GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada

Monday, December 5, 2011

ANAK-ANAK DAN WARNET


13230962951461687212Liburan sudah dekat. Tentunya ini yang membuat hati anak-anak senang dan tidak sabar bertemu liburan setelah mereka susah payah berperang melawan ujian belajar. Tak sedikit orang tua pun merasa senang karena segera akan melihat hasil belajar anak-anak mereka. Bagi yang anaknya mendapat hasil bagus pastinya perasaan bangga akan menghinggapinya.Bagi yang anaknya mendapat nilai biasa, yang pasti ekspresinya berbanding terbalik dengan orang tua yang pertama tadi.
Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak akan membahas senang atau tidak senang anak-anak menunggu liburan atau orang tua menunggu hasil belajar anak-anak mereka, tetapi penulis ingin bercerita soal pengalaman penulis melihat dinamika anak-anak jaman sekarang dalam berinteraksi dengan dunia maya/internet.
Setidaknya ada tiga hal yang selalu membuat penulis gelisah:

Yang pertama, Ketika liburan tahun lalu penulis melihat anak-anak sekitar pukul 09.00 - 12.00 mereka banyak menghabiskan waktu ke warnet. Setelah itu sore harinya pukul 16.00 – 17.30 kembali ke warnet lagi. Terkadang kalau yang agak kecanduan pukul 20.00-21.30 mereka pergi lagi ke warnet. Penulis berfikir, Kalau mereka pergi ke warnet dengan rata-rata bermain selama 2 jam, dengan harga Rp 2.500;/jam saja berarti untuk waktu 2 jam mereka harus merogoh kocek Rp 5.000;. Maka dengan intensitas 2 x selama sehari maka rata-rata Rp 10.000/hari anak-anak menghabiskan uang. Nah pertanyaan, jikalau orang tua dalam sehari tidak memberikan uang saku di luar hari aktif sekolah, atau katakanlah dia memberi uang saku tidak lebih dari Rp 5.000; maka orang tua harus mencari tau dari mana mereka mendapatkan uang tambahan? Bisa jadi mereka bongkar celengan, atau belajar menjual barang, atau mungkin membongkar dompet anda?

Kedua, Warnet sebagai fasilitas publik, tentunya banyak lapisan masyarakat yang menggunakannya.Setahu penulis tak ada batasan umur untuk dapat merental warnet. Penulis juga tidak pernah melihat ada warnet yang menerapkan aturan hanya yang berumur 17 ke atas saja yang dapat menggunakan internet. Artinya semua segmen dan semua umur masyarakat dapat menggunakan internet di warnet.Penulis suka melihat bagaimana antusias anak-anak bermain game online, ironinya mereka banyak mencontoh pengunjung yang lebih dewasa menyalah gunakan game online untuk berjudi misalkan. Ini tentunya pelajaran secara direcly kepada anak atau adik anda untuk mengikutinya. Belum lagi jika mereka ketika kalah bermain, sambil teriak mengumpat bahkan memaki, karena mengalami kekalahan disaat kalah dalam ber-game maka, kata-kata makian itu pun akan terekam oleh anak atau adik anda.Hal seperti ini barang kali tidak jadi masalah jika anda terbiasa mendidik dengan bentakan (nada tinggi) dan makian, tetapi bagi yang tidak biasa tentunya ini menjadi masalah tersendiri.

Ketiga, Ada sebagian warnet yang melarang pengunjungnya merokok karena ruangan ber AC, tapi bagaimana jika ruangan tidak ber-AC. Penulis memiliki pengalaman sendiri, walau pun ruangan ber-AC tetap saja merokok jalan terus. Ironinya ada yang memberikan tulisan larangan, tetapi operatornya juga merokok. Walhasil setelah satu jam menggunakan internet, badan mulai meriang, dan baju bau asap rokok. Akhirnya karena banyak sekali gangguan di warnet penulis memutuskan untuk pasang internet di rumah. Sekarang penulis bisa bernafas lega, disamping kapan saja kita dapat akses internet yang terpenting penulis tak perlu pening dengan asap rokok. Namun, masih ada yang tersisa, bagaimana nasib anak-anak yang bermain di warnet? Mereka dalam sehari setidaknya 2 jam menjadi perokok pasif dan ini memberikan resiko tiga kali di banding si perokok.

Setidaknya inilah yang coba di ungkap oleh Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya. 


Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. “Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan.”  Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab asap yang dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna.  Lebih lanjut dapat mengunjungi link berikut:http://kosmo.vivanews.com/news/read/69076-bahaya_perokok_pasif_3_kali_perokok_aktif
Tidak bijak tentunya mengabaikan pendidikan anak-anak sebagai amanah Tuhan. Bantu mereka dalam melewati kehidupan dan ujian hidup. Barangkali dulu masih sedikit sarana hiburan, dibanding sekarang kemajuan jaman menyediakan seluas-luasnya hiburan. Di satu sisi menjadi nilai tambah peradaban, di sisi lain menjadi ujian sendiri bagi generasi terkini.  Melarang mereka bermain itu suatu hal yang tidak mungkin.  Dampingilah dan tak kenal henti memberikan pengertian kepada mereka cara menggunakan Tekhnologi yang benar dan bijak.

Sumber:http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/05/anak-anak-dan-warnet/

Sunday, December 4, 2011

YESUS DI INDIA BAB 2 (8)


Sekarang saya paparkan BAB 2 Yesus Di India tulisan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

BAB 2
Pembuktian melalui Al-Quran dan Hadits tentang bukti keselamatan Yesus Argumentasi yang akan aku sampaikan berikut ini mungkin sepertinya tidak berguna karena ditujukan kepada umat Kristiani sedangkan mereka tidak menganut apa yang dikatakan Al-Quran dan Hadits mengenai permasalahan ini. Namun aku akan menyampaikannya juga karena aku ingin umat Kristiani mengetahui mukjizat dari Al-Quran kita dan Rasulullah s.a.w. dan menjelaskan kepada mereka kebenaran yang telah diungkapkan beratus tahun yang lalu. Salah satunya adalah ayat dimana Allah s.w.t. berkata:
. . . mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya.’(S.4 An-Nisa: 158)

Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa menyatakan bahwa walaupun benar Yesus a.s. disalibkan dan umat Yahudi itu begitu bernafsu untuk membunuh beliau, tetapi adalah salah jika umat Yahudi atau pun Kristiani menganggap beliau benar-benar telah wafat di kayu salib. Tidak demikian, karena Tuhan telah menciptakan kondisi-kondisi yang menyelamatkan Yesus dari kematian di kayu salib.  Kalau kita renungkan, kita harus mengakui kebenaran yang dikemukakan Al-Quran yang bertentangan dengan keyakinan umat Yahudi dan Kristiani umumnya. Penelitian-penelitian modern sudah membuktikan kalau Yesus selamat dari kematian di salib. Penelitian atas naskah-naskah mereka menunjukkan umat Yahudi tidak pernah bisa menjawab pertanyaan: ‘Bagaimana mungkin Yesus wafat dalam waktu dua atau tiga jam sedangkan tulang-tulangnya tidak diremukkan?

Kenyataan itu menyebabkan umat Yahudi mencari dalih lain yaitu mereka telah membunuh beliau dengan pedang, padahal sejarah masa lalu bangsa itu tidak ada mencatat kejadian tersebut. Kekuasaan dan kejalalan Yang Maha Abadi telah menciptakan kegelapan di bumi untuk menyelamatkan Yesus a.s. Pada waktu itu terjadi pula gempa bumi. Isteri Pilatus mendapat mimpi sehingga gubernur Pilatus cenderung ingin melepaskan Yesus. Saat itu Sabat sudah hamper sampai. Semuanya ini oleh Allah s.w.t dimunculkan pada saat bersamaan guna menyelamatkan Yesus. Beliau sendiri dipingsankan agar dikira sudah mati. Tanda-tanda menakutkan seperta gempa bumi dan kegelapan itu telah menimbulkan sifat pengecut dan ketakutan di hati umat Yahudi disamping ketakutan akan hukuman samawi.  Mereka juga takut meninggalkan orang tergantung di salib pada malam Sabat. Karena gelap dan gempa itu timbul kegemparan di antara mereka. Mereka merisaukan keadaan di rumahnya masingmasing, bagaimana anak-anak mereka dalam keadaan gelap dan adanya gempa bumi tersebut. Mereka melihat Yesus yang pingsan sebagai orang yang sudah mati. Hati mereka terguncang hebat karena jika orang itu pembohong dan kafir, mengapa muncul tanda-tanda luar biasa demikian pada saat penderitaannya? Demikian risaunya mereka sehingga mereka tidak bisa berfikir jernih guna memastikan apakah Yesus benar sudah wafat. Semuanya ini adalah rekayasa samawi untuk menyelamatkan Yesus. Hal inilah yang tersirat dari ayat ‘mereka (orang Yahudi) tidak membunuhnya (Yesus) dan tidak pula mematikannya di atas salib,’ dimana Allah s.w.t. menanamkan keyakinan di hati mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh beliau. Keadaan ini menguatkan keimanan mereka yang saleh kepada Allah s.w.t. karena Dia bisa menyelamatkan hamba-Nya dengan cara apa saja.  Al-Quran juga menyampaikan ayat yang menyatakan:
. . . namanya Al-Masih Isa ibnu Maryam yang dimuliakan di dunia dan di akhirat dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah’(S.3 Ali Imran:46)

Berarti Yesus tidak saja dihormati dan dimuliakan dalam pandangan manusia awam tetapi juga di akhirat. Yang jelas beliau tidak ada dimuliakan di negeri raja Herodes dan Pilatus, bahkan beliau dianggap manusia rendah. Kalau ada yang menyatakan bahwa beliau akan dimuliakan saat kedatangan beliau yang kedua kali ke bumi adalah suatu pandangan tidak berdasar. Hal itu bertentangan dengan kitabkitab suci dan hukum samawi yang abadi. Lagi pula tidak ada bukti yang menguatkan.

