GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label India. Show all posts
Showing posts with label India. Show all posts

Friday, January 10, 2025

Santo Thomas di India


Ref. buku Jesus Among the Lost Sheep

Oleh Azis Chaudry Terbitan Islamic International Ltd” 1992 hl.64-69

 


St Thomas adalah salah satu dari 12 murid Yesus (Nabi Isa as). Nama lengkap beliau adalah Yudas Thomas. Menurut Injil Apokrif kisah Thomas (Acta Thomae). Nama atau gelar Thomas berarti kembar. (Yohanes 20:24 & 21:2). Dalam Injil Matius dan Markus, Yudas disebut sebagai salah seorang dari saudara-saudara Yesus. Matius 13:55 dan Markus 6:3. Acta Thomae disebut dalam Bahasa Syriac Kisah Yudas Thomas, yakni Judah, si kembar dan di seluruh kitab ini, beliau disebut Yudas dan bukan Thomas. Bahasa Syriac yang sepada untuk Thomas adalah Thomae, dalam dialek Nestorian “Theom”dan dalam Bahasa Arab Tauam. Dalam literatur Bahasa Arab , Thomas umumnya dirujuk sebagai Badad yang menurut aturan tatabahasa dapat juga diucapkan Babad dan kedua kata itu bermakna kembar. [1]

Pandangan ini bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus telah dipertahankan oleh Nazir Ahmad berdasarkan pernyataan-pernyataan dalam Kisah Thomas. Kami tidak setuju dengan hal itu. Tak ada kesaksian sama sekali, bahwa Yesus lahir kembar. Injil-injil tidak menyebutkan, bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus. Tetapi dalam perbedaan-perbedaan pandangan dari periwayat Injil, seseorang tidak dapat menghapus kemungkinan bahwa St Thomas adalah salah seorang murid yang menyertai Yesus ke India.

Thomas sangat setia pada Yesus dan amat ingin mengikuti beliau kemanapun dan bersedia mati demi beliau (Yohanes 10:16). Beliau mengikuti Yesus ke danau Tiberias dan kemudian menyertai Yesus selama hijrah beliau ke India dalam mencari suku-suku Bani Israil yang hilang. Thomas diriwayatkan Bersama Yesus di Magdonia (Nishibis-Mesopotamia) dan Texilla di Barat laut India (sekarang Pakistan). Dari sana beliau kemungkinan menyertai Yesus ke Kashmir. Kemudian sebagaimana adanya jejak suku-suku Bani Israil yang hilang , yang menetap sepanjang Pantai Barat India dari Bombay sampai Srilangka, ST Thomas pergi ke Selatan India Dimana beliau bertabligh dan di syahidkan. Maka St Thomas (sewaktu hidupnya -AMMS) mendirikan gereja-gereja di Selatan India. Menurut tradisi Bani Israil sepanjang Pantai Barat India , nenek moyang mereka telah meninggalkan Yerusalem sesudah penghancuran kuil (biara) yang kedua kali dan tiba dikawasan-kawan ini pada abad ke3 SM. [2]

Menurut Bukhana[3] Sebagian dari mereka berasal dari Barat laut India dan Kashmir.


Kaum Kristen Pengikut St Thomas

Tadisi setempat golongan ini yang menyebut diri mereka sendiri Kaum Kristen pengikut St Thomas meriwayatkan bahwa pendiri gereja mereka adalah St Thomas. Mereka selalu mendakwahkan demikian dan mereka memuliakan St Thomas sebagai orang kudus pelindung mereka. Kemudian golangan ini dipengaruhi oleh ajaran Kristen Nestorian. Asal keimanan Kristen Nestorian ini adalah signifikan bahwa mereka tidak mempercayai bunda Maria dan tidak mempercayai keputraan Yesus (sebagai anak Tuhan -MA).[4] Yang karena itu mereka diperlakukan zhalim, ketika penjajahan Eropa datang di Selatan India.

Dari sebuah gereja permulaan di Edessa (kini Urfa di Timur Turki) ada hubungan dengan gereja di India ini. Max Muller telah menetapkan, bahwa Bahasa Pahlavi diucapkan di Edessa dan menarik bahwa prasasti ditemukan di geraja-gereja di Selatan India.

