai Buddha.   Kemungkinan beberapa atribut, fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, secara sadar atau tidak, telah diasimilasikan kepada Buddha, mengingat kemampuan umat Hindu dalam mencatat sejarah memang kurang begitu terampil dan tertata rapih.  Sejarah kehidupan Buddha tidak pernah ada catatannya sebelum masa Yesus.  Karena itu para pendeta Buddha memiliki kesempatan untuk melekatkan kepada Buddha apa saja yang ingin mereka kemukakan. Jadi kemungkinan setelah mereka mengetahui fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, mereka mencampurkan semua ini dengan berbagai hal karangan mereka sendiri dan menyatakannya sebagai bagian dari agama Buddha.  (Kita tidak akan m engatakan bahwa agama Buddha dari awalnya tidak mengandung ajaran-ajaran moral, yang aku maksudkan adalah bagian-bagian dari Injil seperti perumpamaan-perumpamaan dan ajaran lainnya, tidak ragu lagi ditambahkan ke dalam kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri India). Berikut aku akan membuktikan bahwa ajaran moral dari Injil seperti juga gelar Terang Dunia dan lain-lainnya, juga dicatat sebagai bagian dari kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri ini setelah peristiwa penyaliban.  Ada kesamaan lain di antara Buddha dan Yesus yaitu kitab agama Buddha menyatakan kalau Buddha sedang berpuasa selama empat puluh hari ketika digoda oleh Setan. Pembaca Injil bisa membaca bahwa Yesus pun saat itu sedang berpuasa empat puluh hari.  Demikian banyak persamaan dalam ajaran-ajaran moral di antara ke duanya itu sehingga bagi mereka yang mengenal kedua agama tersebut merupakan hal yang mengherankan. Sebagai contoh, jika Injil mengatakan ‘jangan kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, kasihilah musuhmu, hiduplah dalam kemiskinan, jauhi sombong, kepalsuan dan kerakusan’ maka hal yang sama juga terdapat dalam ajaran Buddha.  Bahkan ajaran Buddha lebih jauh lagi dengan memasukkan larangan membunuh walaupun hanya semut dan serangga karena dianggap sebagai dosa.  Pokok ajaran Buddha adalah‘kasih kepada seluruh dunia, mengejar kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dan semua hewan, pengembangan semangat persatuan dan kasih sesama.’ Begitu pula ajaran Injil.

Hal lainnya seperti sebagaimana Yesus mengirim murid-muridnya ke berbagai negeri, disamping beliau sendiri juga bepergian, dalam kitab Buddha pun terdapat hal serupa. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams mengemukakan bahwa Buddha mengutus murid-muridnya untuk mengajar dengan mengatakan kepada mereka:
Pergilah dan mengembaralah ke semua tempat demi kasih kepada dunia dan kesejahteraan dewa-dewa dan manusia.  Pergilah ke berbagai arah tujuan.  Ajarkan doktrin (Dharham) ini, pujaan (Kalayana) di awal, tengah dan di akhir, dalam semangat (Artha) dan dalam harfiah (Vyanjana).  Ajarkan cara hidup menahan diri dengan sempurna, tidak mengumbar nafsu dan selibat (Drahmacaryam). Aku sendiri juga akan pergi untuk menyampaikan ajaran ini’ (Mahavagga 1.11.1).  (Sir M .M .W illiams, Buddhism, John M urray, London, 1889, halaman 45)  Dikatakan Buddha pergi ke Benares (sekarang Vanarasi) dan melakukan berbagai mukjizat  di daerah itu.  Buddha menyampaikan khutbah impresif di atas bukit seperti juga yang dilakukan Yesus.

Kitab-kitab itu juga menyatakan jika Buddha biasa mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yaitu memberikan penjelasan masalah-masalah spiritual melalui analogi-analogi fisikal.  Kita mengetahui bahwa ajaran-ajaran moral itu dan cara pengajaran melalui perumpamaan-perumpamaan adalah metoda yang biasa digunakan Yesus a.s.  Semua ini beserta hal-hal lainnya cenderung mengindikasikan jika ajaran agama Buddha merupakan imitasi dari ajaran yang dibawa Yesus. Beliau pernah berada di India, pernah bepergian kemana-mana dan bertemu dengan para penganut agama Buddha. Mereka ini mengetahui kalau beliau itu seorang kudus yang memberikan mukjizat-mukjizat, lalu mencatat semuanya itu dalam kitab-kitab mereka dan mengatribusikannya kepada Buddha. Hal ini wajar saja karena sudah fitrat manusia untuk mengambil bagi dirinya apa-apa yang dirasanya baik dan bagus, termasuk mencatat dan mengingat ucapan-ucapan seseorang yang dianggapnya luar biasa.  Jadi kemungkinan besar para pengikut agama Buddha tersebut telah mereproduksi keseluruhan rangkuman Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri, termasuk mengenai puasa empat puluh hari, godaan Setan, kelahiran tanpa bapak, ajaran- (Ditto, halaman 94), ajaran moral, gelar Terang Dunia, penyebutan diri sebagai Guru dan pengikutnya sebagai murid.  Kalau dalam Injil Matius 10:8 - 9 dikatakan: ‘Jangan kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu’ begitu juga perintah Buddha kepada para muridnya. Sebagaimana Injil menyarankan hidup selibat, begitu juga ajaran Buddha.  Gempa bumi yang terjadi ketika penyaliban Yesus, juga dikatakan terjadi pada saat wafatnya Buddha.

Semua titik kesamaan dalam ajaran-ajaran keduanya hanya mungkin timbul karena kenyataan adanya kunjungan Yesus ke India yang merupakan berkah bagi para pengikut agama Buddha karena mereka bisa memperoleh ajaran-ajaran beliau yang mulia. Adanya ajaran-ajaran Yesus dalam kitab-kitab Buddha juga menunjukkan kalau Yesus a.s. pada waktu itu dihormati dan dianggap sebagai Buddha sendiri.  Sebenarnya merupakan suatu keajaiban bahwa baik Buddha mau pun Yesus biasa mengajar para murid mereka dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan seperti yang ada di Injil.  Dalam salah satu perumpamaan yang mirip sekali dengan Injil itu, Buddha mengatakan:
Sebagaimana petani yang menyemai benih tidak dapat mengatakan bahwa biji ini akan membesar hari ini dan bertunas besok, begitu juga para murid; ia harus mengikuti ketentuan, melakukan meditasi, mempelajari ajaran; ia tidak akan bisa mengatakan bahwa hari ini atau besok aku akan diserahkan.’ (Ditto, halaman 51.12).   Perumpamaan lain yang diberikan Buddha adalah: ‘Sebagaimana sekelompok rusa yang hidup di hutan dan datang seorang manusia yang membukakan jalan yang salah maka rusa itu akan menderita; tetapi jika datang seseorang yang membukakan jalan yang aman maka rusa itu akan berbahagia.

Begitu juga orang-orang yang hidup mencari kenikmatan akan datang yang jahat untuk membukakan pintu delapan jejak yang salah . . . (Buddha, His Life, His Doctrine, Order; Hermann Oldenberg, halaman 191- 192).

Buddha juga mengajarkan: ‘Kesalehan adalah harta yang aman yang tidak akan bisa dicuri orang. Ini adalah harta yang menemani orang setelah kematiannya, ini adalah harta yang menjadi sumber semua pengetahuan dan kesempurnaan.’  Kita mengetahui bahwa ajaran Injil juga sama.  Naskah-naskah Buddha mengenai ajaran-ajaran ini berasal dari periode tidak berbeda jauh dengan periode kehidupan Yesus, bahkan mungkin sama periodenya. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams di halaman 45 mengemukakan: ‘Ajaran moral agama Buddha amat mirip dengan ajaran agama Kristen.’ Aku sependapat dan aku mengakui bahwa keduanya sama berkata:‘Jangan mencintai dunia, tidak juga kekayaan; jangan membenci musuhmu; jangan melakukan kejahatan; taklukkan kejahatan dengan kebaikan; lakukan kepada orang lain sebagaimana engkau ingin mereka memperlakukan kamu’ semuanya itu menunjukkan kemiripan yang luar biasa di antara Injil dan ajaran Buddha, sehingga rasanya tidak perlu disebutkan lebih banyak lagi rincian lain.

