GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Buddha. Show all posts
Showing posts with label Buddha. Show all posts

Tuesday, January 31, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 2

Bukti Dari Buku-Buku Agama Buddha
Bukti dari buku-buku agama Buddha Untuk dimaklumi, kitab-kitab agama Buddha telah memberikan berbagai pembuktian yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Yesus a.s. pasti pernah ke Punjab, Kashmir dan tempat-tempat lainnya.  Aku akan menyampaikan disini pembuktian tersebut agar mereka yang berfikir adil dapat mempelajari serta menyusunnya dalam runutan yang runtut sehingga mendapatkan kesimpulan yang sama.

Yang utama adalah kesamaan gelar-gelar yang disandang oleh Buddha maupun Yesus.  Begitu juga adanya kesamaan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan keduanya.  Yang dimaksud adalah agama Buddha yang terdapat di daerah-daerah di dalam ruang lingkup Tibet sepertiLeh, Lhasa, Gilgit, Hams dan lain-lain yang merupakan tempat-tempat yang terbukti pernah dikunjungi Yesus a.s.

Tentang kesamaan gelar, sebagai contoh jika Yesus dalam ajaran-ajarannya menyebut dirinya sebagai Terang Dunia, begitu juga Gautama digelari Buddha yang dalam bahasa Sansekerta berarti Terang (Sir M .M .W illiams, Buddhism, halaman 23).  Jika  Yesus dalam Injil disebut sebagai Guru, begitu juga Buddha disebut Sasta yang berarti Guru. Kalau Yesus dalam Injil disebut Yang Diberkati, Buddha pun disebut Sugt yang artinya Yang Diberkati.  Yesus dalam Injil juga dikatakan sebagai seorang yang memenuhi tujuan kedatangannya, Buddha pun digelari Sidharta yang berarti orang yang memenuhi tujuan diutusnya. Yesus juga disebut sebagai ‘tempat berlabuh yang letih dan lesu,’ sama dengan Buddha yang digelari Asarn Sarm yang artinya ‘tempat bagi para pelarian.’  Dalam Injil Yesus disebut sebagai Raja, yang diartikan sebagai Raja Kerajaan Sorga, begitu juga Buddha disebut sebagai Raja.

Juga ditemui kesamaan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan seperti penuturan tentang Yesus yang digoda oleh Iblis dengan janji kekayaan dan kerajaan dunia asal beliau mau menyembah Iblis itu, diceritakan bahwa Buddha juga digoda Setan yang menjanjikan kemegahan raja-raja kalau mau meninggalkan kepapaan kehidupannya dan kembali ke istana.Tetapi sebagaimana Yesus tidak mematuhi Iblis, dalam riwayat dikatakan Buddha juga menentangnya.  Lihat juga buku Buddhism oleh T. W. Rhys Davids, halaman 94, serta Buddhism karangan Sir M. M. Williams.  (Buku- buku lainnya adalah Chinese Buddhism karangan Edkins, Buddha karangan O ldenbergyang diterjemahkan oleh W .Hoey; serta Life of Buddha karangan R ickhill).

Jadi gelar-gelar yang disandang Yesus sebagaimana dikemukakan dalam Injil, ternyata juga disandang oleh Buddha dalam kitab-kitab agama Buddha yang sebenarnya disusun dan dikompilasi jauh setelah kodifikasi Injil.  Bedanya hanya kecil seperti peristiwa godaan Buddha oleh Setan lebih panjang dari cerita tentang godaan Yesus dalam Injil.  Menurut penuturan agama Buddha, ketika Setan menawarkan kekayaan dan kemegahan kerajaan, Buddha katanya pada awalnya terbujuk untuk pulang ke rumah, tetapi tidak diturutinya keinginan itu.  Setan lalu datang lagi pada suatu malam sambil membawa semua anaknya guna menakut-nakuti dengan penampilan yang menakutkan.  Setan itu berbentuk ular-ular yang menyemburkan api dan racun tetapi semburan racun itu berubah menjadi bunga sedangkan apinya menjadi lingkaran halo di sekeliling Buddha. Karena tidak berhasil, Setan lalu memanggil enambelas putrinya dan menyuruh mereka memperlihatkan kecantikan mereka kepada Buddha tetapi tetap tidak berhasil.   Setan itu menggunakan segala macam cara tetapi tidak dapat merubah Buddha yang bersiteguh.  Buddha sendiri terus meningkat tahapan spiritualitasnya, sampai akhirnya setelah melalui percobaan yang berat, Buddha bisa mengalahkan musuhnya si Setan.  Cahaya dari Pengetahuan yang Benar terbuka baginya bersama datangnya  fajar pagi dimana ia menjadi mengetahui segala hal.  Saat berakhirnya pergulatan itu dianggap sebagai hari lahir agama Buddha.  Gautama pada saat itu berusia 35 tahun dan sejak itu ia disebut Sang Terang, sedangkan pohon dimana ia duduk saat itu disebut Pohon Terang.  Jika kita buka Injil, kita akan menemukan persamaan godaan kepada Buddha dengan godaan kepada Yesus (Percobaan di padang gurun), bahkan sampai kepada usia mereka saat terjadinya peristiwa itu.  Dari kitab-kitab Buddha dikatakan bahwa Setan nampak kepada Buddha bukan dalam bentuk kasar.  Pemunculannya hanya sebagai tampakan dan bicaranya sebagai bisikan ilham.  Begitu juga kepercayaan umat Kristiani bahwa Iblis tidak muncul dan bicara kepada Yesus secara langsung dengan tubuh fisik.  Pertemuan itu hanya dalam bentuk tampakan yang hanya bisa dilihat Yesus saja, sedangkan bicara Iblis dalam bentuk ilham berupa bisikan jahat ke dalam hati, yang ditolak oleh Yesus.

Kiranya patut kita renungkan mengapa begitu banyak persamaan di antara Buddha dengan Yesus.  Kaum Arya mengatakan bahwa Yesus berkenalan dengan agama Buddha saat perjalanannya di India dan setelah menyerap semua ajaran itu, lalu menyusun Injil ketika kembali ke negeri asalnya di Palestina.  Mereka menganggap Yesus telah menyusun ajaran-ajaran moralnya dengan menjiplak ajaran Buddha, sampai kepada gelar-gelar yang disandang dan cerita tentang godaan Iblis.  Namun ini adalah karangan kaum Arya saja.  Tidak benar jika dikatakan Yesus datang ke India sebelum peristiwa Penyaliban.  Beliau tidak perlu melakukan perjalanan demikian pada saat itu, tetapi ketika umat Yahudi menyangkalnya dan menyalibkannya barulah timbul perlunya perjalanan tersebut.  Berkat rahmat Tuhanlah beliau telah selamat dari kematian di kayu salib.  Karena habis sudah simpati beliau serta perhatian untuk mengajar umat Yahudi akibat dari kedegilan dan kejahilan mereka yang tidak mau menerima kebenaran, Yesus setelah mendapat wahyu Tuhan tentang sepuluhsuku bangsa Israel yang  hilang yang telah pindah ke India maka beliau lalu memutuskan untuk berjalan ke negeri itu. 

Mengingat umat Yahudi di India itu sudah beralih ke agama Buddha maka terpaksalah nabi ini memusatkan perhatiannya kepada para penganut Buddha.  Pada saat itu para pendeta Buddha di negeri tersebut sedang menantikan kedatangan Buddha ‘Messiah’ (Yang Dijanjikan).  Karena itu gelar-gelar Yesus serta ajaran moral beliau seperti ‘kasihi musuhmu,’ serta nubuatan Gautama Buddha tentang kulit beliau yang putih maka para pendeta itu menganggap Yesus sebagai Buddha.   Kemungkinan beberapa atribut, fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, secara sadar atau tidak, telah diasimilasikan kepada Buddha, mengingat kemampuan umat Hindu dalam mencatat sejarah memang kurang begitu terampil dan tertata rapih.  Sejarah kehidupan Buddha tidak pernah ada catatannya sebelum masa Yesus.  Karena itu para pendeta Buddha memiliki kesempatan untuk melekatkan kepada Buddha apa saja yang ingin mereka kemukakan. Jadi kemungkinan setelah mereka mengetahui fakta-fakta kehidupan dan ajaran Yesus, mereka mencampurkan semua ini dengan berbagai hal karangan mereka sendiri dan menyatakannya sebagai bagian dari agama Buddha.  (Kita tidak akan m engatakan bahwa agama Buddha dari awalnya tidak mengandung ajaran-ajaran moral, yang aku maksudkan adalah bagian-bagian dari Injil seperti perumpamaan-perumpamaan dan ajaran lainnya, tidak ragu lagi ditambahkan ke dalam kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri India). Berikut aku akan membuktikan bahwa ajaran moral dari Injil seperti juga gelar Terang Dunia dan lain-lainnya, juga dicatat sebagai bagian dari kitab-kitab Buddha pada saat Yesus berada di negeri ini setelah peristiwa penyaliban.  Ada kesamaan lain di antara Buddha dan Yesus yaitu kitab agama Buddha menyatakan kalau Buddha sedang berpuasa selama empat puluh hari ketika digoda oleh Setan. Pembaca Injil bisa membaca bahwa Yesus pun saat itu sedang berpuasa empat puluh hari.  Demikian banyak persamaan dalam ajaran-ajaran moral di antara ke duanya itu sehingga bagi mereka yang mengenal kedua agama tersebut merupakan hal yang mengherankan. Sebagai contoh, jika Injil mengatakan ‘jangan kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, kasihilah musuhmu, hiduplah dalam kemiskinan, jauhi sombong, kepalsuan dan kerakusan’ maka hal yang sama juga terdapat dalam ajaran Buddha.  Bahkan ajaran Buddha lebih jauh lagi dengan memasukkan larangan membunuh walaupun hanya semut dan serangga karena dianggap sebagai dosa.  Pokok ajaran Buddha adalah‘kasih kepada seluruh dunia, mengejar kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dan semua hewan, pengembangan semangat persatuan dan kasih sesama.’ Begitu pula ajaran Injil.

