GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Al-Masih. Show all posts
Showing posts with label Al-Masih. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

YESUS DI INDIA (6)


Rupanya nubuatan dalam Matius 16:28 itu telah menimbulkan kepanikan di antara para pendeta Kristiani karena mereka tidak mampu memberikan penafsiran yang masuk akal sejalan dengan keyakinan mereka. Sulit bagi mereka untuk mengatakan bahwa ketika terjadi penjarahan kota Yerusalem, Yesus turun dari langit dengan segala kemegahan seperti kilat yang menerangi alam dan terlihat oleh semua orang. Begitu juga sulit bagi mereka untuk mengabaikan pernyataan yang mengatakan ‘di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai raja dalam kerajaannya.’ Karena itulah mereka memberikan penafsiran yang direkayasa menjadi pemenuhan nubuatan dalam bentuk penampakan (visi) saja.

Hal itu tidak benar, hamba-hamba Tuhan yang saleh akan muncul sebagai penampakan kepada orang-orang yang terpilih dan sebagai penampakan tidak perlu hanya dalam bentuk mimpi. Penampakan itu bahkan bisa dilihat dalam keadaan terjaga, aku sendiri telah mengalami fenomena demikian. Aku telah sering bertemu Yesus a.s. dalam bentuk Kashaf (penampakan dalam keadaan terjaga) sebagaimana aku juga telah bertemu dengan beberapa nabi-nabi dalam keadaan sadar. Aku juga sudah sering bertemu dengan Junjungan kita nabi besar Muhammad s.a.w. dalam keadaan sadar dan aku telah berbicara dengan beliau dalam keadaan yang demikian jernih yang tidak ada kaitannya dengan tidur atau kantuk. Aku juga sudah berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal di kuburan mereka atau di tempat-tempat lain dalam keadaan jaga dan aku berbicara dengan mereka.

Aku tahu betul bahwa pertemuan dengan mereka yang sudah meninggal dalam keadaan sadar adalah hal yang mungkin. Tidak saja bertemu, tetapi juga berbicara dan bahkan berjabat tangan. Keadaan di antara penampakan dan keadaan jaga tersebut tidak ada perbedaan berarti. Kita menyadari bahwa kita masih berada dalam dunia dimensi ini dengan pendengaran, penglihatan dan bahasa yang sama, tetapi jika direnungi akan memunculkan alam yang lain.

Dunia awam tidak memiliki pengalaman seperti ini karena mereka hidup secara acuh. Pengalaman seperti ini merupakan karunia dari Tuhan untuk mereka yang diberkati dengan indera-indera khusus.  Hal ini adalah fakta yang benar dan aktual. Dengan demikian ketika Yesus muncul kepada Yohanes saat penghancuran kota Yerusalem, walaupun beliau dilihat dalam keadaan sadar, mungkin juga ada pembicaraan di antara mereka serta jabatan tangan, namun kejadian itu tidak ada kaitannya dengan nubuatan dimaksud. Fenomena demikian sering terjadi di dunia ini, bahkan sekarang pun kalau aku meniatkannya, dengan rahmat Allah s.w.t. aku bisa bertemu Yesus atau nabi-nabi lain dalam keadaan jaga. Pertemuan seperti itu tidak memenuhi nubuatan yang terkandung dalam Injil Matius 16:28.

Jadi apa yang terjadi sebenarnya Yesus a.s. sudah mengetahui bahwa beliau akan diselamatkan dari kayu salib dan akan berpindah ke negeri lain. Tuhan tidak akan membiarkan beliau mati secara demikian dan tidak juga akan mengambilnya dari dunia sebelum menyaksikan kehancuran umat Yahudi (di Yerusalem) dengan mata kepala sendiri. Beliau juga belum akan wafat selama buah dari Kerajaan Tuhan yang merupakan karunia surga bagi mereka yang dimuliakan, belum terwujud. Yesus a.s. mengemukakan nubuatan demikian itu untuk meyakinkan para murid bahwa mereka akan melihat tanda-tanda dimana mereka yang mengangkat pedang terhadap beliau akan dibunuh juga dengan pedang dalam masa hidup dan di hadapan beliau. Inilah yang patut diketahui umat Kristiani bahwa tidak ada bukti yang lebih baik daripada ucapan Yesus sendiri berupa nubuatan bahwa beberapa dari mereka masih akan hidup ketika beliau kembali.

Perlu diketahui bahwa Injil mengandung dua jenis nubuatan tentang kedatangan Yesus a.s. yang kedua kalinya yaitu:
(1) Janji kedatangan beliau di akhir zaman dalam bentuk spiritual yang mirip dengan kedatangan kedua kali dari Elia pada masa Yesus. Jadi seperti Elia, sosok itu telah muncul di abad ini dalam diriku, seorang hamba manusia yang datang sebagai Al-Masih yang Dijanjikan mewakili Yesus a.s. Yesus telah menyampaikan kabar kedatanganku di dalam Injil. Berberkatlah mereka yang karena menghormati Yesus lalu merenungi secara jujur dan benar tentang kedatanganku, agar ia selamat dari kejatuhan, (2) Bentuk lain daripada nubuatan menyangkut kedatangan Yesus kedua kalinya adalah dalam bentuk tetap utuhnya nyawa beliau dari pengalaman di atas kayu salib berkat rahmat Allah s.w.t. Tuhan telah menyelamatkan hamba-Nya yang mulia dari kematian di atas kayu salib seperti yang disiratkan dalam nubuatan tersebut di atas.

Umat Kristiani telah keliru mencampuradukkan kedua konteks tersebut, mereka bingung sehingga harus menghadapi banyak kesulitan untuk membenarkan ajaran mereka. Singkat kata, pasal 16 dari Injil Matius tersebut merupakan sebuah bukti penting yang mendukung kelepasan Yesus dari kematian di atas kayu salib.
Dari beberapa kesaksian Injil yang kita ketahui antara lain adalah penuturan Matius berikut ini:
Pada waktu itu akan tampak tanda anak manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat anak manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya’ (Matius 24:30).

