GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Yesus. Show all posts
Showing posts with label Yesus. Show all posts

Friday, January 10, 2025

Santo Thomas di India


Ref. buku Jesus Among the Lost Sheep

Oleh Azis Chaudry Terbitan Islamic International Ltd” 1992 hl.64-69

 


St Thomas adalah salah satu dari 12 murid Yesus (Nabi Isa as). Nama lengkap beliau adalah Yudas Thomas. Menurut Injil Apokrif kisah Thomas (Acta Thomae). Nama atau gelar Thomas berarti kembar. (Yohanes 20:24 & 21:2). Dalam Injil Matius dan Markus, Yudas disebut sebagai salah seorang dari saudara-saudara Yesus. Matius 13:55 dan Markus 6:3. Acta Thomae disebut dalam Bahasa Syriac Kisah Yudas Thomas, yakni Judah, si kembar dan di seluruh kitab ini, beliau disebut Yudas dan bukan Thomas. Bahasa Syriac yang sepada untuk Thomas adalah Thomae, dalam dialek Nestorian “Theom”dan dalam Bahasa Arab Tauam. Dalam literatur Bahasa Arab , Thomas umumnya dirujuk sebagai Badad yang menurut aturan tatabahasa dapat juga diucapkan Babad dan kedua kata itu bermakna kembar. [1]

Pandangan ini bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus telah dipertahankan oleh Nazir Ahmad berdasarkan pernyataan-pernyataan dalam Kisah Thomas. Kami tidak setuju dengan hal itu. Tak ada kesaksian sama sekali, bahwa Yesus lahir kembar. Injil-injil tidak menyebutkan, bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus. Tetapi dalam perbedaan-perbedaan pandangan dari periwayat Injil, seseorang tidak dapat menghapus kemungkinan bahwa St Thomas adalah salah seorang murid yang menyertai Yesus ke India.

Thomas sangat setia pada Yesus dan amat ingin mengikuti beliau kemanapun dan bersedia mati demi beliau (Yohanes 10:16). Beliau mengikuti Yesus ke danau Tiberias dan kemudian menyertai Yesus selama hijrah beliau ke India dalam mencari suku-suku Bani Israil yang hilang. Thomas diriwayatkan Bersama Yesus di Magdonia (Nishibis-Mesopotamia) dan Texilla di Barat laut India (sekarang Pakistan). Dari sana beliau kemungkinan menyertai Yesus ke Kashmir. Kemudian sebagaimana adanya jejak suku-suku Bani Israil yang hilang , yang menetap sepanjang Pantai Barat India dari Bombay sampai Srilangka, ST Thomas pergi ke Selatan India Dimana beliau bertabligh dan di syahidkan. Maka St Thomas (sewaktu hidupnya -AMMS) mendirikan gereja-gereja di Selatan India. Menurut tradisi Bani Israil sepanjang Pantai Barat India , nenek moyang mereka telah meninggalkan Yerusalem sesudah penghancuran kuil (biara) yang kedua kali dan tiba dikawasan-kawan ini pada abad ke3 SM. [2]

Menurut Bukhana[3] Sebagian dari mereka berasal dari Barat laut India dan Kashmir.


Kaum Kristen Pengikut St Thomas

Tadisi setempat golongan ini yang menyebut diri mereka sendiri Kaum Kristen pengikut St Thomas meriwayatkan bahwa pendiri gereja mereka adalah St Thomas. Mereka selalu mendakwahkan demikian dan mereka memuliakan St Thomas sebagai orang kudus pelindung mereka. Kemudian golangan ini dipengaruhi oleh ajaran Kristen Nestorian. Asal keimanan Kristen Nestorian ini adalah signifikan bahwa mereka tidak mempercayai bunda Maria dan tidak mempercayai keputraan Yesus (sebagai anak Tuhan -MA).[4] Yang karena itu mereka diperlakukan zhalim, ketika penjajahan Eropa datang di Selatan India.

Dari sebuah gereja permulaan di Edessa (kini Urfa di Timur Turki) ada hubungan dengan gereja di India ini. Max Muller telah menetapkan, bahwa Bahasa Pahlavi diucapkan di Edessa dan menarik bahwa prasasti ditemukan di geraja-gereja di Selatan India.

Tradisi-tradisi kuno sehubungan dengan kisah Thomas, mengingatkan St Thomas dengan Endessa dan dan menjadikan beliau penginjil Parthia dan India. Tahun 189M Pantaenius di utus ke India oleh Bishop Demetrius dari Alexandria. Dia mendapati bahwa sebuah gereja telah didirikan oleh seorang rasul (murid Yesus). Hippoclytus salah satu sejarahwan Kristen permulaan, menulis mengenai St Thomas. “Dan Thomas bertabligh kepada orang-orang Parthia, Medes, Persia, Bacterian, India, Hyranean, dan ditikam dengan sebatang tombak di Calamania[5] sebuah kota di India dan dimakamkan di sana.[6]

Assemani, yang mengutip berbagai penulis bangsa Syiria, memberitahu kita bahwa St. Thomas merupakan utusan ke Mesopotamia dan India serta menyebutkan suatu tempat yang Bernama “Rumah St Thomas di Kota Maelapore”[7] Maelapore adalah sebuah kota di Madras (India Selatan) Dimana menurut kisah Thomas, beliau dibunuh. Dimasa Raja Alfred dipercayai bahwa St Thomas telah bertabligh dan wafat di India serta dia telah mengirimkan suatu perutusan ke tempat suci St Thomas di India. Marcopolo menulis kira-kira tahun 1294 M juga menyebutkan pensyahidan St Thomas dekat Madras.

 

Kisah Thomas

Kisah Thomas yang kita rujuk ditulis pada permulaan abad ke dua Masehi oleh Leucius, penulis beberapa kisah Apokrif. Dia mendasarkan pada surat-surat tertentu dari St Thomas dan pada keterangan yang diterima dari sebuah perutusan Selatan India melalui Edessa menuju Yerusalem dan Roma.

Kisah Thomas dihimpun secara keseluruhan pada tahun 368 oleh Epiphanius, Bishop Salamia. Kita itu diterima dan dibaca di Gereja-gereja bersama dengan Injil Thomas dan kitab-kitab kanonik lainnya, sehingga fatwa Paus Gelasius (495 M) Ketika kitab itu dikutuk sebagai penyimpangan. Dalam bentuk perobahan sedikit kitab itu dibaca dan diterima, bahkan sampai hari ini di gereja-gereja Assyiria. Kitab itu diterjemahkan dari Bahasa Syriac ke Bahasa Inggris oleh Dr. W. Wright tahun 1971.[8] Kitab itu dimasukkan oleh Dr. Cureton dalam bukunya Ancient Syriac Document pada th 1883.

 

St Thomas Melakukan Perjalanan Ke India

Kehidupan St Thomas seperti yang digambarkan Kisah Thomas dimulai dengan kisah bahwa ketika pembagian tugas dilapangan di antara para murid, India yang ada dalam Kerajaan Parthia jatuh ke bagian Thomas. Lalu dinyatakan bahwa Yesus Nabi Isa as dan Thomas bersama-sama tiba di Magdonia yang merupakan nama lain dari Nisibis[9] Di Mesopotamia. Di sinilah bahwa  seorang pesuruh Bernama Abenes dari Raja Gondophares dari Kerajaan Parthia India, tiba dan mohon kepada Raja Magdonia untuk mengirim seorang arsitek (Juru Tera) untuk membangun sebuah istana dengan gaya Roma. Yesus waktu itu sedang bertabligh pada raja Magdonia dan atas anjuran beliau St. Thmas dikirim ke India. Thomas mengadakan perjanjian melalui laut dari sebuah Pelabuhan Mesopotamia mencapai muara Sungai Indus di India. Melayari Sungai beliau tiba di suatu tempat bernama Attock. Abanes menghadirkan St. Thomas kepada Raja Gondophares di Taxilla (masa itu India Barat Laut) dalam Kerajaan Gondophares.