Tradisi-tradisi kuno sehubungan dengan kisah Thomas, mengingatkan St Thomas dengan Endessa dan dan menjadikan beliau penginjil Parthia dan India. Tahun 189M Pantaenius di utus ke India oleh Bishop Demetrius dari Alexandria. Dia mendapati bahwa sebuah gereja telah didirikan oleh seorang rasul (murid Yesus). Hippoclytus salah satu sejarahwan Kristen permulaan, menulis mengenai St Thomas. “Dan Thomas bertabligh kepada orang-orang Parthia, Medes, Persia, Bacterian, India, Hyranean, dan ditikam dengan sebatang tombak di Calamania[5] sebuah kota di India dan dimakamkan di sana.[6]

Assemani, yang mengutip berbagai penulis bangsa Syiria, memberitahu kita bahwa St. Thomas merupakan utusan ke Mesopotamia dan India serta menyebutkan suatu tempat yang Bernama “Rumah St Thomas di Kota Maelapore”[7] Maelapore adalah sebuah kota di Madras (India Selatan) Dimana menurut kisah Thomas, beliau dibunuh. Dimasa Raja Alfred dipercayai bahwa St Thomas telah bertabligh dan wafat di India serta dia telah mengirimkan suatu perutusan ke tempat suci St Thomas di India. Marcopolo menulis kira-kira tahun 1294 M juga menyebutkan pensyahidan St Thomas dekat Madras.

 

Kisah Thomas

Kisah Thomas yang kita rujuk ditulis pada permulaan abad ke dua Masehi oleh Leucius, penulis beberapa kisah Apokrif. Dia mendasarkan pada surat-surat tertentu dari St Thomas dan pada keterangan yang diterima dari sebuah perutusan Selatan India melalui Edessa menuju Yerusalem dan Roma.

Kisah Thomas dihimpun secara keseluruhan pada tahun 368 oleh Epiphanius, Bishop Salamia. Kita itu diterima dan dibaca di Gereja-gereja bersama dengan Injil Thomas dan kitab-kitab kanonik lainnya, sehingga fatwa Paus Gelasius (495 M) Ketika kitab itu dikutuk sebagai penyimpangan. Dalam bentuk perobahan sedikit kitab itu dibaca dan diterima, bahkan sampai hari ini di gereja-gereja Assyiria. Kitab itu diterjemahkan dari Bahasa Syriac ke Bahasa Inggris oleh Dr. W. Wright tahun 1971.[8] Kitab itu dimasukkan oleh Dr. Cureton dalam bukunya Ancient Syriac Document pada th 1883.

 

St Thomas Melakukan Perjalanan Ke India

Kehidupan St Thomas seperti yang digambarkan Kisah Thomas dimulai dengan kisah bahwa ketika pembagian tugas dilapangan di antara para murid, India yang ada dalam Kerajaan Parthia jatuh ke bagian Thomas. Lalu dinyatakan bahwa Yesus Nabi Isa as dan Thomas bersama-sama tiba di Magdonia yang merupakan nama lain dari Nisibis[9] Di Mesopotamia. Di sinilah bahwa  seorang pesuruh Bernama Abenes dari Raja Gondophares dari Kerajaan Parthia India, tiba dan mohon kepada Raja Magdonia untuk mengirim seorang arsitek (Juru Tera) untuk membangun sebuah istana dengan gaya Roma. Yesus waktu itu sedang bertabligh pada raja Magdonia dan atas anjuran beliau St. Thmas dikirim ke India. Thomas mengadakan perjanjian melalui laut dari sebuah Pelabuhan Mesopotamia mencapai muara Sungai Indus di India. Melayari Sungai beliau tiba di suatu tempat bernama Attock. Abanes menghadirkan St. Thomas kepada Raja Gondophares di Taxilla (masa itu India Barat Laut) dalam Kerajaan Gondophares.

Kehadiran Yesus (Nabi Isa as) bersama Thomas di Taxilla disebutkan dalam kisah Thomas dengan sangat singkat. Tercatat bahwa keduanya menghadiri pesta pernikahan Abanes (Abdagases) seorang keponakan Raja Gondophares.[10] Kita baca dalah kisah Thomas “Thomas sesudah upacara itu meninggalkan tempat itu. Penganten baru lelaki mengangkat tirai yang memisahkan dia dari pengantin Perempuan. Dia melihat Thomas yang dia sangka sedang bercakap-cakap dengannya. Kemudian dia bertanya dalah keheranan: Bagaimana tuan dapat dijuampai di sini, tidakkah saya lihat tuan pergi sebelumnya?, dan tuan itu (Yesus) menjawab: Saya bukan Thomas tetapi saudaranya”.[11]