Yang benar adalah, karena Yesus selamat dari cengkeraman orangorang terlaknat itu, beliau sampai ke daerah Punjab yang mendapat kehormatan dengan kunjungan beliau itu, Tuhan telah memberikan kemuliaan agung kepadanya karena disinilah beliau bertemu dengan sepuluh suku bangsa Israel yang hilang. Rupanya pada waktu itu orang-orang Israel ini telah beralih menganut agama Buddha dan bahkan jadi penyembah berhala. Namun dengan kedatangan Yesus, sebagian besar dari mereka telah kembali ke jalan yang benar, dan karena adanya ajaran Yesus yang mengkhabarkan kedatangan seorang Nabi, maka kesepuluh suku bangsa Israel yang dikenal sebagai bangsa Afghan dan Kashmiri, pada akhirnya memeluk agama Islam. Jadi Yesus a.s. memperoleh kemuliaan agung di negeri-negeri ini.  Belum lama ini ditemukan sebuah mata uang logam di daerah Punjab tersebut yang bertuliskan nama Yesus dalam aksara Pali. Mata uang itu berasal dari zaman Yesus a.s. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memang sampai di negeri ini dan mendapatkan penghormatan dari rajanya karena mata uang logam itu pasti dikeluarkan oleh seorang raja yang menjadi pengikut Yesus. Ada mata uang logam lainnya bergambar orang Israel yang rupanya gambar Yesus. Dalam Al-Quran pun ada ayat yang menyatakan bahwa Yesus diberkati Allah s.w.t. kemana pun beliau pergi. (S.19 M aryam:32) Jadi adanya mata-mata uang logam tersebut menunjukkan kalau beliau memang diberkati Tuhan dan sebelum wafatnya memperoleh penghormatan dari seorang raja. Begitu pula Al-Quran menyatakan dalam ayatnya bahwa: ‘Hai Isa, . . . Aku akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir’ (S.3 Ali Imran:56), yang berarti Allah s.w.t. akan membersihkan sangkaan palsu dengan membuktikan kebersihan beliau dan menggagalkan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristiani.

Ayat ini merupakan nubuatan akbar. Orang Yahudi karena mengira Yesus mati di kayu salib, lalu menganggap beliau sebagai orang yang terkutuk dan tidak patut memperoleh kasih Tuhan, bahwa nurani Yesus karena laknat telah berbalik dan membenci Tuhan-nya.  Kalbu beliau diselimuti tabir tebal kegelapan dan mencintai dosa serta menjauhi kebaikan. Hati itu telah melepaskan diri dari Tuhan-nya dan menjadi pengikut Iblis. Tuduhan yang sama (bahwa beliau terkutuk) juga dilakukan oleh umat Kristiani. Hanya saja umat Kristiani lalu mengkombinasikan kedua posisi yang bertentangan tersebut. Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Tuhan tetapi juga menyatakan beliau itu terkutuk. (Galatia 3:13).  Padahal mereka menyatakan bahwa seseorang yang terkutuk adalah Putra Kegelapan atau bahkan Iblis itu sendiri.  Tuduhan kotor seperti itulah yang dilontarkan kepada Yesus a.s.  Namun nubuatan dalam Al-Quran tersebut menunjukkan akan dating saatnya ketika Tuhan akan membersihkan nama baik Yesus, yaitu sekarang inilah.

Ketidakbersalahan Yesus menjadi jelas bagi orang-orang yang berfikir berkat pembuktian Rasulullah s.a.w. karena beliau dan Al-Quran memberikan kesaksian kalau semua tuduhan terhadap Yesus tersebut tidak mempunyai dasar. Hanya saja pembuktian tersebut amat halus dan lebih banyak bersifat argumentasi sehingga kurang meyakinkan bagi umat awam. Sebagaimana peristiwa penyaliban itu adalah hal yang nyata dan diketahui umum, maka rasa keadilan samawi juga menuntut agar pembuktian kebersihan beliau juga diperlihatkan secara nyata. Kebersihan Yesus a.s. tidak saja didasarkan pada argumentasi tetapi juga diperlihatkan secara nyata. Mata beratus ribu orang sudah menyaksikan sendiri makam Yesus a.s. yang ada di kota Srinagar, Kashmir. Sebagaimana beliau disalibkan di Golgota (artinya tempat sri), begitu juga makam beliau ada tempat sri yaitu Srinagar.  Tempat Yesus disalibkan disebut Gilgit (Golgota) atau sri sedangkan tempat makam beliau ditemukan di akhir abad sembilanbelas juga bernama Gilgit atau sri. Kemungkinan kota Srinagar berdiri sejak masa Yesus a.s. dan untuk memperingati kejadian penyaliban maka tempat tersebut diberi nama Gilgit. Nama kota Lhasa sendiri berasal dari bahasa Iberani yang artinya ‘kota dari dia yang patut dihormati’ dan kota ini mungkin muncul di masa Yesus berada di sana.  Hadis  sahih menunjukkan bahwa menurut Rasulullah s.a.w., usia nabi Isa a.s. adalah 125 tahun. Semua sekte dalam agama Islam meyakini kalau Yesus a.s. memiliki dua karakteristik unik tentang diri beliau yang tidak terdapat pada nabi lain, yaitu (1) beliau hidup sampai usia lanjut yaitu 125 tahun, (2) beliau mengembara ke berbagai bagian di dunia dan karena itu disebut sebagai ‘nabi pengembara.’ Karena itu jika dikatakan beliau naik ke langit pada usia 33 tahun maka pernyataan usia beliau 125 tahun itu menjadi tidak benar. Begitu juga beliau belum akan sempat berjalan jauh bila umur beliau hanya 33 tahun. Fakta tersebut tidak hanya terdapat dalam Hadits sahih saja tetapi merupakan hal yang diketahui umum di antara semua sekte agama Islam.

Kitab Kamnz-ul-Ummal (jilid dua) yang merupakan kumpulan Hadits yang komprehensif di halaman 34 merawikan Hadits dari Abu Huraira yang berbunyi: ‘Allah s.w.t. mewahyukan kepada Yesus “Wahai Isa, berpindahlah dari satu tempat ke tempat lain agar engkau tidak dikenali dan dianiaya.”’ Dalam buku yang sama berdasarkan penuturan Jabar dikemukakan bahwa Yesus selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.  Beliau bepergian dari satu negeri ke negeri lain dan pada malam hari bermalam dimana beliau berada, ia akan memakan daun-daunan dan buah hutan serta minum dari air yang jernih. (Jilid 2, halaman 71).  Masih dalam buku yang sama terdapat penuturan Abdullah bin Umar yang menyampaikan ‘Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mereka yang paling disukai di hadapan Allah adalah para ‘Gharib.’ Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan Gharib, beliau menjawab: orang yang seperti Isa Al-Masih yang meninggalkan negerinya karena keimanannya.’ (Jilid 6, halaman 51).

YESUS DI INDIA (7)


Dalam pembahasan Yesus di India (7) ini BAB I selesai.  Lebih lanjut dalam seri ke-7 ini penulis memaparkan sebagai berikut:

Penyelamatan Yesus as di Dukung Oleh Mimpi 
Aku juga memiliki perasaan kasih dan penghormatan kepada Yesus a.s. sebagaimana dilakukan umat Kristiani. Aku memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat dengan beliau karena umat Kristiani tidak mengenal manusia yang mereka sembah. Aku menghormati beliau karena aku pernah berjumpa dengannya. Karena itu akan kujelaskan inti daripada penuturan Injil tentang kebangkitan orang-orang kudus pada saat Penyaliban Yesus a.s.

Perlu disadari bahwa penuturan seperti itu sebenarnya termasuk kategori Kashaf atau penampakan kepada beberapa orang kudus saat terjadi Penyaliban. Sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab Suci, mimpi-mimpi bisa ditafsirkan seperti misalnya mimpi nabi Yusuf a.s. Maka penafsiran dari penampakan orang-orang kudus dibangkitkan tersebut mengandung arti bahwa Yesus akan selamat dari kematian di atas kayu salib karena Allah s.w.t. telah menolong beliau. Jika anda bertanya dari mana aku mendapat penafsiran tersebut, jawabnya adalah karena penafsiran itu aku peroleh dari para pakar tafsir mimpi.  Disini aku kemukakan tafsir dari seorang pakar penafsiran yaitu pengarang buku Tatirul-Anam fi T’abirul-Manam oleh Qutbuz-Zaman Shekh Abdul Ghani Al-Nablisi, halaman 289, yang mengatakan jika ada yang melihat dalam mimpi atau penampakan berbentuk Kashaf kejadian bangkitnya orang-orang yang sudah mati dan pulang ke rumahnya masing-masing, penafsirannya ialah ada seorang tahanan yang akan dibebaskan dan diselamatkan dari tangan para penuntutnya. Konteks pengertiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah seorang berkedudukan atau bermartabat tinggi. Penafsiran demikian itulah yang kiranya dapat diterapkan pada kasus Yesus a.s. sehingga mereka yang arif akan menyadari bahwa beliau telah diselamatkan dari kematian di atas kayu salib.

Banyak lagi rujukan dari Injil yang menyatakan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, bahwa beliau telah diselamatkan dan kemudian pergi ke negeri lain. Kiranya apa yang telah dikemukakan di atas itu mencukupi bagi mereka yang tidak berprasangka. Bisa jadi ada yang menentang karena Injil berulangkali menyatakan bahwa Yesus wafat di kayu salib, lalu dibangkitkan dan kemudian naik kesorga.  Penentangan seperti ini sudah aku jawab secara singkat, namun perlu diingatkan lagi kalau Yesus a.s. bertemu dengan para murid setelah penyaliban, melakukan perjalanan ke Galilea, makan roti dan lauknya, menunjukkan parut luka-luka di tubuhnya, bermalam dengan beberapa murid dalam perjalanan ke Emaus, melarikan diri dari daerah kekuasaan Pilatus, hijrah dari negerinya sebagaimana juga kebiasaan para nabi dan berjalan di bawah baying ketakutan. Semua kejadian itu menyimpulkan kalau beliau tidak wafat di kayu salib, bahwa tubuh beliau tetap berujud phisik dan materinya tidak mengalami perubahan apa pun.

Kebiasaan Melebih-lebihkan
Tidak ada satu bukti pun dalam Injil yang menunjukkan bahwa ada orang yang melihat Yesus naik ke langit. Kalau pun ada, sulit dipercaya kebenarannya karena para penulis Injil tersebut terbiasa membesar-besarkan hal kecil, mereka menjadikan sarang semut menjadi gunung. Sebagai contoh, kalau yang satu mengatakan Yesus itu Putra Tuhan, penulis yang satunya lagi menjadikan beliau sebagai Tuhan betulan, yang ketiga memberi beliau kekuasaan atas seluruh alam sedangkan yang keempat secara langsung menyatakan bahwa beliau adalah segalanya dan tidak ada Tuhan lain selain beliau.  Singkat kata, kebiasaan melebih-lebihkan itu telah berakibat jauh sekali. Contohnya seperti penampakan orang-orang kudus yang bangkit dari kuburnya dan masuk ke kota, lalu diartikan secara harfiah bahwa mereka memang benar bangkit dan kembali ke keluarganya.

