GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Saturday, December 3, 2011

HARI DIFABEL INTERNATIONAL

Hari ini 3 November 2011, adalah merupakan hari difabel.  Hari yang ditetapkan untuk menghormati atau mengingatkan kembali kepada khalayak umum tentang penghormatan dan penondrikriminasian saudara kita yang menderita cacat. Dalam kesempatan ini saya akan mengetengahkan beberapa kajian seputar difabilitas.


KONTRUKSI SOSIAL ATAS DIFABEL
Faktor sosial bukan hanya menentukan dan mempengaruhi kesehatan dan fungsi tubuh seseorang, lebih jauh dari itu konstruksi sosial juga menentukan apakah fungsi biologis seseorang relevan dengan situasi sosialnya. Difabilitas terjadi bukan hanya karena secara fisik berbeda dengan orang lain, tapi lebih karena kondisi sosial mensyaratkan adanya kemampuan tertentu dalam diri seseorang supaya orang tersebut mampu “hidup normal” dalam masyarakat. Kondisi sosial juga dapat menyebabkan kerusakan atau gagal mencegah kerusakan terhadap tubuh seseorang; misalnya polusi di kota besar dapat memicu penyakit pernafasan atau alergi pernafasan, atau sisi jalan yang tidak ada tempat pejalan kakinya meningkatkan resiko kecelakaan. Begitu pula terhadap para difabel, situasi sosial kita, bagaimana kita membangun infrastruktur fisik maupun psikologis, irama kerja, mensyaratkan kesempurnaan tubuh, terutama tubuh yang penuh energi dan muda (dan seringkali laki-laki!). Faktor sosial inilah yang meminggirkan kaum difabel lebih daripada perbedaan kondisi fisik mereka.
Konsep “Sang Liyan” (the other) sangat berguna untuk mengerti tentang bagaimana perlakuan terhadap kaum difabel. Kita sering menjadikan orang lain sebagai “sang liyan” dengan cara mengelompokkan mereka dalam satu kelompok yang kemudian lebih kita perlakukan sebagai obyek ketimbang menghargai mereka sebagai subyek yang bisa diterima sebagaimana adanya. Bagi orang yang non-difabel, kaum difabel dianggap sebagai simbol dari ketidaksempurnaan, kegagalan mengontrol tubuh, kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Stigma sebagai “sang liyan” mengakibatkan oang cenderung mengabaikan keberadaan mereka, sehingga mereka makin rentan terhadap pelanggaran hak-haknya. Karena kondisi tersebut, para aktivis difabel cenderung memposisikan kondisi difabilitas sebagai kondisi yang netral sebagai bentuk keberagaman dan perbedaan dalam masyarakat.

Thursday, December 1, 2011

YESUS DI INDIA (6)


Rupanya nubuatan dalam Matius 16:28 itu telah menimbulkan kepanikan di antara para pendeta Kristiani karena mereka tidak mampu memberikan penafsiran yang masuk akal sejalan dengan keyakinan mereka. Sulit bagi mereka untuk mengatakan bahwa ketika terjadi penjarahan kota Yerusalem, Yesus turun dari langit dengan segala kemegahan seperti kilat yang menerangi alam dan terlihat oleh semua orang. Begitu juga sulit bagi mereka untuk mengabaikan pernyataan yang mengatakan ‘di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai raja dalam kerajaannya.’ Karena itulah mereka memberikan penafsiran yang direkayasa menjadi pemenuhan nubuatan dalam bentuk penampakan (visi) saja.

Hal itu tidak benar, hamba-hamba Tuhan yang saleh akan muncul sebagai penampakan kepada orang-orang yang terpilih dan sebagai penampakan tidak perlu hanya dalam bentuk mimpi. Penampakan itu bahkan bisa dilihat dalam keadaan terjaga, aku sendiri telah mengalami fenomena demikian. Aku telah sering bertemu Yesus a.s. dalam bentuk Kashaf (penampakan dalam keadaan terjaga) sebagaimana aku juga telah bertemu dengan beberapa nabi-nabi dalam keadaan sadar. Aku juga sudah sering bertemu dengan Junjungan kita nabi besar Muhammad s.a.w. dalam keadaan sadar dan aku telah berbicara dengan beliau dalam keadaan yang demikian jernih yang tidak ada kaitannya dengan tidur atau kantuk. Aku juga sudah berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal di kuburan mereka atau di tempat-tempat lain dalam keadaan jaga dan aku berbicara dengan mereka.

Aku tahu betul bahwa pertemuan dengan mereka yang sudah meninggal dalam keadaan sadar adalah hal yang mungkin. Tidak saja bertemu, tetapi juga berbicara dan bahkan berjabat tangan. Keadaan di antara penampakan dan keadaan jaga tersebut tidak ada perbedaan berarti. Kita menyadari bahwa kita masih berada dalam dunia dimensi ini dengan pendengaran, penglihatan dan bahasa yang sama, tetapi jika direnungi akan memunculkan alam yang lain.

Dunia awam tidak memiliki pengalaman seperti ini karena mereka hidup secara acuh. Pengalaman seperti ini merupakan karunia dari Tuhan untuk mereka yang diberkati dengan indera-indera khusus.  Hal ini adalah fakta yang benar dan aktual. Dengan demikian ketika Yesus muncul kepada Yohanes saat penghancuran kota Yerusalem, walaupun beliau dilihat dalam keadaan sadar, mungkin juga ada pembicaraan di antara mereka serta jabatan tangan, namun kejadian itu tidak ada kaitannya dengan nubuatan dimaksud. Fenomena demikian sering terjadi di dunia ini, bahkan sekarang pun kalau aku meniatkannya, dengan rahmat Allah s.w.t. aku bisa bertemu Yesus atau nabi-nabi lain dalam keadaan jaga. Pertemuan seperti itu tidak memenuhi nubuatan yang terkandung dalam Injil Matius 16:28.