Naskah-naskah agama Buddha juga mengemukakan kalau Gautama Buddha pernah menubuatkan kedatangan Buddha yang kedua yang diberi nama Metteya.  Ramalan ini dimuat dalam kitab Laggawati Sutatta yang dikemukakan oleh Oldenberg (Dr. H ermann 1 .Oldenberg ,Buddha) dalam bukunya pada halaman 142 dan berbunyi:
Ia akan menjadi pimpinan dari para pengikut yang berjumlah ratusan ribu sebagaimana aku ini sekarang menjadi pemimpin dari para pengikut yang berjumlah ratusan.’

Untuk diketahui bahwa perkataan Masiha dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan Metteyya dalam bahasa Pali. Umum diketahui jika suatu kata diterjemahkan ke bahasa lain seringkali mengalami perubahan.

Sama dengan perkataan dari bahasa Inggris jika dialihkan ke bahasa lain juga sering mengalami perubahan. Contohnya, Max Muller dalam bukunya Sacred Books of the East, jilid 11, halaman 318, mengatakan bahwa kata ‘th’ dalam alfabet Inggris berubah menjadi ‘s’ dalam alphabet Arab atau Parsi.  Karena itu kita bisa memahami jika kata Messiah berubah menjadi Metteyya dalam bahasa Pali, yang berarti bahwa Metteyya yang akan datang menurut ramalan Buddha itu tidak lain adalah Messiah sendiri, tidak ada yang lainnya.

Temuan itu mendukung fakta tentang nubuatan Buddha yang menyatakan bahwa di dunia ini ajarannya tidak akan berumur lebih dari lima ratus tahun dimana pada saat kemunduran ajaran maupun para pengikutnya akan datang satu sosok Metteyya ke negeri itu yang akan menghidupkan ajaran itu kembali.  Kita tahu bahwa Yesus datang lima ratus tahun setelah Buddha dan pada saat itu sejalan dengan nubuatan Buddha, agama Buddha sedang menurun pamornya.  Setelah kelepasan dari penyaliban, Yesus datang ke negeri ini dan umat Buddha mengakui dan memperlakukan beliau dengan sangat hormat.  Tidak diragukan lagi jika ajaran moral dan spiritual sebagaimana disampaikan oleh Buddha telah dihidupkan kembali melalui kemunculan Yesus.

Umat Kristiani mengakui bahwa Khutbah di Bukit dan berbagai ajaran-ajaran moral yang ada di Injil adalah sama dengan yang dikhutbahkan Buddha kepada dunia lima ratus tahun sebelumnya.   Mereka ini juga menyatakan bahwa Buddha tidak saja menyampaikan doktrin-doktrin moral tetapi juga berbagai kebenaran lainnya.  Dalam pandangan mereka, gelar Terang Asia yang diterapkan pada Buddha adalah tepat sekali.  Sejalan dengan nubuatan Buddha, Yesus muncul lima ratus tahun kemudian dan sebagaimana diakui para cendekiawan Kristiani, ajaran beliau identik dengan ajaran-ajaran Buddha.  Bisa disimpulkan disini bahwa Yesus datang atau muncul dalam ‘bayangan’Buddha.  Dalam buku Oldenberg yang mengutip kitab Laggawati

Sutatta mengatakan bahwa penganut agama Buddha dalam melihat ke masa depan, mereka menghibur diri dengan pemikiran bahwa sebagai pengikut Metteyya mereka akan memperoleh keselamatan karena dalam nubuatan mengenai Metteyya disiratkan agar para penganut tersebut harus menemukannya. Pernyataan kitab itu menguatkan keyakinan bahwa sebagai petunjuk kepada mereka, Tuhan telah menciptakan dua kerangka kondisi, pertama, sejalan dengan gelar Asaf (Dalam Perjanjian Lama ada 29 kali disebut nama Asaf, antara lain dalam 1 Tawarikh 16:5),  sebagaimana disinggung dalam Perjanjian Lama yang artinya ‘dia yang menghimpun orang’ pasti Yesus telah berkunjung ke negeri dimana umat Yahudi yang terbuang itu bermukim; kedua, sejalan dengan nubuatan Buddha maka pasti para pengikut agama ini telah bertemu Yesus dan menimba ilmu spiritual dari beliau.  Memperhatikan kedua kondisi ini, dapat dipastikan kalau Yesus memang pernah berkunjung ke Tibet.  Melihat kenyataan demikian banyaknya pengaruh ajaran dan ritual agama Kristiani pada agama Buddha, menyimpulkan bahwa Yesus pernah berkunjung ke negeri mereka.  Malah kedatangan beliau itu disambut hangat karena sudah dinubuatkan sebelumnya.

Untuk dicatat, kata ‘Metteyya’ yang sering muncul dalam kitab-kitab agama Buddha pasti berarti sama dengan ‘Messiah.’ Dalam buku Tibet, Tartary, Mongolia karangan H. T. Prinsep di halaman 14 tentang Metteyya Buddha dikemukakan bahwa misionaris awal dari agama Kristen setelah melihat dan mendengar kondisi di Tibet, menyimpulkan kalau di dalam kitab-kitab lama para Lama ditemui jejak-jejak ajaran Kristen.  Di halaman yang sama juga dinyatakan bahwa para misionaris itu meyakini kalau para murid Yesus masih hidup ketika ajaran Kristen mencapai tempat tersebut.  Di halaman 171 dikatakan tidak ada keraguan kalau saat itu umum dipercaya orang akan datangnya seorang Juru Selamat (menurut Tacitus hanya orang Yahudi yang meyakini hal itu) sebagaimana diramalkan sebagai kedatangan Metteyya.  Pengarang buku ini mengemukakan dalam catatan pinggirnya tentang kitab-kitab Pitakkatayan dan Atha Kathayang berisi ramalan kedatangan Buddha yang lain seribu tahun setelah masa Sakya Muni Gautama. Gautama sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah Buddha yang ke 25 dan masih akan datang seorang ‘Bagwa Metteyya’ yang berkulit putih.  Pengarang itu juga menyatakan kemiripan kata Metteyya dengan Messiah.  Gautama Buddha sendiri menubuatkan kemunculan seorang Messiah di negerinya, di antara umatnya dan di tengah para pengikutnya.  Buddha dalam nubuatannya itu menyebut ‘Bagwa Metteyya’ karena kata Bagwa dalam bahasa Sanskerta berarti ‘putih’ dimana Yesus yang asli berasal dari daerah Syria juga berkulit putih.

Penduduk dari negeri tempat nubuatan yaitu bangsa Magadh yang ada di daerah Bajagriha pada umumnya berkulit hitam dan Gautama Buddha sendiri berkulit hitam.  Ia menyampaikan kepada para pengikutnya tentang dua tanda jelas mengenai Buddha yang akan datang yaitu (1) ia akan ‘Bagwa’ atau berkulit putih dan (2) ia adalah ‘Metteyya’ yang berarti pengelana yang datang dari negeri jauh.  Karena itu umat Buddha selalu memperhatikan tanda-tanda tersebut sampai mereka kemudian bertemu Yesus a.s.  Semua umat Buddha saat itu tentunya meyakini bahwa lima ratus tahun setelah Buddha memang telah datang Bagwa Metteyya di negeri mereka.  Jadi tidaklah mengherankan kalau kitab-kitab Buddha kemudian mencatat kedatangan Metteyya atau Masiha ke negeri mereka sebagai pemenuhan nubuatan tersebut.   Kalau saja nubuatan itu tidak terpenuhi pada saat yang sudah ditentukan sebagaimana janji Gautama Buddha maka keimanan para pengikut agama ini tentunya akan terganggu.

Argumentasi lain yang mendukung pemenuhan nubuatan itu adalah naskah-naskah kuno di Tibet dari abad ke tujuh Masehi yang menyinggung nama Messiah yaitu penyebutan nama Yesus a.s. sebagai Mi-Shi-Hu.  Yang menyusun kompilasi naskah tersebut adalah seorang penganut agama Buddha.  Lihat buku A Record of the Buddhist Religion karangan I Tsing, dan diterjemahkan oleh G. Takakusu, seorang Jepang dan diterbitkan oleh Clarendon Press, Oxford.  Adapun I Tsing adalah seorang pengelana Cina.  Dalam apendiks buku itu,


Takakusu menyatakan bahwa dalam naskah-naskah kuno tersebut terdapat nama Mi-Shi-Hu (Lihat halaman 169 dan 223 dari buku I Tsing.)  (Masih).  Jadi dalam buku itu disebut nama Masih yang jelas bukan jiplakan penganut Buddha dari luar, tetapi diambil dari nubuatan Buddha yang kadang ditulis sebagai Masih atau juga Bagwa Metteyya.