Hal lainnya seperti sebagaimana Yesus mengirim murid-muridnya ke berbagai negeri, disamping beliau sendiri juga bepergian, dalam kitab Buddha pun terdapat hal serupa. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams mengemukakan bahwa Buddha mengutus murid-muridnya untuk mengajar dengan mengatakan kepada mereka:
Pergilah dan mengembaralah ke semua tempat demi kasih kepada dunia dan kesejahteraan dewa-dewa dan manusia.  Pergilah ke berbagai arah tujuan.  Ajarkan doktrin (Dharham) ini, pujaan (Kalayana) di awal, tengah dan di akhir, dalam semangat (Artha) dan dalam harfiah (Vyanjana).  Ajarkan cara hidup menahan diri dengan sempurna, tidak mengumbar nafsu dan selibat (Drahmacaryam). Aku sendiri juga akan pergi untuk menyampaikan ajaran ini’ (Mahavagga 1.11.1).  (Sir M .M .W illiams, Buddhism, John M urray, London, 1889, halaman 45)  Dikatakan Buddha pergi ke Benares (sekarang Vanarasi) dan melakukan berbagai mukjizat  di daerah itu.  Buddha menyampaikan khutbah impresif di atas bukit seperti juga yang dilakukan Yesus.

Kitab-kitab itu juga menyatakan jika Buddha biasa mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yaitu memberikan penjelasan masalah-masalah spiritual melalui analogi-analogi fisikal.  Kita mengetahui bahwa ajaran-ajaran moral itu dan cara pengajaran melalui perumpamaan-perumpamaan adalah metoda yang biasa digunakan Yesus a.s.  Semua ini beserta hal-hal lainnya cenderung mengindikasikan jika ajaran agama Buddha merupakan imitasi dari ajaran yang dibawa Yesus. Beliau pernah berada di India, pernah bepergian kemana-mana dan bertemu dengan para penganut agama Buddha. Mereka ini mengetahui kalau beliau itu seorang kudus yang memberikan mukjizat-mukjizat, lalu mencatat semuanya itu dalam kitab-kitab mereka dan mengatribusikannya kepada Buddha. Hal ini wajar saja karena sudah fitrat manusia untuk mengambil bagi dirinya apa-apa yang dirasanya baik dan bagus, termasuk mencatat dan mengingat ucapan-ucapan seseorang yang dianggapnya luar biasa.  Jadi kemungkinan besar para pengikut agama Buddha tersebut telah mereproduksi keseluruhan rangkuman Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri, termasuk mengenai puasa empat puluh hari, godaan Setan, kelahiran tanpa bapak, ajaran- (Ditto, halaman 94), ajaran moral, gelar Terang Dunia, penyebutan diri sebagai Guru dan pengikutnya sebagai murid.  Kalau dalam Injil Matius 10:8 - 9 dikatakan: ‘Jangan kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu’ begitu juga perintah Buddha kepada para muridnya. Sebagaimana Injil menyarankan hidup selibat, begitu juga ajaran Buddha.  Gempa bumi yang terjadi ketika penyaliban Yesus, juga dikatakan terjadi pada saat wafatnya Buddha.

Semua titik kesamaan dalam ajaran-ajaran keduanya hanya mungkin timbul karena kenyataan adanya kunjungan Yesus ke India yang merupakan berkah bagi para pengikut agama Buddha karena mereka bisa memperoleh ajaran-ajaran beliau yang mulia. Adanya ajaran-ajaran Yesus dalam kitab-kitab Buddha juga menunjukkan kalau Yesus a.s. pada waktu itu dihormati dan dianggap sebagai Buddha sendiri.  Sebenarnya merupakan suatu keajaiban bahwa baik Buddha mau pun Yesus biasa mengajar para murid mereka dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan seperti yang ada di Injil.  Dalam salah satu perumpamaan yang mirip sekali dengan Injil itu, Buddha mengatakan:
Sebagaimana petani yang menyemai benih tidak dapat mengatakan bahwa biji ini akan membesar hari ini dan bertunas besok, begitu juga para murid; ia harus mengikuti ketentuan, melakukan meditasi, mempelajari ajaran; ia tidak akan bisa mengatakan bahwa hari ini atau besok aku akan diserahkan.’ (Ditto, halaman 51.12).   Perumpamaan lain yang diberikan Buddha adalah: ‘Sebagaimana sekelompok rusa yang hidup di hutan dan datang seorang manusia yang membukakan jalan yang salah maka rusa itu akan menderita; tetapi jika datang seseorang yang membukakan jalan yang aman maka rusa itu akan berbahagia.

Begitu juga orang-orang yang hidup mencari kenikmatan akan datang yang jahat untuk membukakan pintu delapan jejak yang salah . . . (Buddha, His Life, His Doctrine, Order; Hermann Oldenberg, halaman 191- 192).

Buddha juga mengajarkan: ‘Kesalehan adalah harta yang aman yang tidak akan bisa dicuri orang. Ini adalah harta yang menemani orang setelah kematiannya, ini adalah harta yang menjadi sumber semua pengetahuan dan kesempurnaan.’  Kita mengetahui bahwa ajaran Injil juga sama.  Naskah-naskah Buddha mengenai ajaran-ajaran ini berasal dari periode tidak berbeda jauh dengan periode kehidupan Yesus, bahkan mungkin sama periodenya. Buku Buddhism karangan Sir M. M. Williams di halaman 45 mengemukakan: ‘Ajaran moral agama Buddha amat mirip dengan ajaran agama Kristen.’ Aku sependapat dan aku mengakui bahwa keduanya sama berkata:‘Jangan mencintai dunia, tidak juga kekayaan; jangan membenci musuhmu; jangan melakukan kejahatan; taklukkan kejahatan dengan kebaikan; lakukan kepada orang lain sebagaimana engkau ingin mereka memperlakukan kamu’ semuanya itu menunjukkan kemiripan yang luar biasa di antara Injil dan ajaran Buddha, sehingga rasanya tidak perlu disebutkan lebih banyak lagi rincian lain.

Naskah-naskah agama Buddha juga mengemukakan kalau Gautama Buddha pernah menubuatkan kedatangan Buddha yang kedua yang diberi nama Metteya.  Ramalan ini dimuat dalam kitab Laggawati Sutatta yang dikemukakan oleh Oldenberg (Dr. H ermann 1 .Oldenberg ,Buddha) dalam bukunya pada halaman 142 dan berbunyi:
Ia akan menjadi pimpinan dari para pengikut yang berjumlah ratusan ribu sebagaimana aku ini sekarang menjadi pemimpin dari para pengikut yang berjumlah ratusan.’

Untuk diketahui bahwa perkataan Masiha dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan Metteyya dalam bahasa Pali. Umum diketahui jika suatu kata diterjemahkan ke bahasa lain seringkali mengalami perubahan.

Sama dengan perkataan dari bahasa Inggris jika dialihkan ke bahasa lain juga sering mengalami perubahan. Contohnya, Max Muller dalam bukunya Sacred Books of the East, jilid 11, halaman 318, mengatakan bahwa kata ‘th’ dalam alfabet Inggris berubah menjadi ‘s’ dalam alphabet Arab atau Parsi.  Karena itu kita bisa memahami jika kata Messiah berubah menjadi Metteyya dalam bahasa Pali, yang berarti bahwa Metteyya yang akan datang menurut ramalan Buddha itu tidak lain adalah Messiah sendiri, tidak ada yang lainnya.

Temuan itu mendukung fakta tentang nubuatan Buddha yang menyatakan bahwa di dunia ini ajarannya tidak akan berumur lebih dari lima ratus tahun dimana pada saat kemunduran ajaran maupun para pengikutnya akan datang satu sosok Metteyya ke negeri itu yang akan menghidupkan ajaran itu kembali.  Kita tahu bahwa Yesus datang lima ratus tahun setelah Buddha dan pada saat itu sejalan dengan nubuatan Buddha, agama Buddha sedang menurun pamornya.  Setelah kelepasan dari penyaliban, Yesus datang ke negeri ini dan umat Buddha mengakui dan memperlakukan beliau dengan sangat hormat.  Tidak diragukan lagi jika ajaran moral dan spiritual sebagaimana disampaikan oleh Buddha telah dihidupkan kembali melalui kemunculan Yesus.

