GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Bani Israil. Show all posts
Showing posts with label Bani Israil. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

YESUS DI INDIA BAB 2 (8)


Sekarang saya paparkan BAB 2 Yesus Di India tulisan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

BAB 2
Pembuktian melalui Al-Quran dan Hadits tentang bukti keselamatan Yesus Argumentasi yang akan aku sampaikan berikut ini mungkin sepertinya tidak berguna karena ditujukan kepada umat Kristiani sedangkan mereka tidak menganut apa yang dikatakan Al-Quran dan Hadits mengenai permasalahan ini. Namun aku akan menyampaikannya juga karena aku ingin umat Kristiani mengetahui mukjizat dari Al-Quran kita dan Rasulullah s.a.w. dan menjelaskan kepada mereka kebenaran yang telah diungkapkan beratus tahun yang lalu. Salah satunya adalah ayat dimana Allah s.w.t. berkata:
. . . mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya.’(S.4 An-Nisa: 158)

Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa menyatakan bahwa walaupun benar Yesus a.s. disalibkan dan umat Yahudi itu begitu bernafsu untuk membunuh beliau, tetapi adalah salah jika umat Yahudi atau pun Kristiani menganggap beliau benar-benar telah wafat di kayu salib. Tidak demikian, karena Tuhan telah menciptakan kondisi-kondisi yang menyelamatkan Yesus dari kematian di kayu salib.  Kalau kita renungkan, kita harus mengakui kebenaran yang dikemukakan Al-Quran yang bertentangan dengan keyakinan umat Yahudi dan Kristiani umumnya. Penelitian-penelitian modern sudah membuktikan kalau Yesus selamat dari kematian di salib. Penelitian atas naskah-naskah mereka menunjukkan umat Yahudi tidak pernah bisa menjawab pertanyaan: ‘Bagaimana mungkin Yesus wafat dalam waktu dua atau tiga jam sedangkan tulang-tulangnya tidak diremukkan?

Kenyataan itu menyebabkan umat Yahudi mencari dalih lain yaitu mereka telah membunuh beliau dengan pedang, padahal sejarah masa lalu bangsa itu tidak ada mencatat kejadian tersebut. Kekuasaan dan kejalalan Yang Maha Abadi telah menciptakan kegelapan di bumi untuk menyelamatkan Yesus a.s. Pada waktu itu terjadi pula gempa bumi. Isteri Pilatus mendapat mimpi sehingga gubernur Pilatus cenderung ingin melepaskan Yesus. Saat itu Sabat sudah hamper sampai. Semuanya ini oleh Allah s.w.t dimunculkan pada saat bersamaan guna menyelamatkan Yesus. Beliau sendiri dipingsankan agar dikira sudah mati. Tanda-tanda menakutkan seperta gempa bumi dan kegelapan itu telah menimbulkan sifat pengecut dan ketakutan di hati umat Yahudi disamping ketakutan akan hukuman samawi.  Mereka juga takut meninggalkan orang tergantung di salib pada malam Sabat. Karena gelap dan gempa itu timbul kegemparan di antara mereka. Mereka merisaukan keadaan di rumahnya masingmasing, bagaimana anak-anak mereka dalam keadaan gelap dan adanya gempa bumi tersebut. Mereka melihat Yesus yang pingsan sebagai orang yang sudah mati. Hati mereka terguncang hebat karena jika orang itu pembohong dan kafir, mengapa muncul tanda-tanda luar biasa demikian pada saat penderitaannya? Demikian risaunya mereka sehingga mereka tidak bisa berfikir jernih guna memastikan apakah Yesus benar sudah wafat. Semuanya ini adalah rekayasa samawi untuk menyelamatkan Yesus. Hal inilah yang tersirat dari ayat ‘mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib,’ dimana Allah s.w.t. menanamkan keyakinan di hati mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh beliau. Keadaan ini menguatkan keimanan mereka yang saleh kepada Allah s.w.t. karena Dia bisa menyelamatkan hamba-Nya dengan cara apa saja.  Al-Quran juga menyampaikan ayat yang menyatakan:
. . . namanya Al-Masih Isa ibnu Maryam yang dimuliakan di dunia dan di akhirat dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah’(S.3 Ali Imran:46)