Disini selembar ‘bulu’ telah dibesar-besarkan menjadi seekor ‘gagak’ dan tidak hanya satu, tetapi jadi berjuta gagak. Kalau keadaan dibesar-besarkan seperti itu, kita akan kesulitan mencari tahu inti kebenarannya. Perlu juga diingat bahwa buku-buku Injil itu yang disebut sebagai Kitab Suci dari Tuhan, mengandung pernyataan berlebihan seperti ayat yang menyatakan ‘jika semua yang diperbuat Yesus dituliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu’ (Yohanes 21:25). Apakah melebih-lebihkan demikian itu bisa disebut sebagai kejujuran dan kebenaran? Kalau benar apa yang dikerjakan Yesus a.s. itu demikian tidak terbatasnya dan semuanya tidak bisa diringkas, bagaimana mungkin semuanya terjadi dalam periode tiga tahun. (Masa pengajaran dan penyiaran Yesus di Palestina sejak berusia 30 tahun sampai disalibkan pada usia 33 th).   Kesulitan lain dari Injil-injil itu adalah kadang memberikan rujukan yang salah terhadap kitab-kitab yang lebih tua, bahkan mengenai garis keturunan Yesus pun mereka tidak bisa akurat.

Yesus as Bukan Seorang Pengecut
Dari paparan Injil itu sepertinya para penulisnya adalah orang-orang bodoh dalam pemahaman sehingga di antara mereka ada yang mempersamakan Yesus dengan hantu atau ruh. Kitab-kitab Injil dari masa awal terbuka terhadap tuduhan bahwa kemurnian isinya tidak bisa dijaga dan bahwa sebenarnya masih ada kitab-kitab lain yang juga bisa disebut Injil, tetapi tidak ada alasan diberikan mengapa kitab-kitab lain itu ditolak. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa kitab-kitab lain itu juga mengandung eksagerasi yang terdapat dalam keempat Injil yang kita kenal. Sebenarnya mengherankan kalau dikatakan bahwa di satu sisi mereka mengatakan Yesus adalah orang saleh dan sifat-sifat beliau tanpa cela, tetapi di sisi lain mereka melekatkan atribut-atribut yang tidak pantas bagi seorang saleh.  Sebagai contoh, para nabi Israel sejalan dengan ajaran Taurat, nyatanya memiliki isteri beratus-ratus orang dengan tujuan akan menggandakan satu generasi orang-orang yang saleh, namun anda tidak akan mendengar atau menemukan bahwa ada di antara nabi itu demikian bebasnya sehingga mengizinkan seorang perempuan yang tidak suci dan cabul, seorang yang dikenal masyarakat sebagai pendosa, menyentuh tubuh mereka, apalagi mengurapkan minyak ke rambut dan menyapukan rambutnya sendiri ke kaki nabi tersebut tanpa ia menegahkannya. Melihat keadaan seperti itu kita hanya akan bisa terhindar dari kecurigaan hanya karena kita meyakini kesalehan Yesus a.s.

Pendek kata, Injil-injil tersebut mengandung banyak sekali hal yang tidak terpelihara dalam bentuk aslinya atau para penulisnya adalah orang lain dan bukan murid-murid Yesus langsung. Sebagai contoh statemen dalam Injil Matius ‘. . .dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini’ bisakah (Matius 28:15), kalimat itu dikatakan oleh Matius sendiri? Tidakkah kalimat itu menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah seseorang yang hidup ketika Matius sendiri sudah meninggal? Injil yang sama itu juga menyatakan:
Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata “Kamu harus mengatakan bahwa murid-muridnya datang malam-malam dan mencurinya ketika kamu sedang tidur”’ (Matius 28:12 – 13).

Kelihatan bagaimana tidak meyakinkan dan tidak masuk akalnya pernyataan demikian. Kalau pengertian dari penuturan tersebut adalah karena umat Yahudi ingin menutupi kebangkitan Yesus dari kematian dimana mereka telah menyuap para prajurit itu agar peristiwa itu tidak diketahui umum, lalu mengapa Yesus sendiri yang merupakan kewajiban baginya mengumumkan mukjizat tersebut di antara umat Yahudi, lalu merahasiakannya, bahkan melarang para murid membukakannya? Kalau ada yang mengatakan bahwa sebabnya karena beliau takut tertangkap lagi, aku akan mengatakan bahwa jika takdir Tuhan sudah turun ke atas diri beliau dimana setelah kematian lalu bangkit kembali dengan tubuh spiritual yang gemilang, kenapa masih harus takut kepada orang Yahudi? Jelas tentunya kalau umat Yahudi tidak akan bisa mengapa-apakan lagi beliau karena beliau sudah di luar dimensi eksistensi kehidupan fisik.

Adalah menyedihkan kalau kita menelusuri pernyataan yang di satu sisi mengatakan beliau telah dibangkitkan lagi dengan tubuh spiritual, kemudian bertemu dengan para murid dan pergi ke Galilea dan selanjutnya ke langit, tetapi di sisi lain dikatakan kalau beliau itu takut ketahuan orang Yahudi dan walaupun berbadan spiritual tetapi merasa perlu melarikan diri ke Galilea sejauh tujuhpuluh mil karena takut tertangkap lagi, dan bahwa beliau berulangkali mengingatkan para murid untuk tidak menceritakan keadaan beliau kepada siapa pun. Apakah ini menjadi ciri dari pemilik suatu tubuh spiritual? Yang benar adalah tubuh beliau bukan tubuh baru yang gemilang, beliau tetap dengan tubuh lamanya dengan parut luka-luka, yang telah diselamatkan dari kematian, yang masih takut diketemukan lagi oleh orang Yahudi dan setelah melakukan segala persiapan lalu meninggalkan negerinya. Di luar penafsiran ini dapat dikatakan absurd sebagaimana halnya dengan penuturan tentang orang-orang Yahudi yang menyuap para prajurit agar mengatakan bahwa para murid telah mencuri tubuh beliau ketika mereka sedang tidur. Kalau benar mereka tertidur, lalu bagaimana menyimpulkan bahwa ada yang telah mencuri tubuh beliau? Apakah dari pernyataan bahwa Yesus tidak berada di dalam makam lalu bisa disimpulkan kalau beliau telah naik ke langit? Apakah tidak ada kemungkinan lain mengapa makam itu kosong? Kalau benar Yesus naik ke langit, mengapa beliau tidak memanfaatkan hal itu dan menunjukkannya kepada beberapa ratus orang Yahudi dan Pilatus sendiri? Beliau tidak perlu takut lagi karena sudah bertubuh sepiritual. Namun kenyataannya beliau tidak ada berusaha menunjukkan kepada para musuh beliau tentang hal ini. Sebaliknya, beliau karena ketakutan lalu melarikan diri ke Galilea. 

Karena itulah aku yakin bahwa walaupun benar beliau telah meninggalkan makam, sudah juga bertemu dengan para murid secara rahasia, namun tidak benar jika beliau telah menyandang tubuh yang baru. Tubuh beliau tetap yang lama dengan parut luka-luka dengan ketakutan yang sama akan ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi terlaknat itu. Bacalah dengan teliti Injil Matius pasal 28 ayat 7 sampai 10. Ayat-ayat tersebut jelas mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan tersebut telah diberitahukan seseorang bahwa Yesus itu hidup dan akan berjalan ke Galilea dan mereka dipesan untuk memberitahukan kepada para murid. Mereka bersukacita tetapi juga dengan hati takut karena khawatir Yesus ditangkap lagi oleh orang-orang Yahudi yang jahat. Ayat kesembilan menuturkan ketika mereka ini sedang dalam perjalanan guna memberitahukan para murid, Yesus berjumpa dan memberi salam kepada mereka. Ayat kesepuluh menjelaskan Yesus meminta mereka jangan takut (bahwa beliau akan ditangkap lagi) dan meminta mereka memberitahukan kepada para saudara agar mereka itu pergi ke Galilea, (Disini Yesus tidak menghibur perempuan-perempuan itu dengan kata-kata bahwa ia telah bangkit dengan tubuh baru yang gemilang sehingga tidak ada yang akan bisa menangkap beliau lagi. Yang jelas, beliau tidak ada memberikan bukti tentang tubuh spiritual yang gemilang, bahkan nyatanya beliau menunjukkan tubuh dari daging dan tulang sama dengan tubuh phisik biasa),  karena beliau tidak bisa berdiam di tempat karena takut kepada para musuh. Singkat kata, jika Yesus benar bangkit setelah kematian dengan tubuh spiritual, hal itu akan merupakan kesempatan baginya untuk membuktikan kepada umat Yahudi bahwa memang ada jenis kehidupan setelah mati demikian. Nyatanya beliau tidak ada melakukan hal tersebut.  Karena itu adalah absurd untuk menuduh umat Yahudi berusaha menutupi bukti kebangkitan Yesus. Adapun Yesus sendiri tidak ada memberikan bukti kebangkitan dirinya dari kematian.  Jika kita perhatikan usaha beliau melarikan diri, bahwa beliau makan, tidur dan menunjukkan luka-lukanya, beliau sendiri telah membuktikan bahwa ia tidak wafat di kayu salib.

Saturday, December 3, 2011

Mengenang Syuhada Karbala lewat Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba

Syura baru saja melewati kita, saya memiliki pembahasan menarik soal Syura atau Muharam.  Ada sebuah tulisan dari pemimpin Internasional Jamaah Ahmadiyah.  Silahkan di baca saja ya..:).  Semoga anda mendapatkan perspektif baru dari peringatan 1 Muharam.




بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Khotbah Jum’at
Sayyidina Amirul Mu’minin 
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad 
Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]
tanggal 10 Fatah 1389 HS/Desember 2010
di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
 
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hadhrat Mushlih Mau’ud (Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II) radhiyallahu ta’ala ‘anhu telah menulis sebuah syair didalam Bahasa Urdu, ‘woh tum ko husain banate hei’ aur aap yaziidi bante heei’ yeh kiya hii sasta soda he dusyman ko ter calaate do’ –Mereka [dengan] menjadikan diri kalian seperti Husain, mereka menjadikan diri mereka sendiri seperti Yazid, alangkah baiknya jual-beli ini, biarkan musuh melepaskan anak panahnya.”