Umat Kristiani mengakui bahwa Khutbah di Bukit dan berbagai ajaran-ajaran moral yang ada di Injil adalah sama dengan yang dikhutbahkan Buddha kepada dunia lima ratus tahun sebelumnya.   Mereka ini juga menyatakan bahwa Buddha tidak saja menyampaikan doktrin-doktrin moral tetapi juga berbagai kebenaran lainnya.  Dalam pandangan mereka, gelar Terang Asia yang diterapkan pada Buddha adalah tepat sekali.  Sejalan dengan nubuatan Buddha, Yesus muncul lima ratus tahun kemudian dan sebagaimana diakui para cendekiawan Kristiani, ajaran beliau identik dengan ajaran-ajaran Buddha.  Bisa disimpulkan disini bahwa Yesus datang atau muncul dalam ‘bayangan’Buddha.  Dalam buku Oldenberg yang mengutip kitab Laggawati

Sutatta mengatakan bahwa penganut agama Buddha dalam melihat ke masa depan, mereka menghibur diri dengan pemikiran bahwa sebagai pengikut Metteyya mereka akan memperoleh keselamatan karena dalam nubuatan mengenai Metteyya disiratkan agar para penganut tersebut harus menemukannya. Pernyataan kitab itu menguatkan keyakinan bahwa sebagai petunjuk kepada mereka, Tuhan telah menciptakan dua kerangka kondisi, pertama, sejalan dengan gelar Asaf (Dalam Perjanjian Lama ada 29 kali disebut nama Asaf, antara lain dalam 1 Tawarikh 16:5),  sebagaimana disinggung dalam Perjanjian Lama yang artinya ‘dia yang menghimpun orang’ pasti Yesus telah berkunjung ke negeri dimana umat Yahudi yang terbuang itu bermukim; kedua, sejalan dengan nubuatan Buddha maka pasti para pengikut agama ini telah bertemu Yesus dan menimba ilmu spiritual dari beliau.  Memperhatikan kedua kondisi ini, dapat dipastikan kalau Yesus memang pernah berkunjung ke Tibet.  Melihat kenyataan demikian banyaknya pengaruh ajaran dan ritual agama Kristiani pada agama Buddha, menyimpulkan bahwa Yesus pernah berkunjung ke negeri mereka.  Malah kedatangan beliau itu disambut hangat karena sudah dinubuatkan sebelumnya.

Untuk dicatat, kata ‘Metteyya’ yang sering muncul dalam kitab-kitab agama Buddha pasti berarti sama dengan ‘Messiah.’ Dalam buku Tibet, Tartary, Mongolia karangan H. T. Prinsep di halaman 14 tentang Metteyya Buddha dikemukakan bahwa misionaris awal dari agama Kristen setelah melihat dan mendengar kondisi di Tibet, menyimpulkan kalau di dalam kitab-kitab lama para Lama ditemui jejak-jejak ajaran Kristen.  Di halaman yang sama juga dinyatakan bahwa para misionaris itu meyakini kalau para murid Yesus masih hidup ketika ajaran Kristen mencapai tempat tersebut.  Di halaman 171 dikatakan tidak ada keraguan kalau saat itu umum dipercaya orang akan datangnya seorang Juru Selamat (menurut Tacitus hanya orang Yahudi yang meyakini hal itu) sebagaimana diramalkan sebagai kedatangan Metteyya.  Pengarang buku ini mengemukakan dalam catatan pinggirnya tentang kitab-kitab Pitakkatayan dan Atha Kathayang berisi ramalan kedatangan Buddha yang lain seribu tahun setelah masa Sakya Muni Gautama. Gautama sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah Buddha yang ke 25 dan masih akan datang seorang ‘Bagwa Metteyya’ yang berkulit putih.  Pengarang itu juga menyatakan kemiripan kata Metteyya dengan Messiah.  Gautama Buddha sendiri menubuatkan kemunculan seorang Messiah di negerinya, di antara umatnya dan di tengah para pengikutnya.  Buddha dalam nubuatannya itu menyebut ‘Bagwa Metteyya’ karena kata Bagwa dalam bahasa Sanskerta berarti ‘putih’ dimana Yesus yang asli berasal dari daerah Syria juga berkulit putih.

Penduduk dari negeri tempat nubuatan yaitu bangsa Magadh yang ada di daerah Bajagriha pada umumnya berkulit hitam dan Gautama Buddha sendiri berkulit hitam.  Ia menyampaikan kepada para pengikutnya tentang dua tanda jelas mengenai Buddha yang akan datang yaitu (1) ia akan ‘Bagwa’ atau berkulit putih dan (2) ia adalah ‘Metteyya’ yang berarti pengelana yang datang dari negeri jauh.  Karena itu umat Buddha selalu memperhatikan tanda-tanda tersebut sampai mereka kemudian bertemu Yesus a.s.  Semua umat Buddha saat itu tentunya meyakini bahwa lima ratus tahun setelah Buddha memang telah datang Bagwa Metteyya di negeri mereka.  Jadi tidaklah mengherankan kalau kitab-kitab Buddha kemudian mencatat kedatangan Metteyya atau Masiha ke negeri mereka sebagai pemenuhan nubuatan tersebut.   Kalau saja nubuatan itu tidak terpenuhi pada saat yang sudah ditentukan sebagaimana janji Gautama Buddha maka keimanan para pengikut agama ini tentunya akan terganggu.

Argumentasi lain yang mendukung pemenuhan nubuatan itu adalah naskah-naskah kuno di Tibet dari abad ke tujuh Masehi yang menyinggung nama Messiah yaitu penyebutan nama Yesus a.s. sebagai Mi-Shi-Hu.  Yang menyusun kompilasi naskah tersebut adalah seorang penganut agama Buddha.  Lihat buku A Record of the Buddhist Religion karangan I Tsing, dan diterjemahkan oleh G. Takakusu, seorang Jepang dan diterbitkan oleh Clarendon Press, Oxford.  Adapun I Tsing adalah seorang pengelana Cina.  Dalam apendiks buku itu,


Takakusu menyatakan bahwa dalam naskah-naskah kuno tersebut terdapat nama Mi-Shi-Hu (Lihat halaman 169 dan 223 dari buku I Tsing.)  (Masih).  Jadi dalam buku itu disebut nama Masih yang jelas bukan jiplakan penganut Buddha dari luar, tetapi diambil dari nubuatan Buddha yang kadang ditulis sebagai Masih atau juga Bagwa Metteyya.

Kesaksian lain dari kitab-kitab agama Buddha sebagaimana diutarakan oleh Sir M. Williams dalam bukunya Buddhism halaman 45, diceritakan tentang murid Buddha yang keenam yang bernama ‘Yasa.’  Kata ini rupanya bentuk lain dari ‘Yasu.’  Karena Yesus a.s. muncul lima ratus tahun setelah Gautama Buddha yaitu di abad ke enam, maka beliau disebut sebagai murid ke enam.  Profesor Max Muller dalam berkala The Nineteenth Century dari Oktober 1894 halaman 517, mendukung pandangan itu dengan mengatakan bahwa sejak lama banyak pengarang telah mengatakan adanya pengaruh agama Buddha dalam ajaran Yesus sehingga mereka sedang berusaha mencari dasar historikal bagaimana ajaran Buddha tersebut sampai ke Palestina di zamannya Yesus. Pernyataan seperti itu tentunya mendukung kitab-kitab Buddha yang menyatakan Yasa sebagai murid Buddha karena Profesor Max Muller yang diakui kecendekiawanannya pun mengakui adanya pengaruh agama Buddha pada ajaran Yesus sehingga mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah pengikut Buddha.
Aku sendiri tidak sependapat dengan pandangan demikian karena hal itu sama saja dengan merendahkan martabat Yesus a.s.  Pernyataan dalam kitab-kitab kuno mengenai Yasu sebagai murid Buddha hanyalah contoh dari kebiasaan para pendeta agama ini untuk menyebut seorang mulia yang muncul kemudian sebagai murid dari dia yang muncul sebelumnya. Mengenai banyaknya persamaan ajaran Buddha dengan agama Kristen, aku tidak sependapat dengan para peneliti Eropah yang mencoba-coba mencari pembuktian bahwa ajaran Buddha telah sampai ke Palestina di zamannya Yesus.  Mengapa mereka harus mencari jejak-jejak Buddha dengan cara menapak mundur demikian.  Mengapa mereka tidak mencari jejak-jejak suci Yesus di bumi berbatu Nepal, Tibet dan Kashmir?  Aku yakin para peneliti itu tidak akan menemukan apa yang mereka cari di balik seribu cadar kegelapan.  Ini adalah kerja Tuhan yang melihat dari langit betapa umat manusia yang menyembah seorang manusia lainnya telah melampaui batas dan menyebar ke seluruh dunia, dimana penyembahan Salib dan apa yang dianggap sebagai pengorbanan seorang manusia telah menjauhkan hati berjuta manusia dari Tuhan yang sebenarnya.  Kecemburuan Tuhan telah mengutus seorang hamba-Nya mewakili Yesus dari Nazaret guna memecah salib.  Sejalan dengan nubuatan lama, sosok ini muncul sebagai Al-Masih yang Dijanjikan.  Mulai saat itu tibalah waktunya untuk memecah salib yaitu menelanjangi kesalahan penyembahan Salib sama seperti mematahkan dua keping kayu.  Pemikiran bahwa Yesus naik ke langit meski pun salah, sebenarnya juga merupakan tamsil dari telah lapuknya realitas Messiah sebagaimana jasad mati yang dimakan tanah, dengan keyakinan adanya realitas Messiah yang dipercaya hidup di langit dengan jasad kasar berbentuk manusia.  Dengan demikian merupakan keniscayaan kalau Realitas ini harus turun ke dunia di akhir zaman.  Hal itu sudah terjadi dalam abad ini dalam bentuk seorang manusia.  Ia telah memecahkan Salib serta kesesatan penyembahan kepalsuan yang oleh Rasulullah s.a.w.  dalam hadits mengenai salib itu dipersamakan juga dengan babi yang dibunuh bersamaan dengan pemecahan Salib tersebut.  Tidak berarti hadits itu mengatakan bahwa Al-Masih yang dijanjikan akan membunuh para kafir dan menghancurkan salib-salib.  Pengertian dari memecah Salib adalah Tuhan yang berkuasa dilangit dan bumi ini akan mengungkapkan Realitas tersembunyi yang seketika akan menghancurkan keseluruhan struktur kredo Salib.  Membunuh babi tidak berarti secara harfiah menikam babi-babi tetapi lebih berarti sebagai membunuh sifat-sifat serupa babi seperti kedegilan dalam kepalsuan dan mengajak yang lain agar mengikuti dirinya menyantap sampah.