Berarti Yesus tidak saja dihormati dan dimuliakan dalam pandangan manusia awam tetapi juga di akhirat. Yang jelas beliau tidak ada dimuliakan di negeri raja Herodes dan Pilatus, bahkan beliau dianggap manusia rendah. Kalau ada yang menyatakan bahwa beliau akan dimuliakan saat kedatangan beliau yang kedua kali ke bumi adalah suatu pandangan tidak berdasar. Hal itu bertentangan dengan kitabkitab suci dan hukum samawi yang abadi. Lagi pula tidak ada bukti yang menguatkan.

Yang benar adalah, karena Yesus selamat dari cengkeraman orangorang terlaknat itu, beliau sampai ke daerah Punjab yang mendapat kehormatan dengan kunjungan beliau itu, Tuhan telah memberikan kemuliaan agung kepadanya karena disinilah beliau bertemu dengan sepuluh suku bangsa Israel yang hilang. Rupanya pada waktu itu orang-orang Israel ini telah beralih menganut agama Buddha dan bahkan jadi penyembah berhala. Namun dengan kedatangan Yesus, sebagian besar dari mereka telah kembali ke jalan yang benar, dan karena adanya ajaran Yesus yang mengkhabarkan kedatangan seorang Nabi, maka kesepuluh suku bangsa Israel yang dikenal sebagai bangsa Afghan dan Kashmiri, pada akhirnya memeluk agama Islam. Jadi Yesus a.s. memperoleh kemuliaan agung di negeri-negeri ini.  Belum lama ini ditemukan sebuah mata uang logam di daerah Punjab tersebut yang bertuliskan nama Yesus dalam aksara Pali. Mata uang itu berasal dari zaman Yesus a.s. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memang sampai di negeri ini dan mendapatkan penghormatan dari rajanya karena mata uang logam itu pasti dikeluarkan oleh seorang raja yang menjadi pengikut Yesus. Ada mata uang logam lainnya bergambar orang Israel yang rupanya gambar Yesus. Dalam Al-Quran pun ada ayat yang menyatakan bahwa Yesus diberkati Allah s.w.t. kemana pun beliau pergi. (S.19 M aryam:32) Jadi adanya mata-mata uang logam tersebut menunjukkan kalau beliau memang diberkati Tuhan dan sebelum wafatnya memperoleh penghormatan dari seorang raja. Begitu pula Al-Quran menyatakan dalam ayatnya bahwa: ‘Hai Isa, . . . Aku akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir’ (S.3 Ali Imran:56), yang berarti Allah s.w.t. akan membersihkan sangkaan palsu dengan membuktikan kebersihan beliau dan menggagalkan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristiani.

Ayat ini merupakan nubuatan akbar. Orang Yahudi karena mengira Yesus mati di kayu salib, lalu menganggap beliau sebagai orang yang terkutuk dan tidak patut memperoleh kasih Tuhan, bahwa nurani Yesus karena laknat telah berbalik dan membenci Tuhan-nya.  Kalbu beliau diselimuti tabir tebal kegelapan dan mencintai dosa serta menjauhi kebaikan. Hati itu telah melepaskan diri dari Tuhan-nya dan menjadi pengikut Iblis. Tuduhan yang sama (bahwa beliau terkutuk) juga dilakukan oleh umat Kristiani. Hanya saja umat Kristiani lalu mengkombinasikan kedua posisi yang bertentangan tersebut. Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Tuhan tetapi juga menyatakan beliau itu terkutuk. (Galatia 3:13).  Padahal mereka menyatakan bahwa seseorang yang terkutuk adalah Putra Kegelapan atau bahkan Iblis itu sendiri.  Tuduhan kotor seperti itulah yang dilontarkan kepada Yesus a.s.  Namun nubuatan dalam Al-Quran tersebut menunjukkan akan dating saatnya ketika Tuhan akan membersihkan nama baik Yesus, yaitu sekarang inilah.

