GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada
Showing posts with label Zakaria. Show all posts
Showing posts with label Zakaria. Show all posts

Monday, March 19, 2012

KONSEP KE AL MASIHAN

Karya Tulis           : Kenneth Moakan
Sumber                 : The Review of Religions, Januari 1988
Judul Asli              : Concept of Mesiah
Terjemah              :  Muharim Awaluddin Thailand

Sebagai seorang muslim saya tidak merasa pokok bahasan ini merupakan sesuatu yang asing, bahkan ia merupakan salah satu dari kepercayaan pokok orang Islam untuk mempercayai dan mengakui semua Nabi dari Tuhan dan konsep mengenai Al-Masih ada tersebut dalam kitab suci Al-Qur’an.

Konsep mengenai kedatangan seorang Al Masih (Messias) ini berlainan diantara tiga agama besar dunia Yahudi, Kristen dan Islam.  Dimana kaum Yahudi percaya bahwa Al Masih akan muncul, kaum Kristen percaya bahwa beliau akan muncul dalam wujud Yesus (Nabi Isa) dan akan muncul kedua kalinya pada akhir zaman untuk mengumpulkan umatnya dan menegakkan kerajaan Tuhan selamanya.  Kaum muslimin menganut kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Al Masih dan bahwa pada kedatangan beliau yang kedua, beliau akan datang sebagai seorang muslim dan akan menegakkan supremasi Islam dengan mengobarkan perang kepada mereka yang tak menerima Islam.  Beliau juga akan membunuh babi dan mematahkan salib.  Kepercayaan kaum muslimin berdasar kepada kesalah pahaman atas sabda-sabda Nabi suci Muhammad SAW.  Muslim Ahmadi sebaliknya percaya seperti halnya kaum Kristen dan Muslimin pada umumnya, tetapi memiliki konsep yang berbeda. Tentang kedatangan beliau yang kedua.  Perkara ini tidak akan di bahas dalam tulisan ini, tetapi di bahas berkali-kali sebelum ini dan dimasa mendatang. Insyallah dapat di bahas lagi untuk manfaat bagi para pencari kebenaran.

Agama-agama lain juga nampaknya ada aide-ide ke Al Masihan dalam sistem mereka.  Yang sedang di tawarkan di kalangan kaum Hindu tertentu bahwa Krisna adalah Messias (Al Masih) atau bahwa ajaran Krishna adalah apa yang kaum Kristen dakwahkan.  Pandangan ini juga dimiliki oleh beberapa golongan agama Budha.  Bahwa Buddha adalah pribadi yang sama dengan Yesus sedang di tonjolkan dan bahwa ajaran Kristen telah diambil secara harafiah dari kitab-kitab Buddha.

Zoroaster tidak mempercayai konsep ini dan menulis dalam Dasatir.  Susan I agung menubuatkan bahwa seorang nabi akan di bangkitkan di akhir zaman dan akan merupakan keturunan Persia dan bahwa keturunanya akan merujuk kepada kedatangan beliau yang ke II, sementara kaum Kristen dan Muslimin tidak ada satu bukti yang diajukan bahwa ada keturunan Yesus (Nabi Isa) yang mereka yakini sebagai Al Masih, tidak pula kaum Yahudi memiliki bukti-bukti itu.  Istilah Al Masih (Messias) seperti umumnya di pahami merujuk kepada seorang Nabi Agung yang akan menjadi orang pilihan Tuhan.

Gagasan kemunculan seorang Al Masih nampaknya telah menjadi bagian dari ajaran Yahudi sejak masa Musa as.  Sebab ada banyak nubuatan yang di tunjukkan oleh mereka dan juga oleh kaum Kristen dalam perjanjian lama yang dianggap sebagai kedatangan Nabi Agung yang menjadi Al Masih (Messias).  Nyatanya banyak ayat dalam perjanjian lama mengenai sifat seseorang yang Agung.  Pendeknya boleh dikatakan dengan aman, bahwa harapan kebangkitan bangsa Yahudi tergantung dengan kemunculan Al Masih.    Para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan berbagai ayat perjanjian lama untuk mempertimbangkan kebangkitan Al Masih dikalangan mereka dan yang akan meneguhkan keimanan mereka dan memimpin secara Herois.