Kehadiran Yesus (Nabi Isa as) bersama Thomas di Taxilla disebutkan dalam kisah Thomas dengan sangat singkat. Tercatat bahwa keduanya menghadiri pesta pernikahan Abanes (Abdagases) seorang keponakan Raja Gondophares.[10] Kita baca dalah kisah Thomas “Thomas sesudah upacara itu meninggalkan tempat itu. Penganten baru lelaki mengangkat tirai yang memisahkan dia dari pengantin Perempuan. Dia melihat Thomas yang dia sangka sedang bercakap-cakap dengannya. Kemudian dia bertanya dalah keheranan: Bagaimana tuan dapat dijuampai di sini, tidakkah saya lihat tuan pergi sebelumnya?, dan tuan itu (Yesus) menjawab: Saya bukan Thomas tetapi saudaranya”.[11]

Kemudian dinyatakan bahwa sebelum bertolak ke Selatan India Thomas pergi ke suatu Kerajaan lain, tetapi tidak dirinci. Mungkin yang dimaksud adalah Kashmir, sebab Yesus (Nai Isa as) pergi ke sana sesudah kunjungan beliau ke India Barat Laut dan Kawasan Punjab. Kemudian St. Thomas mengikuti jejak beliau semula dan mencapai muara sungai Indus dan mengadakan perjalanan dengan kapal ke Pantai Barat di Selatan Iindia. Beliau mendarat di Kerala, sebuah pulau Laguna dekat Crangonone yang kepala pelabuahannya adalah Muiziris St Thomas bertabligh kepada masyarakat di Pantai Barat. Beliau kemudian diriwayatan pergi ke kota Andra di distrik Andra. Sesudah itu beliau pergi ke Maelapore di Pantai Timur dan berhasil menarik Ratu Tertia (menjadi pengikut Yesus-MA). Hal ini membangkitkan kemarahan Raja Mazdai dan memicu iri hati kaum Brahmana. Mereka menghasut Masyarakat dan St Thomas dibunuh di kota Maelapore, Madras. Beliau dimakamkan di sana. Dalam suatu Kawasan 7 - 8 Mil dari benteng St George (Madras India) berdiri gereja kuno yang besar yang menandai tempat-tempat pensyahidan St Thomas. Secara umum diterima tulang belulang St Thomas dipindahkan dari Madras ke Edessa th. 163 M dan sebuh Gereja dibangun d tempat penguburan mereka.

Riwayat hidup St Thomas di India ini dikuatkan oleh ciri khas Sejarah dan Ggeografi Kawasan itu. Raja Gondophares yang telah disebutkan dalam kisah St Thomas berasal dari dinasti Parthia dan memerintah India Barat Laut dari tahun 21-50 M. setelah meniggalnya Abanes keponakannya melanjutkannya untuk masa singkat.[12] Nama-naam tempat tersebut sehubungan dengan kehidupan St Thomas di India dikuatkan oleh Geografis daerah itu.

 

Prasasti Berbahasa Aramik

Penyelidikan bukti Sejarah lebih lanjut dari kunjungan St Thomas dan Yesus (Isa as) ke India Barat Laut, kita dapati bahwa ada satu prasasti yang menarik di musium Taxilla yang telah digali dari sirkap, Taxilla (kini di Pakistan). Prasasti itu hancur, rusak dan tak lengkap. Menurut Sir John Marshall, Direktur Jenderal Departemen Akeologi British India serta penulis dua buku mengenai Taxilla, prasasti ini berasal dari abad pertama Masehi.[13] Itu merupakan bagian dari pilar kenangan pualam putih bersegi delapan yang dibangun dalam suatu tembok sebuah rumah yang digali di Taxilla. Prasasti yang digali pada pilar ini adalah berbahasa Aramik, suatu dialek Ibrani yang dengan itu Yesus dan murid-muridnya berbicara.

Nazir Ahmad penulis buku “Jesus in Heaven on Earth” membahas prasasti ini dalam bukunya. Beliau menulis “adanya prasasti dalam Bahasa Aramik ini merupakan hal Ajaib. Tetapi karena kehadiran Yesus  dan St Thomas di Taxilla hal ini tak dapat diterangkan dengan hipotesa lain. Sejauh ini tak ada usaha telah dibuat untuk menerangkannya walaupun segera setelah penemuannya usaha-usaha dibuat untuk menterjemahkannya. Salinan-salinan catatan itu diterbitkan oleh Dr. L.D. Bernet dan Prof. Cowley dalam The Journal of The Royal Asiatic Society.[14] Catatan-catatan the late F.C. Andreas, terbit Dr. W.H. Winkler menimbulkan komplikasi-komplikasi lebih jauh. Ketidak lengkapan dan kerusakan prasasti ditambah dengan prasangka-prasangka mereka serta kurangnya pengetahuan mengenai latar belakang yang sebenarnya telah membuat kebingangan makin buruk lagi. Mereka berkata bahwa prasasti itu merujuk kepada seorang pejabat tinggi Bernama Romadota dan bahwa juga disebut dua nama lain Nanggaruda dan Priyadarsia. Sisa terjemahan adalah khayalan dan sebab itu tanpa makna. Mereka tak dapat, saya ulangi karena kurangnya pengetahuan yang patut, mengungkapkan bahwa tiga kata ini boleh jadi merupakan gelar dan bukan nama asli. Mereka tidak dapat menerima buku Rahnomai Taxilla oleh Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Asisten pengawas survey Arkeolog India, yang di dalamnya menyebutkan bahwa prasasti itu merujuk pada Pembangunan sebuah Istana (mahal) dari Deobar dan Ivory di Taxilla.[15]  Para cendekiawan barat mengabaikan kenyataan bahwa “nanggaruda secara harfiah bermakna tukang kayu dalam Bahasa Aramik. Ramadota sebenarnya adalah Rudradeva (anak Tuhan) dan Priyadarsia adalah Peridersia (Bapa).  Seperti diakui oleh Sir John Marshall para cendekiawan Barat selanjutnya mengakui atas kemungkinan-kemungkinan belaka. Mereka juga melupakan kenyataan bahwa seorang suci dan saleh di India pada masal itu selalu digambarkan sebagai anak Tuhan atau anak suatu dewa lain.

Tetapi jika kita letakkan kenyataan-kenyataan ini bersama pada pemandangan yang sebenarnya kita terpaksa mencari dan melacak seorang asing di Taxilla yang menjadi tukang kayu dan yang dihubungkan dengan Pembangunan sebuah istana di Taxilla dan yang dihubungkan seorang suci dan saleh yang digambarkan sebagai Rudradeva (anak Tuhan) St. Yudah Thomas kenyataannya merupakan merupakan seorang asing., tukang kayu , anak dari tukang kayu, beliau membangun sebuah istana di Taxilla, dan berada di Taxilla bersama Yesus (Nabi Isa as), Nabi Allah ( Jesus in Heaven on Earth p..348).

Maka menurut Nazir Ahmad, yang adalah seorang peneliti terkemuka, prasasti ini menunjuk kepada kehadiran St Thomas dan Yesus Kristus (Isa Al Masih as) di Taxilla selama abad pertama Masehi. Kemungkinan tahun 48-50 M. Penelitian lebih lanjut untuk mengungkap prasasti ini diperlukan.

Perjalanan St Thomas yang ingin dan tetap mengikuti Yesus kemanapun beliau pergi an menyerahkan hidupnya demi beliau ke India dan bertabligh bahkan syahid menjadi sangat serupa bahwa beliau mengikuti jejak Langkah Yesus Kristus (Isa Almasih) yang mengadakan perjalanan ke Timur dalam mencari suku-suku Israil yang hilang. Hijrah dan kehadiran St Thomas di India mendukung (menguatkan) pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa as) sendiri berhijrah ke India dan akhirnya menetap di Kashmir di mana makam beliau berada di Srinagar.

Alih Bahasa Muharim Awaluddin  

Disadur dari EBK, No.64, Sep 2002 | Ali Mukhayat

 



[1] Lisan-ul-Arab Vol.III,P.48

[2] Rev. Claudius Buchanan, Christian Researchers in India, P.220

[3] Ibid, P.224

[4] W.R. Phillip, The Thirty Four Conferences between Danish Missionaries and Malabar Brahmans (Christians) in The East Indies, XV

[5] Sir William Hunter, India Empire, p. 213

[6] S.D.F. Salmond, the Writings of Hippoclytus, Vol. III, P.131

[7] Assemani, Biblothica Orientalics III:I, P.231

[8] Dr. Wright, The Apocrypahal Acts of Apostles, Vol.III

[9] Dr. Cureton, Ancient Syriac Document, Vol.22, P.141, see also F.C.Burket, Early Chritians Outside the Roma Empire, P.155

[10] Prof. J.W. Fadrquhar, The Aposite Tomas in India, John Reyland’s Library Bulletin, Vol.XII:I

[11] Acta Thomae, Ante Nicene Christian Library, Vol. XX, P.46, see also Sir V.A. Smith, The Early History of India, P. 219, And, Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.15

[12] Prof. E.J. Rapson, Ancient India, P. 174, Also see, Sir V.A Smith, The Early History of India, P.217

[13] Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.99

[14] Ibid, P.34

[15] Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Rahnumai Taxilla, Calcutta, Government of India Printing Press 1924, P.144