Kesaksian lain dari kitab-kitab agama Buddha sebagaimana diutarakan oleh Sir M. Williams dalam bukunya Buddhism halaman 45, diceritakan tentang murid Buddha yang keenam yang bernama ‘Yasa.’  Kata ini rupanya bentuk lain dari ‘Yasu.’  Karena Yesus a.s. muncul lima ratus tahun setelah Gautama Buddha yaitu di abad ke enam, maka beliau disebut sebagai murid ke enam.  Profesor Max Muller dalam berkala The Nineteenth Century dari Oktober 1894 halaman 517, mendukung pandangan itu dengan mengatakan bahwa sejak lama banyak pengarang telah mengatakan adanya pengaruh agama Buddha dalam ajaran Yesus sehingga mereka sedang berusaha mencari dasar historikal bagaimana ajaran Buddha tersebut sampai ke Palestina di zamannya Yesus. Pernyataan seperti itu tentunya mendukung kitab-kitab Buddha yang menyatakan Yasa sebagai murid Buddha karena Profesor Max Muller yang diakui kecendekiawanannya pun mengakui adanya pengaruh agama Buddha pada ajaran Yesus sehingga mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah pengikut Buddha.
Aku sendiri tidak sependapat dengan pandangan demikian karena hal itu sama saja dengan merendahkan martabat Yesus a.s.  Pernyataan dalam kitab-kitab kuno mengenai Yasu sebagai murid Buddha hanyalah contoh dari kebiasaan para pendeta agama ini untuk menyebut seorang mulia yang muncul kemudian sebagai murid dari dia yang muncul sebelumnya. Mengenai banyaknya persamaan ajaran Buddha dengan agama Kristen, aku tidak sependapat dengan para peneliti Eropah yang mencoba-coba mencari pembuktian bahwa ajaran Buddha telah sampai ke Palestina di zamannya Yesus.  Mengapa mereka harus mencari jejak-jejak Buddha dengan cara menapak mundur demikian.  Mengapa mereka tidak mencari jejak-jejak suci Yesus di bumi berbatu Nepal, Tibet dan Kashmir?  Aku yakin para peneliti itu tidak akan menemukan apa yang mereka cari di balik seribu cadar kegelapan.  Ini adalah kerja Tuhan yang melihat dari langit betapa umat manusia yang menyembah seorang manusia lainnya telah melampaui batas dan menyebar ke seluruh dunia, dimana penyembahan Salib dan apa yang dianggap sebagai pengorbanan seorang manusia telah menjauhkan hati berjuta manusia dari Tuhan yang sebenarnya.  Kecemburuan Tuhan telah mengutus seorang hamba-Nya mewakili Yesus dari Nazaret guna memecah salib.  Sejalan dengan nubuatan lama, sosok ini muncul sebagai Al-Masih yang Dijanjikan.  Mulai saat itu tibalah waktunya untuk memecah salib yaitu menelanjangi kesalahan penyembahan Salib sama seperti mematahkan dua keping kayu.  Pemikiran bahwa Yesus naik ke langit meski pun salah, sebenarnya juga merupakan tamsil dari telah lapuknya realitas Messiah sebagaimana jasad mati yang dimakan tanah, dengan keyakinan adanya realitas Messiah yang dipercaya hidup di langit dengan jasad kasar berbentuk manusia.  Dengan demikian merupakan keniscayaan kalau Realitas ini harus turun ke dunia di akhir zaman.  Hal itu sudah terjadi dalam abad ini dalam bentuk seorang manusia.  Ia telah memecahkan Salib serta kesesatan penyembahan kepalsuan yang oleh Rasulullah s.a.w.  dalam hadits mengenai salib itu dipersamakan juga dengan babi yang dibunuh bersamaan dengan pemecahan Salib tersebut.  Tidak berarti hadits itu mengatakan bahwa Al-Masih yang dijanjikan akan membunuh para kafir dan menghancurkan salib-salib.  Pengertian dari memecah Salib adalah Tuhan yang berkuasa dilangit dan bumi ini akan mengungkapkan Realitas tersembunyi yang seketika akan menghancurkan keseluruhan struktur kredo Salib.  Membunuh babi tidak berarti secara harfiah menikam babi-babi tetapi lebih berarti sebagai membunuh sifat-sifat serupa babi seperti kedegilan dalam kepalsuan dan mengajak yang lain agar mengikuti dirinya menyantap sampah.

Para ulama Muslim telah keliru menafsirkan nubuatan tersebut. Di masa Al-Masih yang dijanjikan, perang keagamaan akan dihentikan.

Tuhan akan membukakan kebenaran sedemikian rupa agar setiap orang akan mampu melihat kemilau kebenaran dibanding kepalsuan.  Jangan pernah menganggap bahwa aku datang dengan menghunus pedang.  Sama sekali tidak, aku datang justru untuk menyarungkan kembali pedang-pedang.  Dunia ini sudah terlalu lama berkelahi di dalam kegelapan.  Banyak sudah manusia berniat baik yang diserang atau terluka oleh teman-temannya sendiri.  Sekarang ini kegelapan mulai sirna.  Malam telah berlalu dan fajar telah tiba.  Beberkatlah mereka yang menerima.  Bukti lain yang berasal dari kitab-kitab agama Buddha adalah catatan yang dikemukakan dalam halaman 419 dalam buku Buddhism karangan Oldenberg.  Dalam buku ini yang mengutip kitab agama itu bernama Mahawaga halaman 54 bagian 1 dikemukakan bahwa pewaris Buddha adalah seseorang yang bernama ‘Rahula’ yang sebenarnya merupakan perubahan bentuk dari ‘Ruhullah’ yaitu salah satu gelar Yesus a.s. Menurut kisahnya, Rahula ini adalah putra Buddha yang ditinggalkannya ketika ia mengasingkan diri dengan niatan berpisah selamanya dari isterinya.  Menurut cerita itu Buddha meninggalkan isteri dan anaknya tanpa perpisahan atau penjelasan ketika mereka sedang tidur dan pergi ke negeri lain.  Kisah demikian itu sama sekali absurd, tidak masuk akal dan menghina keagungan Buddha.  Apakah mungkin sosok seperti Buddha melupakan sama sekali tugasnya sebagai suami, tanpa menceraikan isterinya, tidak juga berpamitan untuk pergi dalam perjalanan tanpa akhir, menyakiti hati isterinya tanpa menyurati, tidak ada kasihnya kepada seorang bayi kecil dan membiarkan putranya tumbuh dewasa sendiri.  Orang yang tidak berperikemanusiaan yang mengabaikan isteri dan meninggalkannya tanpa pamit serta menghilang sebagai pencuri dan melupakan tugasnya sebagai suami seperti itu tentunya juga tidak bisa menghormati nilai-nilai moral yang ditanamkannya sendiri.  Naluriku menolak menerima hal itu sebagaimana juga aku menolak cerita dalam Injil tentang Yesus yang katanya menghardik ibunya ketika ibu ini mendekat memanggil namanya.  Jadi walaupun dongeng-dongeng tentang melukai perasaan seorangisteri dan seorang ibu seperti itu ada kemiripannya,  namun kita tidak bisa menerimanya karena jauh sekali dari standar karakter wujud sosok manusia seperti Yesus dan Gautama Buddha.  Kalau Buddha katakanlah tidak mencintai isterinya, apakah mungkin ia tidak memiliki belas kasihan kepada seorang wanita malang bersama putranya yang menderita? Hal seperti itu hanya menunjukkan kedangkalan karakter Buddha yang memedihkan hati meskipun terjadinya sudah beratus tahun yang lampau.  Hanya seorang lelaki jahat yang akan mengabaikan isterinya seperti itu, kecuali jika si isteri itu memang berakhlak buruk, tidak setia, membangkang dan galak terhadap suaminya. Dengan demikian tidak mungkin karakter demikian itu kita sematkan pada diri Buddha karena bertentangan sama sekali dengan ajarannya sendiri.  Jadi jelas kalau cerita seperti itu salah semata.