Ini adalah satu kutipan dari syair nazm yang panjang karya Hadhrat Mushlih Mau’ud ra untuk menganjurkan Jemaat agar bersabar, memiliki harapan tinggi (positif) dan berhati tegar. Nazm ini beliau sampaikan pada tahun 1935 tatkala Jemaat sedang menghadapi perlawanan musuh yang sedang terjadi dengan keras sekali pada waktu itu. Sesungguhnya, hari ini saya tidak akan menjelaskan mazhmun (bahasan) mengenai nazm ini, melainkan hanya akan berbicara sekitar maksud dari pada dua buah [petikan] syair ini saja. dalam sejarah Islam syair ini mengisyaratkan pada sebuah peristiwa yang sangat zhulm (aniaya), mengerikan dan sangat menusuk perasaan hati pada pandangan setiap orang Muslim. Akan tetapi pengambilan kesan-kesan yang dapat melukiskan hakekatnya dengan tepat dari peristiwa yang sangat tragis dan mengerikan itu hanyalah orang-orang yang sedang berada dalam kancah penganiayaan dengan kejam. Atas peristiwa itu setiap orang Muslim tiada syak lagi tentu menampakkan perasaan simpati, perasaan duka, perasaan sedih dan prihatin dan orang-orang Syiah setiap tahun di bulan Muharram berusaha menzahirkan peristiwa itu dengan cara mereka sendiri yang khas. Sedangkan menurut pandangan kita perayaan mereka itu sedemikian rupa sehingga sudah merupakan perbuatan yang ghulluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas[2]. Namun hal itu sudah merupakan perayaan dengan cara mereka sendiri. Namun sebagaimana telah saya katakan bahwa hakikat kezaliman dalam peristiwa itu hanya dapat dipahami dengan sesungguhnya oleh orang-orang yang sedang berada didalam kancah penganiayaan dengan kejam. Dan pada zaman ini golongan manakah selain dari Jemaat Ahmadiyah yang dapat melukiskan dengan sesungguhnya kepiluan peristiwa Karbala yang sangat mengerikan itu. Oleh sebab itu dengan tepat sekali Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah melukiskannya dalam bentuk syair, ‘Mereka membuat kamu seperti Husain, mereka sendiri menjadi seperti Yazid’ Siapakah yang dimaksud dengan kedua kelompok orang-orang ini (Husain dan Yazid ini)? Kedua kelompok orang-orang itu mengucapkan kalimah yang sama, ‘laa illaha illallah muhammadur rasulullah’. Atau kedua kelompok itu menyatakan diri masing-masing telah mengucapkan kalimah itu. Namun satu daripadanya betul-betul mengerti hakekat kalimah itu dan telah menjadi mazhlum (teraniaya) dan yang satu lagi karena tidak menghargai kalimah itu telah menjadi zalim (penganiaya). Peristiwa Karbala, dimana Hadhrat Imam Husain ra dan keluarga beliau serta beberapa orang yang menyertai beliau telah disyahidkan pada dasarnya merupakan kelanjutan dari peristiwa syahidnya Hadhrat Khalifah Usman ra.[3] Sebabnya, apabila takwa sudah berkurang dan kepentingan pribadi sudah mulai menguasai diatas kepentingan umum dan urusan duniawi yang didahulukan diatas kepentingan agama, maka timbullah satu hal yaitu kezaliman dan barbariyat (kekejaman di luar batas kemanusiaan) menguasai nafsu manusia sampai puncaknya. Darah para kekasih Allah ditumpahkan atas nama Allah. Hal itu sungguh suatu kemalangan yang menyedihkan bahwa orang-orang yang mengucapkan kalimah telah menyerang dan menganiaya orang-orang yang mengucapkan kalimah yang sama, sampai-sampai mereka tidak merasa bersalah untuk menumpahkan darah orang-orang ma’shum (suci) dan darah anak-anak. Orang-orang yang telah mengorbankan jiwa, harta-benda dan kehormatan mereka semata-mata demi Tuhan dan Rasul telah ditimpakan kedukaan, kesulitan dan musibah-musibah atas nama Tuhan dan Rasul. Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi bagi orang-orang zalim itu daripada perbuatan brutal diatasnamakan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad saw? Tentang keburukan seperti itu Alquranul Karim telah berfirman, “Dan barangsiapa membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia akan tinggal lama didalamnya, dan Allah murka kepadanya dan menjauhkannya dari sisi-Nya yakni melaknatnya dan akan menyediakan baginya azab yang sangat besar.” (An Nisa, 4 : 94)           Allah Ta’ala telah menunjukkan kemurkaan-Nya dengan menggunakan kata-kata yang sangat keras sekali terhadap orang seperti itu. Bukan hanya akan dimasukkan ke dalam Jahannam melainkan mereka akan tinggal lama di dalamnya dan kemurkaan Tuhan turun terus-menerus menimpa mereka, dan mereka akan terus-menerus menjadi sasaran laknat Tuhan. Jahannam ini, kemurkaan Allah ini, laknat Allah ini, ini semua bukanlah perkara kecil, melainkan azab yang sangat besar. Ini adalah ‘adzaab ‘azhim (azab, siksaan yang besar). Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi daripada seseorang yang mengaku setia kepada Kalimah Syahadah namun dibakar dalam Jahannam terus-menerus dan merasakan kemurkaan, laknat dan azab Tuhan yang sangat berat dan mengerikan sekali? Demikianlah, orang yang demi untuk suatu keuntungannya sendiri dan untuk kedudukan bersifat keduniaan melakukan perbuatan kezaliman sedemikian rupa maka ia menjadi sasaran kemurkaan yang sangat dari Tuhan.  Sebaliknya tentang orang-orang yang tidak berdosa yang telah menjadi sasaran kezaliman dan mangsa barbariyat, “Mereka itu hidup disisi Tuhan mereka dan mereka dianugerahi rezki dari Tuhan mereka.” (Surah Ali Imran, 3 : 170). Inilah perlakuan Allah Ta’ala kepada mereka. Jadi, barangsiapa yang disisi Allah Ta’ala hidup dan mendapat rezeki surga, maka adakah nikmat-nikmat dan ganjaran bagi mereka yang lebih besar dari pada itu. Hadhrat Nabi saw bersabda mengenai Hadhrat Imam Husain dan Hadhrat Imam Hasan ra, “Keduanya adalah pemimpin para pemuda penduduk surga.” (sayyidaa syabaabi ahlil jannah) [4]

Dan untuk keduanya Hadhrat Nabi saw telah memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, dan Engkau juga cintailah mereka berdua.” (‘Allahumma innii uhibbuhumaa fa ahibbahumaa’)  [5]

Orang yang menerima berkat doa-doa Hadhrat Rasulullah saw sampai batas kecintaan beliau seperti itu lalu meraih martabat syahid, maka pasti menjadi pewaris rezeki surga yang luhur sesuai janji Allah Ta’ala, sebaliknya pembunuh beliau pasti akan menjadi pewaris kemurkaan Allah Ta’ala. 

Bulan ini, kita sedang memasuki sepuluh hari pertama bulan Muharram. Di dalamnya [sepuluh hari pertama Muharram} 1400 tahun lalu pada tanggal 10 seorang yang sangat dicintai oleh Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Imam Husain ra telah disyahidkan oleh orang sangat zalim.[6] Apabila mendengar kisah pembunuhannya badan kita gemetar dan bulu roma kita berdiri karena sangat ngeri sekali. Orang-orang zalim itu tidak berpikir, “Bagaimanakah kedudukan orang yang sedang kami hunuskan pedang?” Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa, apabila iman sudah terbang, maka semua perasaan dan pertimbangan-pun hilang sirna, bahkan rasa takut kepada Allah Ta’ala-pun lenyap dari dalam hati.  Dan apabila rasa takut kepada Allah Ta’ala sudah lenyap dari dalam hatinya, maka ia tidak mempertimbangkan kedudukan seseorang pada pandangan Allah Ta’ala atau kedudukannya pada pandangan Rasul-Nya saw. Bagaimanakah kisah disyahidkannya Hadhrat Imam Husain ra dan setelah beliau disyahidkan bagaimana perlakuan orang-orang zalim terhadap jenazah beliau yang beberkat? Setelah mendengar peristiwa ini manusia menjadi yakin bahwa, mereka itu mungkin saja telah membaca dua kalimah syahadat, akan tetapi sesungguhnya mereka itu tidak mempunyai keyakinan terhadap Dzat Tuhan. Hadhrat Rasulullah saw datang ke dunia untuk menegakkan martabat kemanusiaan. Beliau saw telah menetapkan dasar hukum dan peraturan berperang. Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita yang tercantum dalam Alquran yang menekankan untuk bertindak adil dan i’tidaal (moderat) terhadap musuh. Dan termasuk musuh yang demikian bahwa sekalipun mereka hendak menghancurkan agama Islam serta hendak membunuh Hadhrat Nabi saw. [Bersikap adil dan tidak berlebihan termasuk tatkala] berperang dengan mereka yang memiliki praktek kebiasaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab, yaitu mutilasi mayat musuh (memotong-motong dan merusak tubuh musuh yang sudah meninggal) satu kebiasaan tidak terhormat terhadap mayat, yang beliau saw melarangnya. [7] Beliau saw datang untuk menghapus semua adat kebiasaan buruk itu dan mengakhiri riwayatnya yang mana menurunkan wibawa kemanusiaan. Bahkan beliau saw berlaku sangat pemaaf dan pengampun terhadap musuh-musuh dengan cara lemah-lembut. Akan tetapi perlakuan terhadap cucu seorang Rasul kesayangan Allah Ta’ala, untuk mana beliau saw memanjatkan doa kehadirat Allah Ta’ala, “ Ya Allah ! Aku sangat mencintainya, maka Engkaupun cintailah dia!” Lagi, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mencintai cucuku, dia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku dia mencintai Allah, dan disebabkan ia mencintai Allah maka ia akan dimasukkan ke dalam surga, demikian juga barangsiapa yang tidak menyukainya ia akan mendapat kemurkaan Allah Ta’ala.” [8]

Orang yang betul-betul mencintai seseorang, maka orang yang menjadi kesayangan orang yang dicintainya itu tentu akan menjadi kesayangannya juga. Tidak mungkin satu pihak ia menyatakan cinta terhadap seseorang namun di pihak lain ia membenci anak-keturunan orang yang dicintainya itu. Atau ia menyatakan diri mencintai orang-orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya pada waktu orang yang dicintainya itu masih hidup, namun apabila orang yang dicintainya itu sudah menutup mata (meninggal dunia) semua kesan-kesan kecintaan terhadap mereka hilang lenyap maka pernyataan cintanya itu hanya tinggal di mulut saja. Cara hidup yang demikian dapat terjadi di kalangan orang-orang dunia, sedangkan orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala tentu tidak akan terjadi seperti itu.

