GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

Friday, January 10, 2025

Santo Thomas di India


Ref. buku Jesus Among the Lost Sheep

Oleh Azis Chaudry Terbitan Islamic International Ltd” 1992 hl.64-69

 


St Thomas adalah salah satu dari 12 murid Yesus (Nabi Isa as). Nama lengkap beliau adalah Yudas Thomas. Menurut Injil Apokrif kisah Thomas (Acta Thomae). Nama atau gelar Thomas berarti kembar. (Yohanes 20:24 & 21:2). Dalam Injil Matius dan Markus, Yudas disebut sebagai salah seorang dari saudara-saudara Yesus. Matius 13:55 dan Markus 6:3. Acta Thomae disebut dalam Bahasa Syriac Kisah Yudas Thomas, yakni Judah, si kembar dan di seluruh kitab ini, beliau disebut Yudas dan bukan Thomas. Bahasa Syriac yang sepada untuk Thomas adalah Thomae, dalam dialek Nestorian “Theom”dan dalam Bahasa Arab Tauam. Dalam literatur Bahasa Arab , Thomas umumnya dirujuk sebagai Badad yang menurut aturan tatabahasa dapat juga diucapkan Babad dan kedua kata itu bermakna kembar. [1]

Pandangan ini bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus telah dipertahankan oleh Nazir Ahmad berdasarkan pernyataan-pernyataan dalam Kisah Thomas. Kami tidak setuju dengan hal itu. Tak ada kesaksian sama sekali, bahwa Yesus lahir kembar. Injil-injil tidak menyebutkan, bahwa Thomas adalah saudara kembar Yesus. Tetapi dalam perbedaan-perbedaan pandangan dari periwayat Injil, seseorang tidak dapat menghapus kemungkinan bahwa St Thomas adalah salah seorang murid yang menyertai Yesus ke India.

Thomas sangat setia pada Yesus dan amat ingin mengikuti beliau kemanapun dan bersedia mati demi beliau (Yohanes 10:16). Beliau mengikuti Yesus ke danau Tiberias dan kemudian menyertai Yesus selama hijrah beliau ke India dalam mencari suku-suku Bani Israil yang hilang. Thomas diriwayatkan Bersama Yesus di Magdonia (Nishibis-Mesopotamia) dan Texilla di Barat laut India (sekarang Pakistan). Dari sana beliau kemungkinan menyertai Yesus ke Kashmir. Kemudian sebagaimana adanya jejak suku-suku Bani Israil yang hilang , yang menetap sepanjang Pantai Barat India dari Bombay sampai Srilangka, ST Thomas pergi ke Selatan India Dimana beliau bertabligh dan di syahidkan. Maka St Thomas (sewaktu hidupnya -AMMS) mendirikan gereja-gereja di Selatan India. Menurut tradisi Bani Israil sepanjang Pantai Barat India , nenek moyang mereka telah meninggalkan Yerusalem sesudah penghancuran kuil (biara) yang kedua kali dan tiba dikawasan-kawan ini pada abad ke3 SM. [2]

Menurut Bukhana[3] Sebagian dari mereka berasal dari Barat laut India dan Kashmir.


Kaum Kristen Pengikut St Thomas

Tadisi setempat golongan ini yang menyebut diri mereka sendiri Kaum Kristen pengikut St Thomas meriwayatkan bahwa pendiri gereja mereka adalah St Thomas. Mereka selalu mendakwahkan demikian dan mereka memuliakan St Thomas sebagai orang kudus pelindung mereka. Kemudian golangan ini dipengaruhi oleh ajaran Kristen Nestorian. Asal keimanan Kristen Nestorian ini adalah signifikan bahwa mereka tidak mempercayai bunda Maria dan tidak mempercayai keputraan Yesus (sebagai anak Tuhan -MA).[4] Yang karena itu mereka diperlakukan zhalim, ketika penjajahan Eropa datang di Selatan India.

Dari sebuah gereja permulaan di Edessa (kini Urfa di Timur Turki) ada hubungan dengan gereja di India ini. Max Muller telah menetapkan, bahwa Bahasa Pahlavi diucapkan di Edessa dan menarik bahwa prasasti ditemukan di geraja-gereja di Selatan India.

Tradisi-tradisi kuno sehubungan dengan kisah Thomas, mengingatkan St Thomas dengan Endessa dan dan menjadikan beliau penginjil Parthia dan India. Tahun 189M Pantaenius di utus ke India oleh Bishop Demetrius dari Alexandria. Dia mendapati bahwa sebuah gereja telah didirikan oleh seorang rasul (murid Yesus). Hippoclytus salah satu sejarahwan Kristen permulaan, menulis mengenai St Thomas. “Dan Thomas bertabligh kepada orang-orang Parthia, Medes, Persia, Bacterian, India, Hyranean, dan ditikam dengan sebatang tombak di Calamania[5] sebuah kota di India dan dimakamkan di sana.[6]

Assemani, yang mengutip berbagai penulis bangsa Syiria, memberitahu kita bahwa St. Thomas merupakan utusan ke Mesopotamia dan India serta menyebutkan suatu tempat yang Bernama “Rumah St Thomas di Kota Maelapore”[7] Maelapore adalah sebuah kota di Madras (India Selatan) Dimana menurut kisah Thomas, beliau dibunuh. Dimasa Raja Alfred dipercayai bahwa St Thomas telah bertabligh dan wafat di India serta dia telah mengirimkan suatu perutusan ke tempat suci St Thomas di India. Marcopolo menulis kira-kira tahun 1294 M juga menyebutkan pensyahidan St Thomas dekat Madras.

 

Kisah Thomas

Kisah Thomas yang kita rujuk ditulis pada permulaan abad ke dua Masehi oleh Leucius, penulis beberapa kisah Apokrif. Dia mendasarkan pada surat-surat tertentu dari St Thomas dan pada keterangan yang diterima dari sebuah perutusan Selatan India melalui Edessa menuju Yerusalem dan Roma.

Kisah Thomas dihimpun secara keseluruhan pada tahun 368 oleh Epiphanius, Bishop Salamia. Kita itu diterima dan dibaca di Gereja-gereja bersama dengan Injil Thomas dan kitab-kitab kanonik lainnya, sehingga fatwa Paus Gelasius (495 M) Ketika kitab itu dikutuk sebagai penyimpangan. Dalam bentuk perobahan sedikit kitab itu dibaca dan diterima, bahkan sampai hari ini di gereja-gereja Assyiria. Kitab itu diterjemahkan dari Bahasa Syriac ke Bahasa Inggris oleh Dr. W. Wright tahun 1971.[8] Kitab itu dimasukkan oleh Dr. Cureton dalam bukunya Ancient Syriac Document pada th 1883.

 

St Thomas Melakukan Perjalanan Ke India

Kehidupan St Thomas seperti yang digambarkan Kisah Thomas dimulai dengan kisah bahwa ketika pembagian tugas dilapangan di antara para murid, India yang ada dalam Kerajaan Parthia jatuh ke bagian Thomas. Lalu dinyatakan bahwa Yesus Nabi Isa as dan Thomas bersama-sama tiba di Magdonia yang merupakan nama lain dari Nisibis[9] Di Mesopotamia. Di sinilah bahwa  seorang pesuruh Bernama Abenes dari Raja Gondophares dari Kerajaan Parthia India, tiba dan mohon kepada Raja Magdonia untuk mengirim seorang arsitek (Juru Tera) untuk membangun sebuah istana dengan gaya Roma. Yesus waktu itu sedang bertabligh pada raja Magdonia dan atas anjuran beliau St. Thmas dikirim ke India. Thomas mengadakan perjanjian melalui laut dari sebuah Pelabuhan Mesopotamia mencapai muara Sungai Indus di India. Melayari Sungai beliau tiba di suatu tempat bernama Attock. Abanes menghadirkan St. Thomas kepada Raja Gondophares di Taxilla (masa itu India Barat Laut) dalam Kerajaan Gondophares.