Kepada ular Tuhan berfirman “dan aku akan mengadakan permusuhan diantaramu dan perempuan ini, dan diantara keturunanmu dan keturunannya.  Ia akan meremukkan kepalamu dan kamu akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Hasil yang keturunan perempuan itu akan dapatkan atas keturunan ular adalah menghancurkan kepalanya, sedangkan keturunan ular hanya berhasil menghancurkan tumitnya.  Perhatikan bahasa Ibrani yang di gunakan disini membawa makna ganda dan terbukti dari tergun bahwa ia berarti: “merusak, menggilas jadi debu dan menghancurkan”.  Ini telah di tunjukkan dalam kejadian 3:15 dimana digambarkan secara garis besar akibat konflik yang panjang antar keturunan perempuan dan keturunan ular setelah (peristiwa yang) di anggap kejatuhan manusia dari taman Eden.

Profesor Delitzsch mengatakan: “Hanya ketika kita menerjemahkan: Dia (keturunan perempuan) akan meremukkan kepalanya…", kalimat itu termasuk janji pasti kemenangan atas ular, karena ia menderita di perjalanan maut, mencoba menyelamatkan diri dan tenggelam dalam perjalanan adalah luka maut ( kejadian 49;17).  Hal ini di percayai sebagai nubuat terselubung dan bertujuan ke arah sejarah yang sedang bergerak.

Bahwa para cendekiawan Yahudi telah menafsirkan baris ini sebagai nubuatan Al-Masih sangat jelas dari Tergum Palestina yang menyatakan bahwa dalam kejadian 3:15 adalah janji  penjagaan terhadap gigitan ular pada akhir zaman, di masa raja Al Masih.

Pokok bahasan kejadian 3:15 diulas dalam Tergum Palestina dengan pernyataan tambahan sbb: “ memang demikian bagi mereka akan jadi suatu obat, dan mereka akan menjadikan penyembuhan untuk tumit itu pada masa raja Meshiha".

Rujukan yang di buat di sini adalah kepada Al Masih yang akan menyembuhkan mereka dari penyakit dan mengembalikan mereka pada kesucian sejati, yang mereka percayai telah ada sebelum kejatuhan.  Midrash Palestina (Beresith rabba XII) menyatakan:  “Tiap-tiap sesuatu yang Tuhan ciptakan sejak semula sempurna, manusia berdosa telah menjadi korup dan tidak kembali pada keadaan semula hinga putra perez (yakni menurut kejadian 38:29, Ryth 4:18; Al Masih berasal dari suku Yudah) datang”.  Penafsiran ini menjadikan Al Masih pembaharu dan membawa satu dunia yang sesat kepada Tuhan.

Istilah rabbi Al Masih adalah M’nahem dan tanpa keraguan berdasarkan pada ratapanYeremia seperti yang terdapat pada pasal 1:2, 9, 17 & 21.  Di sini Nabi Yeremia meratapi keadaan Zion yang tersia-sia dan tak seorang pun membawa ketentraman dan keselamatan kepadanya.

Penghibur atau Juruselamat ini dikutip dalam Ulangan 28:1-14 dan dalam Yesaya pasal 51 & 52 dan yang di percaya sebagai Messias.  Satu ayat lain yang di gunakan adalah dari Yesaya yang terbaca: “Maka Tuhan sendiri yang akan memberimu suatu tanda; lihatlah anak dara akan hamil dan melahirkan seorang putra; dan akan di beri nama Immanuel”. (Yesaya 7:14).

Immanuel bermakna Tuhan bersama kita.  Dari hal ini di tunjukkan, bahwa seorang yang telah di nubuatkan akan di kuatkan (dibantu) oleh Tuhan.  Dikalangan bangsa Ibrani ada adat kebiasaan anak-anak diberi nama untuk memperingati beberapa peristiwa bermakna atau karya-karya agung Tuhan dengan harapan bahwa anak itu boleh dipengaruhi oleh namanya dan sampai pada ketinggian yang diharap.
Contohnya:
  1. ·         Yesaya bermakna: Tuhan telah menyelamatkan
  2. ·         Yeremia bermakna: Tuhan menguatkan
  3. ·         Zefannya bermakna: Tuhan menyembunyikan
  4. ·         Zakaria bermakna: Tuhan telah mengingat
  5. ·         Zehezkiel bermakna: Tuhan adalah kuat
  6. ·         Daniel bermakna: Tuhan adalah hakimku
  7. ·         Yoel bermakna: Tuhan adalah Allah