Kata ‘Rahula’ atau ‘Rhaula’ berasal dari bahasa Iberani ‘Ruhullah.’Mengenai keterkaitan ‘Rahula’ dengan Yesus, sebagaimana dijelaskan di muka adalah karena Yesus datang setelah Buddha, karena adanya kemiripan ajaran Yesus dengan agama Buddha, serta pernyataan umat Buddha bahwa ajaran itu berasal dari Buddha dan karena anggapan bahwa Yesus adalah salah seorang murid Buddha. Sebenarnya bukanlah suatu hal yang ajaib jika Buddha berdasarkan wahyu yang diterimanya, menganggap Yesus sebagai putranya.  Yang menarik juga adalah kisah lain dalam buku yang sama tentang ‘Rahula’ yang kemudian katanya terpisah dari ibunya lalu dibantu seorang pesuruh wanita bernama Magdaliyana.  Kita bisa melihat kemiripan dengan nama Magdalena yaitu salah seorang pengikut Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil.

Semua bukti tersebut kiranya cukup bagi seorang yang berfikir bahwa Yesus pasti pernah berkunjung ke negeri ini.  Kita tidak bisa mengabaikan demikian banyak persamaan ajaran dan ritual di antara agama Buddha dan Kristen. Demikian banyaknya persamaan tersebut mengakibatkan kebanyakan pemikir Kristiani menganggap agama Buddha sebagai agama Kristen di Timur, sedangkan agama Kristen sebagai agama Buddha di Barat.  Memang aneh jika kita perhatikan dimana Yesus mengatakan ‘Akulah Terang Dunia dan Jalan’ begitu juga kata Buddha; kalau Injil menyebut Yesus sebagai Juru Selamat, Buddha pun menyebut dirinya Juru Selamat (lihat Lalta Wasatarra).

Dalam Injil dikemukakan Yesus tidak mempunyai bapak, begitu juga Buddha dikatakan lahir tanpa bapak, walaupun tercatat juga bahwa Yesus mempunyai bapak bernama Yusuf, begitu pula Buddha. Ada juga kisah yang mengatakan terbitnya sebuah bintang saat kelahiran Buddha.  (Yang juga mirip adalah cerita kedatangan malaikat kepada ibunda Yesus dan Buddha menyampaikan kabar akan kelahiran seorang putra agung).  Juga kisah tentang Sulaiman yang memerintahkan seorang anak dipotong dua di antara dua orang ibu yang memperebutkannya, terdapat pula kisah yang sama dalam kitab agama Buddha bernama Jataka.  Semua itu selain membuktikan bahwa Yesus pernah datang ke negeri ini, juga menjelaskan seberapa jauh perhubungan umat Yahudi yang bermukim di negeri tersebut dengan penduduk aslinya.  Kisah mula terciptanya dunia dalam kitab-kitab Buddha sangat mirip dengan cerita yang diberikan oleh Taurat.  Sebagaimana seorang lelaki dianggap lebih superior dari wanita, begitu pula dalam agama Buddha yang lebih meninggikan biarawan dibanding biarawati.  Walaupun agama Buddha meyakini transmigrasi jiwa namun pandangannya tidak bertentangan dengan ajaran Injil.  Menurut agama Buddha, transmigrasi jiwa bisa berbentuk tiga macam yaitu (1) karakteristik seorang yang mati berpindah ke tubuh orang lain, (2) jenis transmigrasi yang diyakini orang Tibet terjadi di antara para Lama dimana semangat, cara-cara dan kekuasan seeorang Buddha atau Bodhi Satwa beralih dan mengaktifkan ke Lama yang ada, (3) bahwa dalam kehidupan ini sendiri seseorang mengalami beberapa peralihan misalnya dari periode yang bersangkutan sebagai seekor banteng, lalu berubah menjadi anjing, semuanya dalam bentuk sikap dan tindakan yang berubah dengan berjalannya waktu.  Kredo ini tidak bertentangan dengan ajaran dari Injil.

Aku telah mengemukakan di atas bahwa Buddha juga meyakini eksistensi dari Iblis, sehingga dengan demikian juga percaya akan adanya akhirat, malaikat-malaikat serta Hari Penghisaban.  Tidak benar jika ada yang mengatakan Buddha tidak meyakini adanya Tuhan.  Yang benar adalah Buddha tidak mempercayai dewa-dewa dalam bentuk berhala dan kitab Veda umat Hindu.  Ia amat mencela kitab Veda dan tidak meyakini kebenaran dari kitab-kitab yang ada.   Masa kehidupan ketika ia masih sebagai seorang Hindu dan sebagai penganut Veda dianggapnya sebagai periode kelahiran yang buruk.  Sebagai contoh, Buddha menggambarkan periode-periode kehidupannya berturut-turut sebagai kera, lalu sebagai gajah, kemudian rusa, lalu anjing, empat kali sebagai ular, setelah sebagai burung pipit, terus sebagai katak, dua kali sebagai ikan, sepuluh kali sebagai harimau, empat kali sebagai unggas, dua kali sebagai babi dan sekali sebagai kelinci.  Ketika sedang periode kelinci, ia mengajar para kera, serigala, lingsang dan saat sedang menjadi roh, mengajar seorang wanita, seorang penari dan Iblis sendiri.  Semua itu mensiratkan phasa-phasa kehidupan ketika sedang sebagai pengecut, seorang yang berperangai sebagai wanita, saat sedang kejam, rakus dan saat percaya ketahayulan.  Rupanya phasa-phasa itu menggambarkan periode ketika masih menjadi penganut Veda,  karena setelah memperoleh pencerahan tidak ada lagi tersisa kehidupan jahat dalam dirinya.  Bahkan ia memaklumkan bahwa dirinya menjadi manifestasi dari Tuhan dan telah mencapai Nirvana.  Buddha juga menyatakan jika manusia meninggalkan dunia ini membawa kelakuan buruk maka ia akan dilemparkan ke neraka dimana penjaga neraka akan menyeretnya ke depan Raja Neraka yang bernama Yamah.  Orang malang itu akan ditanyai apakah ia tidak melihat Lima Suruhan yang telah dikirimkan untuk mengingatkannya yaitu Masa Kanak-kanak, Masa Tua, Penyakit, Hukuman di dunia sebagai bayangan hukumannya di akhirat serta Mayat yang menggambarkan kefanaan alam.  Jika si pendosa menjawab bahwa ia tidak melihat semua tanda itu maka penjaga neraka akan menyeretnya ke tempat hukuman dimana ia akan dirantai dengan besi yang merah membara.  Selain itu Buddha menyatakan kalau neraka itu terbagi dalam beberapa daerah sesuai berbagai kategori para pendosa.  Singkat kata, semua ajaran tersebut berkat pengaruh pribadi Yesus a.s.

Adanya nubuatan yang jelas dalam kitab-kitab Buddha tentang kedatangan Yesus ke negeri tersebut, banyaknya persamaan dalam ajaran dan perumpamaan-perumpamaan Injil dalam kitab agama Buddha yang disusun di masa kehidupan Yesus, semuanya memastikan bahwa Yesus benar pernah berkunjung ke negeri ini.

Tuesday, December 6, 2011

YESUS DI INDIA BAB 3 (9)