Kemudian dinyatakan bahwa sebelum bertolak ke Selatan India Thomas pergi ke suatu Kerajaan lain, tetapi tidak dirinci. Mungkin yang dimaksud adalah Kashmir, sebab Yesus (Nai Isa as) pergi ke sana sesudah kunjungan beliau ke India Barat Laut dan Kawasan Punjab. Kemudian St. Thomas mengikuti jejak beliau semula dan mencapai muara sungai Indus dan mengadakan perjalanan dengan kapal ke Pantai Barat di Selatan Iindia. Beliau mendarat di Kerala, sebuah pulau Laguna dekat Crangonone yang kepala pelabuahannya adalah Muiziris St Thomas bertabligh kepada masyarakat di Pantai Barat. Beliau kemudian diriwayatan pergi ke kota Andra di distrik Andra. Sesudah itu beliau pergi ke Maelapore di Pantai Timur dan berhasil menarik Ratu Tertia (menjadi pengikut Yesus-MA). Hal ini membangkitkan kemarahan Raja Mazdai dan memicu iri hati kaum Brahmana. Mereka menghasut Masyarakat dan St Thomas dibunuh di kota Maelapore, Madras. Beliau dimakamkan di sana. Dalam suatu Kawasan 7 - 8 Mil dari benteng St George (Madras India) berdiri gereja kuno yang besar yang menandai tempat-tempat pensyahidan St Thomas. Secara umum diterima tulang belulang St Thomas dipindahkan dari Madras ke Edessa th. 163 M dan sebuh Gereja dibangun d tempat penguburan mereka.

Riwayat hidup St Thomas di India ini dikuatkan oleh ciri khas Sejarah dan Ggeografi Kawasan itu. Raja Gondophares yang telah disebutkan dalam kisah St Thomas berasal dari dinasti Parthia dan memerintah India Barat Laut dari tahun 21-50 M. setelah meniggalnya Abanes keponakannya melanjutkannya untuk masa singkat.[12] Nama-naam tempat tersebut sehubungan dengan kehidupan St Thomas di India dikuatkan oleh Geografis daerah itu.

 

Prasasti Berbahasa Aramik

Penyelidikan bukti Sejarah lebih lanjut dari kunjungan St Thomas dan Yesus (Isa as) ke India Barat Laut, kita dapati bahwa ada satu prasasti yang menarik di musium Taxilla yang telah digali dari sirkap, Taxilla (kini di Pakistan). Prasasti itu hancur, rusak dan tak lengkap. Menurut Sir John Marshall, Direktur Jenderal Departemen Akeologi British India serta penulis dua buku mengenai Taxilla, prasasti ini berasal dari abad pertama Masehi.[13] Itu merupakan bagian dari pilar kenangan pualam putih bersegi delapan yang dibangun dalam suatu tembok sebuah rumah yang digali di Taxilla. Prasasti yang digali pada pilar ini adalah berbahasa Aramik, suatu dialek Ibrani yang dengan itu Yesus dan murid-muridnya berbicara.

Nazir Ahmad penulis buku “Jesus in Heaven on Earth” membahas prasasti ini dalam bukunya. Beliau menulis “adanya prasasti dalam Bahasa Aramik ini merupakan hal Ajaib. Tetapi karena kehadiran Yesus  dan St Thomas di Taxilla hal ini tak dapat diterangkan dengan hipotesa lain. Sejauh ini tak ada usaha telah dibuat untuk menerangkannya walaupun segera setelah penemuannya usaha-usaha dibuat untuk menterjemahkannya. Salinan-salinan catatan itu diterbitkan oleh Dr. L.D. Bernet dan Prof. Cowley dalam The Journal of The Royal Asiatic Society.[14] Catatan-catatan the late F.C. Andreas, terbit Dr. W.H. Winkler menimbulkan komplikasi-komplikasi lebih jauh. Ketidak lengkapan dan kerusakan prasasti ditambah dengan prasangka-prasangka mereka serta kurangnya pengetahuan mengenai latar belakang yang sebenarnya telah membuat kebingangan makin buruk lagi. Mereka berkata bahwa prasasti itu merujuk kepada seorang pejabat tinggi Bernama Romadota dan bahwa juga disebut dua nama lain Nanggaruda dan Priyadarsia. Sisa terjemahan adalah khayalan dan sebab itu tanpa makna. Mereka tak dapat, saya ulangi karena kurangnya pengetahuan yang patut, mengungkapkan bahwa tiga kata ini boleh jadi merupakan gelar dan bukan nama asli. Mereka tidak dapat menerima buku Rahnomai Taxilla oleh Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Asisten pengawas survey Arkeolog India, yang di dalamnya menyebutkan bahwa prasasti itu merujuk pada Pembangunan sebuah Istana (mahal) dari Deobar dan Ivory di Taxilla.[15]  Para cendekiawan barat mengabaikan kenyataan bahwa “nanggaruda secara harfiah bermakna tukang kayu dalam Bahasa Aramik. Ramadota sebenarnya adalah Rudradeva (anak Tuhan) dan Priyadarsia adalah Peridersia (Bapa).  Seperti diakui oleh Sir John Marshall para cendekiawan Barat selanjutnya mengakui atas kemungkinan-kemungkinan belaka. Mereka juga melupakan kenyataan bahwa seorang suci dan saleh di India pada masal itu selalu digambarkan sebagai anak Tuhan atau anak suatu dewa lain.