Diharapkan bahwa anak-anak yang menyandang paling tidak mencontohkan sifat-sifat baik dari nama-nama itu.  Tak seorang pun merasa berhak mengatakan bahwa karena seorang menyandang nama Daniel yang bermakna “Tuhan adalah hakimku” atau seseorang bermakna Yoel yang berarti “Tuhan adalah Allah”, maka semua yang bernama Yoel adalah Tuhan.  Maka nama Immanuel secara sederhana merupakan suatu ekspresi harapan bahwa Tuhan bersama hamba-hamba-Nya dan akan melindungi dan menolong mereka.

Dipercaya bahwa fungsi Al Masih terkutip dalam Yesaya 53.  Dengan suatu cara  Musa as menubuatkan tentang seseorang pembawa hukum yang lebih besar dari pada beliau sendiri (Ulangan 18:18); Yeremia menubuatkan seorang Juru Selamat yang lebih agung dari pada yang membawa Bani Israil keluar dari Mesir (Yeremia 23:7-8); Yehezkiel telah merujuk pada suatu Rumah Ibadah yang lebih mulia dari pada biara (kuil) Sulaeman (Yehezkiel 40-48).  Maka seluruh sejarah Israil dipercayai merupakan hal yang biasa.

Penjelasan rabbi dan Yesaya 7:14 biasanya adalah bahwa hal itu digenapi dengan kelahiran Hezekiah.  Kedudukan ini begitu menarik dalam hal yang menunjukkan anak yang berasal dari keturunan Daud, dari pusat Yerusalem yang mempunyai kekuasaan seperti di gambarkan dalam pasal 11 dan 12.  Lebih lanjut dalam hal Yesaya 8:8 di katakana bahwa tanah Immanuel adalah Palestina, yang pernyataan dalam hubungan ini dianggap berasal dari Daud dan kekuasaan kerajaannya.  Komentar-komentar lain menetapkan Immanuel sebagai putra ke-dua Yesaya, Maher-Shalal-hash-baz. Dalil menguntungkan untuk kedudukan ini adalah kedudukan Maher-Shalal-hash-baz dicatat dalam pasal berikutnya dan bahwa ramalan mengenai anak itu sangat serupa dengan peringan mengenai putra nabi.

Yesaya pasal 7:12 telah disebut Kitab Immanuel.  Al Masih yang akan datang itu menduduki posisi sentral dalam kitab suci bagian ini yang merupakan konsep kaum Yahudi.  Prof. Delezch dalam komentarnya atas Yesaya 7:14 telah mengatakan bahwa “ itulah Al Masih Nabi yang di sini dikatakan akan lahir, maka dalam pasal 9 adalah kelahiran dan dalam pasal 11 adalah tiga tahap kekuasaan yang tak terpatahkan, tiga bentuk kejayaan, menerangi tiga tingkat yang dalam sejarah masa depan umatnya terbagi sendiri menurut pandangan Nabi itu”.

Yesaya 59 adalah salah satu dari pasal-pasal yang dipercayai dan ditafsirkan sabagai berisi dalil kedatangan Al Masih dan bahwa kemunculan beliau akan disiarkan ketika bangsa Israil secara keseluruhan tenggelam dalam kancah dosa dan kekafiran.  Dari ayat-ayat yang lain di percayai bahwa pada masa itu Israil akan sangat menderita lebih dari yang mungkin terbayang.  Meramalkan keadaan dan melukiskan penderitaannya, Yesaya menjadikan Zion seperti seorang wanita yang ditinggalkan atau seperti rata dengan tanah yang untuknya beliau mengharapkan bangkitnya dan menyambut juru selamat yang lama diharapkan.

Ayat-ayat yang menuntun pada semua pandangan dari Al Masih penakluk (Yesaya 59:15 -21) dan Nabi yang mengembalikan kemuliaan Zion (Pasal 60:1-3), mengumpulkan kembali Israil (4-9) kedudukan Zion ini di bawah pemerintahan Al Masih (10-14) dan pemulihan suasana Eden atas Yerusalem dalam (ayat 15-22).  Dari ayat-ayat ini dan lain-lain dipercayai bahwa Al Masih (Messias) di jadwalkan akan datang di Zion dan akan menegakkan kerajaannya,  mengembangkan kekuasaannya sampai keseluruh dunia.