Para ulama Muslim telah keliru menafsirkan nubuatan tersebut. Di masa Al-Masih yang dijanjikan, perang keagamaan akan dihentikan.

Tuhan akan membukakan kebenaran sedemikian rupa agar setiap orang akan mampu melihat kemilau kebenaran dibanding kepalsuan.  Jangan pernah menganggap bahwa aku datang dengan menghunus pedang.  Sama sekali tidak, aku datang justru untuk menyarungkan kembali pedang-pedang.  Dunia ini sudah terlalu lama berkelahi di dalam kegelapan.  Banyak sudah manusia berniat baik yang diserang atau terluka oleh teman-temannya sendiri.  Sekarang ini kegelapan mulai sirna.  Malam telah berlalu dan fajar telah tiba.  Beberkatlah mereka yang menerima.  Bukti lain yang berasal dari kitab-kitab agama Buddha adalah catatan yang dikemukakan dalam halaman 419 dalam buku Buddhism karangan Oldenberg.  Dalam buku ini yang mengutip kitab agama itu bernama Mahawaga halaman 54 bagian 1 dikemukakan bahwa pewaris Buddha adalah seseorang yang bernama ‘Rahula’ yang sebenarnya merupakan perubahan bentuk dari ‘Ruhullah’ yaitu salah satu gelar Yesus a.s. Menurut kisahnya, Rahula ini adalah putra Buddha yang ditinggalkannya ketika ia mengasingkan diri dengan niatan berpisah selamanya dari isterinya.  Menurut cerita itu Buddha meninggalkan isteri dan anaknya tanpa perpisahan atau penjelasan ketika mereka sedang tidur dan pergi ke negeri lain.  Kisah demikian itu sama sekali absurd, tidak masuk akal dan menghina keagungan Buddha.  Apakah mungkin sosok seperti Buddha melupakan sama sekali tugasnya sebagai suami, tanpa menceraikan isterinya, tidak juga berpamitan untuk pergi dalam perjalanan tanpa akhir, menyakiti hati isterinya tanpa menyurati, tidak ada kasihnya kepada seorang bayi kecil dan membiarkan putranya tumbuh dewasa sendiri.  Orang yang tidak berperikemanusiaan yang mengabaikan isteri dan meninggalkannya tanpa pamit serta menghilang sebagai pencuri dan melupakan tugasnya sebagai suami seperti itu tentunya juga tidak bisa menghormati nilai-nilai moral yang ditanamkannya sendiri.  Naluriku menolak menerima hal itu sebagaimana juga aku menolak cerita dalam Injil tentang Yesus yang katanya menghardik ibunya ketika ibu ini mendekat memanggil namanya.  Jadi walaupun dongeng-dongeng tentang melukai perasaan seorangisteri dan seorang ibu seperti itu ada kemiripannya,  namun kita tidak bisa menerimanya karena jauh sekali dari standar karakter wujud sosok manusia seperti Yesus dan Gautama Buddha.  Kalau Buddha katakanlah tidak mencintai isterinya, apakah mungkin ia tidak memiliki belas kasihan kepada seorang wanita malang bersama putranya yang menderita? Hal seperti itu hanya menunjukkan kedangkalan karakter Buddha yang memedihkan hati meskipun terjadinya sudah beratus tahun yang lampau.  Hanya seorang lelaki jahat yang akan mengabaikan isterinya seperti itu, kecuali jika si isteri itu memang berakhlak buruk, tidak setia, membangkang dan galak terhadap suaminya. Dengan demikian tidak mungkin karakter demikian itu kita sematkan pada diri Buddha karena bertentangan sama sekali dengan ajarannya sendiri.  Jadi jelas kalau cerita seperti itu salah semata.

Kata ‘Rahula’ atau ‘Rhaula’ berasal dari bahasa Iberani ‘Ruhullah.’Mengenai keterkaitan ‘Rahula’ dengan Yesus, sebagaimana dijelaskan di muka adalah karena Yesus datang setelah Buddha, karena adanya kemiripan ajaran Yesus dengan agama Buddha, serta pernyataan umat Buddha bahwa ajaran itu berasal dari Buddha dan karena anggapan bahwa Yesus adalah salah seorang murid Buddha. Sebenarnya bukanlah suatu hal yang ajaib jika Buddha berdasarkan wahyu yang diterimanya, menganggap Yesus sebagai putranya.  Yang menarik juga adalah kisah lain dalam buku yang sama tentang ‘Rahula’ yang kemudian katanya terpisah dari ibunya lalu dibantu seorang pesuruh wanita bernama Magdaliyana.  Kita bisa melihat kemiripan dengan nama Magdalena yaitu salah seorang pengikut Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil.

Semua bukti tersebut kiranya cukup bagi seorang yang berfikir bahwa Yesus pasti pernah berkunjung ke negeri ini.  Kita tidak bisa mengabaikan demikian banyak persamaan ajaran dan ritual di antara agama Buddha dan Kristen. Demikian banyaknya persamaan tersebut mengakibatkan kebanyakan pemikir Kristiani menganggap agama Buddha sebagai agama Kristen di Timur, sedangkan agama Kristen sebagai agama Buddha di Barat.  Memang aneh jika kita perhatikan dimana Yesus mengatakan ‘Akulah Terang Dunia dan Jalan’ begitu juga kata Buddha; kalau Injil menyebut Yesus sebagai Juru Selamat, Buddha pun menyebut dirinya Juru Selamat (lihat Lalta Wasatarra).

Dalam Injil dikemukakan Yesus tidak mempunyai bapak, begitu juga Buddha dikatakan lahir tanpa bapak, walaupun tercatat juga bahwa Yesus mempunyai bapak bernama Yusuf, begitu pula Buddha. Ada juga kisah yang mengatakan terbitnya sebuah bintang saat kelahiran Buddha.  (Yang juga mirip adalah cerita kedatangan malaikat kepada ibunda Yesus dan Buddha menyampaikan kabar akan kelahiran seorang putra agung).  Juga kisah tentang Sulaiman yang memerintahkan seorang anak dipotong dua di antara dua orang ibu yang memperebutkannya, terdapat pula kisah yang sama dalam kitab agama Buddha bernama Jataka.  Semua itu selain membuktikan bahwa Yesus pernah datang ke negeri ini, juga menjelaskan seberapa jauh perhubungan umat Yahudi yang bermukim di negeri tersebut dengan penduduk aslinya.  Kisah mula terciptanya dunia dalam kitab-kitab Buddha sangat mirip dengan cerita yang diberikan oleh Taurat.  Sebagaimana seorang lelaki dianggap lebih superior dari wanita, begitu pula dalam agama Buddha yang lebih meninggikan biarawan dibanding biarawati.  Walaupun agama Buddha meyakini transmigrasi jiwa namun pandangannya tidak bertentangan dengan ajaran Injil.  Menurut agama Buddha, transmigrasi jiwa bisa berbentuk tiga macam yaitu (1) karakteristik seorang yang mati berpindah ke tubuh orang lain, (2) jenis transmigrasi yang diyakini orang Tibet terjadi di antara para Lama dimana semangat, cara-cara dan kekuasan seeorang Buddha atau Bodhi Satwa beralih dan mengaktifkan ke Lama yang ada, (3) bahwa dalam kehidupan ini sendiri seseorang mengalami beberapa peralihan misalnya dari periode yang bersangkutan sebagai seekor banteng, lalu berubah menjadi anjing, semuanya dalam bentuk sikap dan tindakan yang berubah dengan berjalannya waktu.  Kredo ini tidak bertentangan dengan ajaran dari Injil.

Aku telah mengemukakan di atas bahwa Buddha juga meyakini eksistensi dari Iblis, sehingga dengan demikian juga percaya akan adanya akhirat, malaikat-malaikat serta Hari Penghisaban.  Tidak benar jika ada yang mengatakan Buddha tidak meyakini adanya Tuhan.  Yang benar adalah Buddha tidak mempercayai dewa-dewa dalam bentuk berhala dan kitab Veda umat Hindu.  Ia amat mencela kitab Veda dan tidak meyakini kebenaran dari kitab-kitab yang ada.   Masa kehidupan ketika ia masih sebagai seorang Hindu dan sebagai penganut Veda dianggapnya sebagai periode kelahiran yang buruk.  Sebagai contoh, Buddha menggambarkan periode-periode kehidupannya berturut-turut sebagai kera, lalu sebagai gajah, kemudian rusa, lalu anjing, empat kali sebagai ular, setelah sebagai burung pipit, terus sebagai katak, dua kali sebagai ikan, sepuluh kali sebagai harimau, empat kali sebagai unggas, dua kali sebagai babi dan sekali sebagai kelinci.  Ketika sedang periode kelinci, ia mengajar para kera, serigala, lingsang dan saat sedang menjadi roh, mengajar seorang wanita, seorang penari dan Iblis sendiri.  Semua itu mensiratkan phasa-phasa kehidupan ketika sedang sebagai pengecut, seorang yang berperangai sebagai wanita, saat sedang kejam, rakus dan saat percaya ketahayulan.  Rupanya phasa-phasa itu menggambarkan periode ketika masih menjadi penganut Veda,  karena setelah memperoleh pencerahan tidak ada lagi tersisa kehidupan jahat dalam dirinya.  Bahkan ia memaklumkan bahwa dirinya menjadi manifestasi dari Tuhan dan telah mencapai Nirvana.  Buddha juga menyatakan jika manusia meninggalkan dunia ini membawa kelakuan buruk maka ia akan dilemparkan ke neraka dimana penjaga neraka akan menyeretnya ke depan Raja Neraka yang bernama Yamah.  Orang malang itu akan ditanyai apakah ia tidak melihat Lima Suruhan yang telah dikirimkan untuk mengingatkannya yaitu Masa Kanak-kanak, Masa Tua, Penyakit, Hukuman di dunia sebagai bayangan hukumannya di akhirat serta Mayat yang menggambarkan kefanaan alam.  Jika si pendosa menjawab bahwa ia tidak melihat semua tanda itu maka penjaga neraka akan menyeretnya ke tempat hukuman dimana ia akan dirantai dengan besi yang merah membara.  Selain itu Buddha menyatakan kalau neraka itu terbagi dalam beberapa daerah sesuai berbagai kategori para pendosa.  Singkat kata, semua ajaran tersebut berkat pengaruh pribadi Yesus a.s.