BAB 3

Pembuktian dari buku-buku medical Salah satu bukti mengenai kelepasan Yesus a.s. dari kematian di atas kayu salib adalah preparasi medikal yang disebut ‘Marham-i-Isa’ atau ‘Salep nabi Isa’ yang tercatat dalam beratus buku-buku medikal kuno.  Sebagian dari buku itu merupakan hasil kompilasi orang Kristen, ada juga yang dari bangsa Magi atau Yahudi dan sebagian oleh Muslim.  Sebagian besar adalah buku-buku yang sudah tua sekali.  Dari penelitian diketahui bahwa resep pembuatannya semula berdasarkan riwayat lisan dari ratusan ribu orang yang kemudian dicatat dalam naskah. Di awalnya pada saat tak lama setelah Penyaliban, ada naskah farmasetikal dalam bahasa Latin yang menguraikan cara pembuatan berikut penjelasan bahwa preparasi tersebut dibuat untuk mengobati luka-luka Yesus. Naskah ini kemudian diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan pada saat pemerintahan Mamun al-Rashid, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.  Rupanya sudah diatur oleh Tuhan bahwa para tabib terkenal dari berbagai agama seperti Kristen, Yahudi, Magi dan Islam, semuanya mencatat preparasi tersebut dalam buku-buku mereka dengan penjelasan bahwa preparasi itu disiapkan oleh para murid bagi Yesus a.s. Dari farmakologinya diketahui kalau preparasi tersebut amat berguna untuk mengobati cedera karena pukulan atau jatuh, bias menahan darah luka terbuka (astringent) serta mengandung ‘murr’ (myrrh) yang merupakan antiseptik. Obat ini juga berguna saat ada wabah untuk pengobatan bisul dan borok berbagai jenis.  Yang belum jelas adalah apakah obat itu dibuat atas dasar wahyu yang diterima Yesus setelah penyaliban, atau disiapkan berdasarkan konsultasi sekelompok tabib saat itu. Beberapa unsur dasarnya, terutama ‘murr’ juga pernah disinggung dalam kitab Taurat.  Berkat obat itu luka-luka Yesus sembuh dalam beberapa hari. Dalam waktu tiga hari beliau cukup pulih untuk bisa berjalan kaki sejauh tujuhpuluh mil (seratus kilometer lebih) dari Yerusalem ke Galilea.  Berkenaan dengan kemanjuran obat tersebut ada yang mengatakan kalau Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka preparasi itu telah menyembuhkan Yesus sendiri. Buku-buku yang mencantumkan obat ini ada lebih dari seribu buah, terlalu panjang untuk disebutkan.  Resep obat itu terkenal juga di antara tabib-tabib Yunani.  Beberapa dari buku-buku yang mencatat Marham-i-Isa serta pernyataan bahwa salep tersebut dibuat untuk pengobatan luka-luka Yesus adalah:
v  Qanun, oleh Shaikh-ul-Rais Bu Ali Sina, jilid III, halaman 133.
v  Sharah Qanun, oleh Allama Qutb-ud-Din Shirazi, jilid III.
v  Kamil-us-Sanaat, oleh Ali bin Al-Abbas Al-Majusi, jilid III, halaman 602.
v  Kitab Majmua-i-Baqai, Muhammad Ismail, Mukhatif as Khaqan oleh Khitab pidar Mohammad Baqa Khan, jilid II, halaman 497.
v  Kitab Tazkara-i-Ul-ul-Albab, oleh Shaikh Daud-al-Zareer-ul- Antaki, halaman 303.
v  Qarabadin-i-Rumi, dikompilasi di masa Yesus dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di masa Mamun Al-Rashid, bab Penyakit Kulit.
v  Umdat-ul-Muhtaj, oleh Ahmad bin Hasan Al-Rashidi Al-Hakim. Dalam buku ini obat Marham-i-Isa beserta preparasi lainnya disalin dari lebih dari seratus buku berbahasa Perancis.
v  Qarabadin, bahasa Parsi, oleh Hakim Muhammad Akbar Arzani, hal Penyakit Kulit.
v  Shifa-ul-Asqam, jilid II, halaman 230.
v   Mirat-ush-Shafa, oleh Hakim Natho Shah, hal Penyakit Kulit.
v  Zakhira-i-Khawarazm Shahi, hal Penyakit Kulit.
v  Sharah Qanun Gilani, jilid III.
v  Sharah Qanun Qarshi, jilid III.
v  Qarabadin, oleh Ulwi Khan, hal Penyakit Kulit.
v  Ilaj-ul-Amraz, oleh Hakim Muhammad Sharif Khan Sahib, halaman 893.
v  Qarabadi Unani, hal Penyakit Kulit.
v  Tuhfat-ul-Muminin, catatan pada bagian Makhzan-ul-Adwiya, halaman 713.
v  Muhit Fi-Tibb, halaman 367.
v  Aksir-i-Azam, oleh Hakim Muhammad Azam Khan Sahib, Al- Mukhatab ba Nazim-i-Jahan, jilid IV, halaman 331.
v  Qarabadin, oleh Masumi-ul-Masum bin Karam-ud-Din Al- Shustri Shirazi.
v  Ijala-i-Nafiah, oleh Muhammad Sharif Dehlavi, halaman 140.
v  Tibb-i-Shibri (nama lainnya Lawami Shibriyya), oleh Sayid Hussain Shibr Kazimi, halaman 471.
v  Makhzan-i-Sulaimani (terjemahan dari Aksir Arabi), oleh Muhammad Shams-ud-Din Sahib dari  Bahawalpur, halaman
v  Shifa-ul-Amraz, diterjemahkan oleh Maulana Al-Hakim Muhammad Noor Karim, halaman 282.
v  Kitab Al-Tibb Dara Shakohi, oleh Nur-uf-Din Muhammad Abdul Hakim Ain-ul-Muluk Al-Shirazi, halaman 360.
v  Minhaj-ud-Dukan ba Dastur-ul-Aayan fi Aamal wa Tarkib Al- Nafiah lil Abdan, oleh Aflatoon-i-Zamana wa Rais-i-Awana Abdul Mina ibn Abi Nasr-ul-Atta Al-Israili Al-Haruni (orang Yahudi), halaman 86.
v  Zubdat-ul-Tabb, oleh Sayid-ul-Imam Abu Ibrahim Ismail bin Hasan-ul-Husaini Al-Jarjani, halaman 182.
v  Tibb-i-Akbar, oleh Muhammad Akbar Arzani, halaman 242.
v  Mizan-ul-Tibb, Muhammad Akbar Arzani, halaman 152. 
v  Sadidi, oleh Rais-ul-Mutakalimin Imamul Muhaq-i-qin Al-Sadid-ul-Kazruni, jilid II, halaman 283.
v  Hadi Kabir, oleh Ibn-i-Zakaria, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Talmiz, hal Penyakit Kulit.
v  Qarabadin, oleh Ibn-i-Abi Sadiq, hal Penyakit Kulit.


Buku-buku di atas itu sebagai ilustrasi. Para cendekiawan, khususnya di bidang medikal, mengetahui bahwa buku-buku tersebut di masa lalu merupakan buku pegangan pendidikan kedokteran di kota-kota di bawah pemerintahan Muslim dimana mereka yang berasal dari Eropah juga belajar di sana. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sudah berjuta orang yang mengenal buku-buku tersebut dan beratus ribu yang telah mempelajarinya secara lengkap. Aku memastikan di sini bahwa tidak ada seorang pun cendekiawan Eropah atau Asia yang tidak mengenal sekurangnya sebagian dari buku-buku itu. 


Ketika Sapin, Qastmonia dan Shantrin memiliki universitasuniversitas, buku al-Qanun fi at-Tibb dari Bu Ali Sina (Ibnu Sina atau lengkapnya Abu A li Al-Hussain Ibnu Abdullah Ibnu Sina yang di Barat dikenal dengan nama Avicenna.  Bukunya al-Qanun fi at-Tibb merupakan buku kedokteran yang paling terkenal sepanjang sejarah manusia), yang merupakan buku medikal unggulan, serta buku-buku lain seperti Shifa, Isharat dan Basharat tentang fisika, astronomi dan filsafat, dipelajari secara tekun oleh orang-orang Eropah. Begitu juga bias dipelajari karya-karya dari Abu Nasr Farabi, Abu Raihan Israil, Thabit bin Qurrah, Hunain bin Ishaq dan lain-lain yang semuanya tokohtokoh cendekiawan serta hasil terjemahan mereka dari karya-karya Yunani.  Terjemah karya mereka sampai sekarang pun masih dapat ditemukan di Eropah.

Para penguasa Muslim pada zaman dahulu umumnya selalu membantu dunia medikal, merekalah yang rajin memerintahkan penterjemahan karya-karya Yunani. Sifat otoritas Khilafat yang sudah lama mendasari pemerintahan raja-raja Islam lebih mementingkan pengembangan pengetahuan daripada perluasan daerah kekuasaan.  Karena itu tidak hanya karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bahkan para penguasa itu mengundang para Pandit cendekiawan dari India untuk menterjemahkan buku-buku medikal dan buku lainnya dengan imbalan yang tinggi. Kita patut berterimakasih kepada mereka karena mereka menterjemahkan karyakarya medikal dari bahasa Latin dan Yunani yang menyinggung ‘Salep nabi Isa’ lengkap dengan penjelasan bahwa ramuan itu untuk mengobati luka-luka Yesus a.s. Ketika para cendekiawan Muslim dari masa itu seperti Thabit bin Qurrah dan Hunain bin Ishaq yang tidak saja ahli dalam ketabiban tetapi juga dalam fisika dan filsafat, menterjemahkan Qarabadin yang menyinggung ‘Marham-i-Isa,’ mereka secara bijak tetap menggunakan kata Shailikha yang sebenarnya kata Yunani dalam aksara Arabnya agar orang yang membaca menyadari bahwa buku tersebut diterjemahkan dari karya farmasetikal Yunani.  Karena itu di hampir semua buku digunakan istilah Shailikha tersebut.