Saturday, August 4, 2012

Profesor Amerika: Yesus Ternyata Seorang Muslim



                                                                                                       Reporter: Ardini Maharani
Professor Agama dari Sekolah Tinggi Luther di Iowa, Amerika Serikat, bernama Robert F. Shedinger telah menimbulkan kontroversi saat mengklaim Yesus sebagai seorang muslim dalam buku terbarunya.  Stasiun televisi Al Arabiya, Selasa (24/7), melaporkan pada bagian sampul buku dirilis tahun ini terpajang judul Apakah Yesus Muslim? "Saya menjawab (semua keraguan) dengan bukti-bukti terpercaya," tulisnya di kata pengantar.
Pada 2001, kala memberi materi kuliah Metodologi Islam, seorang mahasiswi muslim mengatakan caranya menerangkan mengenai Islam tidak sama dengan cara diyakininya.
Dalam wawancara, Shedinger mengatakan dari pertanyaan itu memotivasi dirinya berpikir ulang mengenai konsep Islam dan menerapkan pada ajaran agamanya. Posisinya sebagai kepala departemen studi agama memberi dia kesimpulan Yesus seorang penganut Islam, namun belum menjadi agama melainkan gerakan keadilan sosial, seperti ditulis Fox Nation.
"Yesus menjadi simbol keadilan sosial dan itu cocok sekali dengan Islam. Yesus lebih mendekati seorang muslim," katanya.
Islam dibawa Nabi Muhammad menerima wahyu pada 622 masehi dan Yesus sendiri diyakini hidup 600 tahun sebelumnya. Namun perjalanan Yesus sesuai prinsip-prinsip Islam dan semua ditulis dalam buku itu.
Bahasan hubungan Islam dan Kristen juga menjadi ulasan penting. Shedinger memikirkan bagaimana caranya kedua agama itu bekerja sama untuk mempromosikan keadilan sosial di dunia.
[fas]

Tuesday, January 31, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 2

Bukti Dari Buku-Buku Agama Buddha
Bukti dari buku-buku agama Buddha Untuk dimaklumi, kitab-kitab agama Buddha telah memberikan berbagai pembuktian yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Yesus a.s. pasti pernah ke Punjab, Kashmir dan tempat-tempat lainnya.  Aku akan menyampaikan disini pembuktian tersebut agar mereka yang berfikir adil dapat mempelajari serta menyusunnya dalam runutan yang runtut sehingga mendapatkan kesimpulan yang sama.

Yang utama adalah kesamaan gelar-gelar yang disandang oleh Buddha maupun Yesus.  Begitu juga adanya kesamaan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan keduanya.  Yang dimaksud adalah agama Buddha yang terdapat di daerah-daerah di dalam ruang lingkup Tibet sepertiLeh, Lhasa, Gilgit, Hams dan lain-lain yang merupakan tempat-tempat yang terbukti pernah dikunjungi Yesus a.s.

Tentang kesamaan gelar, sebagai contoh jika Yesus dalam ajaran-ajarannya menyebut dirinya sebagai Terang Dunia, begitu juga Gautama digelari Buddha yang dalam bahasa Sansekerta berarti Terang (Sir M .M .W illiams, Buddhism, halaman 23).  Jika  Yesus dalam Injil disebut sebagai Guru, begitu juga Buddha disebut Sasta yang berarti Guru. Kalau Yesus dalam Injil disebut Yang Diberkati, Buddha pun disebut Sugt yang artinya Yang Diberkati.  Yesus dalam Injil juga dikatakan sebagai seorang yang memenuhi tujuan kedatangannya, Buddha pun digelari Sidharta yang berarti orang yang memenuhi tujuan diutusnya. Yesus juga disebut sebagai ‘tempat berlabuh yang letih dan lesu,’ sama dengan Buddha yang digelari Asarn Sarm yang artinya ‘tempat bagi para pelarian.’  Dalam Injil Yesus disebut sebagai Raja, yang diartikan sebagai Raja Kerajaan Sorga, begitu juga Buddha disebut sebagai Raja.

Juga ditemui kesamaan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan seperti penuturan tentang Yesus yang digoda oleh Iblis dengan janji kekayaan dan kerajaan dunia asal beliau mau menyembah Iblis itu, diceritakan bahwa Buddha juga digoda Setan yang menjanjikan kemegahan raja-raja kalau mau meninggalkan kepapaan kehidupannya dan kembali ke istana.Tetapi sebagaimana Yesus tidak mematuhi Iblis, dalam riwayat dikatakan Buddha juga menentangnya.  Lihat juga buku Buddhism oleh T. W. Rhys Davids, halaman 94, serta Buddhism karangan Sir M. M. Williams.  (Buku- buku lainnya adalah Chinese Buddhism karangan Edkins, Buddha karangan O ldenbergyang diterjemahkan oleh W .Hoey; serta Life of Buddha karangan R ickhill).

Jadi gelar-gelar yang disandang Yesus sebagaimana dikemukakan dalam Injil, ternyata juga disandang oleh Buddha dalam kitab-kitab agama Buddha yang sebenarnya disusun dan dikompilasi jauh setelah kodifikasi Injil.  Bedanya hanya kecil seperti peristiwa godaan Buddha oleh Setan lebih panjang dari cerita tentang godaan Yesus dalam Injil.  Menurut penuturan agama Buddha, ketika Setan menawarkan kekayaan dan kemegahan kerajaan, Buddha katanya pada awalnya terbujuk untuk pulang ke rumah, tetapi tidak diturutinya keinginan itu.  Setan lalu datang lagi pada suatu malam sambil membawa semua anaknya guna menakut-nakuti dengan penampilan yang menakutkan.  Setan itu berbentuk ular-ular yang menyemburkan api dan racun tetapi semburan racun itu berubah menjadi bunga sedangkan apinya menjadi lingkaran halo di sekeliling Buddha. Karena tidak berhasil, Setan lalu memanggil enambelas putrinya dan menyuruh mereka memperlihatkan kecantikan mereka kepada Buddha tetapi tetap tidak berhasil.   Setan itu menggunakan segala macam cara tetapi tidak dapat merubah Buddha yang bersiteguh.  Buddha sendiri terus meningkat tahapan spiritualitasnya, sampai akhirnya setelah melalui percobaan yang berat, Buddha bisa mengalahkan musuhnya si Setan.  Cahaya dari Pengetahuan yang Benar terbuka baginya bersama datangnya  fajar pagi dimana ia menjadi mengetahui segala hal.  Saat berakhirnya pergulatan itu dianggap sebagai hari lahir agama Buddha.  Gautama pada saat itu berusia 35 tahun dan sejak itu ia disebut Sang Terang, sedangkan pohon dimana ia duduk saat itu disebut Pohon Terang.  Jika kita buka Injil, kita akan menemukan persamaan godaan kepada Buddha dengan godaan kepada Yesus (Percobaan di padang gurun), bahkan sampai kepada usia mereka saat terjadinya peristiwa itu.  Dari kitab-kitab Buddha dikatakan bahwa Setan nampak kepada Buddha bukan dalam bentuk kasar.  Pemunculannya hanya sebagai tampakan dan bicaranya sebagai bisikan ilham.  Begitu juga kepercayaan umat Kristiani bahwa Iblis tidak muncul dan bicara kepada Yesus secara langsung dengan tubuh fisik.  Pertemuan itu hanya dalam bentuk tampakan yang hanya bisa dilihat Yesus saja, sedangkan bicara Iblis dalam bentuk ilham berupa bisikan jahat ke dalam hati, yang ditolak oleh Yesus.

Kiranya patut kita renungkan mengapa begitu banyak persamaan di antara Buddha dengan Yesus.  Kaum Arya mengatakan bahwa Yesus berkenalan dengan agama Buddha saat perjalanannya di India dan setelah menyerap semua ajaran itu, lalu menyusun Injil ketika kembali ke negeri asalnya di Palestina.  Mereka menganggap Yesus telah menyusun ajaran-ajaran moralnya dengan menjiplak ajaran Buddha, sampai kepada gelar-gelar yang disandang dan cerita tentang godaan Iblis.  Namun ini adalah karangan kaum Arya saja.  Tidak benar jika dikatakan Yesus datang ke India sebelum peristiwa Penyaliban.  Beliau tidak perlu melakukan perjalanan demikian pada saat itu, tetapi ketika umat Yahudi menyangkalnya dan menyalibkannya barulah timbul perlunya perjalanan tersebut.  Berkat rahmat Tuhanlah beliau telah selamat dari kematian di kayu salib.  Karena habis sudah simpati beliau serta perhatian untuk mengajar umat Yahudi akibat dari kedegilan dan kejahilan mereka yang tidak mau menerima kebenaran, Yesus setelah mendapat wahyu Tuhan tentang sepuluhsuku bangsa Israel yang  hilang yang telah pindah ke India maka beliau lalu memutuskan untuk berjalan ke negeri itu. 

