GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Ahmadiyah. Show all posts
Showing posts with label Ahmadiyah. Show all posts

Tuesday, October 26, 2021

Bhaghasasi ke Bhaghasasi

Sebenarnya sudah lama ingin ku tuliskan sedikit sajak untuk menandai kepergian ku dari Baghasasi ke satu tempat yang syarat akan saksi sejarah tentang berdirinya Negara ini, yaitu Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun karena masih sibuk kesana kemari dan begitu ada waktu ada masalah teknis pada akunku sehingga baru kali ini aku mulai lagi tulisan di blog ini.  Tak disangka, rupanya Blog ini lebih setia dari pada dia yang meninggalkanmu tanpa basa-basi dengan sejuta alasan tak berarti.  

Entah kenapa hati ini selalu terusik oleh Blog yang tak banyak pengunjung, merasa berdosa telah mengabaikan yang lama setia menemani hari ku. Mungkin seperti itu jugalah perjalanan kita, merindukan yang diangan-angan, dan meninggalkan yang ada, namun setelah beberapa waktu angin rindu dari masa lalu datang berlahan dan menarik-narik kesadaran akan masa lalu. Tentang kenangan yang dahsyat, atau sekedar yang sederhana.  Semua itu menyiksa, sulit untuk tak dicerita.


S. A. J. A. K.   C E R I T A

Hentak sorak sorai kalimat akbar Pencipta seperti menampar telinga

Hampir setiap saat teringang ditelinga

Sepinya belum menghampiri riuahnya sudah tiba lagi

Tekadku ini semua harus diakhiri


Keributannya tentu membangunkan semua mata yang terlelap

Atau mata yang ingin merebut kursi Tuhan di rumah -Nya

Tapi mata srigala itu hanya beberapa gelintir dan tak sebanding

Boleh jadi karenanya, ujian itu tiba

Tetapi masih banyak sekali mata tulus dan taat


Karunia besar Dia memberi kesempatan ku berada diantara konflik ini

Seberapa dewasa iman kita, seberapa baik tutur kita dan seberapa tulus niat kita

Rentan waktu mendokumentasi setiap gerak kami

Pencerahan ke dalam harus segera dibangun dan dikuatkan

Sebesar apa pun Bahtera itu, ketika pengikatnya rapuh 

Maka tak akan sanggup menahan badai


Alhamdulillah tsumma alhamdulillah

Pelan namun pasti, diakhir semester awal kekuatan tumbuh siap melaju

Bagian yang memberatkan laju Bahtera sedikit demi sedikit menghilang

Kericuhan yang muncul mengakibatkan luka sosial

Namun bersamaan dengan itu, ide-ide cemerlang tumbuh 

Bak obat, dia mengobati luka-luka itu


Ketika telah dipastikan luka itu sembuh

Taqdir hidup pun datang

Saat saya harus meninggalkan Bhaghasasi menuju Bhaghasasi yang lain

Namun unsur yang mengganggu itu akan selalu ada

Bahkan saat aku ditempat Bhaghasasi yang baru

Disadarai atau tidak, semua itu justru memajukan kita

Hingga detik ini aku masih berjibaku dengan ego dan kebodohan

Entah sampai kapan

Aku trimo lumakuning ngarsaning  agawe urip

...

Selamat berkhidmat untuk Tuhan


Ngayogyakarta Hadiningrat, 27102021


Tuesday, October 15, 2013

OH...SAPI KU...ENGKAU KENA SKB 3 MENTERI

(Sajak2KiSWAH)  Oleh Dinu T Ahmad
(Tanggapan atas sikap Jahiliyyah Murakkab Polres Soreang Bandung Menyita Sapi milik Jemaat Soreang)

Hai Sapi, ku dengar rintihan do'a mu.Nun jauh dlm lubuk hatimu.Ujarmu dgn lugu."Tuhan, katamu."aku hanya ingin meraih ridhoMu.aku ikhlas dikurbankan pada hari yg agung ini.Tapi ku jadi heran, knpa aku dibawa ke kantor Kepolisian.aku jd bertanya dlm hati.Apa aku tidak layak dikurbankan hari ini? Hai pak Polisi, dengar dulu keterangan ku ini.aku hanya seekor sapi.aku bukan anggota Ahmadi.bahkan aku pun tak punya AIMS.walau sbnrnya Abdi Isin Moal Sorangan.Jgn bawa2 aku dlm nafsu emosimu yg tak berdasar.Jgn bawa aku ke kantor Polisi dgn kasar.Sikap kalian tidak seperti Nabi Ibrahim as , Nabi Ismail as, Siti Hajar.makhluk jenis apakah kalian? Terbuat dari apakah hati & otak kalian?aku hanya milik tuanku yg sudah membeliku.Jadi biarkan tuanku mengurbankanku,untuk meraih ridho Tuhanku, Tuhan tuanku, & Tuhanmu.Tuhan yg sama2 kita sembah sehari semalam lima waktu.Cantiklah dlm bersikap.Tampanlah dlm berpikir.Ttg SKB 3 Menteri aku tak pernah mikir.jangan bawa2 bangsa ku, bangsa Sapi kedalam penafsiran SKB ngawur mu.aku keliru.aku pikir smw manusia sudah paham hal itu.Ternyata kalian lebih dungu dari dugaanku, aku yg hanya seekor Sapi, milik tuanku.Harga diriku jg makin naik & mahal.Jgn halang2i niat baik tuanku, hai kalian yg berotak bebal.Takutlah akan azab Tuhan kita yg kekal.Sesederhana itu, hai manusia. #sapikenaSKB #sapikudisita.

