GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

YESUS DI INDIA (7)


Dalam pembahasan Yesus di India (7) ini BAB I selesai.  Lebih lanjut dalam seri ke-7 ini penulis memaparkan sebagai berikut:

Penyelamatan Yesus as di Dukung Oleh Mimpi 
Aku juga memiliki perasaan kasih dan penghormatan kepada Yesus a.s. sebagaimana dilakukan umat Kristiani. Aku memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat dengan beliau karena umat Kristiani tidak mengenal manusia yang mereka sembah. Aku menghormati beliau karena aku pernah berjumpa dengannya. Karena itu akan kujelaskan inti daripada penuturan Injil tentang kebangkitan orang-orang kudus pada saat Penyaliban Yesus a.s.

Perlu disadari bahwa penuturan seperti itu sebenarnya termasuk kategori Kashaf atau penampakan kepada beberapa orang kudus saat terjadi Penyaliban. Sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab Suci, mimpi-mimpi bisa ditafsirkan seperti misalnya mimpi nabi Yusuf a.s. Maka penafsiran dari penampakan orang-orang kudus dibangkitkan tersebut mengandung arti bahwa Yesus akan selamat dari kematian di atas kayu salib karena Allah s.w.t. telah menolong beliau. Jika anda bertanya dari mana aku mendapat penafsiran tersebut, jawabnya adalah karena penafsiran itu aku peroleh dari para pakar tafsir mimpi.  Disini aku kemukakan tafsir dari seorang pakar penafsiran yaitu pengarang buku Tatirul-Anam fi T’abirul-Manam oleh Qutbuz-Zaman Shekh Abdul Ghani Al-Nablisi, halaman 289, yang mengatakan jika ada yang melihat dalam mimpi atau penampakan berbentuk Kashaf kejadian bangkitnya orang-orang yang sudah mati dan pulang ke rumahnya masing-masing, penafsirannya ialah ada seorang tahanan yang akan dibebaskan dan diselamatkan dari tangan para penuntutnya. Konteks pengertiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah seorang berkedudukan atau bermartabat tinggi. Penafsiran demikian itulah yang kiranya dapat diterapkan pada kasus Yesus a.s. sehingga mereka yang arif akan menyadari bahwa beliau telah diselamatkan dari kematian di atas kayu salib.

Banyak lagi rujukan dari Injil yang menyatakan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, bahwa beliau telah diselamatkan dan kemudian pergi ke negeri lain. Kiranya apa yang telah dikemukakan di atas itu mencukupi bagi mereka yang tidak berprasangka. Bisa jadi ada yang menentang karena Injil berulangkali menyatakan bahwa Yesus wafat di kayu salib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik kesorga.  Penentangan seperti ini sudah aku jawab secara singkat, namun perlu diingatkan lagi kalau Yesus a.s. bertemu dengan para murid setelah penyaliban, melakukan perjalanan ke Galilea, makan roti dan lauknya, menunjukkan parut luka-luka di tubuhnya, bermalam dengan beberapa murid dalam perjalanan ke Emaus, melarikan diri dari daerah kekuasaan Pilatus, hijrah dari negerinya sebagaimana juga kebiasaan para nabi dan berjalan di bawah baying ketakutan. Semua kejadian itu menyimpulkan kalau beliau tidak wafat di kayu salib, bahwa tubuh beliau tetap berujud phisik dan materinya tidak mengalami perubahan apa pun.

Kebiasaan Melebih-lebihkan
Tidak ada satu bukti pun dalam Injil yang menunjukkan bahwa ada orang yang melihat Yesus naik ke langit. Kalau pun ada, sulit dipercaya kebenarannya karena para penulis Injil tersebut terbiasa membesar-besarkan hal kecil, mereka menjadikan sarang semut menjadi gunung. Sebagai contoh, kalau yang satu mengatakan Yesus itu Putra Tuhan, penulis yang satunya lagi menjadikan beliau sebagai Tuhan betulan, yang ketiga memberi beliau kekuasaan atas seluruh alam sedangkan yang keempat secara langsung menyatakan bahwa beliau adalah segalanya dan tidak ada Tuhan lain selain beliau.  Singkat kata, kebiasaan melebih-lebihkan itu telah berakibat jauh sekali. Contohnya seperti penampakan orang-orang kudus yang bangkit dari kuburnya dan masuk ke kota, lalu diartikan secara harfiah bahwa mereka memang benar bangkit dan kembali ke keluarganya.

Disini selembar ‘bulu’ telah dibesar-besarkan menjadi seekor ‘gagak’ dan tidak hanya satu, tetapi jadi berjuta gagak. Kalau keadaan dibesar-besarkan seperti itu, kita akan kesulitan mencari tahu inti kebenarannya. Perlu juga diingat bahwa buku-buku Injil itu yang disebut sebagai Kitab Suci dari Tuhan, mengandung pernyataan berlebihan seperti ayat yang menyatakan ‘jika semua yang diperbuat Yesus dituliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu’ (Yohanes 21:25). Apakah melebih-lebihkan demikian itu bisa disebut sebagai kejujuran dan kebenaran? Kalau benar apa yang dikerjakan Yesus a.s. itu demikian tidak terbatasnya dan semuanya tidak bisa diringkas, bagaimana mungkin semuanya terjadi dalam periode tiga tahun. (Masa pengajaran dan penyiaran Yesus di Palestina sejak berusia 30 tahun sampai disalibkan pada usia 33 th).   Kesulitan lain dari Injil-injil itu adalah kadang memberikan rujukan yang salah terhadap kitab-kitab yang lebih tua, bahkan mengenai garis keturunan Yesus pun mereka tidak bisa akurat.

Yesus as Bukan Seorang Pengecut
Dari paparan Injil itu sepertinya para penulisnya adalah orang-orang bodoh dalam pemahaman sehingga di antara mereka ada yang mempersamakan Yesus dengan hantu atau ruh. Kitab-kitab Injil dari masa awal terbuka terhadap tuduhan bahwa kemurnian isinya tidak bisa dijaga dan bahwa sebenarnya masih ada kitab-kitab lain yang juga bisa disebut Injil, tetapi tidak ada alasan diberikan mengapa kitab-kitab lain itu ditolak. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa kitab-kitab lain itu juga mengandung eksagerasi yang terdapat dalam keempat Injil yang kita kenal. Sebenarnya mengherankan kalau dikatakan bahwa di satu sisi mereka mengatakan Yesus adalah orang saleh dan sifat-sifat beliau tanpa cela, tetapi di sisi lain mereka melekatkan atribut-atribut yang tidak pantas bagi seorang saleh.  Sebagai contoh, para nabi Israel sejalan dengan ajaran Taurat, nyatanya memiliki isteri beratus-ratus orang dengan tujuan akan menggandakan satu generasi orang-orang yang saleh, namun anda tidak akan mendengar atau menemukan bahwa ada di antara nabi itu demikian bebasnya sehingga mengizinkan seorang perempuan yang tidak suci dan cabul, seorang yang dikenal masyarakat sebagai pendosa, menyentuh tubuh mereka, apalagi mengurapkan minyak ke rambut dan menyapukan rambutnya sendiri ke kaki nabi tersebut tanpa ia menegahkannya. Melihat keadaan seperti itu kita hanya akan bisa terhindar dari kecurigaan hanya karena kita meyakini kesalehan Yesus a.s.