Pengertian daripada ayat itu sebenarnya ialah Yesus a.s. mengatakan akan datang saatnya ketika dari langit (karena pengaturan samawi) akan dikemukakan pengetahuan, argumentasi dan bukti-bukti yang akan menihilkan keimanan manusia tentang sifat ketuhanan Yesus, tentang wafatnya di kayu salib, kenaikan beliau ke sorga serta tentang kedatangan yang kedua kali. Tuhan akan membukakan kedustaan dari mereka yang menyangkal beliau sebagai seorang nabi yang benar seperti umat Yahudi misalnya yang menganggap beliau sebagai orang terkutuk karena diperkirakan mati di atas kayu salib, sehingga kepada mereka itu akan dibukakan bahwa Yesus a.s. sebenarnya tidak wafat di salib dan karena itu tidak memenuhi kriteria sebagai orang terkutuk. Begitu juga berbagai bangsa di dunia yang telah membesar-besarkan status beliau yang sebenarnya, akan malu atas kesalahan pandangannya selama ini. Pada masa itu ketika fakta-fakta ini dibukakan, manusia secara metaforika akan melihat Yesus turun ke dunia yaitu di masa kedatangan Al-Masih yang Dijanjikan yang dating menyerupai Yesus, muncul dengan segala tanda-tanda gemilang dan dukungan samawi serta kekuasaan dan kemegahan yang akan diakui dunia.

Penafsiran lanjutan dari ayat di atas mengandung arti bahwa takdir Allah s.w.t. akan membentuk kepribadian Yesus dan mengatur jalan kehidupan beliau sedemikian rupa sehingga ada orang-orang yang jadi membesar-besarkan tetapi ada juga yang mengecilkan arti status beliau. Ada orang yang mengeluarkan beliau dari kategori manusia dengan mengatakan bahwa beliau masih hidup dan sedang berada di langit. Mereka inilah yang mengatakan bahwa setelah beliau wafat di kayu salib, lalu bangkit kembali dan kemudian naik ke langit dengan memperoleh semua kekuasaan Tuhan, bahkan beliau sendiri dianggap Tuhan. Pihak lainnya adalah umat Yahudi yang mengatakan bahwa beliau wafat di kayu salib dan karena itu (nauzubillah-min-zalik) beliau itu terkutuk dan tenggelam dalam kemarahan Tuhan yang tidak menyukainya dan menganggap beliau sebagai musuh yang dibenci, bahwa beliau itu pembohong dan penipu serta Kafir. Pembesar-besaran dan pengecilan arti Yesus ini demikian tidak adilnya sehingga Allah s.w.t. perlu membersihkan nabi-Nya itu dari cercaan demikian. Ayat dari Injil di atas menunjuk kepada fakta tersebut.  Pernyataan bahwa semua bangsa di bumi akan meratap mensiratkan bahwa semua yang disebut sebagai ‘bangsa’ akan meratap saat itu. Mereka akan memukuli dadanya sendiri dan menangis dengan suara keras karena besar kedukaan mereka. Umat Kristiani dalam hal ini perlu mencermati ayat tersebut yaitu mereka harus memperhatikan jika ayat ini mengandung nubuatan bahwa semua bangsa akan meratap, mereka itu tidak bisa mengatakan hal tersebut tidak berkaitan dengan mereka sendiri. Tidakkah mereka juga termasuk kategori ‘bangsa?’ Jika berdasar ayat ini mereka termasuk di antara yang meratap, mengapa mereka tidak mencari keselamatan? Ayat tersebut jelas menyatakan bahwa ketika tanda-tanda Yesus akan terlihat di langit maka semua bangsa akan meratap. Dengan kata lain, jika ada manusia yang mengatakan bahwa bangsanya tidak akan meratap berarti ia telah menyangkal Yesus.

Kelompok orang atau bangsa yang masih kecil jumlahnya tidak akan termasuk ke dalam kategori bangsa sebagaimana tersirat dalam nubuatan tersebut. Mereka ini belum cocok disebut sebagai ‘bangsa’ dan mereka itu adalah kami yang merupakan komunitas satu-satunya yang berada di luar ruang lingkup nubuatan tersebut dimana komunitas kami ini masih sedikit sekali sehingga belum bias diterapkan istilah ‘bangsa.’ Yesus a.s. berdasarkan wahyu samawi mengatakan bahwa ketika tanda muncul di langit maka semua umat di dunia yang karena jumlahnya pantas disebut sebagai ‘bangsa’ akan meratap semuanya, kecuali sekelompok kecil umat yang belum dapat disebut sebagai ‘bangsa.’

Tidak ada umat Kristiani, atau pun Muslim atau juga Yahudi dapat dikecualikan dari nubuatan itu. Hanya Jemaat kami sajalah yang berada di luar ruang lingkupnya karena kami ini baru berupa bibit yang belum lama disemaikan oleh Allah s.w.t. Perkataan seorang nabi tidak mungkin tidak terjadi. Kalau ayat tersebut jelas mensiratkan bahwa semua ‘bangsa’ yang ada di dunia akan meratap, siapa dari umat tersebut boleh mengaku berada di luar ruang lingkupnya? Yesus tidak ada memberikan kekecualian dalam ayat itu. Adapun kelompok yang belum patut disebut sebagai ‘bangsa’ itu saja yang dapat dikecualikan yaitu Jemaat kami ini. Nubuatan tersebut telah dipenuhi dalam zaman ini karena apa yang menjadi penyebab ratapan bangsa itu adalah dibukakannya kebenaran tentang Yesus dan terbongkarnya semua kesalahan-kesalahan akidah yang selama ini sudah berjalan.  Gegap gempita umat Kristiani yang mempertuhan Yesus akan berubah menjadi keluhan dalam. Kedegilan umat Muslim yang menganggap Yesus a.s. telah naik ke langit dengan badan kasarnya, akan menjadi tangis dan ratapan, sedangkan umat Yahudi akan kehilangan semuanya.

Perlu juga diingatkan bahwa yang termasuk sebagai ‘bangsa-bangsa’ di bumi yang akan meratap tersebut, yang dimaksud ‘bumi’ adalah Balad-i-Sham (Palestina dan Syria) dengan apa ketiga bangsa itu terkait. Bagi bangsa Yahudi karena merupakan tempat asal leluhur dan tanah suci mereka, bagi umat Kristiani karena merupakan tempat pemunculan Yesus dimana komunitas Kristen yang pertama timbul dari tempat tersebut, sedangkan bagi umat Muslim karena mereka akan menjadi pewaris tanah tersebut di Akhir Zaman. Kalau kata ‘bumi’ dimaksudkan merangkum semua negeri di dunia, tidak juga ada masalah karena ketika kebenaran dibukakan, semua penyangkal itu akan dipermalukan.
Kesaksian lain yang diberikan Injil adalah pernyataan Injil Matius:
dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur lalu masuk kota kudus dan menampakkan diri pada banyak orang.’  (Matius 27:52 - 53).