Kehadiran Yesus (Nabi Isa as) bersama Thomas di Taxilla disebutkan dalam kisah Thomas dengan sangat singkat. Tercatat bahwa keduanya menghadiri pesta pernikahan Abanes (Abdagases) seorang keponakan Raja Gondophares.[10] Kita baca dalah kisah Thomas “Thomas sesudah upacara itu meninggalkan tempat itu. Penganten baru lelaki mengangkat tirai yang memisahkan dia dari pengantin Perempuan. Dia melihat Thomas yang dia sangka sedang bercakap-cakap dengannya. Kemudian dia bertanya dalah keheranan: Bagaimana tuan dapat dijuampai di sini, tidakkah saya lihat tuan pergi sebelumnya?, dan tuan itu (Yesus) menjawab: Saya bukan Thomas tetapi saudaranya”.[11]

Kemudian dinyatakan bahwa sebelum bertolak ke Selatan India Thomas pergi ke suatu Kerajaan lain, tetapi tidak dirinci. Mungkin yang dimaksud adalah Kashmir, sebab Yesus (Nai Isa as) pergi ke sana sesudah kunjungan beliau ke India Barat Laut dan Kawasan Punjab. Kemudian St. Thomas mengikuti jejak beliau semula dan mencapai muara sungai Indus dan mengadakan perjalanan dengan kapal ke Pantai Barat di Selatan Iindia. Beliau mendarat di Kerala, sebuah pulau Laguna dekat Crangonone yang kepala pelabuahannya adalah Muiziris St Thomas bertabligh kepada masyarakat di Pantai Barat. Beliau kemudian diriwayatan pergi ke kota Andra di distrik Andra. Sesudah itu beliau pergi ke Maelapore di Pantai Timur dan berhasil menarik Ratu Tertia (menjadi pengikut Yesus-MA). Hal ini membangkitkan kemarahan Raja Mazdai dan memicu iri hati kaum Brahmana. Mereka menghasut Masyarakat dan St Thomas dibunuh di kota Maelapore, Madras. Beliau dimakamkan di sana. Dalam suatu Kawasan 7 - 8 Mil dari benteng St George (Madras India) berdiri gereja kuno yang besar yang menandai tempat-tempat pensyahidan St Thomas. Secara umum diterima tulang belulang St Thomas dipindahkan dari Madras ke Edessa th. 163 M dan sebuh Gereja dibangun d tempat penguburan mereka.

Riwayat hidup St Thomas di India ini dikuatkan oleh ciri khas Sejarah dan Ggeografi Kawasan itu. Raja Gondophares yang telah disebutkan dalam kisah St Thomas berasal dari dinasti Parthia dan memerintah India Barat Laut dari tahun 21-50 M. setelah meniggalnya Abanes keponakannya melanjutkannya untuk masa singkat.[12] Nama-naam tempat tersebut sehubungan dengan kehidupan St Thomas di India dikuatkan oleh Geografis daerah itu.

 

Prasasti Berbahasa Aramik

Penyelidikan bukti Sejarah lebih lanjut dari kunjungan St Thomas dan Yesus (Isa as) ke India Barat Laut, kita dapati bahwa ada satu prasasti yang menarik di musium Taxilla yang telah digali dari sirkap, Taxilla (kini di Pakistan). Prasasti itu hancur, rusak dan tak lengkap. Menurut Sir John Marshall, Direktur Jenderal Departemen Akeologi British India serta penulis dua buku mengenai Taxilla, prasasti ini berasal dari abad pertama Masehi.[13] Itu merupakan bagian dari pilar kenangan pualam putih bersegi delapan yang dibangun dalam suatu tembok sebuah rumah yang digali di Taxilla. Prasasti yang digali pada pilar ini adalah berbahasa Aramik, suatu dialek Ibrani yang dengan itu Yesus dan murid-muridnya berbicara.

Nazir Ahmad penulis buku “Jesus in Heaven on Earth” membahas prasasti ini dalam bukunya. Beliau menulis “adanya prasasti dalam Bahasa Aramik ini merupakan hal Ajaib. Tetapi karena kehadiran Yesus  dan St Thomas di Taxilla hal ini tak dapat diterangkan dengan hipotesa lain. Sejauh ini tak ada usaha telah dibuat untuk menerangkannya walaupun segera setelah penemuannya usaha-usaha dibuat untuk menterjemahkannya. Salinan-salinan catatan itu diterbitkan oleh Dr. L.D. Bernet dan Prof. Cowley dalam The Journal of The Royal Asiatic Society.[14] Catatan-catatan the late F.C. Andreas, terbit Dr. W.H. Winkler menimbulkan komplikasi-komplikasi lebih jauh. Ketidak lengkapan dan kerusakan prasasti ditambah dengan prasangka-prasangka mereka serta kurangnya pengetahuan mengenai latar belakang yang sebenarnya telah membuat kebingangan makin buruk lagi. Mereka berkata bahwa prasasti itu merujuk kepada seorang pejabat tinggi Bernama Romadota dan bahwa juga disebut dua nama lain Nanggaruda dan Priyadarsia. Sisa terjemahan adalah khayalan dan sebab itu tanpa makna. Mereka tak dapat, saya ulangi karena kurangnya pengetahuan yang patut, mengungkapkan bahwa tiga kata ini boleh jadi merupakan gelar dan bukan nama asli. Mereka tidak dapat menerima buku Rahnomai Taxilla oleh Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Asisten pengawas survey Arkeolog India, yang di dalamnya menyebutkan bahwa prasasti itu merujuk pada Pembangunan sebuah Istana (mahal) dari Deobar dan Ivory di Taxilla.[15]  Para cendekiawan barat mengabaikan kenyataan bahwa “nanggaruda secara harfiah bermakna tukang kayu dalam Bahasa Aramik. Ramadota sebenarnya adalah Rudradeva (anak Tuhan) dan Priyadarsia adalah Peridersia (Bapa).  Seperti diakui oleh Sir John Marshall para cendekiawan Barat selanjutnya mengakui atas kemungkinan-kemungkinan belaka. Mereka juga melupakan kenyataan bahwa seorang suci dan saleh di India pada masal itu selalu digambarkan sebagai anak Tuhan atau anak suatu dewa lain.

Tetapi jika kita letakkan kenyataan-kenyataan ini bersama pada pemandangan yang sebenarnya kita terpaksa mencari dan melacak seorang asing di Taxilla yang menjadi tukang kayu dan yang dihubungkan dengan Pembangunan sebuah istana di Taxilla dan yang dihubungkan seorang suci dan saleh yang digambarkan sebagai Rudradeva (anak Tuhan) St. Yudah Thomas kenyataannya merupakan merupakan seorang asing., tukang kayu , anak dari tukang kayu, beliau membangun sebuah istana di Taxilla, dan berada di Taxilla bersama Yesus (Nabi Isa as), Nabi Allah ( Jesus in Heaven on Earth p..348).

Maka menurut Nazir Ahmad, yang adalah seorang peneliti terkemuka, prasasti ini menunjuk kepada kehadiran St Thomas dan Yesus Kristus (Isa Al Masih as) di Taxilla selama abad pertama Masehi. Kemungkinan tahun 48-50 M. Penelitian lebih lanjut untuk mengungkap prasasti ini diperlukan.