Pendek kata, Injil-injil tersebut mengandung banyak sekali hal yang tidak terpelihara dalam bentuk aslinya atau para penulisnya adalah orang lain dan bukan murid-murid Yesus langsung. Sebagai contoh statemen dalam Injil Matius ‘. . .dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini’ bisakah (Matius 28:15), kalimat itu dikatakan oleh Matius sendiri? Tidakkah kalimat itu menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah seseorang yang hidup ketika Matius sendiri sudah meninggal? Injil yang sama itu juga menyatakan:
Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata “Kamu harus mengatakan bahwa murid-muridnya datang malam-malam dan mencurinya ketika kamu sedang tidur”’ (Matius 28:12 – 13).

Kelihatan bagaimana tidak meyakinkan dan tidak masuk akalnya pernyataan demikian. Kalau pengertian dari penuturan tersebut adalah karena umat Yahudi ingin menutupi kebangkitan Yesus dari kematian dimana mereka telah menyuap para prajurit itu agar peristiwa itu tidak diketahui umum, lalu mengapa Yesus sendiri yang merupakan kewajiban baginya mengumumkan mukjizat tersebut di antara umat Yahudi, lalu merahasiakannya, bahkan melarang para murid membukakannya? Kalau ada yang mengatakan bahwa sebabnya karena beliau takut tertangkap lagi, aku akan mengatakan bahwa jika takdir Tuhan sudah turun ke atas diri beliau dimana setelah kematian lalu bangkit kembali dengan tubuh spiritual yang gemilang, kenapa masih harus takut kepada orang Yahudi? Jelas tentunya kalau umat Yahudi tidak akan bisa mengapa-apakan lagi beliau karena beliau sudah di luar dimensi eksistensi kehidupan fisik.

Adalah menyedihkan kalau kita menelusuri pernyataan yang di satu sisi mengatakan beliau telah dibangkitkan lagi dengan tubuh spiritual, kemudian bertemu dengan para murid dan pergi ke Galilea dan selanjutnya ke langit, tetapi di sisi lain dikatakan kalau beliau itu takut ketahuan orang Yahudi dan walaupun berbadan spiritual tetapi merasa perlu melarikan diri ke Galilea sejauh tujuhpuluh mil karena takut tertangkap lagi, dan bahwa beliau berulangkali mengingatkan para murid untuk tidak menceritakan keadaan beliau kepada siapa pun. Apakah ini menjadi ciri dari pemilik suatu tubuh spiritual? Yang benar adalah tubuh beliau bukan tubuh baru yang gemilang, beliau tetap dengan tubuh lamanya dengan parut luka-luka, yang telah diselamatkan dari kematian, yang masih takut diketemukan lagi oleh orang Yahudi dan setelah melakukan segala persiapan lalu meninggalkan negerinya. Di luar penafsiran ini dapat dikatakan absurd sebagaimana halnya dengan penuturan tentang orang-orang Yahudi yang menyuap para prajurit agar mengatakan bahwa para murid telah mencuri tubuh beliau ketika mereka sedang tidur. Kalau benar mereka tertidur, lalu bagaimana menyimpulkan bahwa ada yang telah mencuri tubuh beliau? Apakah dari pernyataan bahwa Yesus tidak berada di dalam makam lalu bisa disimpulkan kalau beliau telah naik ke langit? Apakah tidak ada kemungkinan lain mengapa makam itu kosong? Kalau benar Yesus naik ke langit, mengapa beliau tidak memanfaatkan hal itu dan menunjukkannya kepada beberapa ratus orang Yahudi dan Pilatus sendiri? Beliau tidak perlu takut lagi karena sudah bertubuh sepiritual. Namun kenyataannya beliau tidak ada berusaha menunjukkan kepada para musuh beliau tentang hal ini. Sebaliknya, beliau karena ketakutan lalu melarikan diri ke Galilea. 

Karena itulah aku yakin bahwa walaupun benar beliau telah meninggalkan makam, sudah juga bertemu dengan para murid secara rahasia, namun tidak benar jika beliau telah menyandang tubuh yang baru. Tubuh beliau tetap yang lama dengan parut luka-luka dengan ketakutan yang sama akan ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi terlaknat itu. Bacalah dengan teliti Injil Matius pasal 28 ayat 7 sampai 10. Ayat-ayat tersebut jelas mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan tersebut telah diberitahukan seseorang bahwa Yesus itu hidup dan akan berjalan ke Galilea dan mereka dipesan untuk memberitahukan kepada para murid. Mereka bersukacita tetapi juga dengan hati takut karena khawatir Yesus ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi yang jahat. Ayat kesembilan menuturkan ketika mereka ini sedang dalam perjalanan guna memberitahukan para murid, Yesus berjumpa dan memberi salam kepada mereka. Ayat kesepuluh menjelaskan Yesus meminta mereka jangan takut (bahwa beliau akan ditangkap lagi) dan meminta mereka memberitahukan kepada para saudara agar mereka itu pergi ke Galilea, (Disini Yesus tidak menghibur perempuan-perempuan itu dengan kata-kata bahwa ia telah bangkit dengan tubuh baru yang gemilang sehingga tidak ada yang akan bisa menangkap beliau lagi. Yang jelas, beliau tidak ada memberikan bukti tentang tubuh spiritual yang gemilang, bahkan nyatanya beliau menunjukkan tubuh dari daging dan tulang sama dengan tubuh phisik biasa),  karena beliau tidak bisa berdiam di tempat karena takut kepada para musuh. Singkat kata, jika Yesus benar bangkit setelah kematian dengan tubuh spiritual, hal itu akan merupakan kesempatan baginya untuk membuktikan kepada umat Yahudi bahwa memang ada jenis kehidupan setelah mati demikian. Nyatanya beliau tidak ada melakukan hal tersebut.  Karena itu adalah absurd untuk menuduh umat Yahudi berusaha menutupi bukti kebangkitan Yesus. Adapun Yesus sendiri tidak ada memberikan bukti kebangkitan dirinya dari kematian.  Jika kita perhatikan usaha beliau melarikan diri, bahwa beliau makan, tidur dan menunjukkan luka-lukanya, beliau sendiri telah membuktikan bahwa ia tidak wafat di kayu salib.