Jadi apa yang terjadi sebenarnya Yesus a.s. sudah mengetahui bahwa beliau akan diselamatkan dari kayu salib dan akan berpindah ke negeri lain. Tuhan tidak akan membiarkan beliau mati secara demikian dan tidak juga akan mengambilnya dari dunia sebelum menyaksikan kehancuran umat Yahudi (di Yerusalem) dengan mata kepala sendiri. Beliau juga belum akan wafat selama buah dari Kerajaan Tuhan yang merupakan karunia surga bagi mereka yang dimuliakan, belum terwujud. Yesus a.s. mengemukakan nubuatan demikian itu untuk meyakinkan para murid bahwa mereka akan melihat tanda-tanda dimana mereka yang mengangkat pedang terhadap beliau akan dibunuh juga dengan pedang dalam masa hidup dan di hadapan beliau. Inilah yang patut diketahui umat Kristiani bahwa tidak ada bukti yang lebih baik daripada ucapan Yesus sendiri berupa nubuatan bahwa beberapa dari mereka masih akan hidup ketika beliau kembali.

Perlu diketahui bahwa Injil mengandung dua jenis nubuatan tentang kedatangan Yesus a.s. yang kedua kalinya yaitu:
(1) Janji kedatangan beliau di akhir zaman dalam bentuk spiritual yang mirip dengan kedatangan kedua kali dari Elia pada masa Yesus. Jadi seperti Elia, sosok itu telah muncul di abad ini dalam diriku, seorang hamba manusia yang datang sebagai Al-Masih yang Dijanjikan mewakili Yesus a.s. Yesus telah menyampaikan kabar kedatanganku di dalam Injil. Berberkatlah mereka yang karena menghormati Yesus lalu merenungi secara jujur dan benar tentang kedatanganku, agar ia selamat dari kejatuhan, (2) Bentuk lain daripada nubuatan menyangkut kedatangan Yesus kedua kalinya adalah dalam bentuk tetap utuhnya nyawa beliau dari pengalaman di atas kayu salib berkat rahmat Allah s.w.t. Tuhan telah menyelamatkan hamba-Nya yang mulia dari kematian di atas kayu salib seperti yang disiratkan dalam nubuatan tersebut di atas.

Umat Kristiani telah keliru mencampuradukkan kedua konteks tersebut, mereka bingung sehingga harus menghadapi banyak kesulitan untuk membenarkan ajaran mereka. Singkat kata, pasal 16 dari Injil Matius tersebut merupakan sebuah bukti penting yang mendukung kelepasan Yesus dari kematian di atas kayu salib.
Dari beberapa kesaksian Injil yang kita ketahui antara lain adalah penuturan Matius berikut ini:
Pada waktu itu akan tampak tanda anak manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat anak manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya’ (Matius 24:30).

Pengertian daripada ayat itu sebenarnya ialah Yesus a.s. mengatakan akan datang saatnya ketika dari langit (karena pengaturan samawi) akan dikemukakan pengetahuan, argumentasi dan bukti-bukti yang akan menihilkan keimanan manusia tentang sifat ketuhanan Yesus, tentang wafatnya di kayu salib, kenaikan beliau ke sorga serta tentang kedatangan yang kedua kali. Tuhan akan membukakan kedustaan dari mereka yang menyangkal beliau sebagai seorang nabi yang benar seperti umat Yahudi misalnya yang menganggap beliau sebagai orang terkutuk karena diperkirakan mati di atas kayu salib, sehingga kepada mereka itu akan dibukakan bahwa Yesus a.s. sebenarnya tidak wafat di salib dan karena itu tidak memenuhi kriteria sebagai orang terkutuk. Begitu juga berbagai bangsa di dunia yang telah membesar-besarkan status beliau yang sebenarnya, akan malu atas kesalahan pandangannya selama ini. Pada masa itu ketika fakta-fakta ini dibukakan, manusia secara metaforika akan melihat Yesus turun ke dunia yaitu di masa kedatangan Al-Masih yang Dijanjikan yang dating menyerupai Yesus, muncul dengan segala tanda-tanda gemilang dan dukungan samawi serta kekuasaan dan kemegahan yang akan diakui dunia.

Penafsiran lanjutan dari ayat di atas mengandung arti bahwa takdir Allah s.w.t. akan membentuk kepribadian Yesus dan mengatur jalan kehidupan beliau sedemikian rupa sehingga ada orang-orang yang jadi membesar-besarkan tetapi ada juga yang mengecilkan arti status beliau. Ada orang yang mengeluarkan beliau dari kategori manusia dengan mengatakan bahwa beliau masih hidup dan sedang berada di langit. Mereka inilah yang mengatakan bahwa setelah beliau wafat di kayu salib, lalu bangkit kembali dan kemudian naik ke langit dengan memperoleh semua kekuasaan Tuhan, bahkan beliau sendiri dianggap Tuhan. Pihak lainnya adalah umat Yahudi yang mengatakan bahwa beliau wafat di kayu salib dan karena itu (nauzubillah-min-zalik) beliau itu terkutuk dan tenggelam dalam kemarahan Tuhan yang tidak menyukainya dan menganggap beliau sebagai musuh yang dibenci, bahwa beliau itu pembohong dan penipu serta Kafir. Pembesar-besaran dan pengecilan arti Yesus ini demikian tidak adilnya sehingga Allah s.w.t. perlu membersihkan nabi-Nya itu dari cercaan demikian. Ayat dari Injil di atas menunjuk kepada fakta tersebut.  Pernyataan bahwa semua bangsa di bumi akan meratap mensiratkan bahwa semua yang disebut sebagai ‘bangsa’ akan meratap saat itu. Mereka akan memukuli dadanya sendiri dan menangis dengan suara keras karena besar kedukaan mereka. Umat Kristiani dalam hal ini perlu mencermati ayat tersebut yaitu mereka harus memperhatikan jika ayat ini mengandung nubuatan bahwa semua bangsa akan meratap, mereka itu tidak bisa mengatakan hal tersebut tidak berkaitan dengan mereka sendiri. Tidakkah mereka juga termasuk kategori ‘bangsa?’ Jika berdasar ayat ini mereka termasuk di antara yang meratap, mengapa mereka tidak mencari keselamatan? Ayat tersebut jelas menyatakan bahwa ketika tanda-tanda Yesus akan terlihat di langit maka semua bangsa akan meratap. Dengan kata lain, jika ada manusia yang mengatakan bahwa bangsanya tidak akan meratap berarti ia telah menyangkal Yesus.