Sunday, December 4, 2011

YESUS DI INDIA BAB 2 (8)


Sekarang saya paparkan BAB 2 Yesus Di India tulisan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

BAB 2
Pembuktian melalui Al-Quran dan Hadits tentang bukti keselamatan Yesus Argumentasi yang akan aku sampaikan berikut ini mungkin sepertinya tidak berguna karena ditujukan kepada umat Kristiani sedangkan mereka tidak menganut apa yang dikatakan Al-Quran dan Hadits mengenai permasalahan ini. Namun aku akan menyampaikannya juga karena aku ingin umat Kristiani mengetahui mukjizat dari Al-Quran kita dan Rasulullah s.a.w. dan menjelaskan kepada mereka kebenaran yang telah diungkapkan beratus tahun yang lalu. Salah satunya adalah ayat dimana Allah s.w.t. berkata:
. . . mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya.’(S.4 An-Nisa: 158)

Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa menyatakan bahwa walaupun benar Yesus a.s. disalibkan dan umat Yahudi itu begitu bernafsu untuk membunuh beliau, tetapi adalah salah jika umat Yahudi atau pun Kristiani menganggap beliau benar-benar telah wafat di kayu salib. Tidak demikian, karena Tuhan telah menciptakan kondisi-kondisi yang menyelamatkan Yesus dari kematian di kayu salib.  Kalau kita renungkan, kita harus mengakui kebenaran yang dikemukakan Al-Quran yang bertentangan dengan keyakinan umat Yahudi dan Kristiani umumnya. Penelitian-penelitian modern sudah membuktikan kalau Yesus selamat dari kematian di salib. Penelitian atas naskah-naskah mereka menunjukkan umat Yahudi tidak pernah bisa menjawab pertanyaan: ‘Bagaimana mungkin Yesus wafat dalam waktu dua atau tiga jam sedangkan tulang-tulangnya tidak diremukkan?

Kenyataan itu menyebabkan umat Yahudi mencari dalih lain yaitu mereka telah membunuh beliau dengan pedang, padahal sejarah masa lalu bangsa itu tidak ada mencatat kejadian tersebut. Kekuasaan dan kejalalan Yang Maha Abadi telah menciptakan kegelapan di bumi untuk menyelamatkan Yesus a.s. Pada waktu itu terjadi pula gempa bumi. Isteri Pilatus mendapat mimpi sehingga gubernur Pilatus cenderung ingin melepaskan Yesus. Saat itu Sabat sudah hamper sampai. Semuanya ini oleh Allah s.w.t dimunculkan pada saat bersamaan guna menyelamatkan Yesus. Beliau sendiri dipingsankan agar dikira sudah mati. Tanda-tanda menakutkan seperta gempa bumi dan kegelapan itu telah menimbulkan sifat pengecut dan ketakutan di hati umat Yahudi disamping ketakutan akan hukuman samawi.  Mereka juga takut meninggalkan orang tergantung di salib pada malam Sabat. Karena gelap dan gempa itu timbul kegemparan di antara mereka. Mereka merisaukan keadaan di rumahnya masingmasing, bagaimana anak-anak mereka dalam keadaan gelap dan adanya gempa bumi tersebut. Mereka melihat Yesus yang pingsan sebagai orang yang sudah mati. Hati mereka terguncang hebat karena jika orang itu pembohong dan kafir, mengapa muncul tanda-tanda luar biasa demikian pada saat penderitaannya? Demikian risaunya mereka sehingga mereka tidak bisa berfikir jernih guna memastikan apakah Yesus benar sudah wafat. Semuanya ini adalah rekayasa samawi untuk menyelamatkan Yesus. Hal inilah yang tersirat dari ayat ‘mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib,’ dimana Allah s.w.t. menanamkan keyakinan di hati mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh beliau. Keadaan ini menguatkan keimanan mereka yang saleh kepada Allah s.w.t. karena Dia bisa menyelamatkan hamba-Nya dengan cara apa saja.  Al-Quran juga menyampaikan ayat yang menyatakan:
. . . namanya Al-Masih Isa ibnu Maryam yang dimuliakan di dunia dan di akhirat dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah’(S.3 Ali Imran:46)

Berarti Yesus tidak saja dihormati dan dimuliakan dalam pandangan manusia awam tetapi juga di akhirat. Yang jelas beliau tidak ada dimuliakan di negeri raja Herodes dan Pilatus, bahkan beliau dianggap manusia rendah. Kalau ada yang menyatakan bahwa beliau akan dimuliakan saat kedatangan beliau yang kedua kali ke bumi adalah suatu pandangan tidak berdasar. Hal itu bertentangan dengan kitabkitab suci dan hukum samawi yang abadi. Lagi pula tidak ada bukti yang menguatkan.

Yang benar adalah, karena Yesus selamat dari cengkeraman orangorang terlaknat itu, beliau sampai ke daerah Punjab yang mendapat kehormatan dengan kunjungan beliau itu, Tuhan telah memberikan kemuliaan agung kepadanya karena disinilah beliau bertemu dengan sepuluh suku bangsa Israel yang hilang. Rupanya pada waktu itu orang-orang Israel ini telah beralih menganut agama Buddha dan bahkan jadi penyembah berhala. Namun dengan kedatangan Yesus, sebagian besar dari mereka telah kembali ke jalan yang benar, dan karena adanya ajaran Yesus yang mengkhabarkan kedatangan seorang Nabi, maka kesepuluh suku bangsa Israel yang dikenal sebagai bangsa Afghan dan Kashmiri, pada akhirnya memeluk agama Islam. Jadi Yesus a.s. memperoleh kemuliaan agung di negeri-negeri ini.  Belum lama ini ditemukan sebuah mata uang logam di daerah Punjab tersebut yang bertuliskan nama Yesus dalam aksara Pali. Mata uang itu berasal dari zaman Yesus a.s. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memang sampai di negeri ini dan mendapatkan penghormatan dari rajanya karena mata uang logam itu pasti dikeluarkan oleh seorang raja yang menjadi pengikut Yesus. Ada mata uang logam lainnya bergambar orang Israel yang rupanya gambar Yesus. Dalam Al-Quran pun ada ayat yang menyatakan bahwa Yesus diberkati Allah s.w.t. kemana pun beliau pergi. (S.19 M aryam:32) Jadi adanya mata-mata uang logam tersebut menunjukkan kalau beliau memang diberkati Tuhan dan sebelum wafatnya memperoleh penghormatan dari seorang raja. Begitu pula Al-Quran menyatakan dalam ayatnya bahwa: ‘Hai Isa, . . . Aku akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir’ (S.3 Ali Imran:56), yang berarti Allah s.w.t. akan membersihkan sangkaan palsu dengan membuktikan kebersihan beliau dan menggagalkan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristiani.

Ayat ini merupakan nubuatan akbar. Orang Yahudi karena mengira Yesus mati di kayu salib, lalu menganggap beliau sebagai orang yang terkutuk dan tidak patut memperoleh kasih Tuhan, bahwa nurani Yesus karena laknat telah berbalik dan membenci Tuhan-nya.  Kalbu beliau diselimuti tabir tebal kegelapan dan mencintai dosa serta menjauhi kebaikan. Hati itu telah melepaskan diri dari Tuhan-nya dan menjadi pengikut Iblis. Tuduhan yang sama (bahwa beliau terkutuk) juga dilakukan oleh umat Kristiani. Hanya saja umat Kristiani lalu mengkombinasikan kedua posisi yang bertentangan tersebut. Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Tuhan tetapi juga menyatakan beliau itu terkutuk. (Galatia 3:13).  Padahal mereka menyatakan bahwa seseorang yang terkutuk adalah Putra Kegelapan atau bahkan Iblis itu sendiri.  Tuduhan kotor seperti itulah yang dilontarkan kepada Yesus a.s.  Namun nubuatan dalam Al-Quran tersebut menunjukkan akan dating saatnya ketika Tuhan akan membersihkan nama baik Yesus, yaitu sekarang inilah.