Friday, November 25, 2011

YESUS DI INDIA (2)


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

BAB 1

Untuk diketahui, umat Kristiani meyakini Yesus a.s. setelah ditangkap karena pengkhianatan Yudas Iskariot, disalib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik ke sorga. Namun kepercayaan mereka itu tidak didukung oleh Injil sendiri. Injil Matius pasal 12 ayat 40 menyatakan bahwa sebagaimana nabi Yunus tiga hari tiga malam berada dalam perut ikan paus, begitu juga Anak Manusia akan berada tiga hari tiga malam dalam rahim bumi. Yang kita ketahui, jelas bahwa nabi Yunus a.s. tidak dalam keadaan mati di dalam perut ikan, yang paling gawat telah terjadi kemungkinan beliau itu hanya dalam keadaan pingsan.  Kitab-kitab suci Tuhan menyatakan bahwa nabi Yunus a.s. berkat rahmat Allah s.w.t. tetap hidup dalam perut ikan itu, serta keluar dalam keadaan hidup dimana umat beliau akhirnya menerima ajarannya. Kalau Yesus a.s. kemudian dikatakan mati dalam perut ‘ikan’ lalu dimana letak kesamaan antara seorang yang mati dengan orang yang hidup?

Yang sebenarnya terjadi adalah karena Yesus a.s. adalah seorang nabi yang benar dan Tuhan yang mengasihi beliau akan menyelamatkan beliau dari kematian yang terkutuk, maka beliau berdasarkan wahyu telah memberikan perumpamaan bahwa beliau tidak akan mati di atas kayu salib yang terkutuk. Bahkan sebaliknya, seperti juga nabi Yunus a.s. beliau hanya akan pingsan saja. Dalam perumpamaan itu beliau juga mensiratkan bahwa ia akan keluar dari perut bumi dan berkumpul kembali dengan umat manusia, dan seperti juga dengan nabi Yunus a.s., beliau akhirnya akan dihormati oleh manusia.  Nubuatan tersebut telah menjadi kenyataan karena Yesus a.s. setelah keluar dari perut bumi telah pergi menemui suku-suku bangsanya yang bermukim di negeri-negeri di timur seperti Kashmir, Tibet dan lain-lain. Suku-suku bangsa itu adalah sepuluh suku bangsa Israel yang ditawan dan dibawa dari daerah Samaria oleh raja Shalmaneser dari kerajaan Assyria pada 721 tahun sebelum Yesus. (Disamping akibat tindakan raja Assyria tersebut, sudah banyak juga umat Yahudi yang terbuang ke negeri-negeri d i T imur akibat serangan penjarahan Babilonia)

Akhirnya suku-suku bangsa ini bermukim di India dan menyebar ke berbagai tempat di negeri tersebut.  Yesus a.s. pasti telah melakukan perjalanan tersebut karena tujuandiutusnya beliau adalah mencari dan menemukan suku-suku bangsa Israel yang telah menetap di berbagai bagian India karena mereka ini telah meninggalkan agama leluhur mereka dimana sebagian besar telah menjadi penganut agama Buddha dan menjadi penyembah berhala. Dr. Bernier berdasarkan hasil penelitian beberapa orang terpelajar, dalam bukunya Travels in the Mogul Empire menyatakan bahwa penduduk Kashmir pada dasarnya adalah orang Yahudi yang ketika mereka tercerai-berai di zaman raja Assyria telah hijrah ke negeri ini.   (Dr. F rancois Bernier, Travels in the M ogul Empire , A.D. 1656-1668, v ol. VII)

 Adalah keniscayaan bagi Yesus mencari tahu dimana domba-domba Israel yang hilang itu berada, dimana setelah mereka itu tiba di negeri India ini lalu berasimilasi dengan penduduk setempat. Aku akan menyampaikan bukti-bukti bahwa Yesus a.s. memang sampai ke negeri ini untuk kemudian berangsur mengembara sampai ke Kashmir dimana beliau menemukan domba-domba Israel yang hilang itu di antara penduduk yang menganut agama Buddha.  Umat Yahudi ini kemudian memang menerima beliau sebagaimana juga umat nabi Yunus a.s. telah menerima nabinya. Hal ini merupakan keniscayaan karena Yesus berulangkali mengatakan bahwa beliau diutus kepada domba-domba Israel yang hilang.

Terlepas daripada itu, sudah sewajarnya juga beliau lepas dari kematian di atas kayu salib karena dalam Perjanjian Lama ditetapkan bahwa siapa yang tergantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk. Alangkah kejamnya melemparkan hujatan bahwa sosok mulia seperti Yesus Al-Masih itu seorang yang terkutuk karena sejalan dengan pemahaman umum dari mereka yang memahami bahasa tersebut, la’nat atau kutukan itu merujuk kepada status hati seseorang. Seseorang dikatakan dilaknat kalau hatinya karena sepi dari rahmat Tuhan, telah menjadi gelap. Hatinya telah kelam karena kehilangan kasih Allah s.w.t., sunyi sama sekali dari kesadaran keberadaan-Nya, buta mata hatinya sebagaimana halnya iblis dan penuh dengan racun pengingkaran, tidak ada lagi tersisa nur rahmat dan sirna sudah ikatan kesetiaan sehingga antara dirinya dan Tuhan hanya tersisa kebencian, kedengkian sedemikian rupa di antara keduanya hanya ada permusuhan, ketika Tuhan akhirnya jengkel terhadapnya dan ia pun jengkel terhadap Tuhan-nya yaitu ketika ia mewarisi semua sifat buruk dari Iblis. Karena itulah Iblis disebut yang dilaknat. (Lihat Lexicon: Lisan-ul-Arab, Sihah Jauhar, Qamus, Muhit, Taj-ul-Urus).  Jadi jelas bahwa inti kata Mal’un yaitu terkutuk adalah demikian buruknya sehingga tidak mungkin diterapkan kepada seorang yang saleh yang mencintai Tuhan dalam hatinya.