Kelompok orang atau bangsa yang masih kecil jumlahnya tidak akan termasuk ke dalam kategori bangsa sebagaimana tersirat dalam nubuatan tersebut. Mereka ini belum cocok disebut sebagai ‘bangsa’ dan mereka itu adalah kami yang merupakan komunitas satu-satunya yang berada di luar ruang lingkup nubuatan tersebut dimana komunitas kami ini masih sedikit sekali sehingga belum bias diterapkan istilah ‘bangsa.’ Yesus a.s. berdasarkan wahyu samawi mengatakan bahwa ketika tanda muncul di langit maka semua umat di dunia yang karena jumlahnya pantas disebut sebagai ‘bangsa’ akan meratap semuanya, kecuali sekelompok kecil umat yang belum dapat disebut sebagai ‘bangsa.’

Tidak ada umat Kristiani, atau pun Muslim atau juga Yahudi dapat dikecualikan dari nubuatan itu. Hanya Jemaat kami sajalah yang berada di luar ruang lingkupnya karena kami ini baru berupa bibit yang belum lama disemaikan oleh Allah s.w.t. Perkataan seorang nabi tidak mungkin tidak terjadi. Kalau ayat tersebut jelas mensiratkan bahwa semua ‘bangsa’ yang ada di dunia akan meratap, siapa dari umat tersebut boleh mengaku berada di luar ruang lingkupnya? Yesus tidak ada memberikan kekecualian dalam ayat itu. Adapun kelompok yang belum patut disebut sebagai ‘bangsa’ itu saja yang dapat dikecualikan yaitu Jemaat kami ini. Nubuatan tersebut telah dipenuhi dalam zaman ini karena apa yang menjadi penyebab ratapan bangsa itu adalah dibukakannya kebenaran tentang Yesus dan terbongkarnya semua kesalahan-kesalahan akidah yang selama ini sudah berjalan.  Gegap gempita umat Kristiani yang mempertuhan Yesus akan berubah menjadi keluhan dalam. Kedegilan umat Muslim yang menganggap Yesus a.s. telah naik ke langit dengan badan kasarnya, akan menjadi tangis dan ratapan, sedangkan umat Yahudi akan kehilangan semuanya.

Perlu juga diingatkan bahwa yang termasuk sebagai ‘bangsa-bangsa’ di bumi yang akan meratap tersebut, yang dimaksud ‘bumi’ adalah Balad-i-Sham (Palestina dan Syria) dengan apa ketiga bangsa itu terkait. Bagi bangsa Yahudi karena merupakan tempat asal leluhur dan tanah suci mereka, bagi umat Kristiani karena merupakan tempat pemunculan Yesus dimana komunitas Kristen yang pertama timbul dari tempat tersebut, sedangkan bagi umat Muslim karena mereka akan menjadi pewaris tanah tersebut di Akhir Zaman. Kalau kata ‘bumi’ dimaksudkan merangkum semua negeri di dunia, tidak juga ada masalah karena ketika kebenaran dibukakan, semua penyangkal itu akan dipermalukan.
Kesaksian lain yang diberikan Injil adalah pernyataan Injil Matius:
dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur lalu masuk kota kudus dan menampakkan diri pada banyak orang.’  (Matius 27:52 - 53).

Tidak ada keraguan bahwa penuturan di atas tentang orang-orang kudus yang keluar dari kubur dan tampak kepada banyak orang, bukanlah suatu kenyataan historikal, karena kalau memang demikian yang terjadi berarti Hari Penghisaban (kiamat) telah dilaksanakan di bumi ini. Bila benar demikian maka segala sesuatu yang dirahasiakan guna mencobai keimanan dan keteguhan manusia telah dibukakan kepada semua. Keimanan tidak lagi berarti karena semua orang yang beriman mau pun kafir bisa melihat dan meyakini dunia yang akan datang sebagaimana mereka melihat bulan, matahari dan pergantian hari. Dalam keadaan demikian, keimanan tidak lagi mempunyai nilai berarti yang patut mendapat imbalan apa pun.

Jika semua umat dan nabi-nabi Yahudi dari masa lalu dalam jumlah berjuta-juta itu benar dibangkitkan pada saat Penyaliban Yesus dan mereka masuk ke dalam kota dalam keadaan hidup dan kalau mukjizat kebangkitan itu terjadi pada saat bersamaan (karena dianggap sebagai bukti kebenaran dan ketuhanan Yesus), tentunya umat Yahudi mendapat kesempatan bertanya kepada para orang kudus dan nenek moyang mereka yang dibangkitkan itu apakah Yesus memang benar Tuhan ataukah beliau berdusta. Mereka pasti tidak akan melewatkan kesempatan tersebut. Mereka pasti ingin tahu mengenai Yesus dan menanyakan kepada mereka yang dibangkitkan itu tentang kemungkinan mereka sendiri nantinya dibangkitkan juga.  Bagaimana mungkin umat Yahudi akan melepaskan kesempatan tersebut jika ada beratus ribu orang mati yang dibangkitkan masuk ke dalam kota dan kembali ke rumahnya masing-masing? Mereka pasti akan bertanya, tidak kepada satu dua orang tetapi kepada beribu orang kudus yang dibangkitkan tersebut.