Riwayat-riwayat menyebutkan, pada suatu ketika Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra di zaman Khilafat beliau tengah berjalan ke suatu tempat. Di perjalanan beliau melihat cucu tercinta Hadhrat Nabi saw sedang bermain-main bersama anak-anak yang lain, maka beliau angkat anak itu dan dipangku dengan kasih sayang sambil bersabda, “Junjunganku, Hadhrat Muhammad Mushthafa saw, sangat menyayangi anak ini, oleh sebab itu akupun sangat menyayangi anak ini.” [9]      

Demikianlah cara menyatakan kesetiaan dan kasih sayang yang sesungguhnya terhadap buah hati orang yang betul-betul dicinta beliau. Akan tetapi bagaimana perlakuan yang telah diperbuat terhadap beliau ra di Karbala? Bagaimana pelanggaran yang telah dilakukan terhadap ajaran yang telah ditegakkan oleh Rasulullah saw? Riwayat-riwayat menyebutkan ketika pasukan beliau dikalahkan oleh musuh [dibunuh habis], beliau (Hadhrat Imam Husain ra) mengarahkan kuda yang ditungganginya ke arah Furat (Sungai Euphrat). Seseorang berteriak, “Mari kita halangi antara mereka dengan sungai!!” Dan orang-orang telah memblokade (menutup dengan barisan prajurit pada) jalan yang akan beliau lalui, dan beliau tidak diberi jalan lewat mencapai sungai itu. Orang itu-pun telah melepaskan anak panah kearah Hadhrat Husain ra sehingga menusuk leher tepat dibawah dagu beliau. Mengenai keadaan pertempuran beliau, perawi menceritakan, “Hadhrat Husain ra dalam keadaan luka-luka, mengikatkan serban terus melakukan perlawanan terhadap musuh sambil berjalan kaki seperti seorang prajurit berkuda melakukan serangan dengan gagah berani mengelakkan panah-panah yang menghujani tubuh beliau. Sebelum beliau syahid saya mendengar beliau berkata, ‘Demi Allah!! Setelah aku, siapapun kalian bunuh dari antara para pencinta Allah Ta’ala, kemurkaan Allah Ta’ala terhadap kalian tidak akan lebih keras seperti kalian membunuh aku. Demi Allah!! Aku harap Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan diatas kalian dan Dia akan memberi kemuliaan kepadaku. Tuhan akan melakukan pembalasan atas kejahatan kalian terhadapku sehingga kalian akan merasa heran. Demi Allah! Jika kalian membunuhku, Allah Ta’ala akan menciptakan suasana perang di tengah-tengah kalian dan darah kalian akan tumpah. Allah Ta’ala tidak akan ridha sebelum Dia melipatgandakan azab-Nya yang sangat pedih diatas kalian.”[10]

Setelah Hadhrat Husain ra disyahidkan bagaimana perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Kufah? Orang-orang Kufah mulai mengadakan penjarahan dan perampokan terhadap kemah-kemah Hadhrat Imam Husain ra, bahkan mereka mulai menyerang dan merampas kain-kain cadar penutup kepala orang-orang perempuan. Seorang bernama Umar Bin Sa’ad[11] berteriak dengan suara keras, “Siapakah orang-orang yang akan menginjak-injak tubuh Imam Husain ra dengan kuda mereka?” Mendengar seruan itu maka datanglah sepuluh orang penunggang kuda lalu dengan kejamnya menginjak-injak tubuh Hadhrat Imam Husain r.a dengan kaki kuda mereka, sehingga dada dan punggung beliau ra menjadi remuk-redam dan terpecah-pecah. Dalam pertempuran itu tubuh Hadhrat Imam Husain ra terkena tusukan anak panah sebanyak 45 buah. Riwayat lain menyebutkan tubuh beliau terkena 33 buah tusukan tombak dan sebanyak 47 buah luka terkena bacokan pedang, disamping luka-luka terkena tusukan anak panah. Kekejaman yang paling biadab lagi ialah kepala Hadhrat Imam Husain ra dipenggal dipisahkan dari tubuhnya lalu dikirim kepada Ubaidullah Bin Ziyad, Gubernur Kufah. Keesokan harinya kepala Hadhrat Imam Husain ra itu dipancangkan oleh Gubernur itu diatas tanah kota Kufah. Setelah itu kepala Hadhrat Imam Husain ra dikirim kepada Yazid melalui Zahr Bin Qais.[12]

Demikianlah kekejaman yang dilakukan terhadap jenazah Hadhrat Imam Husain ra setelah disyahidkan. Perlakuan zalim apa lagi yang dapat dilakukan lebih kejam dari itu? Jenazah beliau tergeletak tanpa kepala. Penghinaan sangat kejam terhadap jenazah seperti itu barangkali hanya musuh yang paling jahat akan melakukannya, bukan orang yang telah mengucapkan dua Kalimah Syahadah dan mengaku telah beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw, yang telah memberi nasehat dengan tegas untuk menegakkan kehormatan manusia dan  dengan tegas melarang perbuatan kejam seperti itu. Sesungguhnya perbuatan kejam itu telah dilakukan oleh orang-orang gila duniawi dan mereka telah melakukan pelanggaran-pelanggaran diluar batas demi meraih maksud dan tujuan pribadi mereka, sedikitpun tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan agama. Hadhrat Imam Husain ra merasa bahwa mereka telah bergelimang dalam kecintaan terhadap duniawi secara berlebihan, itulah sebabnya beliau menolak untuk baiat ditangan Yazid.[13]

Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat bersabda, “Hadhrat Imam Husain ra tidak suka baiat ditangan orang yang fasik dan pendosa sebab dengan itu iman akan menjadi rusak.” [14]

Kemudian beliau as bersabda, “Baiat kepada Yazid peleed (Yazid an-najas, Yazid najis, Yazid orang kotor) sudah dilakukan oleh banyak orang secara ijma’, akan tetapi Imam Husain ra dan Jemaat beliau tidak menerima ijma’ semacam itu dan tetap memisahkan diri.” [15]

Akan tetapi sekalipun tidak melakukan baiat, Hadhrat Imam Husain ra berusaha untuk berdamai. Namun ketika beliau melihat gejala akan terjadi pertumpahan darah diantara orang-orang Muslim, maka orang-orang yang setia kepada beliau diminta segera pulang. Beliau berkata, “Kalian semua yang bisa pergi, tinggalkanlah saya dan pergilah!” Kini, keadaan-keadaannya adalah demikian. Beberapa orang [bukan keluarga yang] tetap tinggal bersama beliau ialah sekitar 30-40 orang dan mereka bersikukuh [tak mau pergi meninggalkan beliau], atau orang-orang yang termasuk keluarga beliau. Kemudian beliau memberi tahu kepada perwakilan Yazid, “Saya tidak menginginkan terjadi perang. Biarkanlah saya pulang untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Atau izinkanlah saya pergi ke sebuah perbatasan supaya mendapat kesempatan untuk syahid demi mempertahankan Islam. Atau bawalah saya dan pertemukanlah dengan Yazid supaya dapat saya jelaskan langsung kepadanya apa perkara yang sesungguhnya.” Tetapi para wakil [Yazid] itu tidak menerima permintaan tersebut. [16]

Akhirnya Imam Husain mulai diserang dan ketika peperangan mulai pecah, beliau tidak menemukan jalan lain kecuali beliau terjun ke medan perang sebagai seorang pahlawan yang gagah berani menghadapi penyerangan musuh. Sesungguhnya, orang-orang ini (pengikut beliau) dengan jumlah yang sedikit seperti telah saya sampaikan, semuanya kira-kira hanya 70-72 orang saja melawan pasukan yang sangat besar.[17] Bagaimana mungkin [pasukan kecil] ini dapat melawan mereka? Sesungguhnya mereka (Hadhrat Imam Husain ra beserta para pengikut beliau) - sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah jelaskan – berkorban jiwa untuk tujuan yang benar dan satu demi satu pun menjadi syahid.

Allah Ta’ala memiliki cara-Nya sendiri untuk membalas kezaliman mereka sebagaimana Hadhrat Imam Husain ra telah bersabda, “Allah Ta’ala akan membalas untukku.” Dan sesuai dengan sabda beliau itu Allah Ta’ala telah membalasnya, Yazid memperoleh kemenangan hanya untuk sementara, tetapi sekarang adakah orang yang memanggil nama Yazid itu dengan sebutan yang baik? Jika Yazid mendapat penilaian nama baik, tentu orang-orang Muslim menggunakan nama itu untuk anak keturunan mereka. Akan tetapi sampai sekarang tidak ada orang Muslim yang memberi nama Yazid kepada anaknya. Jika ingin mengetahui tentang Yazid, Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutnya ‘Yazid Peleed’ – “Yazid Kotor”.