Sayang sekali umat Kristiani tidak merenungi signifikasi daripada keadaan terkutuk ketika mereka menciptakan keyakinan demikian.  
Kalau saja mereka memahami artinya, tidak akan mungkin mereka menggunakan kata yang buruk seperti itu terhadap seorang saleh seperti Yesus a.s. Dapatkah kita mengatakan bahwa hati Yesus itu kosong dari nur Ilahi, bahwa beliau menyangkal Tuhan, bahwa beliau membenci dan menjadi musuh dari Tuhan? Bisakah kita menganggap bahwa Yesus pernah merasa dalam hatinya bahwa beliau terasing dari Tuhan, bahwa beliau musuh Tuhan dan bahwa beliau terbenam dalam kegelapan kekafiran dan pengingkaran? Jika kita menyadari bahwa Yesus a.s. tidak pernah berada dalam kondisi hati seperti itu, dimana hati beliau selalu penuh dengan kecintaan dan nur Ilahi, maka anda sebagai orang-orang bijak dapatkah berfikir bahwa Tuhan telah menurunkan beribu kutukan-Nya berikut semua signifikasi negatif ke dalam hati Yesus? Tidak akan pernah.

Lalu mengapa kita, nauzubillahi-min-zalik, mengatakan bahwa Yesus itu terkutuk? Sayangnya, jika seseorang telah menyatakan pendiriannya mengenai suatu keimanan, sulit baginya melepaskan keimanan tersebut walaupun berbagai absurditas keimanan itu telah dibukakan kepadanya. Keinginan seseorang mencapai keselamatan jika didasarkan pada landasan yang benar adalah suatu yang patut mendapat pujian. Namun tidaklah masuk akal rasanya jika keinginan mencari keselamatan yang dilandasi dengan pengelabuan kebenaran dengan mengatakan seorang nabi suci dan seorang manusia yang sempurna dianggap telah melalui transisi menjauh dari Tuhan-nya. Alih-alih adanya kesatuan hati dan tujuan dengan Tuhan-nya, malah muncul keterasingan, permusuhan dan kebencian; bukan nur malah kegelapan yang telah menyelimuti hatinya.

YESUS DI INDIA (1)


Berikut adalah kata pengantar dari penulis sendiri

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH
DAN MAHA PENYAYANG, TERPUJILAH
NAMANYA DAN KARUNIAILAH SHALAWAT
BAGI NABI AGUNG, RASULULLAH S.A.W.
Ya Allah! Hakimilah di antara kami dan umat kami dengan
kebenaran;
Engkau adalah sebaik-baiknya Hakim.


Aku menulis buku ini dengan tujuan agar dapat menghilangkan kesalah pahaman serius yang ada di antara umat Kristiani dan Muslim mengenai kehidupan nabi Isa atau Yesus a.s. berdasarkan bukti-bukti dari fakta yang nyata, dari bukti-bukti historikal yang dikenal dan dari naskah-naskah kuno kalangan non-Muslim, agar kesalah pahaman dan implikasi gawat yang ditimbulkan tidak saja telah merusak dan menghancurkan konsep Ke-Esa-an Tuhan, tetapi juga mempengaruhi secara negatif moral umat Islam di negeri ini.  Penyakit-penyakit ruhani seperti ketiadaan moral yang baik, fikiran jahat, kedegilan, ketiadaan perasaan asih, sekarang ini telah menyebar di antara berbagai sekte dalam Islam akibat dari kepercayaan pada dongeng-dongeng tidak berdasar mengenai hal ini.  (Penterjemah: sampai dengan akhir abad 19. Buku ini d ikarang tahun 1899.)

Simpati antar manusia, welas asih, kecintaan akan keadilan dan kerendahan hati yang semuanya merupakan nilai-nilai moral yang luhur, sekarang ini menyusut dari hari ke hari, sehingga satu waktu nanti tidak akan ditemui lagi. Kekasaran hati dan immoralitas itu telah menjadikan banyak umat Muslim menjadi tidak lebih baik dari hewan buas di hutan. Seorang penganut agama Jain atau Buddha tidak akan membunuh walaupun hanya seekor nyamuk atau lalat.  Tetapi banyak di antara umat Muslim yang membunuh orang yang tidak berdosa, yang malah tidak takut kepada Allah yang Maha Kuasa yang memperlakukan nyawa manusia sebagai lebih luhur daripada hewan. Apa yang telah menyebabkan munculnya kekasaran hati, kekejaman dan ketiadaan kasih itu? Penyebabnya adalah karena mereka dari masa kanak-kanak sudah dicekoki cerita dan pandangan yang salah tentang doktrin Jihad ke dalam telinga mereka dan tertanam dalam hati mereka, sehingga mereka akhirnya mati moralnya dan kebas tidak lagi merasakan keburukan tindakan-tindakan mereka yang keji. Mereka yang membunuh manusia lainnya tidak menyadari bahwa tindakan mereka itu telah membawa kehancuran bagi keluarga yang terbunuh, bahkan ia merasa telah menjadi pahlawan atau telah melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi komunitasnya.  Sampai dengan saat ini di negeri ini tidak a ada khutbah yang melarang atau menegahkan perbuatan buruk demikian. Kalau pun ada maka di dalamnya ada kemunafikan sehingga umat awam menganggap tindakan demikian itu dibenarkan. Karena itu karena kasihku pada umatku sendiri, aku telah mengarang beberapa buku dalam bahasa Urdu, Parsi dan Arab dimana telah dikemukakan bahwa pandangan populer tentang Jihad yang dianut umat Muslim berupa datangnya seorang Imam bersimbah darah, penuh kebencian dan kekerasan terhadap umat lain, adalah kepercayaan yang salah yang ditanamkan oleh para ulama berpandangan sempit. Islam tidak mengizinkan penggunaan pedang untuk menanamkan keimanan, kekecualian hanyalah untuk membela diri, atau untuk memerangi tirani atau untuk mempertahankan kemerdekaan. Kebutuhan akan perang mempertahankan diri baru muncul ketika agresi dari musuh telah mengancam nyawa kita. Inilah tiga bentuk Jihad yang diizinkan oleh Shariat dan selain ketiga jenis ini, tidak ada bentuk perang lain yang dibolehkan oleh Islam dalam mengembangkan agama. Aku telah mengeluarkan banyak sekali biaya guna menerbitkan buku-buku itu yang telah disebarkan di negeri ini, ke negeri-negeri Arabia, Syria Khurasan dan lain-lain.

Berkat rahmat Allah s.w.t., aku telah menemukan argumentasi-argumentasi
yang kuat untuk menghapus kepercayaan tidak berdasar demikian dari hati manusia. Aku memiliki data yang jelas, bukti-bukti kuat yang bersifat konklusiv serta bukti dari sejarah sehingga nur kebenaran itu akan membawa perubahan luar biasa dalam hati umat Muslim setelah publikasi naskah ini.

