GOLDEN WORDS

Akar Segala Kebaikan Adalah Taqwa, Jika Akar Itu Ada Maka Semuanya Ada

Friday, November 25, 2011

YESUS DI INDIA


PRAKATA
Yesus di India merupakan terjemahan dari Masih Hindustan Mein
dalam bahasa Urdu yang ditulis oleh pendiri Jemaat Ahmadiyah yaitu
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835 - 1908).
Pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku tersebut adalah
kelepasan Yesus dari kematian yang terkutuk di atas kayu salib serta
perjalanan beliau setelah itu ke India dalam rangka mencari sukusuku
bangsa Israel yang hilang agar dapat dikumpulkannya dalam
satu kandang sebagaimana dikemukakan dalam Perjanjian Baru.
Untuk memperjelas tema yang dikemukakan, banyak bukti-bukti
yang diajukan yang bersumber dari kitab-kitab suci Kristiani mau pun
Muslim, buku-buku medikal/ketabiban kuno, termasuk juga naskah
kuno agama Buddha.
Memulai perjalanannya dari Yerusalem melewati Nisibis dan Iran,
Yesus kemudian sampai di Afghanistan dimana beliau bertemu dengan
umat Yahudi yang bermukim di negeri itu setelah kebebasan mereka
sebagai tawanan raja Nebukadnezar. Dari Afghanistan, Yesus
kemudian ke Kashmir dimana juga bermukim beberapa suku bangsa
Israel. Beliau sendiri kemudian bermukim di negeri ini sehingga
wafatnya. Makam beliau telah ditemukan di jalan Khan Yar di kota
Srinagar.
Di bagian yang membahas bukti-bukti yang diambil dari naskahnaskah
Buddha, Hazrat Ahmad a.s. sudah berhasil menjawab
pertanyaan yang sudah sekian lama membingungkan banyak penulis
Barat. Para penulis itu bingung melihat banyaknya persamaan ajaran
di dalam agama Kristen dengan agama Buddha, serta dalam catatan
riwayat hidup Yesus dan Buddha sebagaimana dikemukakan dalam
kitab suci mereka masing-masing.
Beberapa orang dari penulis itu berpandangan bahwa agama Buddha
dengan satu dan lain cara telah mencapai Palestina dan oleh Yesus
diasimilasikan ke dalam ajaran-ajaran beliau sendiri. Jelas mengenai
hal ini tidak ada bukti historikal sama sekali yang mendukung teori
mereka itu. Seorang kelana/petualang Rusia bernama Nicolas
Notovitch pernah tinggal cukup lama bersama beberapa pendeta Lama
di Tibet dan menterjemahkan beberapa naskah mereka untuknya. Dia
menyimpulkan bahwa Yesus pernah ke Tibet sebelum penyaliban dan
kembali ke Palestina setelah menyerap ajaran-ajaran agama Buddha.
Ini adalah pernyataan yang tidak didukung bukti historis yang dapat
diandalkan. Hazrat Ahmad a.s. menyangkal pandangan tersebut dan
menyatakan Yesus datang ke India setelah penyaliban dan bukan
sebelumnya, dan bukan Yesus yang meminjam ajaran-ajaran Buddha,
justru para penganut Buddha itulah yang telah mereproduksi
kandungan Injil ke dalam kitab-kitab mereka sendiri.

Menurut Hazrat Ahmad a.s., ternyata Yesus juga berkunjung ke Tibet
dalam kelananya di India dalam rangka mencari suku-suku bangsa
Israel yang hilang. Beliau menyampaikan ajaran-ajarannya kepada
para pendeta Buddha, antara lain karena mengetahui sebagian dari
mereka adalah umat Yahudi yang telah beralih agama. Para penganut
agama Buddha tersebut sangat terkesan dengan ajaran-ajaran beliau
dan menganggap beliau sebagai manifestasi Buddha dan Sang Guru
yang Dijanjikan. Dengan keyakinan kepada beliau sebagai Guru,
mereka kemudian mencampurkan ajaran-ajaran Yesus ke dalam
naskah kitab-kitab mereka sendiri dan menyatakannya sebagai ajaran
Buddha. Cukup banyak bukti yang mendukung pandangan ini dalam
naskah-naskah kuno agama Buddha.
Masih Hindustan Mein ditulis dalam tahun 1899 dan buku itu menjadi
tanda berakhirnya era dimana selama berabad-abad umat Kristiani
mau pun Muslim meyakini kenaikan Yesus ke langit. Karena buku ini
merupakan buku pertama yang mengupas subyek itu secara rasional,
maka buku tersebut menghasilkan dampak yang luar biasa.
Agumentasi-argumentasi buku itu disiarkan luas dan dalam setengah
abad yang lalu ini telah mencapai keberhasilan besar dalam
menanggalkan sifat ketuhanan Yesus yang salah dan menyampaikan
beliau sebagaimana adanya, yaitu seorang nabi Tuhan.