Ketika orang-orang yang sudah mati itu kembali ke rumahnya masing-masing tentunya akan terjadi kegembiraan luar biasa di antara keluarga mereka. Dalam setiap rumah tangga tentunya terjadi berbagai perbincangan dan pasti mereka akan bertanya kepada orang yang pernah mati tersebut kalau mereka ada mengenal Yesus Al-Masih yang dianggap Tuhan. Namun karena umat Yahudi umumnya tidak meyakini Yesus, tidak juga hati mereka melembut bahkan mereka bertambah keras hatinya, apakah kemungkinan karena mereka yang pernah mati itu tidak memberikan tanggapan yang baik tentang Yesus? Apakah kemungkinan mereka itu menyatakan bahwa semua pengakuan Yesus sebagai Tuhan itu adalah palsu adanya? Mungkin karena itu umat Yahudi tetap dalam kedegilan mereka meskipun ada beratus ribu orang kudus telah dibangkitkan? Apakah karena itu umat Yahudi menjadi makin yakin dalam kekafirannya, tidak saja dalam sifat ketuhanan Yesus, bahkan juga sifat kenabiannya?

Bagaimana kita mau percaya bahwa beratus ribu orang kudus dari zaman nabi Adam sampai terakhir Yahya Pembaptis, yang selama ini tidur tenang dalam kuburnya di negeri itu, lalu dibangkitkan semua.  Bahwa mereka lalu masuk ke kota untuk menyampaikan kesaksian kepada ribuan orang kalau Yesus itu Al-masih dan Putra Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Bahwa hanya beliau saja yang patut disembah, bahwa mereka harus meninggalkan agama lama mereka kalau tidak mau masuk neraka. Kalau difikir begitu banyak bukti dan kesaksian dari ratusanribu orang-orang kudus itu namun umat Yahudi terap saja degil hatinya dan tetap menyangkal. Aku sendiri secara pribadi tidak bisa mempercayai hal demikian.

Kepercayaan seperti itu yaitu ratusan ribu orang kudus telah dibangkitkan Yesus hanya akan membawa mudharat belaka, karena tidak ada kegunaannya juga. Seseorang yang pernah bepergian ke negeri yang jauh dan kemudian pulang ke rumahnya setelah sekian tahun, pasti banyak yang ingin diceritakannya kepada kerabatnya mengenai segala hal menarik dari negeri yang dikunjunginya; ia tidak akan menutup mulut atau berbisu-kata jika bertemu bangsanya setelah perpisahan sekian lama. Kerabatnya sendiri pasti juga bergegas menghampirinya untuk menanyakan kabar dari negeri yang jauh itu. Dengan demikian, pernyataan Yesus telah menghidupkan orang-orang yang sudah mati, baru akan ada gunanya jika kesaksian mereka yang mati itu memang membenarkan pengakuan beliau.  Nyatanya tidak ada hal demikian itu. Kalau benar ada orang mati yang dihidupkan kembali, kita terpaksa menganggapnya bahwa mereka ternyata tidak memberikan dukungan atas pengakuan ketuhanan Yesus. Alih-alih mempercayai beliau malah cerita demikian menambah kerancuan saja. Kalau saja dalam ceritanya dikatakan bahwa yang dihidupkan kembali itu hewan yang sudah mati maka banyak kesulitan yang dapat dihindari, karena sebagai hewan mereka tidak akan menyangkal apa pun jika ditanya.

Kalau menurut cerita yang ada, Yesus sudah membangkitkan manusia yang sudah mati. Jika ini benar terjadi, percayalah tidak akan ada lagi manusia yang kafir dan menyangkal kebenaran yang diajukan dengan cara demikian. Dengan amat menyesal, aku terpaksa mengatakan bahwa bangsa Sikh di negeri ini masih lebih pandai dari umat Kristen. Mereka telah membuktikan keahlian mereka dalam mengarang cerita karena mereka mengatakan bahwa Guru mereka yaitu Baba Nanak, pernah menghidupkan kembali seekor gajah yang sudah mati. Jenis ‘mukjizat’ seperti ini tidak akan banyak menghadapi penyangkalan karena orang Sikh bisa mengatakan bahwa gajah itu tidak bisa bicara yang dapat menguatkan atau menyalahkan Baba Nanak. Singkat kata, orang-orang awam yang daya fikirnya terbatas, mungkin bias dipuaskan dengan ‘mukjizat’ seperti itu, tetapi tidak bagi mereka yang arif yang akan merasa malu mendengar cerita demikian.

Saturday, November 26, 2011

YESUS DI INDIA (3)


Penyaliban Adalah Cara Menghinakan Seseorang Dalam Hukum Torat
Perlu kiranya disadari bahwa tuduhan yang menyatakan Yesus a.s. sebagai ‘terkutuk’ itu bertentangan dengan kenabian dan kerasulan beliau, serta juga melecehkan pengakuan beliau atas keunggulan spiritual, kesucian, kecintaan dan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana berulangkali beliau kemukakan dalam Injil. Cobalah lihat Injil, di dalamnya Yesus jelas menyatakan dirinya sebagai Terang Dunia, bahwa beliau adalah Sang Gembala dan bahwa beliau dekat dengan kecintaan Tuhan, bahwa beliau dikaruniai dengan kelahiran suci dan bahwa ia adalah Putra Tuhan yang terkasih. Lalu dengan segala kemurnian dan kesucian hubungan beliau dengan Tuhan-nya, bagaimana mungkin melekatkan atribut kutukan kepada Yesus? Tidak, tak akan pernah.