Ketidakbersalahan Yesus menjadi jelas bagi orang-orang yang berfikir berkat pembuktian Rasulullah s.a.w. karena beliau dan Al-Quran memberikan kesaksian kalau semua tuduhan terhadap Yesus tersebut tidak mempunyai dasar. Hanya saja pembuktian tersebut amat halus dan lebih banyak bersifat argumentasi sehingga kurang meyakinkan bagi umat awam. Sebagaimana peristiwa penyaliban itu adalah hal yang nyata dan diketahui umum, maka rasa keadilan samawi juga menuntut agar pembuktian kebersihan beliau juga diperlihatkan secara nyata. Kebersihan Yesus a.s. tidak saja didasarkan pada argumentasi tetapi juga diperlihatkan secara nyata. Mata beratus ribu orang sudah menyaksikan sendiri makam Yesus a.s. yang ada di kota Srinagar, Kashmir. Sebagaimana beliau disalibkan di Golgota (artinya tempat sri), begitu juga makam beliau ada tempat sri yaitu Srinagar.  Tempat Yesus disalibkan disebut Gilgit (Golgota) atau sri sedangkan tempat makam beliau ditemukan di akhir abad sembilanbelas juga bernama Gilgit atau sri. Kemungkinan kota Srinagar berdiri sejak masa Yesus a.s. dan untuk memperingati kejadian penyaliban maka tempat tersebut diberi nama Gilgit. Nama kota Lhasa sendiri berasal dari bahasa Iberani yang artinya ‘kota dari dia yang patut dihormati’ dan kota ini mungkin muncul di masa Yesus berada di sana.  Hadis  sahih menunjukkan bahwa menurut Rasulullah s.a.w., usia nabi Isa a.s. adalah 125 tahun. Semua sekte dalam agama Islam meyakini kalau Yesus a.s. memiliki dua karakteristik unik tentang diri beliau yang tidak terdapat pada nabi lain, yaitu (1) beliau hidup sampai usia lanjut yaitu 125 tahun, (2) beliau mengembara ke berbagai bagian di dunia dan karena itu disebut sebagai ‘nabi pengembara.’ Karena itu jika dikatakan beliau naik ke langit pada usia 33 tahun maka pernyataan usia beliau 125 tahun itu menjadi tidak benar. Begitu juga beliau belum akan sempat berjalan jauh bila umur beliau hanya 33 tahun. Fakta tersebut tidak hanya terdapat dalam Hadits sahih saja tetapi merupakan hal yang diketahui umum di antara semua sekte agama Islam.

Kitab Kamnz-ul-Ummal (jilid dua) yang merupakan kumpulan Hadits yang komprehensif di halaman 34 merawikan Hadits dari Abu Huraira yang berbunyi: ‘Allah s.w.t. mewahyukan kepada Yesus “Wahai Isa, berpindahlah dari satu tempat ke tempat lain agar engkau tidak dikenali dan dianiaya.”’ Dalam buku yang sama berdasarkan penuturan Jabar dikemukakan bahwa Yesus selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.  Beliau bepergian dari satu negeri ke negeri lain dan pada malam hari bermalam dimana beliau berada, ia akan memakan daun-daunan dan buah hutan serta minum dari air yang jernih. (Jilid 2, halaman 71).  Masih dalam buku yang sama terdapat penuturan Abdullah bin Umar yang menyampaikan ‘Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mereka yang paling disukai di hadapan Allah adalah para ‘Gharib.’ Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan Gharib, beliau menjawab: orang yang seperti Isa Al-Masih yang meninggalkan negerinya karena keimanannya.’ (Jilid 6, halaman 51).