Friday, June 8, 2012

A Man with a Few Words


Mengenang tragedi Cikeusik untuk kita resapi dan maknai bersama.

Hari terakhir Tubagus Chandra

oleh: Fahri Salam
DERING TELEPON seluler jam 11 malam membangunkan Tubagus Chandra. Beberapa saat kemudian dia berkata kepada istrinya, “Ada tugas jaga.”
Ina Sakinah mendengar dalam keadaan mengantuk.
“Mesti ke Pandeglang. Ke Cikeusik,” katanya.
Ina menyahut, “Jangan…” lebih karena dia tahu suaminya tak biasa terjaga malam. Ina memahami kebiasaan Chandra selama delapan tahun pernikahan mereka. Sabtu malam itu, 5 Februari, Chandra tidur pukul 8 malam.
“Ya, udah,” kata Ina, “Saya bawain baju.”
“Ah, bawa baju segala! Besok juga pulang.”
“Ah, besok, besok pulang tea di Kawalu, tahu-tahu seminggu!” jawab Ina.
Ina merujuk kecamatan di Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat panti asuhan Khasanah Kautsar (artinya, “wawasan yang kaya”) milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Panti tersebut digembok oleh Kasat Intel Polres pada 8 Desember 2010. Ada sepuluh anak asuh di panti itu, di antaranya dua anak pengungsi dari Lombok, korban penyerangan dan pengusiran keluarga Ahmadi pada 2001. Chandra terlibat dalam tugas pengamanan di panti itu sesudah gembok dibuka pada 10 Januari 2011.
Tubagus Chandra dan Ina Sakinah menempati sebuah rumah lantai dua di tempat tinggal keluarga almarhum Gunawan Jayaprawira dan Titi Gunawan (75 tahun), daerah Parung, Bogor, dekat komplek pusat JAI. Itu suatu hunian teduh, terdiri beberapa rumah bagi anak-anak Gunawan, dengan halaman luas berisi aneka jenis tanaman dan pohon serta lahan peternakan ikan lele.
Pasangan ini tidur di lantai atas. Lantai bawah digunakan bisnis keluarga Gunawan. Malam itu, sebelum pergi, Ina menyodorkan jaket, yang lupa dibawa Chandra. Saat turun dari anak tangga, Chandra tak menengok istrinya, berdiri di ujung tangga dalam kesadaran mengerlip.
Tubagus Chandra
Tubagus Chandra (foto:Isa Mujahid)
Chandra berangkat dengan mobil Suzuki APV Arena warna putih, bersama Ferdias Muhammad Zafrullah dan Ahmad Masihudin, menuju Serang, titik pertemuan dengan rekan lain dari Bogor dan Jakarta. Isu yang beredar sejak pukul 10 malam: akan ada penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik. “Cikeusik genting!”—bunyi sebuah pesan pendek.
Inilah yang dilakukan Chandra sesudah aktif dalam kegiatan sosial jemaat selama 1,5 tahun terakhir. Dia menyumbang tenaganya untuk tugas jaga yang siap sewaktu-waktu dalam 24 jam. Perawakannya yang tinggi dan besar, berkat rajin fitness, dinilai beberapa kolega termasuk Qamaruddin, mubaligh setempat, dapat memberi rasa “takut” terhadap orang-orang yang sering mengancam jemaat Ahmadiyah.
Sejak 2000, gelombang persekusi terhadap Ahmadiyah di Indonesia mulai bermunculan. Pada 9 Juli 2005, sekelompok organisasi garis keras, termasuk Front Pembela Islam, menyerang basis Ahmadiyah di Parung. Tubagus Chandra turut menjaga demi memertahankan aset dan hak hidup Ahmadi. Pada akhir Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (berdiri 26 Juli 1975), menegaskan lagi fatwa pada 1980 yang “menetapkan Ahmadiyah berada di luar Islam,” “sesat,” dan pengikutnya dianggap “murtad.” Puncaknya, Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri pada 9 Juni 2008: melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah yang dinilai “menyimpang.” Dua beleid ini telah mendorong gelombang kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah, bergerak gencar dari Lombok hingga Jawa Barat, dari Makassar hingga Riau.
Tubagus Chandra satu dari warga Ahmadiyah yang terlibat dalam Pengurus Pusat Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia. Khudam artinya pelayan dari pemuda usia 15-40 tahun. Chandra aktif di bagian jual-beli dan perdagangan, salah satunya, mengupayakan pembebasan lahan-lahan klaim warga sekitar milik jemaat Ahmadiyah, lantas dia pakai sebagai usaha sosial peternakan lele.
Dia hanya mengatakan kepada Ina, “ikut dalam komite keamanan” Ahmadiyah. Ini ucapan Chandra sebelum pergi ke Kawalu. “[A Chan] memang ada interest sebagai guard,” kata Ina, menyebut panggilan akrab Chandra. Ini tampaknya yang menetap dalam diri Chandra: bahkan pada 2000, dia ikut dalam tim keamanan untuk kunjungan Mirza Tahir Ahmad, Khalifah al-Masih IV, ke Indonesia, yang diterima terbuka Presiden Abdurrahman Wahid.
Namun Chandra orang yang irit bicara. Justru sepupunya, Jafarudin, yang mengatakan kepada Ina Sakinah bahwa Chandra mewakafkan tenaganya demi keselamatan jemaat. Ina menyebut Chandra, “a man with a few words.”
Chandra orang yang lebih sering bercanda, termasuk tentang pekerjaan. “Ah, kamu mah tahu beresnya aja. Pokoknya beres,” katanya bergurau saat disinggung usaha keluarga, di mana Chandra turut membantunya sehari-hari. Dia juga punya “rasa sayang yang besar” terhadap anak-anak, demikian Ina menyebut. Mereka mengadopsi anak asuh, kini usia 1,9 tahun, bernama Halimah Putri Hiyawata. Anak itu suka digendong di pundak Chandra. Kelak, saat Chandra tewas, dipisahkan jarak puluhan mil, anak itu menangis kencang.