Karena itu tidak bisa diragukan bahwa Yesus tidak disalibkan dengan pengertian tidak wafat di kayu salib, karena kepribadian beliau tidak patut memikul konsekwensi yang tersirat dari kematian di atas salib. Karena tidak wafat di kayu salib maka beliau terbebas dari implikasi kotor suatu kutukan, serta membuktikan bahwa beliau tidak terangkat ke langit. Kepergian beliau ke langit merupakan bagian dari keseluruhan skema yang merupakan konsekwensi dari konsep pemikiran bahwa beliau wafat di kayu salib.

Dengan demikian, jika bisa dibuktikan bahwa beliau tidak terkutuk, tidak turun ke neraka selama tiga hari dan tidak juga wafat di kayu salib, maka bagian lain dari skema itu yaitu keterangkatan beliau ke langit jadinya dapat dibuktikan sebagai salah. Mengenai hal ini Injil memberikan bukti lain seperti dikemukakan di bawah. Ada pernyataan Yesus yang mengatakan:
Akan tetapi sesudah aku bangkit, aku akan mendahului kamu ke Galilea’ (Matius 26:32).
Ayat ini jelas menyatakan bahwa Yesus setelah keluar dari makam langsung pergi ke Galilea dan bukan ke langit. Perkataan Yesus bahwa ‘sesudah aku bangkit’ tidak berarti beliau dibangkitkan hidup setelah sebelumnya mati (sebagaimana perkiraan umat Yahudi dan orang awam lainnya beliau dianggap telah mati di kayu salib). Beliau menggunakan kata-kata yang konsisten dengan perkiraan mereka di masa depan, karena manusia yang digantung di kayu salib dengan paku-paku yang dipantekkan ke tangan dan kakinya sehingga pingsan karena rasa sakit yang luar biasa, terlihat sebagai orang yang sudah mati. Manusia yang selamat dari bencana sedemikian dahsyat dan pulih kembali semua inderanya, tidaklah berlebihan mengatakan dirinya telah hidup kembali.  Tidak perlu diragukan bahwa setelah mengalami penderitaan seperti itu maka kelepasan Yesus dari kematian patut disebut sebagai mukjizat. Tetapi menganggap beliau waktu itu sudah wafat adalah suatu kesalahan. Memang benar dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Yesus telah wafat, tetapi ini sebenarnya adalah kesalahan dari pihak para penulis Injil, sebagaimana mereka juga telah melakukan kesalahan pencatatan tentang beberapa kejadian historikal lainnya.  Para penafsir yang telah melakukan riset tentang Injil mengakui bahwa kitab itu terdiri dari dua bagian yaitu (1) tuntunan ruhani yang diterima para murid dari Yesus a.s. yang merupakan esensi ajaran Injil, (2) kejadian-kejadian historikal seperti garis keturunan Yesus, penangkapan beliau, siksaan yang dialami dan lain-lain. Semuanya ini berdasarkan catatan para penulis Injil menurut konsep pemikiran mereka sendiri dan bukan merupakan wahyu. Di beberapa tempat terdapat narasi yang melebih-lebihkan seperti pernyataan bahwa jika semua yang diperbuat Yesus dituliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu (Yohanes 21:25). Alangkah berlebihannya pernyataan seperti itu!

Terlepas daripada ini, tidaklah bertentangan dengan kebiasaan ucapan umum untuk menyatakan bencana yang dialami Yesus sebagai kematian. Jika seseorang telah melewati percobaan hidup dan mati dan kemudian selamat, adalah suatu ungkapan umum dari semua manusia untuk mengatakan ‘ia telah memperoleh hidup baru atau ia hidup kembali dari kematian.’ Ungkapan seperti itu bisa ditemui pada semua bangsa di dunia.

Selain itu kita perlu perlu merujuk juga pada Injil Barnabas yang mungkin hanya bisa ditemui di British Museum (di London), dimana dinyatakan bahwa Yesus tidak disalibkan, maksudnya tidak wafat di kayu salib. Meskipun kitab ini resminya tidak termasuk dalam kelompok Injil dan telah ditolak oleh umat Kristiani, namun tidak bias dibantah bahwa kitab itu merupakan naskah kuno berasal dari periode saat Injil lainnya dituliskan. Kita rasanya patut memperlakukan dan menganggap kitab itu sebagai buku sejarah masa dahulu.  Dari sini sekurang-kurangnya kita bisa menyimpulkan bahwa tidak semuanya sependapat kalau Yesus a.s. itu wafat di kayu salib. Lagi pula dalam keempat Injil itu pun ada beberapa metafora yang mentamsilkan kematian dengan mengatakan seseorang tidak mati melainkan hanya tidur saja. Jadi masuk akal juga jika dikatakan keadaan pingsan pun dinyatakan sebagai kematian.

Yesus as Mengalami Apa Yang Nabi Yunus as Juga Alami
Aku telah mengemukakan di atas bahwa seorang nabi tidak mungkin berdusta. Yesus a.s. membandingkan keberadaannya selama tiga hari di dalam makam sebagai tiga hari nabi Yunus a.s. berada dalam perut ikan paus. Hal ini menunjukkan bahwa sebagaimana nabi Yunus a.s. tetap hidup selama di dalam perut ikan, begitu juga Yesus a.s. tetap hidup selama tiga hari di dalam makam. Makam umat Yahudi pada masa itu tidak seperti makam sekarang, karena berbentuk ruanganyang mempunyai pintu di satu sisi yang hanya ditutup dengan selembar batu pipih yang besar. Aku akan menjelaskan nanti bahwa makam Yesus yang ditemukan di Srinagar, Kashmir, juga berbentuk sama dengan makam ketika Yesus dimasukkan dalam keadaan pingsan.