Perjalanan St Thomas yang ingin dan tetap mengikuti Yesus kemanapun beliau pergi an menyerahkan hidupnya demi beliau ke India dan bertabligh bahkan syahid menjadi sangat serupa bahwa beliau mengikuti jejak Langkah Yesus Kristus (Isa Almasih) yang mengadakan perjalanan ke Timur dalam mencari suku-suku Israil yang hilang. Hijrah dan kehadiran St Thomas di India mendukung (menguatkan) pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa as) sendiri berhijrah ke India dan akhirnya menetap di Kashmir di mana makam beliau berada di Srinagar.

Alih Bahasa Muharim Awaluddin  

Disadur dari EBK, No.64, Sep 2002 | Ali Mukhayat

 



[1] Lisan-ul-Arab Vol.III,P.48

[2] Rev. Claudius Buchanan, Christian Researchers in India, P.220

[3] Ibid, P.224

[4] W.R. Phillip, The Thirty Four Conferences between Danish Missionaries and Malabar Brahmans (Christians) in The East Indies, XV

[5] Sir William Hunter, India Empire, p. 213

[6] S.D.F. Salmond, the Writings of Hippoclytus, Vol. III, P.131

[7] Assemani, Biblothica Orientalics III:I, P.231

[8] Dr. Wright, The Apocrypahal Acts of Apostles, Vol.III

[9] Dr. Cureton, Ancient Syriac Document, Vol.22, P.141, see also F.C.Burket, Early Chritians Outside the Roma Empire, P.155

[10] Prof. J.W. Fadrquhar, The Aposite Tomas in India, John Reyland’s Library Bulletin, Vol.XII:I

[11] Acta Thomae, Ante Nicene Christian Library, Vol. XX, P.46, see also Sir V.A. Smith, The Early History of India, P. 219, And, Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.15

[12] Prof. E.J. Rapson, Ancient India, P. 174, Also see, Sir V.A Smith, The Early History of India, P.217

[13] Sir John Marshall, A Guide to Taxilla, P.99

[14] Ibid, P.34

[15] Maulvi Muhammad Hamid Qureshi, Rahnumai Taxilla, Calcutta, Government of India Printing Press 1924, P.144


Monday, March 19, 2012

KONSEP KE AL MASIHAN

Karya Tulis           : Kenneth Moakan
Sumber                 : The Review of Religions, Januari 1988
Judul Asli              : Concept of Mesiah
Terjemah              :  Muharim Awaluddin Thailand

Sebagai seorang muslim saya tidak merasa pokok bahasan ini merupakan sesuatu yang asing, bahkan ia merupakan salah satu dari kepercayaan pokok orang Islam untuk mempercayai dan mengakui semua Nabi dari Tuhan dan konsep mengenai Al-Masih ada tersebut dalam kitab suci Al-Qur’an.

Konsep mengenai kedatangan seorang Al Masih (Messias) ini berlainan diantara tiga agama besar dunia Yahudi, Kristen dan Islam.  Dimana kaum Yahudi percaya bahwa Al Masih akan muncul, kaum Kristen percaya bahwa beliau akan muncul dalam wujud Yesus (Nabi Isa) dan akan muncul kedua kalinya pada akhir zaman untuk mengumpulkan umatnya dan menegakkan kerajaan Tuhan selamanya.  Kaum muslimin menganut kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Al Masih dan bahwa pada kedatangan beliau yang kedua, beliau akan datang sebagai seorang muslim dan akan menegakkan supremasi Islam dengan mengobarkan perang kepada mereka yang tak menerima Islam.  Beliau juga akan membunuh babi dan mematahkan salib.  Kepercayaan kaum muslimin berdasar kepada kesalah pahaman atas sabda-sabda Nabi suci Muhammad SAW.  Muslim Ahmadi sebaliknya percaya seperti halnya kaum Kristen dan Muslimin pada umumnya, tetapi memiliki konsep yang berbeda. Tentang kedatangan beliau yang kedua.  Perkara ini tidak akan di bahas dalam tulisan ini, tetapi di bahas berkali-kali sebelum ini dan dimasa mendatang. Insyallah dapat di bahas lagi untuk manfaat bagi para pencari kebenaran.

Agama-agama lain juga nampaknya ada aide-ide ke Al Masihan dalam sistem mereka.  Yang sedang di tawarkan di kalangan kaum Hindu tertentu bahwa Krisna adalah Messias (Al Masih) atau bahwa ajaran Krishna adalah apa yang kaum Kristen dakwahkan.  Pandangan ini juga dimiliki oleh beberapa golongan agama Budha.  Bahwa Buddha adalah pribadi yang sama dengan Yesus sedang di tonjolkan dan bahwa ajaran Kristen telah diambil secara harafiah dari kitab-kitab Buddha.

Zoroaster tidak mempercayai konsep ini dan menulis dalam Dasatir.  Susan I agung menubuatkan bahwa seorang nabi akan di bangkitkan di akhir zaman dan akan merupakan keturunan Persia dan bahwa keturunanya akan merujuk kepada kedatangan beliau yang ke II, sementara kaum Kristen dan Muslimin tidak ada satu bukti yang diajukan bahwa ada keturunan Yesus (Nabi Isa) yang mereka yakini sebagai Al Masih, tidak pula kaum Yahudi memiliki bukti-bukti itu.  Istilah Al Masih (Messias) seperti umumnya di pahami merujuk kepada seorang Nabi Agung yang akan menjadi orang pilihan Tuhan.

Gagasan kemunculan seorang Al Masih nampaknya telah menjadi bagian dari ajaran Yahudi sejak masa Musa as.  Sebab ada banyak nubuatan yang di tunjukkan oleh mereka dan juga oleh kaum Kristen dalam perjanjian lama yang dianggap sebagai kedatangan Nabi Agung yang menjadi Al Masih (Messias).  Nyatanya banyak ayat dalam perjanjian lama mengenai sifat seseorang yang Agung.  Pendeknya boleh dikatakan dengan aman, bahwa harapan kebangkitan bangsa Yahudi tergantung dengan kemunculan Al Masih.    Para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan berbagai ayat perjanjian lama untuk mempertimbangkan kebangkitan Al Masih dikalangan mereka dan yang akan meneguhkan keimanan mereka dan memimpin secara Herois.

Kepada ular Tuhan berfirman “dan aku akan mengadakan permusuhan diantaramu dan perempuan ini, dan diantara keturunanmu dan keturunannya.  Ia akan meremukkan kepalamu dan kamu akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Hasil yang keturunan perempuan itu akan dapatkan atas keturunan ular adalah menghancurkan kepalanya, sedangkan keturunan ular hanya berhasil menghancurkan tumitnya.  Perhatikan bahasa Ibrani yang di gunakan disini membawa makna ganda dan terbukti dari tergun bahwa ia berarti: “merusak, menggilas jadi debu dan menghancurkan”.  Ini telah di tunjukkan dalam kejadian 3:15 dimana digambarkan secara garis besar akibat konflik yang panjang antar keturunan perempuan dan keturunan ular setelah (peristiwa yang) di anggap kejatuhan manusia dari taman Eden.

Profesor Delitzsch mengatakan: “Hanya ketika kita menerjemahkan: Dia (keturunan perempuan) akan meremukkan kepalanya…", kalimat itu termasuk janji pasti kemenangan atas ular, karena ia menderita di perjalanan maut, mencoba menyelamatkan diri dan tenggelam dalam perjalanan adalah luka maut ( kejadian 49;17).  Hal ini di percayai sebagai nubuat terselubung dan bertujuan ke arah sejarah yang sedang bergerak.