Tetapi jika kita letakkan kenyataan-kenyataan ini bersama pada pemandangan yang sebenarnya kita terpaksa mencari dan melacak seorang asing di Taxilla yang menjadi tukang kayu dan yang dihubungkan dengan Pembangunan sebuah istana di Taxilla dan yang dihubungkan seorang suci dan saleh yang digambarkan sebagai Rudradeva (anak Tuhan) St. Yudah Thomas kenyataannya merupakan merupakan seorang asing., tukang kayu , anak dari tukang kayu, beliau membangun sebuah istana di Taxilla, dan berada di Taxilla bersama Yesus (Nabi Isa as), Nabi Allah ( Jesus in Heaven on Earth p..348).

Maka menurut Nazir Ahmad, yang adalah seorang peneliti terkemuka, prasasti ini menunjuk kepada kehadiran St Thomas dan Yesus Kristus (Isa Al Masih as) di Taxilla selama abad pertama Masehi. Kemungkinan tahun 48-50 M. Penelitian lebih lanjut untuk mengungkap prasasti ini diperlukan.

Perjalanan St Thomas yang ingin dan tetap mengikuti Yesus kemanapun beliau pergi an menyerahkan hidupnya demi beliau ke India dan bertabligh bahkan syahid menjadi sangat serupa bahwa beliau mengikuti jejak Langkah Yesus Kristus (Isa Almasih) yang mengadakan perjalanan ke Timur dalam mencari suku-suku Israil yang hilang. Hijrah dan kehadiran St Thomas di India mendukung (menguatkan) pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa as) sendiri berhijrah ke India dan akhirnya menetap di Kashmir di mana makam beliau berada di Srinagar.

Alih Bahasa Muharim Awaluddin  

Disadur dari EBK, No.64, Sep 2002 | Ali Mukhayat

 



[1] Lisan-ul-Arab Vol.III,P.48

[2] Rev. Claudius Buchanan, Christian Researchers in India, P.220

[3] Ibid, P.224

[4] W.R. Phillip, The Thirty Four Conferences between Danish Missionaries and Malabar Brahmans (Christians) in The East Indies, XV

[5] Sir William Hunter, India Empire, p. 213

[6] S.D.F. Salmond, the Writings of Hippoclytus, Vol. III, P.131

[7] Assemani, Biblothica Orientalics III:I, P.231

[8] Dr. Wright, The Apocrypahal Acts of Apostles, Vol.III

[9] Dr. Cureton, Ancient Syriac Document, Vol.22, P.141, see also F.C.Burket, Early Chritians Outside the Roma Empire, P.155

[10] Prof. J.W. Fadrquhar, The Aposite Tomas in India, John Reyland’s Library Bulletin, Vol.XII:I

[11] Acta Thomae, Ante Nicene Christian Library, Vol. XX, P.46, see also Sir V.A. Smith, The Early History of India, P. 219, And, Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.15

[12] Prof. E.J. Rapson, Ancient India, P. 174, Also see, Sir V.A Smith, The Early History of India, P.217

[13] Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.99

[14] Ibid, P.34

[15] Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Rahnumai Taxilla, Calcutta, Government of India Printing Press 1924, P.144


Friday, November 25, 2011

BUKU KLARIFIKASI TERHADAP "KESESATAN AHMADIYAH DAN PLAGIATOR" (1)


Berikut ini saya kutipkan tulisan dari sebuah buku yang berjudul Klarifikasi Terhadap “KESESATAN AHMADIYAH” dan PLAGIATOR”. Buku yang di susun oleh Ahmad Sulaiman dan Ekky (Ahmadiyah) guna menjawab dua buah tulisan dari “KESESATAN AHMADIYAH” oleh Hilman Firdaus (Majlis Tabligh dan Da'wah Khusus Muhammadiyah) dan “PLAGIATOR” oleh PROF. DR. M. Abdurrahman MA (Guru Besar Fak. Syariah-Universitas Islam Bandung, Ketua Umum PP Persis, Anggota penasehat MUI Pusat, Anggota Dewan Ulama Internasional Pembebasan Al-Quds Wakil Asia Tenggara)

SEJARAH MIRZA GHULAM AHMAD

Keberatan: 1839: MGA di lahirkan di desa Qadian-India.