Di kalangan umat Islam, pengaruhnya begitu besar sehingga Rektor
Universitas Al-Azhar di Mesir mengeluarkan Fatwa yang menyatakan
bahwa berdasarkan Al-Quran, nabi Isa a.s. telah wafat secara wajar.
Adapun pengaruhnya pada umat Kristiani juga amat terasa.
Sebagaimana dikemukakan dalam Kata Pengantar dan juga di bagian
akhir buku, Hazrat Ahmad a.s. semula bermaksud menulis bagian
keduanya berisi evaluasi komparatif ajaran Islam dan Kristen dengan
bukti-bukti kuat yang menjelaskan kebenaran Islam serta pengakuan
beliau sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan (Masih Maud), disamping
beberapa bukti tambahan mengenai perjalanan Yesus di India.
Meskipun tidak ada buku lain yang diberi judul sama, tetapi
sebenarnya Hazrat Ahmad a.s. telah membahas semua permasalahan
ini dalam buku-buku lain, khususnya berkaitan dengan kebenaran
Islam, pengakuan beliau sendiri sebagai Masih Maud dan mengenai
hal wafatnya Yesus.
Terjemahan ke bahasa Inggris dilakukan oleh Qazi Abdul Hamid,
mantan editor mingguan The Sunrise, Lahore, dimana karangan ini
diterbitkan secara serial dalam tahun 1938 - 1939. Pertama kali
diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1944 oleh Nashr-o-Ishaat,
Sadr Anjuman Ahmadiyya, Qadian.
Disamping mereka yang telah membantu dalam produksi buku ini,
terima kasih kami kepada Mr. Maulud Ahmad Khan, mantan Imam
Mesjid London yang telah bersusahpayah mengumpulkan kutipankutipan
dari buku-buku aslinya yang relevan dengan rujukan yang
dikemukakan Hazrat Ahmad a.s. dalam mendukung thesis beliau.
Kutipan-kutipan itu disertakan dalam buku ini dalam bentuk
Apendiks.
Vakil-ut-Tabshir, Tahrik Jadid,
Rabwah, Pakistan
Mei 1962

Monday, November 21, 2011

US Looks at Asian Faith Problems



US looks at Asian faith problems thumbnailProblems faced by people of religious faith in Myanmar, Indonesia, North Korea, China and Vietnam were highlighted at a US congressional hearing last week.
In Myanmar, Buddhist monks had been imprisoned for opposing the regime, said Benedict Rogers, East Asia team leader of Christian Solidarity Worldwide.
The Muslim Rohingyas also faced persecution there and a Christian church had come under attack in Kachin state, he told a House of Representatives sub-committee on human rights.
“There is some talk of change. However, as long as the regime holds Buddhist monks and other prisoners of conscience in jail, attacks civilians in the ethnic states, and violates religious freedom, the United States should maintain pressure,” he said.
Rogers also told the committee of attacks on the Ahmadiyya Muslim community and on Christian churches in Indonesia, and noted that “serious concerns exist over the rule of law”.
There is complete absence of religious freedom in North Korea, he added, urging the United States to increase pressure on China to stop forcibly repatriating North Korean refugees, some of whom are Christians and who, when returned to North Korea, “face severe penalties and violations.”
On China, Rogers highlighted the cases of jailed Christians such as Pastor Shi Enhao and Alumijiang Yimiti. He added that proposed amendments to the law effectively legalizing forced “disappearances,” were a cause for serious concern.
Religious freedom in Vietnam remains “fragile,” Rogers told the committee.


Read original post here: US looks at Asian faith problems
http://www.cathnewsindia.com/2011/11/21/us-looks-at-asian-faith-problems/


TEROR PANJANG DI SUKADANA (2)


Sejak tahun 2005 warga Ahmadiyah di Desa Sukadana mengalami kekerasan. Rumah-rumah dan masjid dibakar. Kekerasan tidak juga berhenti.
 
Masjid Neglasari dengan baliho SKB 3 Menteri
Udara dingin mulai menyergap. Malam baru pukul 19.00. Warga Desa Sukadana, Cianjur, mulai bersiap salat tarawih di masjid Kampung Neglasari. Suasana sepi. Hanya suara jangkrik dan desau pepohonan. Dalam suasana setenang ini, dalam beberapa bulan terakhir penyerangan terhadap warga Ahmadiyah terus terjadi.
Pada 20 September 2005, dalam serangan satu malam, 70 rumah dan 6 masjid dibakar di empat kampung yang berdekatan. Setelah penyerangan di Cikeusik, Pandeglang, Banten, pada 6 Februari 2011, pengawasan makin ketat. Maret 2011 Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, didukung Gerakan Islam Reformis (Garis) memasang dua buah baliho setinggi empat  meter di depan seluruh masjid Ahmadiyah di wilayah itu. Satu berisi Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yang anti-Ahmadiyah dan satu lagi pernyataan 12 butir Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Pemasangan ini menandai bertambahnya kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di Sukadana, Kecamatan Campaka.
Mulai Maret hingga Juli 2011, masjid dipinjam untuk menggelar pengajian, dengan menghadirkan massa dari luar desa. Ade Ruspandi menyatakan ada surat instruksi resmi dari kepala desa bahwa setiap Jumat dan malam Senin diadakan tabligh akbar.
Kiai dan perangkat desa aktif memobilisasi warga. Ruspandi menyatakan Kepala Desa Sukadana Mawan Karmawan giat sekali menggerakkan massa. Rumah Mawan sekitar satu kilometer dari Neglasari. Ia paling keras menentang Ahmadiyah.
Pengajian berisi hujatan terhadap warga Ahmadiyah. Para kiai menuduh warga Ahmadiyah, terutama di daerah, hanya menjadi korban kebohongan para pemimpinnya. Teror kian mencekam warga Ahmadiyah. Kata-kata “bunuh”, “cincang”, “kafir” menyebar sepanjang ceramah. Awalnya beberapa anggota Ahmadiyah ikut pengajian itu. Lama-lama mereka tak tahan dan memilih meninggalkan masjid.
Puncaknya, Sabtu 9 Juli 2011, sebuah tabligh akbar digelar di Kampung Cilimus untuk peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Penceramah dari luar Cianjur, secara terang-terangan memprovokasi warga untuk mengusir warga Ahmadiyah.
“Apabila tidak dituruti, diperbolehkan untuk dibinasakan jiwanya dan dirusak harta bendanya, karena menurut penceramah tersebut, orang Ahmadiyah jelas kafir, murtad dan sesat,” kata Ruspandi.
Madrasah dibakar pada akhir 2010
Ruspandi menceritakan beragam teror: rumah-rumah dibakar dan dijarah, dipersulit dalam urusan administrasi seperti pembuatan KTP, akta lahir, surat nikah, hingga pengurusan haji. “Semua urusan itu harus langsung ke kepala desa. Biasanya harus kasih uang lebih banyak. Kalau nggak gitu, surat nggak keluar.”
Sabotase matapencaharian warga Ahmadiyah pun dilakukan. Seorang kiai rajin berkhotbah “haram berbisnis dengan orang Ahmadiyah”. Beberapa warga yang membuka usaha keripik singkong merasakan dampaknya saat para pengecer sungkan mengambil dagangannya.
Rangkaian kekerasan ini, beserta aktor-aktor penggerak di lapangan, tak pernah diusut tuntas dan ditangkap.
 