Aku berharap dan aku meyakininya, bahwa setelah kebenaran ini dipahami maka dari sanubari putra-putra Islam yang saleh akan mengalir mata air sejuk dari kerendahan hati dan kerahiman, serta membawa perubahan ruhani yang akan membawa pengaruh yang baik dan berberkat bagi keseluruhan negeri ini. Aku juga meyakini bahwa para peneliti Kristiani serta mereka yang mencari dan haus akan kebenaran akan memperoleh manfaat dari bukuku ini. Fakta yang baru aku kemukakan tadi bahwa tujuan dari penulisan buku ini ialah memperbaiki kepercayaan yang salah yang sudah lama menjadi bagian dari kredo umat Muslim maupun Kristiani, memerlukan sedikit penjelasan sebagai berikut.

Seperti dimaklumi, sebagian besar umat Muslim dan Kristiani mempercayai bahwa Yesus (nabi Isa a.s.) telah naik ke langit dengan tubuh kasarnya. Kepercayaan kedua umat ini sudah berlangsung lama sekali bahwa Yesus tetap hidup di langit dan akan turun kembali ke bumi di akhir zaman. Perbedaan di antara keduanya hanyalah detilnya. Umat Kristiani mempercayai bahwa Yesus a.s. wafat di atas kayu salib, dibangkitkan dan kemudian diangkat ke sorga dengan jasad kasarnya, lalu duduk di sisi kanan Bapa-nya dan akan turun kembali ke bumi pada akhir zaman untuk mengadili manusia; mereka juga berpandangan bahwa Pencipta dan Tuhan dari alam ini adalah Yesus Al-Masih. Beliau inilah yang diyakini akan turun di akhir umur dunia dengan iringan kecemerlangan untuk memberikan ganjaran dan hukuman, dimana manusia yang tidak mempercayai dirinya dan ibundanya sebagai Tuhan akan dilemparkan ke neraka dimana bagian mereka adalah tangis dan ratapan.

Kalau menurut kepercayaan umat Muslim umumnya adalah bahwa nabi Isa a.s. tidak disalibkan dan tidak wafat di kayu salib. Sebaliknya (menurut kepercayaan mereka), ketika umat Yahudi menangkap beliau dalam rangka menyalibnya, datang seorang malaikat Tuhan dan mengangkat beliau ke langit dengan jasad kasarnya dan beliau diyakini masih hidup di langit yang katanya di lapis kedua bersama-sama dengan nabi Yahya (dalam Injil disebut Yohanes). Umat Muslim beranggapan bahwa nabi Isa a.s. adalahs seorang nabi besar tetapi bukan Tuhan dan juga bukan anak Tuhan, namun mereka meyakini bahwa beliau di akhir zaman akan turun dekat Menara Damaskus atau sekitarnya, bertopang pada bahu dua orang malaikat, dimana beliau bersama-sama dengan Imam Muhammad (atau Imam Mahdi) yang berasal dari Bani Fatimah yang sudah turun terlebih dahulu, akan membunuhi semua non-Muslim tanpa ada yang disisakan kecuali sempat terlebih dahulu menganut Islam. Pandangan ini dianut oleh sekte Ahli-Sunnah atau Ahli-Hadith yang dikenal umat awam sebagai kaum Wahabi. Mereka ini berpandangan bahwa sebagaimana Mahadewa dari agama Hindu, Yesus ini akan menghancurkan seluruh dunia, pertama dengan memberikan ancaman agar semua manusia masuk Islam dan jika menyangkal, maka mereka semua akan dijagal dengan pedang. Mereka ini juga mengatakan bahwa Yesus hidup di langit dengan tubuh kasarnya, dan ketika kekuatan umat Muslim melemah, beliau akan turun dan membunuh semua non-Muslim atau memaksa mereka masuk ke dalam agama Islam dengan ancaman hukuman mati.

Ulama-ulama kaum Wahabi tentang umat Kristiani, menyatakan bahwa Yesus a.s. ketika turun dari langit akan memecah semua salib di dunia, akan melakukan banyak sekali pembunuhan dengan pedang serta membanjiri bumi dengan darah. Seperti telah aku kemukakan di atas, kaum Ahli-Hadith ini amat meyakini bahwa sesaat sebelum kedatangan Al-Masih, akan muncul seorang Imam dari Bani Fatimah bernama Muhammad yang menjadi Imam Mahdi. Tokoh inilah yang akan menjadi Khalifah dan Raja di saat itu, dan karena ia berasal dari Kuraish maka tugasnya adalah membunuhi semua non-Muslim kecuali mereka yang melafalkan shahadat. Yesus dalam hal ini turun untuk membantu Mahdi dalam pelaksanaan tugasnya, dan karena Yesus sendiri juga Imam Mahdi (bahkan Mahdi yang lebih agung) tetapi beliau tidak akan jadi Khalifah saat itu karena posisi ini katanya hanya untuk golongan Kuraish. Mereka berdua akan membanjiri bumi ini dengan darah manusia dimana akan lebih banyak yang mereka alirkan dibanding yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.  Begitu mereka muncul, mereka katanya akan langsung melaksanakan kampanye berdarah mereka, tanpa terlebih dahulu ada peringatan atau pun pengajaran. Kaum Ahli-Hadith ini juga menyatakan bahwa walaupun Yesus sepertinya menjadi penasihat dari Imam Muhammad Al-Mahdi dimana kendali kedaulatan ada sepenuhnya di tangan Mahdi, namun Yesus-lah yang akan mengarahkan Imam Muhammad Sang Mahdi, untuk membantai seluruh manusia di dunia dan akan menasihatinya untuk menggunakan cara-cara ekstrim serta merubah ajarannya sendiri dahulu yang menyuruh manusia untuk merendahkan diri tidak melawan kejahatan serta memberikan juga pipi kanan jika ditempeleng pipi kirinya.

Kepercayaan mengenai Yesus a.s. yang demikian itulah yang dianut umat Muslim maupun Kristiani. Selain kesalahan besar yang dilakukan umat Kristiani dalam menganggap beliau yang adalah seorang manusia biasa sebagai Tuhan, kepercayaan sebagian umat Muslim, terutama mereka dari kelompok Ahli-Hadith yang disebut kaum Wahabi tentang Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, ternyata telah mempengaruhi moral mereka secara negatif.  Sedemikian rupa pengaruh itu hingga sikap mereka dalam berhubungan dengan manusia lain tidak lagi didasarkan pada kejujuran dan itikad baik, dan mereka tidak bisa memberikan kesetiaan sepenuhnya dalam hubungannya dengan pemerintahan non-Muslim.