Mengingat umat Yahudi di India itu sudah beralih ke agama Buddha maka terpaksalah nabi ini memusatkan perhatiannya kepada para penganut Buddha.  Pada saat itu para pendeta Buddha di negeri tersebut sedang menantikan kedatangan Buddha ‘Messiah’ (Yang Dijanjikan).  Karena itu gelar-gelar Yesus serta ajaran moral beliau seperti ‘kasihi musuhmu,’ serta nubuatan Gautama Buddha tentang kulit beliau yang putih maka para pendeta itu menganggap Yesus sebagai Buddha.   Kemungkinan beberapa atribut, fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, secara sadar atau tidak, telah diasimilasikan kepada Buddha, mengingat kemampuan umat Hindu dalam mencatat sejarah memang kurang begitu terampil dan tertata rapih.  Sejarah kehidupan Buddha tidak pernah ada catatannya sebelum masa Yesus.  Karena itu para pendeta Buddha memiliki kesempatan untuk melekatkan kepada Buddha apa saja yang ingin mereka kemukakan. Jadi kemungkinan setelah mereka mengetahui fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, mereka mencampurkan semua ini dengan berbagai hal karangan mereka sendiri dan menyatakannya sebagai bagian dari agama Buddha.  (Kita tidak akan m engatakan bahwa agama Buddha dari awalnya tidak mengandung ajaran-ajaran moral, yang aku maksudkan adalah bagian-bagian dari Injil seperti perumpamaan-perumpamaan dan ajaran lainnya, tidak ragu lagi ditambahkan ke dalam kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri India). Berikut aku akan membuktikan bahwa ajaran moral dari Injil seperti juga gelar Terang Dunia dan lain-lainnya, juga dicatat sebagai bagian dari kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri ini setelah peristiwa penyaliban.  Ada kesamaan lain di antara Buddha dan Yesus yaitu kitab agama Buddha menyatakan kalau Buddha sedang berpuasa selama empat puluh hari ketika digoda oleh Setan. Pembaca Injil bisa membaca bahwa Yesus pun saat itu sedang berpuasa empat puluh hari.  Demikian banyak persamaan dalam ajaran-ajaran moral di antara ke duanya itu sehingga bagi mereka yang mengenal kedua agama tersebut merupakan hal yang mengherankan. Sebagai contoh, jika Injil mengatakan ‘jangan kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, kasihilah musuhmu, hiduplah dalam kemiskinan, jauhi sombong, kepalsuan dan kerakusan’ maka hal yang sama juga terdapat dalam ajaran Buddha.  Bahkan ajaran Buddha lebih jauh lagi dengan memasukkan larangan membunuh walaupun hanya semut dan serangga karena dianggap sebagai dosa.  Pokok ajaran Buddha adalah‘kasih kepada seluruh dunia, mengejar kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dan semua hewan, pengembangan semangat persatuan dan kasih sesama.’ Begitu pula ajaran Injil.

Hal lainnya seperti sebagaimana Yesus mengirim murid-muridnya ke berbagai negeri, disamping beliau sendiri juga bepergian, dalam kitab Buddha pun terdapat hal serupa. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams mengemukakan bahwa Buddha mengutus murid-muridnya untuk mengajar dengan mengatakan kepada mereka:
Pergilah dan mengembaralah ke semua tempat demi kasih kepada dunia dan kesejahteraan dewa-dewa dan manusia.  Pergilah ke berbagai arah tujuan.  Ajarkan doktrin (Dharham) ini, pujaan (Kalayana) di awal, tengah dan di akhir, dalam semangat (Artha) dan dalam harfiah (Vyanjana).  Ajarkan cara hidup menahan diri dengan sempurna, tidak mengumbar nafsu dan selibat (Drahmacaryam). Aku sendiri juga akan pergi untuk menyampaikan ajaran ini’ (Mahavagga 1.11.1).  (Sir M .M .W illiams, Buddhism, John M urray, London, 1889, halaman 45)  Dikatakan Buddha pergi ke Benares (sekarang Vanarasi) dan melakukan berbagai mukjizat  di daerah itu.  Buddha menyampaikan khutbah impresif di atas bukit seperti juga yang dilakukan Yesus.

Kitab-kitab itu juga menyatakan jika Buddha biasa mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yaitu memberikan penjelasan masalah-masalah spiritual melalui analogi-analogi fisikal.  Kita mengetahui bahwa ajaran-ajaran moral itu dan cara pengajaran melalui perumpamaan-perumpamaan adalah metoda yang biasa digunakan Yesus a.s.  Semua ini beserta hal-hal lainnya cenderung mengindikasikan jika ajaran agama Buddha merupakan imitasi dari ajaran yang dibawa Yesus. Beliau pernah berada di India, pernah bepergian kemana-mana dan bertemu dengan para penganut agama Buddha. Mereka ini mengetahui kalau beliau itu seorang kudus yang memberikan mukjizat-mukjizat, lalu mencatat semuanya itu dalam kitab-kitab mereka dan mengatribusikannya kepada Buddha. Hal ini wajar saja karena sudah fitrat manusia untuk mengambil bagi dirinya apa-apa yang dirasanya baik dan bagus, termasuk mencatat dan mengingat ucapan-ucapan seseorang yang dianggapnya luar biasa.  Jadi kemungkinan besar para pengikut agama Buddha tersebut telah mereproduksi keseluruhan rangkuman Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri, termasuk mengenai puasa empat puluh hari, godaan Setan, kelahiran tanpa bapak, ajaran- (Ditto, halaman 94), ajaran moral, gelar Terang Dunia, penyebutan diri sebagai Guru dan pengikutnya sebagai murid.  Kalau dalam Injil Matius 10:8 - 9 dikatakan: ‘Jangan kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu’ begitu juga perintah Buddha kepada para muridnya. Sebagaimana Injil menyarankan hidup selibat, begitu juga ajaran Buddha.  Gempa bumi yang terjadi ketika penyaliban Yesus, juga dikatakan terjadi pada saat wafatnya Buddha.

Semua titik kesamaan dalam ajaran-ajaran keduanya hanya mungkin timbul karena kenyataan adanya kunjungan Yesus ke India yang merupakan berkah bagi para pengikut agama Buddha karena mereka bisa memperoleh ajaran-ajaran beliau yang mulia. Adanya ajaran-ajaran Yesus dalam kitab-kitab Buddha juga menunjukkan kalau Yesus a.s. pada waktu itu dihormati dan dianggap sebagai Buddha sendiri.  Sebenarnya merupakan suatu keajaiban bahwa baik Buddha mau pun Yesus biasa mengajar para murid mereka dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan seperti yang ada di Injil.  Dalam salah satu perumpamaan yang mirip sekali dengan Injil itu, Buddha mengatakan:
Sebagaimana petani yang menyemai benih tidak dapat mengatakan bahwa biji ini akan membesar hari ini dan bertunas besok, begitu juga para murid; ia harus mengikuti ketentuan, melakukan meditasi, mempelajari ajaran; ia tidak akan bisa mengatakan bahwa hari ini atau besok aku akan diserahkan.’ (Ditto, halaman 51.12).   Perumpamaan lain yang diberikan Buddha adalah: ‘Sebagaimana sekelompok rusa yang hidup di hutan dan datang seorang manusia yang membukakan jalan yang salah maka rusa itu akan menderita; tetapi jika datang seseorang yang membukakan jalan yang aman maka rusa itu akan berbahagia.

Begitu juga orang-orang yang hidup mencari kenikmatan akan datang yang jahat untuk membukakan pintu delapan jejak yang salah . . . (Buddha, His Life, His Doctrine, Order; Hermann Oldenberg, halaman 191- 192).

Buddha juga mengajarkan: ‘Kesalehan adalah harta yang aman yang tidak akan bisa dicuri orang. Ini adalah harta yang menemani orang setelah kematiannya, ini adalah harta yang menjadi sumber semua pengetahuan dan kesempurnaan.’  Kita mengetahui bahwa ajaran Injil juga sama.  Naskah-naskah Buddha mengenai ajaran-ajaran ini berasal dari periode tidak berbeda jauh dengan periode kehidupan Yesus, bahkan mungkin sama periodenya. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams di halaman 45 mengemukakan: ‘Ajaran moral agama Buddha amat mirip dengan ajaran agama Kristen.’ Aku sependapat dan aku mengakui bahwa keduanya sama berkata:‘Jangan mencintai dunia, tidak juga kekayaan; jangan membenci musuhmu; jangan melakukan kejahatan; taklukkan kejahatan dengan kebaikan; lakukan kepada orang lain sebagaimana engkau ingin mereka memperlakukan kamu’ semuanya itu menunjukkan kemiripan yang luar biasa di antara Injil dan ajaran Buddha, sehingga rasanya tidak perlu disebutkan lebih banyak lagi rincian lain.