Tidak ada keraguan bahwa penuturan di atas tentang orang-orang kudus yang keluar dari kubur dan tampak kepada banyak orang, bukanlah suatu kenyataan historikal, karena kalau memang demikian yang terjadi berarti Hari Penghisaban (kiamat) telah dilaksanakan di bumi ini. Bila benar demikian maka segala sesuatu yang dirahasiakan guna mencobai keimanan dan keteguhan manusia telah dibukakan kepada semua. Keimanan tidak lagi berarti karena semua orang yang beriman mau pun kafir bisa melihat dan meyakini dunia yang akan datang sebagaimana mereka melihat bulan, matahari dan pergantian hari. Dalam keadaan demikian, keimanan tidak lagi mempunyai nilai berarti yang patut mendapat imbalan apa pun.

Jika semua umat dan nabi-nabi Yahudi dari masa lalu dalam jumlah berjuta-juta itu benar dibangkitkan pada saat Penyaliban Yesus dan mereka masuk ke dalam kota dalam keadaan hidup dan kalau mukjizat kebangkitan itu terjadi pada saat bersamaan (karena dianggap sebagai bukti kebenaran dan ketuhanan Yesus), tentunya umat Yahudi mendapat kesempatan bertanya kepada para orang kudus dan nenek moyang mereka yang dibangkitkan itu apakah Yesus memang benar Tuhan ataukah beliau berdusta. Mereka pasti tidak akan melewatkan kesempatan tersebut. Mereka pasti ingin tahu mengenai Yesus dan menanyakan kepada mereka yang dibangkitkan itu tentang kemungkinan mereka sendiri nantinya dibangkitkan juga.  Bagaimana mungkin umat Yahudi akan melepaskan kesempatan tersebut jika ada beratus ribu orang mati yang dibangkitkan masuk ke dalam kota dan kembali ke rumahnya masing-masing? Mereka pasti akan bertanya, tidak kepada satu dua orang tetapi kepada beribu orang kudus yang dibangkitkan tersebut.

Ketika orang-orang yang sudah mati itu kembali ke rumahnya masing-masing tentunya akan terjadi kegembiraan luar biasa di antara keluarga mereka. Dalam setiap rumah tangga tentunya terjadi berbagai perbincangan dan pasti mereka akan bertanya kepada orang yang pernah mati tersebut kalau mereka ada mengenal Yesus Al-Masih yang dianggap Tuhan. Namun karena umat Yahudi umumnya tidak meyakini Yesus, tidak juga hati mereka melembut bahkan mereka bertambah keras hatinya, apakah kemungkinan karena mereka yang pernah mati itu tidak memberikan tanggapan yang baik tentang Yesus? Apakah kemungkinan mereka itu menyatakan bahwa semua pengakuan Yesus sebagai Tuhan itu adalah palsu adanya? Mungkin karena itu umat Yahudi tetap dalam kedegilan mereka meskipun ada beratus ribu orang kudus telah dibangkitkan? Apakah karena itu umat Yahudi menjadi makin yakin dalam kekafirannya, tidak saja dalam sifat ketuhanan Yesus, bahkan juga sifat kenabiannya?

Bagaimana kita mau percaya bahwa beratus ribu orang kudus dari zaman nabi Adam sampai terakhir Yahya Pembaptis, yang selama ini tidur tenang dalam kuburnya di negeri itu, lalu dibangkitkan semua.  Bahwa mereka lalu masuk ke kota untuk menyampaikan kesaksian kepada ribuan orang kalau Yesus itu Al-masih dan Putra Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Bahwa hanya beliau saja yang patut disembah, bahwa mereka harus meninggalkan agama lama mereka kalau tidak mau masuk neraka. Kalau difikir begitu banyak bukti dan kesaksian dari ratusanribu orang-orang kudus itu namun umat Yahudi terap saja degil hatinya dan tetap menyangkal. Aku sendiri secara pribadi tidak bisa mempercayai hal demikian.

Kepercayaan seperti itu yaitu ratusan ribu orang kudus telah dibangkitkan Yesus hanya akan membawa mudharat belaka, karena tidak ada kegunaannya juga. Seseorang yang pernah bepergian ke negeri yang jauh dan kemudian pulang ke rumahnya setelah sekian tahun, pasti banyak yang ingin diceritakannya kepada kerabatnya mengenai segala hal menarik dari negeri yang dikunjunginya; ia tidak akan menutup mulut atau berbisu-kata jika bertemu bangsanya setelah perpisahan sekian lama. Kerabatnya sendiri pasti juga bergegas menghampirinya untuk menanyakan kabar dari negeri yang jauh itu. Dengan demikian, pernyataan Yesus telah menghidupkan orang-orang yang sudah mati, baru akan ada gunanya jika kesaksian mereka yang mati itu memang membenarkan pengakuan beliau.  Nyatanya tidak ada hal demikian itu. Kalau benar ada orang mati yang dihidupkan kembali, kita terpaksa menganggapnya bahwa mereka ternyata tidak memberikan dukungan atas pengakuan ketuhanan Yesus. Alih-alih mempercayai beliau malah cerita demikian menambah kerancuan saja. Kalau saja dalam ceritanya dikatakan bahwa yang dihidupkan kembali itu hewan yang sudah mati maka banyak kesulitan yang dapat dihindari, karena sebagai hewan mereka tidak akan menyangkal apa pun jika ditanya.

Kalau menurut cerita yang ada, Yesus sudah membangkitkan manusia yang sudah mati. Jika ini benar terjadi, percayalah tidak akan ada lagi manusia yang kafir dan menyangkal kebenaran yang diajukan dengan cara demikian. Dengan amat menyesal, aku terpaksa mengatakan bahwa bangsa Sikh di negeri ini masih lebih pandai dari umat Kristen. Mereka telah membuktikan keahlian mereka dalam mengarang cerita karena mereka mengatakan bahwa Guru mereka yaitu Baba Nanak, pernah menghidupkan kembali seekor gajah yang sudah mati. Jenis ‘mukjizat’ seperti ini tidak akan banyak menghadapi penyangkalan karena orang Sikh bisa mengatakan bahwa gajah itu tidak bisa bicara yang dapat menguatkan atau menyalahkan Baba Nanak. Singkat kata, orang-orang awam yang daya fikirnya terbatas, mungkin bias dipuaskan dengan ‘mukjizat’ seperti itu, tetapi tidak bagi mereka yang arif yang akan merasa malu mendengar cerita demikian.