Jawaban:
    Beliau lahir di Qadian-India bukan 1939, melainkan tahun 1935 M.
Keberatan: Ghulam Murtaza (Murtadha), ayah kanndung MGA (Mirza Ghulam Ahmad), membantu Inggris membantai para pejuang Islam melawan penjajah inggris di India. Banyak warga sipil muslimin menjadi korban.

Jawaban:
  • Islam hadir di Hindustan melalui orang Arab dan Turki dan berkuasa selama 850 th (1007 M -1857 M). Walau elite kaum Islam berhasil menguasai struktur kekuasaan, memperluas wilayah dan mempengaruhi corak budaya di sana, tetapi Islam tetap menjadi minoritas. Mayotitas penduduk Hindustan beragama Hindu, sebagian lainnya beragama Sikh, Buddha serta yang lainnya.
  • selama beratus tahun dan turun temurun, kondisi internal umat Islam sangat kental dengan persaingan dan pertentangan antar madzhab dan golongan. Hal ini membawa kepada kehidupan agama yang statis, taqlid, fanatik kepada pendapat para ulama masing-masing, tidak kritis dan konservatif (antara lain menentang menterjemahakan Al-Quran kedalam bahasa non-Arab seperti Persia atau Urdu).
  • Pada abad 15, Bangsa Inggris, Portugis, Belanda dan Perancis mulai merambah ke Hindustan untuk kepentingan perdagangan dan pendudukan, kemudian menjadi penjajahan. Hal ini berlawanan dengan penguasa muslim saat itu (Dinasti Mughal). Terjadilah oerlawanan bersenjata pada tahun 1857, apa yang di kenal dengan nama Pemberontakan mutiny. Berakhir dengan kekalahan pasukan Muslim, yang menandakan berakhirnya kekuasaan Islam di Hindustan.
  • Sebelum pecah perlawanan Mutiny 1857, dalam menyikapi makin kokohnya pemerintahan Inggris, umat Islam terbagi dua. Yang pertama bersikap non-kooperatif (diantaranya mengambil jalan perlawanan militer); dan kedua bersifat kooperatif. Yang mengambil sikap kooperatif antara lain Mirza Ghulam Murtadha (ayahanda Mirza Ghulam Ahmad) dan juga ulama serta tokoh Islam Hindustan bukan penganut Ahmadiyah (antara lain Sir Syyid Ahmad Khan, Dr. Mhammad Iqbal, Muhammad Ali). Ref. (Lihat Alam pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, A. Mukti Ali, Mizan, Bandung, 1993; Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Harun Nasution, Bulan Bintang, Jakarta, 1975)
  • Walaa taziru waa ziratuw wizra ukhraa” (Az-Zumar 39:8); Dan tiada pemikul beban akan memikul beban orang lain. Bagaimana pun sikap yang diambil Mirza Ghulam Murtadha seperti di urakan di atas, sama sekali tidak terkait dengan Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaatnya. Pada masa perlawanan Munity tahiun 1857, beliau masih muda (yakni 22 tahun), dan Jemaat Ahmqadiyah sendiri didirikan pada tahun 1889.

YESUS DI INDIA (2)


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

BAB 1

Untuk diketahui, umat Kristiani meyakini Yesus a.s. setelah ditangkap karena pengkhianatan Yudas Iskariot, disalib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik ke sorga. Namun kepercayaan mereka itu tidak didukung oleh Injil sendiri. Injil Matius pasal 12 ayat 40 menyatakan bahwa sebagaimana nabi Yunus tiga hari tiga malam berada dalam perut ikan paus, begitu juga Anak Manusia akan berada tiga hari tiga malam dalam rahim bumi. Yang kita ketahui, jelas bahwa nabi Yunus a.s. tidak dalam keadaan mati di dalam perut ikan, yang paling gawat telah terjadi kemungkinan beliau itu hanya dalam keadaan pingsan.  Kitab-kitab suci Tuhan menyatakan bahwa nabi Yunus a.s. berkat rahmat Allah s.w.t. tetap hidup dalam perut ikan itu, serta keluar dalam keadaan hidup dimana umat beliau akhirnya menerima ajarannya. Kalau Yesus a.s. kemudian dikatakan mati dalam perut ‘ikan’ lalu dimana letak kesamaan antara seorang yang mati dengan orang yang hidup?