Naskah-naskah agama Buddha juga mengemukakan kalau Gautama Buddha pernah menubuatkan kedatangan Buddha yang kedua yang diberi nama Metteya.  Ramalan ini dimuat dalam kitab Laggawati Sutatta yang dikemukakan oleh Oldenberg (Dr. H ermann 1 .Oldenberg ,Buddha) dalam bukunya pada halaman 142 dan berbunyi:
Ia akan menjadi pimpinan dari para pengikut yang berjumlah ratusan ribu sebagaimana aku ini sekarang menjadi pemimpin dari para pengikut yang berjumlah ratusan.’

Untuk diketahui bahwa perkataan Masiha dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan Metteyya dalam bahasa Pali. Umum diketahui jika suatu kata diterjemahkan ke bahasa lain seringkali mengalami perubahan.

Sama dengan perkataan dari bahasa Inggris jika dialihkan ke bahasa lain juga sering mengalami perubahan. Contohnya, Max Muller dalam bukunya Sacred Books of the East, jilid 11, halaman 318, mengatakan bahwa kata ‘th’ dalam alfabet Inggris berubah menjadi ‘s’ dalam alphabet Arab atau Parsi.  Karena itu kita bisa memahami jika kata Messiah berubah menjadi Metteyya dalam bahasa Pali, yang berarti bahwa Metteyya yang akan datang menurut ramalan Buddha itu tidak lain adalah Messiah sendiri, tidak ada yang lainnya.

Temuan itu mendukung fakta tentang nubuatan Buddha yang menyatakan bahwa di dunia ini ajarannya tidak akan berumur lebih dari lima ratus tahun dimana pada saat kemunduran ajaran maupun para pengikutnya akan datang satu sosok Metteyya ke negeri itu yang akan menghidupkan ajaran itu kembali.  Kita tahu bahwa Yesus datang lima ratus tahun setelah Buddha dan pada saat itu sejalan dengan nubuatan Buddha, agama Buddha sedang menurun pamornya.  Setelah kelepasan dari penyaliban, Yesus datang ke negeri ini dan umat Buddha mengakui dan memperlakukan beliau dengan sangat hormat.  Tidak diragukan lagi jika ajaran moral dan spiritual sebagaimana disampaikan oleh Buddha telah dihidupkan kembali melalui kemunculan Yesus.

Umat Kristiani mengakui bahwa Khutbah di Bukit dan berbagai ajaran-ajaran moral yang ada di Injil adalah sama dengan yang dikhutbahkan Buddha kepada dunia lima ratus tahun sebelumnya.   Mereka ini juga menyatakan bahwa Buddha tidak saja menyampaikan doktrin-doktrin moral tetapi juga berbagai kebenaran lainnya.  Dalam pandangan mereka, gelar Terang Asia yang diterapkan pada Buddha adalah tepat sekali.  Sejalan dengan nubuatan Buddha, Yesus muncul lima ratus tahun kemudian dan sebagaimana diakui para cendekiawan Kristiani, ajaran beliau identik dengan ajaran-ajaran Buddha.  Bisa disimpulkan disini bahwa Yesus datang atau muncul dalam ‘bayangan’Buddha.  Dalam buku Oldenberg yang mengutip kitab Laggawati

Sutatta mengatakan bahwa penganut agama Buddha dalam melihat ke masa depan, mereka menghibur diri dengan pemikiran bahwa sebagai pengikut Metteyya mereka akan memperoleh keselamatan karena dalam nubuatan mengenai Metteyya disiratkan agar para penganut tersebut harus menemukannya. Pernyataan kitab itu menguatkan keyakinan bahwa sebagai petunjuk kepada mereka, Tuhan telah menciptakan dua kerangka kondisi, pertama, sejalan dengan gelar Asaf (Dalam Perjanjian Lama ada 29 kali disebut nama Asaf, antara lain dalam 1 Tawarikh 16:5),  sebagaimana disinggung dalam Perjanjian Lama yang artinya ‘dia yang menghimpun orang’ pasti Yesus telah berkunjung ke negeri dimana umat Yahudi yang terbuang itu bermukim; kedua, sejalan dengan nubuatan Buddha maka pasti para pengikut agama ini telah bertemu Yesus dan menimba ilmu spiritual dari beliau.  Memperhatikan kedua kondisi ini, dapat dipastikan kalau Yesus memang pernah berkunjung ke Tibet.  Melihat kenyataan demikian banyaknya pengaruh ajaran dan ritual agama Kristiani pada agama Buddha, menyimpulkan bahwa Yesus pernah berkunjung ke negeri mereka.  Malah kedatangan beliau itu disambut hangat karena sudah dinubuatkan sebelumnya.

Untuk dicatat, kata ‘Metteyya’ yang sering muncul dalam kitab-kitab agama Buddha pasti berarti sama dengan ‘Messiah.’ Dalam buku Tibet, Tartary, Mongolia karangan H. T. Prinsep di halaman 14 tentang Metteyya Buddha dikemukakan bahwa misionaris awal dari agama Kristen setelah melihat dan mendengar kondisi di Tibet, menyimpulkan kalau di dalam kitab-kitab lama para Lama ditemui jejak-jejak ajaran Kristen.  Di halaman yang sama juga dinyatakan bahwa para misionaris itu meyakini kalau para murid Yesus masih hidup ketika ajaran Kristen mencapai tempat tersebut.  Di halaman 171 dikatakan tidak ada keraguan kalau saat itu umum dipercaya orang akan datangnya seorang Juru Selamat (menurut Tacitus hanya orang Yahudi yang meyakini hal itu) sebagaimana diramalkan sebagai kedatangan Metteyya.  Pengarang buku ini mengemukakan dalam catatan pinggirnya tentang kitab-kitab Pitakkatayan dan Atha Kathayang berisi ramalan kedatangan Buddha yang lain seribu tahun setelah masa Sakya Muni Gautama. Gautama sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah Buddha yang ke 25 dan masih akan datang seorang ‘Bagwa Metteyya’ yang berkulit putih.  Pengarang itu juga menyatakan kemiripan kata Metteyya dengan Messiah.  Gautama Buddha sendiri menubuatkan kemunculan seorang Messiah di negerinya, di antara umatnya dan di tengah para pengikutnya.  Buddha dalam nubuatannya itu menyebut ‘Bagwa Metteyya’ karena kata Bagwa dalam bahasa Sanskerta berarti ‘putih’ dimana Yesus yang asli berasal dari daerah Syria juga berkulit putih.

Penduduk dari negeri tempat nubuatan yaitu bangsa Magadh yang ada di daerah Bajagriha pada umumnya berkulit hitam dan Gautama Buddha sendiri berkulit hitam.  Ia menyampaikan kepada para pengikutnya tentang dua tanda jelas mengenai Buddha yang akan datang yaitu (1) ia akan ‘Bagwa’ atau berkulit putih dan (2) ia adalah ‘Metteyya’ yang berarti pengelana yang datang dari negeri jauh.  Karena itu umat Buddha selalu memperhatikan tanda-tanda tersebut sampai mereka kemudian bertemu Yesus a.s.  Semua umat Buddha saat itu tentunya meyakini bahwa lima ratus tahun setelah Buddha memang telah datang Bagwa Metteyya di negeri mereka.  Jadi tidaklah mengherankan kalau kitab-kitab Buddha kemudian mencatat kedatangan Metteyya atau Masiha ke negeri mereka sebagai pemenuhan nubuatan tersebut.   Kalau saja nubuatan itu tidak terpenuhi pada saat yang sudah ditentukan sebagaimana janji Gautama Buddha maka keimanan para pengikut agama ini tentunya akan terganggu.

Argumentasi lain yang mendukung pemenuhan nubuatan itu adalah naskah-naskah kuno di Tibet dari abad ke tujuh Masehi yang menyinggung nama Messiah yaitu penyebutan nama Yesus a.s. sebagai Mi-Shi-Hu.  Yang menyusun kompilasi naskah tersebut adalah seorang penganut agama Buddha.  Lihat buku A Record of the Buddhist Religion karangan I Tsing, dan diterjemahkan oleh G. Takakusu, seorang Jepang dan diterbitkan oleh Clarendon Press, Oxford.  Adapun I Tsing adalah seorang pengelana Cina.  Dalam apendiks buku itu,


Takakusu menyatakan bahwa dalam naskah-naskah kuno tersebut terdapat nama Mi-Shi-Hu (Lihat halaman 169 dan 223 dari buku I Tsing.)  (Masih).  Jadi dalam buku itu disebut nama Masih yang jelas bukan jiplakan penganut Buddha dari luar, tetapi diambil dari nubuatan Buddha yang kadang ditulis sebagai Masih atau juga Bagwa Metteyya.