Singkat kata, ayat yang telah aku kemukakan di atas menunjukkan bahwa Yesus setelah keluar dari makam lalu berangkat ke Galilea. Injil Markus mengatakan bahwa setelah keluar dari makam, beliau terlihat di jalan menuju Galilea sampai akhirnya bertemu dengan sebelas murid ketika mereka sedang makan. Beliau menunjukkan tangan dan kaki beliau yang luka karena mereka mengira beliau adalah hantu. Beliau mengatakan:
Lihatlah tanganku dan kakiku; aku sendirilah ini; rabalah aku dan lihatlah karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat ada padaku.( Lukas 24:39)  Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.( Lukas 24:42, 43)


Ayat-ayat itu jelas menyatakan bahwa Yesus tidak pernah naik ke langit karena setelah keluar dari makam beliau pergi ke Galilea sebagaimana seorang manusia biasa, berpakaian biasa dan dengan tubuh manusia. Kalau beliau memang dibangkitkan setelah kematian, bagaimana mungkin jasad halus masih membawa bekas-bekas luka di kayu salib? Kalau berbadan halus, mengapa beliau harus makan? Dan kalau waktu itu beliau membutuhkan makanan, mestinya sekarang juga masih perlu makan (jika beliau masih hidup di langit).  Pembaca jangan sampai salah tangkap, kayu salib umat Yahudi tidak sama dengan jerat tali gantungan zaman kini yang kurang memungkinkan seseorang lolos dari kematian, karena salib pada masa itu tidak disertai tali untuk menggantung leher pesakitan, dan tubuh pesakitan juga tidak akan tergantung penuh di salib itu. Pesakitan dinaikkan ke kayu salib lalu tangan dan kaki mereka dipakukan ke kayu tersebut, sehingga jika aparat penghukum kemudian berubah pikiran dan memaafkannya, mereka masih bisa menurunkan kembali pesakitan tadi masih dalam keadaan hidup setelah tergantung satu atau dua hari. Jika misalnya memang diputuskan pesakitan itu harus disalib maka biasanya ditinggalkan di kayu itu sekurangnya selama
tiga hari, selama itu yang bersangkutan tidak diberi makan atau pun minum dan dibiarkan terjemur di bawah terik matahari. Pada akhirnya tulang-tulang pesakitan itu dipatahkan atau diremukkan sehingga ia mati karena renjatan (shock). Namun rahmat Allah s.w.t. telah menyelamatkan Yesus dari aniaya demikian yang bisa mencabut nyawa beliau.

Monday, November 21, 2011

Jurnalisme Narrative Intolerance Dalam Liputan Isu Pluralisme (2)

Studi Kasus : Berita  Penurunan Patung Amithaba Tanjungbalai 

Pendekatan Narrative Intolerance
Sebagai agen pendorong demokrasi, setiap jurnalis dituntut untuk terus berupaya menciptakan hubungan antar suku bangsa, agama dan budaya  dalam suasana damai, penuh kemengertian dan persahabatan, itulah sebabnya pemberitaan konflik diarahkan agar bersifat narrative tolerance, mengambil hal positif dalam hubungan antar budaya[1] Pendekatan narrative tolerance tidak melulu tanggungjawab organisasi media massa, tapi juga tanggunjawab jurnalis. Sebagai pekerja media, jurnalis  harus mengetahui tanggungjawab atas tindakan atau pemikiran yang mereka lontarkan. Namun media seringkali lupa, kalau mereka adalah sumber dari pengajaran kebudayaan yang mengajarkan kepada publik  tentang bagaimana harus bersikap, apa yang dipikirkan dirasakan, percaya, takut dan apa seharusnya yang tidak dilakukan.
Dalam pemberitaan Penurunan Patung Amithaba ini, pemberitaan media belum diarahkan kepada pendekatan narrative tolerance, tetapi sebaliknya melakukan pendekatan Narrative Intolerance-dimana pemberitaan berkesan seolah-olah masyarakat tak mungkin hidup berdampingan, pelit toleransi secara rukun  dan damai. Dalam pemberitaannya,  sebagian media masih menonjolkan sensasi peristiwa tuntutan penurunan patung budha Amithaba daripada menginformasikan berbagai solusi agar persolan ini dapat diselesaikan secara damai. Pemberitaan narrative Intolerance ini dapat dilihat dari pendapat/opini yang diberikan para narasumber yang dimuat di surat kabar Waspada, Berita sore dan SIB, dan Tribun berikut:
“Keberadaan patung diatap Vihara melanggar adat-istiadat dikota itu. Sejak Tanjungbalai berdiri, kota ini merupakan negeri Islam. Dimana Bumi dipijak, disitulah langit dijungjung, Jangan samakan Tanjungbalai dengan daerah lain (Waspada)
“Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak SARA . Sejak Tanjungbalai berdiri tidak pernah terjadi kerusuhan akibat perbedaan agama. Jadi jangan sampai terjadi yang sebaliknya takkala Walikota Tanjungbalai seorang Ustad”. (Waspada)