Yang sebenarnya terjadi adalah karena Yesus a.s. adalah seorang nabi yang benar dan Tuhan yang mengasihi beliau akan menyelamatkan beliau dari kematian yang terkutuk, maka beliau berdasarkan wahyu telah memberikan perumpamaan bahwa beliau tidak akan mati di atas kayu salib yang terkutuk. Bahkan sebaliknya, seperti juga nabi Yunus a.s. beliau hanya akan pingsan saja. Dalam perumpamaan itu beliau juga mensiratkan bahwa ia akan keluar dari perut bumi dan berkumpul kembali dengan umat manusia, dan seperti juga dengan nabi Yunus a.s., beliau akhirnya akan dihormati oleh manusia.  Nubuatan tersebut telah menjadi kenyataan karena Yesus a.s. setelah keluar dari perut bumi telah pergi menemui suku-suku bangsanya yang bermukim di negeri-negeri di timur seperti Kashmir, Tibet dan lain-lain. Suku-suku bangsa itu adalah sepuluh suku bangsa Israel yang ditawan dan dibawa dari daerah Samaria oleh raja Shalmaneser dari kerajaan Assyria pada 721 tahun sebelum Yesus. (Disamping akibat tindakan raja Assyria tersebut, sudah banyak juga umat Yahudi yang terbuang ke negeri-negeri d i T imur akibat serangan penjarahan Babilonia)

Akhirnya suku-suku bangsa ini bermukim di India dan menyebar ke berbagai tempat di negeri tersebut.  Yesus a.s. pasti telah melakukan perjalanan tersebut karena tujuandiutusnya beliau adalah mencari dan menemukan suku-suku bangsa Israel yang telah menetap di berbagai bagian India karena mereka ini telah meninggalkan agama leluhur mereka dimana sebagian besar telah menjadi penganut agama Buddha dan menjadi penyembah berhala. Dr. Bernier berdasarkan hasil penelitian beberapa orang terpelajar, dalam bukunya Travels in the Mogul Empire menyatakan bahwa penduduk Kashmir pada dasarnya adalah orang Yahudi yang ketika mereka tercerai-berai di zaman raja Assyria telah hijrah ke negeri ini.   (Dr. F rancois Bernier, Travels in the M ogul Empire , A.D. 1656-1668, v ol. VII)

 Adalah keniscayaan bagi Yesus mencari tahu dimana domba-domba Israel yang hilang itu berada, dimana setelah mereka itu tiba di negeri India ini lalu berasimilasi dengan penduduk setempat. Aku akan menyampaikan bukti-bukti bahwa Yesus a.s. memang sampai ke negeri ini untuk kemudian berangsur mengembara sampai ke Kashmir dimana beliau menemukan domba-domba Israel yang hilang itu di antara penduduk yang menganut agama Buddha.  Umat Yahudi ini kemudian memang menerima beliau sebagaimana juga umat nabi Yunus a.s. telah menerima nabinya. Hal ini merupakan keniscayaan karena Yesus berulangkali mengatakan bahwa beliau diutus kepada domba-domba Israel yang hilang.

Terlepas daripada itu, sudah sewajarnya juga beliau lepas dari kematian di atas kayu salib karena dalam Perjanjian Lama ditetapkan bahwa siapa yang tergantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk. Alangkah kejamnya melemparkan hujatan bahwa sosok mulia seperti Yesus Al-Masih itu seorang yang terkutuk karena sejalan dengan pemahaman umum dari mereka yang memahami bahasa tersebut, la’nat atau kutukan itu merujuk kepada status hati seseorang. Seseorang dikatakan dilaknat kalau hatinya karena sepi dari rahmat Tuhan, telah menjadi gelap. Hatinya telah kelam karena kehilangan kasih Allah s.w.t., sunyi sama sekali dari kesadaran keberadaan-Nya, buta mata hatinya sebagaimana halnya iblis dan penuh dengan racun pengingkaran, tidak ada lagi tersisa nur rahmat dan sirna sudah ikatan kesetiaan sehingga antara dirinya dan Tuhan hanya tersisa kebencian, kedengkian sedemikian rupa di antara keduanya hanya ada permusuhan, ketika Tuhan akhirnya jengkel terhadapnya dan ia pun jengkel terhadap Tuhan-nya yaitu ketika ia mewarisi semua sifat buruk dari Iblis. Karena itulah Iblis disebut yang dilaknat. (Lihat Lexicon: Lisan-ul-Arab, Sihah Jauhar, Qamus, Muhit, Taj-ul-Urus).  Jadi jelas bahwa inti kata Mal’un yaitu terkutuk adalah demikian buruknya sehingga tidak mungkin diterapkan kepada seorang yang saleh yang mencintai Tuhan dalam hatinya.