Adanya nubuatan yang jelas dalam kitab-kitab Buddha tentang kedatangan Yesus ke negeri tersebut, banyaknya persamaan dalam ajaran dan perumpamaan-perumpamaan Injil dalam kitab agama Buddha yang disusun di masa kehidupan Yesus, semuanya memastikan bahwa Yesus benar pernah berkunjung ke negeri ini.

Friday, November 25, 2011

YESUS DI INDIA (1)


Berikut adalah kata pengantar dari penulis sendiri

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH
DAN MAHA PENYAYANG, TERPUJILAH
NAMANYA DAN KARUNIAILAH SHALAWAT
BAGI NABI AGUNG, RASULULLAH S.A.W.
Ya Allah! Hakimilah di antara kami dan umat kami dengan
kebenaran;
Engkau adalah sebaik-baiknya Hakim.


Aku menulis buku ini dengan tujuan agar dapat menghilangkan kesalah pahaman serius yang ada di antara umat Kristiani dan Muslim mengenai kehidupan nabi Isa atau Yesus a.s. berdasarkan bukti-bukti dari fakta yang nyata, dari bukti-bukti historikal yang dikenal dan dari naskah-naskah kuno kalangan non-Muslim, agar kesalah pahaman dan implikasi gawat yang ditimbulkan tidak saja telah merusak dan menghancurkan konsep Ke-Esa-an Tuhan, tetapi juga mempengaruhi secara negatif moral umat Islam di negeri ini.  Penyakit-penyakit ruhani seperti ketiadaan moral yang baik, fikiran jahat, kedegilan, ketiadaan perasaan asih, sekarang ini telah menyebar di antara berbagai sekte dalam Islam akibat dari kepercayaan pada dongeng-dongeng tidak berdasar mengenai hal ini.  (Penterjemah: sampai dengan akhir abad 19. Buku ini d ikarang tahun 1899.)

Simpati antar manusia, welas asih, kecintaan akan keadilan dan kerendahan hati yang semuanya merupakan nilai-nilai moral yang luhur, sekarang ini menyusut dari hari ke hari, sehingga satu waktu nanti tidak akan ditemui lagi. Kekasaran hati dan immoralitas itu telah menjadikan banyak umat Muslim menjadi tidak lebih baik dari hewan buas di hutan. Seorang penganut agama Jain atau Buddha tidak akan membunuh walaupun hanya seekor nyamuk atau lalat.  Tetapi banyak di antara umat Muslim yang membunuh orang yang tidak berdosa, yang malah tidak takut kepada Allah yang Maha Kuasa yang memperlakukan nyawa manusia sebagai lebih luhur daripada hewan. Apa yang telah menyebabkan munculnya kekasaran hati, kekejaman dan ketiadaan kasih itu? Penyebabnya adalah karena mereka dari masa kanak-kanak sudah dicekoki cerita dan pandangan yang salah tentang doktrin Jihad ke dalam telinga mereka dan tertanam dalam hati mereka, sehingga mereka akhirnya mati moralnya dan kebas tidak lagi merasakan keburukan tindakan-tindakan mereka yang keji. Mereka yang membunuh manusia lainnya tidak menyadari bahwa tindakan mereka itu telah membawa kehancuran bagi keluarga yang terbunuh, bahkan ia merasa telah menjadi pahlawan atau telah melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi komunitasnya.  Sampai dengan saat ini di negeri ini tidak a ada khutbah yang melarang atau menegahkan perbuatan buruk demikian. Kalau pun ada maka di dalamnya ada kemunafikan sehingga umat awam menganggap tindakan demikian itu dibenarkan. Karena itu karena kasihku pada umatku sendiri, aku telah mengarang beberapa buku dalam bahasa Urdu, Parsi dan Arab dimana telah dikemukakan bahwa pandangan populer tentang Jihad yang dianut umat Muslim berupa datangnya seorang Imam bersimbah darah, penuh kebencian dan kekerasan terhadap umat lain, adalah kepercayaan yang salah yang ditanamkan oleh para ulama berpandangan sempit. Islam tidak mengizinkan penggunaan pedang untuk menanamkan keimanan, kekecualian hanyalah untuk membela diri, atau untuk memerangi tirani atau untuk mempertahankan kemerdekaan. Kebutuhan akan perang mempertahankan diri baru muncul ketika agresi dari musuh telah mengancam nyawa kita. Inilah tiga bentuk Jihad yang diizinkan oleh Shariat dan selain ketiga jenis ini, tidak ada bentuk perang lain yang dibolehkan oleh Islam dalam mengembangkan agama. Aku telah mengeluarkan banyak sekali biaya guna menerbitkan buku-buku itu yang telah disebarkan di negeri ini, ke negeri-negeri Arabia, Syria Khurasan dan lain-lain.

Berkat rahmat Allah s.w.t., aku telah menemukan argumentasi-argumentasi
yang kuat untuk menghapus kepercayaan tidak berdasar demikian dari hati manusia. Aku memiliki data yang jelas, bukti-bukti kuat yang bersifat konklusiv serta bukti dari sejarah sehingga nur kebenaran itu akan membawa perubahan luar biasa dalam hati umat Muslim setelah publikasi naskah ini.

Aku berharap dan aku meyakininya, bahwa setelah kebenaran ini dipahami maka dari sanubari putra-putra Islam yang saleh akan mengalir mata air sejuk dari kerendahan hati dan kerahiman, serta membawa perubahan ruhani yang akan membawa pengaruh yang baik dan berberkat bagi keseluruhan negeri ini. Aku juga meyakini bahwa para peneliti Kristiani serta mereka yang mencari dan haus akan kebenaran akan memperoleh manfaat dari bukuku ini. Fakta yang baru aku kemukakan tadi bahwa tujuan dari penulisan buku ini ialah memperbaiki kepercayaan yang salah yang sudah lama menjadi bagian dari kredo umat Muslim maupun Kristiani, memerlukan sedikit penjelasan sebagai berikut.

Seperti dimaklumi, sebagian besar umat Muslim dan Kristiani mempercayai bahwa Yesus (nabi Isa a.s.) telah naik ke langit dengan tubuh kasarnya. Kepercayaan kedua umat ini sudah berlangsung lama sekali bahwa Yesus tetap hidup di langit dan akan turun kembali ke bumi di akhir zaman. Perbedaan di antara keduanya hanyalah detilnya. Umat Kristiani mempercayai bahwa Yesus a.s. wafat di atas kayu salib, dibangkitkan dan kemudian diangkat ke sorga dengan jasad kasarnya, lalu duduk di sisi kanan Bapa-nya dan akan turun kembali ke bumi pada akhir zaman untuk mengadili manusia; mereka juga berpandangan bahwa Pencipta dan Tuhan dari alam ini adalah Yesus Al-Masih. Beliau inilah yang diyakini akan turun di akhir umur dunia dengan iringan kecemerlangan untuk memberikan ganjaran dan hukuman, dimana manusia yang tidak mempercayai dirinya dan ibundanya sebagai Tuhan akan dilemparkan ke neraka dimana bagian mereka adalah tangis dan ratapan.

Kalau menurut kepercayaan umat Muslim umumnya adalah bahwa nabi Isa a.s. tidak disalibkan dan tidak wafat di kayu salib. Sebaliknya (menurut kepercayaan mereka), ketika umat Yahudi menangkap beliau dalam rangka menyalibnya, datang seorang malaikat Tuhan dan mengangkat beliau ke langit dengan jasad kasarnya dan beliau diyakini masih hidup di langit yang katanya di lapis kedua bersama-sama dengan nabi Yahya (dalam Injil disebut Yohanes). Umat Muslim beranggapan bahwa nabi Isa a.s. adalahs seorang nabi besar tetapi bukan Tuhan dan juga bukan anak Tuhan, namun mereka meyakini bahwa beliau di akhir zaman akan turun dekat Menara Damaskus atau sekitarnya, bertopang pada bahu dua orang malaikat, dimana beliau bersama-sama dengan Imam Muhammad (atau Imam Mahdi) yang berasal dari Bani Fatimah yang sudah turun terlebih dahulu, akan membunuhi semua non-Muslim tanpa ada yang disisakan kecuali sempat terlebih dahulu menganut Islam. Pandangan ini dianut oleh sekte Ahli-Sunnah atau Ahli-Hadith yang dikenal umat awam sebagai kaum Wahabi. Mereka ini berpandangan bahwa sebagaimana Mahadewa dari agama Hindu, Yesus ini akan menghancurkan seluruh dunia, pertama dengan memberikan ancaman agar semua manusia masuk Islam dan jika menyangkal, maka mereka semua akan dijagal dengan pedang. Mereka ini juga mengatakan bahwa Yesus hidup di langit dengan tubuh kasarnya, dan ketika kekuatan umat Muslim melemah, beliau akan turun dan membunuh semua non-Muslim atau memaksa mereka masuk ke dalam agama Islam dengan ancaman hukuman mati.