Friday, November 25, 2011

YESUS DI INDIA (1)


Berikut adalah kata pengantar dari penulis sendiri

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH
DAN MAHA PENYAYANG, TERPUJILAH
NAMANYA DAN KARUNIAILAH SHALAWAT
BAGI NABI AGUNG, RASULULLAH S.A.W.
Ya Allah! Hakimilah di antara kami dan umat kami dengan
kebenaran;
Engkau adalah sebaik-baiknya Hakim.


Aku menulis buku ini dengan tujuan agar dapat menghilangkan kesalah pahaman serius yang ada di antara umat Kristiani dan Muslim mengenai kehidupan nabi Isa atau Yesus a.s. berdasarkan bukti-bukti dari fakta yang nyata, dari bukti-bukti historikal yang dikenal dan dari naskah-naskah kuno kalangan non-Muslim, agar kesalah pahaman dan implikasi gawat yang ditimbulkan tidak saja telah merusak dan menghancurkan konsep Ke-Esa-an Tuhan, tetapi juga mempengaruhi secara negatif moral umat Islam di negeri ini.  Penyakit-penyakit ruhani seperti ketiadaan moral yang baik, fikiran jahat, kedegilan, ketiadaan perasaan asih, sekarang ini telah menyebar di antara berbagai sekte dalam Islam akibat dari kepercayaan pada dongeng-dongeng tidak berdasar mengenai hal ini.  (Penterjemah: sampai dengan akhir abad 19. Buku ini d ikarang tahun 1899.)

Simpati antar manusia, welas asih, kecintaan akan keadilan dan kerendahan hati yang semuanya merupakan nilai-nilai moral yang luhur, sekarang ini menyusut dari hari ke hari, sehingga satu waktu nanti tidak akan ditemui lagi. Kekasaran hati dan immoralitas itu telah menjadikan banyak umat Muslim menjadi tidak lebih baik dari hewan buas di hutan. Seorang penganut agama Jain atau Buddha tidak akan membunuh walaupun hanya seekor nyamuk atau lalat.  Tetapi banyak di antara umat Muslim yang membunuh orang yang tidak berdosa, yang malah tidak takut kepada Allah yang Maha Kuasa yang memperlakukan nyawa manusia sebagai lebih luhur daripada hewan. Apa yang telah menyebabkan munculnya kekasaran hati, kekejaman dan ketiadaan kasih itu? Penyebabnya adalah karena mereka dari masa kanak-kanak sudah dicekoki cerita dan pandangan yang salah tentang doktrin Jihad ke dalam telinga mereka dan tertanam dalam hati mereka, sehingga mereka akhirnya mati moralnya dan kebas tidak lagi merasakan keburukan tindakan-tindakan mereka yang keji. Mereka yang membunuh manusia lainnya tidak menyadari bahwa tindakan mereka itu telah membawa kehancuran bagi keluarga yang terbunuh, bahkan ia merasa telah menjadi pahlawan atau telah melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi komunitasnya.  Sampai dengan saat ini di negeri ini tidak a ada khutbah yang melarang atau menegahkan perbuatan buruk demikian. Kalau pun ada maka di dalamnya ada kemunafikan sehingga umat awam menganggap tindakan demikian itu dibenarkan. Karena itu karena kasihku pada umatku sendiri, aku telah mengarang beberapa buku dalam bahasa Urdu, Parsi dan Arab dimana telah dikemukakan bahwa pandangan populer tentang Jihad yang dianut umat Muslim berupa datangnya seorang Imam bersimbah darah, penuh kebencian dan kekerasan terhadap umat lain, adalah kepercayaan yang salah yang ditanamkan oleh para ulama berpandangan sempit. Islam tidak mengizinkan penggunaan pedang untuk menanamkan keimanan, kekecualian hanyalah untuk membela diri, atau untuk memerangi tirani atau untuk mempertahankan kemerdekaan. Kebutuhan akan perang mempertahankan diri baru muncul ketika agresi dari musuh telah mengancam nyawa kita. Inilah tiga bentuk Jihad yang diizinkan oleh Shariat dan selain ketiga jenis ini, tidak ada bentuk perang lain yang dibolehkan oleh Islam dalam mengembangkan agama. Aku telah mengeluarkan banyak sekali biaya guna menerbitkan buku-buku itu yang telah disebarkan di negeri ini, ke negeri-negeri Arabia, Syria Khurasan dan lain-lain.

Berkat rahmat Allah s.w.t., aku telah menemukan argumentasi-argumentasi
yang kuat untuk menghapus kepercayaan tidak berdasar demikian dari hati manusia. Aku memiliki data yang jelas, bukti-bukti kuat yang bersifat konklusiv serta bukti dari sejarah sehingga nur kebenaran itu akan membawa perubahan luar biasa dalam hati umat Muslim setelah publikasi naskah ini.

Aku berharap dan aku meyakininya, bahwa setelah kebenaran ini dipahami maka dari sanubari putra-putra Islam yang saleh akan mengalir mata air sejuk dari kerendahan hati dan kerahiman, serta membawa perubahan ruhani yang akan membawa pengaruh yang baik dan berberkat bagi keseluruhan negeri ini. Aku juga meyakini bahwa para peneliti Kristiani serta mereka yang mencari dan haus akan kebenaran akan memperoleh manfaat dari bukuku ini. Fakta yang baru aku kemukakan tadi bahwa tujuan dari penulisan buku ini ialah memperbaiki kepercayaan yang salah yang sudah lama menjadi bagian dari kredo umat Muslim maupun Kristiani, memerlukan sedikit penjelasan sebagai berikut.