Bahwa para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan baris ini sebagai nubuatan Al-Masih sangat jelas dari Tergum Palestina yang menyatakan bahwa dalam kejadian 3:15 adalah janji  penjagaan terhadap gigitan ular pada akhir zaman, di masa raja Al Masih.

Pokok bahasan kejadian 3:15 diulas dalam Tergum Palestina dengan pernyataan tambahan sbb: “ memang demikian bagi mereka akan jadi suatu obat, dan mereka akan menjadikan penyembuhan untuk tumit itu pada masa raja Meshiha".

Rujukan yang di buat di sini adalah kepada Al Masih yang akan menyembuhkan mereka dari penyakit dan mengembalikan mereka pada kesucian sejati, yang mereka percayai telah ada sebelum kejatuhan.  Midrash Palestina (Beresith rabba XII) menyatakan:  “Tiap-tiap sesuatu yang Tuhan ciptakan sejak semula sempurna, manusia berdosa telah menjadi korup dan tidak kembali pada keadaan semula hinga putra perez (yakni menurut kejadian 38:29, Ryth 4:18; Al Masih berasal dari suku Yudah) datang”.  Penafsiran ini menjadikan Al Masih pembaharu dan membawa satu dunia yang sesat kepada Tuhan.

Istilah rabbi Al Masih adalah M’nahem dan tanpa keraguan berdasarkan pada ratapanYeremia seperti yang terdapat pada pasal 1:2, 9, 17 & 21.  Di sini Nabi Yeremia meratapi keadaan Zion yang tersia-sia dan tak seorang pun membawa ketentraman dan keselamatan kepadanya.

Penghibur atau Juruselamat ini dikutip dalam Ulangan 28:1-14 dan dalam Yesaya pasal 51 & 52 dan yang di percaya sebagai Messias.  Satu ayat lain yang di gunakan adalah dari Yesaya yang terbaca: “Maka Tuhan sendiri yang akan memberimu suatu tanda; lihatlah anak dara akan hamil dan melahirkan seorang putra; dan akan di beri nama Immanuel”. (Yesaya 7:14).

Immanuel bermakna Tuhan bersama kita.  Dari hal ini di tunjukkan, bahwa seorang yang telah di nubuatkan akan di kuatkan (dibantu) oleh Tuhan.  Dikalangan bangsa Ibrani ada adat kebiasaan anak-anak diberi nama untuk memperingati beberapa peristiwa bermakna atau karya-karya agung Tuhan dengan harapan bahwa anak itu boleh dipengaruhi oleh namanya dan sampai pada ketinggian yang diharap.
Contohnya:
  1. ·         Yesaya bermakna: Tuhan telah menyelamatkan
  2. ·         Yeremia bermakna: Tuhan menguatkan
  3. ·         Zefannya bermakna: Tuhan menyembunyikan
  4. ·         Zakaria bermakna: Tuhan telah mengingat
  5. ·         Zehezkiel bermakna: Tuhan adalah kuat
  6. ·         Daniel bermakna: Tuhan adalah hakimku
  7. ·         Yoel bermakna: Tuhan adalah Allah


Diharapkan bahwa anak-anak yang menyandang paling tidak mencontohkan sifat-sifat baik dari nama-nama itu.  Tak seorang pun merasa berhak mengatakan bahwa karena seorang menyandang nama Daniel yang bermakna “Tuhan adalah hakimku” atau seseorang bermakna Yoel yang berarti “Tuhan adalah Allah”, maka semua yang bernama Yoel adalah Tuhan.  Maka nama Immanuel secara sederhana merupakan suatu ekspresi harapan bahwa Tuhan bersama hamba-hamba-Nya dan akan melindungi dan menolong mereka.

Dipercaya bahwa fungsi Al Masih terkutip dalam Yesaya 53.  Dengan suatu cara  Musa as menubuatkan tentang seseorang pembawa hukum yang lebih besar dari pada beliau sendiri (Ulangan 18:18); Yeremia menubuatkan seorang Juru Selamat yang lebih agung dari pada yang membawa Bani Israil keluar dari Mesir (Yeremia 23:7-8); Yehezkiel telah merujuk pada suatu Rumah Ibadah yang lebih mulia dari pada biara (kuil) Sulaeman (Yehezkiel 40-48).  Maka seluruh sejarah Israil dipercayai merupakan hal yang biasa.

Penjelasan rabbi dan Yesaya 7:14 biasanya adalah bahwa hal itu digenapi dengan kelahiran Hezekiah.  Kedudukan ini begitu menarik dalam hal yang menunjukkan anak yang berasal dari keturunan Daud, dari pusat Yerusalem yang mempunyai kekuasaan seperti di gambarkan dalam pasal 11 dan 12.  Lebih lanjut dalam hal Yesaya 8:8 di katakana bahwa tanah Immanuel adalah Palestina, yang pernyataan dalam hubungan ini dianggap berasal dari Daud dan kekuasaan kerajaannya.  Komentar-komentar lain menetapkan Immanuel sebagai putra ke-dua Yesaya, Maher-Shalal-hash-baz. Dalil menguntungkan untuk kedudukan ini adalah kedudukan Maher-Shalal-hash-baz dicatat dalam pasal berikutnya dan bahwa ramalan mengenai anak itu sangat serupa dengan peringan mengenai putra nabi.

Yesaya pasal 7:12 telah disebut Kitab Immanuel.  Al Masih yang akan datang itu menduduki posisi sentral dalam kitab suci bagian ini yang merupakan konsep kaum Yahudi.  Prof. Delezch dalam komentarnya atas Yesaya 7:14 telah mengatakan bahwa “ itulah Al Masih Nabi yang di sini dikatakan akan lahir, maka dalam pasal 9 adalah kelahiran dan dalam pasal 11 adalah tiga tahap kekuasaan yang tak terpatahkan, tiga bentuk kejayaan, menerangi tiga tingkat yang dalam sejarah masa depan umatnya terbagi sendiri menurut pandangan Nabi itu”.

Yesaya 59 adalah salah satu dari pasal-pasal yang dipercayai dan ditafsirkan sabagai berisi dalil kedatangan Al Masih dan bahwa kemunculan beliau akan disiarkan ketika bangsa Israil secara keseluruhan tenggelam dalam kancah dosa dan kekafiran.  Dari ayat-ayat yang lain di percayai bahwa pada masa itu Israil akan sangat menderita lebih dari yang mungkin terbayang.  Meramalkan keadaan dan melukiskan penderitaannya, Yesaya menjadikan Zion seperti seorang wanita yang ditinggalkan atau seperti rata dengan tanah yang untuknya beliau mengharapkan bangkitnya dan menyambut juru selamat yang lama diharapkan.

Ayat-ayat yang menuntun pada semua pandangan dari Al Masih penakluk (Yesaya 59:15 -21) dan Nabi yang mengembalikan kemuliaan Zion (Pasal 60:1-3), mengumpulkan kembali Israil (4-9) kedudukan Zion ini di bawah pemerintahan Al Masih (10-14) dan pemulihan suasana Eden atas Yerusalem dalam (ayat 15-22).  Dari ayat-ayat ini dan lain-lain dipercayai bahwa Al Masih (Messias) di jadwalkan akan datang di Zion dan akan menegakkan kerajaannya,  mengembangkan kekuasaannya sampai keseluruh dunia.