Walaupun konsep kedatangan Al Masih telah proyeksikan telah di gambarkan oleh berbagai sarjana dan kitab-kitab perjanjian lama, hal itu tidak terjadi hingga dua ayat terakhir perjanjian lama (Maleakhi 4: 5-6) bahwa konsep Al Masih telah mendapatkan momentum.  Di sini dinyatakan bahwa Elia (Nabi Ilyas as) akan muncul (datang) sebelum kedatangan Tuhan.  Tetapi boleh dicatat bahwa penampakan kebesaran Tuhan diberikan untuk tiga kali penampakan: Sekali di Sinai, kemudian di Seir dan terakhir di Paran (Ulangan 33:2).  Nubuatan dalam Ulangan 18:18 menyebabkan sebagian orang Yahudi berpindah dan menetap di Arabia yang di dalamnya terletak Paran dimana di sebutkan bahwa penampakan kekuasaan dan kebesaran Tuhan yang ke tiga terjadi dalam harapan penggenapan impian mereka.

Kepercayaan bahwa Elia naik kelangit (2 Raja-raja 2:11), kaum Yahudi pada masa itu percaya bahwa beliau akan kembali akhirnya dan mereka dengan penuh hasrat mengharapkan dan menantikan beliau boleh di ingat bahwa kaum Yahudi mengharap kedatangan tiga wujud: Elia, Al Masih (Kristus) dan Nabi Itu.  Ini merupakan bukti dari kenyataan, bahwa ketika Yesus memberitakan kepada kaum Yahudi, mereka sangat curiga dengan dakwah-dakwah beliau.  Sebagian murid memberanikan diri bertanya kepada Yesus mengenai keberatan kaum Yahudi, maka mereka menanyai beliau: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”.  Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan aku berkata kepada mu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukan menurut kehendak mereka.  Demikian juga anak manusia akan menderita oleh mereka”.  Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa ia berbicara tentang Yohanes pembabtis” (Matius 17:10-13).

Sampai hari ini kaum Yahudi masih menunggu kedatang Al Masih mereka sampai pada tahap, bahwa salah satu doa mereka yang di panjatkan sesudah makan, adalah Tuhan akan menjadikan mereka berharga untuk dapat menerima Al Masih.
Dan akhir seruan kita adalah: SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEKALIAN ALAM!

Sumber: EBK, No.63 TahunVI, Agustus 2002/Zuhur 1381, h.25-31

Sunday, November 27, 2011

YESUS DI INDIA (5)


Doa Yesus as. Agar Di Selamatkan Dari Cobaan
Di antara kesaksian yang membuktikan Yesus a.s. diselamatkan dari kematian di atas kayu salib adalah narasi Injil Matius pasal 26 ayat 36 sampai 46 yang menjelaskan bahwa beliau setelah mendapat informasi melalui wahyu tentang mendekatnya waktu penangkapan dirinya, beliau berdoa kepada Tuhan sepanjang malam itu dengan sujud dan berlinang air mata. Doa yang diajukan dengan kerendahan hati demikian tidak mungkin tidak dikabulkan oleh Tuhan karena doa mereka yang dikasihi Tuhan yang dikemukakan saat dalam percobaan tidak mungkin ditolak. Bagaimana mungkin doa Yesus yang dilakukan sepanjang malam dengan hati yang pedih dan galau lalu ditolak oleh Tuhan? Yesus a.s. pernah mengatakan bahwa ‘Bapa yang di sorga selalu mendengarkan aku.’(Yohanes 11:41, 42)  Karena itu jika ada yang mengatakan bahwa doa beliau yang diutarakan dalam saat kegalauan tidak dikabulkan, bagaimana kita akan mengatakan bahwa Tuhan mendengar doa-doa beliau? Injil juga menunjukkan bahwa Yesus a.s. merasa yakin kalau doa beliau telah diterima karena meyakininya.  Itulah sebabnya ketika beliau ditangkap dan dinaikkan ke kayu salib dimana beliau melihat keadaannya jauh di luar harapannya, beliau tidak sengaja berteriak ‘Eli, Eli, lama sabakhtani’ yang berarti ‘Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ (Matius 27:46)  Beliau tidak memperkirakan bahwa keadaannya akan mendjadi demikian gawat sedangkan beliau meyakini doanya telah didengar Tuhan.