Sayang sekali umat Kristiani tidak merenungi signifikasi daripada keadaan terkutuk ketika mereka menciptakan keyakinan demikian.  
Kalau saja mereka memahami artinya, tidak akan mungkin mereka menggunakan kata yang buruk seperti itu terhadap seorang saleh seperti Yesus a.s. Dapatkah kita mengatakan bahwa hati Yesus itu kosong dari nur Ilahi, bahwa beliau menyangkal Tuhan, bahwa beliau membenci dan menjadi musuh dari Tuhan? Bisakah kita menganggap bahwa Yesus pernah merasa dalam hatinya bahwa beliau terasing dari Tuhan, bahwa beliau musuh Tuhan dan bahwa beliau terbenam dalam kegelapan kekafiran dan pengingkaran? Jika kita menyadari bahwa Yesus a.s. tidak pernah berada dalam kondisi hati seperti itu, dimana hati beliau selalu penuh dengan kecintaan dan nur Ilahi, maka anda sebagai orang-orang bijak dapatkah berfikir bahwa Tuhan telah menurunkan beribu kutukan-Nya berikut semua signifikasi negatif ke dalam hati Yesus? Tidak akan pernah.

Lalu mengapa kita, nauzubillahi-min-zalik, mengatakan bahwa Yesus itu terkutuk? Sayangnya, jika seseorang telah menyatakan pendiriannya mengenai suatu keimanan, sulit baginya melepaskan keimanan tersebut walaupun berbagai absurditas keimanan itu telah dibukakan kepadanya. Keinginan seseorang mencapai keselamatan jika didasarkan pada landasan yang benar adalah suatu yang patut mendapat pujian. Namun tidaklah masuk akal rasanya jika keinginan mencari keselamatan yang dilandasi dengan pengelabuan kebenaran dengan mengatakan seorang nabi suci dan seorang manusia yang sempurna dianggap telah melalui transisi menjauh dari Tuhan-nya. Alih-alih adanya kesatuan hati dan tujuan dengan Tuhan-nya, malah muncul keterasingan, permusuhan dan kebencian; bukan nur malah kegelapan yang telah menyelimuti hatinya.

YESUS DI INDIA


PRAKATA
Yesus di India merupakan terjemahan dari Masih Hindustan Mein
dalam bahasa Urdu yang ditulis oleh pendiri Jemaat Ahmadiyah yaitu
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835 - 1908).
Pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku tersebut adalah
kelepasan Yesus dari kematian yang terkutuk di atas kayu salib serta
perjalanan beliau setelah itu ke India dalam rangka mencari sukusuku
bangsa Israel yang hilang agar dapat dikumpulkannya dalam
satu kandang sebagaimana dikemukakan dalam Perjanjian Baru.
Untuk memperjelas tema yang dikemukakan, banyak bukti-bukti
yang diajukan yang bersumber dari kitab-kitab suci Kristiani mau pun
Muslim, buku-buku medikal/ketabiban kuno, termasuk juga naskah
kuno agama Buddha.
Memulai perjalanannya dari Yerusalem melewati Nisibis dan Iran,
Yesus kemudian sampai di Afghanistan dimana beliau bertemu dengan
umat Yahudi yang bermukim di negeri itu setelah kebebasan mereka
sebagai tawanan raja Nebukadnezar. Dari Afghanistan, Yesus
kemudian ke Kashmir dimana juga bermukim beberapa suku bangsa
Israel. Beliau sendiri kemudian bermukim di negeri ini sehingga
wafatnya. Makam beliau telah ditemukan di jalan Khan Yar di kota
Srinagar.
Di bagian yang membahas bukti-bukti yang diambil dari naskahnaskah
Buddha, Hazrat Ahmad a.s. sudah berhasil menjawab
pertanyaan yang sudah sekian lama membingungkan banyak penulis
Barat. Para penulis itu bingung melihat banyaknya persamaan ajaran
di dalam agama Kristen dengan agama Buddha, serta dalam catatan
riwayat hidup Yesus dan Buddha sebagaimana dikemukakan dalam
kitab suci mereka masing-masing.
Beberapa orang dari penulis itu berpandangan bahwa agama Buddha
dengan satu dan lain cara telah mencapai Palestina dan oleh Yesus
diasimilasikan ke dalam ajaran-ajaran beliau sendiri. Jelas mengenai
hal ini tidak ada bukti historikal sama sekali yang mendukung teori
mereka itu. Seorang kelana/petualang Rusia bernama Nicolas
Notovitch pernah tinggal cukup lama bersama beberapa pendeta Lama
di Tibet dan menterjemahkan beberapa naskah mereka untuknya. Dia
menyimpulkan bahwa Yesus pernah ke Tibet sebelum penyaliban dan
kembali ke Palestina setelah menyerap ajaran-ajaran agama Buddha.
Ini adalah pernyataan yang tidak didukung bukti historis yang dapat
diandalkan. Hazrat Ahmad a.s. menyangkal pandangan tersebut dan
menyatakan Yesus datang ke India setelah penyaliban dan bukan
sebelumnya, dan bukan Yesus yang meminjam ajaran-ajaran Buddha,
justru para penganut Buddha itulah yang telah mereproduksi
kandungan Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri.