Matahari mulai meninggi. Beberapa anak yang mengantar kami berlari dan melompat-lompat di hamparan kebun teh.
Pagi itu Ibu Euis, yang rumahnya di Dusun Cieceng ludes dibakar pada Maret 2011, sedang bekerja memetik teh. Perlu agak lama mencari Ibu Euis. Ada tujuh perempuan setengah baya sedang bekerja. Mereka mengenakan baju lengan panjang, celana panjang, dan topi lebar.
Euis memetik daun teh
Euis tersenyum lebar menyambut kami. Keranjang yang ditenteng di bahunya baru terisi separuh. Kolega Euis lebih cekatan. Dalam satu menit, setumpuk daun teh berpindah ke keranjang. Sekilo teh seharga Rp 400. Rata-rata mereka bekerja dari pagi hingga pukul 16.00.
Seorang ibu, yang telah 27 tahun bekerja, bisa mengumpulkan 50 hingga 80 kilogram daun teh atau maksimal Rp 32 ribu sehari. Euis paling banter memetik 20 kilogram daun teh atau seharga Rp 8 ribu. Euis belum cekatan. Ia baru bekerja sejak Maret, setelah rumahnya dibakar. Dia diajak Deti Komariah, anak kedua, yang lebih dulu bekerja di perkebunan.
“Daripada nggak ada kerjaan. Meski sedih, sekarang jadi kuli….”
Hari berangsur siang. Kami lanjutkan perbincangan di rumahnya. Euis telah berganti pakaian, mengenakan baju berwarna biru dan kerudung putih. Baru dua minggu ia menempati rumah kayu berbentuk panggung. Ada dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Baru terisi sebuah lemari kayu dan sepasang sofa tua di kamar depan. Bagian depan rumah, rencananya untuk buka warung kecil-kecilan.
Bungah, sudah punya rumah,” ucapnya sambil tersenyum.
Pada 29 Maret 2011 pukul 22.00, Euis bermalam di rumah Deti. Rumah ditinggalkan dalam keadaan kosong. Tiba-tiba sejumlah tetangga tergopoh-gopoh mengabari bahwa rumahnya terbakar.
Tungkai kaki Euis lemas.Ia meraung sambil memeluk kedua anaknya. Rumahnya, berukuran 20 x 8 meter dengan 5 kamar, ludes dalam dua jam. Rumah itu dibangunnya sedikit-sedikit, bertahun-tahun. “Saya ingin melihat, tapi orang-orang melarang, takut saya pingsan.”
Tiga hari setelahnya, diantar polisi, ia menengok rumahnya. Euis tersedu menyaksikan rumahnya tinggal puing. Perabotan lengkap, televisi, alat-alat kerjanya untuk bikin keripik singkong, tiga karung gabah hasil panen terakhirnya juga ludes jadi abu.
Kamila, anak bungsunya menangis. Ia kehilangan baju seragam, buku-buku, dan celengan yang berbulan-bulan dikumpulkan demi membeli sepatu olahraga yang lama diidamkan.
Euis pekerja ulet. Ia punya sawah empat are. Dalam setahun sawahnya dua kali panen. Waktu kejadian itu, ia baru saja memanen. Dapat tiga karung gabah yang sudah dijemurnya beberapa kali. Ia juga punya warung sembako dan usaha keripik singkong.
Peristiwa pembakaran itu tak pernah diusut tuntas. Polisi menyebarkan informasi bahwa kebakaran itu dipicu “hubungan pendek arus listrik”.
Setelah kejadian Euis menginap di rumah Deti. Tetangga berdatangan. Mereka menyumbang beras, telur, baju, alat dapur. Beberapa orang datang, memeluk dan menyelipkan uang di tangannya. Ibu Ida, pengurus Ahmadiyah dan guru SD Sukadana, datang menguatkan hati, “Sudah, nanti juga Tuhan akan berikan penggantinya.”
Organisasi JAI membangunkan sebuah rumah panggung berdinding kayu. Warga menyumbang kayu, genting, makanan, dan uang. Semuanya dikumpulkan ke bendahara. Tak sampai sebulan rumah kayu sederhana seluas 4 x 6 meter berdiri.
“Kami belikan tanahnya dengan uang kas. Kemudian kami gotong-royong untuk membangun,” kata Ade Ruspandi. 
 