Hadhrat Imam Husain mempunyai suatu maksud. Beliau tidak menginginkan kekuasaan pemerintahan. Beliau bermaksud ingin menegakkan hak (kebenaran) dan telah-pun beliau melaksanakan-nya. Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra telah menjelaskan dengan sangat baik sekali. Beliau bersabda bahwa, “Peraturan yang Hadhrat Imam Husain ra ingin tegakkan ialah bahwa hak pemilihan Khilafat terletak ditangan rakyat suatu Negara atau sebuah Jemaat. Seorang bapak tidak dapat mewariskan kursi Khilafat itu kepada anaknya. Beliau bersabda bahwa, peraturan sekarang ini sungguh suci seperti telah terjadi di masa lalu. Bahkan dengan syahidnya Hadhrat Imam Husain ra sistim yang benar ini semakin nampak jelas. Jadi, yang berhasil adalah Hadhrat Imam Husain ra bukan Yazid.[18]

Kemudian perhatikanlah bagaimana Qudrat (Yang Maha Kuasa) telah menindak balas dengan cara lain lagi, sebuah pembalasan yang mengerikan. Mengenai peristiwa itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menulis dalam buku beliau ‘Khilafat Rasyidah’, “Tertulis dalam tarikh (kitab-kitab sejarah Islam) bahwa setelah kematian Yazid, anaknya Muawiyah, yang namanya sama dengan nama kakeknya, yaitu Muawiyah juga. Setelah Muawiyah bin Yazid (bin Muawiyah) ini mengambil baiat dari masyarakat, ia pulang ke rumahnya dan selama 40 hari ia tidak pernah keluar dari rumahnya. Pada suatu ketika ia keluar, lalu ia berdiri di mimbar dan mulai berkata, ‘Memang betul saya telah mengambil baiat dari kalian semua, namun bukan karena saya menganggap diri saya layak untuk mengambil baiat dari kalian. Akan tetapi dengan tujuan agar tidak timbul perpecahan diantara kalian semua. Dan dari sejak itu sampai sekarang saya tidak berhenti berpikir bahwa jika ada seseorang diantara kalian yang layak menerima baiat dari masyarakat, maka tongkat kepemimpinan ini akan saya serahkan kepadanya, dan saya akan bebas dari tanggung jawab. Namun setelah berulangkali merenungkan saya tidak melihat seorangpun yang layak dari antara kalian. Oleh sebab itu wahai saudara-saudara! Dengarlah baik-baik bahwa saya tidak layak untuk manshab (kedudukan) ini. Dan selain itu saya ingin berkata bahwa bapakku dan kakekku pun tidak layak untuk memegang tampuk pimpinan ini. Derajat bapakku jauh lebih rendah dari Imam Husain dan derajat bapaknya (kakekku) jauh lebih rendah dari derajat ayah Hasan dan Husain (Hadhrat Ali ra). Ali ra sungguh lebih berhak menjadi Khalifah di zamannya. Dan sesudah itu dibandingkan dengan kakekku dan bapakku, Hasan dan Husain lebih berhak menjadi Khalifah. Oleh sebab itu saya sekarang melepaskan diri dari imarat (kepemimpinan) ini’.”[19]

Tengoklah sekarang bagaimana perkataan seorang anak telah menampar muka bapak dan kakeknya sendiri. Sebabnya dia mempunyai rasa takut kepada Tuhan, sebabnya terdapat sekelumit takwa dalam hatinya. Dari seorang yang bergelimang dengan kehidupan duniawi sekarang juga dapat lahir anak keturunan yang jujur dan baik hati, melaksanakan kewajiban dengan adil seperti itu. Akhirnya dia mengatakan, “Sekarang terpulang kepada kehendak kalian, siapapun yang hendak dijadikan pimpinan dan baiat ditangannya, lakukanlah sesuai dengan itu!” Ketika itu ibunya pun di belakang hijab (pardah sedang mendengarkan pidato anaknya itu. Ketika ia mendengar kata-kata yang diucapkan anaknya itu, dengan sangat marah ia berkata, “Hai anak celaka! Engkau telah memotong hidung keluarga! dan engkau telah mencampurkan debu dalam seluruh kewibawaan keluarga!” [engkau telah menjatuhkan kehormatan keluarga!] Ia [Muawiyah] menjawab, “Ibu, apa yang telah saya katakan justru itulah yang benar. Sekarang terserah, apa yang ingin ibu katakan tentang saya katakanlah sekehendak hati ibu!” Setelah itu ia segera pulang ke rumahnya dan tidak pernah keluar lagi sampai beberapa hari kemudian meninggal dunia. Sungguh kesaksian yang dahsyat bahwa terpisah dari orang-orang lain yang rela dengan Khilafat Yazid ternyata anak kandung Yazid sendiri tidak setuju dengan Khilafatnya. Anaknya itu telah mengeluarkan pernyataan demikian bukan karena ia serakah dengan kemewahan duniawi. Dan tidak pula ia berbuat demikian karena takut terhadap timbulnya perlawanan. Melainkan ia mengeluarkan kebijakan itu setelah merenungkan dengan tekun dan serius keadaan dan situasi yang sebenarnya, “Ali ra lebih berhak menjadi Khalifah daripada Muawiyah kakekku itu dan Hasan dan Husain lebih berhak daripada bapakku menjadi Khalifah. Sedangkan aku sama sekali tidak sanggup memikul tanggung jawab ini.” Jadi pengangkatan Muawiyah (bin Abu Sufyan) terhadap Yazid sebagai Khalifah tidak dapat dikatakan hasil pemilihan. Adakah hal lain lagi yang lebih besar dari kenyataan ini sebagai bukti untuk menunjukkan kehinaan seseorang, yakni anak sendiri membuka hakikat kelemahan bapak kandungnya sendiri. Kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran dari pengorbanan Hadhrat Imam Husain ra. Beliau berdiri diatas kebenaran dan menyebarkannya kepada dunia. Beliau telah bernazar untuk mengorbankan nyawa beliau demi menegakkan kebenaran. Kita pun dengan perantaraan doa-doa hendaknya selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, agar Dia senantiasa membimbing kita kearah jalan yang lurus.

Pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hadhrat Masih as telah disamakan (tasybiih) sebagai Hadhrat Imam Husain ra dengan digunakannya lafaz-lafaz isti’aarah. Dari penyerupaan ini berarti Al-Masih yang akan datang yaitu Masih Mau’ud ini juga mendapatkan bagian persamaannya. Atas hal itu pun dari satu segi benar adanya penyerupaan dengan Imam Husain ra. Akan tetapi pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as Insya Allah tidak akan terulang lagi hal-hal seperti itu.” [20]

Inilah taqdir Ilahi bahwa peristiwa-peristiwa yang melemahkan agama Islam itu sekarang tidak akan terjadi lagi. Akan tetapi kita harus banyak-banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala agar kita terlindung dari hal-hal itu yang akan memunculkan kerugian dalam keimanan. Sebagaimana telah saya katakan bahwa di zaman Masih Mau’ud as, Allah Ta’ala tidak akan mengulangi lagi peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau diantaranya keberlangsungan Khilafat. Salah satu jalannya ialah juga dengan pemilihan Khalifah sesuai dengan lembaga pemilihan Khilafat. Hal demikian telah dinubuatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw bahwa setelah Masih dan Mahdi wafat akan berdiri mata rantai [Khilafat] yang terus-menerus ada. Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah menjelaskan bagaimanakah jalannya bahwa peristiwa-peristiwa dimasa lampau tidak akan terulang lagi? Misalnya Adam pertama telah dikeluarkan dari Jannat maka Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala telah memberi namaku Adam juga, supaya jalan masuknya anak keturunan Adam ke dalam Surga dipersiapkan kembali.” Selanjutnya beliau as bersabda, “Al-Masih yang dulu telah disalib oleh orang-orang Yahudi. Namun dengan diberinya aku nama Al-Masih, maka Allah Ta’ala telah menyediakan sarana bagiku untuk mematahkan Salib. Jadi, Allah Ta’ala akan membalas tiga kali kekalahan dimasa lampau dengan kemenangan dan kejayaan.” [21] Jika Husain pertama telah disyahidkan tanpa alasan yang haq oleh Yazid, maka melalui Husain kedua Allah Ta’ala akan mengalahkan lasykar Yazid, insya Allah! Maka, kita tegak dengan keimanan akan hal ini. Jadi, jika bulan Muharram memberi pelajaran kepada kita, maka kita haruslah senantiasa mengirim shalawat dan salam kepada Hadhrat Rasulullah saw dan kepada aal (keluarga) beliau saw. Sesuai dengan nasehat Hadhrat Imam Zaman, kita harus banyak-banyak membaca shalawat dan salam, memanjatkan doa-doa dan mengadakan perubahan suci dalam diri kita masing-masing serta memperbaiki kelakuan kita. Kita harus menunjukkan keteguhan iman, kesabaran dan ketabahan menghadapi orang-orang yang mempunyai sifat seperti Yazid. Kita yakin bahwa sekarang yazidi (orang-orang bertabiat Yazid) tidak akan meraih keberhasilan, melainkan husaini (orang-orang yang bertabiat Husain) lah yang akan mendapat kemenangan. Taufik keteguhan dan ketetapan hati juga dapat diperoleh hanya melalui pertolongan Allah Ta’ala. Dan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala telah memberi petunjuk agar kita banyak bersabar dan memanjatkan doa. Sabar bukan hanya berarti menahan kezaliman saja dan bukan bersikap diam lalu tetap duduk-duduk saja. Melainkan dengan tetap mengamalkan kebaikan dan menyatakan hal-hal yang benar tanpa rasa takut dan tanpa khawatir dengan resiko, ini disebut sabar juga. Jadi, Hadhrat Imam Husain ra telah menegakkan contoh teladan di hadapan kita bagaimana beliau telah menyatakan kebenaran sehingga kita harus berpegang kepadanya setiap waktu. Jika kita tetap dalam keadaan demikian maka kita akan mendapat bagian dari kemenangan yang telah dijanjikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Insya Allah. Demi terkabulnya doa-doa membaca durood sharif (shalawat) adalah sangat penting. Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengingatkan kearah itu. Banyak sekali Hadis-hadis juga menegaskan kearah itu, dan yang paling jelas lagi dalam Alquranul Karim Allah Ta’ala telah menegaskan untuk banyak membaca durood syarif itu. Oleh sebab itu kita semua setiap waktu harus selalu ingat membaca shalawat dan khususnya di bulan ini menaruh perhatian kearah itu. Sebagaimana sebelumnya Hadhrat Khalifatul Masih lV rh juga pernah menganjurkannya secara khusus kearah itu maka saya ingin mengulangi lagi anjuran beliau itu bahwa di bulan ini banyak-banyaklah membaca shalawat. Hal itu akan menjadi sarana yang sangat baik untuk menimbulkan perasaan dan kesan tentang peristiwa Karbala, untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala demi menghapuskan kezaliman-kezaliman. Shalawat yang dikirimkan kepada Hadhrat Rasulullah saw menjadi sarana untuk menjadi ketenangan dan ketenteraman anak keturunan jasmani dan rohani beliau saw.[22] Pemandangan kemajuan-kemajuan juga akan nampak kepada kita. Dan hal itu menjadi salah satu jalan terbaik menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang telah menjadi kecintaan dan kesayangan Hadhrat Rasulullah saw juga. Dan shalawat ini juga akan membawa berkat dalam pelaksanaan maksud dan tujuan dibangkitkannya Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman sekarang ini, insya Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk membaca shalawat, sebanyak-banyaknya membaca shalawat khususnya pada hari-hari ini. Dan shalawat ini akan menjadi keberkatan bagi pribadi kita juga. Pada akhirnya saya akan membacakan kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai Hadhrat Imam Husain ra, mengenai maqam (kedudukan) Hadhrat Imam Husain ra yang setiap orang Ahmadi harus selalu menaruh perhatian penuh kepadanya bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as memberi penjelasan tentang kedudukan Hadhrat Imam Husain ra itu.