Arti dari pernyataan diatas  adalah,kotaTanjungbalai sebagai negeri Islam harus tetap dipertahankan  dan harus dihormati semua pihak. Orang yang datang ke Kota Tanjungbalai harus menghomati budaya yang sudah ada. Adanya Lambang Umat lain yang lebih menonjol seperti patung Budha akan menghilangkan Citra sebagaikotaIslam.
Seandainya Patung itu tak diturunkan juga, berarti Muspida Tanjungbalai tidak punya harga diri. Tolong ditindaklanjuti persoalan ini supaya tidak terjadi SARA di Tanjungbalai ini. “Jika pihak Yayasan menyatakan tidak punya wewenang menurunkan patung itu, berarti mereka juga tidak memiliki niat baik untuk membina umat beragama diTanjungbalai sekaligus telah melawan pemerintah”(Waspada)

Kutipan diatas menekankan, Muspida yang tidak konsisten dengan janjinya untuk menurunkan patung tersebut dinilai  tidak punya harga diri. Sehingga jika persoalan ini tidak selesai, maka kemungkinan akan terjadi konflik SARA. Sedangkan sikap yayasan tidak menurunkan patung tersebut itu sebagai lambang perlawanan umat Budha kepada pemerintah.
“Patung yang berdiri di kota Tanjungbalai  harus diturunkan agar tidak mengganggu dan meresahkan umat Islam kota Tanjungbalai melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan. Untuk itu diminta Pemko Tanjungbalai harus bertanggungjawab untuk menertipkan semuan maksiat yang dapat mengganggu umat beribadah” (Berita Sore)
“Keberadaan patung Buddha Amitabha diatas bangunan Vihara Tri Ratna kota saat ini menimbulkan keresahan dan perdebatan yang panjang diantara umat beragama di kota Tanjungbalai. Untuk itu supaya memindahkan posisi patung Budha Amitabha yang berada di atas bangunan Vihara Tri Ratna kota Tanjungbalai ke tempat lain yang tetap terhormat tanpa mengurangi penghormatan terhadap keberadaan patung tersebut. Ini demi menjaga kerukunan umat beragama di kota Tanjungbalai. (Berita Sore)”

Dari  bebarapa pernyataan diatas, terlihat bahwa keberadaan patung Amithaba itu adalah dianggap sebagai satu bentuk  kemaksiatan  yang akan mengganggu kekhusukan umat Islam untuk menjalani bulan Suci Ramadhan. Supaya tidak terus menjadi sumber perdebatan antar umat, patung tersebut harus segera digeser ketempat lain.
“Kalau dalam perjanjian masalah patung ada kesan penekanan, seolah-olah bola salju akan semakin liar  jika   surat perjanjian tidak ditandatangani (SIB) ”
Adapun maksud dari pernyataan ini adalah dalan penurunan patung ini, pihak Vihara mendapat penekanan dari pemerintah Tanjungbalai dengan memaksa menandatangani perjanjian. Sehingga kalausurattidak ditandatangani kemungkinan  persoalan ini akan semakin besar dan pihak penuntut akan melakukan tindakan-tindakan yang semakin tidak terkendali.
Gerakan Islam Bersatu (GIB) menilai bahwa pihak Vihara Tri Ratna tidak mengindahkan nilai-nilai agama, adat istiadat dan citra umat Islam Kota Tanjung Balai yang ada selama ini. MUI meminta pemerintah agar segera menyelesaikan masalah patung tersebut agar kerukunan umat beragama tidak terkoyak koyak atau tercabik cabik, harmonis dan saling menghargai.(Tribun Medan)
                Dari kutipan tersebut,pihak GIB dan MUI menilai Jika  pihak Vihara tidak menurunkan patung Budha Amithaba, maka pihak Vihara telah melanggar adat istiadat dan nilai-nilai ke Islaman  di Tanjungbalai, hal ini akan membuat kerukunan beragama akan berantakan di Tanjungbalai.
Peristiwa tersebut membuat Umat Budha Kota Tanjung Balai tidak nyaman untuk melaksanakan ibadahnya bahkan merasa terintimidasi. Bahkan beberapa hari ini menyebar issu jika Umat Budha tidak menurunkan Patung Budha tersebut maka kemungkinan Peristiwa 1998 (penjarahaan dan tindakan pelanggaran HAM lainnya yang terjadi kepada Komunitas Tionghoa) akan terulang kembali. Informasi yang diperoleh, Patung Budha Amitabha akan diturunkan paling lambat tanggal 9 November 2010 (Tribun Medan )
Kutipan diatas menekankan, persoalan Patung Budha ini akan berakibat fatal yaitu jika patung Budha tidak diturunkan, kemungkinan kerusuhan Mei 1998 yaitu penjarahan dan pelanggaran HAM kepada Umat Tionghoa  Akan terulang kembali. Sehingga patung Budha harus diturunkan paling lambat awal September 2010.
Kutipan-kutipan berita diatas, adalah pemberitaan yang menganut prinsip narrative Intolerance yang membuat permasalahan diantara dua pihak yang berkonflik semakin benci satu sama lainnya. Sebab bilamana media terseret dengan sentiment SARA, yang muncul adalah sikap prasangka antar berbagai kelompok sosial. Dengan model pemberitaan seperti ini, tidak mustahil media massa sebagai”provokator”hingga dapat memperluas—timbulnya kesalahanpahaman antar golongan dalam masyarakat. Ini sejalan dengan asumsi bahwa media massa mempunyai kekuatan yang ampuh mempengaruhi khalayaknya.[2] Padahal secara normative mediamassa harus netral, tak lebih tak kurang dia adalah cermin realitas sosial yang bertugas merefleksikan apa yang terjadi dalam kehidupan sosial.