Euis dan Kamila kecil
Euis merasakan benar ikatan solidaritas sesama anggota. Ade Ruspandi mengatakan, sebagai minoritas mereka berusaha sebisa mungkin menjaga solidaritas. Di Sukadana, JAI juga memiliki perkebunan kopi seluas satu hektare, yang digarap beberapa anggotanya dengan sistem bagi hasil. Sebagian laba disisihkan untuk kas. Dari uang kas itulah mereka membiayai kegiatan, termasuk sumbangan kepada anggota yang kesusahan. Uang kas juga diperoleh dari infak atau iuran setiap anggota, sebesar 1/16 hingga 1/3 dari pendapatan per bulan.
Dari reruntuhan rumah, Euis cuma menemukan sebuah kastrol. Tempat menanak nasi terbuat dari tembaga itu tak hangus dilahap api.
“Dari semua harta Ibu bertahun-tahun, cuma tersisa ini?”
Euis tertawa. Kastrol dipeluknya erat-erat. Ia ingat peralatan membuat keripik singkong yang telah ludes, juga satu set panci seharga Rp 200 ribu yang belum lunas dicicil. Di warung kelontong Haji Zaenal, Euis juga masih punya utang sekian puluh ribu rupiah.
Euis mendatangi warung itu setelah kejadian. “Utang-utang saya dihitung saja, Pak.” Haji Zaenal enggan memberikan keringanan. Dulu hubungan mereka baik, Euis pelanggan setia warung itu. Setelah pembakaran rumah, Haji Zaenal terkesan sinis dan menghindar.
Euis berkisah, selama bertahun-tahun tinggal di Sukadana, interaksi sosial di kampung itu berjalan “sangat baik”. Jika ada tetangga melahirkan, punya hajat, atau sakit, mereka saling mengunjungi, tak peduli Ahmadiyah atau bukan. Tak pernah sekali pun mereka menyinggung soal keyakinan. Kini, setelah penyerangan tahun 2005, kondisi berubah. Beberapa tetangga berpaling saat berpapasan dengannya.
“Mungkin takut. Ustad Yiyi suka mengancam mereka. Jangan berhubungan lagi sama orang Ahmadiyah. Gitu katanya. Katanya, ‘orang Ahmadiyah sesat’. Padahal, orang sesatmah nggak sembahyang, kan? Orang Ahmadiyah kan sembahyang. Kami juga nggak suka merusak,” kata Euis.
Euis menonton berita di televisi tentang penyerangan anggota Ahmadiyah di Cikeusik. Kemudian mereka bersama-sama berdoa di masjid. Ketika diadakan salat gaib, baik laki-laki maupun perempuan semuanya menangis haru.
Baru-baru ini Euis menyaksikan rekaman video penyerangan Cikeusik yang dibawa seseorang dari Jakarta. Air matanya meleleh.
“Sedih. Di pikir saya, orang nggak punya pikiran! Kan sama-sama orang, sama-sama umat manusia, kok bisa dipukul sampai mati?!”
Euis memiliki empat anak. Suaminya menikah lagi tak lama setelah lahir anak ketiga. Euis menolak dipoligami. Namun, baru mengurus surat resmi beberapa tahun lalu.
Di Ahmadiyah tak ada aturan ketat tentang poligami, hanya tak dianjurkan. Setahu Euis, hanya suaminya yang berpoligami. Imbasnya, kegiatan suami sehari-hari sebagai warga Ahmadiyah berkurang, mungkin karena malu. Namun Euis juga merasakan anaknya marah melihat perceraian ini. Kamila, anak bungsunya, paling terlihat sensitif. Ia jadi pendiam. Di sekolah sering menerima ejekan sebagai Ahmadiyah, di rumah ia melihat orang tuanya berpisah.
Ketika bersama teman-temannya bermain di kebun teh, Kamila sering murung. Ia ikut  berlarian dengan riang, namun menghindar saat difoto.
“Kamila sedih waktu rumahmu dibakar?” tanya saya.
 “Sedih.”
“Nangis ya waktu itu?”
“Nangis. Dalam hati saja. Malu sama orang kalau nangis.”
“Kamila nggak pernah nangis selama ini? Sampai keluar air mata gitu?”
“Nggak.”
“Jadi, kalau sedih bagaimana? Ditahan aja?”
“Iya…”
“Kan, dada Kamila jadi sesak?”
Dia terdiam lama. Mukanya memerah, dan berlari meninggalkan saya.
 