Walaupun konsep kedatangan Al Masih telah proyeksikan telah di gambarkan oleh berbagai sarjana dan kitab-kitab perjanjian lama, hal itu tidak terjadi hingga dua ayat terakhir perjanjian lama (Maleakhi 4: 5-6) bahwa konsep Al Masih telah mendapatkan momentum.  Di sini dinyatakan bahwa Elia (Nabi Ilyas as) akan muncul (datang) sebelum kedatangan Tuhan.  Tetapi boleh dicatat bahwa penampakan kebesaran Tuhan diberikan untuk tiga kali penampakan: Sekali di Sinai, kemudian di Seir dan terakhir di Paran (Ulangan 33:2).  Nubuatan dalam Ulangan 18:18 menyebabkan sebagian orang Yahudi berpindah dan menetap di Arabia yang di dalamnya terletak Paran dimana di sebutkan bahwa penampakan kekuasaan dan kebesaran Tuhan yang ke tiga terjadi dalam harapan penggenapan impian mereka.

Kepercayaan bahwa Elia naik kelangit (2 Raja-raja 2:11), kaum Yahudi pada masa itu percaya bahwa beliau akan kembali akhirnya dan mereka dengan penuh hasrat mengharapkan dan menantikan beliau boleh di ingat bahwa kaum Yahudi mengharap kedatangan tiga wujud: Elia, Al Masih (Kristus) dan Nabi Itu.  Ini merupakan bukti dari kenyataan, bahwa ketika Yesus memberitakan kepada kaum Yahudi, mereka sangat curiga dengan dakwah-dakwah beliau.  Sebagian murid memberanikan diri bertanya kepada Yesus mengenai keberatan kaum Yahudi, maka mereka menanyai beliau: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”.  Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan aku berkata kepada mu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukan menurut kehendak mereka.  Demikian juga anak manusia akan menderita oleh mereka”.  Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa ia berbicara tentang Yohanes pembabtis” (Matius 17:10-13).

Sampai hari ini kaum Yahudi masih menunggu kedatang Al Masih mereka sampai pada tahap, bahwa salah satu doa mereka yang di panjatkan sesudah makan, adalah Tuhan akan menjadikan mereka berharga untuk dapat menerima Al Masih.
Dan akhir seruan kita adalah: SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEKALIAN ALAM!

Sumber: EBK, No.63 TahunVI, Agustus 2002/Zuhur 1381, h.25-31

Wednesday, March 14, 2012

YESUS TIDAK MENDAKWA JADI ANAK TUHAN


Pengesyahan Oleh Cendekiawan Katolik
Father Raymond E Brown, penulis buku “ The Death of The Messiah” (Doubleday, 1608 pages, $75) telah mengungkapkan penemuan-penemuannya dalam bukunya bahwa Yesus atau para pengikutnya beliau tidak menggunakan gelar “Anak Tuhan” untuk beliau (Yesus) di masa hidup beliau.  Ulasan berikut telah di buat oleh The Weekly Time dalam terbitan tertanggal 11 April 1944.
“ Brown bergabung dengan mereka yang mempercayai Yesus anti –Tample adalah satu unsure dalam kalimat maut.  Brown menganggap tuduhan berat penghujatan, bukan mengejek Tuhan, tetapi melibatkan dakwaan kedudukan Yesus yang hanya di miliki Sang Pencipta.  Brown tidak menganggap Yesus atau para pengikut beliau menggunkan gelar “anak Tuhan” dimasa hidup Yesus.  Tetai dia menganggapnya dapat di terima bahwa Yesus mendakwakan kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, berbicara tentang terjadinya kerajaan Tuhan, dan menggambarkan bahwa Tuhan akan mengadili orang-orang atas bagaimana mereka menyambut Yesus sendiri “.
Sebab itu, jika Yesus tak pernah menggunakan gelar anak Tuhan untuk beliau sendiri, mengapa orang lain harus menggunakannya untuk beliau? Ini benar-benar penghujatan.  Mengenai kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, terjadinya kerajaan Tuhan, dan Tuhan akan mengadili orang-orang atas bagaimana mereka menyambut Yesus sendiri telah di dakwahkan semua nabi Tuhan.  Dia yang mengimami nabi zamannya dan beramal saleh, dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta’ala.  Semua nabi di bangkitkan untuk membawa kerajaan Tuhan dan menolak untuk mengimani mereka akan di hakimi oleh Allah Ta’ala.
Maka dengan Yesus juga, nabi Tuhan.  Tak ada keistimewaan kepada beliau.
Sumber:
·         EBK, No.064, Tabuk 1381-Sep 2002-Th.VI
·         Ahmadiyah Gazzete Canada, June 1994, hal.19, vol.23,no.6
·         Terjemahan oleh Muharrim Awaluddin Thailand

Wednesday, February 22, 2012

YESUS DI INDIA BAB 4 Bagian 3

Bukti Dari Buku-buku Sejarah Tentang Kedatangan Yesus ke Punjab dan Daerah Sekitarnya


Pertanyaan yang pasti mengemuka adalah mengapa Yesus setelah terlepasnya beliau dari salib lalu mengembara sampai ke negeri ini yang letaknya sangat jauh dan merupakan perjalanan amat panjang.  Hal ini perlu dijawab secara rinci dan meskipun sudah sedikit disinggung di atas, ada baiknya lebih diperjelas.

Perlu dipahami bahwa perjalanan tersebut merupakan kewajiban bagi beliau sebagai seorang nabi karena Yesus a.s. mengembara sampai ke Punjab dan daerah sekitarnya itu dalam rangka mencari sepuluh suku bangsa Israel yang dalam istilah Injil disebut sebagai Domba-domba yang hilang.  Mereka itu bermukim di negeri ini dan kenyataan itu diakui oleh para ahli sejarah.  Karena itu Yesus memang perlu datang ke negeri ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran samawi beliau.  Kalau beliau tidak melakukan perjalanan tersebut maka tujuan diutusnya beliau tidak akan terpenuhi karena sudah digariskan bahwa maksud kedatangannya adalah mencari dan mengajar Domba-domba Israel yang hilang.  Jika hal ini tidak dilaksanakan maka sama saja keadaannya dengan seseorang yang ditugasi rajanya untuk pergi ke daerah suku yang terpencil guna membuatkan sumur buat air minum mereka, tetapi yang bersangkutan membuang-buang waktu di tempat lain.

Bila ditanyakan bagaimana mungkin kesepuluh suku bangsa Israel itu berada di negeri ini, maka jawabannya adalah semua itu berdasarkan bukti-bukti kuat sehingga seorang bodoh pun tidak akan meragukannya.  Sudah luas diketahui orang kalau bangsa Afghan dan penduduk Kashmir berasal atau keturunan bangsa Israel.  Sebagai contoh, penduduk dari daerah Alai yang berbukit-bukit sejarak dua atau tiga hari perjalanan dari Hazara, selalu menyebut diri mereka Bani Israel dari sejak zaman purba. Begitu juga penduduk Kala Dakah yang juga merupakan daerah perbukitan, mereka ini bangga sebagai keturunan Israel.  Ada suku bangsa di Hazara sendiri yang menganggap mereka juga berasal dari Israel, sebagaimana penduduk daerah di antara Chalas dan Kabul. Dr. Bernier dalam bagian kedua dari bukunya Travels in the Mogul Empire (Lihat Apendiks) menyatakan berdasar penelitian beberapa cendekiawan Inggris bahwa penduduk Kashmir adalah keturunan bangsa Israel.  Pakaian, karakteristik tubuh dan adat kebiasaan mereka menunjuk kepada kenyataan bahwa mereka berasal dari keturunan Israel.