Semua manusia berfikiran waras tentunya menyadari bahwa adanya kepercayaan yang membolehkan pemaksaan non-Muslim untuk masuk Islam atau dibunuh mati, adalah suatu hal yang patut ditolak sekerasnya. Setiap manusia waras pasti menyadari bahwa seseorang menerima kebenaran suatu agama setelah memahami keindahan dan kebaikan ajarannya dan tidak patut memaksanya menganut agama tersebut dengan ancaman kematian. Kepercayaan seperti itu tidak akan memberikan dampak baik bagi perkembangan agama, bahkan akan memberikan kesempatan kepada para musuhnya untuk mencari-cari kesalahan ajaran demikian.

Hasil akhir dari prinsip seperti itu adalah hati mereka menafikan simpati antar manusia, belas kasih dan keadilan, yang sebenarnya merupakan nilai-nilai luhur moral manusia. Sebagai gantinya adalah sikap kebencian dan permusuhan akan berkembang sehingga yang tinggal hanyalah naluri hewaniah. Jelas bahwa ajaran demikian itu tidak mungkin berasal dari Allah s.w.t. karena Dia hanya menghukum jika telah memberikan peringatan secukupnya.

Cobalah renungkan, jika seorang tidak mau menerima agama yang benar karena ketidaktahuannya dan tidak menyadari kebenarannya, tidak mengenal ajaran dan keindahannya, patutkah orang seperti itu langsung dibunuh? Tidak demikian, justru orang seperti itu patut dikasihani, ia patut diajari secara lemah lembut dan santun tentang kebenaran, keindahan dan manfaat ruhaniah agama tersebut. Tidak pantas kiranya penolakan yang bersangkutan harus diakhiri dengan pedang atau senapan. Jadi doktrin Jihad yang dianut oleh sekte-sekte Islam seperti itu, serta keyakinan akan segera munculnya seorang Imam Mahdi bersimbah darah bernama Imam Muhammad yang dibantu dengan turunnya Al-Masih dari langit dimana mereka berdua akan membunuhi semua manusia non-Muslim yang mengingkari agama Islam, benar-benar bertentangan dengan hati nurani kita.  Tidakkah kita menyadari bahwa keyakinan seperti itu akan mensirnakan semua nilai-nilai luhur kemanusiaan dan menyuburkan nilai moral hukum rimba?  Mereka yang berpegang pada keyakinan demikian sebenarnya hidup dalam kemunafikan dalam hubungannya dengan manusia lain.  Bahkan juga mereka tidak bisa memberikan kesetiaan mereka kepada pemerintahan yang kebetulan non-Muslim, mereka secara tidak jujur menyatakan patuh tetapi sebenarnya tidak. Karena itulah beberapa sekte Ahli-Hadith tersebut hidup dengan standar ganda di bawah pemerintahan Inggris di India. Secara berahasia mereka menjanjikan dan mengajarkan kepada rakyat awam akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, sedangkan kepada pejabat pemerintahan mereka bermanis muka dan menyatakan tidak menyukai doktrin demikian. Kalau benar mereka menentang doktrin Jihad seperti itu, mengapa mereka tidak menyiarkannya secara tertulis? Dan mengapa mereka masih menantikan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih bersimbah darah seolah-olah keduanya sudah diambang pintu dimana mereka menyiapkan diri untuk bergabung dalam gerakan mereka?

Keyakinan seperti itu telah memerosotkan moral para ulama sehingga mereka tidak lagi mampu mengajari umat tentang kepantasan dan kedamaian. Sebaliknya bahkan, mereka menganggap membunuh orang lain tanpa alasan atau tujuan sebagai tugas mulia agama. Aku akan sangat bergembira sekali jika ada siapa pun dari sekte Ahli Hadith tersebut yang berpandangan sebaliknya, namun nyatanya aku melihat bahwa dari antara mereka itu masih banyak yang menganut keyakinan akan kedatangan seorang Imam Mahdi yang haus darah dan doktrin Jihad sebagaimana mereka anut.

Mereka menentang siapa pun yang berusaha memperbaiki pandangan mereka dan bahkan mereka beranggapan adalah tugas mulia untuk membunuhi semua orang yang berbeda agama. Padahal keyakinan tentang pembunuhan manusia atas nama agama, menyebarkan agama Islam melalui pertumpahan darah dan ancaman atau meyakini nubuatan tentang Al-Masih yang buas seperti itu adalah benar-benar bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Hadith sahih. Nabi kita Rasulullah s.a.w. mengalami penderitaan aniaya yang luar biasa di tangan kaum kafir di Mekah dan juga setelahnya. Tigabelas tahun yang dihabiskan Rasulullah s.a.w. di Mekah adalah masa penuh penderitaan dan berbagai cobaan, dimana jika mengingatnya saja kita bisa meneteskan air mata. Namun nyatanya beliau tidak mengangkat pedang terhadap para musuh beliau, tidak juga beliau membalas kekejian mereka sampai akhirnya banyak sahabat yang terbunuh tanpa belas kasihan, sampai beliau sendiri dihadapkan kepada berbagai penderitaan seperti percobaan peracunan dan lain-lain serta adanya usaha-usaha langsung untuk membunuh beliau. Baru kemudian datang pembalasan Tuhan saat mereka para tua-tua dan kepala-kepala suku di Mekah memutuskan secara aklamasi bahwa beliau harus dibunuh dengan cara apa pun. Ketika itulah Allah s.w.t yang selalu melindungi mereka yang dikasihi-Nya dan mereka yang saleh dan benar, lalu memberitahukan beliau bahwa tidak ada apa lagi yang tersisa di kota itu kecuali kejahatan, bahwa penduduk kota akan membunuh beliau dan karena itu sebaiknya beliau segera meninggalkan kota itu.

Baru saat itulah, sejalan dengan petunjuk Tuhan, beliau hijrah ke Madinah. Namun di sini pun para musuh tetap tidak mau memberikan kedamaian kepada beliau, mereka tetap mengejarnya dan mencoba menghancurkan Islam dengan segala macam cara. Ketika sikap keterlaluan mereka itu telah melampaui batas dan ketika mereka menjadikan diri mereka pantas mendapat hukuman karena telah membunuh banyak orang tidak berdosa, barulah datang izin untuk memerangi mereka dengan tujuan untuk membela diri dan menangkis serangan para kafir tersebut. Kaum kafir dan para pembantunya telah menjadikan diri mereka pantas mendapat perlakuan demikian karena mereka telah membunuhi orang-orang tidak berdosa, bukan di medan perang tetapi semata hanya karena kesemena-menaan sambil merampasi harta bendanya. Tetapi walaupun diperlakukan seperti itu, ketika Mekah kemudian jatuh, Rasulullah s.a.w. mengampuni mereka semua. Jadi tidak benar sama sekali untuk menganggap bahwa Rasulullah s.a.w. dan para sahabat beliau pernah berperang untuk penyebaran agama Islam atau bahwa mereka pernah memaksa siapa pun untuk menganut Islam.