Rujukan-rujukan dari Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus amat yakin kalau doanya didengar dan diterima Tuhan, bahwa permohonan beliau yang diajukan sepanjang malam dengan berlinang air mata tidak akan percuma, sebagaimana beliau sendiri mengajarkan kepada para murid ‘Apa saja yang kamu minta dan doakan . . . maka hal itu akan diberikan kepadamu.’ (Markus 11:24)
Yesus juga mengemukakan perumpamaan tentang seorang hakim yang tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati seorang pun. (Lukas 18:2 – 7).  Tujuan perumpamaan itu agar para murid mengetahui bahwa Tuhan selalu menjawab doa-doa.

Meskipun Yesus a.s. mengetahui berdasarkan wahyu Allah s.w.t. bahwa beliau akan menghadapi cobaan yang berat, namun sebagai orang yang saleh, beliau berdoa karena meyakini tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya dan Tuhan-lah yang menentukan apakah sesuatu akan terjadi atau tidak. Jadi kalau kita mengatakan bahwa doa Yesus a.s. ditolak maka hal itu akan menggoyahkan keimanan para murid beliau. Apakah mungkin Tuhan akan menampakkan kepada para murid itu contoh yang bersifat destruktif terhadap keimanan mereka?  Kalau mereka melihat bahwa doa seorang nabi besar seperti Yesus yang diajukan sepanjang malam dengan hati yang menggelora ternyata tidak diterima maka hal itu akan merusak keimanan mereka. Karena itu tidak bisa tidak, Tuhan telah mengabulkan doa Yesus yang diajukan di taman Getsemani tersebut.

Berkaitan dengan keadaan tersebut, ada pokok permasalahan lain.  Sebagaimana ada persepakatan untuk membunuh Yesus oleh para pendeta dan ahli kitab yang berkumpul di istana Imam Besar Kayafas, begitu juga dahulunya ada persepakatan untuk membunuh nabi Musa a.s.  Hal yang sama juga terjadi di zaman Rasulullah s.a.w dimana terjadi persepakatan di tempat yang bernama Dar-ul-Nadwa untuk membunuh beliau. Nyatanya Tuhan yang Maha Kuasa telah menyelamatkan kedua nabi tersebut. Persepakatan membunuh Yesus terjadi di dalam periode di antara kedua nabi tersebut. Lalu pantaskah mengatakan bahwa Yesus tidak diselamatkan sedangkan beliau berdoa demikian khusuknya. Mengapa doa Yesus tidak akan didengar Allah s.w.t. yang selalu mendengar orang-orang yang dikasihi-Nya dan selalu menggagalkan rencana orang-orang jahat?

Semua orang saleh menyadari berdasarkan pengalaman bahwa doa orang teraniaya dan terpuruk selalu dikabulkan. Justru saat cobaan itulah bagi seorang saleh merupakan tanda baginya dari Tuhan.  Aku pun punya pengalaman pribadi mengenai hal ini. Dua tahun yang lalu ada tuduhan pembunuhan yang dilontarkan atas diriku oleh seorang Kristen bernama Dr. Martin Clark yang tinggal di Amritsar, Punjab, melalui pengadilan di Distrik Gurdaspur yang menyatakan bahwa aku telah mengutus seseorang bernama Abdul Hamid untuk membunuh doktor tersebut. Dalam kasus ini aku harus menghadapi persepakatan orang-orang dari tiga komunitas yaitu Kristen, Hindu dan Muslim yang mencoba dengan segala cara untuk membuktikan bahwa aku telah melakukan pembunuhan.

Umat Kristiani memusuhi aku karena aku dianggap sedang mencoba membebaskan manusia dari doktrin yang salah tentang Yesus – dan memang aku masih terus melaksanakannya dan kasus ini merupakan perlakuan pertama mereka kepadaku. Adapun umat Hindu memusuhi aku karena aku telah menubuatkan kematian salah seorang mereka bernama Pandit Lekh Ram, dengan persetujuan yang bersangkutan, dimana nubuatan itu terpenuhi dalam kurun waktu yang ditentukan - sebagai tanda yang menakutkan dari Tuhan.  Begitu juga para ulama Muslim memusuhi aku karena aku menentang kedatangan Al-Masih yang haus darah dan menolak konsep Jihad menurut mereka.