Pasangan ini bertemu pada Juni 2002 saat Jalsah Salanah, pertemuan tahunan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, berupa ceramah agama—biasa dipakai juga untuk reuni keluarga Ahmadi. Rumah keluarga Gunawan menjadi posko “ristanata” dalam acara tersebut. Ristanata boleh dikatakan ajang fasilitas perjodohan. Ia mencatat lelaki maupun perempuan yang siap menikah lalu membantu berhubungan dengan calon pasangan.
Usia Ina 27 tahun, umur yang dinilai keluarganya sudah cukup layak menikah. Ina bungsu dari lima saudara. Dia bekerja sebagai sekretaris direksi sebuah perusahaan saham di Jakarta. Kakak-kakaknya sering mengenalkan lelaki lajang, dengan latarbelakang pekerjaan yang lumayan. Tapi hati Ina belum tertambat. Pada acara itu, Ina dikenalkan Chandra oleh saudara-saudara tertua.
“Teh, gimana? Mau nggak?” kata mereka, menggoda.
Ina belum memutuskan. Ibunya, Titi Gunawan, minta istikharah. Hati Ina mantap. Pada 14 Desember, Ina Sakinah dan Tubagus Chandra menikah.
Ina melihat sosok almarhum ayahnya, yang meninggal pada 2001, tersemat dalam diri Chandra: seorang pekerja keras. Chandra, kelahiran Banten, lebih muda setahun dari Ina, saat itu bekerja sebagai sales. Dia anak sulung dari tiga bersaudara, besar dengan membantu warung makan ibunya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia mengikuti pendidikan mubaligh tapi tak tamat pada 1994. Latar pendidikan Ina Sakinah adalah kuliah perpajakan.
Perusahaan tempat kerja Ina kolaps pada tahun sesudah pernikahan. Mulanya, mereka menempati rumah di Jakarta. Mereka bekerja dengan segala jenis usaha mandiri, dari jualan sembako, katering, buka warung mie, bolak-balik naik motor berdua. Itu berlangung sekira dua tahun. “Susah seneng bareng-bareng lah,” kata Ina.
Ina keguguran saat janin berusia tiga bulan. Dia memilih istirahat di rumah orangtua. Sejak itu, dan sesudah meneruskan usaha almarhum ayahnya, dia bersama Chandra menetap di rumah orangtua di Bogor—sampai kemudian, selagi Ina mengandung bayi lima bulan, terjadilah peristiwa penyerangan dan pembunuhan di Cikeusik, 6 Februari 2011, yang membawa Tubagus Chandra menjadi syuhada.
Pada 6 Februari, pukul 02.30, sementara Ina terlelap, Chandra dan Ferdias Muhammad serta Ahmad Masihudin tiba di Serang. Ke-14 khudam lain sudah ada di lokasi. Rombongan ini menuju Cikeusik dengan mobil APV dan Kijang Inova. Mereka tiba pukul 8 pagi. Sekitar pukul 10:31, massa penyerang berdatangan menuju rumah Ismail Suparman, mubaligh Cikeusik, yang “diamankan” oleh Polres Pandeglang sehari sebelumnya.
Dalam satu jam sesudahnya, rumah aset Ahmadiyah itu hancur. Para khudam, yang menjaga rumah tersebut, bertahan dengan baku lempar batu. Namun mereka terdesak oleh gelombang massa, dari 500 orang hingga kemudian sekira 1,500an orang. Mereka dikejar-kejar hingga ke sawah di belakang rumah. Terjadi pemukulan bertubi-tubi. Kelak, dari video yang berisi kebrutalan tersebut, menggambarkan tiga tubuh tak berdaya (yang juga telah menjadi mayat) dipukul rama-ramai dengan bambu dan timpukan batu. Salah satunya Tubagus Chandra.
Jenazah Chandra diotopsi pada Senin, 7 Februari, di ruangan forensik rumahsakit daerah Serang. Hasil otopsi menjelaskan detail-detail kerusakan luka pada bagian tubuh depan, lengan, leher, dada, punggung dan tungkai bawah. Singkatnya, nyaris sekujur tubuh terpapar luka.
Detail “kekerasan tumpul” berupa “lecet geser di dada dan wajah” memberi petunjuk “digerakkannya tubuh korban pada permukaan tidak rata,” demikian dokter yang mengotopsi ketiga jenazah. “Digerakkan” artinya diseret. Chandra mengalami “patah berkeping”—istilah medis untuk tulang-tulang yang remuk pada bagian kepala dan sekujur badan. Ada pendarahan yang menyebar luas di bagian otak kepala. Kesimpulannya, kematian korban disebabkan “patah tengkorak.”
Tubagus Chandra (34), Roni Pasaroni (33) dan Warsono (35) telah meninggal saat dibawa dan diperiksa di rumahsakit terdekat di Malingping, pukul 10.55 malam. Kondisi jantung ketiga korban utuh. Perkiraan kematian kurang dari 12 jam sebelum pemeriksaan. Rully, adik Chandra, kelak mengenali jasad Chandra.
Ina Sakinah mendengar ada peristiwa penyerangan di Cikeusik melalui stasiun televisi. Namun kabar kematian suaminya simpang-siur. Dia mencari tahu keadaan suaminya melalui ketua Daerah Pengurus Perempuan JAI Serang. Dari ujung telepon, suara perempuan menyahut di belakang, “Chandra TEWAS!” Ada sanggahan dari si penerima telepon; dia kuatir psikologis dan kesehatan kandungan Ina. Tapi Ina mendesak. Itulah kabar pasti. Bibirnya kelu. Ada sesuatu yang menekan jantungnya. Tubuhnya lemas.