Patut pula diperhatikan bahwa pada saat itu semua orang sedang berprasangka buruk terhadap Islam dan para musuh itu selalu merencanakan penghancuran Islam, karena mereka menganggapnya sebagai agama baru dengan penganut yang amat sedikit, dimana mereka ingin segera menghancurkan Islam agar tidak sempat berkembang.

Dalam hal-hal yang paling sederhana pun umat Muslim selalu dihalangi. Mereka yang menganut Islam biasanya segera dibunuh oleh sukunya atau hidup selalu dalam ancaman bahaya. Pada saat seperti itu, Allah s.w.t. mengasihani mereka yang telah baiat ke dalam Islam dengan cara menjadikan para penguasa untuk menganut Islam, sehingga terbuka pintu ke arah kemerdekaan Muslim. Dengan cara ini terangkat rintangan bagi mereka yang ingin menerima Islam. Begini inilah bentuk rahmat Allah s.w.t. kepada dunia dan tidak ada yang dirugikan karenanya.

Sekarang ini pun kita melihat bahwa para penguasa non-Muslim tidak ada mengganggu Islam, mereka tidak merintangi siapa pun dalam menjalankan ibadahnya. Mereka tidak membunuhi penganut baru Islam, tidak juga para penguasa itu menangkap dan memenjarakan mereka. Lalu mengapa umat Muslim harus mengangkat pedang melawan mereka? Jelas bahwa Islam tidak pernah memaksakan agamanya.

Kalau kita teliti Al-Quran dan Hadith serta naskah-naskah sejarah secara mendalam, kita akan menyadari bahwa tuduhan Islam menggunakan pedang untuk menyiarkan agama adalah suatu fitnah tidak berdasar dan memalukan. Tuduhan terhadap Islam demikian itu dilancarkan oleh orang-orang yang belum pernah membaca Al-Quran, Beberapa ulama dari kelompok Ahli-Hadith secara lancang dan seenak hatinya menyatakan dalam buku-buku mereka akan segera datangnya Imam Mahdi tersebut yang katanya akan
memenjarakan para penguasa Inggris di India dan bahwa raja Kristen itu akan ditangkap dan
dibawa ke hadapan Imam Mahdi. Buku-buku seperti itu masih bisa ditemukan di rumah-rumah
kelompok Ahli-Hadith tersebut, salah satunya adalah yang berjudul Iqtarab-us-Saat yang dikarang
oleh salah seorang mereka yang terkenal, dalam halaman 64 dimana pertelaan mengenai hal ini bisa dijumpai.

Hadith serta sejarah Islam secara obyektif, dan mereka memanfaatkan kedustaan dan prasangka buruk tanpa batas.  Namun aku mengetahui bahwa sudah dekat saatnya bagi mereka yang haus dan lapar pada kebenaran akan memperoleh pencerahan tentang apa sebenarnya hakikat tuduhan-tuduhan yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Bagaimana mungkin kita mengatakan agama Islam ini sebagai agama paksaan sedangkan Al-Quran jelas mengatur bahwa tidak ada paksaan dalam agama? Bahwa tidak diizinkan menggunakan paksaan atau kekuatan untuk menarik orang masuk ke dalam Islam?  Mungkinkah kita menuduh Nabi Besar Muhammad s.a.w. telah menggunakan paksaan padahal selama tigabelas tahun beliau selalu mengajak para sahabat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan pula, bahkan mengajak mereka itu untuk bersabar dan memaafkan? Hanya saja ketika kejahatan para musuh tersebut telah melampaui batas dan ketika mereka memaksakan diri untuk melenyapkan Islam maka Tuhan yang Pencemburu menganggap sudah waktunya mereka yang mengangkat pedang itu dimusnahkan dengan pedang juga. Kecuali karena keadaan seperti itu, Al-Quran tidak pernah menyarankan kekerasan.

Jika kekerasan memang diizinkan dalam Islam maka para sahabat Rasulullah s.a.w. dalam masa sulit demikian pasti tidak akan berperilaku sebagai orang yang saleh dan muminin. Kesetiaan dan kepatuhan para sahabat kepada Rasulullah s.a.w. rasanya tidak perlu aku kemukakan lagi. Bukanlah suatu rahasia bahwa di antara mereka itu banyak sekali contoh kesetiaan dan keteguhan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa lain. Kumpulan para muminin ini tidak goyah dalam kesetiaan dan keteguhan hati walau di bawah bayangan pedang sekali pun. Bersama junjungan mereka, Rasulullah s.a.w., mereka telah memperagakan keteguhan hati yang tidak mungkin diberikan oleh siapa pun kecuali hatinya diterangi oleh cahaya kebenaran agama.

Singkat kata, tidak ada paksaan di dalam agama Islam. Perang di dalam Islam terdiri atas tiga kategori yaitu (1) perang defensif untuk membela diri, (2) perang punitif yaitu pembalasan darah untuk darah, (3) perang untuk memperoleh kemerdekaan dengan tujuan menghancurkan kekuasaan mereka yang telah membunuh orang-orang yang memeluk Islam. Dengan kata lain, jika tidak ada pengarahan dalam Islam untuk memaksa orang memeluk agama ini dengan ancaman kematian, maka tidak masuk akal kiranya jika kita masih menantikan kedatangan Imam Mahdi atau Al-Masih yang haus darah.  Dalam dunia ini tidak mungkin akan muncul sesosok manusia yang akan menggunakan pedang untuk memaksa orang memeluk Islam karena hal itu amat bertentangan dengan ajaran Al-Quran. Hal seperti ini tidaklah sulit dipahami. Hanya orang-orang bodoh saja karena kepentingan diri pribadi yang menganut pandangan seperti itu, karena sebagian besar para ulama itu mengira bahwa perang yang akan dilancarkan oleh Imam Mahdi akan memberikan mereka kekayaan melimpah. Mengingat sebagian besar ulama itu sangat miskin maka mereka amat menantikan kedatangan seorang Mahdi yang menurut mereka akan memenuhi hajat mereka sendiri.