Ida Rohayati
Menjelang asyar, ibu-ibu mengaji di masjid Ahmadiyah Neglasari. Masjid ini dibangun pada 1970-an di tanah wakaf pendiri Ahmadiyah di kampung tersebut. Masjid benar-benar berfungsi sebagai pusat kegiatan. Ibu-ibu mengaji, anak-anak bermain di halaman masjid. Ada yang bermain sepeda, berlarian-larian. Dua anak asyik bermain tenis meja.
Ida Rohayati masih mengajar mengaji. Biasanya sekali sepekan, namun ditambah frekuensinya pada bulan Ramadan. Senyum Ida merekah begitu tahu saya menunggunya di halaman masjid.
“Maaf ya, tadi pagi ke rumah, ya? Tadi ke Ciparay sebenta,” katanya.
Ida lalu mengajak mengobrol di rumahnya, yang berdiri di tanah berundak di sisi masjid. Penampilannya tenang dan berwibawa. Ida satu-satunya guru PNS di Neglasari. Belakangan ia menghadapi ancaman mutasi.
Ida berasal dari Ciparay, kampung tetangga Neglasari. Setelah menikah pindah ke Neglasari dan dipercaya mengajar pengajian ibu-ibu dan anak-anak. Lulus sekolah pendidikan guru, Ida menjadi guru honorer di SD Margasari, sembari melanjutkan pendidikan sarjana. Pada tahun 2007 ia resmi menjadi pegawai negeri sipil di SD Sukadana, satu kilometer dari Neglasari. Di sekolahnya ada 26 murid Ahmadi dari 240 siswa.
Pada Juni 2010 sekolah mengadakan pengajian sebagai acara kenaikan kelas. Penceramah seorang ustad bernama Budi, yang sudah sering diundang berceramah di Sukadana. Isi ceramahnya hasutan kebencian terhadap Ahmadiyah.
 “Ahmadiyah itu bukan Islam!” katanya.
Ida terkesiap. Hatinya panas. Ia memilih pulang. Beberapa orang tua murid Ahmadi juga. Ia menceritakannya kepada pengurus Ahmadiyah. Khawatir terjadi kekacauan, ada yang berinisiatif melapor ke polisi. Polisi berdatangan ke sekolah untuk berjaga-jaga.
Kepala sekolah meminta maaf. “Nggak menyangka kok jadinya begini,” ujarnya.
Namun, guru agama menyudutkan. “Terima aja, memang Ahmadiyah sesat!” katanya.
“Selama bertahun-tahun mengajar, tak pernah menemui masalah. Padahal dari dulu saya selalu terbuka bahwa saya Ahmadiyah,” kata Ida.
Setahun berikutnya, di acara yang sama, terjadi lagi.
Ustad Budi, yang anti-Ahmadiyah, berseru, “Ada murid Ahmadiyah di sini?”
“Ada,” barisan belakang, kebanyakan orang tua murid, berseru.
“Kita usir, setuju?”
“Setuju!”
 
Rumah warga Ahmadiyah dibakar
Teriakan bergema. Nyali Ida ciut. Ia sempat menyaksikan murid-murid Ahmadi ketakutan. Juga wajah pias orang tua mereka. Ia kemudian bersembunyi di sebuah gudang sempit, pintu dikunci dari dalam. Ida tayamum dan salat minta pertolongan. Ia menangis. Tubuhnya gemetar.
Seorang anak muda berteriak-teriak di depan gudang, “Wooi… ada orangnya nih. Ayo kita cincang!”
Situasi mulai mencair setelah Ustad Budi turun dari mimbar. Koleganya mengetok pintu. “Keluar Bu, sudah aman….”
Malamnya, murid-murid menemui Ida di rumah. Mereka takut dan menangis, ingin pindah ke sekolah lain.
Ida juga menerima sejumlah pesan pendek, meminta dia mengajukan pindah dari sekolah. Ida mengetahui nomor pengirim pesan, seorang kiai anti-Ahmadiyah, kerabat Ustad Budi. Ida lantas mengganti nomor telepon seluler.
“Suami saya dipanggil kepala sekolah dan kepala desa. Kepala desa juga mendatangi sekolah, meminta saya dimutasi.”
Suparman, pengawas sekolah memanggilnya, “Semua guru harus taat pada aturan, aturan Pergub, MUI, kalau nggak, keluarkan saja!”
Ida menghadap kepala sekolah, yang menguatkannya agak tetap bertahan. Dua puluh enam murid Ahmadi juga masih bersekolah di SD Sukadana.  
 
Pukul 17.00 kami berpamitan. Perjumpaan tak lebih dari 1,5 hari itu terasa hangat benar di lubuk hati. Orang-orang masih melambaikan tangan, hingga mobil yang mengantar menuju Terminal Cianjur melaju. Sukadana nan elok itu perlahan lenyap dari pandangan.
Lebaran lalu, ketika penjuru negeri ini ribut karena belum ada kepastian penetapan Hari Raya Idul Fitri 1432 oleh pemerintah, dari balik keheningan Sukadana, Ade Ruspandi membawa kabar sedih: warga dilarang salat Ied di masjid Neglasari. Bahkan ada ancaman dari Kasat Intel Polres Cianjur: jika Ahmadiyah tidak menurut maka akan terjadi “Cikeusik (jilid) 2”. Aparat desa kembali bersuara keras. Polisi berjaga-jaga dan siap melakukan evakuasi.
Akhirnya Rabu 31 Agustus 2011muslim Ahmadiyah menggelar salat Ied di sebuah madrasah. Mereka tak tahu sampai kapan teror akan berakhir. (E4)