Sementara jenazah Tubagus Chandra dimakamkan di tanah wakaf Ahmadiyah, di desa Gondrong, Tangerang, 8 Februari, Ina Sakinah diminta tetap di rumahnya. Dokter melarangnya melihat penguburan,“Janin lemah, perjalanan jauh!”
Ina periksa rutin sebulan sekali kepada dokter kandungan. Setiap pekan dia juga berobat homeopathy, metode pengobatan dari zat alami tumbuhan, mineral atau binatang. Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifah Ahmadiyah, adalah ahli homeopathy yang melayani pasien dari seluruh dunia.
Inilah Ina Sakinah sesudah kehidupan sepeninggal suaminya: kenangan Chandra tiba-tiba muncul dan berkembang saat dia menaiki anak tangga menuju rumahnya; kenangan itu kian tergambar jelas saat dia berlama-lama menetap di rumahnya. Janinnya bergerak sakit selama dua hari. Dia stres berat. Sampai kami menemuinya, Ina masih memilih tinggal di rumah ibu Titi Gunawan, dihela halaman samping rumah.
Berkat paman dan mubaligh yang menguatkannya, dia dapat pulih dan mulai stabil pada hari Kamis, 10 Februari. Saudaranya terkadang heran, “Kok tenang banget sih? Suaminya juga!” Tapi dia bersandar pada jalan yang telah ditempuh Chandra, betapapun dia shock, “Ya memang sudah pilihan dia. Dia senangnya jaga. Mau gimana?” Ina menyebut masa berkabung ini sebagai “pengalaman rohani.”
Ada sebuah foto yang diambil di depan rumah Ismail Suparman sebelum terjadi penyerangan. Foto itu memerlihatkan rombongan dari Bekasi, Bogor, Jakarta, dan Serang. Chandra berdiri di depan paling kanan, dengan tubuh segagah pegulat, berpose menghadap samping, mengenakan jaket dan celana loreng berkantung. Ibu Titi Gunawan menyodorkan salinan foto itu kepada kami di ruang tamu. Saya sudah melihatnya di internet, dengan gambar yang lebih jelas dan berwarna. Namun, menilik lagi perawakan Chandra yang tegap dan tinggi, saya merasa kecut terhadap apa yang menimpa korban. Dokter forensik mengatakan, “kekerasan yang bertubi-tubi” terhadap korban muncul dari psikologis pelaku yang “punya rasa benci atau marah.”
©sumber dari warga Ahmadiyah Jakarta Utara
©sumber dari warga Ahmadiyah Jakarta Utara
Kebiasaan sehari-hari Chandra, sesudah terlelap di bawah jam sembilan malam, lebih lekas dari istrinya, adalah terjaga sebelum subuh. Mereka lantas menunaikan shalat tahajud. Chandra jarang sekali meninggalkan shalat, selalu tepat waktu, dan istrinya mengatakan, “dia mengajarkan saya tentang sabar.” Chandra juga tak suka minum kopi. Pasangan ini membuka hari dengan bekerja di lantai bawah, sebuah usaha keluarga Gunawan. Chandra rajin memeriksa peternakan ikan lele di samping dan belakang rumah. Dia juga membantu distribusi buletin-buletin terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Dia sering menelepon istrinya, bahkan bisa sepuluh kali dalam sehari, selagi istrinya bepergian mengurusi pekerjaan keluarga. “In, dimana, In?” kata Chandra, bergurau. “Ih…, kenapa sih? Kan lagi kerja,” kata Ina, dijawab juga dengan canda.
Sebelum berangkat ke Cikeusik, Chandra tugas jaga di Cisalada. Ini sebuah desa di Bogor, mayoritas warga Ahmadi, yang diserang 1 Oktober 2010. Sebagian rumah hancur, begitu pula masjid dan madrasah, sekira 50 al-Quran dibakar. Massa penyerang berasal dari dua desa tetangga: Kebun Kopi dan Pasar Salasa. Namun, gelombang ancaman dan isu penyerangan belum juga surut, bahkan belakangan rutin setiap pekan. Chandra sering berkemas menuju Cisalada—yang juga menjadi tempat tinggal seorang nenek yang mengasuhnya.
Firasat datang pada akhir Januari. Ina bermimpi tentang suatu pilihan yang disodorkan kepada suaminya: memilih dia, anaknya, atau jemaat. Chandra lebih memilih jemaat. Pada ujung syuhada, Ina melihat suaminya terbaring di ranjang rumahsakit dengan tubuh setengah telanjang. Ina menghampirinya dengan perasaaan lega; bahwa suaminya dalam kondisi baik. Namun, mimpi bahwa tubuh Chandra telanjang dada, bagaimanapun, memberi celah kekuatiran besar. Rupanya Chandra tewas.
Kami bertanya bagaimana pandangan Ina akan kematian suaminya? Dia bilang,”Saya mah menyerahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. Kita akan kembali [ke Allah Ta’ala]. Jalan dia memang seperti itu.” Ina masih kurang tidur, ada nada traumatis, tapi dia mengatakan berkali-kali bahwa kematian suaminya diserahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.
Dalam 10 tahun terakhir kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah di Indonesia, inilah persekusi yang menelan korban tewas di lokasi penyerangan; dia seorang suami, dia calon ayah. Di parlemen dan birokrasi, plus aksi demo dan pernyataan publik, dari Jakarta hingga Surabaya, mereka bicara pembubaran terhadap Ahmadiyah. Saya mungkin pesimis tapi saya kuatir tiga korban belumlah cukup.
“Almarhum pernah berpesan kepada saya, ‘Kalau anak ini lahir, diwakafkan kepada jemaat. Dan kalau laki-laki, menjadi mubaligh’.” Saat itulah, pada beberapa detik yang menetap—sebuah jeda pemisah—mata Ina Sakinah berkaca-kaca.*