Seseorang menyampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ada orang Ahmadi yang dengan salah menyebut-nyebut mengenai kedudukan dan kehormatan Hadhrat Imam Husain. Maka atas hal itu, beliau as bersabda, “Disampaikan kepada saya bahwa sebagian orang yang bodoh yang menganggap diri mereka anggota Jemaatku dengan mulut mereka sendiri menyebut-nyebut na’udzubillah, ‘Hadhrat Imam Husain ra adalah pemberontak disebabkan tidak mau baiat kepada Khalifah-e-Waqt yakni Yazid, sedangkan Yazid ada di pihak yang benar.’ la’natullahi ‘alal kaadzibiin – “Laknat Allah atas para pendusta”. Saya tidak mengharapkan, kata-kata buruk seperti itu keluar dari mulut siapa pun orang-orang lurus dari Jemaatku.” Bersabda, “Bagaimanapun melalui isytihar (selebaran) ini saya memberitahukan kepada para anggota Jemaat bahwa kita ber’itikad bahwa Yazid adalah seorang bertabiat tidak suci, ulat dunia, zalim dan pada dirinya tidak ada tanda-tanda bagi seseorang yang dapat dikatakan mu’min (beriman). Untuk menjadi orang mu’min bukanlah perkara mudah. Mengenai orang seperti itu Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang Arab gurun berkata, ‘Kami telah berimanKatakanlah, kamu belum sungguh-sungguh beriman; akan tetapi hendaknya kamu berkata, ‘Kami telah tunduk patuh; karena iman sejati belum masuk kedalam kalbu kamu (Al Hujarat : 15) Orang mu’min adalah yang amal perbuatan mereka memberi kesaksian bahwa didalam hatinya ada tertulis iman. Dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya. Dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa dan diatas jalan yang susah dan sempit sekalipun demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya. Dan setiap benda seperti patung yang menjadi penghalang antara dia dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak, ataupun perbuatan fasik, atau kemalasan dan kelalaian, dia singkirkan sejauh-jauhnya. Akan tetapi Yazid yang malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap dunia telah membuatnya buta. Akan tetapi Hadhrat Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci didalam hati kepadanya, akan mengakibatkan hilangnya iman. Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Imam ini semuanya bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik). Dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk orang mashum ini, yang padanya kita dapatkan [hidayah, petunjuk]. Maka binasalah hati orang yang menjadi musuhnya. Dan berjayalah hati yang mencintainya serta menampakkannya dengan amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana bayangan seseorang yang tampan atau cantik terlihat dalam sebuah cermin yang bersih dan jernih. Orang ini tersembunyi dibalik mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat orang ini, selain mereka yang daripadanya. Mata orang dunia tidak akan dapat mengenalnya. Sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain ra sebab beliau tidak dikenal. Siapa pun orang suci dan terpilih yang dicintai oleh penduduk dunia pada zamannya niscaya ia mencintai Husain. Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk kedalam tingkat yang sangat dari kemalangan dan ketiadaan iman dan barangsiapa yang menghina Husain ra atau siapa pun wali yang termasuk dari para imam yang muthahhirin (yang tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-siakan imannya, sebab Allah Yang Gagah Perkasa menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya.”[23]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufik kepada kita untuk mencintai Hadhrat Nabi saw dan aal (keluarga) beliau. Semoga Dia memberi taufik kepada kita untuk selalu mengirim salam dan shalawat kepada beliau saw. Dan kita juga harus berdoa semoga Allah Ta’ala melenyapkan semua penganiayaan dan kekejaman yang dilakukan dengan mengatasnamakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di Pakistan dan di beberapa Negara lainnya. Dan khususnya di bulan ini di Pakistan dan juga di beberapa tempat di dunia, kerusakan yang kerap terjadi diantara orang-orang Syiah dan Sunni dan golongan lainnya, saling membunuh satu sama lain, saling merusak, saling menyerang satu dengan yang lain guna menimbulkan teror (ketakutan) dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan, semoga Allah Ta’ala melindungi mereka juga. Dan semoga bulan ini menjadi bulan yang aman bagi semua negeri Muslim dan semua orang Muslim sehingga terbukti menjadi bulan yang penuh kebaikan. Dan semoga mereka menjadi orang yang betul-betul memahami maksud syahidnya Hadhrat Imam Husain ra dan semoga mereka juga menjadi orang-orang yang beriman kepada Imam di zaman sekarang ini.

Hari ini saya (Hudhur) setelah shalat akan memimpin shalat jenazah dua orang saudara Afrika dan seorang saudari Benggali (Bangladesh) yang sebagai pengenalan ialah berikut ini.

Seorang sahabat Afrika kita dari Zimbabwe, tuan Mehdi Tapani. Beliau Sekretaris Tabligh Nasional Jemaat disana dalam waktu lama. Wafat pada tanggal 15 November [2010]. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Beliau baiat pada tahun 1990 dan mendapat taufik ikut serta dalam Ahmadiyah dan setelahnya selalu mempersembahkan berbagai pengkhidmatan terhadap Jemaat. Beliau membantu dalam usaha membeli sebidang tanah untuk mesjid dan membangun kantor Jemaat. Beliau meninggalkan istri, lima anak laki-laki dan dua anak perempuan. Dan dengan karunia Allah semuanya Ahmadi. Anak-anak pun juga Ahmadi. Salah satu putra beliau, Husain Tapani adalah Sadr Khuddamul Ahmadiyyah Zimbabwe dan juga Sekretaris Umum. Menantu perempuan beliau juga Sadr Lajnah Imaillah. Wafat dalam umur 79 tahun. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat beliau.

Jenazah kedua, tuan Dr. Al-Haaj Abu Bakr Gai. Saat masih hidup, beliau adalah Menteri Kesehatan di Gambia. Seperti telah saya sampaikan tadi beliau adalah minister of health and social work (Menteri Kesehatan dan Kerja Sosial) Gambia. Beliau wafat pada tanggal 2 Desember. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Lahir pada tahun 1940 di Gambia, di kota Banjul. Mendapatkan gelar general medicine (kedokteran umum) di Moskow. Pernah membaktikan dirinya di berbagai rumah sakit di berbagai negara. Dari tahun 1999 sampai 2004 beliau bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit Muslim Ahmadiyah di kota Talinding dibawah program Nusrat Jahan Scheme (Rencana Nusrat Jahan). Selama waktu itu beliau bukan Ahmadi. Beliau baru mendapat taufik baiat pada tahun 2004. Seorang Ahmadi yang sangat mukhlis dan banyak berkorban. Segera setelah baiat, beliau mengikuti nizam candah dan membelanjakan harta dalam berbagai macam jenis pengorbanan di jalan Allah Ta’ala dengan disiplin (sesuai peraturan). Beliau sering memberikan pengobatan cuma-cuma kepada banyak kaum wanita dan anak-anak kurang mampu di klinik pribadi beliau. Seorang da’i ilallah yang sangat aktif. Mendapat taufik sebagai zaim ansharullah. Sangat teratur dalam membaca Alquran dan menunaikan tahajjud. Sesuatu hal yang mengenainya beliau biasa mengungkapkannya di hadapan orang banyak bahwa setelah menjadi Ahmadi secara mukjizat diri beliau mengalami perubahan. Beliau mempunyai jalinan yang erat dengan Khilafat dan patut diteladani. Sangat menghormati dan tulus terhadap para Khalifah. Memajang foto-foto beliau-beliau (para Khalifah). Beliau diangkat menjadi Menteri pada tahun 2009. Mengomentari kewafatan beliau, dalam sidang parlemen berbagai pejabat pemerintahan dan juru bicara Parlemen menyebut-nyebut beliau sebagai orang yang penuh kebenaran (kejujuran), kesetiaan, keikhlasan, sifat melayani bangsa, rajin bekerja dan Muslim sejati. Wakil Presiden memanggil Amir Jemaat Gambia untuk menghadiri sidang parlemen dan kepada beliau diberikan 10 menit untuk berbicara agar menyampaikan sesuatu. Berbicara di depan parlemen adalah hal yang pertama bagi Amir Gambia tersebut. Setelah kewafatan beliau, jenazah beliau disemayamkan di dalam House of Parlement (Gedung Parlemen) yang kemudian disaksikan untuk terakhir kalinya oleh Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Parlemen, para menteri, para anggota parlemen, dan rekan-sejawat. Setelahnya, beliau dimakamkan dengan protokol resmi kenegaraan. Televisi Negara mengumumkan kewafatan beliau. Salah satu anggota Parlemen yang juga adalah keluarga almarhum menyampaikan pidato dalam sidang parlemen mengungkapkan di depan publik, “Almarhum adalah seorang Muslim Ahmadi yang sangat mukhlis yang mengimani Satu Tuhan, lima rukun Islam dan seorang Muslim yang sebenarnya. Dan beliau bukan hanya memberikan pengobatan gratis untuk orang-orang miskin bahkan membantu mereka dengan harta-benda beliau.” Waktu demi waktu, perlahan-lahan wabah penentangan terhadap Jemaat terangkat. Sedikit banyak kedudukan beliau dalam pemerintahan dari satu segi telah berfaedah. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Jemaat pengganti yang lebih banyak lagi orang-orang yang bekerja di bidang pemerintahan, berpengaruh, berkesan baik, yang baik, saleh dan juga mau serta mampu menjadi khadim bagi silsilah (mata rantai Jemaat]

Jenazah ketiga, yang terhormat nyonya Izzatun Nisa, istri dari tuan yang terhormat Abu Ahmad Bhoniya dari Bangladesh. Beliau (almarhumah) merupakan ibunda dari murabbi silsilah, muballigh silsilah dan yang bertugas sebagai Bangla Desk[24], yang terhormat tuan Feroz Alim. Wafat pada tanggal 17 November dan berumur sekitar 85 tahun. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Beliau menerima Ahmadiyah pada tahun 1975 dan disiplin melakukan shalat lima waktu, tahajjud, pengamal diinul ‘ajaa-iz   (sederhana dalam beragama, apa yang jelas diketahui baik segera diamalkan tanpa banyak pemikiran) dan seorang perempuan yang mukhlis lagi baik. Demikian menaruh perhatian terhadap ibadah hingga selalu mengganti pakaian tatkala akan mendirikan shalat. Sekalipun beliau tinggal di desa, namun beliau menaruh perhatian besar terhadap ta’lim dan tarbiyat (pendidikan duniawi dan rohani) anak-anak. Walaupun dalam keadaan sangat sederhana beliau menaruh perhatian terhadap orang lain dalam keluarganya dan membantu mereka yang kurang mampu. Beliau menaruh kecintaan yang luar biasa terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan Khilafat Ahmadiyah. Saat para penentang menyebut-nyebut mengenai sesuatu hal yang bertentangan dengan Jemaat di depan beliau, maka beliau menjawab, “Kalian tidak mengetahui seberapa besar nikmat yang sedang kalian ingkari?” Almarhumah seorang Musiah. Beliau meninggalkan tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan. Seperti telah saya sampaikan, tuan Feroz Alim adalah salah seorang putra beliau dan sekarang tinggal di London. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan memberikan taufik kesabaran dan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.