Ulama-ulama kaum Wahabi tentang umat Kristiani, menyatakan bahwa Yesus a.s. ketika turun dari langit akan memecah semua salib di dunia, akan melakukan banyak sekali pembunuhan dengan pedang serta membanjiri bumi dengan darah. Seperti telah aku kemukakan di atas, kaum Ahli-Hadith ini amat meyakini bahwa sesaat sebelum kedatangan Al-Masih, akan muncul seorang Imam dari Bani Fatimah bernama Muhammad yang menjadi Imam Mahdi. Tokoh inilah yang akan menjadi Khalifah dan Raja di saat itu, dan karena ia berasal dari Kuraish maka tugasnya adalah membunuhi semua non-Muslim kecuali mereka yang melafalkan shahadat. Yesus dalam hal ini turun untuk membantu Mahdi dalam pelaksanaan tugasnya, dan karena Yesus sendiri juga Imam Mahdi (bahkan Mahdi yang lebih agung) tetapi beliau tidak akan jadi Khalifah saat itu karena posisi ini katanya hanya untuk golongan Kuraish. Mereka berdua akan membanjiri bumi ini dengan darah manusia dimana akan lebih banyak yang mereka alirkan dibanding yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.  Begitu mereka muncul, mereka katanya akan langsung melaksanakan kampanye berdarah mereka, tanpa terlebih dahulu ada peringatan atau pun pengajaran. Kaum Ahli-Hadith ini juga menyatakan bahwa walaupun Yesus sepertinya menjadi penasihat dari Imam Muhammad Al-Mahdi dimana kendali kedaulatan ada sepenuhnya di tangan Mahdi, namun Yesus-lah yang akan mengarahkan Imam Muhammad Sang Mahdi, untuk membantai seluruh manusia di dunia dan akan menasihatinya untuk menggunakan cara-cara ekstrim serta merubah ajarannya sendiri dahulu yang menyuruh manusia untuk merendahkan diri tidak melawan kejahatan serta memberikan juga pipi kanan jika ditempeleng pipi kirinya.

Kepercayaan mengenai Yesus a.s. yang demikian itulah yang dianut umat Muslim maupun Kristiani. Selain kesalahan besar yang dilakukan umat Kristiani dalam menganggap beliau yang adalah seorang manusia biasa sebagai Tuhan, kepercayaan sebagian umat Muslim, terutama mereka dari kelompok Ahli-Hadith yang disebut kaum Wahabi tentang Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, ternyata telah mempengaruhi moral mereka secara negatif.  Sedemikian rupa pengaruh itu hingga sikap mereka dalam berhubungan dengan manusia lain tidak lagi didasarkan pada kejujuran dan itikad baik, dan mereka tidak bisa memberikan kesetiaan sepenuhnya dalam hubungannya dengan pemerintahan non-Muslim.

Semua manusia berfikiran waras tentunya menyadari bahwa adanya kepercayaan yang membolehkan pemaksaan non-Muslim untuk masuk Islam atau dibunuh mati, adalah suatu hal yang patut ditolak sekerasnya. Setiap manusia waras pasti menyadari bahwa seseorang menerima kebenaran suatu agama setelah memahami keindahan dan kebaikan ajarannya dan tidak patut memaksanya menganut agama tersebut dengan ancaman kematian. Kepercayaan seperti itu tidak akan memberikan dampak baik bagi perkembangan agama, bahkan akan memberikan kesempatan kepada para musuhnya untuk mencari-cari kesalahan ajaran demikian.

Hasil akhir dari prinsip seperti itu adalah hati mereka menafikan simpati antar manusia, belas kasih dan keadilan, yang sebenarnya merupakan nilai-nilai luhur moral manusia. Sebagai gantinya adalah sikap kebencian dan permusuhan akan berkembang sehingga yang tinggal hanyalah naluri hewaniah. Jelas bahwa ajaran demikian itu tidak mungkin berasal dari Allah s.w.t. karena Dia hanya menghukum jika telah memberikan peringatan secukupnya.

Cobalah renungkan, jika seorang tidak mau menerima agama yang benar karena ketidaktahuannya dan tidak menyadari kebenarannya, tidak mengenal ajaran dan keindahannya, patutkah orang seperti itu langsung dibunuh? Tidak demikian, justru orang seperti itu patut dikasihani, ia patut diajari secara lemah lembut dan santun tentang kebenaran, keindahan dan manfaat ruhaniah agama tersebut. Tidak pantas kiranya penolakan yang bersangkutan harus diakhiri dengan pedang atau senapan. Jadi doktrin Jihad yang dianut oleh sekte-sekte Islam seperti itu, serta keyakinan akan segera munculnya seorang Imam Mahdi bersimbah darah bernama Imam Muhammad yang dibantu dengan turunnya Al-Masih dari langit dimana mereka berdua akan membunuhi semua manusia non-Muslim yang mengingkari agama Islam, benar-benar bertentangan dengan hati nurani kita.  Tidakkah kita menyadari bahwa keyakinan seperti itu akan mensirnakan semua nilai-nilai luhur kemanusiaan dan menyuburkan nilai moral hukum rimba?  Mereka yang berpegang pada keyakinan demikian sebenarnya hidup dalam kemunafikan dalam hubungannya dengan manusia lain.  Bahkan juga mereka tidak bisa memberikan kesetiaan mereka kepada pemerintahan yang kebetulan non-Muslim, mereka secara tidak jujur menyatakan patuh tetapi sebenarnya tidak. Karena itulah beberapa sekte Ahli-Hadith tersebut hidup dengan standar ganda di bawah pemerintahan Inggris di India. Secara berahasia mereka menjanjikan dan mengajarkan kepada rakyat awam akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah, sedangkan kepada pejabat pemerintahan mereka bermanis muka dan menyatakan tidak menyukai doktrin demikian. Kalau benar mereka menentang doktrin Jihad seperti itu, mengapa mereka tidak menyiarkannya secara tertulis? Dan mengapa mereka masih menantikan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih bersimbah darah seolah-olah keduanya sudah diambang pintu dimana mereka menyiapkan diri untuk bergabung dalam gerakan mereka?

Keyakinan seperti itu telah memerosotkan moral para ulama sehingga mereka tidak lagi mampu mengajari umat tentang kepantasan dan kedamaian. Sebaliknya bahkan, mereka menganggap membunuh orang lain tanpa alasan atau tujuan sebagai tugas mulia agama. Aku akan sangat bergembira sekali jika ada siapa pun dari sekte Ahli Hadith tersebut yang berpandangan sebaliknya, namun nyatanya aku melihat bahwa dari antara mereka itu masih banyak yang menganut keyakinan akan kedatangan seorang Imam Mahdi yang haus darah dan doktrin Jihad sebagaimana mereka anut.

Mereka menentang siapa pun yang berusaha memperbaiki pandangan mereka dan bahkan mereka beranggapan adalah tugas mulia untuk membunuhi semua orang yang berbeda agama. Padahal keyakinan tentang pembunuhan manusia atas nama agama, menyebarkan agama Islam melalui pertumpahan darah dan ancaman atau meyakini nubuatan tentang Al-Masih yang buas seperti itu adalah benar-benar bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Hadith sahih. Nabi kita Rasulullah s.a.w. mengalami penderitaan aniaya yang luar biasa di tangan kaum kafir di Mekah dan juga setelahnya. Tigabelas tahun yang dihabiskan Rasulullah s.a.w. di Mekah adalah masa penuh penderitaan dan berbagai cobaan, dimana jika mengingatnya saja kita bisa meneteskan air mata. Namun nyatanya beliau tidak mengangkat pedang terhadap para musuh beliau, tidak juga beliau membalas kekejian mereka sampai akhirnya banyak sahabat yang terbunuh tanpa belas kasihan, sampai beliau sendiri dihadapkan kepada berbagai penderitaan seperti percobaan peracunan dan lain-lain serta adanya usaha-usaha langsung untuk membunuh beliau. Baru kemudian datang pembalasan Tuhan saat mereka para tua-tua dan kepala-kepala suku di Mekah memutuskan secara aklamasi bahwa beliau harus dibunuh dengan cara apa pun. Ketika itulah Allah s.w.t yang selalu melindungi mereka yang dikasihi-Nya dan mereka yang saleh dan benar, lalu memberitahukan beliau bahwa tidak ada apa lagi yang tersisa di kota itu kecuali kejahatan, bahwa penduduk kota akan membunuh beliau dan karena itu sebaiknya beliau segera meninggalkan kota itu.

Baru saat itulah, sejalan dengan petunjuk Tuhan, beliau hijrah ke Madinah. Namun di sini pun para musuh tetap tidak mau memberikan kedamaian kepada beliau, mereka tetap mengejarnya dan mencoba menghancurkan Islam dengan segala macam cara. Ketika sikap keterlaluan mereka itu telah melampaui batas dan ketika mereka menjadikan diri mereka pantas mendapat hukuman karena telah membunuh banyak orang tidak berdosa, barulah datang izin untuk memerangi mereka dengan tujuan untuk membela diri dan menangkis serangan para kafir tersebut. Kaum kafir dan para pembantunya telah menjadikan diri mereka pantas mendapat perlakuan demikian karena mereka telah membunuhi orang-orang tidak berdosa, bukan di medan perang tetapi semata hanya karena kesemena-menaan sambil merampasi harta bendanya. Tetapi walaupun diperlakukan seperti itu, ketika Mekah kemudian jatuh, Rasulullah s.a.w. mengampuni mereka semua. Jadi tidak benar sama sekali untuk menganggap bahwa Rasulullah s.a.w. dan para sahabat beliau pernah berperang untuk penyebaran agama Islam atau bahwa mereka pernah memaksa siapa pun untuk menganut Islam.