Wednesday, March 14, 2012

Israel : Khalifah Islam memperingatkan Israel tentang serangan ke Iran, memicu Perang Dunia III


“Pada saat ini perang bukan hanya antara Israel dan Iran, tetapi akan memaksa seluruh negara di dunia untuk berperang satu sama lain.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad yang  berdomisili di London dan Imam Jama’at Muslim Ahmadiyya Internasional telah memperingatkan Benjamin Netanyahu, Perdana Mentri Israel dan Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran bahwa konflik diantara mereka saat ini  menampilkan konsekuensi yang tinggi bagi seluruh dunia.
Menurut laporan Televisi, http://www.youtube.com/watch?v=HKFmiLUhR7I sepucuk surat telah dikirim awal minggu ini kepada Perdana Mentri Netanyahu dan Presiden Ahmadinejad.
Hazrat Ahmad telah memperingatkan bahwa serangan Israel atas Iran akan memicu terjadinya Perang Dunia III. TV Anchor menyampaikan dalam liputannya.
“Dan perang akan menciptakan generasi berikutnya yang terluka dan cacat sesuai dengan faktanya bahwa akan terjadi perang nuklir.” Tulis Pimpinan spiritual ini lebih lanjut.
Hazrat Ahmad mengakhiri suratnya dengan memberikan saran kepada Perdana Mentri Netanyahu dan Presiden Ahmadinejad untuk “ menginvestasikan apa yang bisa kalian lakukan demi tercegahnya perang…dan daripada terus memaksa dunia terlibat dalam perang ini..investasikan seluruh upaya untuk mencari solusi atas permasalahan tersbut melalui negosiasi.”
TV chanel Israel menyoroti perkembangan ini dengan mengatakan hal ini sangat penting untuk dicatat bahwa Jama’ah Ahmadiyya memiliki ratusan juta pengikut di seluruh dunia dan Khalifah Muslim, Hazrat Ahmad, yang berperan sebagai Pimpinan spiritual sama penting kedudukannya dengan Paus bagi umat Nasrani.
“Kamu katakan ,berapa pengikut dari Jama’ah ini?” Penyiar TV news Anchor terdengar bertanya dengan kagum. “Ratusan juta…. saja.” Jawab koresponden di lapangan.
Hazrat Ahmad juga telah menulis surat untuk Paus. Hal ini telah dilaporkan sebelumnya bahwa Beliau menyeru Paus untuk menggunakan pengaruhnya guna meningkatkan toleransi dan penegakkan nilai-nilai kemanusiaan di seluruh dunia.
“ Hal ini sangat disayangkan bahwa jika saat ini kita mengkaji kondisi terkini dunia lebih dekat, kita mendapati bahwa pondasi untuk terjadinya perang yang lain telah diletakkan.” Tulis Hazrat Ahmad kepada Pimpinan spiritual Katolik, Desember 2011.
“Ini adalah doa saya bahwa kita semua dapat memahami tanggungjawab kita dan mengambil peranan kita dalam menegakkan kedamaian dan kasih saying serta untuk mengenali Sang Pencipta kita di dunia.” Hazrat Ahmad menambahkan dalam suratnya untuk Paus.

http://www.lankaweb.com/news/items/2012/03/11/israel-khalifa-of-islam-warns-israel-against-attack-on-iran-starting-world-war-iii/

Friday, December 9, 2011

MENGAPA MUSAILAMAH DIPERANGI?


Disalin oleh Abdul Rozzaq dari buku 
(Kebenaran Al-Masih Akhir Zaman’, karya Maulana Rahmat Ali HAOT )

Wajib kita mengadakan penelitian,  apa sebab para sahabat r.a. mengadakan perlawanan kepada Musailamah al Kadzdzab. Apakah hal itu dikarenakan  Musailamah al Kadzdzab telah mendakwahkan dirinya sebagai Nabi atau karena ada hal lain? Jika seorang berkata, bahwa pertempuran para sahabat r.a. dengan Musailamah al Kadzdzab semata-mata karena dia mendakwahkan dirinya sebagai Nabi, maka kita terpaksa mengatakan, bahwa sesungguhnya  orang tersebut tidak mengenal Tarikh dan Hadits; atau kalau dia memang mengetahui, berarti dia sengaja memprovokasi orang banyak; karena di dalam Hadits disebutkan dengan jelas  sekali bahwa Musailamah al Kadzdzab dan para pengikutnya pergi ke Madinah dan berkata kepada Rasulullah saw.: “Kalau engkau mau menjadikan saya khalifah sesudah engkau, maka saya mau ikut” (seperti tersebut didalam Kitab Hadits “Al-Bukhori”, juga 3 Kissah Aswad Ansi), bunyinya begini:

إِنَّ مُسَيْلَمَةَ الْكَذَّابَ قَدَمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ فِى دَارِ بِنْتِ الْحَرْثِ وَكَانَ تَحْتَهُ بِنْتَ الْحَرْثِ بْنَ كَرِيزٍ وَهِيَ أُمُّ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرٍ  فَأَتَاهُ رَسُولُ اللهِ وَمَعَهُ ثَابِتٌ بْنُ قَيْسٍ بْنِ شَمَاسٍ وَهُوَ الَّذِي يُقَالُ بِهِ خَطِيبُ رَسُولِ اللهِ صلعم وَفِى يَدِ رَسُولِ اللهِ صلعم قَضِيبٌ فَوَقَفَ عَلَيْهِ وَكَلَّمَهُ فَقَالَ لَهُ مُسَيْلَمَةُ إِنْ شِئْتَ خَلِيتَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ اْلأَمْرِ ثُمَّ جَعَلْتَهُ لَنَا بَعْدَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَوْ سَأَلْتَنِي هَذَا الْقَضِيبَ مَا أَعْطَيْتُكَهُ
“Musailamah Alkadzdzab sekali peristiwa datang di Madinah. Dia datang di rumah Binti Al-Harits bin bin Harits, dia adalah ibunya Abdullah bin Amir yang  tinggal bersamanya; maka datanglah Rasulullah saw. beserta Tsabit bin Qais bin Syamas kepadanya (Musailamah Kazzab), yaitu yang orang disebut sebagai khatib Rasulullah saw. Di tangan Rasulullah saw terdapat sepotong ranting kayu. Kemudian Rasulullah bercakap-cakap dengan Musailamah. Lalu, Musailamah berkata: “Jika engkau mau, engkau dapat selesaikan masalah ini, kemudian engkau tinggalkan masalah ini kepada kami sepeninggalmu” Maka jawab Rasulullah saw.: “Sekalipun kamu minta ranting kayu ini, aku tidak akan berikan kayu ini kepadamu”.

Sesudah itu Musailamah Kadzdzab pulang dan dari negerinya ia menulis surat kepada Rasulullah saw. Yang bunyinya begini :

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللهِ إِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ سَلاَمٌ عَلَيْكَ  فَإِنِّي قَدْ أَشْرَكْتُ فِى اْلأَمْرِ مَعَكَ وَإِنَّ لَنَا نِصْفُ اْلأَرْضِ وِلِقُرَيْشٍ نِصْفُ اْلأَرْضِ وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ
“Bahwa surah ini dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah, salam sejahtera atasmu. Saya sudah bergabung  dengan engkau, oleh sebab itu maka sebagian  dari tanah ini untuk saya, dan sebagiannya lagi untuk Quraisy. Akan tetapi kaum Quraisy itu telah melanggar batas”. (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1849). Dan lihatlah pula “Hujajul Kiramah” halaman 234).

Dari sini dapat kita ketahui bahwa sebenarnya Musailamah Kadzdzab menginginkan harta dan negera! Tetapi Rasulullah saw. Tidak pernah menyuruh sahabat r.a.. supaya membunuh Musailamah Kadzdzab.

Atas surat itu lalu Rasulullah saw. memberi jawaban, yang bunyinya demikian :

إِنَّ اْلأَرْضَ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Bumi ini akan diwariskan kepada siapa yang dikehendaki (Allah)  dan akibat akhirnya adalah untuk orang-orang muttaki. (lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 175).

Lebih jauh kita dapat mengatakan dengan tegas bahwa Rasulullah saw. dan para sahabat beliau sama sekali tidak pernah menyuruh agar membunuh Musailamahal al Kadzdzab dengan alasan dia mendakwakan sebagai Nabi (penda’waan kenabiannya) itu, seperti terbukti pula dari satu kejadian.

Ketika Rasulullah saw  masih hidup ada seorang bernama Ibnu Shayyad. Orang ini mendakwakan dirinya sebagai Rasul Allah Swt. di hadapan Rasulullah saw. sendiri, tetapi beliausaw sama sekali tidak pernah menyuruh membunuhnya, bahkan waktu Hadhrat Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk membunuh Ibnu Shayyad, Rasulullah saw melarang keras.

Sebenarnya hal-hal yang dijadikan para sahabat Rasulullah saw berperang melawan Musailamah Kadzdzab itu  antara lain:
I.                   Musailamah al Kadzdzab telah merampas dua buah dusun (desa) namanya Hajar dan Yamamah serta sekelilingnya, padahal kedua dusun itu kepunyaan orang Islam. Di salah satu dari dua tempat itu ada seorang tokoh Umat Islam namanya Sumama bin Asal, yang menjadi Hakim dalam daerah itu. Hakim ini telah diusir oleh Musailamah dan ia sendiri yang menggantikannya. (Lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 177).

II.                Kaum Musailamah Kadzdzab (Banu Hanifah) selalu merampoki Banu Amir. (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1737).

III.             Musailamah Kadzdzab membuat rumah sebagai Masjidil Haram (Ka’bah) dan rumah itu dijadikan tempat berkumpul para perampok yang telah melakukan perampokan, lalu bersembunyi di dalam rumah itu.” (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 932).