Kesaksian lain dari kitab-kitab agama Buddha sebagaimana diutarakan oleh Sir M. Williams dalam bukunya Buddhism halaman 45, diceritakan tentang murid Buddha yang keenam yang bernama ‘Yasa.’  Kata ini rupanya bentuk lain dari ‘Yasu.’  Karena Yesus a.s. muncul lima ratus tahun setelah Gautama Buddha yaitu di abad ke enam, maka beliau disebut sebagai murid ke enam.  Profesor Max Muller dalam berkala The Nineteenth Century dari Oktober 1894 halaman 517, mendukung pandangan itu dengan mengatakan bahwa sejak lama banyak pengarang telah mengatakan adanya pengaruh agama Buddha dalam ajaran Yesus sehingga mereka sedang berusaha mencari dasar historikal bagaimana ajaran Buddha tersebut sampai ke Palestina di zamannya Yesus. Pernyataan seperti itu tentunya mendukung kitab-kitab Buddha yang menyatakan Yasa sebagai murid Buddha karena Profesor Max Muller yang diakui kecendekiawanannya pun mengakui adanya pengaruh agama Buddha pada ajaran Yesus sehingga mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah pengikut Buddha.
Aku sendiri tidak sependapat dengan pandangan demikian karena hal itu sama saja dengan merendahkan martabat Yesus a.s.  Pernyataan dalam kitab-kitab kuno mengenai Yasu sebagai murid Buddha hanyalah contoh dari kebiasaan para pendeta agama ini untuk menyebut seorang mulia yang muncul kemudian sebagai murid dari dia yang muncul sebelumnya. Mengenai banyaknya persamaan ajaran Buddha dengan agama Kristen, aku tidak sependapat dengan para peneliti Eropah yang mencoba-coba mencari pembuktian bahwa ajaran Buddha telah sampai ke Palestina di zamannya Yesus.  Mengapa mereka harus mencari jejak-jejak Buddha dengan cara menapak mundur demikian.  Mengapa mereka tidak mencari jejak-jejak suci Yesus di bumi berbatu Nepal, Tibet dan Kashmir?  Aku yakin para peneliti itu tidak akan menemukan apa yang mereka cari di balik seribu cadar kegelapan.  Ini adalah kerja Tuhan yang melihat dari langit betapa umat manusia yang menyembah seorang manusia lainnya telah melampaui batas dan menyebar ke seluruh dunia, dimana penyembahan Salib dan apa yang dianggap sebagai pengorbanan seorang manusia telah menjauhkan hati berjuta manusia dari Tuhan yang sebenarnya.  Kecemburuan Tuhan telah mengutus seorang hamba-Nya mewakili Yesus dari Nazaret guna memecah salib.  Sejalan dengan nubuatan lama, sosok ini muncul sebagai Al-Masih yang Dijanjikan.  Mulai saat itu tibalah waktunya untuk memecah salib yaitu menelanjangi kesalahan penyembahan Salib sama seperti mematahkan dua keping kayu.  Pemikiran bahwa Yesus naik ke langit meski pun salah, sebenarnya juga merupakan tamsil dari telah lapuknya realitas Messiah sebagaimana jasad mati yang dimakan tanah, dengan keyakinan adanya realitas Messiah yang dipercaya hidup di langit dengan jasad kasar berbentuk manusia.  Dengan demikian merupakan keniscayaan kalau Realitas ini harus turun ke dunia di akhir zaman.  Hal itu sudah terjadi dalam abad ini dalam bentuk seorang manusia.  Ia telah memecahkan Salib serta kesesatan penyembahan kepalsuan yang oleh Rasulullah s.a.w.  dalam hadits mengenai salib itu dipersamakan juga dengan babi yang dibunuh bersamaan dengan pemecahan Salib tersebut.  Tidak berarti hadits itu mengatakan bahwa Al-Masih yang dijanjikan akan membunuh para kafir dan menghancurkan salib-salib.  Pengertian dari memecah Salib adalah Tuhan yang berkuasa dilangit dan bumi ini akan mengungkapkan Realitas tersembunyi yang seketika akan menghancurkan keseluruhan struktur kredo Salib.  Membunuh babi tidak berarti secara harfiah menikam babi-babi tetapi lebih berarti sebagai membunuh sifat-sifat serupa babi seperti kedegilan dalam kepalsuan dan mengajak yang lain agar mengikuti dirinya menyantap sampah.

Para ulama Muslim telah keliru menafsirkan nubuatan tersebut. Di masa Al-Masih yang dijanjikan, perang keagamaan akan dihentikan.

Tuhan akan membukakan kebenaran sedemikian rupa agar setiap orang akan mampu melihat kemilau kebenaran dibanding kepalsuan.  Jangan pernah menganggap bahwa aku datang dengan menghunus pedang.  Sama sekali tidak, aku datang justru untuk menyarungkan kembali pedang-pedang.  Dunia ini sudah terlalu lama berkelahi di dalam kegelapan.  Banyak sudah manusia berniat baik yang diserang atau terluka oleh teman-temannya sendiri.  Sekarang ini kegelapan mulai sirna.  Malam telah berlalu dan fajar telah tiba.  Beberkatlah mereka yang menerima.  Bukti lain yang berasal dari kitab-kitab agama Buddha adalah catatan yang dikemukakan dalam halaman 419 dalam buku Buddhism karangan Oldenberg.  Dalam buku ini yang mengutip kitab agama itu bernama Mahawaga halaman 54 bagian 1 dikemukakan bahwa pewaris Buddha adalah seseorang yang bernama ‘Rahula’ yang sebenarnya merupakan perubahan bentuk dari ‘Ruhullah’ yaitu salah satu gelar Yesus a.s. Menurut kisahnya, Rahula ini adalah putra Buddha yang ditinggalkannya ketika ia mengasingkan diri dengan niatan berpisah selamanya dari isterinya.  Menurut cerita itu Buddha meninggalkan isteri dan anaknya tanpa perpisahan atau penjelasan ketika mereka sedang tidur dan pergi ke negeri lain.  Kisah demikian itu sama sekali absurd, tidak masuk akal dan menghina keagungan Buddha.  Apakah mungkin sosok seperti Buddha melupakan sama sekali tugasnya sebagai suami, tanpa menceraikan isterinya, tidak juga berpamitan untuk pergi dalam perjalanan tanpa akhir, menyakiti hati isterinya tanpa menyurati, tidak ada kasihnya kepada seorang bayi kecil dan membiarkan putranya tumbuh dewasa sendiri.  Orang yang tidak berperikemanusiaan yang mengabaikan isteri dan meninggalkannya tanpa pamit serta menghilang sebagai pencuri dan melupakan tugasnya sebagai suami seperti itu tentunya juga tidak bisa menghormati nilai-nilai moral yang ditanamkannya sendiri.  Naluriku menolak menerima hal itu sebagaimana juga aku menolak cerita dalam Injil tentang Yesus yang katanya menghardik ibunya ketika ibu ini mendekat memanggil namanya.  Jadi walaupun dongeng-dongeng tentang melukai perasaan seorangisteri dan seorang ibu seperti itu ada kemiripannya,  namun kita tidak bisa menerimanya karena jauh sekali dari standar karakter wujud sosok manusia seperti Yesus dan Gautama Buddha.  Kalau Buddha katakanlah tidak mencintai isterinya, apakah mungkin ia tidak memiliki belas kasihan kepada seorang wanita malang bersama putranya yang menderita? Hal seperti itu hanya menunjukkan kedangkalan karakter Buddha yang memedihkan hati meskipun terjadinya sudah beratus tahun yang lampau.  Hanya seorang lelaki jahat yang akan mengabaikan isterinya seperti itu, kecuali jika si isteri itu memang berakhlak buruk, tidak setia, membangkang dan galak terhadap suaminya. Dengan demikian tidak mungkin karakter demikian itu kita sematkan pada diri Buddha karena bertentangan sama sekali dengan ajarannya sendiri.  Jadi jelas kalau cerita seperti itu salah semata.

Kata ‘Rahula’ atau ‘Rhaula’ berasal dari bahasa Iberani ‘Ruhullah.’Mengenai keterkaitan ‘Rahula’ dengan Yesus, sebagaimana dijelaskan di muka adalah karena Yesus datang setelah Buddha, karena adanya kemiripan ajaran Yesus dengan agama Buddha, serta pernyataan umat Buddha bahwa ajaran itu berasal dari Buddha dan karena anggapan bahwa Yesus adalah salah seorang murid Buddha. Sebenarnya bukanlah suatu hal yang ajaib jika Buddha berdasarkan wahyu yang diterimanya, menganggap Yesus sebagai putranya.  Yang menarik juga adalah kisah lain dalam buku yang sama tentang ‘Rahula’ yang kemudian katanya terpisah dari ibunya lalu dibantu seorang pesuruh wanita bernama Magdaliyana.  Kita bisa melihat kemiripan dengan nama Magdalena yaitu salah seorang pengikut Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil.