Ketidakbersalahan Yesus menjadi jelas bagi orang-orang yang berfikir berkat pembuktian Rasulullah s.a.w. karena beliau dan Al-Quran memberikan kesaksian kalau semua tuduhan terhadap Yesus tersebut tidak mempunyai dasar. Hanya saja pembuktian tersebut amat halus dan lebih banyak bersifat argumentasi sehingga kurang meyakinkan bagi umat awam. Sebagaimana peristiwa penyaliban itu adalah hal yang nyata dan diketahui umum, maka rasa keadilan samawi juga menuntut agar pembuktian kebersihan beliau juga diperlihatkan secara nyata. Kebersihan Yesus a.s. tidak saja didasarkan pada argumentasi tetapi juga diperlihatkan secara nyata. Mata beratus ribu orang sudah menyaksikan sendiri makam Yesus a.s. yang ada di kota Srinagar, Kashmir. Sebagaimana beliau disalibkan di Golgota (artinya tempat sri), begitu juga makam beliau ada tempat sri yaitu Srinagar.  Tempat Yesus disalibkan disebut Gilgit (Golgota) atau sri sedangkan tempat makam beliau ditemukan di akhir abad sembilanbelas juga bernama Gilgit atau sri. Kemungkinan kota Srinagar berdiri sejak masa Yesus a.s. dan untuk memperingati kejadian penyaliban maka tempat tersebut diberi nama Gilgit. Nama kota Lhasa sendiri berasal dari bahasa Iberani yang artinya ‘kota dari dia yang patut dihormati’ dan kota ini mungkin muncul di masa Yesus berada di sana.  Hadis  sahih menunjukkan bahwa menurut Rasulullah s.a.w., usia nabi Isa a.s. adalah 125 tahun. Semua sekte dalam agama Islam meyakini kalau Yesus a.s. memiliki dua karakteristik unik tentang diri beliau yang tidak terdapat pada nabi lain, yaitu (1) beliau hidup sampai usia lanjut yaitu 125 tahun, (2) beliau mengembara ke berbagai bagian di dunia dan karena itu disebut sebagai ‘nabi pengembara.’ Karena itu jika dikatakan beliau naik ke langit pada usia 33 tahun maka pernyataan usia beliau 125 tahun itu menjadi tidak benar. Begitu juga beliau belum akan sempat berjalan jauh bila umur beliau hanya 33 tahun. Fakta tersebut tidak hanya terdapat dalam Hadits sahih saja tetapi merupakan hal yang diketahui umum di antara semua sekte agama Islam.

Kitab Kamnz-ul-Ummal (jilid dua) yang merupakan kumpulan Hadits yang komprehensif di halaman 34 merawikan Hadits dari Abu Huraira yang berbunyi: ‘Allah s.w.t. mewahyukan kepada Yesus “Wahai Isa, berpindahlah dari satu tempat ke tempat lain agar engkau tidak dikenali dan dianiaya.”’ Dalam buku yang sama berdasarkan penuturan Jabar dikemukakan bahwa Yesus selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.  Beliau bepergian dari satu negeri ke negeri lain dan pada malam hari bermalam dimana beliau berada, ia akan memakan daun-daunan dan buah hutan serta minum dari air yang jernih. (Jilid 2, halaman 71).  Masih dalam buku yang sama terdapat penuturan Abdullah bin Umar yang menyampaikan ‘Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mereka yang paling disukai di hadapan Allah adalah para ‘Gharib.’ Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan Gharib, beliau menjawab: orang yang seperti Isa Al-Masih yang meninggalkan negerinya karena keimanannya.’ (Jilid 6, halaman 51).

YESUS DI INDIA (7)


Dalam pembahasan Yesus di India (7) ini BAB I selesai.  Lebih lanjut dalam seri ke-7 ini penulis memaparkan sebagai berikut:

Penyelamatan Yesus as di Dukung Oleh Mimpi 
Aku juga memiliki perasaan kasih dan penghormatan kepada Yesus a.s. sebagaimana dilakukan umat Kristiani. Aku memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat dengan beliau karena umat Kristiani tidak mengenal manusia yang mereka sembah. Aku menghormati beliau karena aku pernah berjumpa dengannya. Karena itu akan kujelaskan inti daripada penuturan Injil tentang kebangkitan orang-orang kudus pada saat Penyaliban Yesus a.s.

Perlu disadari bahwa penuturan seperti itu sebenarnya termasuk kategori Kashaf atau penampakan kepada beberapa orang kudus saat terjadi Penyaliban. Sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab Suci, mimpi-mimpi bisa ditafsirkan seperti misalnya mimpi nabi Yusuf a.s. Maka penafsiran dari penampakan orang-orang kudus dibangkitkan tersebut mengandung arti bahwa Yesus akan selamat dari kematian di atas kayu salib karena Allah s.w.t. telah menolong beliau. Jika anda bertanya dari mana aku mendapat penafsiran tersebut, jawabnya adalah karena penafsiran itu aku peroleh dari para pakar tafsir mimpi.  Disini aku kemukakan tafsir dari seorang pakar penafsiran yaitu pengarang buku Tatirul-Anam fi T’abirul-Manam oleh Qutbuz-Zaman Shekh Abdul Ghani Al-Nablisi, halaman 289, yang mengatakan jika ada yang melihat dalam mimpi atau penampakan berbentuk Kashaf kejadian bangkitnya orang-orang yang sudah mati dan pulang ke rumahnya masing-masing, penafsirannya ialah ada seorang tahanan yang akan dibebaskan dan diselamatkan dari tangan para penuntutnya. Konteks pengertiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah seorang berkedudukan atau bermartabat tinggi. Penafsiran demikian itulah yang kiranya dapat diterapkan pada kasus Yesus a.s. sehingga mereka yang arif akan menyadari bahwa beliau telah diselamatkan dari kematian di atas kayu salib.

Banyak lagi rujukan dari Injil yang menyatakan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, bahwa beliau telah diselamatkan dan kemudian pergi ke negeri lain. Kiranya apa yang telah dikemukakan di atas itu mencukupi bagi mereka yang tidak berprasangka. Bisa jadi ada yang menentang karena Injil berulangkali menyatakan bahwa Yesus wafat di kayu salib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik kesorga.  Penentangan seperti ini sudah aku jawab secara singkat, namun perlu diingatkan lagi kalau Yesus a.s. bertemu dengan para murid setelah penyaliban, melakukan perjalanan ke Galilea, makan roti dan lauknya, menunjukkan parut luka-luka di tubuhnya, bermalam dengan beberapa murid dalam perjalanan ke Emaus, melarikan diri dari daerah kekuasaan Pilatus, hijrah dari negerinya sebagaimana juga kebiasaan para nabi dan berjalan di bawah baying ketakutan. Semua kejadian itu menyimpulkan kalau beliau tidak wafat di kayu salib, bahwa tubuh beliau tetap berujud phisik dan materinya tidak mengalami perubahan apa pun.

Kebiasaan Melebih-lebihkan
Tidak ada satu bukti pun dalam Injil yang menunjukkan bahwa ada orang yang melihat Yesus naik ke langit. Kalau pun ada, sulit dipercaya kebenarannya karena para penulis Injil tersebut terbiasa membesar-besarkan hal kecil, mereka menjadikan sarang semut menjadi gunung. Sebagai contoh, kalau yang satu mengatakan Yesus itu Putra Tuhan, penulis yang satunya lagi menjadikan beliau sebagai Tuhan betulan, yang ketiga memberi beliau kekuasaan atas seluruh alam sedangkan yang keempat secara langsung menyatakan bahwa beliau adalah segalanya dan tidak ada Tuhan lain selain beliau.  Singkat kata, kebiasaan melebih-lebihkan itu telah berakibat jauh sekali. Contohnya seperti penampakan orang-orang kudus yang bangkit dari kuburnya dan masuk ke kota, lalu diartikan secara harfiah bahwa mereka memang benar bangkit dan kembali ke keluarganya.

Disini selembar ‘bulu’ telah dibesar-besarkan menjadi seekor ‘gagak’ dan tidak hanya satu, tetapi jadi berjuta gagak. Kalau keadaan dibesar-besarkan seperti itu, kita akan kesulitan mencari tahu inti kebenarannya. Perlu juga diingat bahwa buku-buku Injil itu yang disebut sebagai Kitab Suci dari Tuhan, mengandung pernyataan berlebihan seperti ayat yang menyatakan ‘jika semua yang diperbuat Yesus dituliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu’ (Yohanes 21:25). Apakah melebih-lebihkan demikian itu bisa disebut sebagai kejujuran dan kebenaran? Kalau benar apa yang dikerjakan Yesus a.s. itu demikian tidak terbatasnya dan semuanya tidak bisa diringkas, bagaimana mungkin semuanya terjadi dalam periode tiga tahun. (Masa pengajaran dan penyiaran Yesus di Palestina sejak berusia 30 tahun sampai disalibkan pada usia 33 th).   Kesulitan lain dari Injil-injil itu adalah kadang memberikan rujukan yang salah terhadap kitab-kitab yang lebih tua, bahkan mengenai garis keturunan Yesus pun mereka tidak bisa akurat.