George Forster dalam bukunya Letters on a journey from Bengal to England (Lihat Apendiks), mengatakan saat ia berdiam di Kashmir ia merasa berada di tengah-tengah suku bangsa Israel. Dalam buku The Races of Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan H. W. Bellews C.S.I. dinyatakan kalau bangsa Afghan berasal dari Syria.  Raja Nebuchadnezar menawan mereka dan menempatkan mereka di Persia dan Media, dari mana mereka kemudian hijrah ke Timur dan bermukim di perbukitan Ghaur dekat Bamiyar dan mereka dikenal sebagai Bani Israel.  Sebagai bukti ialah nubuatan dari Nabi Idris (dalam Injil disebut Enoch) yang mengatakan bahwa kesepuluh suku bangsa Israel yang ditawan telah membebaskan diri mereka dan berlindung di daerah Arsartat, yang sekarang ini dikenal sebagai Hazara, dan sebagian di daerah bernama Ghaur.  Dalam buku Tabaqat-i-Nasri yang menceritakan tentang penaklukan Afghanistan oleh Genghiz Khan, dikatakan bahwa di masa dinasti Shabnisi ada sebuah suku bangsa yang disebut Bani Israel dan mereka adalah pedagang yang baik.  Dalam tahun 622 M. sekitar saat maklumat kenabian Rasulullah s.a.w., bangsa ini bermukim di daerah sebelah timur Herat.  Seorang pemuka suku Quraish bernama Khalid bin Walid bertabligh kepada mereka menyampaikan kabar kedatangan Rasulullah s.a.w. Ada lima atau enam kepala suku bangsa itu bergabung dengan Khalid bin Walid dimana di antaranya seorang bernama Qais yang paling terkemuka dan seorang lagi bernama Kish.  Setelah masuk Islam, bangsa ini berperang dengan gagah berani di bawah bendera Islam dan memperoleh banyak daerah penaklukan.  Rasulullah s.a.w. banyak memberikan hadiah kepada mereka, memberkati mereka dan menubuatkan bahwa mereka akan memperoleh kemashuran.  Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa kepala-kepala suku bangsa ini akan selalu dikenal sebagai Malik.  Adapun Qais beliau beri nama Abdul Rashid dan diberi gelar ‘Pathan.’  Para pengarang Afghanistan mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Syria yang berarti kemudi. Qais diberi gelar ‘kemudi’ itu karena ia yang mengendalikan suku bangsanya.  Sebelum kedatangan Khalid bin Walid, mereka itu konsisten menjalankan agama Yahudi.

Sulit memperkirakan kapan bangsa Afghan dari Ghaur itu lalu berpindah dan mukim di daerah sekitar Kandahar sampai sekarang.  Kemungkinan di abad pertama tarikh Islam. Bangsa Afghan mengemukakan bahwa Qais menikah dengan putri Khalid bin Walid dan mendapat tiga putra bernama Saraban, Patan dan Gurgasht.  Saraban mempunyai dua putra yang diberi nama Sacharj Yun serta Karsh Yun dan mereka ini yang menurunkan bangsa Afghan atau Bani Israel. Penduduk Asia Kecil dan sejarahwan Barat mengenai Muslim menyebut bangsa Afghan sebagai ‘Sulaimanis.’

Dalam The Cyclopaedia of India, Eastern and Southern Asia, volume 111, susunan E. Balfour, dinyatakan bangsa Yahudi tersebar di seluruh daerah Asia bagian tengah, selatan dan timur. Di masa lalu banyak dari bangsa ini yang bermukim di Cina dan mempunyai kuil di Yih Chu di distrik Shu. Dr. Joseph Wolff yang mengembara lama sekali dalam pencarian sepuluh suku bangsa Israel yang hilang, menyatakan bahwa jika bangsa Afghan adalah keturunan Yakub maka mereka itu berasal dari suku Yahuda dan Ben Yamin.  Laporan lainnya mengemukakan kalau orang-orang Yahudi itu dibuang ke Tartary dan mereka bisa ditemui dalam jumlah banyak di sekitar Bokhara, Merv (sekarang dekat Turkmenistan) dan Khiva (sekarang di Uzbekistan). Hasil riset Dr. George Moore menunjukkan bahwa suku bangsa Tartar yang bernama Chosan adalah keturunan Yahudi dan di antara mereka masih bisa ditemui sisa-sisa agama Yahudi seperti adat khitan.

Dalam penampilannya bangsa Afghan dalam segala hal mirip sekali dengan umat Yahudi. Mereka juga mempunyai adat dimana adik laki-laki yang lebih muda mengawini janda kakaknya. Seorang pengelana Perancis bernama L. P. Ferrier yang berkunjung ke Herat, menyatakan kalau di daerah tersebut ditemui banyak orang Yahudi yang bebas melaksanakan ritual agama mereka. Rabbi Bin Yamin dari Toledo (Spanyol) pada abad keduabelas pernah mengembara mencari suku-suku bangsa yang hilang itu.  Ia menyatakan bahwa umat Yahudi itu bermukim di Cina, Iran dan Tibet. Flavius Josephus (Lihat Apendiks),  yang mengarang buku sejarah umat Yahudi dari zaman purba, pada tahun 93 M. menulis dalam buku kesebelas tentang umat Yahudi yang bebas dari tawanan bersama nabi Ezra, menyatakan kalau mereka itu menetap di sebelah timur sungai Euphrat dimana jumlah mereka amat banyak sekali.  Yang dimaksud di luar Euphrat adalah daerah-daerah Persia dan negeri-negeri di timurnya.  Santo Jerome yang hidup di abad kelima saat menulis tentang nabi Hosea menyangkut pokok bahasan, menyatakan dalam catatan pinggirnya bahwa umat Yahudi sejak saat itu berada di bawah kendali raja Parthia yaitu Paras.  Pada jilid pertama dari buku itu dikemukakan kalau Count Juan Steram menyatakan bahwa raja Nebuchadnezar setelah penghancuran bait suci di Yerusalem telah membuang suku-suku bangsa itu ke daerah Bamiyan dekat Ghaur di Afghanistan.

Buku A Narative of a Visit to Ghazni, Kabul and Afghanistan (Lihat Apendiks), karangan G. T. Vigne F.G.S. di halaman 164 menceritakan tentang seorang mullah bernama Khuda Dad membaca dari buku Majma-ul-Ansab bahwa putra tertua dari Yakub adalah Yehuda yang berputra Usrak; putra Usrak adalah Aknur; Aknur berputra Maalib yang menurunkan Ka-Farlai; putra Farlai adalah Qais yang selanjutnya berputra Talut; Talut berputra Armea yang menurunkan Afghan.  Keturunan Afghan yang berputra empatpuluh orang inilah yang kemudian menjadi bangsa Afghanistan.  Qais yang hidup di masa Rasulullah s.a.w. adalah keturunan ke 34 setelah 2000 tahun sejak masa Yakub.  Keturunannya berkembang menjadi 64 generasi.  Putra sulung Afghan yang bernama Salm kemudian bermigrasi dari tempat asalnya di Syria dan bermukim di Ghaur Mashkoh dekat Herat.