Seperti dimaklumi, sebagian besar umat Muslim dan Kristiani mempercayai bahwa Yesus (nabi Isa a.s.) telah naik ke langit dengan tubuh kasarnya. Kepercayaan kedua umat ini sudah berlangsung lama sekali bahwa Yesus tetap hidup di langit dan akan turun kembali ke bumi di akhir zaman. Perbedaan di antara keduanya hanyalah detilnya. Umat Kristiani mempercayai bahwa Yesus a.s. wafat di atas kayu salib, dibangkitkan dan kemudian diangkat ke sorga dengan jasad kasarnya, lalu duduk di sisi kanan Bapa-nya dan akan turun kembali ke bumi pada akhir zaman untuk mengadili manusia; mereka juga berpandangan bahwa Pencipta dan Tuhan dari alam ini adalah Yesus Al-Masih. Beliau inilah yang diyakini akan turun di akhir umur dunia dengan iringan kecemerlangan untuk memberikan ganjaran dan hukuman, dimana manusia yang tidak mempercayai dirinya dan ibundanya sebagai Tuhan akan dilemparkan ke neraka dimana bagian mereka adalah tangis dan ratapan.

Kalau menurut kepercayaan umat Muslim umumnya adalah bahwa nabi Isa a.s. tidak disalibkan dan tidak wafat di kayu salib. Sebaliknya (menurut kepercayaan mereka), ketika umat Yahudi menangkap beliau dalam rangka menyalibnya, datang seorang malaikat Tuhan dan mengangkat beliau ke langit dengan jasad kasarnya dan beliau diyakini masih hidup di langit yang katanya di lapis kedua bersama-sama dengan nabi Yahya (dalam Injil disebut Yohanes). Umat Muslim beranggapan bahwa nabi Isa a.s. adalahs seorang nabi besar tetapi bukan Tuhan dan juga bukan anak Tuhan, namun mereka meyakini bahwa beliau di akhir zaman akan turun dekat Menara Damaskus atau sekitarnya, bertopang pada bahu dua orang malaikat, dimana beliau bersama-sama dengan Imam Muhammad (atau Imam Mahdi) yang berasal dari Bani Fatimah yang sudah turun terlebih dahulu, akan membunuhi semua non-Muslim tanpa ada yang disisakan kecuali sempat terlebih dahulu menganut Islam. Pandangan ini dianut oleh sekte Ahli-Sunnah atau Ahli-Hadith yang dikenal umat awam sebagai kaum Wahabi. Mereka ini berpandangan bahwa sebagaimana Mahadewa dari agama Hindu, Yesus ini akan menghancurkan seluruh dunia, pertama dengan memberikan ancaman agar semua manusia masuk Islam dan jika menyangkal, maka mereka semua akan dijagal dengan pedang. Mereka ini juga mengatakan bahwa Yesus hidup di langit dengan tubuh kasarnya, dan ketika kekuatan umat Muslim melemah, beliau akan turun dan membunuh semua non-Muslim atau memaksa mereka masuk ke dalam agama Islam dengan ancaman hukuman mati.

Ulama-ulama kaum Wahabi tentang umat Kristiani, menyatakan bahwa Yesus a.s. ketika turun dari langit akan memecah semua salib di dunia, akan melakukan banyak sekali pembunuhan dengan pedang serta membanjiri bumi dengan darah. Seperti telah aku kemukakan di atas, kaum Ahli-Hadith ini amat meyakini bahwa sesaat sebelum kedatangan Al-Masih, akan muncul seorang Imam dari Bani Fatimah bernama Muhammad yang menjadi Imam Mahdi. Tokoh inilah yang akan menjadi Khalifah dan Raja di saat itu, dan karena ia berasal dari Kuraish maka tugasnya adalah membunuhi semua non-Muslim kecuali mereka yang melafalkan shahadat. Yesus dalam hal ini turun untuk membantu Mahdi dalam pelaksanaan tugasnya, dan karena Yesus sendiri juga Imam Mahdi (bahkan Mahdi yang lebih agung) tetapi beliau tidak akan jadi Khalifah saat itu karena posisi ini katanya hanya untuk golongan Kuraish. Mereka berdua akan membanjiri bumi ini dengan darah manusia dimana akan lebih banyak yang mereka alirkan dibanding yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.  Begitu mereka muncul, mereka katanya akan langsung melaksanakan kampanye berdarah mereka, tanpa terlebih dahulu ada peringatan atau pun pengajaran. Kaum Ahli-Hadith ini juga menyatakan bahwa walaupun Yesus sepertinya menjadi penasihat dari Imam Muhammad Al-Mahdi dimana kendali kedaulatan ada sepenuhnya di tangan Mahdi, namun Yesus-lah yang akan mengarahkan Imam Muhammad Sang Mahdi, untuk membantai seluruh manusia di dunia dan akan menasihatinya untuk menggunakan cara-cara ekstrim serta merubah ajarannya sendiri dahulu yang menyuruh manusia untuk merendahkan diri tidak melawan kejahatan serta memberikan juga pipi kanan jika ditempeleng pipi kirinya.

Kepercayaan mengenai Yesus a.s. yang demikian itulah yang dianut umat Muslim maupun Kristiani. Selain kesalahan besar yang dilakukan umat Kristiani dalam menganggap beliau yang adalah seorang manusia biasa sebagai Tuhan, kepercayaan sebagian umat Muslim, terutama mereka dari kelompok Ahli-Hadith yang disebut kaum Wahabi tentang Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, ternyata telah mempengaruhi moral mereka secara negatif.  Sedemikian rupa pengaruh itu hingga sikap mereka dalam berhubungan dengan manusia lain tidak lagi didasarkan pada kejujuran dan itikad baik, dan mereka tidak bisa memberikan kesetiaan sepenuhnya dalam hubungannya dengan pemerintahan non-Muslim.

Semua manusia berfikiran waras tentunya menyadari bahwa adanya kepercayaan yang membolehkan pemaksaan non-Muslim untuk masuk Islam atau dibunuh mati, adalah suatu hal yang patut ditolak sekerasnya. Setiap manusia waras pasti menyadari bahwa seseorang menerima kebenaran suatu agama setelah memahami keindahan dan kebaikan ajarannya dan tidak patut memaksanya menganut agama tersebut dengan ancaman kematian. Kepercayaan seperti itu tidak akan memberikan dampak baik bagi perkembangan agama, bahkan akan memberikan kesempatan kepada para musuhnya untuk mencari-cari kesalahan ajaran demikian.