Semua bukti tersebut kiranya cukup bagi seorang yang berfikir bahwa Yesus pasti pernah berkunjung ke negeri ini.  Kita tidak bisa mengabaikan demikian banyak persamaan ajaran dan ritual di antara agama Buddha dan Kristen. Demikian banyaknya persamaan tersebut mengakibatkan kebanyakan pemikir Kristiani menganggap agama Buddha sebagai agama Kristen di Timur, sedangkan agama Kristen sebagai agama Buddha di Barat.  Memang aneh jika kita perhatikan dimana Yesus mengatakan ‘Akulah Terang Dunia dan Jalan’ begitu juga kata Buddha; kalau Injil menyebut Yesus sebagai Juru Selamat, Buddha pun menyebut dirinya Juru Selamat (lihat Lalta Wasatarra).

Dalam Injil dikemukakan Yesus tidak mempunyai bapak, begitu juga Buddha dikatakan lahir tanpa bapak, walaupun tercatat juga bahwa Yesus mempunyai bapak bernama Yusuf, begitu pula Buddha. Ada juga kisah yang mengatakan terbitnya sebuah bintang saat kelahiran Buddha.  (Yang juga mirip adalah cerita kedatangan malaikat kepada ibunda Yesus dan Buddha menyampaikan kabar akan kelahiran seorang putra agung).  Juga kisah tentang Sulaiman yang memerintahkan seorang anak dipotong dua di antara dua orang ibu yang memperebutkannya, terdapat pula kisah yang sama dalam kitab agama Buddha bernama Jataka.  Semua itu selain membuktikan bahwa Yesus pernah datang ke negeri ini, juga menjelaskan seberapa jauh perhubungan umat Yahudi yang bermukim di negeri tersebut dengan penduduk aslinya.  Kisah mula terciptanya dunia dalam kitab-kitab Buddha sangat mirip dengan cerita yang diberikan oleh Taurat.  Sebagaimana seorang lelaki dianggap lebih superior dari wanita, begitu pula dalam agama Buddha yang lebih meninggikan biarawan dibanding biarawati.  Walaupun agama Buddha meyakini transmigrasi jiwa namun pandangannya tidak bertentangan dengan ajaran Injil.  Menurut agama Buddha, transmigrasi jiwa bisa berbentuk tiga macam yaitu (1) karakteristik seorang yang mati berpindah ke tubuh orang lain, (2) jenis transmigrasi yang diyakini orang Tibet terjadi di antara para Lama dimana semangat, cara-cara dan kekuasan seeorang Buddha atau Bodhi Satwa beralih dan mengaktifkan ke Lama yang ada, (3) bahwa dalam kehidupan ini sendiri seseorang mengalami beberapa peralihan misalnya dari periode yang bersangkutan sebagai seekor banteng, lalu berubah menjadi anjing, semuanya dalam bentuk sikap dan tindakan yang berubah dengan berjalannya waktu.  Kredo ini tidak bertentangan dengan ajaran dari Injil.

Aku telah mengemukakan di atas bahwa Buddha juga meyakini eksistensi dari Iblis, sehingga dengan demikian juga percaya akan adanya akhirat, malaikat-malaikat serta Hari Penghisaban.  Tidak benar jika ada yang mengatakan Buddha tidak meyakini adanya Tuhan.  Yang benar adalah Buddha tidak mempercayai dewa-dewa dalam bentuk berhala dan kitab Veda umat Hindu.  Ia amat mencela kitab Veda dan tidak meyakini kebenaran dari kitab-kitab yang ada.   Masa kehidupan ketika ia masih sebagai seorang Hindu dan sebagai penganut Veda dianggapnya sebagai periode kelahiran yang buruk.  Sebagai contoh, Buddha menggambarkan periode-periode kehidupannya berturut-turut sebagai kera, lalu sebagai gajah, kemudian rusa, lalu anjing, empat kali sebagai ular, setelah sebagai burung pipit, terus sebagai katak, dua kali sebagai ikan, sepuluh kali sebagai harimau, empat kali sebagai unggas, dua kali sebagai babi dan sekali sebagai kelinci.  Ketika sedang periode kelinci, ia mengajar para kera, serigala, lingsang dan saat sedang menjadi roh, mengajar seorang wanita, seorang penari dan Iblis sendiri.  Semua itu mensiratkan phasa-phasa kehidupan ketika sedang sebagai pengecut, seorang yang berperangai sebagai wanita, saat sedang kejam, rakus dan saat percaya ketahayulan.  Rupanya phasa-phasa itu menggambarkan periode ketika masih menjadi penganut Veda,  karena setelah memperoleh pencerahan tidak ada lagi tersisa kehidupan jahat dalam dirinya.  Bahkan ia memaklumkan bahwa dirinya menjadi manifestasi dari Tuhan dan telah mencapai Nirvana.  Buddha juga menyatakan jika manusia meninggalkan dunia ini membawa kelakuan buruk maka ia akan dilemparkan ke neraka dimana penjaga neraka akan menyeretnya ke depan Raja Neraka yang bernama Yamah.  Orang malang itu akan ditanyai apakah ia tidak melihat Lima Suruhan yang telah dikirimkan untuk mengingatkannya yaitu Masa Kanak-kanak, Masa Tua, Penyakit, Hukuman di dunia sebagai bayangan hukumannya di akhirat serta Mayat yang menggambarkan kefanaan alam.  Jika si pendosa menjawab bahwa ia tidak melihat semua tanda itu maka penjaga neraka akan menyeretnya ke tempat hukuman dimana ia akan dirantai dengan besi yang merah membara.  Selain itu Buddha menyatakan kalau neraka itu terbagi dalam beberapa daerah sesuai berbagai kategori para pendosa.  Singkat kata, semua ajaran tersebut berkat pengaruh pribadi Yesus a.s.

Adanya nubuatan yang jelas dalam kitab-kitab Buddha tentang kedatangan Yesus ke negeri tersebut, banyaknya persamaan dalam ajaran dan perumpamaan-perumpamaan Injil dalam kitab agama Buddha yang disusun di masa kehidupan Yesus, semuanya memastikan bahwa Yesus benar pernah berkunjung ke negeri ini.

Saturday, December 17, 2011

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 1


Dalam BAB 4 ini akan banyak di ceritakan mengenai bukti-bukti perjalanan Yesus as dengan beberapa referensi.  Selamat mengkaji...:)

BAB 4
Pembuktian dari buku-buku sejarah Berhubung mengandung pembuktian beberapa jenis maka agar jelas urutannya, bab ini dibagi dalam beberapa bagian.

BAGIAN 1
Buku umat Islam yang menyinggung perjalanan Yesus a.s. Dalam buku sejarah berbahasa Parsi yang terkenal yaitu Rauzat-us- Safa pada halaman 130 sampai 135 diuraikan peristiwa yang singkatnya adalah sebagai berikut:
‘Yesus a.s. diberi nama “Masih” karena beliau adalah seorang petualang besar yang selalu bepergian. Beliau mengenakan selendang wool di kepalanya dan jubah wool untuk tubuhnya.  Beliau menggunakan sebuah tongkat dan mengembara dari negeri satu ke negeri lain dan dari kota satu ke kota lain.  Jika malam turun, beliau akan beristirahat di mana kebetulan beliau berhenti.  Beliau makan buah-buahan hutan, minum air yang terdapat di situ dan berjalan kaki kemana pun perginya.  Salah seorang teman seperjalanan beliau dalam salah satu perjalanan pernah membelikan seekor kuda untuk beliau. Beliau menaiki kuda itu untuk satu hari, tetapi karena sulit mendapatkan pakan untuk kuda tersebut, beliau lalu mengembalikannya.  Mengembara dari negerinya, beliau tiba di Nasibin, beratus-ratus mil dari rumahnya. Beserta beliau ikut beberapa pengikut yang biasa ditugaskannya ke kota-kota untuk berkhutbah.  Di dalam kota itu sendiri beredar kabar burung yang buruk tentang Yesus a.s. dan ibunya. Karena itu gubernur kota tersebut menangkap para murid tersebut dan memanggil Yesus. Secara ajaib Yesus menyembuhkan beberapa orang dan melakukan beberapa mukjizat lain.  Karena itu raja daerah Nasibin dengan segenap tentara dan rakyatnya beriman kepada beliau.  Legenda mengenai “hidangan yang diturunkan dari langit” sebagaimana diutarakan dalam Al-Quran (S.5 Al-Maidah:113 – 115), terjadi pada saat pengembaraan beliau tersebut.’