Friday, November 25, 2011

YESUS DI INDIA (2)


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

BAB 1

Untuk diketahui, umat Kristiani meyakini Yesus a.s. setelah ditangkap karena pengkhianatan Yudas Iskariot, disalib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik ke sorga. Namun kepercayaan mereka itu tidak didukung oleh Injil sendiri. Injil Matius pasal 12 ayat 40 menyatakan bahwa sebagaimana nabi Yunus tiga hari tiga malam berada dalam perut ikan paus, begitu juga Anak Manusia akan berada tiga hari tiga malam dalam rahim bumi. Yang kita ketahui, jelas bahwa nabi Yunus a.s. tidak dalam keadaan mati di dalam perut ikan, yang paling gawat telah terjadi kemungkinan beliau itu hanya dalam keadaan pingsan.  Kitab-kitab suci Tuhan menyatakan bahwa nabi Yunus a.s. berkat rahmat Allah s.w.t. tetap hidup dalam perut ikan itu, serta keluar dalam keadaan hidup dimana umat beliau akhirnya menerima ajarannya. Kalau Yesus a.s. kemudian dikatakan mati dalam perut ‘ikan’ lalu dimana letak kesamaan antara seorang yang mati dengan orang yang hidup?

Yang sebenarnya terjadi adalah karena Yesus a.s. adalah seorang nabi yang benar dan Tuhan yang mengasihi beliau akan menyelamatkan beliau dari kematian yang terkutuk, maka beliau berdasarkan wahyu telah memberikan perumpamaan bahwa beliau tidak akan mati di atas kayu salib yang terkutuk. Bahkan sebaliknya, seperti juga nabi Yunus a.s. beliau hanya akan pingsan saja. Dalam perumpamaan itu beliau juga mensiratkan bahwa ia akan keluar dari perut bumi dan berkumpul kembali dengan umat manusia, dan seperti juga dengan nabi Yunus a.s., beliau akhirnya akan dihormati oleh manusia.  Nubuatan tersebut telah menjadi kenyataan karena Yesus a.s. setelah keluar dari perut bumi telah pergi menemui suku-suku bangsanya yang bermukim di negeri-negeri di timur seperti Kashmir, Tibet dan lain-lain. Suku-suku bangsa itu adalah sepuluh suku bangsa Israel yang ditawan dan dibawa dari daerah Samaria oleh raja Shalmaneser dari kerajaan Assyria pada 721 tahun sebelum Yesus. (Disamping akibat tindakan raja Assyria tersebut, sudah banyak juga umat Yahudi yang terbuang ke negeri-negeri d i T imur akibat serangan penjarahan Babilonia)

Akhirnya suku-suku bangsa ini bermukim di India dan menyebar ke berbagai tempat di negeri tersebut.  Yesus a.s. pasti telah melakukan perjalanan tersebut karena tujuandiutusnya beliau adalah mencari dan menemukan suku-suku bangsa Israel yang telah menetap di berbagai bagian India karena mereka ini telah meninggalkan agama leluhur mereka dimana sebagian besar telah menjadi penganut agama Buddha dan menjadi penyembah berhala. Dr. Bernier berdasarkan hasil penelitian beberapa orang terpelajar, dalam bukunya Travels in the Mogul Empire menyatakan bahwa penduduk Kashmir pada dasarnya adalah orang Yahudi yang ketika mereka tercerai-berai di zaman raja Assyria telah hijrah ke negeri ini.   (Dr. F rancois Bernier, Travels in the M ogul Empire , A.D. 1656-1668, v ol. VII)

 Adalah keniscayaan bagi Yesus mencari tahu dimana domba-domba Israel yang hilang itu berada, dimana setelah mereka itu tiba di negeri India ini lalu berasimilasi dengan penduduk setempat. Aku akan menyampaikan bukti-bukti bahwa Yesus a.s. memang sampai ke negeri ini untuk kemudian berangsur mengembara sampai ke Kashmir dimana beliau menemukan domba-domba Israel yang hilang itu di antara penduduk yang menganut agama Buddha.  Umat Yahudi ini kemudian memang menerima beliau sebagaimana juga umat nabi Yunus a.s. telah menerima nabinya. Hal ini merupakan keniscayaan karena Yesus berulangkali mengatakan bahwa beliau diutus kepada domba-domba Israel yang hilang.