Hasil akhir dari prinsip seperti itu adalah hati mereka menafikan simpati antar manusia, belas kasih dan keadilan, yang sebenarnya merupakan nilai-nilai luhur moral manusia. Sebagai gantinya adalah sikap kebencian dan permusuhan akan berkembang sehingga yang tinggal hanyalah naluri hewaniah. Jelas bahwa ajaran demikian itu tidak mungkin berasal dari Allah s.w.t. karena Dia hanya menghukum jika telah memberikan peringatan secukupnya.

Cobalah renungkan, jika seorang tidak mau menerima agama yang benar karena ketidaktahuannya dan tidak menyadari kebenarannya, tidak mengenal ajaran dan keindahannya, patutkah orang seperti itu langsung dibunuh? Tidak demikian, justru orang seperti itu patut dikasihani, ia patut diajari secara lemah lembut dan santun tentang kebenaran, keindahan dan manfaat ruhaniah agama tersebut. Tidak pantas kiranya penolakan yang bersangkutan harus diakhiri dengan pedang atau senapan. Jadi doktrin Jihad yang dianut oleh sekte-sekte Islam seperti itu, serta keyakinan akan segera munculnya seorang Imam Mahdi bersimbah darah bernama Imam Muhammad yang dibantu dengan turunnya Al-Masih dari langit dimana mereka berdua akan membunuhi semua manusia non-Muslim yang mengingkari agama Islam, benar-benar bertentangan dengan hati nurani kita.  Tidakkah kita menyadari bahwa keyakinan seperti itu akan mensirnakan semua nilai-nilai luhur kemanusiaan dan menyuburkan nilai moral hukum rimba?  Mereka yang berpegang pada keyakinan demikian sebenarnya hidup dalam kemunafikan dalam hubungannya dengan manusia lain.  Bahkan juga mereka tidak bisa memberikan kesetiaan mereka kepada pemerintahan yang kebetulan non-Muslim, mereka secara tidak jujur menyatakan patuh tetapi sebenarnya tidak. Karena itulah beberapa sekte Ahli-Hadith tersebut hidup dengan standar ganda di bawah pemerintahan Inggris di India. Secara berahasia mereka menjanjikan dan mengajarkan kepada rakyat awam akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, sedangkan kepada pejabat pemerintahan mereka bermanis muka dan menyatakan tidak menyukai doktrin demikian. Kalau benar mereka menentang doktrin Jihad seperti itu, mengapa mereka tidak menyiarkannya secara tertulis? Dan mengapa mereka masih menantikan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih bersimbah darah seolah-olah keduanya sudah diambang pintu dimana mereka menyiapkan diri untuk bergabung dalam gerakan mereka?

Keyakinan seperti itu telah memerosotkan moral para ulama sehingga mereka tidak lagi mampu mengajari umat tentang kepantasan dan kedamaian. Sebaliknya bahkan, mereka menganggap membunuh orang lain tanpa alasan atau tujuan sebagai tugas mulia agama. Aku akan sangat bergembira sekali jika ada siapa pun dari sekte Ahli Hadith tersebut yang berpandangan sebaliknya, namun nyatanya aku melihat bahwa dari antara mereka itu masih banyak yang menganut keyakinan akan kedatangan seorang Imam Mahdi yang haus darah dan doktrin Jihad sebagaimana mereka anut.

Mereka menentang siapa pun yang berusaha memperbaiki pandangan mereka dan bahkan mereka beranggapan adalah tugas mulia untuk membunuhi semua orang yang berbeda agama. Padahal keyakinan tentang pembunuhan manusia atas nama agama, menyebarkan agama Islam melalui pertumpahan darah dan ancaman atau meyakini nubuatan tentang Al-Masih yang buas seperti itu adalah benar-benar bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Hadith sahih. Nabi kita Rasulullah s.a.w. mengalami penderitaan aniaya yang luar biasa di tangan kaum kafir di Mekah dan juga setelahnya. Tigabelas tahun yang dihabiskan Rasulullah s.a.w. di Mekah adalah masa penuh penderitaan dan berbagai cobaan, dimana jika mengingatnya saja kita bisa meneteskan air mata. Namun nyatanya beliau tidak mengangkat pedang terhadap para musuh beliau, tidak juga beliau membalas kekejian mereka sampai akhirnya banyak sahabat yang terbunuh tanpa belas kasihan, sampai beliau sendiri dihadapkan kepada berbagai penderitaan seperti percobaan peracunan dan lain-lain serta adanya usaha-usaha langsung untuk membunuh beliau. Baru kemudian datang pembalasan Tuhan saat mereka para tua-tua dan kepala-kepala suku di Mekah memutuskan secara aklamasi bahwa beliau harus dibunuh dengan cara apa pun. Ketika itulah Allah s.w.t yang selalu melindungi mereka yang dikasihi-Nya dan mereka yang saleh dan benar, lalu memberitahukan beliau bahwa tidak ada apa lagi yang tersisa di kota itu kecuali kejahatan, bahwa penduduk kota akan membunuh beliau dan karena itu sebaiknya beliau segera meninggalkan kota itu.

Baru saat itulah, sejalan dengan petunjuk Tuhan, beliau hijrah ke Madinah. Namun di sini pun para musuh tetap tidak mau memberikan kedamaian kepada beliau, mereka tetap mengejarnya dan mencoba menghancurkan Islam dengan segala macam cara. Ketika sikap keterlaluan mereka itu telah melampaui batas dan ketika mereka menjadikan diri mereka pantas mendapat hukuman karena telah membunuh banyak orang tidak berdosa, barulah datang izin untuk memerangi mereka dengan tujuan untuk membela diri dan menangkis serangan para kafir tersebut. Kaum kafir dan para pembantunya telah menjadikan diri mereka pantas mendapat perlakuan demikian karena mereka telah membunuhi orang-orang tidak berdosa, bukan di medan perang tetapi semata hanya karena kesemena-menaan sambil merampasi harta bendanya. Tetapi walaupun diperlakukan seperti itu, ketika Mekah kemudian jatuh, Rasulullah s.a.w. mengampuni mereka semua. Jadi tidak benar sama sekali untuk menganggap bahwa Rasulullah s.a.w. dan para sahabat beliau pernah berperang untuk penyebaran agama Islam atau bahwa mereka pernah memaksa siapa pun untuk menganut Islam.