IV.              Musailamah Kadzdzab sendiri telah membunuh seorang sahabat Rasulullah saw. Namanya Habib bin Zaid, karena dia ingkar terhadapnya dan tidak mau percaya kepada kenabian Musailamah. Badan Habib tersebut kemudian dipotong-potong lalu dibakar.(Lihat Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 241).


V.                 Ada seorang perempuan namanya Sajab binti Harits yang sangat memusuhi Islam. Musailamah menggabungkan dirinya dengan Sajab, kemudian keduanya bersekongkol untuk menghancurkan semua orang Islam.

VI.              Ada 40.000 orang pengikut-pengikut Musailamah yang mau membinasakan orang Islam dan mereka itu telah datang sampai ke negeri Yamamah.

Karena sebab-sebab inilah maka para sahabat Rasulullah saw  menyatakan perang dengan Musailamah Kadzdzab dan para pengikutnya.

Sekarang kita beralih untuk mengadakan penelitian, apa sebab para  sahabat Rasulullah saw telah memerangi Tulaiha bin Khualid Asdi.
1.       Tulaihah telah murtad dari Islam, semasa Rasulullah saw masih hidup. Sesudah Rasulullah saw wafat dan kerajaan Islam telah berada di tangan Khalifah, maka Tulaiha mengumpulkan lasykarnya di negeri Sumera yang hendak menyerang orang Islam di Madinah. (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 1873).
2.      Tulaihah telah mengirim saudaranya untuk menjadi kepala kumpulan-kumpulan yang memusuhi Islam, seperti Fazara, Gatfan, Thai, Sa’laba, Banu Kahana. Mereka itu berkumpul hendak menyerang negeri Madinah.
3.      Bila Rasulullah saw wafat dan saudaranya mengepalai orang-orang yang telah murtad dari melakukan pembunuhan atas orang Islam, seperti Banu Abas dan Banu Zubian (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1877). Orang-orang itu berkumpul di negera Abrab hendak menyerang Madinah (Lihatlah “Ibnu Khuldum” juz 9 halaman 65 dan “Tibri” juz 4 halaman 1873)
4.      Banu Huzarah yang dipimpin Kharja bin Makhsin menyerang. Tetapi kemudian kalah. Lalu dia menggabungkan diri dengan Tulaiha dengan niat hendak menghancurkan Islam.
5.      Ada seorang bernama Ujina bin Hisan, yang kerjanya sering merampas harta orang Islam. Kemudian ia menyatakan dirinya Islam adalah juga  dari golongan Tulaiha. (Lihatlah Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 232).
6.      Semua golongan tersebut  sangat banyak melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Islam, mereka memotong hidung dan telinga, banyak pula orang-orang Islam yang mereka lemparkan kedalam api dalam keadaan hidup. Untuk menerangkan betapa kejamnya golongan tersebut dalam menganiaya orang-orang Islam, sebagai contoh kongkritnya cukuplah dengan memaparkan kutiban dari Tibri berikut ini:

وَلَمْ يُقْبَلْ خَالِدٌ (بَعْدَ هَزِيمَتِهِمْ) مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَسَدٍ وَغَطْفَانَ وَلاَ هَوَازِنَ وَلاَ سَلِيمَ وَلاَ طَئِي إِلاَّ أَنْ يَأْتُوهُ  بِالَّذِينَ حَرِّقُوا وَمَثِلُوا وَعَدُوا عَلَى أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ فِى حَالِ رِدَّتِهِمْ
“Bani Asad, Bani Gatfan, Khawazin, Salim, Thai telah memotong-motong telinga dan hidung orang-orang Islam” (Lihatlah “Tibri” juz 4 halaman 1900; “Ibnu Khuldum” juz 2 halaman 194).

7.      Kasa bin Mahsan dan Sabad bin Akram dua orang sahabat r.a. yang masyhur telah dibunuh oleh Tulaiha dan saudaranya. Setelah kedua sahabah r.a. itu mati, lalu diinjak-injaknya pula. (Lihat “Tibri” juz 4 halaman 1888 dan Tarikh “Khamis” juz 2 halaman 230).

Inilah sebab-sebab yang dijadikan alasan para sahabah Rasulullah untuk berperang melawan Tulaiha.

Akhirnya Tulaiha meminta ampun di masa Hadhrat Khalifah Umar ra. Tetapi beliau belum dapat memberi ma’af kepadanya. Pada suatu ketika di dalam satu peperangan, Suranbil ibni Hasna, sahabah Rasulullah saw. berhadapan dengan seorang kafir yang sangat kuat dan tangkas. Orang kafir itu hampir saja menewaskan jiwa Suranbil, tetapi Tulaiha tiba-tiba mencabut senjatanya dan langsung membunuh orang kafir itu, hingga Suranbil selamat. Bila orang-orang Islam mengetahui keadaan itu, maka tahulah mereka bahwa di dalam dada Tulaiha sebenarnya masih ada keimanan kepada Islam. Oleh sebab itu maka orang-orang Islam lalu memberitahukan hal itu kepada Hadhrat Khalifah Umar dengan maksud supaya Hadhrat Khalifah Umar memberi ma’af kepadanya. Akhirnya Hadhrat Khalifah Umar memberi ma’af kepada Tulaiha tetapi dengan perjanjian bahwa Tulaiha seumur hidupnya harus tinggal berdiam diperbatasan daerah Islam, dan kewajibannya ialah untuk menangkis serangan musuh Islam dari luar.