Karena itulah maka para ulama tersebut memusuhi orang-orang yang tidak meyakini akan kedatangan seorang Mahdi seperti itu. Mereka langsung mencapnya sebagai kafir dan berada di luar Islam.  Berdasarkan pandangan mereka itu dengan demikian aku ini pun seorang Kafir di mata mereka. Karena aku tidak mempercayai akan datangnya seorang Imam Mahdi atau pun Al-Masih yang haus darah. Aku membenci konsep pemikiran absurd seperti itu dan menganggapnya sebagai suatu yang hina.

Aku pun dinyatakan Kafir bukan saja karena menyangkal keyakinan akan datangnya seorang Imam Mahdi atau Al-Masih menurut pandangan mereka itu, tetapi juga karena aku telah mengumumkan secara luas bahwa aku inilah Al-Masih yang Dijanjikan dan juga seorang Imam Mahdi, setelah memperoleh wahyu dari Allah s.w.t., dimana nubuatan kedatanganku telah dikemukakan dalam Al-Quran dan Injil serta dijanjikan di dalam Hadith. Hanya saja aku tidak dilengkapi dengan sarana berupa pedang atau pun senapan. Aku telah diperintahkan Allah s.w.t. untuk mengajak manusia dengan cara yang lembut dan halus kembali kepada Tuhan, Yang Maha Benar, Abadi dan tidak berubah, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Adil.

Akulah nur dalam masa kegelapan sekarang ini. Mereka yang mengikuti aku akan terpelihara dari kejatuhan ke dalam jurang yang telah disiapkan Iblis bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Aku diutus Tuhan untuk mengajak manusia bumi ini kepada Tuhan yang Maha Esa melalui cara-cara damai dan kelembutan serta penerapan kembali moral-moral Islam. Allah s.w.t. telah memberikan kepadaku tanda-tanda samawi yang akan memuaskan para pencari kebenaran.  Dia telah memberikan mukjizat-mukjizat guna menopangku. Dia telah membukakan rahasia-rahasia yang tersembunyi di masa depan yang menurut kitab-kitab suci adalah tanda bagi seorang yang menyatakan dirinya membawa perintah Tuhan, dan Dia telah memberikan kepadaku Pengetahuan yang murni dan suci.  Karena itulah mereka yang membenci kebenaran dan mencintai kegelapan, telah menyerangku. Namun sejauh mungkin aku akan tetap mengasihi umat manusia. Pada masa ini yang patut memperoleh simpati adalah umat Kristiani agar mereka kembali kepada Tuhan yang Maha Esa, yang bebas dari segala aib seperti dilahirkan dan keharusan mati serta mengalami penderitaan. Kembali kepada Tuhan yang sejak awal menciptakan benda-benda di langit dalam bentuk bulat dan menetapkan hukum alam seperti juga pada dunia keruhanian bahwa sebagaimana juga bulatan, dalam Diri-Nya terdapat Kesatuan dan ketiadaan arah. Karena itulah benda-benda di angkasa tidak diciptakan sebagai segi tiga misalnya. Semua bentuk awal yang diciptakan Tuhan seperti bumi, bulan, ruang angkasa, bintang-bintang semuanya berbentuk bulat yang semuanya mengarah kepada Kesatuan. Dengan demikian simpati kita adalah kepada umat Kristiani yang patut diajak kembali kepada Tuhan yang semua ciptaan-Nya menunjukkan bahwa Dia itu bebas dari konsep trinitas.  Adapun bagi umat Muslim, mereka ini memerlukan reformasi moral dan perlu adanya pencerahan guna menghapus harapan-harapan salah mereka akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah yang sebenarnya bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam.  

Aku telah menyatakan di atas tentang pandangan beberapa ulama masa kini yang menganggap bahwa Imam Mahdi yang haus darah akan datang untuk menyiarkan agama Islam di bawah ancaman pedang adalah pandangan yang menyalahi Al-Quran dan merupakan hasil perwujudan sifat kerakusan dan mementingkan diri sendiri.  Seorang Muslim yang berfikiran jernih dan mencintai kebenaran akan mudah menanggalkan kepercayaan demikian itu asal mau mempelajari Al-Quran, merenung dan mempertimbangkan kenyataan bahwa Ayat-ayat Suci dari Allah s.w.t. tidak menyukai ancaman pembunuhan atau pun kekerasan guna memaksa siapa pun untuk menganut Islam.  Sebenarnya satu argumentasi ini saja cukup untuk menghilangkan pandangan salah demikian. Namun karena kasihku kepada umat, aku akan memberikan bukti-bukti yang nyata dan jelas dari sejarah dan lain-lain untuk menghapus pandangan demikian.  Karena itu dalam buku ini aku akan membuktikan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, beliau tidak naik ke langit, tidak juga beliau akan turun dari langit ke bumi. Yesus a.s. wafat di usia seratus dua puluh tahun di kota Srinagar, Kashmir, dan makamnya dapat ditemui di jalan Khan Yar di kota tersebut.

Aku akan membagi pembahasan ini dalam sepuluh bab dan satu epilog yang mencakup kesaksian dari Injil, pernyataan Al-Quran dan Hadith, bukti-bukti dari buku-buku medikal, catatan dari naskah-naskah sejarah, nukilan dari riwayat-riwayat turun temurun, berbagai bukti lainnya serta wahyu yang langsung aku terima dari Allah s.w.t. Semua ini menjadi delapan bab. Dalam bab sembilan aku akan memberikan perbandingan singkat antara agama Islam dan Kristen serta argumentasi yang membuktikan Islam sebagai agama yang benar. Dalam bab sepuluh aku akan menjelaskan rincian tujuan aku diutus sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan bahwa aku ini datang dari Allah s.w.t. Di bagian akhir akan diberikan epilog yang berisi beberapa pengarahan.

Aku berharap para pembaca buku ini membacanya secara teliti.  Jangan menampik kebenaran yang terdapat di dalamnya hanya karena prasangka. Aku perlu mengingatkan para pembaca bahwa apa yang dikemukakan disini bukanlah hasil penelitian kulitan, karena semua itu adalah hasil penelitian yang mendalam. Aku berdoa kepada Allah s.w.t. agar Dia menolongku dalam upaya ini dan menuntun aku melalui wahyu-wahyu-Nya ke arah Nur kebenaran yang sempurna karena pengetahuan yang benar dan kesadaran yang jernih hanya bisa turun dari Dia. Hanya dengan karunia-Nya saja hati manusia bisa dibimbing kepada kebenaran. Amin! Amin!

MIRZA GHULAM AHMAD
Qadian, 25 April 1899