Patut pula diperhatikan bahwa pada saat itu semua orang sedang berprasangka buruk terhadap Islam dan para musuh itu selalu merencanakan penghancuran Islam, karena mereka menganggapnya sebagai agama baru dengan penganut yang amat sedikit, dimana mereka ingin segera menghancurkan Islam agar tidak sempat berkembang.

Dalam hal-hal yang paling sederhana pun umat Muslim selalu dihalangi. Mereka yang menganut Islam biasanya segera dibunuh oleh sukunya atau hidup selalu dalam ancaman bahaya. Pada saat seperti itu, Allah s.w.t. mengasihani mereka yang telah baiat ke dalam Islam dengan cara menjadikan para penguasa untuk menganut Islam, sehingga terbuka pintu ke arah kemerdekaan Muslim. Dengan cara ini terangkat rintangan bagi mereka yang ingin menerima Islam. Begini inilah bentuk rahmat Allah s.w.t. kepada dunia dan tidak ada yang dirugikan karenanya.

Sekarang ini pun kita melihat bahwa para penguasa non-Muslim tidak ada mengganggu Islam, mereka tidak merintangi siapa pun dalam menjalankan ibadahnya. Mereka tidak membunuhi penganut baru Islam, tidak juga para penguasa itu menangkap dan memenjarakan mereka. Lalu mengapa umat Muslim harus mengangkat pedang melawan mereka? Jelas bahwa Islam tidak pernah memaksakan agamanya.

Kalau kita teliti Al-Quran dan Hadith serta naskah-naskah sejarah secara mendalam, kita akan menyadari bahwa tuduhan Islam menggunakan pedang untuk menyiarkan agama adalah suatu fitnah tidak berdasar dan memalukan. Tuduhan terhadap Islam demikian itu dilancarkan oleh orang-orang yang belum pernah membaca Al-Quran, Beberapa ulama dari kelompok Ahli-Hadith secara lancang dan seenak hatinya menyatakan dalam buku-buku mereka akan segera datangnya Imam Mahdi tersebut yang katanya akan
memenjarakan para penguasa Inggris di India dan bahwa raja Kristen itu akan ditangkap dan
dibawa ke hadapan Imam Mahdi. Buku-buku seperti itu masih bisa ditemukan di rumah-rumah
kelompok Ahli-Hadith tersebut, salah satunya adalah yang berjudul Iqtarab-us-Saat yang dikarang
oleh salah seorang mereka yang terkenal, dalam halaman 64 dimana pertelaan mengenai hal ini bisa dijumpai.

Hadith serta sejarah Islam secara obyektif, dan mereka memanfaatkan kedustaan dan prasangka buruk tanpa batas.  Namun aku mengetahui bahwa sudah dekat saatnya bagi mereka yang haus dan lapar pada kebenaran akan memperoleh pencerahan tentang apa sebenarnya hakikat tuduhan-tuduhan yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Bagaimana mungkin kita mengatakan agama Islam ini sebagai agama paksaan sedangkan Al-Quran jelas mengatur bahwa tidak ada paksaan dalam agama? Bahwa tidak diizinkan menggunakan paksaan atau kekuatan untuk menarik orang masuk ke dalam Islam?  Mungkinkah kita menuduh Nabi Besar Muhammad s.a.w. telah menggunakan paksaan padahal selama tigabelas tahun beliau selalu mengajak para sahabat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan pula, bahkan mengajak mereka itu untuk bersabar dan memaafkan? Hanya saja ketika kejahatan para musuh tersebut telah melampaui batas dan ketika mereka memaksakan diri untuk melenyapkan Islam maka Tuhan yang Pencemburu menganggap sudah waktunya mereka yang mengangkat pedang itu dimusnahkan dengan pedang juga. Kecuali karena keadaan seperti itu, Al-Quran tidak pernah menyarankan kekerasan.

Jika kekerasan memang diizinkan dalam Islam maka para sahabat Rasulullah s.a.w. dalam masa sulit demikian pasti tidak akan berperilaku sebagai orang yang saleh dan muminin. Kesetiaan dan kepatuhan para sahabat kepada Rasulullah s.a.w. rasanya tidak perlu aku kemukakan lagi. Bukanlah suatu rahasia bahwa di antara mereka itu banyak sekali contoh kesetiaan dan keteguhan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa lain. Kumpulan para muminin ini tidak goyah dalam kesetiaan dan keteguhan hati walau di bawah bayangan pedang sekali pun. Bersama junjungan mereka, Rasulullah s.a.w., mereka telah memperagakan keteguhan hati yang tidak mungkin diberikan oleh siapa pun kecuali hatinya diterangi oleh cahaya kebenaran agama.

Singkat kata, tidak ada paksaan di dalam agama Islam. Perang di dalam Islam terdiri atas tiga kategori yaitu (1) perang defensif untuk membela diri, (2) perang punitif yaitu pembalasan darah untuk darah, (3) perang untuk memperoleh kemerdekaan dengan tujuan menghancurkan kekuasaan mereka yang telah membunuh orang-orang yang memeluk Islam. Dengan kata lain, jika tidak ada pengarahan dalam Islam untuk memaksa orang memeluk agama ini dengan ancaman kematian, maka tidak masuk akal kiranya jika kita masih menantikan kedatangan Imam Mahdi atau Al-Masih yang haus darah.  Dalam dunia ini tidak mungkin akan muncul sesosok manusia yang akan menggunakan pedang untuk memaksa orang memeluk Islam karena hal itu amat bertentangan dengan ajaran Al-Quran. Hal seperti ini tidaklah sulit dipahami. Hanya orang-orang bodoh saja karena kepentingan diri pribadi yang menganut pandangan seperti itu, karena sebagian besar para ulama itu mengira bahwa perang yang akan dilancarkan oleh Imam Mahdi akan memberikan mereka kekayaan melimpah. Mengingat sebagian besar ulama itu sangat miskin maka mereka amat menantikan kedatangan seorang Mahdi yang menurut mereka akan memenuhi hajat mereka sendiri.

Karena itulah maka para ulama tersebut memusuhi orang-orang yang tidak meyakini akan kedatangan seorang Mahdi seperti itu. Mereka langsung mencapnya sebagai kafir dan berada di luar Islam.  Berdasarkan pandangan mereka itu dengan demikian aku ini pun seorang Kafir di mata mereka. Karena aku tidak mempercayai akan datangnya seorang Imam Mahdi atau pun Al-Masih yang haus darah. Aku membenci konsep pemikiran absurd seperti itu dan menganggapnya sebagai suatu yang hina.