Dalam Encyclopaedia of Geography (Lihat Apendiks),  dari James Bryce F.G.S., London 1856, di halaman 11 dikatakan bahwa bangsa Afghanistan bisa merunut garis keturunan mereka sampai kepada Saul raja Israel dan menyebut diri mereka Bani Israel. Alexander Burns juga mengemukakan kalau bangsa Afghan mengaku sebagai umat Yahudi yang katanya ditawan oleh raja Babul dan ditempatkan di daerah Ghaur di barat laut Kabul dimana sampai tahun 622 M. mereka masih menjalankan ritual agama Yahudi, tetapi kemudian Khalid bin Abdullah (kekhilafan yang maksudnya Walid) menikah dengan putri kepala suku dan membawa mereka memeluk agama Islam dalam tahun itu.  Di buku History of Afghanistan (Lihat Apendiks),  dari G. R. Malleson, London 1878, di halaman 39 dikemukakan bahwa Abdullah Khan dari Herat, pengelana Perancis bernama Friar John dan Sir William Jones (seorang orientalis) sepakat kalau bangsa Afghan merupakan Bani Israel keturunan dari sepuluh suku bangsa yang hilang.  Begitu juga buku,  History of the Afghans (Lihat Apendiks), karangan  L. P. Ferrier dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. M. Jasse, London 1858, mencatat di halaman 1 kalau mayoritas sejarahwan timur sependapat bahwa bangsa Afghan adalah keturunan dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang sebagaimana pendapat bangsa itu sendiri.  Di halaman 4 buku itu diceritakan bahwa bangsa Afghan memiliki bukti berupa kitab Injil dalam bahasa Iberani dan beberapa artikel ritual agama yang diserahkan oleh suku bangsa Yusaf-Zai kepada raja Nadir Shah di Peshawar ketika yang bersangkutan sedang melakukan invasi ke India.  Di antara para pengikut Nadir Shah sendiri terdapat beberapa orang Yahudi yang langsung mengenali barang-barang itu. Di halaman 4 buku tersebut juga disampaikan opini pengarang yang menyatakan bahwa pandangan Abdullah Khan dari Herat itu dapat diyakini. Ringkasnya disampaikan garis keturunan yaitu Malik Talut (dalam Injil disebut Saul) berputra dua orang yaitu Afghan dan Jalut.  Afghan kemudian menjadi pemuka di antara bangsanya.  Setelah pemerintahan Daud dan Sulaiman (Solomon) terjadi perpecahan di antara bangsa Israel sehingga mereka berpisah sampai kedatangan raja Nebuchadnezar.  Raja ini membunuh 70.000 umat Yahudi dan menghancurkan kotanya serta menawan sisa Yahudi yang ada dan dibawa ke Babylon sebagai tawanan.  Setelah bencana itu keturunan Afghan melarikan diri dari Yudea ke Arabia dan tinggal disana untuk jangka waktu lama. Namun karena kekurangan air dan tanah yang dapat digarap, mereka kemudian bermigrasi ke India.  Sekelompok Abdalis tetap tinggal di Arabia dan di masa Khalifah Hazrat Abu Bakar, salah seorang kepala suku mereka mengikat tali perkawinan dengan Khalid bin Walid.  Ketika kemudian Iran jatuh di bawah kekuasaan Arabia, mereka kemudian bermukim di daerah Iran di sekitar Faras dan Kirman.  Mereka menetap di sana sampai datangnya penyerbuan Genghiz Khan.  Suku Abdalis ini tidak berdaya menghadapi kekejaman Genghiz Khan.  Mereka kemudian pergi ke India melalui Makran (sekarang Baluchistan), Sindh dan Multan.  Karena tetap tidak mendapatkan ketenteraman, mereka kemudian meneruskan ke Koh Sulaiman dan bermukim di sana.  Mereka semua terdiri dari 24 suku bangsa keturunan dari Afghan yang berputra tiga orang yaitu Saraband, Arkash (Gargasht) dan Karlan (Batan).  Masing-masing mereka berputra delapan yang kemudian berkembang menjadi 24 suku yang diberi nama sama dengan nama putra-putra itu.  Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putra
Saraband

Nama
suku

Putra
Gargasht

Nama
suku

Putra
Karlan

Nama
suku

Abdal
Babur
Wazir
Lohan
Barch
Khugiyan
Sharan
Abdali
Baburi
Waziri
Lohani
Barchi
Khugiyani
Sharani
Khilj
Kakar
Jamurin
Saturiyan
Peen
Kas
Takan
Nasar
Khilji
Kakari
Jamurini
Saturiyani
Peeni
Kasi
Takani
Nasri
Khatak
Afrid
Tur
Zaz
Bab
Banganes
Landipur
Khataki
Afridi
Turi
Zazi
Babi
Banganesi
Landipuri



Buku karangan Khwaja Nikmatullah dari Herat berjudul Makhzan-i-Afghan dari tahun 1018 H. di masa pemerintahan raja Jahangir, diterjemahkan oleh Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, London 1836, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Di bab 1 dikemukakan sejarah Yakub Israel sebagai nenek moyang awal bangsa Afghan.
Di bab 11 terdapat sejarah raja Talut yang menjadi garis awal keturunan bangsa Afghan.

Di halaman 22 dan 23 dinyatakan Talut berputra dua orang yaitu Barkhiya dan Armiyah. Barkhiya berputra Asaf dan Afghan, dimana Afghan berputra 24 orang. Di halaman 65 diungkapkan raja Nebuchadnezar menduduki seluruh Sham (Syria) dan membuang suku-suku bangsa Israel ke daerah Ghaur, Ghazni, Kabul, Kandahar dan Koh Firoz dimana keturunan Afghan dan Asaf kemudian bermukim.

Di halaman 37 dan 38 disampaikan kutipan dari Majma-ul-Ansab dan Tarikh Buzidah karangan Masaufi, bahwa di masa Rasulullah s.a.w. pemuka Khalid bin Walid telah mengajak bangsa Afghan yang berada di Ghaur untuk memeluk Islam. Kepala suku Afghan bernama Qais yang adalah keturunan ke 37 dari raja Talut telah datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau memberikan gelar ‘Pathan’ kepada kepala suku itu yang berarti kemudi kapal. Kemudian kepala suku itu kembali ke negerinya dan mulai menyiarkan Islam.

Di halaman 63 dikemukakan bahwa Farid-ud-Din Ahmad mengemukakan mengenai gelar Bani Afghanah atau Bani Afghan dalam bukunya berjudul Rasalah Ansab-i-Afghaniyah yaitu: setelah Nebuchadnezar menaklukkan bangsa Israel dan daerah Sham serta menghancurkan Yerusalem, ia menawan bangsa Yahudi dan mengangkut mereka sebagai hamba sahaya.  Ia memaksa mereka meninggalkan agama Musa dan menyembah dirinya sebagai pengganti Tuhan, yang ditolak oleh bangsa Yahudi tersebut. Akibatnya Nebuchadnezar menghukum mati sekitar dua ribu orang dan mengusir mereka keluar dari daerah kerajaan dan daerah Sham.  Sebagian dari mereka pergi ke perbukitan Ghaur dimana keturunan mereka menetap di sini dan diberi nama Bani Israel, Bani Asaf dan Bani Afghan. Di halaman 64 pengarang mengutip catatan dari Tarikh-i-Afghani dan Tarikh-i-Ghauri yang menegaskan kalau bangsa Afghan adalah Bani Israel dan sebagian mereka berasal dari Kopti (Mesir). Abdul Fazl menyatakan bahwa sebagian orang Afghan mengaku berasal dari Mesir yaitu dari mereka yang kembali ke Mesir dari Yerusalem, setelah mana mereka bermigrasi ke India. Farid-ud-Din Ahmad menjelaskan tentang nama ‘Afghan’ yaitu antara lain berasal dari kebiasaan mereka ‘meratap dan menangis’ (faghan) karena terkenang kampung halaman mereka. Sir John Malcolm juga berpendapat sama dalam bukunya History of Persia, volume 1, halaman 101.