Perkiraan peta perjalanan Yesus a.s. ke India


Pengarang dari buku Rauzat-us-Safa sayangnya juga mencantumkan berbagai mukjizat Yesus yang sebenarnya absurd dan tidak masuk akal, hal mana tidak akan aku sertakan di sini agar apa yang aku sampaikan ini bebas dari kebohongan dan melebih-lebihkan.  Yang penting adalah Yesus a.s. dalam perjalanan beliau telah sampai ke Nasibain (Nisibis Nasibina dalam tulisan Assyria, nama modernnya Nezib atau Nusaybin adalah kota dan benteng tua di utara Mesopotamia, dekat dengan Mydonia (nama kini Jaghjagha), dihuni sekitar 4000 orang, sebagian besar Yahudi (E ncyclopaedia Britannica, ed. 11)), yang terletak di antara Mosul dan Syria. Jika kita berjalan dari Syria ke Persia, kita akan melewati Nasibain yang terletak 450 mil (hampir 700 kilometer) dari Yerusalem. Kota Mosul terletak 48 mil (60 kilometer) dari Nasibain dan 500 mil (750 kilometer) dari Yerusalem.  Perbatasan Persia hanya berjarak 100 mil dari Mosul, berarti Nasibain terletak 150 mil dari perbatasan tersebut. Perbatasan timur Persia menyentuh kota Herat di Afghanistan yang merupakan kota terletak paling barat di negeri itu. Jarak dari Herat ke perbatasan timur Afghanistan sekitar 900 mil.  Dari Herat ke Khyber Pass (Celah di kaki pegunungan Hindu Kush yang m erupakan pintu masuk ke negeri India, sekarang ini jalan yang menghubungkan kota Kabul dengan Peshawar), jaraknya sekitar 500 mil.

Peta di atas menunjukkan route yang diambil Yesus a.s. dalam perjalanan beliau ke Kashmir. Tujuan perjalanan itu adalah mencari umat Israel yang pada masa raja Shalmaneser dari Assyria telah ditangkap dan dibawa sebagai tawanan ke negeri Media.  Perlu diketahui bahwa dalam peta yang dibuat oleh umat Kristiani, Media terletak di selatan laut Khizar (laut Azov) (Terletak di tepian Ukrainia dan Rusia dengan nama Azovskoye More),  yang sekarang ini termasuk Persia (Iran) sehingga dapat disimpulkan bahwa Media pernah merupakan bagian dari Persia dan bagian timur Persia berbatasan langsung dengan Afganistan. Jika penuturan Rauzat-us-Safa itu benar maka perjalanan Yesus a.s. ke Nasibain itu adalah untuk memasuki Afghanistan melalui Persia guna mengajak kembali ke agama Musa suku bangsa Yahudi yang hilang yang saat itu dikenal sebagai bangsa Afghan. Kata ‘Afghan’ sendiri berasal dari bahasa Iberani yang merupakan derivasi dari arti kata ‘pemberani.’ Rupanya karena pernah jaya dalam kemenangan mereka menggunakan nama itu. (Dalam kitab Taurat ada sebuah janji Tuhan kepada orang Yahudi y a itu jika mereka beriman kepada rasul yang ‘terakhir ’ maka mereka akan dianugrahi kerajaan dan pemerintahan sendiri setelah melalui berbagai penderitaan. Janji itu telah dipenuhi o leh sepuluh suku bangsa Israel yang kemudian menganut Islam. Sebab itulah banyak dijumpai raja-raja agung di antara bangsa Afghan dan Kashmiri. D alam buku sejarah Yunani d i bagian 14 bab ‘Creed of Eusebius’ yang diterjemahkan oleh Heinmer, orang London, pada tahun 1650 yang menuturkan tentang raja Abgerus (penterjemah = namanya dalam sejarah adalah Abgar V Ukkama dari Osroene, Edessa) yang mengundang Y esus agar datang ke negerinya. Rupanya raja itu mendengar kekejaman umat Yahudi kepada Yesus dan menawarkan istananya sebagai tempat p elarian. R aja itu rupanya meyakini beliau sebagai nabi yang benar).  

Jadi Yesus a.s. sampai di daerah Punjab melalui Afghanistan, dengan tujuan akhirnya Kashmir.  Untuk diketahui, daerah Chitral dan sebagian dari Punjab memisahkan Kashmir dari Afghanistan.   Jarak yang dditempuh jika kita berjalan dari Afghanistan ke Kashmir melalui Punjab adalah 80 mil atau 135 kilometer. Yesus a.s. sengaja melalui negeri Afghanistan agar suku bangsa Israel yang hilang yang dikenal sebagai bangsa Afghan mendapat berkah dari kedatangan beliau.  Bagian timur Kashmir berbatasan dengan Tibet sehingga memudahkan Yesus memasuki Tibet dari Kashmir.  Setelah sampai di Punjab, beliau tidak mengalami kesulitan untuk berkelana ke berbagai tempat suci umat Hindu sebelum meneruskan perjalanan ke Kashmir atau Tibet.  Karena itu kemungkinan ada benarnya apa yang dikemukakan naskah-naskah historikal kuno negeri ini bahwa Yesus pernah ke Nepal, Benares dan tempat-tempat lainnya.  Kemungkinan beliau masuk Kashmir melalui Jammu atau Rawalpindi. 

Karena beliau berasal dari daerah berhawa dingin, kemungkinan beliau tinggal di daerah-daerah itu hanya selama musim dingin saja dan menjelang akhir Maret atau awal April lalu memulai perjalanan ke Kashmir.  Mengingat negeri Kashmir mirip dengan negeri Sham (Syria dan daerah sekitarnya), beliau lalu menetap di negeri ini.  Sebelumnya beliau kemungkinan tinggal untuk beberapa waktu di Afghanistan dan bukannya tidak mungkin beliau menikah di negeri ini.  Salah satu suku bangsa di Afghanistan bernama ‘Isa Khel,’ kemungkinan mereka ini keturunan dari Yesus a.s. Hanya sayang sekali jika sejarah Afghanistan tidak tertata rapi sehingga sulit memastikan segala sesuatu dari tawarikh suatu suku bangsa saja. Namun bisa dipastikan jika bangsa Afghan adalah suku bangsa Israel, sama seperti bangsa Kashmir.  Bangsa Afghan mengaku sebagai keturunan dari Qais, sedangkan Qais ini bangsa Israel. Aku tidak akan berpanjang kata mengenai hal ini karena sudah pernah aku bahas dalam salah satu bukuku.  Di sini aku hanya akan menyampaikan kisah perjalanan Yesus melalui Nasibain, Afghanistan, Punjab terus ke Kashmir dan Tibet.  Beliau dijuluki sebagai ‘nabi pengembara,’ bahkan ‘penghulu para pengelana’ karena jauhnya pengembaraan beliau.  Salah seorang cendekiawan Muslim terkenal bernama Ibn-al-Walid Al-Fahri Al- Tartushi Al-Maliki menyatakan dalam bukunya Siraj-ul-Muluk (diterbitkan oleh Matba Khairiyya, Mesir, 1306 H) di halaman 6 tentang Yesus a.s.: ‘Di manakah Isa, sang Ruhullah dan Kalimatullah, imam orang-orang saleh dan penghulu para pengelana?’ yang dimaksudkan bahwa beliau itu sudah wafat, dimana seorang besar seperti beliau itu pun sudah meninggalkan dunia ini.  Perlu kiranya diperhatikan bahwa cendekiawan ini tidak hanya menyebut Yesus sebagai ‘pengelana’ malah juga sebagai ‘penghulu para pengelana.’ 

Begitu juga dalam buku Lisan-ul-Arab dinyatakan bahwa Yesus diberi nama Messiah karena beliau selalu mengembara dan tidak berdiam di satu tempat. Hal yang sama dikemukakan dalam Tajul-Urus Sharah Qamus.  Disini dikatakan bahwa Messiah adalah wujud yang diberkati dengan kebaikan dan rahmat, dengan pengertian beliau memiliki nilainilai yang demikian luhur bahkan sentuhannya pun membawa berkat.  Panggilan itu diberikan kepada nabi Isa a.s. karena Tuhan berkuasa memberikan nama itu kepada siapa pun yang disukai-Nya.  Terbalik dari pengertian ini, ada sejenis Messiah lain yang sentuhannya beracun dan terkutuk karena wujudnya terdiri dari komponen dosa dan laknat sehingga apa yang disentuhnya membawa kepada kegelapan dosa dan kelaknatan. Nama Messiah ini adalah Dajjal, dan begitu juga para pengikutnya. 

Kedua nama yang diberikan yaitu Messiah sang Pengelana dan Messiah yang Diberkati tidaklah bertentangan satu sama lain. Yang satu tidak menafikan yang lain, karena sudah menjadi kebiasaan Allah s.w.t. memberi seseorang beberapa nama yang sepadan dengannya.  Yang jelas tawarikh menurut Islam telah membuktikan Yesus sebagai seorang pengelana sehingga jika semua rujukan harus disalin dari buku-buku sejarah yang ada maka risalah ini akan menjadi sangat tebal. Apa yang telah aku kemukakan di atas kiranya memadai.