Terlepas daripada itu, sudah sewajarnya juga beliau lepas dari kematian di atas kayu salib karena dalam Perjanjian Lama ditetapkan bahwa siapa yang tergantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk. Alangkah kejamnya melemparkan hujatan bahwa sosok mulia seperti Yesus Al-Masih itu seorang yang terkutuk karena sejalan dengan pemahaman umum dari mereka yang memahami bahasa tersebut, la’nat atau kutukan itu merujuk kepada status hati seseorang. Seseorang dikatakan dilaknat kalau hatinya karena sepi dari rahmat Tuhan, telah menjadi gelap. Hatinya telah kelam karena kehilangan kasih Allah s.w.t., sunyi sama sekali dari kesadaran keberadaan-Nya, buta mata hatinya sebagaimana halnya iblis dan penuh dengan racun pengingkaran, tidak ada lagi tersisa nur rahmat dan sirna sudah ikatan kesetiaan sehingga antara dirinya dan Tuhan hanya tersisa kebencian, kedengkian sedemikian rupa di antara keduanya hanya ada permusuhan, ketika Tuhan akhirnya jengkel terhadapnya dan ia pun jengkel terhadap Tuhan-nya yaitu ketika ia mewarisi semua sifat buruk dari Iblis. Karena itulah Iblis disebut yang dilaknat. (Lihat Lexicon: Lisan-ul-Arab, Sihah Jauhar, Qamus, Muhit, Taj-ul-Urus).  Jadi jelas bahwa inti kata Mal’un yaitu terkutuk adalah demikian buruknya sehingga tidak mungkin diterapkan kepada seorang yang saleh yang mencintai Tuhan dalam hatinya.

Sayang sekali umat Kristiani tidak merenungi signifikasi daripada keadaan terkutuk ketika mereka menciptakan keyakinan demikian.  
Kalau saja mereka memahami artinya, tidak akan mungkin mereka menggunakan kata yang buruk seperti itu terhadap seorang saleh seperti Yesus a.s. Dapatkah kita mengatakan bahwa hati Yesus itu kosong dari nur Ilahi, bahwa beliau menyangkal Tuhan, bahwa beliau membenci dan menjadi musuh dari Tuhan? Bisakah kita menganggap bahwa Yesus pernah merasa dalam hatinya bahwa beliau terasing dari Tuhan, bahwa beliau musuh Tuhan dan bahwa beliau terbenam dalam kegelapan kekafiran dan pengingkaran? Jika kita menyadari bahwa Yesus a.s. tidak pernah berada dalam kondisi hati seperti itu, dimana hati beliau selalu penuh dengan kecintaan dan nur Ilahi, maka anda sebagai orang-orang bijak dapatkah berfikir bahwa Tuhan telah menurunkan beribu kutukan-Nya berikut semua signifikasi negatif ke dalam hati Yesus? Tidak akan pernah.

Lalu mengapa kita, nauzubillahi-min-zalik, mengatakan bahwa Yesus itu terkutuk? Sayangnya, jika seseorang telah menyatakan pendiriannya mengenai suatu keimanan, sulit baginya melepaskan keimanan tersebut walaupun berbagai absurditas keimanan itu telah dibukakan kepadanya. Keinginan seseorang mencapai keselamatan jika didasarkan pada landasan yang benar adalah suatu yang patut mendapat pujian. Namun tidaklah masuk akal rasanya jika keinginan mencari keselamatan yang dilandasi dengan pengelabuan kebenaran dengan mengatakan seorang nabi suci dan seorang manusia yang sempurna dianggap telah melalui transisi menjauh dari Tuhan-nya. Alih-alih adanya kesatuan hati dan tujuan dengan Tuhan-nya, malah muncul keterasingan, permusuhan dan kebencian; bukan nur malah kegelapan yang telah menyelimuti hatinya.