Pada halaman 63 diberikan pernyataan Mahabat Khan: ‘Karena mereka adalah pengikut dan bertalian dengan nabi Sulaiman a.s. maka mereka oleh orang Arab dijuluki Sulaimanis.’ Halaman 65 mengemukakan bahwa semua semua riset oleh sejarahwan orientalis menunjukkan kalau bangsa Afghan menganggap diri mereka keturunan Yahudi. Beberapa sejarahwan masa kini juga berpandangan sama. Mengenai penggunaan nama-nama Yahudi oleh bangsa Afghan yang kemudian menganut Islam, tidak ada yang bisa mendukung pandangan penterjemah Bernhard Doran. Di bagian utara dan barat Punjab ada beberapa suku yang semula Hindu kemudian memeluk Islam tetapi nama-namanya bukan Yahudi, yang menunjukkan bahwa dengan menganut Islam mereka tidak harus tetap menggunakan nama Yahudi.  Penampilan phisik mereka sendiri amat mirip dengan bangsa Yahudi, hal mana diakui juga oleh para cendekiawan meskipun mereka tidak termasuk yang berpandangan bahwa orang Afghan berasal dari umat Yahudi. Mengenai hal itu Sir John Malcolm mengatakan:

Asal mula suku bangsa Afghan yang hidup di daerah pegunungan antara Khurasan dan Indus sudah ditelusuri oleh beberapa sejarahwan.  Beberapa menekankan jika mereka itu keturunan dari bangsa Yahudi yang ditawan oleh Nebuchadnezar dimana kepala-kepala sukunya merunut garis keturunan mereka sampai ke Daud dan Saul (Talut).  Walaupun pengakuan mereka itu diragukan namun penampilan phisik dan adat istiadat mereka berbeda dari bangsa Parsi, Tartar dan India sehingga ini mungkin membenarkan pengakuan mereka yang sebenarnya bertentangan dengan berbagai fakta kuat dan memang belum ada buktinya.  Kalau kemiripan ciri di antara dua bangsa bisa digunakan sebagai bukti maka bangsa Kashmir dengan ciri Yahudinya tentunya bisa dianggap sebagai keturunan Yahudi.  Hal itu tidak saja dikemukakan oleh Bernier tetapi juga oleh Forster dan mungkin beberapa cendekiawan lainnya.  Walaupun Forster tidak berpandangan sama dengan Bernier, namun ia mengakui jika ia berada di antara bangsa Kashmir, ia merasa seolah berada di antara umat Yahudi.’
 Mengenai nama ‘Kashmir’ ada penjelasan dalam buku Dictionary of Geography dari A. K. Johnston di halaman 250 di bawah judul CASHMERE yaitu:
Penduduk aslinya bertubuh tinggi, kekar dengan penampilan kelaki-lakian, wanitanya bertubuh penuh dan cantik dengan hidung mancung dan ciri-ciri yang mirip bangsa Yahudi.’

Dalam berkala Civil & Military Gazette bertanggal 23 November 1898 halaman 4 di bawah judul ‘Sawati and Afridi’ disampaikan sebuah makalah menarik dan penting ditujukan ke bagian Anthropology dari British Association pada sesi musim dingin di hadapan Komite Anthropoligical Research dalam salah satu pertemuan mereka belum lama ini.  Di bawah ini dikutipkan bagian naskah yang penting dari makalah tersebut.

Penduduk asli Paktan atau Pathan di gerbang barat dari India sudah dikenal lama dalam sejarah, banyak dari suku bangsa ini disebut oleh Herodotus dan para sejarahwan Alexander. Di abad menengah, daerah pegunungan liar dimana mereka berada disebut Roh dan penduduknya Rohillah dan tidak diragukan jika mereka ini sudah ada di sana jauh sebelum munculnya suku-suku bangsa Afghan.  Semua bangsa Afghan sekarang ini dianggap sebagai Pathan karena mereka menggunakan bahasa Pathan atau Pashtu.  Mereka tidak mengakui kekerabatan dengan yang lainnya karena mereka merasa mengaku sebagai Bani Israel yaitu keturunan dari bangsa yang ditawan dan dibawa ke Babylon oleh Nebuchadnezar.  Namun semuanya menggunakan bahasa Pashtu dan sama menghormati hukum adat yang disebut Paktanwali, yang berisi peraturan-peraturan mirip dengan ajaran hukum Musa dan adat kuno bangsa Rajput.’


JEJAK BANGSA ISRAEL
‘Dengan demikian bangsa Pathan yang kita bahas ini bisa dibagi dalam dua komunitas besar yaitu suku dan klan seperti Waziri, Afridi, Orakzais dan lain-lain yang merupakan keturunan India dan bangsa Afghan yang mengaku sebagai bangsa Semit (Ibrani) dan merupakan ras yang dominan sepanjang perbatasan.  Mungkin saja Paktanwali yang merupakan norma tidak tertulis tetapi dianut oleh mereka semua, merupakan campuran berbagai sumber.  Di dalamnya kita bisa menemukan peraturan-peraturan agama Musa yang diterapkan pada adat kebiasaan Rajput dan dimodifikasi oleh kebiasaan Islam.  Bangsa Afghan yang menyebut dirinya Durani sejak berdirinya kerajaan Durani sekitar satu setengah abad yang lalu, menyatakan bahwa mereka keturunan dari bangsa Israel melalui moyang mereka bernama Kish, yang oleh nabi Muhammad diberi nama Pathan (bahasa Syria untuk kemudi kapal) karena ia ditugaskan mengemudikan rakyatnya kepada arus agama Islam. Kami telah mengemukakan di atas kalau usia bangsa Pathan atau Paktan ini lebih tua dari Islam.  Umumnya penggunaan nama-nama Israel di antara bangsa Afghan mengharuskan kita mengakui adanya keterkaitan dengan bangsa Israel. Begitu juga adat mereka seperti perayaan Paskah (yang persis sama dengan ritual Yahudi) yang tetap dirayakan oleh mereka yang berpendidikan rendah tanpa mengetahui asal muasalnya.  Bellew berpendapat bahwa keterkaitan dengan bangsa Israel itu nyata adanya, namun ia juga mengingatkan bahwa sekurangnya satu dari tiga cabang garis keturunan Afghan yang menurut hikayat berasal dari keturunan Kish dengan nama Sarabaur.  Nama ini merupakan bentuk kuno dari bahasa Pashtu yang dikenakan kepada ras Rajput yang menganut kalender matahari (solar) ketika mereka bermigrasi ke Afghanistan setelah kekalahan mereka dalam perang melawan Chandraban penganut kalendar bulan (lunar) dalam perang besar Mahabarata dalam sejarah awal India.  Dengan demikian bangsa Afghan kemungkinan adalah bangsa Israel yang diserap ke dalam suku-suku bangsa Rajput kuno dan ini rasanya merupakan jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan mengenai asal muasal bangsa ini.  Hanya saja bangsa Afghan modern mempertahankan pendirian mereka bahwa berdasarkan tawarikh, mereka itu berasal dari ras terpilih keturunan Ibrahim dan mengakui kesamaan dengan Pathan lainnya berdasarkan kesamaan bahasa dan adat istiadat suku bangsa.’

Semua kutipan dari buku-buku para pengarang terkenal tersebut jika dirangkum akan meyakinkan seorang yang berfikir bahwa bangsa Afghan dan Kashmir yang berada di India, di daerah perbatasan dan daerah sekitarnya, adalah Bani Israel. Pada bagian kedua buku ini, Inshallah, aku akan memberikan rincian lebih jauh tentang tujuan utama perjalanan Yesus a.s. ke India yaitu melaksanakan tugas yang diterima beliau untuk mengajar semua suku bangsa Israel sebagaimana berulangkali dikemukakan beliau dalam Injil. Jadi sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh jika beliau memang datang ke India dan Kashmir. Malah akan aneh kalau tanpa melaksanakan tugas-tugas yang diembannya itu, beliau langsung naik ke langit.  Sekianlah dan aku tutup diskusi ini. Salam bagi mereka yang memperoleh petunjuk yang benar.

MIRZA GHULAM AHMAD
Al-Masih yang Dijanjikan