Menurut Hazrat Ahmad a.s., ternyata Yesus juga berkunjung ke Tibet
dalam kelananya di India dalam rangka mencari suku-suku bangsa
Israel yang hilang. Beliau menyampaikan ajaran-ajarannya kepada
para pendeta Buddha, antara lain karena mengetahui sebagian dari
mereka adalah umat Yahudi yang telah beralih agama. Para penganut
agama Buddha tersebut sangat terkesan dengan ajaran-ajaran beliau
dan menganggap beliau sebagai manifestasi Buddha dan Sang Guru
yang Dijanjikan. Dengan keyakinan kepada beliau sebagai Guru,
mereka kemudian mencampurkan ajaran-ajaran Yesus ke dalam
naskah kitab-kitab mereka sendiri dan menyatakannya sebagai ajaran
Buddha. Cukup banyak bukti yang mendukung pandangan ini dalam
naskah-naskah kuno agama Buddha.
Masih Hindustan Mein ditulis dalam tahun 1899 dan buku itu menjadi
tanda berakhirnya era dimana selama berabad-abad umat Kristiani
mau pun Muslim meyakini kenaikan Yesus ke langit. Karena buku ini
merupakan buku pertama yang mengupas subyek itu secara rasional,
maka buku tersebut menghasilkan dampak yang luar biasa.
Agumentasi-argumentasi buku itu disiarkan luas dan dalam setengah
abad yang lalu ini telah mencapai keberhasilan besar dalam
menanggalkan sifat ketuhanan Yesus yang salah dan menyampaikan
beliau sebagaimana adanya, yaitu seorang nabi Tuhan.

Di kalangan umat Islam, pengaruhnya begitu besar sehingga Rektor
Universitas Al-Azhar di Mesir mengeluarkan Fatwa yang menyatakan
bahwa berdasarkan Al-Quran, nabi Isa a.s. telah wafat secara wajar.
Adapun pengaruhnya pada umat Kristiani juga amat terasa.
Sebagaimana dikemukakan dalam Kata Pengantar dan juga di bagian
akhir buku, Hazrat Ahmad a.s. semula bermaksud menulis bagian
keduanya berisi evaluasi komparatif ajaran Islam dan Kristen dengan
bukti-bukti kuat yang menjelaskan kebenaran Islam serta pengakuan
beliau sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan (Masih Maud), disamping
beberapa bukti tambahan mengenai perjalanan Yesus di India.
Meskipun tidak ada buku lain yang diberi judul sama, tetapi
sebenarnya Hazrat Ahmad a.s. telah membahas semua permasalahan
ini dalam buku-buku lain, khususnya berkaitan dengan kebenaran
Islam, pengakuan beliau sendiri sebagai Masih Maud dan mengenai
hal wafatnya Yesus.
Terjemahan ke bahasa Inggris dilakukan oleh Qazi Abdul Hamid,
mantan editor mingguan The Sunrise, Lahore, dimana karangan ini
diterbitkan secara serial dalam tahun 1938 - 1939. Pertama kali
diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1944 oleh Nashr-o-Ishaat,
Sadr Anjuman Ahmadiyya, Qadian.
Disamping mereka yang telah membantu dalam produksi buku ini,
terima kasih kami kepada Mr. Maulud Ahmad Khan, mantan Imam
Mesjid London yang telah bersusahpayah mengumpulkan kutipankutipan
dari buku-buku aslinya yang relevan dengan rujukan yang
dikemukakan Hazrat Ahmad a.s. dalam mendukung thesis beliau.
Kutipan-kutipan itu disertakan dalam buku ini dalam bentuk
Apendiks.
Vakil-ut-Tabshir, Tahrik Jadid,
Rabwah, Pakistan
Mei 1962