Patut pula diperhatikan bahwa pada saat itu semua orang sedang berprasangka buruk terhadap Islam dan para musuh itu selalu merencanakan penghancuran Islam, karena mereka menganggapnya sebagai agama baru dengan penganut yang amat sedikit, dimana mereka ingin segera menghancurkan Islam agar tidak sempat berkembang.

Dalam hal-hal yang paling sederhana pun umat Muslim selalu dihalangi. Mereka yang menganut Islam biasanya segera dibunuh oleh sukunya atau hidup selalu dalam ancaman bahaya. Pada saat seperti itu, Allah s.w.t. mengasihani mereka yang telah baiat ke dalam Islam dengan cara menjadikan para penguasa untuk menganut Islam, sehingga terbuka pintu ke arah kemerdekaan Muslim. Dengan cara ini terangkat rintangan bagi mereka yang ingin menerima Islam. Begini inilah bentuk rahmat Allah s.w.t. kepada dunia dan tidak ada yang dirugikan karenanya.

Sekarang ini pun kita melihat bahwa para penguasa non-Muslim tidak ada mengganggu Islam, mereka tidak merintangi siapa pun dalam menjalankan ibadahnya. Mereka tidak membunuhi penganut baru Islam, tidak juga para penguasa itu menangkap dan memenjarakan mereka. Lalu mengapa umat Muslim harus mengangkat pedang melawan mereka? Jelas bahwa Islam tidak pernah memaksakan agamanya.

Kalau kita teliti Al-Quran dan Hadith serta naskah-naskah sejarah secara mendalam, kita akan menyadari bahwa tuduhan Islam menggunakan pedang untuk menyiarkan agama adalah suatu fitnah tidak berdasar dan memalukan. Tuduhan terhadap Islam demikian itu dilancarkan oleh orang-orang yang belum pernah membaca Al-Quran, Beberapa ulama dari kelompok Ahli-Hadith secara lancang dan seenak hatinya menyatakan dalam buku-buku mereka akan segera datangnya Imam Mahdi tersebut yang katanya akan
memenjarakan para penguasa Inggris di India dan bahwa raja Kristen itu akan ditangkap dan
dibawa ke hadapan Imam Mahdi. Buku-buku seperti itu masih bisa ditemukan di rumah-rumah
kelompok Ahli-Hadith tersebut, salah satunya adalah yang berjudul Iqtarab-us-Saat yang dikarang
oleh salah seorang mereka yang terkenal, dalam halaman 64 dimana pertelaan mengenai hal ini bisa dijumpai.

Hadith serta sejarah Islam secara obyektif, dan mereka memanfaatkan kedustaan dan prasangka buruk tanpa batas.  Namun aku mengetahui bahwa sudah dekat saatnya bagi mereka yang haus dan lapar pada kebenaran akan memperoleh pencerahan tentang apa sebenarnya hakikat tuduhan-tuduhan yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Bagaimana mungkin kita mengatakan agama Islam ini sebagai agama paksaan sedangkan Al-Quran jelas mengatur bahwa tidak ada paksaan dalam agama? Bahwa tidak diizinkan menggunakan paksaan atau kekuatan untuk menarik orang masuk ke dalam Islam?  Mungkinkah kita menuduh Nabi Besar Muhammad s.a.w. telah menggunakan paksaan padahal selama tigabelas tahun beliau selalu mengajak para sahabat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan pula, bahkan mengajak mereka itu untuk bersabar dan memaafkan? Hanya saja ketika kejahatan para musuh tersebut telah melampaui batas dan ketika mereka memaksakan diri untuk melenyapkan Islam maka Tuhan yang Pencemburu menganggap sudah waktunya mereka yang mengangkat pedang itu dimusnahkan dengan pedang juga. Kecuali karena keadaan seperti itu, Al-Quran tidak pernah menyarankan kekerasan.

Jika kekerasan memang diizinkan dalam Islam maka para sahabat Rasulullah s.a.w. dalam masa sulit demikian pasti tidak akan berperilaku sebagai orang yang saleh dan muminin. Kesetiaan dan kepatuhan para sahabat kepada Rasulullah s.a.w. rasanya tidak perlu aku kemukakan lagi. Bukanlah suatu rahasia bahwa di antara mereka itu banyak sekali contoh kesetiaan dan keteguhan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa lain. Kumpulan para muminin ini tidak goyah dalam kesetiaan dan keteguhan hati walau di bawah bayangan pedang sekali pun. Bersama junjungan mereka, Rasulullah s.a.w., mereka telah memperagakan keteguhan hati yang tidak mungkin diberikan oleh siapa pun kecuali hatinya diterangi oleh cahaya kebenaran agama.

Singkat kata, tidak ada paksaan di dalam agama Islam. Perang di dalam Islam terdiri atas tiga kategori yaitu (1) perang defensif untuk membela diri, (2) perang punitif yaitu pembalasan darah untuk darah, (3) perang untuk memperoleh kemerdekaan dengan tujuan menghancurkan kekuasaan mereka yang telah membunuh orang-orang yang memeluk Islam. Dengan kata lain, jika tidak ada pengarahan dalam Islam untuk memaksa orang memeluk agama ini dengan ancaman kematian, maka tidak masuk akal kiranya jika kita masih menantikan kedatangan Imam Mahdi atau Al-Masih yang haus darah.  Dalam dunia ini tidak mungkin akan muncul sesosok manusia yang akan menggunakan pedang untuk memaksa orang memeluk Islam karena hal itu amat bertentangan dengan ajaran Al-Quran. Hal seperti ini tidaklah sulit dipahami. Hanya orang-orang bodoh saja karena kepentingan diri pribadi yang menganut pandangan seperti itu, karena sebagian besar para ulama itu mengira bahwa perang yang akan dilancarkan oleh Imam Mahdi akan memberikan mereka kekayaan melimpah. Mengingat sebagian besar ulama itu sangat miskin maka mereka amat menantikan kedatangan seorang Mahdi yang menurut mereka akan memenuhi hajat mereka sendiri.

Karena itulah maka para ulama tersebut memusuhi orang-orang yang tidak meyakini akan kedatangan seorang Mahdi seperti itu. Mereka langsung mencapnya sebagai kafir dan berada di luar Islam.  Berdasarkan pandangan mereka itu dengan demikian aku ini pun seorang Kafir di mata mereka. Karena aku tidak mempercayai akan datangnya seorang Imam Mahdi atau pun Al-Masih yang haus darah. Aku membenci konsep pemikiran absurd seperti itu dan menganggapnya sebagai suatu yang hina.

Aku pun dinyatakan Kafir bukan saja karena menyangkal keyakinan akan datangnya seorang Imam Mahdi atau Al-Masih menurut pandangan mereka itu, tetapi juga karena aku telah mengumumkan secara luas bahwa aku inilah Al-Masih yang Dijanjikan dan juga seorang Imam Mahdi, setelah memperoleh wahyu dari Allah s.w.t., dimana nubuatan kedatanganku telah dikemukakan dalam Al-Quran dan Injil serta dijanjikan di dalam Hadith. Hanya saja aku tidak dilengkapi dengan sarana berupa pedang atau pun senapan. Aku telah diperintahkan Allah s.w.t. untuk mengajak manusia dengan cara yang lembut dan halus kembali kepada Tuhan, Yang Maha Benar, Abadi dan tidak berubah, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Adil.

Akulah nur dalam masa kegelapan sekarang ini. Mereka yang mengikuti aku akan terpelihara dari kejatuhan ke dalam jurang yang telah disiapkan Iblis bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Aku diutus Tuhan untuk mengajak manusia bumi ini kepada Tuhan yang Maha Esa melalui cara-cara damai dan kelembutan serta penerapan kembali moral-moral Islam. Allah s.w.t. telah memberikan kepadaku tanda-tanda samawi yang akan memuaskan para pencari kebenaran.  Dia telah memberikan mukjizat-mukjizat guna menopangku. Dia telah membukakan rahasia-rahasia yang tersembunyi di masa depan yang menurut kitab-kitab suci adalah tanda bagi seorang yang menyatakan dirinya membawa perintah Tuhan, dan Dia telah memberikan kepadaku Pengetahuan yang murni dan suci.  Karena itulah mereka yang membenci kebenaran dan mencintai kegelapan, telah menyerangku. Namun sejauh mungkin aku akan tetap mengasihi umat manusia. Pada masa ini yang patut memperoleh simpati adalah umat Kristiani agar mereka kembali kepada Tuhan yang Maha Esa, yang bebas dari segala aib seperti dilahirkan dan keharusan mati serta mengalami penderitaan. Kembali kepada Tuhan yang sejak awal menciptakan benda-benda di langit dalam bentuk bulat dan menetapkan hukum alam seperti juga pada dunia keruhanian bahwa sebagaimana juga bulatan, dalam Diri-Nya terdapat Kesatuan dan ketiadaan arah. Karena itulah benda-benda di angkasa tidak diciptakan sebagai segi tiga misalnya. Semua bentuk awal yang diciptakan Tuhan seperti bumi, bulan, ruang angkasa, bintang-bintang semuanya berbentuk bulat yang semuanya mengarah kepada Kesatuan. Dengan demikian simpati kita adalah kepada umat Kristiani yang patut diajak kembali kepada Tuhan yang semua ciptaan-Nya menunjukkan bahwa Dia itu bebas dari konsep trinitas.  Adapun bagi umat Muslim, mereka ini memerlukan reformasi moral dan perlu adanya pencerahan guna menghapus harapan-harapan salah mereka akan kedatangan Imam Mahdi dan Al-Masih yang haus darah yang sebenarnya bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam.  