Jadi, beberapa tokoh penting dari ketiga komunitas itu berunding bersama untuk membuktikan tuduhan pembunuhan yang dikenakan kepada diriku, agar aku dipenjara atau dihukum gantung.  Dipandangan Allah s.w.t. mereka itu menjadi orang-orang yang aniaya.  Tuhan telah memberitahukan hal ini kepadaku sebelum saat perundingan rahasia mereka. Tuhan telah memberitahukan juga akan kelepasanku dari pengadilan. Wahyu-wahyu dari Tuhan ini diumumkan sebelumnya kepada ratusan orang. Setelah turunnya wahyu tersebut, aku berdoa ‘Ya Allah, lepaskanlah aku dari cobaan ini’ dan Tuhan memberitahukan bahwa Dia akan menyelamatkan aku dan membebaskan aku dari tuduhan yang dilontarkan kepadaku. Wahyu ini disampaikan kepada lebih dari tigaratus orang dimana banyak yang masih hidup sekarang. Yang terjadi adalah musuh-musuhku itu mengajukan saksi-saksi palsu ke pengadilan dan hampir berhasil ‘membuktikan’ tuduhan mereka.

Ternyata yang terjadi adalah diungkapkannya fakta-fakta kasus tersebut oleh Tuhan dengan berbagai cara kepada hakim yang menangani yaitu Captain W. Douglas, Deputi Komisaris dari Gurdaspur. Menurut yang bersangkutan kasus itu palsu. Ia mengabaikan si doktor yang juga pendeta misionaris Kristen dan rasa keadilan yang dimilikinya telah menuntunnya untuk membatalkan tuntutan tersebut. Dengan demikian apa yang aku maklumkan kepada ratusan orang tentang kelepasanku menurut wahyu samawi telah terbukti. Padahal hal-hal yang mengikuti kejadian tersebut cenderung berbahaya. Hal mana telah menguatkan keimanan banyak sekali orang lain.

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali. Ada beberapa tuduhan sejenis dan tuntutan-tuntutan kriminal dilontarkan kepadaku melalui pengadilan, tetapi sebelum aku sempat dipanggil, Allah s.w.t. telah memberitahukan kepadaku sumber dan akhir perkara, dan dalam setiap kasus tersebut aku selalu diberi kabar gembira mengenai kelepasanku.

Yesus as. Lepas Dari Kematian Yang Menghinakan
Yang tersirat dari sini adalah bahwa Allah yang Maha Kuasa tidak diragukan pasti menerima doa apalagi ketika hamba-Nya yang benar datang mengetuk pintu-Nya. Dia yang Maha Kuasa menyelesaikan keluhan mereka dan membantu mereka dengan cara-cara yang aneh.  Mengenai ini, aku sendiri adalah saksinya. Lalu bagaimana mungkin doa Yesus a.s. yang diutarakan dengan begitu memilukan, tidak akan diterima oleh Tuhan? Tidak mungkin. Allah s.w.t. telah menyelamatkan beliau. Dia telah menciptakan situasi di langit dan di bumi untuk menyelamatkan beliau. Yahya Pembaptis tidak memiliki waktu untuk berdoa karena akhir hayatnya telah tiba. Tetapi Yesus mempunyai waktu satu malam penuh untuk berdoa dan beliau menghabiskan malam itu dengan berdoa, baik berdiri maupun bersujud di hadapan Tuhan-nya, karena Tuhan membukakan kepada beliau untuk mengutarakan kegalauan hatinya dan meminta kelepasan dari-Nya karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.  Karena itu Tuhan sejalan dengan kodrat abadi-Nya telah mendengar doa beliau. Orang-orang Yahudi itu telah melontarkan hujatan ketika mereka menyalib Yesus dengan mengatakan ‘kalau ia menaruh harapannya kepada Allah, baiklah Allah menyelamatkan dia . . .’(Matius 27:43).   Nyatanya Tuhan telah menihilkan rencana orang-orang Yahudi itu dan menyelamatkan Messiah kekasih-Nya dari salib dan dari kutukan yang menyertainya. Orang-orang Yahudi itu telah gagal. Dari beberapa kesaksian Injil yang sampai kepada kita antara lain adalah:
Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua ini akan ditanggung angkatan ini.’(Matius 23:35 – 36)