Sumber: http://kippas.wordpress.com/2011/10/17/jurnalisme-narrative-intolerance-dalam-liputan-isu-pluralisme-2/


[1] Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, Panduan bagi Jurnalis, LSPP Jakarta Jakarta tahun 2000 hal 86
[2] Dennis McQuail, Mass Communication Theory, 2nd edition, Baverly Hills, Sage Publication 1987, hal 55-57

Sunday, November 20, 2011

NAMA SAYA FATIMAH DAN SAYA AHMADIYAH

Rabu, 16 Nov '11 18:35

"Nama saya Fatimah dan saya Ahmadiyah," ucap perempuan berkerudung hitam itu dengan lugas. Tanpa ragu, dia dengan lantang menyebutkan identitasnya keyakinannya. Dalam sebuah forum kecil, sore ketika kabut turun kecoklatan di Puncak. Perempuan itu menarik perhatian dua puluh orang lain di forum. Suasana seketika ricuh dan dia tetap bicara. Tentang dirinya, tentang keyakinannya.
"Orang tua saya Ahmadi, dan saya Ahmadi sejak dalam kandungan," tuturnya.
Sebagian dari dua puluh itu geleng-geleng kepala, sebagian mengelus dagu yang tak berjenggot, keningnya mengerut menampakan tengah memikirkan sesuatu. Saya, dengan perasaan haru berkonsentrasi menangkap rautnya dalam kamera, dan ahhh rautnya yang manis membuat saya cemburu. Dia cantik dan pemberani.
Sore itu kali pertama pertemuan saya dengan Fatimah, kami berkenalan dan mengobrol banyak hal. Dia mahasiswa semester tiga jurusan Filsafat, Paramadina. Ternyata dia perempuan yang doyan mengobrol dan asyik untuk menjadi kawan berdiskusi. Tiga hari dalam sebuah forum pelatihan mengenai isu pluralisme kami mendiskusikan banyak hal, salah satunya perihal Ahmadiyah.
Mengapa Ahmadiyah?
Belakangan perhatian masyarakat sangat tercuri dengan isu Ahmadiyah, media nasional dengan sering memberitakan tentang Ahmadiyah, media sebagai sumber utama dalam penyebaran informasi, namun disayangkan media lebih sering memicu konflik dari pada meredam kesalahpahaman. Kenapa? sebab media lagi-lagi tidak memihak pada kaum minoritas (red:Ahmadiyah)
Ade Armando, salah seorang pengamat media mengatakan "bahwa media massa pada dasarnya memiliki peran penting dalam menentukan pengetahuan masyarakat."
Media cenderung menonjolkan perdebatan pemahaman tentang Ahmadiyah yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, adalah Al-Mahdi; tanda akhir zaman yang mendapatkan nubuwat atau ilham kenabian untuk menuntuk sebuah gerakan pembaharuan Islam. Bagi kelompok Islam tertentu, yang diyakini oleh jemaah Ahmadiyah dianggap sesat dan penodaan terhadap agama*.
Nah, disini media kerap memberitakan Ahmadiyah dengan bias. Ahmadiyah lebih sering diberitakan dengan menggunakan kata "sesat", yang lebih mengarah bahwa Ahmadiyah adalah non-Islam. Terlebih dengan diterbitkannya SKB tiga menteri yang anti Ahmadiyah. Dimana pada perkembangannya SKB menyulut berbagai konflik yang meresahkan.
Fatimah kecewa dengan sikap media, dengan pemerintah yang turut andil 'mengompori' publik lewat kebijakan yang inkonstitusional. Konflik Cikeusik, misalnya, begitu disayangkan mengapa sampai terjadi dan aparat diam saja?
"Sudah jelas kami dianiyaya tapi mereka (aparat) tetap saja menyalahkan kami," lanjutnya dengan pilu. Konflik yang terjadi di Cikeusik, memakan korban nyawa Ahmadi. Dan sampai sekarang kasusnya masih belum tuntas.
Perlahan Fatimah menghabiskan kopinya, sedang saya menyudut di sofa. Membayangkan betapa ahhh...tidak mudah menjadi seorang Ahmadi.
"Keimanan saya semakin diuji dan saya semakin mencintai agama saya," kata Fatimah diakhir percakapan.
Berbeda dengan Fatimah yang percaya diri menyebutkan identitasnya sebagai jemaah Ahmadi, Irma Nurmayanti, salah seorang mahasiswi dari Univeristas Mataram yang saya temui-lagilagi-dalam sebuah forum diskusi di Lombok bersikap sebaliknya. Dia begitu takut untuk bicara pada orang banyak bahwa dirinya adalah jemaah Ahmadiyah.
Peristiwa penyerangan/pengusiran jemaat Ahmadi yang brutal pada tahun 2002 membuat Irma trauma, suara-suara lemparan batu ke rumahnya pada malam yang naas itu membuat dia bungkam jika berbicara agama.
Pada hari ketiga pelatihan berlangsung, Irma akhirnya berani membuka suara "Ya, saya Ahmadi," ucap Irma terbata-bata. Suaranya tak jelas, kata-kata ditahannya di pikiran. Ia masih takut. Air matanya jatuh, wajahnya memerah seketika. Bayangan peristiwa malam itu masih terbayang.
Saya kembali kagum pada keberanian seseorang yang berani menyebutkan dirinya bahwa dia Ahmadi. Selama pelatihan berlangsung, Irma sudah mendengar komentar perserta lainnya berkomentar soal ini-itu tentang Ahmadiyah. Dia sedih, bahwa ternyata Ahmadiyah masih dianggap sesat. Dia juga senang, sebab dengan begitu dirinya bisa berdiskusi langsung.
Deru ombak Senggigi dari balik jendela di lantai dua terdengar eksotis, pasir putihnya berkilauan. Beningnya warna laut begitu cantik, dan...apakah suasana hati Irma, seperti laut itu? Terlihat tenang dan, ehmd saya melamun.

Sumber:  http://persma.com/baca/2011/11/16/nama-saya-fatimah-dan-saya-ahmadiyah.html#komentar