Aku pun dinyatakan Kafir bukan saja karena menyangkal keyakinan akan datangnya seorang Imam Mahdi atau Al-Masih menurut pandangan mereka itu, tetapi juga karena aku telah mengumumkan secara luas bahwa aku inilah Al-Masih yang Dijanjikan dan juga seorang Imam Mahdi, setelah memperoleh wahyu dari Allah s.w.t., dimana nubuatan kedatanganku telah dikemukakan dalam Al-Quran dan Injil serta dijanjikan di dalam Hadith. Hanya saja aku tidak dilengkapi dengan sarana berupa pedang atau pun senapan. Aku telah diperintahkan Allah s.w.t. untuk mengajak manusia dengan cara yang lembut dan halus kembali kepada Tuhan, Yang Maha Benar, Abadi dan tidak berubah, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Adil.

Akulah nur dalam masa kegelapan sekarang ini. Mereka yang mengikuti aku akan terpelihara dari kejatuhan ke dalam jurang yang telah disiapkan Iblis bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Aku diutus Tuhan untuk mengajak manusia bumi ini kepada Tuhan yang Maha Esa melalui cara-cara damai dan kelembutan serta penerapan kembali moral-moral Islam. Allah s.w.t. telah memberikan kepadaku tanda-tanda samawi yang akan memuaskan para pencari kebenaran.  Dia telah memberikan mukjizat-mukjizat guna menopangku. Dia telah membukakan rahasia-rahasia yang tersembunyi di masa depan yang menurut kitab-kitab suci adalah tanda bagi seorang yang menyatakan dirinya membawa perintah Tuhan, dan Dia telah memberikan kepadaku Pengetahuan yang murni dan suci.  Karena itulah mereka yang membenci kebenaran dan mencintai kegelapan, telah menyerangku. Namun sejauh mungkin aku akan tetap mengasihi umat manusia. Pada masa ini yang patut memperoleh simpati adalah umat Kristiani agar mereka kembali kepada Tuhan yang Maha Esa, yang bebas dari segala aib seperti dilahirkan dan keharusan mati serta mengalami penderitaan. Kembali kepada Tuhan yang sejak awal menciptakan benda-benda di langit dalam bentuk bulat dan menetapkan hukum alam seperti juga pada dunia keruhanian bahwa sebagaimana juga bulatan, dalam Diri-Nya terdapat Kesatuan dan ketiadaan arah. Karena itulah benda-benda di angkasa tidak diciptakan sebagai segi tiga misalnya. Semua bentuk awal yang diciptakan Tuhan seperti bumi, bulan, ruang angkasa, bintang-bintang semuanya berbentuk bulat yang semuanya mengarah kepada Kesatuan. Dengan demikian simpati kita adalah kepada umat Kristiani yang patut diajak kembali kepada Tuhan yang semua ciptaan-Nya menunjukkan bahwa Dia itu bebas dari konsep trinitas.  Adapun bagi umat Muslim, mereka ini memerlukan reformasi moral dan perlu adanya pencerahan guna menghapus harapan-harapan salah mereka akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah yang sebenarnya bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam.  

Aku telah menyatakan di atas tentang pandangan beberapa ulama masa kini yang menganggap bahwa Imam Mahdi yang haus darah akan datang untuk menyiarkan agama Islam di bawah ancaman pedang adalah pandangan yang menyalahi Al-Quran dan merupakan hasil perwujudan sifat kerakusan dan mementingkan diri sendiri.  Seorang Muslim yang berfikiran jernih dan mencintai kebenaran akan mudah menanggalkan kepercayaan demikian itu asal mau mempelajari Al-Quran, merenung dan mempertimbangkan kenyataan bahwa Ayat-ayat Suci dari Allah s.w.t. tidak menyukai ancaman pembunuhan atau pun kekerasan guna memaksa siapa pun untuk menganut Islam.  Sebenarnya satu argumentasi ini saja cukup untuk menghilangkan pandangan salah demikian. Namun karena kasihku kepada umat, aku akan memberikan bukti-bukti yang nyata dan jelas dari sejarah dan lain-lain untuk menghapus pandangan demikian.  Karena itu dalam buku ini aku akan membuktikan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, beliau tidak naik ke langit, tidak juga beliau akan turun dari langit ke bumi. Yesus a.s. wafat di usia seratus dua puluh tahun di kota Srinagar, Kashmir, dan makamnya dapat ditemui di jalan Khan Yar di kota tersebut.

Aku akan membagi pembahasan ini dalam sepuluh bab dan satu epilog yang mencakup kesaksian dari Injil, pernyataan Al-Quran dan Hadith, bukti-bukti dari buku-buku medikal, catatan dari naskah-naskah sejarah, nukilan dari riwayat-riwayat turun temurun, berbagai bukti lainnya serta wahyu yang langsung aku terima dari Allah s.w.t. Semua ini menjadi delapan bab. Dalam bab sembilan aku akan memberikan perbandingan singkat antara agama Islam dan Kristen serta argumentasi yang membuktikan Islam sebagai agama yang benar. Dalam bab sepuluh aku akan menjelaskan rincian tujuan aku diutus sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan bahwa aku ini datang dari Allah s.w.t. Di bagian akhir akan diberikan epilog yang berisi beberapa pengarahan.

Aku berharap para pembaca buku ini membacanya secara teliti.  Jangan menampik kebenaran yang terdapat di dalamnya hanya karena prasangka. Aku perlu mengingatkan para pembaca bahwa apa yang dikemukakan disini bukanlah hasil penelitian kulitan, karena semua itu adalah hasil penelitian yang mendalam. Aku berdoa kepada Allah s.w.t. agar Dia menolongku dalam upaya ini dan menuntun aku melalui wahyu-wahyu-Nya ke arah Nur kebenaran yang sempurna karena pengetahuan yang benar dan kesadaran yang jernih hanya bisa turun dari Dia. Hanya dengan karunia-Nya saja hati manusia bisa dibimbing kepada kebenaran. Amin! Amin!

MIRZA GHULAM AHMAD
Qadian, 25 April 1899