TEROR PANJANG DI SUKADANA (1)

Teror tak juga mereda di Desa Sukadana. Bertahun-tahun warga Ahmadiyah menjadi korban intimidasi dan represi.
  • Lilik HS / Arwani
  • 31 Oktober 2011 - 9:29 WIB
Tawa anak-anak SukadanaHawa sejuk menyergap begitu memasuki Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, sekitar 35 kilometer dari kota Cianjur, Jawa Barat. Daerah ini memiliki kontur tanah bergunung-gunung, dikelilingi perkebunan teh dan kopi.
Sukadana merupakan basis Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang cukup besar di Cianjur. Ada sekitar 600 warga Ahmadiyah yang tersebar di beberapa dusun: Neglasari, Ciparay, Cieceng, Cilimus. Berpuluh tahun mereka hidup damai.
Minggu ketiga Agustus 2011, kami mengunjungi Desa Sukadana. Ade Ruspandi, Ketua Pemuda Ahmadiyah Cianjur Tengah, mengantar transit di rumah Pak Kamaluddin. Pak Kamal dan istrinya, Bu Sopiah, menyambut ramah. Minuman dan bertoples makanan segera dihidangkan begitu tahu kami tak berpuasa.
Siang itu ada kunjungan pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia dari Jakarta ke Ibu Euis, yang rumahnya dibakar pada Maret 2011.Warga kemudian bergotong-royong membangunkan rumah. Para pengurus JAI memanjatkan doa di depan rumah baru itu.
“Kebanyakan penduduk sini bertani atau jadi buruh tani di perkebunan kopi dan teh. Banyak juga yang wiraswasta, dagang,” tutur Pak Kamal. Tak lama menemani kami ngobrol, Pak Kamal pamit ke kebun.
Udara berhembus sejuk. Dari teras rumah tampak jajaran pohon pinus di seberang bukit berdiri kokoh. Sayang, keelokan alam dan keramahan warganya ini berbanding terbalik dengan tingkat kekerasan yang terjadi. Di tengah keheningan Sukadana, sejak 2005 pengikut Ahmadiyah terus dihujani represi. Massa yang dimobilisasi para kiai yang anti-Ahmadiyah, menguasai masjid Ahmadiyah untuk pengajian dan salat Jumat. Pengajian itu lebih banyak berisi hujatan yang kemudian berkembang menjadi penyerangan fisik.
Pada Juli 2011 empat rumah anggota Ahmadiyah diserang dan dibakar. Termasuk rumah Etin dan Abah Yahya, yang hendak kami kunjungi sore itu.
Pukul 15.00 kami diantar mobil ke Dusun Cilimus, sekitar 15 menit dari Neglasari. Jalanan berkelok-kelok melewati perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Dari kaca spion, tampak sebuah sepeda motor menguntit sejak keluar dari Neglasari. Pengendaranya mengenakan baju koko dengan kopiah putih.
Tak ada yang tahu nama aslinya. Warga memanggilnya “Ustad” Yiyi. Berusia sekitar 40 tahun. Orang-orang bilang ia mantan residivis. Tak punya keluarga. Tak ada pekerjaan. Warga malas berurusan dengannya, karena ia suka nekat. Suka mengancam macam-macam jika permintaannya --  tak jauh-jauh dari uang -- ditolak. Jika sedang kepepet, disodori lima ribu rupiah pun ia sudah tersenyum lebar dan tak lagi merongrong.
Yiyi gemar memakai baju koko, yang sering kali sudah kumal, dipadu sarung atau celana komprang dan kopiah. Jenggotnya dibiarkan mengembang. Entah siapa yang memulai, orang-orang menyebutnya ustad, kendati seingat mereka Yiyi tak pernah terlihat berceramah.
Yiyi menguntit hingga mobil berhenti di depan rumah pasangan Nuryatman dan Etin. Sebelum berangkat, Ade membekali dengan skenario sederhana: kami adalah saudara Etin dari Cianjur, yang sengaja berkunjung untuk menengok bayinya.
Etin, 26 tahun, sedang menimang bayi yang belum genap 40 hari ketika kami tiba. Etin berparas manis, dengan kulit kuning terang. Ia tersenyum ramah kendati agak bingung atas kunjungan mendadak ini.Etin melahirkan dalam pelarian
Nuryatman bergegas menggelar tikar. Pasangan ini memiliki tiga anak. Cahya, 9 tahun, Tiara, 6 tahun, dan si bungsu Rangga  Purnama. Cahya dan Tiara duduk di sebelah ibunya. Nuryatman  sesekali duduk menemani, sesekali keluar mengobrol dengan Yiyi.
“Mereka datang, teriak-teriak ‘Allahu Akbar’, terus lempar-lempar batu. Saya diem saja. Cuma bisa berdoa di kamar…” tutur Etin mengenang peristiwa menjelang Ramadan itu, Sabtu 30 Juli 2011. Sejumlah sepeda motor, dengan knalpot menderu, berputar-putar di jalanan depan rumah. Batu-batu melayang ke atas genting. Empat genting remuk.
Parapenghuni rumah hanya bisa mengunci diri di kamar. Lampu dimatikan. Etin sedang hamil Rangga ketika itu.