Kalau kita renungkan ayat di atas, kita akan menyimpulkan bahwa Yesus a.s. menyatakan kalau pembunuhan para nabi oleh orang Yahudi akan berakhir dengan pembunuhan nabi Zakharia, setelah itu mereka tidak lagi akan bisa membunuh seorang nabi. Ayat ini merupakan nubuatan akbar yang menunjukkan bahwa Yesus a.s. tidak wafat di kayu salib, beliau malah diselamatkan dan kemudian wafat secara alami. Jika kiranya Yesus harus mengalami kematian di tangan umat Yahudi seperti nabi Zakharia, tentunya beliau akan menyiratkan dalam perkataannya itu.

Jika ada yang memaksakan pandangan bahwa Yesus memang terbunuh oleh orang-orang Yahudi namun tidak menjadi dosa bagi orang Yahudi itu mengingat kematian Yesus dianggap sebagai penebusan, maka pandangan demikian tidak ada dasarnya karena dalam Injil Yohanes 19:11 jelas dikatakan kalau umat Yahudi telah melakukan dosa besar dengan berusaha membunuh Yesus. Begitu juga di beberapa tempat lain diisyaratkan dengan jelas akan adanya hukuman dari Tuhan atas kejahatan mereka terhadap Yesus. (Matius 26:24)   Kesaksian Injil lainnya yang sampai kepada kita adalah penuturan
Matius:
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai raja dalam kerajaannya.’ (Matius 16:28).

Begitu juga ayat dalam Injil Yohanes:
Jawab Yesus: Jikalau aku menghendaki supaya ia (murid bernama Yohanes) tinggal (yaitu di Yerusalem) sampai aku datang, itu bukan urusanmu.’ (Yohanes 21:22).
Arti dari ayat di atas adalah ‘Kalau aku mau, Yohanes belum akan mati sebelum aku kembali.’ Dari situ jelas kalau Yesus telah berjanji bahwa beberapa orang akan berumur panjang sampai beliau kembali dimana salah satu antaranya bernama Yohanes (Yahya). Janji tersebut pasti dipenuhi.  Sejalan dengan itu, bahkan umat Kristiani pun mengakui jika janji tersebut telah terpenuhi yaitu Yesus akan kembali ketika beberapa orang dari masa itu masih hidup. Dengan demikian nubuatan itu telah dipenuhi sesuai dengan janji beliau.

Ayat itulah yang dijadikan basis pernyataan para rohaniwan Kristiani bahwa Yesus sesuai janji beliau telah datang ke Yerusalem pada saat kehancuran kota itu dan bahwa Yohanes bertemu beliau karena saat itu ia masih hidup. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa umat Kristiani tidak ada mengatakan kalau Yesus turun dari langit bersama tandatanda yang mengiringi. Mereka mengatakan bahwa beliau terlihat oleh Yohanes sebagai penampakan untuk memenuhi nubuatan di Injil Matius pasal 16 ayat 28 itu. Menurut hematku, kedatangan seperti itu tidak memenuhi nubuatan yang ada. Cara demikian merupakan penafsiran yang amat lemah hanya untuk menghindari kesulitan akibat kritik yang dilontarkan orang tentang posisi beliau itu.  Penafsiran demikian itu sangat lemah dan tidak mempunyai dasar yang kuat sehingga rasanya tidak perlu menyangkalnya karena kalau yang dimaksud adalah Yesus akan muncul dalam bentuk mimpi atau penampakan, maka nubuatan seperti itu tidak masuk akal. (Aku telah membaca penafsiran beberapa ulama Islam tentang Matius 16:28 yang lebih tidak masuk akal dibanding penafsiran umat Kristiani. Menurut para ulama itu, adalah tanda kedatangan kembali Yesus ketika beberapa orang dan seorang murid bel i au dari masa tersebut masih dalam keadaan hidup.  Mereka menganggap bahwa murid tersebut akan tetap hidup sampai sekarang ini karena Messiah belum jug a datang. Mereka menganggap bahwa murid tersebut sedang bersembunyi di salah satu gunung menunggu kedatangan kembali Messiah).  Dengan cara demikian itu juga dikatakan Yesus tampak kepada Paulus, lama sebelum kejadian tersebut.