Aku telah menyatakan di atas tentang pandangan beberapa ulama masa kini yang menganggap bahwa Imam Mahdi yang haus darah akan datang untuk menyiarkan agama Islam di bawah ancaman pedang adalah pandangan yang menyalahi Al-Quran dan merupakan hasil perwujudan sifat kerakusan dan mementingkan diri sendiri.  Seorang Muslim yang berfikiran jernih dan mencintai kebenaran akan mudah menanggalkan kepercayaan demikian itu asal mau mempelajari Al-Quran, merenung dan mempertimbangkan kenyataan bahwa Ayat-ayat Suci dari Allah s.w.t. tidak menyukai ancaman pembunuhan atau pun kekerasan guna memaksa siapa pun untuk menganut Islam.  Sebenarnya satu argumentasi ini saja cukup untuk menghilangkan pandangan salah demikian. Namun karena kasihku kepada umat, aku akan memberikan bukti-bukti yang nyata dan jelas dari sejarah dan lain-lain untuk menghapus pandangan demikian.  Karena itu dalam buku ini aku akan membuktikan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, beliau tidak naik ke langit, tidak juga beliau akan turun dari langit ke bumi. Yesus a.s. wafat di usia seratus dua puluh tahun di kota Srinagar, Kashmir, dan makamnya dapat ditemui di jalan Khan Yar di kota tersebut.

Aku akan membagi pembahasan ini dalam sepuluh bab dan satu epilog yang mencakup kesaksian dari Injil, pernyataan Al-Quran dan Hadith, bukti-bukti dari buku-buku medikal, catatan dari naskah-naskah sejarah, nukilan dari riwayat-riwayat turun temurun, berbagai bukti lainnya serta wahyu yang langsung aku terima dari Allah s.w.t. Semua ini menjadi delapan bab. Dalam bab sembilan aku akan memberikan perbandingan singkat antara agama Islam dan Kristen serta argumentasi yang membuktikan Islam sebagai agama yang benar. Dalam bab sepuluh aku akan menjelaskan rincian tujuan aku diutus sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan bahwa aku ini datang dari Allah s.w.t. Di bagian akhir akan diberikan epilog yang berisi beberapa pengarahan.

Aku berharap para pembaca buku ini membacanya secara teliti.  Jangan menampik kebenaran yang terdapat di dalamnya hanya karena prasangka. Aku perlu mengingatkan para pembaca bahwa apa yang dikemukakan disini bukanlah hasil penelitian kulitan, karena semua itu adalah hasil penelitian yang mendalam. Aku berdoa kepada Allah s.w.t. agar Dia menolongku dalam upaya ini dan menuntun aku melalui wahyu-wahyu-Nya ke arah Nur kebenaran yang sempurna karena pengetahuan yang benar dan kesadaran yang jernih hanya bisa turun dari Dia. Hanya dengan karunia-Nya saja hati manusia bisa dibimbing kepada kebenaran. Amin! Amin!

MIRZA GHULAM AHMAD
Qadian, 25 April 1899

YESUS DI INDIA


PRAKATA
Yesus di India merupakan terjemahan dari Masih Hindustan Mein
dalam bahasa Urdu yang ditulis oleh pendiri Jemaat Ahmadiyah yaitu
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835 - 1908).
Pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku tersebut adalah
kelepasan Yesus dari kematian yang terkutuk di atas kayu salib serta
perjalanan beliau setelah itu ke India dalam rangka mencari sukusuku
bangsa Israel yang hilang agar dapat dikumpulkannya dalam
satu kandang sebagaimana dikemukakan dalam Perjanjian Baru.
Untuk memperjelas tema yang dikemukakan, banyak bukti-bukti
yang diajukan yang bersumber dari kitab-kitab suci Kristiani mau pun
Muslim, buku-buku medikal/ketabiban kuno, termasuk juga naskah
kuno agama Buddha.
Memulai perjalanannya dari Yerusalem melewati Nisibis dan Iran,
Yesus kemudian sampai di Afghanistan dimana beliau bertemu dengan
umat Yahudi yang bermukim di negeri itu setelah kebebasan mereka
sebagai tawanan raja Nebukadnezar. Dari Afghanistan, Yesus
kemudian ke Kashmir dimana juga bermukim beberapa suku bangsa
Israel. Beliau sendiri kemudian bermukim di negeri ini sehingga
wafatnya. Makam beliau telah ditemukan di jalan Khan Yar di kota
Srinagar.
Di bagian yang membahas bukti-bukti yang diambil dari naskahnaskah
Buddha, Hazrat Ahmad a.s. sudah berhasil menjawab
pertanyaan yang sudah sekian lama membingungkan banyak penulis
Barat. Para penulis itu bingung melihat banyaknya persamaan ajaran
di dalam agama Kristen dengan agama Buddha, serta dalam catatan
riwayat hidup Yesus dan Buddha sebagaimana dikemukakan dalam
kitab suci mereka masing-masing.
Beberapa orang dari penulis itu berpandangan bahwa agama Buddha
dengan satu dan lain cara telah mencapai Palestina dan oleh Yesus
diasimilasikan ke dalam ajaran-ajaran beliau sendiri. Jelas mengenai
hal ini tidak ada bukti historikal sama sekali yang mendukung teori
mereka itu. Seorang kelana/petualang Rusia bernama Nicolas
Notovitch pernah tinggal cukup lama bersama beberapa pendeta Lama
di Tibet dan menterjemahkan beberapa naskah mereka untuknya. Dia
menyimpulkan bahwa Yesus pernah ke Tibet sebelum penyaliban dan
kembali ke Palestina setelah menyerap ajaran-ajaran agama Buddha.
Ini adalah pernyataan yang tidak didukung bukti historis yang dapat
diandalkan. Hazrat Ahmad a.s. menyangkal pandangan tersebut dan
menyatakan Yesus datang ke India setelah penyaliban dan bukan
sebelumnya, dan bukan Yesus yang meminjam ajaran-ajaran Buddha,
justru para penganut Buddha itulah yang telah mereproduksi
kandungan Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri.

Menurut Hazrat Ahmad a.s., ternyata Yesus juga berkunjung ke Tibet
dalam kelananya di India dalam rangka mencari suku-suku bangsa
Israel yang hilang. Beliau menyampaikan ajaran-ajarannya kepada
para pendeta Buddha, antara lain karena mengetahui sebagian dari
mereka adalah umat Yahudi yang telah beralih agama. Para penganut
agama Buddha tersebut sangat terkesan dengan ajaran-ajaran beliau
dan menganggap beliau sebagai manifestasi Buddha dan Sang Guru
yang Dijanjikan. Dengan keyakinan kepada beliau sebagai Guru,
mereka kemudian mencampurkan ajaran-ajaran Yesus ke dalam
naskah kitab-kitab mereka sendiri dan menyatakannya sebagai ajaran
Buddha. Cukup banyak bukti yang mendukung pandangan ini dalam
naskah-naskah kuno agama Buddha.
Masih Hindustan Mein ditulis dalam tahun 1899 dan buku itu menjadi
tanda berakhirnya era dimana selama berabad-abad umat Kristiani
mau pun Muslim meyakini kenaikan Yesus ke langit. Karena buku ini
merupakan buku pertama yang mengupas subyek itu secara rasional,
maka buku tersebut menghasilkan dampak yang luar biasa.
Agumentasi-argumentasi buku itu disiarkan luas dan dalam setengah
abad yang lalu ini telah mencapai keberhasilan besar dalam
menanggalkan sifat ketuhanan Yesus yang salah dan menyampaikan
beliau sebagaimana adanya, yaitu seorang nabi Tuhan.

Di kalangan umat Islam, pengaruhnya begitu besar sehingga Rektor
Universitas Al-Azhar di Mesir mengeluarkan Fatwa yang menyatakan
bahwa berdasarkan Al-Quran, nabi Isa a.s. telah wafat secara wajar.
Adapun pengaruhnya pada umat Kristiani juga amat terasa.
Sebagaimana dikemukakan dalam Kata Pengantar dan juga di bagian
akhir buku, Hazrat Ahmad a.s. semula bermaksud menulis bagian
keduanya berisi evaluasi komparatif ajaran Islam dan Kristen dengan
bukti-bukti kuat yang menjelaskan kebenaran Islam serta pengakuan
beliau sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan (Masih Maud), disamping
beberapa bukti tambahan mengenai perjalanan Yesus di India.
Meskipun tidak ada buku lain yang diberi judul sama, tetapi
sebenarnya Hazrat Ahmad a.s. telah membahas semua permasalahan
ini dalam buku-buku lain, khususnya berkaitan dengan kebenaran
Islam, pengakuan beliau sendiri sebagai Masih Maud dan mengenai
hal wafatnya Yesus.
Terjemahan ke bahasa Inggris dilakukan oleh Qazi Abdul Hamid,
mantan editor mingguan The Sunrise, Lahore, dimana karangan ini
diterbitkan secara serial dalam tahun 1938 - 1939. Pertama kali
diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1944 oleh Nashr-o-Ishaat,
Sadr Anjuman Ahmadiyya, Qadian.
Disamping mereka yang telah membantu dalam produksi buku ini,
terima kasih kami kepada Mr. Maulud Ahmad Khan, mantan Imam
Mesjid London yang telah bersusahpayah mengumpulkan kutipankutipan
dari buku-buku aslinya yang relevan dengan rujukan yang
dikemukakan Hazrat Ahmad a.s. dalam mendukung thesis beliau.
Kutipan-kutipan itu disertakan dalam buku ini dalam bentuk
Apendiks.
Vakil-ut-Tabshir, Tahrik Jadid,
Rabwah, Pakistan
Mei 1962