Bagi Etin, peristiwa malam itu tak seberapa parah dibanding enam tahun silam. Saat itu kondisinya sama, ia tengah hamil sembilan bulan.
Etin perlu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. 20 September 2005, sejak siang suasana di Sukadana sudah memanas. Malam hari, puluhan orang merangsek ke dalam rumah. Perabot diacak-acak. Kaca-kaca jendela dipecah. Meja kursi dijungkirbalikkan. Warung kelontong dijarah. Suasana sangat kacau. Massa berteriak memanggil namanya.
"Mana awewe geulis, diperkosa wae!”Orang-orang terus berteriak. Etin, suami, dan anaknya terdiam di kamar. Mulutnya terus-menerus mendaraskan doa.
"Saya tak mampu berdiri. Kaki ini gemetar rasanya..." tutur Nuryatman.
Tengah malam itu, dengan bekal seadanya, mereka lari ke hutan.
"Saya lari terus, sambil pegang perut begini…." kata Etin.
Melihat Etin memperagakan memegang perutnya, saya mendadak ngilu. "Nggak sakit? Nggak bikin kontraksi?"
Etin menggeleng. "Nggak tahu ya, kuat saja tuh...."
Selama dua hari mereka mengungsi ke hutan di pinggir desa. Membuat tenda seadanya. Tidur beralas tikar. Dua hari kemudian, ia mengalami kontraksi dan dilarikan ke bidan desa. Cahya pun lahir dengan persalinan normal.
Rangga menggeliat, tak lama kemudian tangisnya pecah. Etin segera meraih dan menimangnya. Di luar, sesekali ekor mata Yiyi melirik ke arah kami. Kami harus sembunyikan kamera dan merendahkan intonasi suara.
Etin hanya bersekolah hingga kelas VI SD. Sejak kecil ia kerap diejek sebagai warga Ahmadiyah. Etin kecil hanya mengadu ke ibunya dan sang ibu berulang-kali berkata, "Sabar. Kita jangan cari musuh…."
Etin tak mengerti mengapa teman dan gurunya selalu mengejek. Kupingnya kerap kali panas dituding “kafir” dan “sesat”. Ia merasa salat dan mengaji dengan cara sama seperti teman-temannya.
“Panas sebenarnya hati ini, tapi bagaimana lagi?! Nggak bisa apa-apa. Sabar ajalah....”
Etin kerap menghibur diri, "Ah, biarin lah, entar gede juga dia ngejar saya.…"
Etin memang berparas manis. Semasa muda ia menjadi kembang desa.
Jika dahulu ibunya menyuruh bersabar atas semua ejekan, kini ia melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. Si sulung, Cahya yang duduk di kelas V SD Sukadana, kerap pulang sekolah dengan menangis. Dia diejek teman-teman dan guru. Kadang juga ditimpuki. Dibanding Tiara, adiknya, Cahya terlihat lebih murung. Ia suka menarik diri dan menolak ketika diminta foto bersama.
“Cahya sering diledek teman-teman?” Saya menatap matanya, bertanya pelan-pelan. Cahya diam. Melirik ke arah ibunya. Tampak marah dan ingin menangis. Lantas ia berlalu meninggalkan kami dengan raut muka memerah.
“Ya, Cahya memang begitu…” kata Etin Etin tersenyum.
Ia memahami konflik batin anak-anaknya. Cahya kerap menangis dan marah-marah tanpa sebab. Toh, Etin dan Nuryatman tak punya pilihan lain selain bersabar. Ia sadar, risiko direpresi akan terus menghampiri.
“Yah, gimana lagi?! Kami tak pernah punya niat buruk….”Rumah warga Ahmadiyah dibakar massa
Abah Yahya, 87 tahun, masih bisa mengingat jelas peritiwa itu. Sabtu 30 Juli 2011 pukul 00.30, rumahnya di pinggir hutan Dusun Cilimus, beberapa kilometer dari Neglasari, dibakar orang tak dikenal. Cilimus hanyalah dusun kecil yang dihuni 11 keluarga, dengan total warga 35 orang.
Abah sedang terlelap di kamar depan. Irma, 15 tahun, cucunya yang kebetulan menginap, berteriak histeris melihat api membubung. Abah terbangun. Dalam gelap, ia menyaksikan api melalap dinding rumah dari anyaman bambu. Seluruh ruangan dikepung asap hitam. Abah sempat mencium bau minyak tanah. Nenek Rum, istri Abah yang sudah tuli, terlelap di kamarnya. Sengaja tak dibangunkan hingga subuh.
“Abah dan cucu padamkan api pakai selimut dan air,” tutur Abah terbata-bata, sering bercampur bahasa Sunda. Tetangga segera berdatangan. Hingga pagi, Abah tak bisa tidur lagi. Berpuluh tahun tinggal di Sukadana, baru kali itu rumahnya jadi sasaran.
“Abah tahu mengapa rumah mau dibakar?” tanya saya.
“Tahu. Karena Abah Ahmadiyah....”
“Mengapa Ahmadiyah jadi sasaran terus-menerus?”
“Ya, mereka berpendapat kami berbeda keyakinan. Padahal tidak. Yah, Abah cuma bisa sabar.”
“Abah marah atas semua perlakuan itu?”