Yesus as Bukan Seorang Pengecut
Dari paparan Injil itu sepertinya para penulisnya adalah orang-orang bodoh dalam pemahaman sehingga di antara mereka ada yang mempersamakan Yesus dengan hantu atau ruh. Kitab-kitab Injil dari masa awal terbuka terhadap tuduhan bahwa kemurnian isinya tidak bisa dijaga dan bahwa sebenarnya masih ada kitab-kitab lain yang juga bisa disebut Injil, tetapi tidak ada alasan diberikan mengapa kitab-kitab lain itu ditolak. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa kitab-kitab lain itu juga mengandung eksagerasi yang terdapat dalam keempat Injil yang kita kenal. Sebenarnya mengherankan kalau dikatakan bahwa di satu sisi mereka mengatakan Yesus adalah orang saleh dan sifat-sifat beliau tanpa cela, tetapi di sisi lain mereka melekatkan atribut-atribut yang tidak pantas bagi seorang saleh.  Sebagai contoh, para nabi Israel sejalan dengan ajaran Taurat, nyatanya memiliki isteri beratus-ratus orang dengan tujuan akan menggandakan satu generasi orang-orang yang saleh, namun anda tidak akan mendengar atau menemukan bahwa ada di antara nabi itu demikian bebasnya sehingga mengizinkan seorang perempuan yang tidak suci dan cabul, seorang yang dikenal masyarakat sebagai pendosa, menyentuh tubuh mereka, apalagi mengurapkan minyak ke rambut dan menyapukan rambutnya sendiri ke kaki nabi tersebut tanpa ia menegahkannya. Melihat keadaan seperti itu kita hanya akan bisa terhindar dari kecurigaan hanya karena kita meyakini kesalehan Yesus a.s.

Pendek kata, Injil-injil tersebut mengandung banyak sekali hal yang tidak terpelihara dalam bentuk aslinya atau para penulisnya adalah orang lain dan bukan murid-murid Yesus langsung. Sebagai contoh statemen dalam Injil Matius ‘. . .dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini’ bisakah (Matius 28:15), kalimat itu dikatakan oleh Matius sendiri? Tidakkah kalimat itu menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah seseorang yang hidup ketika Matius sendiri sudah meninggal? Injil yang sama itu juga menyatakan:
Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata “Kamu harus mengatakan bahwa murid-muridnya datang malam-malam dan mencurinya ketika kamu sedang tidur”’ (Matius 28:12 – 13).

Kelihatan bagaimana tidak meyakinkan dan tidak masuk akalnya pernyataan demikian. Kalau pengertian dari penuturan tersebut adalah karena umat Yahudi ingin menutupi kebangkitan Yesus dari kematian dimana mereka telah menyuap para prajurit itu agar peristiwa itu tidak diketahui umum, lalu mengapa Yesus sendiri yang merupakan kewajiban baginya mengumumkan mukjizat tersebut di antara umat Yahudi, lalu merahasiakannya, bahkan melarang para murid membukakannya? Kalau ada yang mengatakan bahwa sebabnya karena beliau takut tertangkap lagi, aku akan mengatakan bahwa jika takdir Tuhan sudah turun ke atas diri beliau dimana setelah kematian lalu bangkit kembali dengan tubuh spiritual yang gemilang, kenapa masih harus takut kepada orang Yahudi? Jelas tentunya kalau umat Yahudi tidak akan bisa mengapa-apakan lagi beliau karena beliau sudah di luar dimensi eksistensi kehidupan fisik.

Adalah menyedihkan kalau kita menelusuri pernyataan yang di satu sisi mengatakan beliau telah dibangkitkan lagi dengan tubuh spiritual, kemudian bertemu dengan para murid dan pergi ke Galilea dan selanjutnya ke langit, tetapi di sisi lain dikatakan kalau beliau itu takut ketahuan orang Yahudi dan walaupun berbadan spiritual tetapi merasa perlu melarikan diri ke Galilea sejauh tujuhpuluh mil karena takut tertangkap lagi, dan bahwa beliau berulangkali mengingatkan para murid untuk tidak menceritakan keadaan beliau kepada siapa pun. Apakah ini menjadi ciri dari pemilik suatu tubuh spiritual? Yang benar adalah tubuh beliau bukan tubuh baru yang gemilang, beliau tetap dengan tubuh lamanya dengan parut luka-luka, yang telah diselamatkan dari kematian, yang masih takut diketemukan lagi oleh orang Yahudi dan setelah melakukan segala persiapan lalu meninggalkan negerinya. Di luar penafsiran ini dapat dikatakan absurd sebagaimana halnya dengan penuturan tentang orang-orang Yahudi yang menyuap para prajurit agar mengatakan bahwa para murid telah mencuri tubuh beliau ketika mereka sedang tidur. Kalau benar mereka tertidur, lalu bagaimana menyimpulkan bahwa ada yang telah mencuri tubuh beliau? Apakah dari pernyataan bahwa Yesus tidak berada di dalam makam lalu bisa disimpulkan kalau beliau telah naik ke langit? Apakah tidak ada kemungkinan lain mengapa makam itu kosong? Kalau benar Yesus naik ke langit, mengapa beliau tidak memanfaatkan hal itu dan menunjukkannya kepada beberapa ratus orang Yahudi dan Pilatus sendiri? Beliau tidak perlu takut lagi karena sudah bertubuh sepiritual. Namun kenyataannya beliau tidak ada berusaha menunjukkan kepada para musuh beliau tentang hal ini. Sebaliknya, beliau karena ketakutan lalu melarikan diri ke Galilea. 

Karena itulah aku yakin bahwa walaupun benar beliau telah meninggalkan makam, sudah juga bertemu dengan para murid secara rahasia, namun tidak benar jika beliau telah menyandang tubuh yang baru. Tubuh beliau tetap yang lama dengan parut luka-luka dengan ketakutan yang sama akan ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi terlaknat itu. Bacalah dengan teliti Injil Matius pasal 28 ayat 7 sampai 10. Ayat-ayat tersebut jelas mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan tersebut telah diberitahukan seseorang bahwa Yesus itu hidup dan akan berjalan ke Galilea dan mereka dipesan untuk memberitahukan kepada para murid. Mereka bersukacita tetapi juga dengan hati takut karena khawatir Yesus ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi yang jahat. Ayat kesembilan menuturkan ketika mereka ini sedang dalam perjalanan guna memberitahukan para murid, Yesus berjumpa dan memberi salam kepada mereka. Ayat kesepuluh menjelaskan Yesus meminta mereka jangan takut (bahwa beliau akan ditangkap lagi) dan meminta mereka memberitahukan kepada para saudara agar mereka itu pergi ke Galilea, (Disini Yesus tidak menghibur perempuan-perempuan itu dengan kata-kata bahwa ia telah bangkit dengan tubuh baru yang gemilang sehingga tidak ada yang akan bisa menangkap beliau lagi. Yang jelas, beliau tidak ada memberikan bukti tentang tubuh spiritual yang gemilang, bahkan nyatanya beliau menunjukkan tubuh dari daging dan tulang sama dengan tubuh phisik biasa),  karena beliau tidak bisa berdiam di tempat karena takut kepada para musuh. Singkat kata, jika Yesus benar bangkit setelah kematian dengan tubuh spiritual, hal itu akan merupakan kesempatan baginya untuk membuktikan kepada umat Yahudi bahwa memang ada jenis kehidupan setelah mati demikian. Nyatanya beliau tidak ada melakukan hal tersebut.  Karena itu adalah absurd untuk menuduh umat Yahudi berusaha menutupi bukti kebangkitan Yesus. Adapun Yesus sendiri tidak ada memberikan bukti kebangkitan dirinya dari kematian.  Jika kita perhatikan usaha beliau melarikan diri, bahwa beliau makan, tidur dan menunjukkan luka-lukanya, beliau sendiri telah membuktikan bahwa ia tidak wafat di kayu salib.