Dari riwayat ini kita mengetahui, bahwa para sahabah Rasulullah saw memerangi Tulaiha, bukan karena soal Kenabian akan tetapi peperangan para sahabah r.a. dengan Tulaiha itu nyatalah dalam persoalan yang berhubungan dengan politik.

Hal ini sengaja ditulis agak panjang dengan maksud اuntuk mencegah kalau-kalau ada orang yang mengatakan, bahwa di dalam agama Islam ada hukum-hukum yang tidak sesuai dengan akal dan kemanusiaan disamping untuk memberantas paham, bahwa Islam meraih kemajuan karena menggunakan paksaan dan peperangan.

Demikian juga para sahabah r.a. telah berperang melawan Aswad Ansi alasannya karena :
1.       Anwad Ansi telah memberontak dan menyatakan kepada amil-amil (pegawai-pegawai urusan zakat) supaya zakat dikembalikan kepada orang yang punya, dan amil itu tidak boleh membawa zakat itu ke Madinah.
2.      Golongan Mazhaj dan Najrah telah dibawa oleh Aswad dan Ansi untuk menyerang negera Yaman dan kemudian membunuh Hakim yang bernama Sahar bin Bazan dan lain-lain orang lagi.(Lihatlah “Tibri” juz 4 dan Tafsir “Kamil” juz 2 halaman 141).
3.      Aswad Ansi telah membunuh Sahar bin Bazan dan kemudian istrinya dikawini oleh Aswad Ansi dengan paksa.
4.      Banu Najran, satu golongan pemberontak yang dipimpin oleh Aswad Ansi telah mengusir dua sahabah r.a. yang mulia, bernama Amar bin Hazam dan Khalid bin Said, keduanya Hakim dinegeri Najran (Lihatlah Tarikh “Kamil” juz 2 halaman 140).

Itulah sebabnya, maka para sahabah Rasulullah saw. telah berperang melawan Aswad Ansi. Jadi, peperangan tersebut bukan karena soal pendakwahan kenabiannya.
                 
Sebagaimana telah diterangkan, bahwa di antara semua kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Aswad Ansi yang terpenting ialah tentang soal pembunuhan atas diri Sahar bin Bazan dan  ia telah mengambil istrinya dengan paksa, hal-hal yang menunjukkan kebuasan dan kebinatangan Aswad Ansi sudah tentu menimbulkan keamarahan golongan  umat Islam. Begitu juga peperangan yang terjadi dengan Lakid bin Malik Azdi yang asal mulanya dia sudah masuk Islam dan kemudian murtad. Setelah murtad, ia membuat kumpulan orang-orang yang terdiri atas keluarganya dan para sahabatnya. Dia lalu mengangkat dirinya sendiri menjadi kepala negeri Aman, sedang kepala pemerintahan Islam yang sebenarnya ialah Jafar bin Abbad, dia telah diusirnya. (Lihatlah Tarikh “Tibri” juz 4 halaman 1977 dan “Ibni Khuldun ” juz 2 halaman 78, “Tarikh Kamil” juz 2 halaman 156).

Dari keterangan-keterangan tadi pembaca dapat mengetahui bahwa semua peperangan yang dilakukan oleh para sahabat  r.a. dan perselisihan itu terjadi karena:
1.       Orang-orang itu mendakwakan Kenabian baru, yaitu menukar segala peraturan-peraturan dan syari’at yang dibawa oleh Nabi  Muhammad Rasulullah saw. Disamping itu dia tidak mengakui kebenaran Nabi Muhammad saw.
2.      Mereka itu mau menjadi Raja Dunia.
3.      Mereka itu mau harta benda.
4.      Mereka itu membunuh orang-orang Islam dan menganiaya perempuan-perempuan.

Inilah dasar-dasar peperangan yang dijalankan alasan para sahabah Rasulullah saw tetapi bagaimana pula fatwa orang lain? Katanya sah membunuh orang-orang Ahmadiyah. Fatwa ini tidak berdasar Islam, bahkan bertentangan dengan Islam dan pengalaman para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Lihatlah dengan teliti dan hati-hati! Sesuaikanlah dengan perbuatan para sahabah Rasulullah saw. Sebagaimana keterangan yang sangat jelas tersebut, bahwa:
1.   Ahmadiyah tidak menukar syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
2.      Ahmadiyah tidak bertujuan untuk kekuasaan duniawi  atau politik.
3.      Ahmadiyah tidak mencari harta dunia.
4.      Ahmadiyah tidak pernah menganiaya siapapun juga.
5. Ahmadiyah membenarkan Nabi Muhammad Rasulullah saw sebagai Khataman- Nabiyyin .
6.  Ahmadiyah membenarkan, bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. itu Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi Hakaman Adlan adalah berdasarkan atas perintah Nabi Muhammad Rasulullah saw sebagaimana tersebut di dalam Al-Hadits.

Segolongan orang-orang yang belum membaca banyak buku-buku agama, melainkan hanya pernah membaca satu atau dua buah saja, kalau tidak dapat memberi bukti-bukti dari Al-Qur’an dan Hadits tentang ketetapan bahwa sesudah Nabi Muhammad Rasulullah saw tidak ada Labi lagi, lalu berkata: “Ijma’  umat Islam berkata, bahwa sesudah Nabi Muhammad saw tidak ada Nabi lagi, siapa yang tidak percaya kepada ijma’, kafir, katanya. Sebenarnya mereka itu tidak tahu apa arti ijma’. Mereka hanya pernah mendengar perkataan “ijma”, tetapi mereka tidak tahu arti yang sebenar-benarnya.