“Nggak… cuma sedih, takut, kalau terjadi apa-apa sama Nenek. Kasihan Nenek, sudah tak bisa dengar.…” Abah terbatuk-batuk. Ia juga tak kecewa kendati pembakaran rumahnya tak pernah diusut polisi. Aparat desa pun mendiamkan saja.
Abah YahyaDalam usia 87 tahun, batuk kerap menderanya. Matanya sudah lamur. Tapi ingatannya tetap jernih. Ia masih hafal tahun lahirnya, 1924. Pada usia 33, tahun ia dibaiat sebagai muslim Ahmadiyah. Ayahnya dari Dusun Ciparay tergolong perintis organisasi keagamaan Ahmadiyah di Sukadana.
Abah menyaksikan ketika terjadi clash dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pada 1950-an. “Zaman DI/TII itu Abah pulang ke Ciparay, sempat dicegat pasukan mereka. Abah lihat banyak orang dibunuh.”
DI/TII didirikan Kartosoewirjo, semula menentang kolonial Belanda. Setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia. Dipicu kekecewaan terhadap kalangan nasionalis, juga hasil Perjanjian Renville, akhirnya mereka memberontak. Pada 4 Juni 1962 Kartosoewirjo menyerah, mengakhiri 13 tahun gerilya di hutan dan gunung-gunung di Jawa Barat.
Abah ingat, beberapa anggota DI/TII kerap mendatangi kampungnya meminta logistik. Warga Ahmadiyah dianggap pro-pemerintah republik, jadi sasaran empuk. Dengan kondisi geografis dikelilingi gunung dan hutan, Cianjur Selatan merupakan basis gerilya DI/TII.
Sehari-hari Abah tinggal bersama istri dan cucunya. Untuk hidup sehari-hari, ia mengandalkan kebun dan ternak. Ia masih sanggup mencangkul. Dua hari sekali, dengan kaki terpincang-pincang, ia berjalan ke bukit mencari rumput untuk tiga ekor kambingnya. Kadang, saat musim kemarau dan rumput sulit didapat, Abah harus berjalan berkilometer masuk hutan.
Di dapur sempit yang dipenuhi kepulan asap hitam, Nenek Rum, 85 tahun, memasukkan potongan-potongan kayu ke dalam tungku. Ketel nasi bertengger di atasnya. Sebentar lagi matang. Kedua cucunya menemani sore itu: Irma dan sepupunya, Sartika, 13 tahun. Mereka bersekolah di SMP PGRI, beberapa kilometer dari Cilimus yang ditempuh dengan berjalan kaki.
Irma dan Tika agak  pemalu. Bicara pelan dan kerap kali menunduk. Ketika tertawa, mereka menutup mulut dengan tangan. Irma sedikit lebih terbuka. Ia mau bercerita tentang teman-teman di sekolah yang sering mengejeknya.
“Mereka meledek. ‘Nabi Ahmadiyah itu Mirza Gulam. Kalau naik haji ke India.’ Pengen marah, tapi nggak bisa apa-apa. Diem aja.”
Tika bukan anggota Ahmadiyah. Ibunya anggota Ahmadiyah, ayahnya bukan. Ia mengikuti garis ayah.
“Tika tahu Irma sering diledek teman-teman?”
“Tahu..”
“Tika bukan Ahmadiyah, tidak ikutan menjelekkan Ahmadiyah, seperti teman-teman lainnya?”
Tika menggeleng, "Kasihan, kan saudara."
“Kalau Irma diledek, Tika membela?”
Tika menggeleng pelan, “Takut…..” Matanya melirik kepada Irma. Mereka berbagi senyum, lantas saling berpegangan tangan.
“Irma ingin jadi apa?”
“Jadi dokter.”
“Kalau Tika?”
Tika tersenyum, menggeleng. Irma dan Tika sangat sayang pada Abah dan Nenek Rum. Sepulang sekolah, mereka mampir ke rumah Abah, membantu memasak dan bersih-bersih.
Senja mulai turun di Cilimus, kami berpamitan pulang, kembali ke Neglasari. Abah mengantar hingga depan rumah.
“Apa yang membuat Abah yakin dengan Ahmadiyah? “
Abah terdiam sebentar. “Dulu, uyut Abah bilang, kita akan diserang oleh sesama orang Islam. Dulu Abah tak percaya, bagaimana mungkin orang sesama Islam kok menyerang? Baru sekarang setelah Ahmadiyah diserang, terbukti omongan uyut. Orang bacaannya sama. Syahadatnya sama. Qur’annya sama.”
 “Apa yang Abah harapkan?”
“Ingin damai. Mengamankan negara ini. Bukan dikacaukan. Jangan adakan kerusuhan. Yang aman. Tentrem, ayem, elingan. Ini gimana negara kok dikacaukan?” kata Abah dengan suara sedikit meninggi. (bersambung)
Foto-foto: VHRmedia / Perkumpulan 6211

Sumber: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=4768



KLARIFIKASI USTADZ YIYI

Seorang bernama Rusgandi (seorang Ahmadi) telah menelepone saya 18 Juni 2012 yang lalu dan meminta untuk mempublis sebuah tulisan KLARIFIKASI dari Ustadz Yiyi yang telah di beritakan di atas. Akan permitaanya tersebut setelah kami terima bahan via email, kami copaskan saja dengan print screen apa yang menjadi contens dari Klarifikasi tersebut.