(Setelah shalat Jum’at dan Ashar (dijamak) selesai, Hudhur ayyadahullah memimpin shalat jenazah ghaib untuk para almarhum)

                                    Penerjemah  : Mln. Hasan Basri



[1] Semoga Allah yang Mahaluhur mengokohkannya dengan kekuatan-Nya yang agung
[2] Perayaan kesyahidan Imam Husain yang diadakan di beberapa negara oleh orang Syiah diwarnai dengan atraksi di jalan-jalan dengan melukai diri sendiri.
[3] Syahidnya Khalifah Utsman ra (655 M) membuat umat Islam terbagi menjadi beberapa golongan; 1. Yang mendukung Khalifah Ali ra yang terpilih setelahnya; 2. Yang menolak berbaiat hingga tuntutan hukuman terhadap pembunuh Khalifah Utsman terpenuhi seperti Muawiyah di Damaskus-Syria dan Aisyah di Makkah. Khalifah Ali ra berpindah ibukota dari Madinah ke Kufah (Irak sekarang). Hingga Khalifah Ali ra wafat (660) umat Islam masih terbagi menjadi beberapa golongan. Hadhrat Hasan putra Ali menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah agar umat Islam bersatu. Sebelum Muawiyah wafat (680), ia mengangkat putranya Yazid secara sepihak tanpa musyawarah pemuka-pemuka Islam keturunan sahabat awwalin. Yazid mengirim banyak utusan ke kota-kota menekan penduduk agar baiat mengakuinya. Orang-orang Kufah yang dulu mendukung Khalifah Ali ra bersiap-siap memerangi Yazid dan perwira-perwiranya. Mereka mengundang Hadhrat Imam Husain ra datang ke Kufah untuk memimpin. Selama berminggu-minggu perjalanan dari Makkah ke Kufah, Hadhrat Husain ra baru mengetahui bagaimana Yazid memperkuat pengikutnya di kota Kufah dengan gubernur Ubaidullah bin Ziyad yang dikenal licik dan kejam. Secara bergelombang, Ubaidullah bin Ziyad mengirim ribuan pasukan (4.000-10.000) untuk mencegat dan mengepung Imam Husain yang baru sampai di Karbala, 70 km dari Kufah dekat Sungai Eufrat. Tragisnya, orang-orang Kufah yang dulu menyatakan mendukung sekarang berbalik membela musuh. Selain menutup diri dan diam di rumah, atau bergabung dengan pasukan Yazid, hanya segelintir saja yang mau datang dan membela Husain. Hadhrat Imam Husain ra sendiri menginginkan ishlah (perbaikan dan perdamaian) diantara pendukungnya maupun dengan kelompok musuh dan tidak berniat berperang. 
[4]Al-Mustadrak oleh al-Hakim dalam ‘Ma’rifatush Shahaabah’ (Pengetahuan tentang para sahabat) wa min Manaaqib al-Hasan wal Husain ibn bint Rasulullah saw (mengenai keutamaan al-Hasan dan al-Husain putra dari putri Rasulullah saw) hadits 4840
[5] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Manaaqib bab 000/104 hadits 3782
[6] Hadhrat Imam Husain ra disyahidkan pada tahun 61 Hijriyah (680 M), berumur sekitar 57 tahun pada zaman Yazid bin Muawiyah baru bertahta. Hampir 50 tahun setelah wafat Nabi saw (w. 11 H., 632 M), 20 tahun setelah wafat ayahnya, Hadhrat Ali ra, 660 M
[7] Shahih Muslim Kitabul Jihaad was sair baab ta-miirul imam...hadits nomor 4522
[8] Al-Mustadrak oleh al-Hakim, op.cit., hadits nomor 4838
[9] Dikutip dari Daairatul Ma’aarif Islamiyah (semacam Ensiklopedia Islami) pada kata ‘Al-Hasan ibn ‘Ali ra’ jilid VIII, halaman 251, Dansygah, Punjab, Lahore, 2003
[10] Sepanjang sejarah Islam, gabungan antara penguasa zalim dengan para ulama suu’ (jahat) telah mengakibatkan dibunuhnya orang-orang suci di berbagai zaman dan tempat. Pembunuhan Hadhrat Imam Husain ra juga didorong oleh fatwa kafir dari para pemuka dan perwira sekitar Yazid dan kepatuhan buta para prajuritnya. Na’udzu billaah.
[11] Umar bin Sa’ad, komandan lapangan pengepungan dan pembunuhan Hadhrat Husain adalah putra Sa’ad ibn Abi Waqqash ra. Sa’ad termasuk sahabat senior, awwalin dalam hal masuk Islam, penakluk Iraq dan Persia, anggota Majelis pemilihan khalifah yang dibentuk Khalifah Umar ra, utusan Khalifah Utsman ke negeri China dan pernah menjadi gubernur Kufah. Sayang, Umar bin Sa’ad berbeda dengan ayahnya, dikarenakan rakus harta dan jabatan, ia yang telah dijanjikan menjadi walikota Ray rela melakukan kekejaman atas perintah dan tekanan Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah.
[12] Tarikh ath-Thabari, jilid VI, h. 243-250, Khilaafat Yazid bin Muawiyah, Darul Fikr, Beirut, 2002 dan Akbar Syah Khan Najib Abadi, dalam ‘Tarikh Islam’, halaman 51 s.d. 78, Nafees Academy, Karachi, edisi 1998
[13] Yazid bin Muawiyah bertahta sebagai raja di Damaskus dan memiliki banyak gubernur. Sekalipun ia disebut khalifah, ia adalah raja. Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat awwalin Nabi saw pun menyebut ‘malik’ (raja) kepada Muawiyah, ayahnya.
[14] Malfuzhaat (Kumpulan Sabda),  jilid IV (semuanya 10 jiid), h. 580, Terbitan Rabwah
[15] Majmu’ah Isytihaarat (Kumpulan Selebaran),  jilid I (semuanya 3 jiid), h. 178, surat untuk Maulwi ‘Abdul Jabbar, Terbitan Rabwah
[16] Akbar Syah Khan Najib Abadi, dalam bukunya ‘Tarikh Islam’, jilid II, h. 68, op.cit.
[17] Yang menyertai Imam Husain berperang ada 72 orang, 32 prajurit penunggang kuda dan 40 orang prajurit pejalan kaki. Mereka terdiri dari kaum remaja hingga dewasa. Anak-anak beliau ra, keponakan-keponakan, sahabat dan pembantu beliau. Mereka semua syahid dan dipenggal kepalanya. Tiga putra Husain dari istri selain Fatimah terbunuh termasuk Abdullah, bayi kehausan yang belum genap satu tahun. Selebihnya, anak-anak dan kaum perempuan yang bertahan di kemah-kemah dalam kelaparan dan kehausan karena dikepung dan dihalangi menuju sungai selama 3 hari.
[18] Kamiyabi, Anwarul ‘Uluum jilid 10 h. 589
[19]  ‘Khilafat Rasyidah’, Anwaarul ‘Uluum, jilid XV, h. 557-558
[20] Izalah Auham, Rohani Khazain jilid III halaman 136-137 Terbitan Rabwah
[21] Khutubaat-e-Mahmud (kumpulan khotbah Hudhur II ra) jilid 15 halaman 498-499 Terbitan Rabwah
[22] Rombongan Hadhrat Imam Husain ra yang masih hidup ialah adik perempuan beliau, Zainab bin Ali (50 tahunan), Ali Zainal Abidin bin Husain (20 tahunan) dan beberapa anak kecil serta perempuan. Hadhrat Zainab berperan menjadi tameng hidup yang menyelamatkan rombongan tersebut dengan mengumpulkan mereka agar jangan terpencar. Setelah pembakaran kemah-kemah rombongan Husain, perampasan harta-benda bahkan pembunuhan seorang anak kecil yang lepas karena panik oleh tentara musuh, rombongan ditawan dan dibawa ke Kufah kemudian ke Damaskus. Hari-hari itu, ada beberapa kali upaya dan ancaman pembunuhan terhadap ‘Ali Zainal Abidin baik di istana Gubernur Kufah maupun di istana Damaskus. Baik Zainab maupun Ali mempunyai kefasihan lidah dan ketepatan kata dan pemilihan kalimat yang menghunjam dada telah melunakkan dan mencengangkan para pengancam tanpa sedikit pun bersikap memelas namun penuh dengan ‘izzah (harga diri). Diantara kata-katanya yang terkenal di istana Yazid adalah "Apa yang akan kau katakan, hai Yazîd, kepada Rasulullah sementara keturunannya dalam keadaan seperti ini?!" Mendengar itu, orang yang hadir dalam ruangan menangis. Mereka tak kuasa lagi menahan air mata. Beberapa minggu kemudian, rombongan pun dibebaskan dan dipersilakan untuk tinggal di Madinah. Pada suatu hari, Imam as-Sajjad, Ali Zainal Abidin dengan langkah lunglai memeriksa hewan-hewan yang akan dikorbankan di hari Idul Adha, diiringi dengan linangan airmata, beliau berkata:”Berilah minum ternak-ternak kalian sebelum disembelih. Sungguh ayahku (Hadhrat Imam Husain ra) disembelih dalam keadaan kehausan.”
[23] Majmu’ah Isytihaarat jilid III halaman 544-546, selebaran nomor 270 cetakan Rabwah
[24] Pojok Bangla (Bangladesh) berkaitan dengan bahasa Bangla contoh acara MTA.